Saya sering mendapati
kata-kata atau kalimat bahasa Indonesia yang tidak mampu memuat makna atau
padanan kata yang sesuai dengan bahasa Arab, Inggris, dan Prancis.
Sehingga sampai sekarang kita terkadang bingung dengan
istilah-istilah asing yang kalau diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi
rancu dan aneh. Seperti pada kata qalb, diterjemahkan menjadi hati, hati kecil,
hati nurani dll seakan-akan hati itu ada beberapa macam lapisan, sebenarnya
qalb itu sifat dari jiwa, sedangkan jiwa itu termasuk An nafs (badan, sosok,
wujud / berwujud / berbentuk / berupa). Disini orang kebanyakan keliru,
"An nafs" hanya diartikan jiwa, padahal badan wadag (fisik ) ini pun
disebut An nafs (sosok, wujud kasar/ badan kasar).
Roh adalah rahasia Tuhan yang di tiupkan kepada nafs (jiwa atau
badan). Roh ini menyebut dirinya AKU, yang disebut bashirah (yang mengetahui
atas jiwa, qalb, fisik dll. - lihat tafsir Shafwatut Attafaasir surat Al
qiayamah: 14 ).
Baiklah agar tidak bingung, mari kita bahas satu persatu menurut
dalil qoth'i.
Apakah roh itu ??
Mengapa Allah merahasiakan Roh dan mengaitkannya dengan Roh-Nya,
dan didalam Alqur'an termasuk kelompok ayat-ayat mutasyabihat (makna yang
dirahasiakan), karena pada ayat tersebut terdapat kalimat Roh manusia adalah
Roh yang ditiupkan dari ROH-KU (Min ruuhii) arti harfiahnya adalah Roh milik
Allah. Akan tetapi para mufassir menterjemahkan Roh ciptaan Allah. - saya tidak
berani menafsirkan karena dari segi tata bahasa ayat ini termasuk kalimat
muatasyabihat, tidak ada menunjukkan bahwa Roh itu ciptaan Allah, karena itu
saya tidak berani menterjemahkan kalimat ini - sebab Allah sendiri melarang
meraba-raba atau mereka-reka seperti apa roh itu .kecuali hanya bisa merasakan
bahwa di dalam diri ini ada yang melihat (bashirah) setiap gerak-gerik jiwa dan
pikiran serta perasaan kita. Dan bashirah bersifat fitrah (suci) karena ia
selalu bersama dan mengikuti amr-amr (perintah) Tuhannya .
"Maka apabila telah Aku menyempurnakan kejadiannya dan telah
meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud."
(Al Hijr,29).
An Nafs adalah yang memiliki bentuk atau wujud atau sosok yang
tergambarkan, yang diciptakan dari unsur alam yaitu min sulaatin min thiin
(ekstrak alam), sedangkan Roh bukan tercipta dari unsur alam ataupun dari
materi yang sama dengan Malaikat maupun Jin, sehingga mereka hingga kini tidak
mengetahui dari unsur apa roh manusia diciptakan. Bahkan Allah membiarkan para
Malaikat dan Syetan tak berhenti berfikir penasaran, apakah gerangan yang
menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dari bangsa malaikat dan
syetan serta makhluk-makhluk yang lainnya, Allah hanya berkata : "Inni
a'lamu maa laa ta'lamuun... Aku lebih mengetahui dari apa-apa yang kalian tidak
ketahui." (QS. Al Baqarah: 30). Para malaikat protes atas kebijaksanaan
Allah yang dianggap tidak masuk akal, dengan perasaan ragu mereka akhirnya
mengungkapkan rasa penasarannya kepada Allah... ataj'alu fiiha man yufsidu
fiiha wayasdikuddimaa' wanahnu nussabbihu bihamdika wanuqaddisulaka ?? Mengapa
Engkau hendak menjadikan ( khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?? Tuhan berfirman : "Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. Al Baqarah: 30 ).
Rahasia roh ini dipertegas oleh Allah dalam surat Al Isra' :85
"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Roh, katakanlah : Roh
itu termasuk urusan-Ku (amr-Tuhanku) dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit ."
Seperti apa yang sebutkan diatas saya tidak berani menafsirkan,
apakah Roh itu, apalagi menterjemahkan sebagai Roh ciptaan-Ku. Saya akan tetap
mengikuti arti lafadz aslinya yaitu Ruuhii (Roh-Ku) karena disana disebutkan
kalian tidak memiliki pengetahuan tentang Roh kecuali hanya sedikit sekali.
Dan roh ini memiliki sifat yang Mengetahui, seperti pada surat :Al
qiyamah ayat : 14
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (nafs). Di
dalam nafs (diri) manusia ada yang selalu tahu, yaitu Aku. Yaitu Roh manusia
yang menjadi saksi atas segala apa yang dilakukan nafsinya (diri). Ia
mengetahui kebohongan dirinya (nafs), kemunafikan, rasa angkuhnya, dan rasa
kebencian hatinya. Karena itu sang roh disebut min Amri rabbi - selalu
mendapatkan intruksi-instruksi Tuhan-Ku. Mengapa demikian, karena ia tidak
pernah mengikuti kehendak nafsunya dan tidak pernah menyetujuinya tanpa
kompromi sedikitpun. Ialah disebut fitrah yang suci, dan fitrah manusia selalu
seiring dengan fitrah Allah (QS. Ar Rum:30)
Jadi jika manusia mengikuti fitrahnya, maka ia akan selalu
mengikuti kehendak ilahy.
Kemudian Apakah Nafs itu ??
Nafs mempunyai beberapa makna :
Pertama, Nafs yang berkaitan dan tumpuan syahwat atau hawa (hawa
berasal dari bahasa Arab yang tercantum dalam Alqur'an, wanaha An nafsa `anil
hawa - dan ia menahan dirinya (fisiknya) dari keinginannya (hawanya) ( An
Nazi'at :40-41). Yaitu hawanya mata, hawanya telinga, hawanya mulut, hawanya
kemaluan, hawanya otak dll. Hawa-hawa atau syahwat, selalu berkecenderungan
kepada asal kejadiannya yaitu sari pati tanah - dengan demikian An nafs berarti
fisik (tanah yang diberi bentuk). Dia akan bergerak secara naluri mencari
bahan-bahan materi asal fisiknya, ketika kekurangan energi atau kekurangan
unsur-unsur asalnya maka ia akan segera mencari atau secara naluri ia akan
berkata, saya lapar, saya haus !!
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari ekstrak
yang berasal dari tanah." (QS. Al Mukminun:12).
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para
malaikat, sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat
kering (yang berasal) dari Lumpur hitam yang berstruktur (berbentuk), maka
apabila Aku telah meniupkan kepadanya Roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud." (QS. Al Hijir: 28-29).
An nafs arti fisik yang mempunyai bahan dari ekstrak tanah yang
mempunyai bentuk.
Kedua, An Nafs berarti : Jiwa ,jiwa mempunyai beberapa sifat, nafs
lawwamah (pencela), nafs muthmainnah (tenang), Nafs Ammarah bissu' (senantiasa
menyuruh berbuat jahat).
Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah ….. (QS. Al Fajr : 27-28)
Wala uqsimu binnafsil lawwamah …(QS. Al Qiyamah:2)
Wama ubarriu nafsii, innannafsa laammaratun bissuu' (QS. Yusuf:53)
Sedangkan Qalb, artinya sifat jiwa yang berubah-ubah, tidak tetap.
Terkadang ia bersifat muthmainnah, kadang juga lawwamah, atau berubah menjadi
ammarah bissuu'.
Watak seperti inilah yang dimaksud dengan QALB (berbolak-balik),
jadi keliru kalau dikatakan qalb itu adalah wujud karena dia bukan jiwa, akan
tetapi merupakan sifatnya jiwa yang selalu berubah-rubah. Jiwa yang mempunyai
sifat berubah-rubah inilah, dinamakan Qalbun !! sedangkan jiwa yang selamat
disebut Qalbun salim (selamat dari sifat yang berubah-rubah) - illa man
atallaha biqalbin saliim - kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati
yang selamat. (QS. Asy Syura: 89).
An nafs (jiwa ) memiliki alat-alat, Pikiran, Perasaan, Intuisi,
Emosi, dan Akal. Sedangkan
An Nafs (fisik ) memiliki alat-alat : Penglihatan ( mata ),
Pendengaran (telinga), Perasa (lidah), Peraba, Penciuman (hidung).
Selanjutnya saya akan menguraikan kitab Barnabas berikut ini :
"…kemudian berkata Yesus, demi Allah pada hadirat-Nya Rohku
berdiri, banyak yang sudah tertipu mengenai kehidupan kita. Karena demikian
saling merapatnya antara Roh dan perasaan telah berhubungan bersama, hingga
sebagian besar manusia mengiakan Roh dan perasaan itu menjadi satu dan hal yang
sama, hanya terbaginya dalam penugasan sedangkan tidak dalam wujud,
menyebutkannya sensitive (rasa perasaan), vegetative (tubuh yang tumbuh) dan
intellectual soul (Roh berfikir, cerdas akal). Tetapi sungguh aku katakan
kepadamu, roh itu adalah satu, yang berfikir dan hidup. Orang-orang dungu,
dimanakah akan mereka dapatkan roh akal tanpa kehidupan ? tentulah keadaan
ketidak sadaran, apabila rasa perasaan meninggalkannya." Thaddeaus
menjawab, "O Guru, apabila rasa perasaan ( sense) meniggalkan kehidupan
(life) seorang manusia tidak mempunyai kehidupan."
Ayat diatas menjelaskan banyak orang tertipu mengenai kehidupan,
sesungguhnya Roh itulah yang menyebabkan orang itu hidup dan berfikir dan
memiliki perasaan (sense), tubuh yang bergerak dan tumbuh, berfikir dan
berakal. Semuanya itu karena adanya Roh. Dan Thaddeaus menyimpulkan bahwa jika
manusia tidak memiliki Roh maka tidak akan ada kehidupan pada dirinya. Berarti
rasa (sense) intellectual soul merupakan intrument roh.
Kemudian pada pasal 123
Ketika semua duduk, Yesus berkata lagi, ALLAH kita untuk memperlihatkan
kepada makhluk-makhluk-Nya kasih sayang-Nya dan rahmat serta Maha Kuasa-Nya,
dengan Maha pemurah dn Maha Adil-Nya, membuat sesunan dari empat hal berlawanan
yang satu dengan yang lain, lalu menyatukannya dalam suatu tujuan ahkir, itulah
manusia dan ini adalah tanah, udara, air dan api. Supaya tiap-tiap satu sama
lain menenangkan pertentangannya. Dan dari empat benda ini, dia menjadikan
sebuah kendi (bejana) itulah tubuh manusia, daging, tulang-tulang, darah,
sum-sum dan kulit dengan saraf-saraf dan pembuluh-pembuluh darah, dan dengan
semua bagian-bagian dalamnya; dalam tempat itu Allah meletakkan ROH dan rasa
perasaan, laksana dua tangan dari hidup ini. Memberikan tempat kepada rasa
perasaan pada setiap bagian tubuh untuk itu menebarkan dirinya disana seperti
minyak. Dan kepada Roh, dia memberikan untuk tempatnya hati, yang bersatu
dengan perasaan, dialah akan menerima seluruh kehidupan itu.
Ayat ini menerangkan penciptaan manusia seperti terdapat di dalam
Al qur'an surat Al Hijir 28-29 , sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang
manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan
kedalamnya Roh-Ku , maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud,
Surat Al mukminun: 12 , berasal dari ekstrak tanah
Surat Al hajj : 5, manusia dari turab (berupa debu)
Surat Ar Rahman : 14 , dari tanah liat yang kering seperti
tembikar.
Pasal 179, dikatakan Roh itu bersifat universal dan besarnya 1000
kali lebih besar dari seluruh bumi.
Sebenarnya pasal ini hampir sama dengan keterangan saya pada bab
hakikat manusia, bahwa jiwa adalah bersifat sangat luas dengan identitas
dirinya yang dipanggil sebagai feminin karena sifatnya yang universal.
Ya Ayyatun nafsul muthmainnah - wahai jiwa yang tenang.
Penggunakan Ya nida'(Ayyatuha) atas jiwa sebenarnya biasa digunakan untuk
memanggil wanita, juga untuk panggilan (nida') sesuatu yang sangat luas
berdasarkan dalil kullu jam'in muannatsin - sesuatu yang bersifat universal atau
luas disebut muannats (feminin). Misalnya, jannatun (syurga), samawat (langit),
Al Ardh (bumi), Al jamiat (universitas / universal).
Hampir jarang orang menyadari akan dirinya sebenarnya sangat luas,
akan tetapi kesadaran ini telah lama menyesatkan fikiran kita yang menganggap
bahwa diri kita sebatas apa yang tergambar secara kasat mata saja, padahal
lebih dari yang ia bayangkan, bahwa manusia baik logam, tumbuhan dan gunung
adalah sebetulnya terdiri dari suatu untaian kejadian-kejadian atau proses. Dimana
segala alam lahir ini tersusun oleh senyawa-senyawa kimiawi yang dinamai zarrah
(atom). Dan atom-atom ini dalam analisa terakhir adalah satu unit tenaga
listrik, yang energi positifnya (proton) berjumlah sebanyak energi negatifnya
(electron) di dalam atom ini - setiap detik terjadi loncatan dan pancaran
(chark and spark) secara terus menerus. itulah semburan-semburan yang tidak ada
hentinya dari daya listrik. Manusia tidak mampu melihat semburan atau loncatan
yang tidak putus-putus dengan kecepatan yang sangat luar biasa ini dengan kasat
mata biasa, kecuali dengan kesadaran ilmu yang cukup - sebagaimana Al qur'an
mengungkapkan tentang gunung yang dianggap oleh orang awam seperti diam tak
bergerak :
"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap
ditempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awam." (QS. An
Naml:88).
Secara fisik, manusia bersifat luas dan rohani meliputi keluasan
alam semesta.
Demikian yang saya tahu, mudah-mudahan bahasa Jawa lebih
memungkinkan memuat makna bahasa Arab yang tinggi nilai balaghahnya.
Abu Sangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar