Senin, 26 Agustus 2013

Tanya Jawab Membuka Hijab

Pertanyaan :

ubject: RE: [dzikrullah] Membuka Hijab 9/9
Author: Akhwan Purwoko
                                                                                     

Pertama saya ucapkan terima kasih dengan semua informasi yang anda kirimkan. Setelah membaca artikel ini, muncul beberapa pertanyaan dalam benak saya, salah satu diantaranya adalah sebagai berikut.

Pada bab 9 ini anda menyebutkan bahwa Islam menolak ibadah yang menggunakan sarana bukan dari Alloh ini suatu perkataan yang tepat dan sangat sesuai dengan Hadits Rosululloh saw yang artinnya "

Barang siapa yang beramal tanpa ada petunjuk dariku maka dia tertolak "dan juga hadits" Barang siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tiadak ada perintah dariku maka amalan itu tertolak dimana dengan dasar dua hadits shohih itu para ulama salaf mulai dari para sahabat dany ang mengikuti mereka menetapkan bahwa pada asalnya ibadah itu haram kecuali yang ada contoh atau ada perintah atau dibenarkan oleh Rosululoh saw. Jadi sekali lagi pernyataan anda tadi sangat tepat, tapi ironisnya dibagian lain anda justru mengajarkan suatu cara ibadah yang sama sekali tidak pernah dikenal dalam dunia Islam. Wallohu musta'an.

Yang kedua, dalam banyak ayat Al-Qur'an Alloh banyak menyebut tentang keutamaan generasi saat Rosululloh saw masih hidup yakni generasi para sahabat, diantaranya tentang keridloan Alloh pada para pahlawan perang Badar, juga dalam banyak sekali hadits Rosululloh saw ,menyampaikan berita tentang Sahabat A telah disiapkan tempatnya di sorga, sahabat yang lain telah dibuatkan rumah di sorga dan banyak lagi. Nah sesungguhnya semua itu adalah ibroh bagi bagi sekalian manusia yang menghendaki keselamatan di dunia maupun akherat.Demi Alloh tidak ada jalan lain untuk mendapatkan keridloan Alloh di dunia dan akherat serta sorganya di akherat kelak pada jaman akhir ini kecuali dengan mengikuti cara hidup mereka (cara mentauhidkan Alloh, cara berpikir, cara beribadah cara bermuamalah, dll.) Disini yang dimaksud dengan cara hidup bukanlah apakah sekarang kita harus pakai onta atau pakai mobil, karena Rosululloh pernah bersabda yang artinya
"..............,kamu lebih tahu urusan dunia kamu,....."

Wallohu'alam.

Jawaban :

Kepada Sdr. Akhwan Purwoko Yth,

Assalamu'alaikum Wr, Wb,

Sebelumnya saya menyarankan anda untuk membaca ulang `artikel-artikel yang saya tulis' secara pelan-pelan, terutama Bab Etika Islam. Sejak awal saya mengatakan kepada seluruh anggota dzikrullah, gunakanlah syariat yang telah anda pahami dan lakukanlah setiap syariat sesuai dengan ilmu yang telah anda peroleh dari guru-guru/ustadz; hanya saja… roh/jiwa harus hadir atau ihsan, dan kita harus sadari bahwa Allah begitu dekat dan melihat kita,
"wa'budullah ka annaka takahu fainlam takuntarahu innahu yaraka"

(hadist), sembahlah Allah seolah-olah kalian melihat-Nya, namun apabila kalian tetap tidak mampu, ketahuilah bahwa Allah selalu melihat kalian.

Azas inilah yang harus ada dalam setiap shalat, zakat, dzikir dan seluruh ibadah lainnya, sebab kalau tidak, ia tidak sempurna dalam beragama, karena 'ihsan' merupakan RUKUN (syarat) AGAMA. Ada tiga rukun agama yaitu IMAN, ISLAM dan IHSAN (Al hadist)

Pada setiap artikel saya… saya justru mengajak memurnikan setiap peribadatan, menjauhkan dari khurafat, syirik ataupun washilah, dan cara-cara ibadah yang tidak dituntun Al Qur'an dan Al Hadist.

Kalau anda merasakan ada yang ganjil dalam praktik beribadat dan Mujahadah kepada Allah dan "ternyata bid'ah". Sayang anda tidak menunjukkan secara jelas, peribadatan yang mana?

DZIKIR dan TAFAKUR

Dzikir dan tafakur adalah ibadah yang bebas, yang tidak ada batasan waktu. Dzikrullah dalam kamus bahasa arab "Al Muhith", artinya mengingat Allah – menyebut Asma Allah, dilakukan dalam posisi duduk, berbaring, berdiri atau berjalan. Bahkan tidak boleh meninggalkan dzikir walaupun disibukkan oleh berdagang (bekerja).

Ayat-ayat yang memerintahkan berdzikir dan kecaman bagi yang tidak berdzikir :
Berdzikir boleh dilakukan dalam posisi duduk, berdiri, berbaring (QS 4:103)
Orang yang tidak berdzikir, Allah mengirim syetan di dalam hatinya (Azzukhruf : 36)
Orang yang tidak berdzikir, disebut orang sesat yang nyata (QS.39 ; 22,23)
Ingatlah Allah dalam hati, dengan rasa rendah hati, dengan perasaan takut, tidak mengeraskan suara "baik pagi maupun petang" Orang beriman selalu ingat Allah kalau ditimpa was-was (Al A'raf : 201)
Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya ( Al Jumu'ah : 10)
Ingatlah akan Aku maka Aku akan ingat kamu .. (Al Baqarah :152)
Orang yang tidak ingat Allah, kelompk syetan (Al Mujadalah : 19)

Hadist-hadist yang memerintahkan berdzikir :
Adalah Rasulullah saw, beliau selalu ingat Allah sepanjang hidupnya (Hadist Riwayat Muslim),
Barang siapa tidak memperbanyak dzikir kepada Allah sungguh ia telah terlepas dari iman (HR Ath Thabrany dalam Al Austath),
Perumpamaan orang yang tidak berdzikir dengan yang berdzikir, adalah seperti orang mati dengan orang yang hidup (HR Bukhari Attaghrib-wattarhib 3:59)
Perbanyaklah ingat kepada Allah di segenap keadaan (Shahih) Ibadah-ibadah yang ditolak bukan hanya yang secara syariat tidak ada tuntunannya saja, akan tetapi juga ibadah-ibadah yang ada tuntunannya bisa saja ditolak, seperti ibadah Shalat :
Al Ma'un ayat 4-5 Celaka bagi orang-orang yang shalat Yaitu orang yang lalai dari shalatnya Orang-orang yang berbuat riya

Banyak orang mengartikan sahun (lalai) sebagai mengulur-ulur waktu shalat. Ayat ini tidak bisa ditafsirkan seperti itu, karena ada kata sambung (isim maushul) yang menjelaskan ayat berikutnya. Alladzinahum yuraauna .. (yaitu orang-orang yang berbuat shalat tidak karena
mencari keridhaan Allah). Sahun artinya ghafilun = lupa kepada Allah ~ tidak konsentrasi kepada yang dituju yaitu Allah swt. Lihat tafsir karangan Prof. Ali Asshobuny – Beirut

Al Hadist R Ibnu Majah ; Berapa banyak orang shalat yang tidak mendapatkan apa-apa, kecuali hanya capek dan payah.

Jadi : "Ibadah yang ada tuntunannya ternyata tertolak oleh sebab tidak didasari karena Allah"

Al Hadist Shahih Muslim :
Maka Barang siapa hijrahnya (niat) karena Allah dan Rasulullah, maka hijrahnya akan sampai diterima Allah dan Rasulullah, dan Barang siapa hijrahnya karena dunia atau karena perempuan, maka hijrahnya tertolak pada apa yang ia hijrah kepadanya.

Anda perhatikan peristiwa "HIJRAH", ialah berupa contoh peribadatan yang dituntun langsung oleh Allah dan Rasulullah, namun peribadatan itu tidak bisa dikatakan "ibadah" apabila roh / jiwanya tidak tertuju kepada Allah (ihsan).

Sembahlah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Apabila engkau tidak mampu, sesungguhnya Ia melihat engkau (Shohih). Sikap ini yang disebut ihsan, dan merupakan rukun (syarat) syahnya agama, selain iman dan islam. Apabila salah satu rukunnya agama tidak terpenuhi, maka TIDAK BISA AGAMA/DIEN dan peribadatannya tertolak (lihat BAB ETIKA ISLAM).

Kenapa kita hanya memperhatikan soal-soal syariat fisik saja, padahal syariat ruhiyah begitu banyak yang terabaikan dan merupakan roh-nya Ibadah, dan Allah akan menerima setiap peribadatannya dengan Ikhlas,

Syariat-syariat Ruhiyah :
Iman - percaya itu ada di dalam hati
Ihsan - perasaaan melihat dan dilihat Allah
Ikhlas - rasa pasrah kepada Allah
Sabar - menahan perasaan dari gejolak syahwat Khusyu' – perasaan sangat dekat dengan Allah dan kepadanya kita kembali (Qs. 2 : 45-46)

Ciri-ciri orang yang beriman :
Bergetar hatinya, tatkala disebut nama Allah (Al Anfal : 2) Menjerit, tersungkur dan menangis tatkala disebut Allah (Surat Maryam : 58)

Terima kasih dan mohon maaf kalau kurang lengkap dalil-dalil yang saya sajikan, insya Allah disambung lagi pada waktu yang akan datang, atau kita bisa adakan diskusi khusus dalam forum yang lebih santai (yang akan kami informasikan kemudian)


Wassalamualaikum Wr, Wb,
#Sangkan#

Berikut ini sekedar tambahan untuk Sdr. A. Purwoko,
---------------------------------------------------
Assalamu'alaikum wr. wb.

Saya maklum "atas pertanyaan anda", hanya saja saya kurang jelas dalam "hal apa" yang menyimpang dari Nash Rasullullah. Atau penggunaan istilah "meditasi transendent" yang kelihatannya "kurang islami". Kalau istilah meditasi dianggap tidak memiliki pengertian islami, sehingga peribadatan kita tertolak oleh karena "istilah" padahal kita sedang membahas cara orang bermeditasi serta klaim pembenaran cara-cara yang digunakan! Saya menggunakan "istilah penyebut yang sama" dalam hal ini.

Kalau ada hal peribadatan yang sama dengan orang lain bukan berarti "kita" mengikuti cara mereka karena ada cara-cara yang bersifat universal atau perennial. Yang harus anda perhatikan uraian saya ialah masalah objek "apa" yang menjadi sandaran akhir dari peribadatannya kalau kepada selain Allah jelas disebut musryik atau bid'ah. Termasuk di dalam melakukan shalat kalau didasari karena riya (didasari karena ingin dilihat orang) shalatnya ditolak (AL Ma'un) padahal syariat peribadatannya sesuai dengan tuntunan Rasullullah mulai dari niat, takbir, salam.

Peristiwa hijrah rasullulah : Ada dua golongan yang ikut rombongan rasulullah berhijrah
Karena wanita dan dunia.
Karena Allah dan Rasulullah.

Lihat Bab Etika islam, kalau anda perhatikan : secara syar'I seakan- akan mereka melakukan perintah yang sama. Yaitu pindah dari Mekkah ke Madinah. Namun tidak bisa dikatakan ibadah kalau tidak didasari karena Allah. Kalau pertanyaan anda bertujuan kepada persoalan dalam artikel " membuka hijab" Menyimpang dari Nash Al Qur'an dan AL Hadist soal peribadatan, sekali lagi anda baca ulang dengan perasaan tenang.

Kalau saya simpulkan pada Bab ini : Membersihkan tauhid dari konsepsi yang keliru (Dzan), tidak bisa dibandingkan sesuatu. Banyak para meditator yang menggunakan sarana selain "Allah" sebagai objek akhir dari peribadatannya. "Allah menolak segala ibadah, yang niatnya bukan karena Allah" (lihat Bab etika islam). Kalau Iitilah 'meditasi transedental', sebagai penyebab anda terjentik untuk bertanya. Hal ini sesungguhnya hanya sebagai pengantar bahasa universal untuk bias dipahami oleh seluruh kalangan. Kalau saya mempergunakan istilah islam (arab), saya khawatir orang-orang yang sudah terlanjur berkecimpung di dalam dunia spiritual (meditasi) menganggap islam tidak memiliki alternatif ruhiyah dan berkutat di dalam polemik sisi hukum (fiqh) saja.

Kalau dikatakan di dalam fase-fase ada kesamaan cara pandang terhadap suatu 'alam' bukan berarti "kita" mengikuti mereka! Pandangan ini bersifat universal, kita tidak boleh menampikan kebenaran perennial,
misalnya :

Tidak boleh menyakiti badan.
Tidak boleh mencuri.
Menjaga kesehatan.
Dilarang membunuh.
Dilarang berzina.

Aturan-aturan ini tercantum didalam setiap kitab agama bukan berartikalau kita "tidak membunuh orang" adalah meniru perbuatan orang kafir lalu kita tertolak untuk itu.

Tafakur = kontemplasi, adalah ibadah yang bebas seperti bekerja,belajar dan lain-lain, hanya saja Al Qur'an mendasari setiap perbuatan ibadah bebas atas dasar lilahi ta'ala. Masalah nash dan sunnah. Kita mesti harus tahu sejarah. Berapa nash yang terbuang dan tidak diketahui rimbanya. Bukhari hanya berhasil mengumpulkan hadist sekian ribu hadist saja. Begitu pula Annasai, Ahmad dll. Sesungguhnya berapakah jumlah sunah Rasulullah?

Taqriridh fi'liyah, qauliyah. Berapa juta hadist yang terbuang dan tidak akan kita jumpai lagi contoh - contoh konkrit Rasulullah, akibat Aisyah berseteru dengan Ali. Berapa zaman / abad, umat islam tidak melaksanakan hadist secara komplit karena setiap kubu dari Aisyah, syiah dan sunni, khawarij menyimpan rapat-rapat hadist yang mereka peroleh dari Rasulullah. Kubu Aisyah menyimpan rahasia hadist masalah kewanitaan sementara kubu Ali menyimpan hadist akhlaq dan fadhilah ibadah. Kemudian baru terhimpun oleh para ulama seperti Bukhari, Annasai, Muslim, Ahmad dll. Setelah sekian ratus tahun tanpa kepastian kebenaran hadist. ternyata hadist menjadi mempunyai derajat shaheh dan tidak.

Demikian sekedar sebagai tambahan informasi ... mudah-mudahan menjadi lebih jelas.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Abu Sangkan
                                                                                         

PERTANYAAN PERTAMA:
---------------------------------

From: "Sawaldi, Susilo SS" <Sawaldi.Susilo.SS@...>
To: dzikrullah@egroups.com, patrap1@...
Subject: RE: [dzikrullah] Membuka Hijab 9/9
Date: Sun, 2 Jul 2000 15:30:42 +1000

Lalu setelah mendapat Hidayah apa dan bagaimana manusia bertindak...? (dalam keseharian)
selama kita masih dalam pengharapan mendapat Hidayah apakah sia-sai hidup ini...?
Ada tidak batasan yang jelas antara sudah mendapat Hidayah dan sebelumnya...?
Serta indikasi dalam perilaku sehari hari dan yang penting lagi perbedaan antara kelompok Muslim dan Nonmuslim dalam kelakuan keseharianya. kita tahu semua makan makan yang sama minum minuman yang sama dst... Apa yang kita bisa banggakan atau setidaknya kita berkeyakinan kelakuan kita sehari hari tidak sia-sai dengan kita memeluk Islam...?

Tolong amal shalehnya untuk bisa menjawab pertanyaan saya, semoga Allah swt. berkenan membalas budi baik Bapak.

Salams
Susilo sawaldi

PERTANYAAN KEDUA :
-----------------------------
From: "Sawaldi, Susilo SS" <Sawaldi.Susilo.SS@...>
To: dzikrullah@egroups.com
CC: patrap1@...
Subject: RE: [dzikrullah] Membuka Hijab 9/9 (Sdr. A. Purwoko) Date: Thu, 20 Jul 2000 14:59:44 +1000

Assalaamu a'laikum wr. wb.
Seperti yang bapak ketahui kita bukan pendeta atau resi yang tidak mengikat dirinya pada kehidupan seperti layaknya semua orang.yang dengan kata lain kita hidup dan bekerja mencari nafkah (segenggam emas) untuk diri kita dan juga keluarga kita.
Pertanyaannya.
*.Dzikir yang anda maksudkan itu seperti apa...?
1.apakah ada prosedur khusus untuk berzikir setiap harinya...?
2. Jika ada tolong di share dalil nya!
3.Berapa jam sehari ? apakah setiap hari.

Bagi umat Islam beda loh antara dzikir dan bertapa...

Salam
Susilo sawaldi
B Steel Indonesia
* Phone: +62 254 393680
* Fax : +62 254 393682
* e-mail: Sawaldi.susilo.ss@...
                                                                                      

Untuk Saudara Sawaldi Susilo,

Assalamu'alaikum wr. wr.

Berikut ini saya postingkan jawaban atas 2 posting pertanyaan dari Sdr. Sawaldi Susilo (yang saya sertakan dibawah tulisan ini). Semoga jawaban ini bisa memberikan tambahan informasi yang bermanfaat bagi
para anggota yang lain.
------------------
Pertanyaan :
Setelah mendapat "Hidayah", apa & bagaimana manusia bertindak dalam keseharian ?

Jawaban :
Yang perlu kita fahami ialah kata "hidayah" artinya: petunjuk, jalan, penerang / cahaya. Didalam Al Qur'an kata hidayah bisa berarti 2makna.

I). Hidayah dalalah, ialah hidayah yang berarti tuntutan syari'at (Alqur,an dan Hadist) seperti dalam firman Allah Surat Al baqoroh ; 2 :

"Kitab Al Qur,an ini tidak ada keraguan padanya, merupakan petunjuk (Hudan) bagi mereka yang bertaqwa" dan kita perhatikan surat Al baqoroh : 282-283
" Hai orang orang yang beriman apabila kamu "bermuamalah", hendaklah kamu menuliskannya…"

Ayat ini menjelaskan tentang tuntutan syari'at bermuamalah (berhutang-piutang, jual beli, sewa menyewa, dsb) dan bersifat universal, artinya berlaku bagi siapa saja baik ia Islam, Kristen, Hindu dst.
Jika mereka tidak menjalankan hidayah (syari'at)... contoh jual-beli, hutang-piutang... , tidak terdapat perjanjian tertulis / tulis menulis keluar masuknya uang, maka kekhawatiran hancurnya suatu perusahaan akan terjadi. Disini Alqur'an menunjukkan dan menganjurkan mengatur manajemen, karena hal ini bermanfaat bagi setiap orang. Dan barang siapa meninggalkan hidayah (petunjuk) ini, maka tunggulah saatnya kehancuran suatu bangsa. terlepas ia muslim atau tidak. Coba anda perhatikan keberhasilan Amerika, Jepang, perancis adalah Negara yang menerapkan hidayah syari'at universal (keberhasilan, disiplin, wal asry / waktu, managemen, teknologi dll). Lihat dalil-dalil pada Bab Syariat yang bersifat universal.

II). Hidayah I'anah ( Bimbingan ) artinya : petunjuk yang bersifat intuisi / ilhami.

Walaupun seseorang itu pandai beragama (ilmu agama) belum tentu ia berhati bersih dan beriman kepada Allah. Misalnya khusyu', ikhlash, bergetar hatinya tatkala disebut asma Alah. Itu semua ciri-ciri kaum beriman. Sebaliknya orang yang tidak mendapatkan hidayah I'anah, disebut dalam Al Qur'an sebagai "MUSLIM" (tunduk terhadap peraturan / syari'at) Firman Allah :

"Keimanan telah ditetapkan Allah dalam "Hatinya" serta dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya" (Al Mujadilah : 22)

Iman yang pernah diikrarkan oleh kaum Arab Badwi dihadapan Rasulullah bukan kategori iman yang sebenarnya. Sehingga seketika itu Allah menurunkan wahyu untuk memperingatkan kepada mereka. Firman Allah :

"Orang-orang Badwi itu berkata "Kami telah beriman", katakanlah (kepada mereka) " Kamu belum beriman" tetapi katakanlah kami telah tunduk (Aslamna), karena itu belum masuk kedalam hatimu" (QS. Al Hujurat : 14)

Dan Hidayah I'anah (intuisi) bukan haq manusia untuk membukanya. Akan tetapi haq Allah atas hamba-hamba yang mencari keridhaan-Nya. Seperti peristiwa Nabi Yusuf yang bergejolak dan berjuang mempertahankan kesuciannya atas ajakan Siti Zulaiha untuk berbuat mesum. Yusuf dan Zulaiha sudah tidak mampu menahan syahwatnya dan hampir saja keduanya terjerumus ke dalam nista. Namun Allah datang menerangi (Hidayah) hati Yusuf sehingga Yusuf pun terbebas dari pergolakan nafsunya.

"Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan yUsuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu. Andaikata dia tidak melihat Burhan (penerang) dari Tuhannya. Demikian itu karena hendak memalingkan Yusuf dari perbuatan jahat dan keji, karena sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba yang ikhlas. (QS. Yusuf : 24)

Firman Allah :

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk (Hidayah) kepada orang yang dikehendaki-Nya. dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al Qashas : 56)

Kesimpulan : Hidayah adalah petunjuk bagi manusia secara syari'at dan secara hakekat, keduanya tidak bisa dipisahkan. Kalau anda ingin mendapatkan Hidayah intuisi, maka anda harus berjuang menjalankan hidayah syari'at yang kuat.
- Fungsinya sebagai petunjuk hidup/ Way of life
- sebagai kekasih Allah

Firman Allah :

"Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan". (QS. Al Mu'minun : 69)



Tanggapan atas pertanyaan II :

Anda benar, kita bukan Resi atau pendeta, tapi jangan lantas ikut seperti Resi lalu meninggalkan Tafakkur / berdzikir kepada Allah. Mereka beribadah dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan yang dipercayainya dan kita pun harus lebih sungguh-sungguh dari mereka. Sabda Nabi, orang Mukmin itu dikala malam beribadah seperi Rahib-rahib, sedang di siang hari bagai singa-singa kelaparan mencari makan, Hal ini sudah dicontohkan oleh Nabi sehingga bengkak-bengkak kakinya oleh sebab berdiri terlalu lama ketika shalat. Ruhbaanan billaili wa fursaanan binnahar, pada malam hari ia seperti Rahib-rahib dan pada siang hari ia pekerja keras, Kita terlalu menakar dan perhitungan dalam beribadah.

Mencintai Allah harus lebih dari segala-galanya, bukan sekedar di mulut atau dipikiran, tetapi cinta itu ada dalam hati

Firman Allah

"Mereka gemar memperlihatkan amalan-amalannya kepada manusia ramai dan mereka tiada menyebut Allah kecuali hanya sedikit" (QS. Annisa : 142)

Tragis memang... kita masih banyak berkutat pada persoalan "hukum", dan penghin-daran hukum boleh atau tidak, amalan kita terfokus pada tatanan fiqih saja. Padahal tidak kalah penting Roh Islam, seperti iman, ihsan, taqwa serta cinta kepada Allah merupakan jiwanya Agama.

Sampai sekarang, masih sedikit majlis yang mengajarkan kepasrahan, Mencintai Allah dan komunikasi dengan khusyu', bahkan mungkin kebanyakan menjadi asing tatkala seseorang sholatnya agak lama, pelan-
pelan, kadang ia menangis, atau tubuhnya bergetar karena takut kepada Allah. Padahal tanda-tanda ini telah tercantum dalam Al Qur'an (Maryam : 58, AzZumar :22-23)

Keadaan iman seperti itu bisa kita rasakan dan sekaligus membenarkan ayat-ayat tersebut dengan haqqul yakin, sebab kita pun merasakan seperti itu bukan katanya orang lain.

Pertanyaan saudara mengenai berdzikir itu seperti apa?

Seperti Rasulullah ketika ditodong sebilah pedang pada lehernya oleh Da'tsur dan berkata siapa yang menolong engkau lalu Rasulullah menjawab : Allah yang menolongku…

Hal ini pernah terjadi terhadap rekan-rekan, seperti halnya Sdr. Faisal salah seorang jama'ah di Bekasi ketika ia dikepung oleh para perampok di atas bus dengan leher dicekik, serta pisau sudah siap menembus perut. Saudara Faisal teringat akan pelajaran yang baru ia peroleh, sekitar 2 pekan ! Ia pasrah dan jiwanya merangkul / bergantung kepada Allah yang sangat dekat. Ia tidak berani lagi berteriak minta tolong kepada orang yang jauh karena didekatnya "Ada Allah" Yang Maha Kuasa, Maha Kuat, Maha Melindungi, sungguh luar biasa, tangan kekar yang mencekik leher Faisal terlepas dan kawanan perampok kabur turun dari bus tanpa hasil. Ia hanya menangis terharu... kalau begitu Allah benar, ... SANGAT DEKAT !

Keadaan seperti inilah yang kita pertahankan, tidak hanya dalam shalat atau ibadah-ibadah Mahdhah tetapi dalam berdagang, bekerja, dan berpergian. Teman kita tadi tidak memiliki ilmu kedigjayaan, tenaga dalam, kebal, atau bacaan mantra-mantra, ia hanya pasrah dan bersandar kepada Allah saja !

Banyak orang-orang berdzikir namun jiwanya tidak ingat kepada Allah. Banyak orang ingat Allah namun tidak untuk patuh kepada perintahNya. Contoh, orang yang berzina, ia ingat Allah, tapi ia abaikan Allah, ia tahu Allah dekat tapi ia palingkan mukanya dari pandangan Allah. Syetan itu bertauhid, syetan itu berdzikir, syetan itu ma'rifat kepada Allah namun ia mengabaikan perintahnya untuk hormat kepada Adam, dan syetan pun dikabulkan oleh Allah dipanjangkan usianya sampai hari kiamat. (lihat QS. Shaad : 75-83).

Sulitkah bersikap seperti Rasulullah ? Ia pasrah dan patuh serta percaya Allah sangat dekat. Inilah yang saya maksud dengan berdzikir dengan benar. Seperti yang dicontoh-kan Rasulullah ~ Insya Allah mudah…

Namun demikian Allah - lah yang melatih kita berdzikir melalui ayat-ayat Nya. Kritikan Allah terhadap orang yang tidak mau berdzikir :

"Orang yang tidak mau berdzikir diberi kawan syetan duduk di hatinya," (QS.Azzukhruf : 36),
Dilanjutkan surat Annur 21: "Syetanlah yang mengajarkan kefasikan dan kemungkar-an".
"Telah dikuati hati mereka oleh syetan, maka syetan itu telah menjadikan mereka lupa kepada Allah" (QS.Al Mujadilah : 19)
"Barang siapa yang tidak banyak ingat Allah, sungguh terlepas dia dari iman" (HR. Atthabrany dalam AlAusath)
"Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hainya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata" (QS. Azzumar : 22)
Perintah Allah mengenai berdzikir :
"Ingatlah Allah sebanyak-banyaknya" (Al Jumu'ah : 10)
"Ingatlah Allah, baik berdiri, duduk, berbaring…". (Annisa : 103)
"Allah memerintahkan, untuk memuliakan & menyebut nama-Nya, bertasbih didalam Rumah itu, pada waktu pagi maupun petang yaitu laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingat Allah…" (Annur 35-38)
"Ingatlah Aku, maka Aku akan ingat kamu …" (Al Baqarah : 152)
Hadist Rasulullah :
"Sesungguhnya Nabi SAW selalu berdzikir sepanjang hidupnya" (Muslim)

Untuk prakteknya… lihat Bab Jiwa (Komunikasi kepada Allah) Insya Allah kalau anda lakukan dengan benar anda akan merasakan keadaan yang sama dengan apa yang tertulis dalam Al Qur'an. Insya Allah… kalau ada kesulitan silahkan hubungi kami.


Abu sangkan
                                                                                     


































From : msabri@...

mohon penjelasan mengenai perkara ini, satunya ada yang mengatakan Allah tidak bertempat dan pada bahagian yang lain pula mengatakan Allah berada di atas 'arsy. mohon penjelasan mengikut aqidah Ahli sunnah wal jamaah.

-----Original Message-----

Assalamu alaikum,
(sambungan dari DI MANA ALLAH? (II).)

Keempat

Keterangan Para Sahabat Nabi SAW, dan Ulama-Ulama Islam. Adapun keterangan dari para sahabat Nabi SAW, dan Imam-imam kita serta para Ulama dalam masalah ini sangat banyak sekali, yang tidak mungkin kami turunkan satu persatu dalam risalah kecil ini, kecuali beberapa diantaranya.

1. Umar bin Khatab pernah mengatakan : Artinya :

"Hanyasanya segala urusan itu (datang/keputusannya) dari sini". Sambil Umar mengisyaratkan tangannya ke langit " [Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal : 103. mengatakan : Sanadnya seperti Matahari (yakni terang benderang keshahihannya).

2. Ibnu Mas'ud berkata : Artinya : "'Arsy itu di atas air dan Allah 'Azza wa Jalla di atas 'Arsy, Ia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan". Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Thabrani di kitabnya "Al-Mu'jam Kabir" No. 8987. dan lain-lain Imam. Imam Dzahabi di kitabnya "Al-Uluw" hal: 103 berkata : sanadnya shahih,dan Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyetujuinya (beliau meringkas dan mentakhrij hadits ini di kitab Al-Uluw).
Tentang 'Arsy Allah di atas air ada firman Allah 'Azza wa Jalla. "Dan adalah 'Arsy-Nya itu di atas air" (Hud : 7)

3. Anas bin Malik menerangkan : Artinya :

"Adalah Zainab memegahkan dirinya atas istri-istri Nabi SAW, ia berkata : "Yang mengawinkan kamu (dengan Nabi) adalah keluarga kamu, tetapi yang mengawinkan aku (dengan Nabi) adalah Allah Ta'ala dari ATAS TUJUH LANGIT".

Dalam satu lafadz Zainab binti Jahsyin mengatakan : "Sesungguhnya Allah telah menikahkan aku (dengan Nabi) dari atas langit". (Riwayat Bukhari juz 8 hal:176). Yakni perkawinan Nabi SAW dengan Zainab binti Jahsyin langsung Allah Ta'ala yang menikahinya dari atas 'Arsy-Nya. Firman Allah di dalam surat Al-Ahzab : 57 "Kami kawinkan engkau dengannya (yakni Zainab)".

4. Imam Abu Hanifah berkata : Artinya :

"Barangsiapa yang mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir". Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan "aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi". Berkata Imam Abu Hanifah : "Sesungguhnya dia telah 'Kafir !". Karena Allah telah berfirman : "Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa". Yakni : Abu Hanifah telah mengkafirkan orang yang mengingkari atau tidak tahu bahwa Allah istiwaa diatas 'Arsy-Nya.

5. Imam Malik bin Anas telah berkata : Artinya : "Allah berada di atas langit sedangkan ilmunya di tiap-tiap tempat, tidak tersembunyi sesuatupun dari-Nya".

6. Imam Asy-Syafi'iy telah berkata : Artinya : "Dan sesungguhnya Allah di atas 'Arsy-Nya di atas langit-Nya"

7. Imam Ahmad bin Hambal pernah di tanya : "Allah di atas tujuh langit diatas 'Arsy-Nya, sedangkan kekuasaan-Nya dan ilmu-Nya berada di tiap-tiap tempat.? Jawab Imam Ahmad : Artinya : "Benar ! Allah di atas 'Arsy-Nya dan tidak sesuatupun yang tersembunyi dari pengetahuan-nya".

8. Imam Ali bin Madini pernah ditanya : "Apa perkataan Ahlul Jannah ?". Beliau menjawab : Artinya :
"Mereka beriman dengan ru'yah (yakni melihat Allah pada hari kiamat dan di sorga khusus bagi kaum mu'minin), dan dengan kalam (yakni bahwa Allah berkata-kata), dan sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla di atas langit di atas
'Arsy-Nya Ia istiwaa".

9. Imam Tirmidzi telah berkata : Artinya : "Telah berkata ahli ilmu : "Dan Ia (Allah) di atas 'Arsy sebagaimana Ia telah sifatkan diri-Nya". (Baca : "Al-Uluw oleh Imam Dzahabi yang diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di hal : 137, 140, 179, 188, 189 dan 218. Fatwa Hamawiyyah Kubra oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah hal: 51, 52, 53, 54 dan 57).

10. Telah berkata Imam Ibnu Khuzaimah -Imamnya para imam- : Artinya : "Barangsiapa yang tidak menetapkan sesungguhnya Allah Ta'ala di atas 'Arsy-Nya Ia istiwaa di atas tujuh langit-Nya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya...". (Riwayat ini shahih dikeluarkan oleh Imam Hakim di kitabnya Ma'rifah "Ulumul Hadits" hal : 84).

11. Telah berkata Syaikhul Islam Imam Abdul Qadir Jailani –diantara perkataannya- : "Tidak boleh mensifatkan-Nya bahwa Ia berada diatas tiap-tiap tempat, bahkan (wajib) mengatakan : Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas 'Arsy sebagaimana Ia telah berfirman :"Ar-Rahman di atas 'Arsy Ia istiwaa (Thaha :5). Dan patutlah memuthlakkan sifat istiwaa tanpa ta'wil sesungguhnya Ia istiwaa dengan Dzat-Nya di atas 'Arsy. Dan keadaan-Nya di atas 'Arsy telah tersebut pada tiap-tiap kitab yang. Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya):"Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya ?" (Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 87).

Yakni : Kita wajib beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala istiwaa di atas 'Arsy-Nya yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas sekalian mahluk-Nya. Tetapi wajib bagi kita meniadakan pertanyaan : "Bagaimana caranya Allah istiwaa di atas 'Arsy-Nya ?". Karena yang demikian tidak dapat kita mengerti sebagaimana telah diterangkan oleh Imam Malik dan lain-lain Imam. Allah istiwaa sesuai dengan kebesaran-Nya tidak serupa dengan istiwaanya mahluk sebagaimana kita meniadakan pertanyaan : Bagaimana Dzatnya Allah ?.

Demikianlah aqidah salaf, salah satunya ialah Imam Abdul Qadir Jailani yang di Indonesia, di sembah-sembah dijadikan berhala oleh penyembah-penyembah qubur dan orang-orang bodoh. Kalau sekiranya Imam kita ini hidup pada zaman kita sekarang ini dan beliau melihat betapa banyaknya orang-orang yang menyembah dengan meminta-minta kepada beliau dengan "tawasul", tentu beliau akan mengingkari dengan sangat keras dan berlepas diri dari qaum musyrikin tersebut. Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji'un !!.
Kelima
Kesimpulan
Hadits Jariyah (budak perempuan) ini bersama hadits-hadits yang lain yang sangat banyak dan berpuluh-puluh ayat Al-Qur'an dengan tegas dan terang menyatakan : "Sesungguhnya Pencipta kita Allah 'Azza wa Jalla di atas langit yakni di atas 'Arsy-Nya, yang sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya". Maha Suci Allah dari menyerupai mahluk-Nya.!. Dan Maha Suci Allah dari ta'wilnya kaum Jahmiyyah yang mengatakan Allah ada dimana-mana tempat !??.


Dapatlah kami simpulkan sebagai berikut :
1. Sesungguhnya bertanya dengan pertanyaan : "Dimana Allah ?, disyariatkan dan penanya telah mengikuti Rasulullah SAW.

2. Wajib menjawab : "Sesungguhnya Allah di atas langit atau di atas 'Arsy". Karena yang dimaksud di atas langit adalah di atas 'Arsy. Jawaban ini membuktikan keimanannya sebagai mu'min atau mu'minah. Sebagaimana Nabi SAW, telah menyatakan keimanan budak perempuan, karena jawabannya : Allah di atas langit !.

3. Wajib mengi'tiqadkan sesungguhnya Allah di atas langit, yakni di atas 'Arsy-Nya.

4. Barangsiapa yang mengingkari wujud Allah di atas langit, maka sesungguhnya ia telah kafir.

5. Barangsiapa yang tidak membolehkan bertanya : Dimana Allah ? maka sesungguhnya ia telah menjadikan dirinya lebih pandai dari Rasulullah SAW, bahkan lebih pandai dari Allah \Subhanahu wa Ta'ala. Na'udzu billah.

6. Barangsiapa yang tidak menjawab : Sesungguhnya Allah di atas langit, maka bukanlah ia seorang mukmin atau mukminah.

7. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa bertanya :"Dimana Allah ?" akan menyerupakan Allah dengan mahluk-nya, maka sesunguhnya ia telah menuduh Rasulullah SAW jahil/bodoh !. Na'udzu billah !

8. Barangsiapa yang mempunyai iti'qad bahwa Allah berada dimana-mana tempat, maka sesunguhnya ia telah kafir.

9. Barangsiapa yang tidak mengetahui dimana Tuhannya, maka bukankah ia penyembah Allah 'Azza wa Jalla, tetapi ia menyembah kepada "sesuatu yang tidak ada".

10. Ketahuilah ! Bahwa sesunguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala di atas langit, yakni di atas 'Arsy-Nya di atas sekalian mahluk-Nya, telah setuju dengan dalil naqli dan aqli serta fitrah manusia. Adapun dalil naqli, telah datang berpuluh ayat Al-Qur'an dan hadits yang mencapai derajat mutawatir. Demikian juga keterangan Imam-imam dan Ulama-ulama Islam, bahkan telah terjadi ijma' diantara mereka kecuali kaum ahlul bid'ah. Sedangkan dalil aqli yang sederhanapun akan menolak jika dikatakan bahwa Allah berada di segala tempat !. Adapun fitrah manusia, maka lihatlah jika manusia –baik muslim atau kafir- berdo'a khususnya apabila mereka terkena musibah, mereka angkat kepala-kepala mereka ke langit sambil mengucapkan 'Ya ... Tuhan..!. Manusia dengan fitrahnya mengetahui bahwa penciptanya berada di tempat yang tinggi, di atas sekalian mahluk-Nya yakni di atas 'Arsy-Nya. Bahkan fitrah ini terdapat juga pada hewan dan tidak ada yang mengingkari fitrah ini kecuali orang yang telah rusak fitrahnya.

Tambahan

Sebagian ikhwan telah bertanya kepada saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) tentang ayat :Artinya :"Dan Dia-lah Allah di langit dan di bumi, Dia mengetahui rahasia kamu dan yang kamu nyatakan, dan Dia mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan ". (Al-An'am : 3) Saya jawab : Ahli tafsir telah sepakat sebagaimana dinukil Imam Ibnu
Katsir mengingkari kaum Jahmiyyah yang membawakan ayat ini untuk mengatakan: "Innahu Fii Qulli Makaan""Sesungguhnya Ia (Allah) berada di tiap-tiap tempat !".

Maha Suci Allah dari perkataan kaum Jahmiyyah ini !

Adapun maksud ayat ini ialah :
1. Dialah yang dipanggil (diseru/disebut) Allah di langit dan di bumi.
2. Yakni : Dialah yang disembah dan ditauhidkan (diesakan) dan ditetapkan bagi-Nya Ilaahiyyah (Ketuhanan) oleh mahluk yang di langit dan mahluk yang di bumi, kecuali mereka yang kafir dari golongan Jin dan manusia. Ayat tersebut seperti juga firman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Artinya : "Dan Dia-lah yang di langit (sebagai) Tuhan, dan di bumi (sebagai) Tuhan, dan Dia Maha Bijaksana (dan) Maha mengetahui". (Az-Zukhruf : 84) Yakni : Dia-lah Allah Tuhan bagi mahluk yang di langit dan bagi mahluk yang di bumi dan Ia disembah oleh penghuni keduanya. (baca : Tafsir Ibnu Katsir Juz 2 hal 123 dan Juz 4 hal 136).

Bukanlah dua ayat di atas maksudnya : Allah ada di langit dan di bumi atau berada di segala tempat!. Sebagaimana ta'wilnya kaum Jahmiyyah dan yang sepaham dengan mereka. Atau perkataan orang-orang yang "diam" Tidak tahu Allah ada di mana !. Mereka selain telah menyalahi ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi serta keterangan para sahabat dan Imam-imam Islam seluruhnya, juga bodoh terhadap bahasa Arab yang dengan bahasa Arab yang terang Al-Quran ini diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Imam Abu Abdillah Al-Muhasiby dalam keterangan ayat di atas (Az-Zukhruf : 84) menerangkan : "Yakni Tuhan bagi penduduk langit dan Tuhan bagi penduduk bumi. Dan yang demikian terdapat di dalam bahasa, (umpamanya ) engkau berkata : "Si Fulan penguasa di (negeri) Khirasan, dan di Balkh, dan di Samarqand", padahal ia berada di satu tempat". Yakni : Tidak berarti ia berada di tiga tempat meskipun ia menguasai ketiga negeri tersebut. Kalau dalam bahasa Indonesia, umpamanya kita berkata "Si Fulan penguasa di Jakarta, dan penguasa di Bogor, dan penguasa di Bandung". Sedangkan ia
berada di satu tempat.

Bagi Allah ada perumpamaan/misal yang lebih tinggi (baca : Fatwa Hamawiyyah Kubra hal : 73). Adapun orang yang "diam" (tawaqquf) dengan mengatakan : "Kami tidak tahu Dzat Allah di atas 'Arsy atau di bumi", mereka ini adalah orang-orang yang telah memelihara kebodohan !. Allah Rabbul 'Alamin telah sifatkan diri-Nya dengan sifat-sifat ini, yang salah satunya bahwa Ia istiwaa (bersemayam) di atas 'Arsy-Nya supaya kita mengetahui dan menetapkannya. Oleh karena itu "diam" darinya dengan ucapan "kita tidak tahu" nyata telah berpaling dari maksud Allah. Pantaslah kalau Abu Hanifah mengkafirkan orang yang berfaham demikian, sama seperti orang yang
menta'wilnya.

Pengirim: "k b" kamai81@...
                                                                         
Jawaban :
Assalamu'alaikum wr. wb.

Rekan-rekan Anggota Majlis Dzikrullah Yth.

Terimakasih atas kiriman potongan artikel oleh Sdr. Mohd Sabri, sekaligus permintaan penjelasan yang anda alamatkan ke milis dzikrullah.

Berikut ini penjelasan saya, mudah-mudahan anda menjadi jelas, bias menerima & memahaminya.
ALLAH DIATAS LANGIT ???
-------------------------
Setelah saya membaca dalil-dalil yang cukup kuat dan meyakinkan ...saya cukup mengerti maksudnya ...

Namun sayang... kelihatannya kurang difahami bahwa ayat-ayat Alqu'ranmempunyai makna muhkamat dan mutasyabihaat, sehingga sangat kelirukalau terjemahan dan pengertian "Allah bermukim diatas langit ataudiatas bumi"... dengan dalil kalau berdo'a menengadah keatas untukmenandakan keberadaan Allah diatas ...

Alqur'an didalam mengungkapkan suatu masalah yang konkrit, misalnyahukum rajam, hukum jinayat, hukum waris, hukum syariat mu'amalat,dijelaskan dengan kalimat yang bukan majaz ... yaitu muhkamat artinyasudah jelas, tidak perlu ditafsirkan lagi.seperti shalatlah kamu, dan bayarlah zakat , dst...

Akan tetapi kalau sudah mencakup persoalan ghaib ... tentang Allah, syurga, dan neraka, ... serta perasaan, maka Alqur'an menggunakan kalimat perumpamaan ... metafora ... yang biasa disebut mutasyabihaat..

Ada kelemahan bahasa manusia jika mengungkapkan rasa, sehigga Rasulullah ketika menjelaskan masalah syurga-pun tidak menjelaskankeadaan sebenarnya ... beliau hanya  memberikan gambaran bahwa syurga itu indah dan nikmat, dibawahnya ada air susu dan madu mengalir, ada buah-buahan ,korma, anggur dan arak....setelah itu beliau memberikan penjelasan ... keadaan syurga itu tidak pernah terdengar oleh telinga ... tidak bisa terbayangkan oleh pikiran ... dan tidak pernah terlintas dihati. Artinya bukan seperti apa yang digambarkan oleh Rasulullah ... (lihat gambaran syurga dalam surat Yaasin ayat:55-57)

Bagaimana Rasulullah akan menjelaskan sesuatu, atau keadaan yang didunia ini tidak ada. Bagaimana beliau akan memperbandingkan sesuatu yang tidak ada didunia. Apa jadinya kalau syurga itu seperti apa yang telah kita bayangkan tadi ... mirip dengan apa yang kita rasakan ... Hal ini juga terjadi kepada kita, ketika dihadapkan persoalan ungkapan rasa misalnya, hatiku telah bersemi lagi ... mendidih rasa hatiku tatkala melihat orang kafir itu membantai kaum muslim Bosnia ... perampok itu tergolong pembunuh berdarah dingin .... dan banyak
lagi ungkapan rasa yang tidak tertampung dan terwakili oleh kosa kata bahasa verbal ....
Namun demikian, kita sudah memahami maksudnya tanpa harus menafsirkan kalimat tersebut, sebab kalau kita mencoba menafsirkan ungkapan itu maka akan terjadi kesalah fahaman yang pasti akan menyimpang, sehingga wajarlah Rasulullah tidak pernah menafsirkan atau memberikan keterangan hal tersebut berupa 'foot note' dalam Alqur'an, sebab parasahabat sudah mengerti maksudnya tanpa harus bertanya apa maksudnya.

Misalnya ada orang berkata " saya mau pergi kerumah sakit" pasti anda tidak akan mengernyitkan mata karena bingung..khan ? Jangan ditafsirkan dengan mengatakan "rumah kok sakit"

Begitu pula tentang keberadaan Allah bahkan wujud Allah ...
Allah mempergunakan kalimat mutasyabihat dalam menerangkan keadaan diri-Nya.
seperti dalam firman-Nya :

" ... Allah adalah cahaya langit dan bumi" ( An Nur: 35)
" ... hai iblis apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku Ciptakan dengan kedua tangan-Ku ..." ( Shaad:75 )
"maka Allah menjadikannya tujuh langit dalam dua hari..." (Fushilat 12)
" ... Allah meliputi segala sesuatu" ( Fushilat 54 )

"Dan Dia lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasana-Nya sebelum itu berada diatas air" (Al Hud:7)

Didalam artikel 'Bab Membuka Hijab', yang telah saya tulis & jelaskan
tentang pertanyaan dimana, dan seperti apa Allah swt ?

Firman Allah:

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya Aku ini dekat ..." (Al Baqarah :186)
".. dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" ( Qaaf:16)
" ... ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu" (Al fushilat 54)
" ... kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah .. "(Al baqarah:115)

Sangat jelas bagi kita, bahwa ungkapan-ungkapan mutasyabihat diatas, dimengerti bukan untuk ditafsirkan, melainkan sebagai batasan fikiran
melalui konsepsi manusia. Bukan hal yang sebenarnya,sebab Allah tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu ( As syura: 11), bahwa Allah tidak bisa dilihat dengan mata manusia dan tidak bisa dijangkau oleh fikiran manusia akan tetapi Allah Maha Melihat segala yang kelihatan (Al An'am : 102-103)

Seperti yang pernah saya katakan, bahwa Allah mentasybihkan dan meminjam kata-kata yang dimiliki manusia untuk memudahkan berdialog dan memberikan pengertian dalam bentuk bahasa manusia dan ilmu, sebab
09kalau kita menterjemahkan dengan kata sebenarnya maka akan ada
benturan-benturan yang saling bertentangan ...

Mari kita perhatikan firman Allah dibawah ini:

"Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan singgasananya sebelum itu berada diatas air" ( Hud :7)

"Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang berada diantara mereka dalam enam hari, kemudian Dia bersemayam diatas singgasana-Nya"( Sajdah :4)

Bukankah syirik, untuk memberikan tafsiran yang menggambarkan bahwaAllah memerlukan singgasana dan bahwa singgasana itu seakan-akan terapung diatas air dan juga seakan-akan Allah sesudah membuat langit dan bumi berserta isinya naik kembali ke tahta-Nya ?

Alangkah anehnya, jika dikatakan Allah dalam menciptakan langit dan bumi beserta isinya memerlukan waktu enam hari/masa ? Padahal bumi dan matahari belum tercipta! Apa yang menjadi patokan waktu, ... adahal ruang pun tidak ada. Namun demikian, saya akan sedikit berikan gambaran masalah penciptaan alam dan persoalan waktu ...

Bilamana mahaledakan (big bang) itu terjadi ? Dari pengetahuan kita mengenai kecepatan berkembangnya alam semesta, diperkirakan peristiwa itu terjadi antara sepuluh sampai lima belas miliar atau ribu juta tahun yang lalu. Kemudian, dari keliling kosmos dan umurnya, dapat dihitung kembali suhu alam semesta sesaat sesudah ledakan itu terjadi. Diperkirakan pada saat itu suhu kodmos melebihi seratus juta juta juta juta derajat, karena kerapatan materi yang sangat tinggi pula. Orang tidak pula dapat menamakan keadaan alam semesta pada
waktu itu. Kerapatan tinggi pada suhu rendah membentuk benda padat, kerapatan rendah pada suhu tinggi membentuk gas, tetapi kerapatan materi yang sangat tinggi yang dibarengi dengan suhu yang sangat tinggi, ilmuwan pun tidak tahu keadaannya kecuali menamakannya sebagai "sop kosmos" suatu fluida.

Inilah yang disebut dalam ayat 7 surat Hud dengan "air". Kata-kata " singgasana-Nya berada diatas air (sebelum bumi dan langit diciptakan), oleh karena mengandung makna bahwa pemerintahan atau peraturan Allah ditegakkan atas fluida kosmos itu. Pada saat itu materi beserta ruang kosmos sudah diatur oleh Allah. dan mereka mengikuti serta tunduk pada peraturan-peraturan itu, jadi pada saat diciptakan alam semesta, Allah telah menetapkan berlakunya hukum-hukum alam sebagai sunnatullah. Dengan berlakunya hukum-hukum alam ini maka semua makhluk, baik ruang kosmos, atom molekul, partikel dan seluruh materi yang tersusun sebagai benda mati atau hidup, matahari, bumi, bintang dan sebagainya, berjalan sepanjang waktu sesuai dengan ketetapan hukum-hukum tersebut, ... tidak satupun yang menyimpang kecuali izin Allah.

Kitapun dapat mengerti apa makna yang terkandung dalam surat Sajadah ayat 4, dimana dinyatakan bahwa setelah melewati fase 'sop kosmos', Allah menciptakan langit dan bumi beserta segenap isinya, dalam enam hari dan menegakkan kekuasaan atau pemerintahan-Nya sekaligus sejak awal penciptaan.

Kita semua mengetahui apa yang disebut ruang secara intuitif, yaitu suatu volume berdimensi tiga yang dapat ditempati oleh suatu benda. Tiap benda didalam ruang itu mempunyai tempat yang dalam ilmu pengetahuan alam, ditunjukkan oleh apa yang disebut koodinat ruang. Kita juga mengetahui apa yang dimaksud dengan kata-kata waktu, ... ia memberikan urutan ketika berlangsung gejala gejala di dunia ini ... "kemarin" mendahului "sekarang", dan "sekarang" lebih awal dari "besok". Didalam sains, kita mengatakan bahwa gejala-gejala itu mebuat koordinat waktu. jadi semua gejala alamiah memiliki koordinat ruang dan waktu, karena mereka terjadi pada tempat-tempat dan pada urutan waktu masing-masing. Orang mengatakan bahwa gejala-gejala alam
itu berjalan melalui kontinuum ruang dan waktu, sebab orang beranggapan bahwa suatu gejala diikuti oleh gejala-gejala lanjutannya dalam suatu rangkaian yang tak terputus, berlanjut atau kontinu. Kecuali itu pengertian kontinuum ruang-waktu mengandung makna, bahwa ruang dan waktu merupakan satu kebulatan yang tak terpisah satu sama lain.

Kalau dulu waktu yang lamanya satu detik 'disini' dianggap sama panjang dengan 'disana' dalam semesta ini, sekarang terbukti tidak demikian halnya. Apabila seorang astronot membawa pencatat waktu kesebuah planet diangkasa, bintang yang sangat dekat misalnya, ... atau membawanya dalam pesawat ruang angkasa yang super cepat, misalnya dengan tingkat laju yang mendekati kecepatan cahaya, maka pencatat waktu yang identik yang berada dibumi akan dapat menunjukkan dengan mudah satu detik pada astronot itu lebih lama jangka waktunya dibanding satu detik dibumi. Kenyataaan yang baru ditermukan dan dipahami para ilmuwan dalam abad ke 20, sebenarnya telah disebut dalam Alqu'an pada ayat 5 surat As Sajdah :

"Dia mengatur perintah dari langit sampai ke bumi, kemudian para malaikat naik menghadap pada-Nya dalam satu hari yang ukuran lamanya sama dengan seribu tahun menurut perhitunganmu"

Mudah-mudahan kita diberi kefahaman atas ilmu-ilmu_Nya yang tersembunyi maknanya

Untuk lebih jelasnya coba anda ulangi membaca artikel saya pada Bab Membuka Hijab, disitu dijelaskan "dimana Allah dan apa itu dzat"....


Wassalam,

Abu Sangkan
                                                                      

wahyu setyawan[SMTP:siway@...] wrote :
Sent: Thursday, September 28, 2000 6:00 AM

Assalamu'alaikum,

saya wahyu, ingin menanggapi sekilas berita ini yang utamanya meninjau arti / tidak mengartikan apa yang difirmankan Allah dalam Quran.

Yang terjadi selama ini adalah: setelah sesuatu ilmu ditemukan/diketahui manusia, baru muslim mencari pencocokannya di Al Quran. Sedangkan penemuan itu sendiri tidak berlandaskan Al Quran, bahkan penemuan oleh fisikawan muslim Abdus Salam pun berawal dari sejarah fisika yang dia pelajari, bukan dari Al Quran. Seperti ketika ada professor di ITB yang mencoba mengartikan surat Al 'aadiyat (?) mengenai kuda perang yang berlari kencang yang memercikkan api dari tapalnya ketika berlari.... Beliau mencoba mengartikan sebagai partikel berenergi tinggi (= kecepatan tinggi), bukan kuda perang sesungguhnya, kemudian ketika partikel berenergi tinggi tersebut saling bertumbukan, maka timbul foton (partikel cahaya), dsb. Bahkan saya sendiri juga pernah mencoba mengartikan/ mencari padanannya di Al Quran mengenai teknologi cloning, dan saya juga menemukannya, tapi saya lupa suratnya, kira-kira artinya "dan jika Allah menghendaki, maka Dia bisa membuat sesuatu yang serupa dengan kamu...".

Yang ingin saya bilang di sini, adalah mungkin ada baiknya kita menggali Al Quran dengan mencocokkan hal seperti di atas dengan tujuan menambah kekaguman kepada Allah, tapi jangan sampai kita gunakan untuk bangga-banggaan atau dalih bahwa Al Quran lebih baik dari kitab lain KEPADA penganut agama lain, karena kenyataanya memang umat Islam yang mencocok-cocokkan, bukan ilmu itu ditemukan umat Islam berdasarkan Al Quran.

Mengenai arti yang sebenarnya atau yang kiasan, bagaimana kita bias mengetahui kalau sekarang ini sedang kiasan atau sedang sebenarnya?


wassalam,
wahyu setyawan
                                                                     
Assalamu'alaikum wr. wb.

Tanggapan untuk Sdr. Wahyu Setyawan,

Anda mungkin termasuk salah satu orang yang kecewa dengan kenyataan ummat islam masa kini. saya memakluminya… begitulah kenyataannya…

Namun demikian saya akan katakan bahwa pandangan anda terhadap ilmuwan kita (muslim ) agak sedikit sinis... bahkan Dr Abdus salam dikatakan sebagai fisikawan bukan hasil menggali dari Alqur'an atau
kalau ada-pun itu hanya mencocok-cocokkan !!
Hal ini saya tidak mau menebak-nebak persoalan bagaimana sang ilmuwan tersebut memperoleh pengetahuan fisikanya… saya hanya ingin mengungkapkan dasar-dasar untuk menjadi ilmuwan …memang didalam Alqur'an tidak dijelaskan bagaimana membuat pesawat…membuat roti… membuat jembatan layang dan lain sebagainya. bahkan disetiap kitab agama manapun juga tidak ada …weda- kah ,injil-kah, atau kitab-kitab filsafat sang Budha….

Mari kita melihat sejarah… siapa sebenarnya yang mendahului sejarah ilmu pengetahuan modern….dan apa yang menjadi azas sehingga mereka menjadi ilmuwan dan bandingkan dengan ilmuwan Kristen yang mendasari penelitiannya bukan berdasarkan keterangan kitab suci injil sehingga para saintis dianggap bid'ah atau sekukler oleh gereja….

Para cendekiawan barat mengakui bahwa Jabir ibnu Hayyan ( 721-815) adalah orang pertama yang menggunakan metode ilmiah dalam kegiatan penelitiannya dalam bidang Alkemi yang kemudian oleh ilmuwan barat diambil alih serta dikembangkan menjadi apa yang kita kenal sekarang sebagai ilmu kimia ( Al kemi dari bahasa arab) sebab Jabir yang namanya dilatinkan menjadi Geber adalah orang yang pertama yang mendirikan suatu bengkel dan mempergunakan tungku untuk mengolah mineral-mineral dan mengekstraksi dari mineral-mineral zat-zat kimiawi.

Muhammad Ibnu Zakaria Ar rozi (865-925) telah menggunakan alat-alat kkhusus untuk melakukkan proses yang lazim dilakkukan ahli kimia seperti distilasi, kristalisasi, kalsinasi… namanya dilatinkan menjadi Razes, dianggap sebagai manual atau buku pegangan laboratorium kimia pertama di dunia, dan dipergunakan oleh para sarjana Barat yang baru berabad-abad kemuadian mempelajari sains, yang telah dikembangkan ummat Islam di universitas-univesitas Islam di Todelo dan Kordoba.

Ibnu Sina, salah seorang tokoh ilmuwan Islam yang pengaruhnya sangat besar di Eropa karena karya-karyanya dibidang ilmu pengetahuan kealaman, terutama ilmu kedokteran.

Apa yang menjadi landasan para ilmuwan /ulama pada jaman itu ?

Didalam Alqur'an banyak diperoleh ayat yang mendorong ummat Islam untuk melakukan intidzar (penelitian / memperhatikan) dan menggunakan akal dan pikiran :

"katakanlah (hai Muhammad) perhatikanlah dengan intidzar /nadzar apa- apa yang ada di langit dan dibumi.". ( Yunus :101)

Maka apakah mereka tidak melakukan intidzar dan memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana ditinggikan. Dan gunung- gunung bagaimana mereka didirikan. Dan bumi bagaimana dibentangkan . maka berilah peringatan karean engkaulah pemberi peringatan ( Al Ghasyiyah : 17-20)

Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tananman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah (atau tanda kekuasaan Allah) bagi orang- orang yang berfikir. ( An Nahl :11)

Dan dia menundukkan malam dan siang , matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan dengan perintah-Nya. Sesungguhnya dalam gejala-gejala itu terdapat ayat-ayat Allah (tanda-tanda kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mempergunakan akal ( An Nahl:12 )

Bagaimana mengenai ayat yang menyangkut penciptaan kita sendiri ?

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sari / ekstrak yang berasal dari tanah ( Al Mu'minun : 12 )

Yaitu orang yang mengingat Allah sambil berdiri, dan duduk, dan dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ya Tuhan kami, tidak lah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka ( Ali Imran : 191)

Dan banyak lagi ayat-ayat yang mendorong untuk meneliti dan memperhatikan diri maupun alam semesta .. sayang kebanyakan kita kurang memperhatikan bagaimana metodologi penelitian yang diajarkan di sekolah & perguruan tinggi.

Sebelum pesawat terbang ditemukan, yang pertama diperhatikan oleh orang adalah bagaimana burung itu bisa terbang …kemudian ia memperhatikan dengan teliti apa saja instrumen yang mendukung untuk bisa terbang .. keseimbangan bobot dan tenaga untuk mendorong serta memperhatikan system aero dinamisnya, sehingga dengan pecobaan- percobaan bertahun-tahun pada akhirnya ditemukan suatu kendaraan yang mirip burung.

Alqur'an hanya memberikan kesadaran dan dorongan untuk menggali suatu peristiwa alam atau gejala-gejala sehingga mendapatkan akurasi yang benar, untuk kemudian hasil penelitian itu disebut ilmu pengetahuan. Dan untuk anda ketahui, bahwa apa yang anda pelajari di kampus atau disekolah hanya berupa paket ilmu pengetahuan yang di hasilkan oleh para peneliti / ilmuwan, artinya kita masih banyak membaca tulisan-tulisan yang disajikan oleh dosen ketimbang memperhatikan kejadian-kejadian alam semesta maupun gejala apa yang dialami oleh individu manusia.

Padahal pertama kali turun ayat kepada Nabi Muhammad adalah surat Al `alaq … yang dimulai dengan kata iqra' … pada kelanjutan kalimat itu tidak disebutkan membaca sebuah kitab atau mata pelajaran berupa buku- buku seperti paket disekolah, akan tetapi perintah membaca disini ialah melihat kejadian atau prosesi penciptaan manusia !! bacalah dengan nama tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah…

Pada firman Allah diatas dijelaskan bahwa alam semesta itu merupakanayat-ayat Allah (ayat kauniyah ), artinya konsepsi Alqur'an tidak akan lepas kebenarannya dengan ayat-ayat kauliyah (firman). Jadi tidak benar kalau dikatakan ilmuwan kita hanya mencocok-cocokkan dengan pengetahuan yang ada….

Ketika anda masuk kuliah pada jurusan kedokteran misalnya … yang pertama anda terima bukan status sebagai dokter … akan tetapi anda akan mendapatkan pelajaran bagaimana anda memperhatikan gejala–gejala yang yang terjadi pada anatomi manusia, misalnya detak jantung, saluran pernafasan, sistem kerja syaraf, atau system pencernaan, dan lain lain.

Jadi jelaslah bahwa yang ditanamkan kepada kita oleh Alqur'an, bukan ilmu fisika, bukan biologi, atau sejarah, akan tetapi lebih dari sekedar ilmu-ilmu itu yaitu menjadi manusia yang berfikir (afala tatafakkarun) … berakal (afala ta'qilun) … dan meneliti (afala tandzurun ), apa-apa yang terjadi pada alam semesta sehingga menghasilkan sebuah ilmu pengetahuan…..(sayang ummat islam sekarang kurang memperhatikan ayat ini)

Sekali lagi, islam menempatkan berfikir dan menggunakan akal lebih tinggi ketimbang ilmu itu sendiri, bahkan lebih baik dari ibadah seribu rakaat.(Al hadist), sebab ilmu pengetahuan bersifat nisbi (berubah-ubah), akan tetapi berfikir merupakan jalan untuk mengetahui lebih jauh dari apa yang diperoleh sekarang. Kalau seandainya Al qur'an menjelaskan bagaimana cara membuat pesawat terbang, berarti islam tidak menanamkan filsafat ilmu kepada ummatnya, sehingga akan menjadi tidak relevan lagi jika terjadi pengembangan-pengembangan yang lebih maju. Yang pada akhirnya Alqur'an tidak lagi disebut universal dan tidak berdimensi ….

Maka kekecewaan anda terhadap ummat sekarang, janganlah anda menutup mata bahwa Alqur'an sangat menjunjung dan mendorong ummatnya untuk menjadi peneliti dan memperhatikan gejala-gejala alam semesta, sehingga jika kita lakukan dengan benar maka akan kembali kejayaan islam terjadi seperti pada abad ke tujuh sampai akhir abad ke tiga belas, yang pada waktu itu ummat Kristen terbelakang oleh karena doktrin yang membunuh kreativitas ummat untuk berfikir maju ... yang pada akhirnya ummat memberontak dari sikap gereja yang ortodoks .. jadilah kaum sekuler yang kita kenal sekarang … Jadi kaum Kristen bukanlah didorong oleh alkitab untuk menjadi manusia modern seperti sekarang, melainkan mereka keluar dari peratuan dan dokrtin alkitab itu sendiri, namun sebaliknya kaum islam sekarang mengalami kemunduran diakibatkan karena justru tidak memperhatikan cara berfikir qur'ani.. seperti apa yang telah saya ungkapkan pada ayat-ayat diatas….

Konkritnya ialah, kaum kristen maju disebabkan meninggalkan ajaran agamanya (sekuler) sedangkan kemunduran kaum Islam sekarang disebabkan meninggalkan ajaran Islamnya…

Saya akan menujukkan sebuah sejarah Nasrani, bahwa "Galileo" yang
terkenal, pada masa 300 tahun yang lampau (1633) telah dihadapkan dimuka majelis Paus, dan dengan ancaman akan disiksa, dipaksa untuk menarik kembali keterangannya yang terkutuk dan menyalahi hokum agama, bahwa bumi berputar mengelilingi matahari. Coba anda bandingkan dengan sejarah Islam di Cordova dan Toledo yang berlangsung pada awal abad ke 7, tentang kemajuan tekhnologi yang dikembangkan oleh ulama Islam dengan para peneliti Kristen yang baru dimulai pada abad ke 16 yang dipelopori oleh Galileo.

Kesimpulannya ialah bahwa tidaklah mungkin Alqur'an memuat secaradetail pelajaran tentang kimia praktis, fisika praktis, dan ilmu-ilmu bangunan, disain interior / eksterior, manajemen perusahaan, … kecuali hanya memberikan landasan untuk berfikir dan meneliti apa-apa yang dihadapi dimuka bumi ini. Sehingga kita akan mendapatkan keterangan mengenai alam semesta yang merupakan ayat-ayat kauniyah yang digelar mengikuti sunnah-sunnah (ketetapan-ketetapan) Allah Swt. Karena tidaklah mungkin ilmu pengetahuan itu ada, jika tidak melalui berfikir.(afala tatafakkarun)… menggunakan akal (afala ta'qilun)… dan meneliti (afala tandzurun)….


Dibawah ini sebagian ulama Islam yang turut andil dalam menyumbangkan pemikiran-pemikiran modern sebelum bangsa Eropa menjadi manusia beradab :

Rhazes ( Al Razi) hidup antara rahun 865-925 . menurut Dr Max Meyerhof ..tidak disangsikan sebagai seorang physician terbesar dalam dunia Islam… pada waktu mudanya ia sebagai doktor kimia .

Ishak Yuda, hidup antara tahun 855-955 ia berasal dari Mesir , bekerja sebagai dokter istana pada pemerintahan Fatimiyah, waktu itu berkuasa di Tunisia .. kitab-kitabnya banyak diterjemahkan dalam bahasa Latin diantaranya, adalah On Fevers (tentang penyakit malaria)… On the Elements (Anasir) On simple drugs and Aliments, on urine.

Haly Abbas wafat tahun 944 M, ia mengarang Encyclopaedea atau alkitab Al Maliki, dalam bahasa Inggris disalin dengan The Whole Medical Art.

Avicenna / Ibnu Sina adalah seorang filosof dan doktor… buku karangannya Al Qanun fi'thibb ( Canon of medicine) dalam abad ke 12 M. Gerald Cremona, menyalin buku Ibnu Sina kedalam bahasa Latin. Buku-bukunya bukan semata-mata dalam ilmu kedokteran saja, tetapi tebagi-terbagi atas beberapa cabang : ilmu agama, metaphysika, astronomi dan philology dan juga beliau seorang pemusik yang handal.

Albiruni , hidup tahun 973-1048 M . ia seorang doktor penyakit.. ahli falakiyah, ahli matematika, ahli obat-obatan ahli ilmu bumi dan sejarah….. ( Kultur Islam, Dr Oemar Amin Hoesin ,1964, Penerbit bulan Bintang, Jakarta)

Terima kasih

Wassalamu'alaikum wr. wb.

Abu Sangkan
                                                                        
From: jameyah[SMTP:jamzam@...]
Sent: Thursday, November 23, 2000 2:19 PM
To: dzikrullah-owner@egroups.com
Subject: Re: [dzikrullah] Semasa Ingat Itulah Kita, Siapa yang menlihat ?

Assalamu'alaikum.......

Terima kasih kerana telah memberi penerangan yang lengkap kepada saya. Sebenarnya saya sendiri pernah terfikir jawapan yang hampir serupa .... tapi tidak begitu yakin atau pasti... pun saya masih ingin mendapat penerangan yang lebih lanjut tentang beberapa perkara:- Maksud saudara:
Keadaan ingat kita adalah ketika kejadian kita sebagai manusia itu lengkap .... maksudnya diri kita yang jasad dan selepas RuhNya dihembus......... Tetapi sebelum keadaan kita yang sebegitu .... yang ada hanya hanya Dia dan kita tidak boleh menjangkau penglihatan kita tentangNya walau dalam apa cara sekalipun..... tetapi bukankah ketika itu kita TIADA .... atau adakah kita juga ADA tetapi di dalam entiti yang berbeza?????

Dan apakah yang membezakan antara HAMBA dan ALLAH .... kerana saya pernah diberitahu pada satu tahap ilmu kita kita akan berkata Aku Dia dan Dia Aku .... tetapi pada satu tahap ilmu pula kita akan berkata "AKU ...AKU dan DIA ...DIA....

Harap maaf kalau persoalan-persoalan saya nampak agak kebodohan.... kerana terlalu cetek ilmu saya tentang ini tapi saya ingin mencari hakikat diri dan hakikat yang sebenar-benar hakikat......

Terima kasih..... dan bagaimana saya boleh membaca "Bab membuka Hijab".....

Jam/penang
                                                                       
Jawaban :
anggapan Untuk Sdr. Jameyah (jamzam@... )
-------------------------------------------

Siapa yang melihat ??

Selamat Hari Raya Iedul Fitri , Mohon Maaf Lahir Bathin
Terima kasih bagus sekali pertanyaan anda yang kedua ini, karena pertanyaan sudah menjurus kepada esensi yang sebenarnya, untuk membedakan tuduhan orang-orang terhadap ajaran tasawuf yang identik dengan Syekh Mansyur Al hallaj. Karena banyak orang tidak mendalami ajaran tasawuf, sehingga mereka sekedar sebagai pengamat / pemerhati...

Saya tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka belum tahu sebenarnya tasawuf itu seperti apa, mereka mengira ajaran tasawuf merupakan ajaran baru yang dibuat oleh manusia. Sebenarnya tidak, tasawuf adalah menjalankan syariat yang di hayati, tidak sekedar di fisik saja, akan tetapi meresapkan sampai kedalam jiwa sehingga menemukan halawatul iman itu secara hakiki. Karena mereka hanya takut imannya di identikkan dengan kaum Arab Baduy yang sekedar sampai di tenggorokan tidak sampai di hati sebagaimana disebutkan dalam Alqur'an :

Orang-orang Badwi itu berkata: kami telah beriman. Katakanlah ( kepada mereka) kamu belum beriman, tetapi katakanlah , kami telah tunduk. Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu ( QS. 49:14 )

Baiklah saya akan mengutip pertanyaan anda sebagai berikut :
Keadaan ingat kita adalah ketika kejadian kita sebagai manusia itu lengkap… maksudnya diri kita yang jasad dan selepas Ruh-Nya di hembus… Tetapi sebelum keadaan kita yang sebegitu, ... yang ada hanya DIA dan kita tidak boleh (bisa) menjangkau penglihatan kita tentang-Nya walau dalam apa cara sekalipun…tetapi bukankah ketika itu kita TIADA … atau adakah kita juga ADA tetapi di dalam entity yang berbeza ???

Dan  apakah yang membezakan antara hamba dan Allah…. karena saya pernah diberitahu pada satu tahap ilmu kita akan berkata Aku dia dan Dia Aku…tetapi pada satu tahap ilmu pula kita akan berkata AKU …AKU dan DIA…DIA….

Bismillahirrahmanirrahiem….

Sebelum saya menjelaskan ke tahap ilmu hakikat, sebaiknya saya akan mengambil perumaan Nabi Musa ketika Pingsan.

Saat anda pingsan (tiada)… apakah anda ADA ? jawabnya tidak ada... Apakah anda tahu keadaan pingsan ??
Cobalah anda ceritakan keadaan pingsan itu, Saya tidak tahu apa-apa, tidak mendengarkan suara apapun, tidak ada pikiran dan perasaan, tidak seperti tidur dan tidak ada alam mimpi.
Saya akan bertanya kepada anda, siapa yang tahu saat anda tidak ada (pingsan) ?
Mengapa anda mampu menceritakan keadaan disana dengan jelas dan hak, tidak sedikitpun keraguan keterangan anda… sehingga anda mampu membedakan tidur dan pingsan …. Ketika anda tidak ada itu siapa yang ada ?? ialah yang Maha Tahu, ialah yang melihat, karena kalau tidak ada yang Maha Tahu maka Tuhan tidak ada atau kosong !! tetapi ketika anda tidak ada tetap ada YANG ADA…..berarti keabadian itu ada walaupun kita tidak ada (fana)

Anda bisa bayangkan tatkala anda sebelum diciptakan, siapa yang ADA ? Ketika keadaan awal sebelum diciptakan sesuatu, yang ada hanyalah Allah (Qiyamuhu binafsihi) dan yang Maha Tahu adalah DZAT .

Berbeda dengan keadaan yang dikatakan orang dengan hulul, bersatunya makhluq dengan Allah. keadaan ini terjadi karena manusia belum mengalami fana secara total, sehingga keadaan diri masih ada rasa ada, akibatnya dia tidak bisa berkata apa-apa kecuali Anal Haq
(akulah kebenaran itu), inilah yang menghebohkan tokoh sufi besar ini karena ketidak mampuannya melepaskan rasa cintanya kepada Allah… yang seharusnya beliau pingsan (fana) agar beliau mampu melihat dengan hakiki sebenarnya. Bukan perasaan, bukan pikiran, bukan keberadaan, akan tetapi kita bisa melihat dengan ketiadaan DIRI (fana dzauqy dan fana dzaty).

Kalau seandainya sang syekh mampu melepaskan ikatannya dengan dirinya maka tidaklah mungkin beliau berkata begitu, karena semua rasa diri sudah lenyap… kembali kepada ta'yun awwal, dimana manusia menemui hakikatnya bahwa dirinya sebenarnya Makhluk yang fana, yang pada awalnya tidak ada maka kembali kepada yang tiada, namun Allah adalah sesuatu yang kekal atau abadi, walaupun manusia itu telah lenyap maka keabadian itu tetap ADA, walaupun anda pingsan !!

Gambaran pingsan adalah, gambaran orang yang telah melihat dengan ilmu hakikat, yaitu : Allah itu tidak bisa di gambarkan dengan apapun, termasuk pikiran, perasaan, penglihatan mata, dan hayalan…

Kalau anda perhatikan dengan seksama, ketika anda tidak menggunakan lagi perasaan, tidak ada lagi pikiran untuk menggambarkan Tuhan, tidak ada sesuatu yang menyamainya. berarti telah kehilangan segalanya ... karena semua rasa manusia telah habis karena berhenti sampai pada tahapan yang serba terbatas (fana dzawqy) !!

Lalu siapa yang mengetahui Tuhan dengan sebenarnya, ialah YANG MAHA
TAHU. Lalu mengapa manusia disebut ma'rifat,.. karena ia telah mengalami dengan sendirinya, bahwa Tuhan tidak bisa digambarkan dengan sesuatu, tidak bisa dirasakan, tidak bisa dipikirkan dan tidak seperti makhluknya… Melihat keadaan bahwa tuhan tidak sama dengan makhluknya itulah yang dimaksudkan dengan makrifatullah dengan sebenar-benarnya (digambarkan dengan Pingsan = karena pingsan itu suatu keadaan manusia tidak lagi bisa berkata apa-apa, tidak ada gambaran apa-apa, tidak mendengar suara dll). Lalu siapa yang mengetahui keadaan itu, ialah hakiki RUH. Dan anda bisa bercerita seperti Nabi Musa bercerita, bahwa wa ana awwalul mukminin… dan saya adalah yang pertama percaya bahwa benar Tuhan tidak sama dengan makhluknya, tidak bisa dilihat oleh mata, tidak bisa di jangkau oleh pikiran dll.

Demikian saya uraikan dengan singkat, mudah-mudahan anda memahami bahasa melayu Indonesia, yang agaknya banyak perbezaan ….

Bagi ikhwan yang tidak memahami akan persoalan ini saya tidak membuka pertanyaan lagi kecuali yang benar-benar ingin mengetahui lebih dalam atas hakikat ketuhanan… di harapkan pertanyaan anda paling tidak sudah mendekati mengertian kepada persoalan hakikat makrifat yang terakhir ini….

Bagi ikhwan yang tidak setuju , saya menghormati anda untuk menolak pendapat saya ini dan marilah kita tetap dalam rahmat Allah …..



Salam
Abu Sangkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar