Kamis, 19 September 2013

Salah Faham Salah Bahan

Angkat tangan ! hands up ! jangan bergerak ...! Pasti kita sering melihat dialog film seperti itu. Tentu bayangan kita atas dialog itu
adalah gambaran seorang dengan posisi tangan di atas dan dalam kondisi mental terpaksa menyerah pada si penodong.....

Allaaaaaahu Akbar....begitu seriusnya kita mengangkat tangan setiap awal sholat. Kita menyebutnya takbiratul ihram alias
mengharamkan sesuatu selain meng"Akbar"kan Allah. Eit, benarkah kita telah berbuat demikian secara lahir batin ? ataukah kita
seperti posisi orang tertodong yang terpaksa menyerah sambil diam - diam mencari celah untuk berontak ?

He he...mari kita akui bersama. Sering kayaknya kita ini takbiratul ihram ucap Allahu akbar sampai dahi mengkerut... tapi ndhilalah
yang akbar di antara kerutan dahi itu adalah kunci motor yang ketlisut, es teler, piagam penghargaan, jilbab baru, saham blue chip,
THR dan sejenisnya. Tergantung momen. Kita menyerah tak berdaya pada hal-hal tersebut. Bukan menyerah pada Allah.

Kalau sudah gini, gimana bisa melanjutkan doa iftitah " inni wajahtu wajhiya..." sedangkan kita masih memandang wajah benda-benda mati kesenangan kita. Ya, sholat kita masih memuja berhala benda-benda yang kita taruh di altar otak plus sesaji bunga warna-warni angan-angan kita sendiri. Kita salah membawa bahan yang akan kita haturkan pada Allah.

Salah bahan dalam bertakbir ini juga karena kita menghadap Gusti Allah laiknya seperti menghadapi ujian skripsi. Kita bingung
mempersiapkan argumen - argumen keilmuan agama. Padahal takbir adalah mengAkbarkan yang kita hadapi. Bahan yang diperlukan
untuk mengakbarkan Allah adalah pengakuan keluruhan diri. Bahwa kita tak ada apa - apanya. Sama sekali bukan bahan keilmuan,
kekuatan olah tubuh, kekuatan golongan, ras dan sejenisnya.

Bahan yang diperlukan dalam bertakbir adalah tidak membawa bahan apa-apa itu sendiri. Tak lain agar dahi kita tak tertutup
macam - macam angan - angan yang membuat kita tak mampu memandang wajah Allah. Ya, bahan bertakbir adalah berserah-islam
dan uluk salam menunduk dengan sadar diri fana.

Dan sesungguhnya bila kita mampu bertakbir dengan benar, kita akan sesenggukan merasa apalah arti kecerdasan, kesaktian
ataupun kekayaan kita. Semua nol.

Saat kita ikhlas bertakbir me-nolkan diri, Maka yang Satu Ini akan muncul dengan sangat jelas. Ya, sangat jelas Akbar Sekali
meliputi segalanya. Preman, kecoak, semut, iblis, Yahudi, Nasrani, liberal, garis keras, Sunni, Syiah terliput dalam satu keakbaran
tunggal. Tak ada yang bisa lepas sedikitpun dari genggaman Maha Ahad. Ya, tak ada yang bisa lepas sebutir zarah pun.....

Memang pemahaman seperti ini kalau kita mengedepankan sikap apriori dengan alasan pemahaman semacam ini asing tak pernah
ada di file otak kita, maka yang terjadi hanyalah salah paham. Kita pun mentakbirkan kesalahpahaman tanpa kenal henti demi
kepuasan nafsu mendebat. Mungkin kalau diladeni bisa - bisa jadi salah takbir berjamaah....

Kalau salah urat sih mungkin bisa dipijit diurut. Dalam beberapa hari pun akan sembuh. Tapi bagaimana dengan salah paham.
Kadang berganti generasi pun belum tentu luka di hati ini bisa sembuh...

Seperti kegemaran pribadi dalam dunia tulis menulis pun tak luput dari banyak protes dan salah paham. Pertanyaan utama biasanya
" Nulis berbau religius kok gak ada dalilnya sih ... ? mana dasar ayatnya... ? atau sindiran bahwa sesatlah seorang yang hanya
menuruti angan - angannya saja...dan masih banyak lagi. Pastilah semua tonjokan itu tentu disertai dengan dalil - dalil yang sangat
ampuh untuk menyudutkan orang yang tak sepaham....

Padahal niat awal menulis secara pribadi hanyalah memudahkan meng"kaji" pemahaman diri sendiri. Atau paling banter sekedar
sharing sesama teman yang sudah kenal. Tak ada niat menceramahi orang lain. Lha wong saya bukan ustadz hare.... juga memang
gak ada level atau kaliber ke arah situ kok.

Tapi tentu wong namanya mengkaji, ya pasti sebelumnya ada yang dijadikan bahan kajian. Setelah bahan itu terenungi, barulah
dijadikan uraian yang mudah dipahami.

Misalnya, sampeyan lebih sreg mana tulisan ringkas " Yang menjadikan rumah bisa berdiri bukanlah materi itu sendiri, melainkan diri
kita yang diliputi daya hidup. Contoh gampang, rumah yang tak pernah dihuni pasti cepat lapuk dan ambruk. Tetapi rumah walau
reyot, tak akan mudah ambruk bila di dalamnya penuh daya hidup yang bersih. Bisa kita lihat masjid -masjid tua yang masih banyak
kokoh berdiri walau tak menggunakan tehnologi tinggi.

Atau gaya penulisan seperti di bawah ini :
( Buka kurung ) Yang menjadikan rumah bisa berdiri bukanlah materi itu sendiri,melainkan diri kita yang diliputi daya hidup .rujukan>
(Dan orang-orang yang di atas A′raaf memanggil beberapa orang (pemuka-pemuka orang kafir) yang mereka mengenalnya dengan
tanda-tandanya dengan mengatakan: "Harta yang kamu kumpulkan dan apa yang selalu kamu sombongkan itu, tidaklah memberi
manfa′at kepadamu." ( Al A'raf 48 ) Tetapi rumah walau reyot, tak akan mudah ambruk bila di dalamnya penuh daya hidup yang
bersih. Bisa kita lihat masjid -masjid tua yang masih banyak kokoh berdiri walau tak menggunakan tehnologi tinggi. rujukan>( Dan
dari mana saja kamu keluar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah masjidil Haram, sesungguhnya ketentuan itu benar-benar
sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.Al baqarah 149 )*catatan ayat
pertama : pada peradaban modern kota di Latvia harganya cuma 2 milyar rupiah karena tak berpenduduk. Jadi nilai tertinggi adalah
mahluk hidup itu sendiri. Lebih tepatnya daya hidup. Bukan materinya. Sia -sia bila manusia tanpa daya hidup. Sebab walau ada
manusia tapi tanpa daya hidup, kota itu malah tak laku karena jadi kota zombie. Atau rumah yang tak berpenghuni biasanya cepat
ambruk>teringingkari / tak tercover / kafir dari kepemilikan>(harta adalah benda mati, sedang A'raf adalah tempat tertinggi yang
menyiratkan lebih tinggi dari benda mati, yaitu kehidupan itu sendiri,* sesungguhnya - ( akhirat, idem )*Keterangan ayat kedua :
makna masjid adalah tempat bersujud. Ketika hati kita bersujud ( dimana yang dimaksud hati adalah jantung- sesuai hadits bila satu
bagian tubuh baik maka baik semua, bila buruk buruk semua yaitu jantung ), maka keteraturan detak jantung akan membuat
keselarasan cipta karsa manusia. Sehingga kehendak manusia akan menyatu dengan kehendak Allah. Di sinilah termaktub janji Allah
pada akhir Ayat bahwa Allah tak akan lengah dari apa yang kamu kerjakan. * A'raf = tempat tertinggi yang berarti secara
epistimologis adalah bla...bla..bla...( tutup kurung )

Mungkin tulisan gaya ke 2 ini malah bikin bingung. Sebab penulis juga harus bekerja keras lagi menjelaskan antara tulisan dengan
korelasi ayat. Akhirnya yang membaca bingung, yang menulis juga capek. Pembaca yang awalnya ingin meringankan beban pikiran,
malah kepikiran dua kali.

Inipun kalau ditinjau sebagaian cendekiawan agama walau kita sudah menyertakan dalil, tetap saja masih dianggap bukan
meng"khidmat"i Quran. Alasannya karena itu masih sebatas terjemahan, bukan Quran asli. Masih bisa salah tafsir atas kekeliruan
makna huruf dan ucap. Sebab Qur'an asli haruslah mempunyai ketegasan dan kejelasan uslub, nahwu sharf, balaghah, mahraj, tajwid,
tasydid, tartil dll.

Belum lagi tentang pertanyaan sumbernya dari Mushaf Utsmani kah atau cetakan Mesir dan banyak hal lain.Hmmh...ini masih urusan
ilmu dhahir sudah demikian melelahkan orang beragama. Belum lagi urusan bathinnya mengenai masalah sanad ahlul bait, jalan
tarekat, mutabarok, wali, mursyid, kamilun mukamil dan sebagainya.

Aneh ya ? satu agama dan satu Tuhan yang sama saja sudah bersengketa... kalau dah gini bagaimana kita bisa menerapkan ayat
lakum dienukum waliaddin yang jelas -jelas lebih berat amanatnya....?

Belum lagi kita masih diamanati Al Hujurat 13 :Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku -suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal...

Nah, apakah ayat Al Hujurat 13 gampang diterapkan ? mengingat setiap suku mempunyai kebudayaan, bahasa dan logat yang bila
kita tak mau saling mengenal bahan budaya ini, pasti akan mudah terjadi salah paham karena ada kesalahan pembahasan.

Faktanya, dengan istilah yang sama, ternyata walau satu region akan terjadi perbedaan makna. Ambil contoh kata " ditiliki ". Ditiliki
bagi orang Malang bermakna dicicipi ( lidah ). Tetapi bagi orang Jawa tengah bermakna dilihat ( mata ). Walau keduanya berumpun
ke maksud "diperiksa". Misalnya, saya asli Malang Jawa Timur, istri Semarang jawa Tengah. Suatu saat tiba - tiba mertua teriak "
dodyyyy... tuh anakmu di belakang lagi be'ol... mbok ya ditiliki duluuuu... dari tadi panggil1-panggil kamu..."

Nah lo !

Lha kalau saya hanya mengikuti bahan pengetahuan pribadi tanpa ada kemauan mengenal bahasa orang lain, apa hal sepele
semacam ini bukannya tidak mungkin menjadi perpecahan rumah tangga ?Dari hal-hal salah paham akan penggunaan bahasa inilah
yang sering menjadikan perpecahan dalam urusan takwa. Padahal takwa adalah urusan takut kepada Allah, bukannya menakut-nakuti orang lain.
Apalagi mengkafirkan dan mensesatkan yang lain.

Persoalan budaya bila kita tak mau mengamalkan ayat Al hujurat 13 kadang membuat manusia menjadi orang - orang stereotype,
apriori dan sinis. Tentunya semua sifat tersebut akan mereduksi makna Akbar itu sendiri.Misalnya, dan yang paling krusial di Jawa
adalah istilah Islam Kejawen. Pada umumnya orang yang ingin memurnikan ajaran Islam akan menghakimi istilah ini. Padahal nalar
sederhananya adanya istilah tersebut karena sebuah landasan ayat Al Hujarat 13 tadi. Dengan kata lain Islam mewajibkan mengenal
budaya setempat dimana seseorang akan berdakwah.

Yang lucu juga kita menganggap Islam kejawen diajarkan oleh wali tanah Jawa alias wali songo. Padahal wali songo sendiri berasal
dari keturunan Cina dan jazirah Arab ( kecuali Sunan Kalijogo ). Pointnya, para wali tidak mungkin mengajarkan kejawen karena para
beliau bukan orang Jawa. Dan tidak pula memaksakan Kearaban atau Kecinaannya. Yang ada hanyalah keislaman yang ditanamkan
dan disesuaikan tanah yang dipijak.

Jadi di sinilah letak kebesaran walisongo karena mau menjadi Jawa agar kelak orang menganggap Islam ya Jawa, jawa ya Islam.
Alias Islam bukanlah hal asing. Terbukti orang yang lahir di Jawa rata-rata otomatis mulai kecil merasa dirinya Islam, bukan agama
lain.Yang masih sering terjadi Ketika seorang berdakwah dengan cara Jawa, pasti dianggap ajaran Kejawen, bukan Islam murni. Lha
tapi ketika pengkritiknya diajak bahasa Arab full supaya lebih terlihat Islami, ndhilalah ternyata juga nggak ngerti. Dan juga apakah
jaman dulu ada bahasa Indonesia ? Gak ada kan ? Nah, serba salah kan ?

Kalau kita fair dengan cara pandang sempit ini, seharusnya juga menganggap Islam yang dipelopori Hamzah Fansuri sebagai Islam
Kesumateraan beserta apriori cara pandang budaya yang tak seide. Berlanjut ada istilah Islam Kekalimantanan, Kedayak - dayakan
dll. Tentunya orang Islam di luar daerah itu juga berhak sinis memandang model-model tersebut. Padahal semua itu sesungguhnya
terjadi dengan asas ayat tersebut.

Hmmh...apa salah bahan kali yaaa..... Tapi memang terlalu banyak Bahan-bahan yang salah letak bahasannya terlanjur memasuki
otak dan akhirnya menjadikan cara beragama kita repot dan sinis karepe dewe...

*

Haduh...begitu rumitnya beragama....sampai - sampai sholat yang intinya adalah shilatun-sambungnya tali hati kepada Allah
menjadi tali rumit yang tak jelas sambungannya. Apa kerumitan ini karena kebanyakan buat mentali-ikat berbagai macam ilmu tadi
ya ?

Seperti yang dibingungkan seorang sahabat tentang bagaimana berjamaah bila sang imam dalam membaca surat kurang sip
masalah makhraj, tajwid dan tartilnya. Bukankah imam harus paling fasih bacaannya ? kalau sudah gini apa lebih baik sholat
sendiri ?

Belum lagi kalau pertanyaan seperti ini masih didetailkan lagi ke masalah presisi pengucapan huruf krusial. Contohnya, menurut
ulama A pengucapan paling sulit dan harus presisi pada huruf arab Adalah kha' sedangkan ulama B huruf tsa'. Dan pelajaran untuk
sekedar memfasihkan dua huruf ini bisa memakan waktu tidak sebentar.

Padahal ada karib saya gak mahir bahasa Arab tapi kalau sudah niat berdoa kok ya musti ma'bul. Hmmmh...jangankan bahasa Arab,
bilang Allah saja lidahnya kelu belepotan hare...bisanya Awwohh....

Tetapi faktanya ud'uni astajib lakum telah mengalir di darahnya, berdoalah padaKu pasti Kukabulkan. Hal ini karena KU-nya telah
ketemu. Sebab orang yang tak dikabulkan doanya karena KU-nya belum ketemu. kesadaran Ku-nya masih ku kecil ego diri. Bukan
sesungguhnya KU yang dimaksudkan dalam ayat tersebut.

Intinya, tak dikabulkan doa karena tidak berdoa kepadaKU. Melainkan berdoa kepada angan-angan, perhitungan-perhitungan ilmu,
dan alam -alam ghaib yang kadang malah melenakan. Walaupun semua aktifitas itu disertai dengan menyebut asma Allah, tetapi Ku-
nya yang sesungguhnya masih ketlisut ditumpukan urusan keseharian.... haduh...

Balik lagi, dengan keterbatasan pribadi muncullah jawaban ( kelas makmum ) atas pertanyaan sahabat tentang perihal fasih, seperti
ini :

Seperti orang Jepang yang gak bisa omong huruf mati ( nama Aris menjadi Ariso ), orang Inggris gak bisa ucap R tegas, orang Arab
gak bisa ucap E, orang Sunda gak bisa ucap F. Lalu apakah yangg terfasih orang Jawa ? Dengan fakta orang Jawa bisa fasih
menirukan segala macam model ucap berbagai manusia sedunia. Faktanya juga banyak pesantren di Jawa yang menelorkan santri
fasih bahasa Arab melebihi orang arab sendiri.

Tapi apa sih yang dimaksud fasih ? Juga apa yang dimaksud shalat ?
Kalau kita terhenti diperdebatan kefasihan mulut, saya jamin kita semakin lama semakin berat terbebani dengan urusan sholat.
Padahal sholat fungsinya untuk meringankan beban. Dan faktanya ada golongan yang ketika orang lain sholat di masjid mereka,
lantai langsung dipel. Hal - hal ini awalnya ya berangkat dari permasalahan begini-begini. Bagaimana juga sejarah memaparkan
pertikaian NU - Muhammadiyah karena urusan qunut.

Padahal ketika baca Quran waktu sholat, jelek bagus pengucapan toh faktanya banyak yang gak tahu artinya. Padahal arti inilah yang
membuat sholat kita sambung-shilatun.

bagi pribadi, yang lebih penting dalam berjamaah, kita cukup mengetahui arti dan makna saja agar komunikasi kita dengan Allah bisa
berjalan dengan jelas dan benar, alias FASIH. Seperti anak kecil yang belum fasih bilang " ampu..tom..pas " sambil menunjuk lampu,
strom dan kipas. Pastilah kita tahu maksud si kecil. Hal ini karena ucapannya dibarengi menunjuk.

Jadi yang berharga adalah petunjuknya. Berarti imam yang benar, porsi utamanya adalah kefasihan memberi petunjuk, bukan
kefasihan mulut. Karena banyak yang fasih mulut tetapi kadang malah bikin kacau keadaan karena kekakuan individunya.
Nalar sederhananya, kalau ukurannya kefasihan mulut, karena besok di akhirat katanya yang diterima adalah sholatnya dulu, berarti
yg masuk surga hanya orang Arab dong. Dan kita - kita yang cedal ini walau amal satu trilyun atau menolong jutaan orang, bikin
ribuan masjid dan pesantren tetep gak nominasi masuk surga. Lha wong cedal plethat plethot hare..... hmmmh... kalo dah gini, apa
lebih baik kita gak usah amal atau sholat sekalian ?

Dan kita juga lupa kalau Rasulullah adalah ummi dan malah sering menyuruh Bilal membacakan beberapa ayat sampai nabi
menangis ketika ingat makna dan tujuan bacaan itu. Padahal Bilal cuma budak... kenapa kok rasulullah mau mendengar ayat-ayat
suci dari mulutnya ?

Dan bisakah tingkat kefasihan Bilal dibandingkan dengan para penyair Arab yg waktu itu menjadi masyarakat strata teratas berkat
kefasihan bicaranya ? kenapa Rasulullah tak memilih mereka ?

Sebenarnya sih Bilal lebih fasih, tetapi fasih penghayatan rintihan hatinya....ya, kehadiran hatinya...

Hmmh...Padahal bagi pribadi sholat itu mudah. Kalau kanjeng Nabi sudah terang-terangan dawuh bahwa sholat itu istirahatmu,
sholat adalah kumpulan doa pengharapan, maka ya lakukan saja seperti itu. Gak perlu dianeh-anehkan dan dilebih -lebihkan. Sebab
nanti malah gak sambung sama Gusti Allah, melainkan ketemu alam-alam aneh yang akhirnya kita malah melebih -lebihkan diri, Riya.

Emm, maksudnya gini. Pertama, apa sih istirahat paling nyaman ? tentu tidur kan. Nah, biasanya tidur kan di atas kasur, sekarang
coba di atas sajadah tapi dalam posisi berdiri. kedua, sampean ingat-ingat dulu gimana sih mental kita saat pengen tidur. Orang
tidur pastilah meletakkan segala macam pikiran, merilekskan dan melemaskan badan sambil menikmati kenyamanan diri untuk
kemudian berangkat melepaskan diri ke alam tidur.

Sekarang, sampean coba kondisi tersebut dalam keadaan berdiri ketika akan takbiratul ihram. Mudahnya coba ingat - ingat
pengalaman rasa sampean saat berdiri di bis yang gak kebagian tempat duduk dan berasa pada situasi sangat ingin tidur tetapi tetap
terjaga. Agar turunnya tidak kebablasan salah jalan.

Kemudian dalam posisi bathin seperti itu, pasrahkan keadaan diri dengan memulai takbiratul ihram. Bleng ! ketika tangan bersedekap,
saat itulah kita langsung merasakan realita keakbaran. Dalam realitas kesadaran akan keakbaran Maha Luas Meliputi Segala Sesuatu
Tak Tertanding Ini, gantungkanlah harapan - harapan, doa doa yang telah diajarkan Kanjeng Nabi.

Daaan...selamat merasakan apa yang selama ini hanya sekedar sebatas ucap...inni wajahtu.... sebuah proses berhadap-hadapan
langsung. Lepas meninggalkan alam-alam, ilmu-ilmu, gambaran-gambaran dan golongan-golongan. Di wilayah ini, khusyu
akan terbentuk sendiri, tuma' ninah juga terbangun dengan sendirinya. Gak dibuat-buat. Apa ini yang dimaksud ayat tak ada
paksaan beragama, La ikraha fiddien... ? monggo direnungi sendiri.

Kita pun akan bisa dengan sendirinya membedakan sholat kita khusyu' atau amburadul tanpa perlu referensi dari luar. Sholat yang
tidak khusyu layaknya makan yang walaupun empat sehat lima sempurna tetapi tanpa dikunyah dengan tenang dan lembut. Akhirnya
walau secara persiapan dan bahan terlihat berkualitas, endingnya hanya merusak pencernaan. Makanan yang baik pun berubah
menjadi perusak tubuh. Sudah merasa makan yang berkualitas tapi rasanya kok tubuh ini selalu melilit kesakitan....haduh...hatiku
melilit-lilit.....

Kita pun akhirnya paham ayat bahwa sholat mencegah fasik dan mungkar bukan untuk diarahkan orang lain. Ketika kita kehilangan
rasa keakbaran dan rasa tenang menghadap dalam sholat, berarti kita telah fasik dan ingkar terhadap pencernaan ruhani sendiri. Kita
telah merusak dan ingkar terhadap sebuah keakbaran. Kita selalu keburu-buru di hadapan Allah. Hingga pencernaan ruhani jadi rusak.

Ruginya, karena pencernaan ruhani rusak, tentu kita tak mampu lagi mencerna dan memahami ayat - ayat Quran. Pekerjaan kita
dalam "mengkonsumsi " Quran pun akhirnya hanya sekedar menyuap ke mulut lalu dimuntahkan lagi pada orang yang sedang
dihadapinya. Tak ada pencernaan, pemahaman dan perenungan lembut yang membuahkan daging ruhani. Hmmh... ruhani yang kurus
kering.......

Rasa-rasanya memang kita ini bagaikan orang yang bertemu presiden tapi masih sibuk ngobrol sendiri dan tengak -tengok kanan
kiri. Kira - kira sang presiden reaksinya gimana ya ketika lihat orang kayak kita - kita yang masih suka tengak tengok ini... ?
Mungkin pak presiden akan bilang gini " Celakalah orang yang menghadap saya ini ! Kalau dalam sholat mungkin ayat yang tepat
adalah " celakalah orang yang sholat..." wheiks!

Sholat kita pun benar -benar sia - sia. Kita minta petunjuk tapi saat diberi petunjuk, kita malah tolah - toleh sibuk sendiri. Pikiran
kita ngoceh sendiri sampai tak mendengar petunjuk yang diberikan. Akhirnya walau petunjuk itu sudah diberikan, kita tak pernah
merasakan diberi petunjuk apapun seusai sholat. Hidup kita jalani tanpa petunjuk, sesat. Ya, sesat bukan untuk diarahkan kepada
orang lain. Sesat adalah untuk menunjuk diri sendiri.

Eh, tapi semua ini cuma pengalaman pribadi lho. Sama sekali bukan untuk menggurui dan mengajari sampean tentang hal yang bisa
jadi dianggap aneh bin sesat wal bid'ah. Dan dari model sholat pribadi seperti ini, saya mengalami kenikmatan ibadah sholat
melebihi apapun. Walau terus terang sholat masih sangat pas - pasan.

Memang sih, ilmu seperti tarikh, syariat, nahwu sharaf, balaghah, mantiq, fikih, tauhid dan sejenisnya tetaplah sangat penting dijaga
dan dijunjung tinggi. Asalkan kita bisa meletakkan bahan semua itu pada tempat pembahasannya. Tak lain agar umat merasa
terpayungi, bukannya malah bertambah takut dan bingung. Sebab takut atau takwa haruslah tetap diarahkan pada Allah. Bukan pada
Kyai, Mursyid, Ustadz dan kitab - kitab akibat kita terlanjur mengAkbarkan dalam bayangan dahi-dahi kita.

Bila sampai penerapan dan pembahasan berbagai displin ilmu tersebut membuat ketakutan umat, jangan -jangan nanti Al Quran
nasibnya hanya seperti senjata pusaka seorang raja. Tak sembarangan orang boleh menyentuh. Fetakomplinya, kita hidup setiap hari
penuh masalah. Lha kalo Al Quran gak boleh dipahami sesuai kontekstual permasalahan dengan alasan kita tak punya kompetensi,
terus para makmum yang dilanda kebingungan itu mencari petunjuk kepada siapa ?

Padahal tak setiap hari para imam mendampingi kita layaknya ibu yang setia setiap saat menemani si bayi yang sedang belajar
tumbuh dewasa.

Bila seperti ini, Qur'an pun berakhir menjadi seperti harta karun tak ternilai yang berada di dalam tanah. Tak ada yang bisa
menggunakan untuk menutup kebutuhan hidup karena prosedural yang tak memungkinkan bagi orang kelas makmum yang hidupnya
jelas -jelas terlunta -lunta dan butuh petunjuk.

Akhirnya kita pun malah benar - benar tersesat karena tak berani membaca Al Quran. Realitasnya harus kita akui bahwa
kompensasinya kaum muslim lebih sanggup membaca berbagai macam hadits dan kitab klasik sampai modern sampai berlemari -
lemari dengan lahapnya. Tetapi menikmati dan memetik makna 30 Juzz ?

**

Duh Gusti...

Mungkin saya sekedar berimajinasi sedih bila kelak di surga Kanjeng Nabi mbatin nelangsa " Lho ? mana umatku yang sangat
kubanggakan ? kok gak ada yang di sini ? padahal saat hidup telah kuperjuangkan mati - matian. Jangankan yang sudah
bersyahadat, yang kafir saja kudekati sepenuh hati agar mereka mau bersyahadat sebagai tiket masuk surga....

Semua telah tumbang di tengah perjalanan sirathal mustaqim karena tak berani membaca Al Quran sebagai hudan lil nas, petunjuk
bagi manusia. Bahkan sesungguhnya petunjuk bagi orang yang tak pernah bersyahadat sekalipun.

Faktanya banyak sekali ilmuwan barat yang kita anggap kafir mampu mengeksplorasi ide - ide dasar ayat Quran tuk digunakan
pijakan sains dan tehnologi. Dan lucunya setelah mereka menemukan korelasi ilmiah antara ayat dan science kemudian berhasil
menjadikan petunjuk kemakmuran dunia, kita pun sami'na wa ata'na. Manut. Padahal di sisi lain kita masih bersikeras bahwa Quran
hanya boleh dimaknai, ditafsir dan dihujahkan oleh para pakar agama Islam. Bingung....

Yah, Qur'an bukanlah milik para cendekiawan muslim saja.... Qur'an adalah milik siapa saja yang mau hadir di dalam lautan
maknanya. Qur'an adalah tool untuk menguak dan meneguhkan sebuah keAkbaran. Sebuah jalan untuk menahlukkan keangkuhan
pribadi, muslim maupun kafir. Sebuah bypass shiratal mustaqim. Jalan lurus menuju nirwana....

Dan makna jalan menuju surga bagai rambut dibelah tujuh bukanlah sebuah gambaran fisik ataupun kecerdasan referensial otak.
Melainkan keteguhan hati bertakbiratul ihram karena telah memahami sebuah realitas perjalanan keakbaran yang banyak dimassage
dalam Qur'an. Bukan sekedar modal katanya doang.

Dan logika sederhananya, kalau jembatan surga cuma gambaran fisik pastilah yang nyampai ke surga duluan dan punya nyali
melewati jembatan rambut dibelah tujuh adalah pemain akrobat tali. Dan kalau pun dihitung berdasar kecerdasan referensial otak
atas ilmu kitab -kitab baik yang kuno sampai posmo, pastilah orang Yahudi atau pendiri Google sudah dapat tiket duluan.....

***

Mungkin sudah saatnya kita tak lagi saling berdebat tentang seremonial kefasihan kata - kata yang sering berakibat pertikaian. Lebih
baik kita belajar mempertanyakan pada diri masing - masing apakah seremonial hati kita telah benar - benar teduh berlabuh pada
Allah Yang Maha Akbar....

Yuk kita belajar bareng - bareng supaya bertemu shiratal mustaqim. Jalan lurus...Tidak jalan yang kekirian keras frontal, juga tidak
kanan yang lembek permisif liberal.....agar hidup tak salah takbir mengakbarkan yang bukan Maha Ahad.

Mari berjamaah dengan Gusti Allah, ehmm maksudnya selalu mempunyai kesadaran gerak bahwa tiap helaan nafas hidup ini selalu
diliputi dan dibarengi Allah.

Dan mari berhalaqah dengaan para nabi dan orang shalihin dengan cara mengucapkan dan memahami arti tahiyat sholat sepenuh
hati.... yah, sebuah halaqah lintas golongan dan kelompok..... halaqah semesta rahmatan lil alamin.
Tak lain semua itu sekedar memberi baju ihram hati kita... agar ketika takbir dimulai, kita sanggup mengharamkan jahitan dan warna
- warna berbagai macam baju gerak pikiran yang menoleh kiri kanan yang menghijab keAkbaran itu sendiri.........

Yah, takbiratul ihram adalah kesanggupan mengharamkan segala sesuatu selain tanpa dibarengi pemahaman keAkbaran Allah yang
meliputi segala hal. Yang bermakna bila kita memandang, mendengar dan mencecap segala sesuatunya harus tembus pada
pandangan akhir Allah. Semua hal harus ada Allah-nya. Susah, senang dan guyon pun harus berhappy ending pada keakbaran Allah.
Bila memandang manusia yang tak seide, jahat, jorok, kotor, pendosa dan sejenisnya kita tetep berteguh bahwa di dalamnya tetap
ada keakbaran Allah. Bila kita tak bisa menemukan Allah di situ, jangan - jangan kita masih takbir narcis. Terlalu mengakbarkan ego kesucian diri.

Sebab manusia adalah minruhi. Cipratan Ruh Allah Yang Maha Suci itu sendiri. Seburuk apapun perilakunya.....
Hmmmh...tapi susyyahh ya takbiratul ihram seperti ini ? saya sendiri pada prateknya ya nggeblak - nggeblak gulung kuming hare.....
Tapi enak lho kalau sudah punya kesadaran gini. Dimana pun bumi dipijak adalah tempat bertakbir dan bersujud. Nggak harus
nunggu masuk bangunan yang bernama masjid.

Maka ketemulah makna ayat " Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui. ( Al Baqarah 115 )Akhirnya kita pun hidup dimana-mana jadi terasa enjoy
dan lapang. Sujud dan mencari surga pun tak perlu berdesak - desakan rebutan pahala sambil menyikut teman sendiri seperti orang
rebutan mencium Hajar Aswad.....

Wa ba'du, semoga dengan adanya catatan kecil ini dalam ber-habluminannas kita tak lagi mudah salah pahas karena salah baham.
Eh, salah paham karena salah bahas ding........
Selamat menggemakan takbir di relung hati....sesuatu yang tak terdengar tapi lantang bergemuruh.....ya, sebuah takbir yang
melegakan dada sepanjang waktu.... Minal Aidin wal Faidzin, taqobballahu minna waminkum....Mohon Maaf Lahir bathin....
Te te de, makmum masih salah teyuuus...

Wassalam

Dody Ide

Minggu, 15 September 2013

Musik

Sampai sekarang diri ini masih bingung kenapa ada orang yang mengilegalkan musik dengan berbagai fatwa. Ada sesuatu yang
mengganjal dalam benak. Kenapa ketika mendengar bunyi yang tidak tertata rapi seperti rombongan motor gede, demo kampanye,
suara mesin pabrik dan keberisikan - keberisikan lain, kok tak ada bahtsul masail yang menyatakan bahwa hal itu haram. Dengan
landasan itu adalah kategori polusi suara, lebih detilnya mengakibatkan kerusakan anugerah Allah, telinga.

Padahal amanah kekhalifahan menganjurkan kita merawat segala anugerah ini. Belum lagi suara mesin jet yang melebihi ambang
batas kemampuan dengar. 140 dB lebih ! Padahal kemampuan kenyamanan manusia jauh di bawah 100dB. Di manakah sebuah
konsep Quran bisa mengantisipasi dan memberi fatwa atas hal ini ? Mosok Quran yang salah ? Nggak mungkin lah...Tapi manakah
fatwa terhadap hal-hal seperti ini ? Di mana kemampuan para mujtahid ? Apa karena karena donatur saudagar muslim banyak
yang memiliki jet pribadi atau moge sehingga kita tak berani memberi teguran fatwa ?

Anehnnya ketika kita mendengar suara yang tertata rapi, indah, menyegarkan dan menundukkan keliaran fikiran, kok malah ada fatwa
haram ?

Kalau kita mengharamkan musik apakah kita lupa bahwa konsep keimanan kepada 25 rasul, salah satunya adalah Nabi Daud sebagai
leluhur musik dunia. Ada baiknya kalau kita tidak bisa mengakui hal ini, ya lebih baik cukup beriman kepada 24 rasul seperti
keyakinan tetangga yang menafikan Muhammad SAW.

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada DAUD kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung,
bertasbihlah berulang-ulang bersama DAUD", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, ( Saba' : 34 ). Ayat ini sudah terlalu cukup
dan sangat luar biasa bagi diri pribadi untuk menguak salah satu jalan pribadi menuju Allah,-musik.
Dalam disiplin musik universal, burung adalah sebuah awal ilham musik. Timbre, sound quality, dynamic range, lompatan interval,
ambience harmony, healing sound, daya resonansi dan masih banyak lagi sudah terangkum sempurna pada spesies ini. Dalam
beberapa hikayah, suara burung ini oleh Nabi Daud diterjemahkan dengan alat yang bernama psalterion. Kita mengenalnya dengan
harpa. Bila dirunut psalterion ini berasal dari kata psaltm yang berarti nyanyian. Sedangkan dalam tradisi kuno, psaltm ini
sebenarnya adalah kata lain dari zabur.

Jelasnya zabur adalah wahyu Tuhan yang berupa keindahan nada. Tapi apa sesederhana itu ? Cuma sebuah terjemahan kesenangan
nyanyian burung kah ? Wah, kalau gitu apa bedanya dengan kaum lelaki yang gemar memelihara burung ? walaupun di situ memang
ada sisi jalan ketenangan bathin.....

Kalau kita mengkonekkan psalterionnya nabi Daud dengan ilmu pengetahuan modern, akan sangat jelas disitulah letak cikal bakal
pengetahuan matematis dan canggih yang mampu memetakan suara burung ini menjadi sebuah kompleksitas dispilin ilmu. Displin
ilmu yang sedikit kita kupas adalah tehnologi gelombang beserta segala sifatnya seperti amplitudo, sound pressure level, pemecahan
partikel atom, dispersi, induksi dan seputar itulah...( he...he saya bingung sendiri kalau mulai menyebut kata ilmiah )
Dispilin ilmu suara ini ternyata sangat begitu menakjubkan. Dalam ilmu modern dispilin ini telah dikembangkan menjadi alat seperti
pengukur kedalaman serta jangkauan seperti radar dan sonar. Kita juga bisa melihat secara ilmiah bahwa beberapa industri
menggunakan induksi gelombang untuk otomatisasi packaging produk. Juga pernahkah anda mendengar bahwa gesekan violin pada
frekwensi nada tertentu resonansinya mampu memecahkan gelas ?

Tak heran bila Nabi Daud bisa melunakkan besi dengan sebuah ketundukan ilham. Hal ini karena Beliau telah mengetahui dan bisa
mempraktekkan seluk beluk resonansi antara partikel benda padat dengan impuls frekwensi tertentu yang tertata. Dan partikel padat
itu ditamsilkan sebagai gunung, dimana di situ ada gunung, di situlah letak kekayaan dunia bisa digali secara luar biasa.

Suatu saat kalau ilmu kita sudah jangkep, kita juga tak perlu heran bagaimana empu jaman dulu bisa melaksanakan sunatullah
membuat keris tanpa peralatan berarti. Kenapa mereka selalu melakukan ritual nembang melagukan syair ruhani terlebih dulu
akhirnya juga bukan sesuatu yang harus digelapkan pemahamannya. Sebab Ini hanya masalah metode kelimuan saja. Metode
resonansi alamiah vs metode mekanik. Tak lebih.

Ah...lagi-lagi sebuah warisan budaya yang disalahartikan dan diselewengkan turun temurun. Padahal struktur campuran keris ini baru
bisa diaplikasikan abad ini oleh tehnologi NASA dimana pencampuran tujuh logam bisa dilebur jadi satu.
Di wilayah inilah kemudian nabi Daud dinobatkan Allah sebagai pemimpin yang mampu menggabungkan kekuatan materi ( gunung )
dan gelombang energi ( suara burung ). Dari sinilah tercipta peradaban yang kuat.

Kabar gembiranya, Alhamdulillah nusantara ini adalah rombongan gunung panjang dari Aceh sampai Irian yang menandakan
Nusantara ini sangat kaya. Alhamdulillah nya lagi, hanya dengan sedikit mencuplik bukit emas di Irian, kita sudah bisa meng"kaya"
kan saudara tua kita, Paman Sam. Belum lagi hutan gunung di Riau, rempah di bagian timur, kilau lautan pantai butiran logam di
tempat kelahiran laskar pelangi... dlllll.... buanyaak...

Walah ! Alamdulillah... pokoknya kita ini bangsa yang sangat besar sodaqohnya kok... kitalah yang menjadikan kaya penduduk bumi
ini.Kita sudah begitu mendekati jiwa kepemimpinan rasulullah. Mendahulukan orang lain walau diri sendiri kelaparan...Kita ini sudah
begitu banyak berjasa membantu kemakmuran penduduk bumi. Saking gemarnya membantu orang, sampai-sampai begitu banyak
kita ekspor pembantu.

Tapi jangan kuatir, pembantu adalah pesuruh. Bukankah rasulullah juga pesuruh Allah ? Dan memang kita lah pewaris beliau karena
faktanya kita adalah negara muslim terbesar di dunia.

Tapi di balik omongan sembrono ini, yang paling penting bagaimana cara mengupgrade diri kita yang hanya dari kelas pembantu
kapitalis merubah diri menjadi pembantu alias pesuruh Allah secara digdaya alias menjadi khalifah bumi ?

Kalau merunut ilmu Nabi Daud yang berakhir kesuksesan kekayaan Sulaiman, kita ini kalau modal dasar gunung alias kekayaan
sumber daya alam sudah lebih-lebih. Tinggal kekayaan suara dan pengolahannya. Dan sebenarnya basicnya telah dipersiapkan oleh
pendahulu kita secara samar. Apaka gerangan ? Tentulah musik nusantara....

Sesederhana itu ? tentu tidak. Coba selidiki, adakah ragam musik dunia sekaya Nusantara ? Beragamnya musik berarti beragamnya
daya fikir, beragamnya sudut pandang, beragamnya lompatan kreatifitas, beragamnya pemetaan mind, beragamnya konsep
kekompakan team, beragamnya metode dirijen kepemimpinan, beragamnya manajemen mental dan beragamnya mekanisme
penyelarasan pengolahan alam.

Hal ini adalah modal dasar DNA yang tak kita sadari. Struktur molekul tubuh kita ini telah didefrag, di"cryogenic"kan, dan
di"attunement"kan dengan limpahan materi nusantara oleh para pendahulu - pendahulu kita melalui keindahan tenaga harmoni
musik, melalui kekhusyukan-kekhsuyukan mereka atas limpahan modal awal kekhalifahan yang tak terhingga.

Tapi kenyataannya kita ini masih mental Malin Kundang. Sehingga begitu mengingkarinya akan hal itu. Akhirnya corak kebudayaan
kita masih sebatas jadi anak batu alias filsafat materi doang. Dampaknya kita tak bisa unggul dan bermartabat di mata dunia. Hal ini
karena kita tak bisa mensinergikan antara materi ( gunung ) dan dinamika gelombang ( burung ). Jadinya ya kita ini nggak punya
pertahanan ( baju besi ). Lemah dan mudah terluka. Dan ini fakta.

Jadi jangankan meniru Muhammad Sang Paripurna, lha wong menapaki jejak Daud saja kita ini masih ketheteran seyek seyek
termehek-mehek... Padahal seandainya kita mau menganalisa, memetakan, mengkonsolidasi dan meneruskan modal awal ini, wah
rruaarr biasyaahhh....

Tak perlu dulu lah kita ngomong politik kekuasaan pendapatan daerah atas hasil alam atau ngomong njlimet tentang iptek. Mulai dari
diri sendiri dengan merawat tanaman dan mendengar musik berkualitas itu sudah bisa mengaktifkan gen -gen kita yang tertidur.
Inilah modal dasar awal yang menghampar tapi terlantar.

Swear lho ! ini sekedar mekanisme alam saja. Urutan mudahnya, banyak tanaman = banyak udara bersih = bagus untuk kerja otak
dan ketahanan tubuh. Mendengar lagu berkualitas = syaraf telinga rileks = aliran data syaraf menuju pusat otak lancar =
tersentuhnya daya kreatif dan kemerdekaan berfikir.

Maka muncullah manusia - manusia digdaya dari bumi nusantara yang siap mengolah limpahan modal awal ini dengan sebijak-bijaknya...

***

Hakekat sederhananya, musik adalah melatih rasa. Itu prinsip dasar. Tapi rasa apa yang dilatih ? Rasa benci, rindu, fanatisme
perjuangaan ras bangsa, snob elitis atau rasa "hub" kepada Allah ? Ini wilayah tanggungjawab dan efek pribadi rek !

Hakikat dispilin ilmunya, musik adalah metode mendefragmentasi alias menata rapi alias mengaspal mulus lagi susunan ribuan
syaraf telinga yang berujung pada pusat otak besar, dimana orang sering menganggap di situlah wilayah titik Tuhan alias God Spot.
Ketika sistem syaraf telinga kaku silang sengkarut dan cairan dalam telinga tidak stabil, kondisi mental seseorang akan kacau, paling
tidak daya konsentrasi dan ketahanan tubuh akan menurun.

Faktor perusak stabilitas kerja telinga terbesar adalah seringnya manusia mendengar suara yang tak beraturan dan melebihi ambang
kemampuan dengar dalam jangka waktu tertentu dan terus menerus. Tak heran kalau sopir yang hidupnya banyak di jalan
bertemperamen keras dan suka mengkonsumsi obat kuat atas kompensasi kelemahan tubuhnya.

Untuk itu, salah satu terapinya diperlukan musik sebagai penyelaras sistem kerja tubuh. Dengan treatment keteraturan nada dan
resonansi frekwensi, maka secara bertahap urat kekacauan -kekacauan itu akan dipijat refelksi oleh nada-nada indah.

Dengan musik pula, otak bisa dipetakan menjadi kamar memori-memori yang mudah dipanggil. Misalnya ketika seseorang
mendengar lagu Si Unyil, maka memori akan masa kecil, suasana rumah, teman -teman, jajanan, mainan kesukaan akan mudah
diingat kembali dengan spektrum yang orisinil.

Jadi ada baiknya kita belajar sambil mendengar musik kesukaan. Ketika suatu saat kita lupa akan pelajaran tersebut, dengan
menyetel musik itu, sedikit demi sedikit memori yang kabur akan muncul jelas kembali. Biasanya sih daripada digunakan mengingat
pelajaran, lebih baik nyetel lagu nostalgia jaman pacaran... he... he... jadi terkenang semuanya deh....

Yang perlu diingat, pembeda manusia dengan mahluk lain adalah memori. Korelasi memori adalah kesadaran. Dan awal kali sebuah
memori adalah kesadaran akan perjanjian mahluk dengan Khaliknya. Syahadat. ( Al A'raf 172 ).

Jaya Suprana, seorang pianis komponis sudah beberapa dekade ternyata tidak pernah lagi memainkan lagu klasik barat. Ia lebih
bangga dengan karya seperti Ismail Marzuki, Gesang, WR. Soepratman dan kawan-kawan. Terutama ia sangat mengagumi sebuah
nyanyian yang diremehkan musisi modern seperti judul lagu gethuk asale soko telo karangan Mantous.

Dalam hal ini ia lebih mengetahui makna judul syair tersebut secara ketuhanan sehingga mengapresiasi dengan serius dalam mencari
sebuah muasal. Gethuk asale soko telo itu sebenarnya apresiasi dari ayat...maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari
RuhKu....AT-Tahrim : 12....

Realitas metaforanya, orang sering lupa bahwa gethuk, nogosari, horog-horog, kue lapis dan sejenisnya itu berasal dari satu bahan.
Dan bahan itu sebenarnya tak pernah terpisah dengan sang kue. Cuman bahan itu yang memisahkan ya Adam ini dengan
kemampuan penamaan benda.

Puncak pencapaian Jaya Suprana dalam bermusik ketika ia memainkan suatu reportoir tanpa not sama sekali. Alias ia hanya
memandangi piano tanpa membunyikan senada pun dalam beberapa menit. Mungkin kita protes, lho seorang pianis kok karya
terhebatnya malah cuman diam thok !

Filosofinya, di dalam tanda diam itulah akan memunculkan suara terindah. Bayangkan bila musik tanpa tanda henti. Pasti seperti
suara tv yang ujicoba siaran... tuuuuuuut..... nggak ada jeda kayak gelombang sinewave 1kHz. Pasti semenit telinga kita sudah
pekak, otak sudah jenuh.

Rumusnya, makin banyak rentetan nada tanpa henti, makin cepat telinga capek. makin capek telinga, makin stresslah hidup kita.
Sebaliknya makin banyak nada istirahat, makin nyamanlah telinga. Tapi siapa sih yang betah mendengar dan menyetel mengulang -
ulang komposisi Jaya Suprana yang membosankan ini ? Padahal di dalam diamlah kita mengenal sebuah penciptaan...mengalami
sebuah kesaksian sejati...

Inilah paripurna musik. Urusan keilmiahan matematis harmoni dan rasa sudah parkir terhenti disini. Dan memang musik sejati adalah
diam, hening, khusyu'. Sebuah suara tanpa bunyi tapi ada. Suara yang tanpa harus mengikuti hukum aksi reaksi. Sebuah rasa tanpa
perasaan. Sebuah kendaran terindah menuju keahadan.

***

Musik sebagai wilayah nabi Daud ini mengajarkan cara berfikir yang tidak sekedar konsep satu sisi linear. Musik bisa membuat
lompatan-lompatan ide yang bagi sebagian orang dianggap nyleneh tak beraturan. Padahal itu adalah file masa depan yang
dimunculkan lewat sebuah dunia otak kanan. Kata orang disebut dunia ilham.

Dan memang dunia ide realitasnya jauh dari konsep berfikir seorang administrator birokratif linear. Lompatan -lompatan ide ini hanya
bisa dipahami oleh para scientis yang pernah mempelajari hukum Phytagoras tentang asas harmony.

Dalam disiplin harmoni, sesuatu kelipatan jarak pasti akan menimbulkan kesamaan bunyi walau dengan warna suara yang berubah
dan kecepatan frekwensi yang berbeda. Mudahnya ya kayak lagunya Ian Antono dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya tetap,
lakonnya saja yang berubah, dan itu pasti berulang terjadi.

Inilah kenapa seorang musisi seperti Bethoveen atau Mozart mampu memberi gambaran kejayaan kerajaan Eropa. Kalau di sini ya
kayak seniman Ronggowarsito yang sebenarnya beliau adalah salah satu konseptor patrap ruhani.

He...he...bila bila diseriusi, mungkin para musisi saat ini bisa dengan mudah mengasah ilmu weruh sak durunge winarah alias
kemampuan melongok masa depan yang masih menggantung di Lauhil Mahfuz.

Kalau dalam proses rekaman, ada sebuah fase yang dinamakan mixing dan mastering. Di bagian ini seorang engineer dituntut
keseimbangan otak kiri kanan. Hal ini karena otak kiri memang bertugas menghafal, mendefinisi, merumuskan konsep matematis
musik beserta segala istilahnya. Otak kiri harus menguasai ilmu engineer tentang apa itu sebuah Radio Frequency Interference, delay,
phase, bandwith, jitter, dither, gain, compress ratio, noise floor, bit, sampling rate dlsb. Sedang otak kanan berfungsi menangkap rasa
keindahan musisi yang sedang ditangani.

Struktur kerjanya, otak kanan menampung kehendak -kehendak rasa musisi. Lalu ia memerintahkan otak kiri untuk menerjemakan.
Bila otak kanan tak bekerja dengan baik, gagallah otak kiri dengan segala bekal kepandaian analisisnya. Logikanya, apa yang mau
dikerjakan otak kiri kalau tidak ada input dari otak kanan yang bagus. Maka yang terjadi hanyalah "make wave, not music". Wave is
real mathematic, music is real dynamic. Ilmu itu kaku tak berujung, musik itu hidup.

Anda yang tak paham musik pun akan mudah membedakan keindahan organ tunggal atau electone vs musik live yang dimainkan
musisi berkualitas. Mesin keyboard electone takkan pernah salah karena di dalamnya telah terumuskan dengan baku sebuah
matematis harmony modern. Tanpa berlatih sungguh -sungguh, asal pencet pun bisa berbunyi bagus.

Tapi apakah keyboard lebih dapat menyentuh sebuah keindahan akan penciptaan sebuah karya bila dibanding dengan musisi live
band sesungguhnya ? begitulah analaogi yang paling bisa kita praktekkan secara gampang... entah secara hablumminannas atau
hablumminallah....

Seandainaya cara kerja audio engineer diterapkan dalam dakwah saat ini, betapa harmoni dunia ini. Dan sebenarnya hal ini sudah
pernah diwariskan awal kali Islam masuk Nusantara. Keharmonian, keindahan, etos kerja dan etika telah menyatu dengan alam
nusantara.

Sampai-sampai Syech Mahmud Syaltout dari Mesir menganggap Nusantara adalah penggalan surga. Bagaimana tidak, di tanah arab
untuk merawat satu meter tanaman butuh dana sampai puluhan juta. Sedang di sini kata Koes plus tongkat kayu dan batu jadi
tanaman tanpa keluar modal sepeserpun.

Tapi kenapa sekarang seperti penggalan neraka ya ? banyak hutan gundul dan sampai-sampai saking panasnya, masjidpun banyak
yang terbakar....

Apa mungkin kita ini karena kita sering mendengar orasi yang pemetaan nada dan dinamiknya seperti musik death metal...? kenceng
melulu tanpa jeda alias monolog tak memberi kemerdekaan diam merenung..... isinya penuh ketidakpuasan, nggak ridho...

***

Sangat jelas dalam surah Yaasin 69 : "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak
baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan.

Bahwa Allah tidak mengajari syair Muhammad karena memang itu tidak layak, dalam arti sudah sangat jelas perbandingan posisi
sebuah keluhuran ilham dengan proses budaya manusia dalam meraba-raba keberadaan Tuhan.

Bagi saya pengharaman itu hanyalah karena kita tak pernah mengetahui kehebatan Al Quran. Sehingga seakan - akan buah karya
budaya manusia yang bernama musik, entah yang berupa nyanyian, instrument atau syair sanggup menandingi kehebatan dan
kecepatan sebuah ilham.

Hal ini persis seperti kita yang terselubungi syirik halus dengan beranggapan bahwa syetan dengan Allah adalah sebuah konsep
pertarungan sederajat sehingga kita merasa bisa membela Allah, meninggikan nama Allah dan melindungi Allah dari godaan setan.
Kita secara tak sadar melemahkan kemampuan Allah... kita sudah berfikir terbalik... alam e njungkir, dunyo kate kiamat rek !

Kalau kita mengharamkan musik, lebih baik mulai sekarang kita copoti saja corong-corong adzan yang ada di masjid. Sebab secara
sejarah, alat itu diciptakan untuk kegiatan musik dan aktifitas Yahudi Nasrani. Kalau perlu kita nggak usah pake mobil, listrik, hp,
komputer, apalagi internetan made in Pentagon ini.... toh ini semua bukan orang Islam yang buat....

Memang di sinilah letak keheranannya. Bagaimana bisa kegiatan yang sifatnya meng"healing" anugerah tubuh kok malah
diharamkan. Sedangkan kondisi polusi suara yang bikin sakit badan dan mental malah tak pernah ada solusi fatwa agama.

Kalau merunut secara hadits, nabi sendiri selalu menganjurkan me"nada"kan bacaan Quran bukan ?. Dalam makna, bawa sesuatu
yang sangat berbobot haruslah disampaikan dengan suatu keindahan supaya hal itu benar -benar membekas di hati penyimak. Coba
saja seumpama kita baca Quran seperti logat naratif pembaca berita...wah pasti sangat garing sekali.

Yang jelas anak kecil sebagai generasi penerus akan bertambah asing dan malas karena tidak ada ketertarikan awal. Bukti pribadi
yang gampang, ketika menyetel radio dan terdengar keindahan nada adzan, anak saya yang masih umur satu tahun sering langsung
menyimak diam, khusyu sekali seakan-akan paham rintihan hati sang muadzin.

Tapi ketika saya membuka Al Quran sambil santai membaca dalam hati, dengan kesigapan tangan mungilnya... kreek.... sudah tiga
kali ini kitab itu disobek. Untung nggak saya marahi... lha wong derajat kesucian saya kalah sama dia hare...namanya saja bayi
masih fitrah.... dan fitrah itu perjalanan pembelajarannya tanpa rekayasa. Persis kayak Musa yang makan api waktu bayi....semua
membawa pesan tersembunyi.

Tapi yang rada aneh para jamaah haji kita. Suatu saat sang jamaah haji baru menginjakkan tanah di Makkah. Tiba -tiba dari
kejauhan ia melihat orang arab berteriak -teriak sambil membawa surban. Ia pun langsung mendekat dan menegadahkan tangan
sambil berucap lembut... amien... amien... amien... Tiba-tiba teman sebelahnya nyeletuk " mas, orang itu lagi jualan surban... ngapain
sampeyan amin - amin ? oo rupanya pedagang toh... kirain pemfatwa...

***

Memang sih pada perjalanannya, musik bisa menjadi godaan yang melenakan tujuan. Dan itu lumrah saja, tergantung kesadaran ilahi
masing - masing penikmat. Sama persis seperti orang yang belajar fiqih, nahwu sharaf, ilmu mantiq dll. Toh pada perjalanannya
banyak yang tak sampai pada kesadaran ilahi.

Banyak yang akhirnya tertahan pada kekuasaan, fasilitas wibawa, jual beli suara, nego jatah menteri atau kucuran dana luar negeri
yang semuanya masih menandakan mental tangan di bawah alias mengemis pada penduduk dunia untuk sebuah anggapan dunia
yang tak berujung berputar - putar. Alias tak begitu yakin akan Daya Allah.

Tapi sekali lagi, sesuai judulnya, musik hanyalah jalan, hanyalah kendaran, bukan tujuan. Persis seperti disiplin ilmu fisika, biologi dan
renik kebudayaan yang lain. Kalau tujuan billah sudah tercapai, kenapa sebuah jalan dan kendaraan harus diributkan ? kenapa harus
ditandingkan ...?

Biarkan sajalah tiap orang mencari jalan menuju Tuhannya sesuai jatah ilmu dan kebudayaan yang ia pahami... karena kita tak
pernah tahu seberapa besar ketulusan mahluk dengan Khalik. Padahal inilah awal point penting sebuah proses perjalanan ketauhidan.
Waba'du, mohon maaf kalau bahasan ini sifatnya campur aduk dengan menggunakan metode ilminik alias ilmiah campur klenik
karena musik memang menyangkut dua dunia, logis dan nonlogis. Rasa plus matematis.

Wassalam

Dody Ide

Lihat lebih detail di sumbernya :

www.groups.yahoo.com/group/dzikrullah/message/2537

Sabtu, 14 September 2013

Yang Berjalan Dan Yang Kembali

Hidup Adalah Perjalanan

Hidup adalah sebuah perjalanan tiada henti yang mau tidak mau harus kita lalui. Dari tiada, kita lalu ada, dan kemudian kita kembali tiada. Kita kecil, besar, dewasa, tua, lalu mati. Kita tidak bisa menahan ketuaan kita. Dalam setiap langkah perjalanan kita itu selalu ada dua rasa yang berbeda yang datang silih berganti yang mengisi rongga dada kita. Kadangkala kita merasakan rasa SUKACITA yang menguasai kita, dan adakalanya pula kita merasakan rasa DUKACITA yang mewarnai setiap langkah yang kita lalui. Kedua rasa itu, sukacita dan dukacita, berganti-ganti memenuhi rongga dada kita. Sehingga kitapun berasa terbolak balik. Ronga dada kita (SUDUR) yang dapat menangkap keadaan yang bisa berubah-ubah itu disebut QALB (HATI).
Kalau rongga dada kita sudah tidak bisa lagi berubah dari DUKACITA menjadi sukacita, maka rongga dada kita itu disebut sebagai QALB yang sudah mati, hati yang keras membatu, hati yang gelap, hati yang buta dan tuli. Rongga dada yang seperti ini akan SULIT menerima pengajaran-pengajaran dari Allah berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Biasanya hanya menerima ILHAM tentang KEFUJURAN yang akan membuat suasana di rongga dada kita semakin gelap dan mati. Inilah kesesatan atau kesalahan kita dalam memilih jalan yang sangat nyata kata Allah didalam surat Az Zumar ayat 22.
Sebaliknya, kalau rongga dada kita itu selalu diisi oleh keadaan SUKACITA yang dari waktu ke waktu selalu bertambah kuat, maka rongga dada kita itu disebut QALB yang sudah diberi CAHAYA, sehingga rongga dada itu menjadi hidup, lunak (talinu), lembut, sehingga sangat mudah untuk menerima pengajaran-pengajaran dari Allah berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Dada yang mudah sekali diresapi oleh suasana atau rasa IMAN, KHUSYU, SABAR, IKHLAS, IHSAN, ZUHUD, WARA, TAWAKKAL, RIDHA, SYUKUR, dan lain-lain sebagainya. Suasana atau rasa yang dari dulu dan sampai kapanpun juga sama keadaannya. Inilah yang disebut sebagai AYAT-AYAT ALLAH yang nyata dan berulang-ulang disampaikan kedalam dada kita. Rasa dan suasana yang sudah berulangkali diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terdahulu, dan juga kepada kita. Keadaan dada yang seperti ini diindikasikan oleh Allah di dalam surat Az Zumar ayat 23.
Semenjak kita baligh (dewasa) yang berlanjut sampai kita tua dan mati, sepertinya kita lebih banyak menjalani berbagai peristiwa kehidupan yang menimbulkan rasa DUKACITA yang dalam di rongga dada kita. Paling tidak ada 6 rasa DUKACITA yang selalu menghiasi jalan hidup kita:
1.      Rasa TAKUT yang kadangkala seperti tanpa alasan yang jelas.
2.       Rasa SAKIT dalam waktu tertentu atau rasa sakit yang berkepanjangan
3.      Rasa MISKIN yang berkepanjangan.
4.      Rasa DILECEHKAN oleh orang lain.
5.      Rasa SEDIH yang muncul terus menerus.
6.      Rasa TERSIKSA yang sangat pedih tiap sebentar.
Oleh sebab itu, kita ingin selalu berjalan kemana-mana, minta tolong kesana-kemari, berusaha sekuat tenaga, agar kita bisa mendapatkan 6 rasa SUKACITA berikut ini selama kita menjalani kehidupan kita, yaitu:
1.      Rasa AMAN.
2.      Rasa SEHAT.
3.      Rasa KAYA
4.      Rasa DIHORMATI orang lain.
5.      Rasa BAHAGIA
6.      Rasa SYURGA yang tanpa siksa dan tanpa kepedihan lagi.
Inilah yang disebut sebagai perjalanan abadi kita. Yaitu perjalanan dari kecil, besar, tua, lalu mati yang tidak bisa kita tahan dan hentikan sedikitpun. Dan selama dalam perjalanan kita itu, kita berusaha pula mendapatkan rasa SUKACITA yang tiada henti-hentinya. Karena kita seperti ingat-ingat lupa bahwa kita pernah mengalami keadaan SUKACITA yang amat sangat itu di suatu saat dulu, saat kita berhadapan dengan Allah SWT. Kita ingin mendapatkan suasana itu kembali. Sehingga kitapun ingin berjalan dan berjalan selama hidup kita untuk bisa kembali mendapatkan dan menikmati suasana seperti dulu itu di saat sekarang ini. Setiap saat malah…


Berbagai Macam Perjalanan Ruhani


Dalam artikel ini, kita akan berbicara banyak tentang serba serbi perjalanan ruhani yang merupakan kajian paling lama menjadi topik perbincangan umat manusia di seluruh dunia. Topik yang mampu melintasi zaman, ruang, dan waktu untuk sampai kepada kita sekarang ini. Tapi nampaknya perbincangan ini hampir selalu saja menuai pro dan kontra, debat kusir yang tak kunjung selesai, baik bagi orang-orang yang berbeda agama maupun bagi orang-orang yang beragama sama. Dalam penganut agama Islam sendiri, topik perjalanan ruhani ini telah menciptakan friksi yang sangat tajam setajam pisau silet. Menyayat-nyayat persatuan umat Islam tanpa ampun.

Akar masalah dari adanya debat kusir ini sebenarnya hanya satu, yaitu dalam belajar kita saling tidak mengerti dan tidak sampai pada kepahaman yang benar, sehingga kita pun saling tidak bisa pula mengamalkannya dengan benar. Kita saling tidak paham satu sama lainnya. Itu karena kita masing-masing belajar kepada orang yang tidak paham dan tidak mengamalkannya seperti apa yang diinginkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Itu saja kok akar permasalahannya.

Makanya Allah sangat marah didalam Al Quran kepada orang-orang yang mengatakan atau mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang sebenarnya tidak dia pahami dan tidak dia alami sendiri terlebih dahulu sebelumnya. Ini berlaku terutama untuk hal-hal yang berkenaan dengan IMAN, KHUSYU’, IHSAN, dan masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan sebuah KEADAAN yang ada didalam dada kita. Karena Allah sendiri mengatakan bahwa kalau kita ingin berbicara tentang IMAN, maka iman itu, terlebih dahulu, harus sudah masuk ke dalam dada kita, berupa cahaya yang menerangi. Dan setelah itu akan ada keadaannya, ada suasananya, ada realitasnya.

Nah…, yang dikatakan da’wah itu adalah bahwa kita sedang bercerita tentang keadaan dan suasana yang ada di dalam dada kita sendiri, bukan apa yang ada di dalam otak kita berupa hafalan-hafalan terhadap berbagai hukum-hukum-hukum dan ilmu-ilmu Islam, hafalan ayat-ayat Al Qur’an dan Al hadist, sejarah-sejarah orang terdahulu, doktrin-doktrin, dan sebagainya. Sebab kalau kita hanya sekedar menyampaikan hal-hal seperti ini, itu namanya kita sedang bercerita diluar kepala kepada orang lain tentang istilah-istilah agama.

Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa Al Qur’an yang sebenarnya itu adalah apa-apa, keadaan apa, suasana apa yang sedang ada di dalam dada kita saat ini.

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yg nyata di dalam dada orang-orang yg diberi ilmu. Dan tak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (Al Ankabut 49).

Karena memang suasana yang ada di dalam dada kita itu tidak pernah berbohong. Misalnya, kalau kita kafir kepada Allah, maka suasana di dalam dada kita itu pas kafirnya, sehingga kita bisa dengan lantang berkata: “ah…, saya nggak percaya tuh”. Atau, kalau kita ragu-ragu kepada Allah atau kepada siapapun, atau apapun juga, maka suasana di dalam dada kita juga pas ragu-ragunya, sehingga kita bisa berbicara dengan penuh ekspresi: “kok saya ragu ya ?, bagaimana dong”. Atau, kalau kita berbahagia, maka suasana di dalam dada kita juga pas bahagianya, sehingga kita bisa berbicara dengan mata berbinar-binar: “Duh…, hari ini saya sangat berbahagia sekaliiiiiii…”. Kita seperti ingin menceritakan kepada siapapun juga tentang kebahagiaan kita itu. Bahagia itu benar-benar sudah ada terlebih dahulu didalam dada kita dengan sangat padat dan kuatnya.

Begitu juga dengan keadaan-keadaan lain yang menandakan bahwa kita ini telah beriman kepada Allah. Iman itu sudah ada terlebih dahulu muncul dan berkembang di dalam dada kita, sehingga keadaan-keadaan lainnya, sebagai ciri-ciri dari seorang yang beriman, kemudian bermunculan di dalam dada kita. Misalnya muncul keadaan Taqwa, Sabar, Ihsan, Ikhlas, suasana Zuhud, Taubat, dan sebagainya. Semua kata-kata yang kita ucapkan itu bermuara dan berujung pada sebuah keadaan yang khas yang sedang ada di dalam dada kita. Kata-kata kita itupun hanya sekedar meloncat saja keluar dari ujung lidah kita. Kitapun kemudian bisa berkata-kata tentang suasana macam apa yang ada di dalam dada kita, sehingga kita tidak lagi dicap sebagai seorang yang munafik.

Hanya orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah lah yang akan bisa membaca suasana macam yang sedang ada di dalam dadanya, kemudian dia tahu pula suasana macam apa yang seharusnya dia masuki. Sehingga dengan seketika, dia bisa merasakan perubahan suasana dadanya yang awalnya bersuasana munafik, atau tidak beriman, kemudian berubah menjadi dada orang beriman. Dan setiap perubahan itu bisa terjadi karena dia segera datang kepada Allah, untuk minta ampun, dan minta dituntun oleh Allah untuk kembali memiliki suasana dada orang beriman seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, Sahabat-sahabat Beliau dan Wali-wali Allah. Makanya kalau kemudian berkata-kata, dia hanya akan bercerita tentang kehebatan Allah yang merubah suasana kekafiran dan kemunafikan yang ada di dalam dadanya, menjadi dada yang beriman dan yang diberi cahaya oleh Allah sendiri.
Bagi orang yang tidak diberi ilmu, dia tidak akan bisa merasakan perubahan-perubahan suasana yang ada di dalam dadanya setiap saat. Karena dada orang yang tidak beriman kepada Allah itu keadaaanya adalah seperti batu hitam yang sangat keras. Dadanya telah mati, keras, dan membatu. Suasana di dalam dadanya tidak bergeming sedikitpun ketika dia membaca nama Allah, membaca ayat, ayat Al Qur’an, mendirikan shalat, berdzikir, dan sebagainya. Dada yang seperti itu sebenarnya sangat berat sekali menekan dan membebaninya. Dia membawa-bawa beban itu kesana-kemari setiap saat. Itu capek sekali rasanya. Ketika dia berkata-katapun, ujung-ujung perkataannya tidak akan jauh-jauh dari memperkatakan kesulitannya, penderitaannya, kegalauannya, kesakitannya, ketersiksaannya, problematikanya. Tidak jauh-jauh dari sana.
Jadi yang akan membedakan kita satu sama lainnya hanyalah tentang SUASANA seperti apa yang sedang mekar dan berkembang di dalam dada kita saat ini. Bisa tidak kita untuk membaca suasana yang ada di dalam dada kita itu. Kemudian bisa tidak kita untuk membaca setiap perubahan yang terjadi di dalam dada kita setelah kita melakukan sesuatu aktifitas.
Nah…, cerita-cerita kita kepada orang lain nantinya tidak akan jauh-jauh dari itu. Kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita dahulu kala (kemaren-kemaren) dibandingkan dengan suasana sekarang. Kalau ada perubahan, perubahannya itu seperti apa, dan bagaimana sejarahnya sampai kita bisa mendapatkan perubahan itu. SEBAB berubahnya kenapa, dan CARANYA bagaimana?. Kalaupun tidak ada perubahan, kita juga akan bercerita tentang tidak berubahnya suasana hati kita itu, walau kita sudah melakukan berbagai hal dan bermacam cara. Kalau masalah cara bercerita kita dan pemilihan kata-kata kita, itu sih hanya tergantung kepada seberapa banyak perbendaharaan kata kita, ilmu kita, dan pengalaman kita. Itu tidak terlalu penting sebenarnya.
Suasana yang ada didalam dada kita itulah yang disebut sebagai ayat-ayat Allah yang sebenarnya. Ayat-ayat Allah yang NYATA. Ayat-ayat yang tidak pernah bohong. Kalau kemudian kita berkata-kata, tapi perkataan kita itu tidak sesuai dengan keadaan yang sedang mekar di dalam dada kita, maka dengan sangat pas kita bisa menghakimi diri kita sendiri: “Ah…, kayaknya saya bohong deh…”. Dan rasa bohongnya itu pas sekali. Dan saat kita berbohong itu, Al Qur’an menyebut kita sebagai orang yang zalim. Kita zalim terhadap diri kita sendiri. Kita menyakiti diri kita sendiri. Karena rasanya memang sakit sekali, seperti di palu begitu rasanya dada kita. Kalau sampai tidak terasa, ya nggak apa-apa…
Jadi da’wah itu lebih cocok dikatakan sebagai aktivitas kita untuk menyampaikan keadaan yang muncul atau sedang ada di dalam dada kita setelah kita menjalankan sebuah praktek agama Islam, misalnya shalat, membaca Al Qur’an, puasa, zakat, sedekah, haji, dan sebagainya. Kemudian kita mengajak orang lain untuk singgah sejenak guna menikmati suasana seperti yang ada di dalam dada kita itu. Hanya mengajak singgah saja. Bukan memaksa orang lain agar mereka mau ikut dengan kita.
Dan untuk pembanding antara apa yang kita dapatkan dengan apa yang kita lakukan itu, petanya cukup dua saja, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Jelas kok peta suasana dada kita yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Al Hadist itu. Kita tidak perlu mencari-cari peta yang lain. Saat Al Qur’an berkata: kalau kita shalat, hasilnya begini…, begitu…, dada kita lapang, kita bahagia, lalu ketika kita shalat ternyata kita tidak bahagia, maka berarti shalat kita itu masih salah. Simple sekali.
Oleh karena itu, da’wah akan sangat berbeda dengan cara-cara motivasi yang disampaikan di dalam training-training hipnosis yang sangat banyak ditawarkan kepada kita saat ini. Training seperti itu bisa dilakukan oleh semua orang tanpa memandang apapun agamanya. Bahkan orang yang nggak jelas agamanyapun bisa menyampaikan kata-kata hipnosa tertentu kepada kita, dan itu ada hasilnya. Da’wah itu juga sangat berbeda dengan pengajian-pengajian olah emosional yang di dalamnya bisa membuat orang yang sebelumnya sakit menjadi sehat, membuat orang-orang yang tadinya galau menjadi sumringah, membuat pesertanya saling bertangis-tangisan. Dan jebakan kedua-duanya, baik training hipnosis maupun pengajian-pengajian mengolah emosi seperti itu seolah-olah ADA HASILNYA. Biasanya suasana di dalam dada kita sejenak bisa agak LONGGAR dari biasanya.
Nah…, kalau saat itu kita bercerita dan berkata-kata, kita tidak akan jauh-jauh dari suasana yang ada didalam dada kita sekarang. Cara bercerita kita bisa bermacam-macam. Berikut ini kita akan melihat beberapa cerita yang sedang menjadi TREND ditengah-tengah masyarakat, sehingga banyak pula diantara kita yang ingin ikut-ikutan melakukannya. Seakan-akan hal seperti ini sudah merupakan jalan keluar dari rasa DUKACITA yang kita alami selama ini sehingga kemudian kita bisa merasakan rasa SUKACITA dalam bentuk rasa bahagia, rasa aman, rasa sehat, rasa kaya, atau rasa dihormati.
Misalnya,
“Tadinya saya sakit, galau, marah, sedih, gelisah. Kemudian saya ikut hipnoterapi, saya di hipnotis. Atau saya ikut pengajian anu, saya datang kepada ustad ini dan disuruh berdzikir, lalu sakit saya berkurang, galau saya hilang, marah saya lenyap, sedih saya terobati. Saya menjadi tenang dan berbahagia. Hebat deh instrukturnya, ustadznya keren habis”.
Atau,
“tadi itu saya bermasalah, kemudian saya lepaskan diri saya dari masalah itu, saya lupakan, saya terima, dan ndilalah masalah saya itu selesai dengan sendirinya dengan cara-cara yang tak terduga, saya benar-benar merasa bahagia saat itu, saya “terhipnotis” dengan hasilnya, dan berbagai istilah lainnya”.
Atau,
“ketika tadi saya ingin melakukan sesuatu, ternyata disitu saya harus antri yang sangat panjang. Kemudian saya akses “getaran” dan saya katakan saya akan bisa segera melakukan aktifitas saya tanpa ikut antrian. Tiba-tiba antrian itu seperti terurai sehingga sayapun bisa melakukan aktifitas saya dengan sangat mudahnya, tanpa ikut antrian”. “Hebatkan?, siapa yang mau belajar hayoo..?”,
Atau,
“tadinya saya adalah seorang yang penakut, saya sebenarnya mendambakan rasa aman dari semua gangguan dimanapun saya berada. Kalau ada musuh yang menggangu, saya ingin musuh saya itu bisa terjengkang dan jumpalitan tanpa saya sentuh sedikitpun. Lalu saya datang kepada si “A”. Setelah perut saya di “gores”-nya sedikit dengan tangannya (di inisiasi, di isi atau attunement) kemudian saya uji coba kepada beberapa orang yang ada disitu, benar lho…!. Para penyerang saya itu benar-benar bisa terjengkang dan jumpalitan. Jadi sekarang saya tidak pernah takut lagi kemana-mana. Karena saya sudah punya ilmu kontak ini”.
Atau,
“tadinya saya seperti nggak habis-habisnya dirundung malang. Saya sangat miskin. Rejeki saya seperti mandeg. Kemudian saya ikut sebuah pelatihan tentang Magnet Rejeki atau cara-cara lain seperti Bersedekah. Saya ikuti metodanya. Saya bayangkan saya bisa menarik Rejeki itu, atau saya perbanyak bersedekah. Eh iya lho, alhamdulillah, rejeki saya sekarang jadi sangat mudah”. Sehingga setelah itu kitapun bisa berpromosi agar orang lain bisa pula melakukan apa-apa yang kita lakukan: ” Coba deh anda ikut pelatihan Magnet Rejeki itu atau bersedekahnya diperbanyak. Pasti anda juga akan mengalaminya. Eh insyaallah maksud saya”.
Atau,
Kalau kita sudah hebat, kita bisa berkata:
“Saya itu bisa mengobati penyakit. Supaya tidak dianggap sombong kita tambahkan sedikit kalimat “alhamdulillah”, atas izin Allah. Pernah orang datang kesaya, kelihatannya dia sakit, stress. Kemudian saya coba menyembuhnya. Saya konsentrasi, saya kirimkan beberapa getaran kedalam tubuhnya. Sampai dia itu keter-keter, melotot-melotot, dan kadang-kadang muntah-muntah. Saya minta jin atau makhluk halus yang ada di dalam tubuhnya untuk keluar. Di bergetar-getar dan muntah-muntah. Setelah getarannya hilang, kemudian dia menjadi tenang. Siapa yang mau belajar ke saya?”.
Atau kesaksian atas keberhasilan seseorang atas sebuah metoda hipnotis sbb:
“Tuan XYZ, saya mengucapkan terimakasih, sudah puluhan tahun saya belajar hipnotis, tapi baru kali ini saya paham dan menjadi percaya diri dan langsung bisa….Salam hormat tuan XYZ yang sangat hebat….Saya mohon ijin untuk mengajarkannya kepada orang lain”
Tuan. P, dari sebuah Kota
“Sekarang saya menjadi pribadi penuh percaya diri seperti Rajawali sakti….Saya sudah frustasi awalnya, belajar hipnotis di hotel mewah dengan biaya mahal dan diajar oleh pakar hipnotis terkenal, tapi tidak bisa, tapi melalui modul sederhana XYZ sekarang saya gagah perkasa menghipnotis orang tiap hari minimal 10, bahkan 40 orang perhari….Hidup Hipnotis!….
Mr. X, dari sebuah kota.
“Pak XYZ, saya hanya ingin memberitahukan melalu SMS ini dan berterimakasih sebesar-besarnya bahwa saya sudah bisa menghipnotis dengan mudah….”
Mr. X, di S
“Dulu saya waktu kecil saya sempat ingin belajar hipnotis, tapi dilarang oleh orang tua, ternyata sekarang saya bisa menghipnotis orang dengan mudah melalui paket pembelajaran dari anda, terimakasih wawasan saya jadi terbuka lebar!”
Mr. X, di A
“Saya sudah puluhan tahun mengajar prana dan tenaga dalam, dan ikut pelatihan hipnotis berkali-kali, tapi saya baru mendapatkan kejelasan dan pencerahan melalui Bapak XYZ, terimakasih…
Mr. X, Guru Besar perguruan esoterik di S
“Tuan saya rata-rata perhari menghipnotis 20 orang, di mana saja, di pura, di pasar, di manapun….Sangat seru….Terimakasih Tuan…..”
Mr. X, di K
BAnyak kok iklan seperti ini bertebaran di dunia maya atau di berbagai surat kabar dan majalah.
Atau bisa kita katakan kehebatan kita dengan agak lengkap seperti berikut:
“Bagi siapapun yang punya:
Hambatan emosi seperti: Depresi / Trauma, Phobia, Sulit tidur, Mudah Marah, Tersinggung, Dendam lama, Perselingkuhan, Tidak Percaya Diri berbicara di depan Publik, kecanduan Obat Terlarang.
Atau hambatan Fisik seperti: Sakit kepala / Migrain, Nyeri Punggung, Maag Akut, Kanker, Penyembuhan pasca stroke, Hypertensi, Asma, Vertigo, Sakit Jantung, dll.
Atau Masalah Keluarga: Rasa kecewa karena pasangan / istri / suami / anak tidak bersikap seperti yang diharapkan; Rasa terlalu posesif atau protektif yang tidak produktif, Rasa takut kehilangan, Hilangnya romantisme atau rasa cinta; Ingin (dan bernafsu untuk) selingkuh.
Atau Masalah Anak: Hiperaktif, Ngompol (enuresis), Gagap, Autis, Suka Berbohong, Pemalu, Gangguan Konsentrasi Belajar /Prestasi belajar rendah, Mudah Emosi (perasaan takut, cemas, Marah, sedih, dll), Anak & Remaja Membangkang, Suka Memberontak, Manja & Sangat bergantung dengan orang tua, Anak yang tidak mau menurut, Mudah tersinggung, Cemburu yang berlebihan, dll.
Atau ingin menghasilkan Kinerja Unggul: Pelayanan Prima terhadap Pelanggan, Prestasi penjualan yang mengesankan, Tingkat produksi yang tinggi, Ide-ide kreatif inovatif, Budaya kerja yang efisien, Karyawan Lebih Puas, Lebih Loyal, Menerima kondisi yang ada dsb.
Atau banyak lagi hal-hal negative lainnya yang sering disebut sebagai penyakit masyarakat.
Maka datanglah ketempat saya, ketempat pelatihan saya, ketempat training saya. Karena saya punya gabungan banyak metoda untuk memperbaiki bahkan menghilangkan semua penyakit masyarakat itu. Yaitu:
7.      Powerfull Prayer (Spirituality)
8.      Provocative Therapy
9.      Energy Therapy (EFT)
10. Loving Kindness Therapy.
11. Cognitive Therapy (NLP)
12. Behavioral Therapy
13. Logotheraphy
14. Psychoanalisa
15. Self Hypnosis (Ericksonian)
16. Sugesty & Affirmation
17. Visualization
18. Gestalt Therapy
19. Meditation
20. Sedona Method
Sehingga saya menjamin anda akan sehat, unconditional bahagia, meraih sukses, keberuntungan, keberhakan, hidup yang mulia, berguna bagi orang lain. Saya garansi. Lihatlah beberap tokoh penting memberikan testimoninya tentang saya”.
Demikianlah kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita. Kita bisa mengungkapkannya dengan berbagai cara. Kita ungkapkan dalam bentuk bahasa berbagai macam ilmu yang kita punyai, dalam bentuk bahasa kehebatan metoda kita. Kalau perlu itu kita tambah-tambahi dengan ucapan-ucapan dzikir dengan menyebut nama Allah, biar umat islam yang ingin mengikutinya bisa percaya bahwa itu adalah sebuah cara yang sangat islami. Bahkan kemudian ditambahi pula dengan acara-acara pengajian, shalat, baca al qur’an. Sungguh islami sekali kelihatannya. Sehingga banyak pula orang yang tertarik dan melatihnya dengan semangat 45.
Yang lebih konyol sebenarnya adalah ketika didalam dada seseorang sedang ada rasa bahagia, tapi asal rasa itu adalah karena dia baru saja selesai menonton OVJ, maka ceritanya pastilah tentang kelucuan si S, A, N, A, P, dan anggota-anggota OVJ lainnya. Ceritanya pas banget. Karena dia memang sedang bercerita tentang suasana yang ada di dalam dadanya.

Nggak Nyambung
Oleh sebab itu, kalau rasa bahagia yang kita rasakan hanya sekelas bahagia OVJ dan yang sejenisnya, atau rasa bahagia sekelas getaran hipnosa dan yang sejenisnya, maka ketika kita mencoba untuk bercerita tentang rasa bahagia akibat BERIMAN kepada Allah, ya nggak nyambung.
Karena rasa bahagia karena adanya getaran IMAN di dalam dada kita sangat jauh berbeda dengan rasa bahagia yang kita ciptakan sendiri dengan pikiran kita. Kalau kita masih nekat juga menyampaikannya, maka saat itu kita akan berhadapan dengan ayat Al Qur’an dimana Allah sangat marah kepada orang-orang yang menyampaikan, memperkatakan apa-apa yang tidak ada suasananya didalam dadanya. Hambar.
Sebab dengan begitu, berarti kita telah ikut pula berperan menyebarluaskan ketidakpahaman kita itu kepada orang banyak. Jika kita memberitahu dan mengajarkanya kepada satu jamaah, maka akan menghasilkan sekumpulan orang yang sama-sama tidak pahamnya dengan kita. Apalagi kalau jamaah kita itu adalah masyarakat luas yang ada disebuah negara atau bahkan di berbagai penjuru dunia. Alangkah akan mengerikan sekali akibatnya. Ketidakpahaman bertemu dengan ketidak pahaman lainnya, sehingga yang muncul adalah kelompok-kelompok yang saling membenarkan dirinya sendiri. Seperti yang terjadi sekarang inilah. Allah di dalam Al qur’an tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa keadaan seperti ini adalah termasuk musyrik. Ya… MUSYRIK.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang MUSYRIK (mempersekutukan Allah), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” , (Ar Ruum 30: 30 – 32)
Namun, ditengah-tengah ancaman Allah seperti itu, sa(ha)ya masih memberanikan diri untuk menulis ini hanya karena sa(ha)ya sudah menyerahkan diri sa(ha)ya kepada Allah untuk diapakan saja oleh Allah. Sa(ha)ya hanya berharap, selama penulisan artikel ini, Allah berkenan memasukkan suasana demi suasana yang sa(ha)ya tulis itu kedalam dada sa(ha)ya. Ya Allah…, hamba sahaya bersedia ya Allah…

Dengan Ijin Allah, Bismillahi Allahu Akbar…
Kita akan mencoba membuka selapis kulit labirin tipis yang selama ini membatasi perjalanan kita dalam memahami istilah-istilah mendekatkan diri dan kembali kepada Allah. Sebab kita sering sekali mendengar bahwa ketika kita sujud di dalam shalat adalah saat-saat paling dekat antara kita dengan Allah. Begitu juga setiap kita menjumpai permasalahan segala permasalah hidup, kita diminta untuk datang kembali kepada Allah. Misalnya dalam ungkapan-ungkapan berikut: “Wasjud waqtarib…, innalillahi wa inna ilaihi raji’un…, Wa annahum ilaihi raji’un…, fafirru ilallah…, taqarrub ilallah…, mulaqu rabbihim…, dan sebagainya”.
Dan hasilnya adalah, semua permasalahan masyarakat diatas ternyata bisa kita selesaikan dengan sempurna hanya dan hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, dan dengan menjalankan syariat dan amalan (aktivitas) seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang puncaknya adalah SHALAT.
Kita akan membahasnya dalam perspektif sebuah perjalanan yang kita tempuh agar kita bisa keluar dari segala permasalahan masyarakat diatas yang mungkin saja beberapa bagiannya sedang kita hadapi. Kita akan lihat perspektif perjalanan seperti apa yang kita lalui kalau kita memakai belasan metoda seperti diatas, dan perjalanan yang bagaimana pula yang akan kita lalui kalau kita memakai satu metoda saja, yaitu metoda perjalanan Spiritual untuk mendekatkan diri kita dengan Allah dan kembali pulang kesisi Allah. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN.
Karena sebenarnya pada setiap diri kita ada sebuah keadaan yang terjadi dimana ada wujud yang selalu ingin mendekat dan kembali kepada Wujud lain yang sangat didambakannya. Ada sebuah kerinduan yang amat sangat dari wujud yang ingin mendekat dan kembali itu kepada Wujud yang ingin didekati dan didatanginya. Kerinduan itu seperti sebuah kerinduan yang abadi. Kerinduan butir-butir air untuk pulang ke samudera luas. Kerinduan yang menggema melampau zaman.
Dilain pihak, Wujud yang dituju dan yang didatangi itu tak henti-hentinya memanggil…, dan memanggil… “Datanglah kepada-Ku…, Kembalilah kepada-Ku…”. Panggilan itu ditujukannya kepada wujud yang memang seharusnya sesering mungkin datang mendekat dan kembali kepada-Nya. Panggilan itu seperti sebuah panggilan kerinduan seorang ibu kepada anaknya, agar anaknya berlari mendekat dan kembali kepada sang ibu. Karena sang ibu telah menyiapkan sepotong makanan dan segelas air pelepas lapar dan dahaga kesukaan si anak.
Sementara itu, sang anak kadangkala entah sedang berada dimana. Dia seringkali sedang berlari kesana kemari menikmati mimpi-mimpi indahnya tentang hidupnya sendiri. Tatkala ibunya memanggil, suara ibunya seringkali hilang ditelan tiupan angin. Akhirnya sang bu hanya bisa mendesahkan panggilannya untuk anaknya, “Nak…, pulanglah, datanglah, mendekatlah…”. Dan desahannya itupun mengalir bersama angin…

BERJALAN DIANTARA BEBATUAN.
Berikut ini kita akan belajar bersama-sama tentang makna dari sebuah perjalanan. Apa yang dimaksud dengan berjalan, perjalanan, halangan-halang dalam sebuah perjalanan, dan yang lebih penting lagi adalah apa dan siapa yang berjalan, serta kemana dan kepada siapa yang berjalan itu pergi.
Nanti kita akan melihat apakah kita selama ini berjalan seperti yang dilakukan oleh seorang yang melakukan gerakan pantomim. Dimana kelihatannya saja kita telah berjalan, akan tetapi sebenarnya kita masih berada ditempat yang sama. Kita berjalan ditempat.
Atau boleh jadi kita sudah berjalan, tapi perjalanan kita itu masih bolak balik dari tempat awal kita bergerak kemudian kita kembali lagi ketempat awal kita bergerak tadi. Itu kita lakukan karena didepan kita ada halangan yang menghalangi kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Halangan itu bisa saja sebuah batu besar yang menghalangi jalan kita, atau jalan yang akan kita lalui jembatannya putus.
Atau bisa pula kita kelihatannya saja sudah berjalan dan berjalan. Bahkan perjalanan itu kita rasakan sudah sangat jauh dan kita lakukan dalam waktu ang sangat lama. Tapi perjalanan kita itu masih seperti bergerak dari satu tempat ketempat yang lain yang kelihatannya saja berbeda tapi sebenarnya tempatnya masih mirip kalau tidak mau dikatakan sama. Yang kita temukan ditempat yang baru itu masih sama keadaannya dengan tempat-tempat yang kita lalui sebelum- sebelumnya. Cuma bedanya hanyalah di asesorisnya saja.
Sehingga kita dengan cepat merasa bosan dengan tempat yang baru kita kunjungi itu. Kita ingin melanjutkan perjalanan kita ketempat yang lain. Karena ternyata jalan masih terbentang jauh didepan kita. Tapi sejauh apapun kita berjalan, yang kita temukan hanyalah tempat-tempat yang cepat sekali membuat kita bosan. Kalau keadaan kita seperti ini, perjalanan kita disebut sebagai perjalanan yang belum sampai ketempat tujuan kita yang sebenarnya. Kita masih bergerak dari satu tempat ketempat yang sama dengan tempat kita yang sebelumnya, cuma alamatnya saja yang berbeda. Misalnya kita bergerak dari Jakarta ke Bandung. Alamatnya memang berbeda, tapi suasananya dan apa-apa yang kita temukan di kedua tempat itu tetap sama saja. Itu lagi, itu lagi. Membosankan.
Perjalanan yang kita lakukan seperti itu seakan-akan membawa kita melewati jalan yang penuh dengan bebatuan. Kadang-kadang kita bisa tersandung, kadang-kadang kita menginjal batu kerikil, kadang-kadang jalan kita benar-benar terhalang, , sehingga kita harus mengambali jalan memutar, atau untuk beberapa saat kita terpaksa kembali kesuatu tempat pemberhentian sementara sekedar untuk menarik nafas sejenak, agar kemudian kita kita bisa melanjutkan perjalanan kita untuk sampai ketujuan akhir perjalanan kita yang alamatnya sendiripun kita juga lupa-lupa ingat.
Kita sangat rindu untuk pulang. Namun kendaraan yang kita pakai ternyata salah. Kendaraan yang berjalan dengan sangat perlahan. Kendaraan yang tidak akan pernah mampu untuk membawa kita sampai ketujuan kita. Dan jalan yang kita lewatipun ternyata salah pula. Jalan yang penuh liku dan bebatuan. Sudahlah begitu, peta yang kita pakai untuk menemukan tujuan akhir kita itu juga peta yang tidak lengkap, tidak utuh, kumal, dan tidak jelas. Sehingga kita hanya bisa melihat secara samar-samar jalan yang akan kita lalui dan rintangan-rintangan yang ada disepanjang perjalanan kita itu. Dan ketika kita bertanya kepada seseorang, kita bertanya kepada orang yang tidak tahu, kepada orang yang juga belum pernah sampai ditempat yang akan kita tuju itu.
Selama dalam perjalanan itu, kita memang dihadapkan dengan berbagai fenomena an keadaan. Kita punya pengalaman yang bisa kita nikmati dan rasakan. Kita bisa menceritakan pengalaman sepanjang perjalanan kita itu. Begitu juga dengan orang lain. Ya…, setiap orang bisa pula bercerita pengalaman yang mereka alami. Dan lucunya kita juga ingin mengalami hal-hal yang mereka alami itu. Padahal mereka belum tentu sampai ke alamat yang seharusnya dituju oleh seluruh umat manusia. Sehingga kitapun sibuk bercerita fenomena demi fenomena sepanjang perjalanan kita dan perjalanan banyak orang yang lainnya. Kita jadi lupa untuk berjalan kerumah kita yang sebenarnya. Kita melakukan hal seperti itu secara berulang-ulang dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Sehingga akhirnya kita menganggap bahwa yang kita lakukan itu sudah benar adanya.
Itulah yang akan kita bongkar sekarang ini. Alamat RUMAH kita yang akan kita tuju ada DIMANA. JALAN yang tercepat dan KENDARAAN yang bisa kita pakai untuk sampai kerumah kita seperti apa. PETA yang bisa kita pakai apa. PENUNJUK jalan yang bisa kita tanya ketika kita merasa ragu dan tersesat SIAPA. Kita bisa MENIRU dan MENAULADANI siapa, sehingga kita bisa mencontohnya habis-habis. Dengan begitu kita juga bisa mengalami fenomena yang sama dengan orang yang kita contoh dan tauladani itu. Fenomenanya pasti sama. PASTI. Kalau tidak sama berarti orang yang kita contoh dan tauladani itu adalah orang yang salah.

Nanti akan kita lihat perbedaan yang sangat kentara antara Rasulullah Muhammad SAW dengan siapapun juga yang dianggap hebat diseluruh dunia saat ini ataupun dimasa-masa lalu. Karena Hasil yang Beliau alami PERSIS sama dengan Rasul-Rasul Allah terdahulu. Bedanya hanya dalam hal RISALAH dan PRAKTEKNYA.
Beda risalah yang Beliau bawa dengan risalah yang dibawa oleh Nabi-nabi terdahulu adalah dalam hal KECEPATAN untuk mendapatkan suasana kembali berada DISISI ALLAHNYA. Cepat, secepat kilat. Makanya Risalah Nabi Muhammad SAW bisa disebut sebagai Risalah yang paling lengkap dan Paling Sempurna. Kita akan lihat nanti Rahasia perbedaannya. Dan jalan itu pulalah yang dicontoh oleh Para Sahabat Beliau dan wali-wali Allah sepanjang zaman.

Pulang ke Rumah
Kita, siapapun, pasti punya kerinduan untuk kembali pulang kerumah kita untuk bertemu dengan orang tua kita. Terutama dengan ibu kita. Entah kenapa, kita ingin kembali kerumah asal kita untuk bertemu kembali dengan sebuah keadaan yang dulu pernah kita rasakan tatkala kita begitu dekat dengan ibu kita. Ada suatu keadaan yang membuat kita selalu rindu untuk pulang kerumah untuk bertemu kembali dengan ibu kita. Walaupun ibu kita sudah meninggal, tapi suasana kedekatan dengan beliau masih dapat kita rasakan dengan intensitas yang sama sama dengan suasana tatkala beliau masih hidup ketika kita sampai dirumah dimana kita dilahirkan dan dibesarkan.
Ketika sampai dirumah, kita bertemu dengan beliau, ibu kita, seketika itu juga ada sebuah rasa haru, rasa bahagia, rasa tenang dan damai yang mucul dari dalam dada kita tatkala kita melihat wajah beliau, melihat mata beliau, melihat senyum beliau. Ketika beliau memanggil kita, nak…
Suasana ketika kita berjalan pulang untuk menemui ibu kita itu tidak sedikitpun melelahkan kita. Sejauh apapun perjalanan kita, rasanya ibu kita itu begitu dekatnya dengan kita. kita seperti terhubung sangat dekat dengan beliau. Hubungan yang sangat halus, bukan hubungan jasmaniah. Kerinduannya nyata, bahagianya nyata, ingin segera betemunya nyata.
Perjalanan kita pulang untuk bertemu dengan ibu kita seperti ini disebut sebagai perjalan yang kembali kealamat kita yang sebenarnya di dunia ini. Perjalan pulang sampai ke rumah kita yang ternyata disana ada ibu kita yang selalu merindukan kita, yang selalu menyiapkan makanan, minuman, sampai kepada hal-hal terkecil yang bisa membahagiakan kita.
Disuatu saat dulu, kita pernah merasakan betapa kita begitu bersemangatnya untuk melakukan suatu aktifitas dimana orang tua kita saat itu tersenyum bangga melihat aktifitas kita itu. Senyuman beliau begitu membangkitkan semangat kita. Sorot mata kekaguman beliau begitu memberikan energi yang berlipat ganda bagi kita. Usapan lembut beliau seperti memacu keinginan kita yang mulai mengendor agar kira bisa melanjutkan aktifitas kita sampai ada hasilnya.
Saat kita takut, kita segera datang kepelukan beliau. Seketika itu juga seperti ada sebuah rasa aman yang mengalir ke dalam dada kita. Semua manusia akan bisa menceritakan rasa itu tanpa kecuali. Sehingga dengan begitu rasa takut kita itu lenyap tak bersisa. Nikmat sekali rasanya saat kita menyandarkan tubuh kita ke tubuh beliau. Kita tidak merasa takut dan khawatir. Kita tidak cemas, sehingga kitapun bisa bernafas dengan sangat lega. Longgar sekali rasanya. Kita tidak sedikitpun khawatir saat kita menutup mata kita, sehingga dengan seketika kita bisa tertidur nyeyak dipangkuan Beliau.
Nah perjalanan spiritual juga hampir mirip seperti itu. Karena ketika kita berbicara tentang sebuah perjalanan spiritual, pada hakekatnya kita sedang bercerita tentang sebuah perjalanan kita untuk kembali kepada Allah saat ini juga. Wa innahum ilahi raji’un. Bukan perjalanan setelah kita mati nanti saja, dimana badan kita telah menjadi bangkai. Tapi bagaimana agar saat ini kita bisa mengenal kembali jalan pulang kita untuk memenuhi panggilan-panggilan Allah yang bergema sepanjang zaman: “ya ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’i ila rabbiki…”, yang situasinya adalah seperti Allah memanggil-manggil kita: “wahai hamba-Ku yang sudah tidak terperangkap lagi dengan hawa nafsumu, bergeraklah datang kepada-Ku…, datanglah, berlarilah, kembalilah. Kenalilah kembali jalan pulangmu. Matilah sebelum mati. Karena disamping-Ku telang menunggu hamba-hamba-Ku yang lain yang akan sama-sama merasakan kesukacitaan yang sangat tinggi bersamamu”.
Jadi perjalanan spiritual itu harus ada suasana dimana kita langsung bertemu dengan Allah. Beda antara perjalanan kita pulang untuk menemui ibu kita dengan perjalan pulang untuk menemui Allah paling tidak ada 3 hal:
1.      Ibu kita ada wujud fisiknya, sedangkan Allah tidak bisa dilihat dengan mata, tidak bisa dipindai dengan alat indera kita yang manapun. Allah adalah GAIB, tapi ADA seperti adanya ibu kita.
2.      Kalau kita pulang menemui ibu kita, selama dalam perjalanan kita mempergunakan tenaga dan usaha kita sendiri. Sedangkan perjalanan pulang untuk menemui Allah adalah sebuah perjalanan yang sepenuhnya dituntun dan diperjalankan oleh Allah sendiri. Effortless.
3.      Rasa yang muncul ketika kita menemui ibu kita adalah seperti rasa yang telah pernah kita rasakan sebelumnya. Akan tetapi rasa yang muncul saat kita bertemu dengan Allah adalah rasa diatas rasa-rasa yang pernah kita rasakan sebelumnya. Rasa diatas rasa. Rasa yang membuat kita ingin berlama-lama dengan-Nya. Rasa yang bisa bertahan lama. Malah semakin lama kita berada dalam suasana pertemuan itu, maka semakin tinggi pula intensitas rasa itu. Dalam istilah Al Qur’an keadaan iman seperti ini disebut sebagai bertambahnya rasa iman kita kepada Allah. Bertambah dan bertambah setiap saat. Kalau tidak ada pertambahan, kita akan merasa seakan-akan rasa iman kita turun dari rasa iman kita yang sebelumnya. Sebab kalau tidak bertambah, pastilah kita akan merasa garing, kosong, tidak ada respon apa-apa. Sehingga kitapun jadi gelagapan. Galau kata orang sekarang…
Nah…, perumpamaan-perumpamaan ini akan kita pakai untuk memahami seperti apakah sebenarnya yang disebut sebagai perjalanan ruhani, atau perjalanan spiritual yang hakiki, dan bagaimana pula yang disebut sebagai perjalanan spiritual yang salah kaprah. Sebab beda keduanya sangat jelas sekali, seperti jelasnya perbedaan antara siang dan malam.
Perjalanan spiritual yang salah kaprah adalah perjalanan kita yang TIDAK sampai DITUJUAN. Keadaannya persis seperti kita sedang berjalan ditempat atau gerak pantomim. Atau seperti kita bergerak mundar-mandir dari tempat awal kita berangkat lalu kita kembali lagi ketempat awal itu. Karena di depan kita ternyata ada penghalang jalan yang tidak bisa kita tembus. Atau bisa pula seperti kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, tapi tempat-tempat yang kita lalui itu hakekatnya sama saja.
Artinya, spiritual salah kaprah adalah ketika kita menjalankan spiritualitas, ternyata kita masih belum bergerak ketempat tujuan kita yang sebenarnya. Kita masing terhalang. Semua halangan yang kita hadapi itu dalam istilah perjalanan spiritual disebut sebagai BERHALA. Jadi semua berhala pastilah menghambat gerak kita untuk pulang kerumah kita.
Sedangkan perjalanan spiritual yang hakiki, adalah sebuah perjalan spirit, atau ruhani kita yang sudah meninggalkan semua berhala-berhala, sehingga akhirnya kita bisa berhadapan langsung dengan Allah. Tanpa perantara, tanpa berhala-berhala.
Oleh sebab itu pada bagian selanjutnya kita akan banyak membahas tentang segala sesuatu yang bisa menjadi berhala-berhala yang akan menghalangi berjalannya rohani kita kepada Allah. Apa yang berjalan, dan kemana kita harus menghadap agar perjalanan kita menuju ke arah yang benar. Itu perlu kita ketahui agar kita segera menyingkirkannya dari haapan kita. Mari kita bahas satu persatu.

Vibrasi Alam Vs Vibrasi Iman Kepada Allah
Sesuatu yang bisa kita kenali melalui alat indera kita (VAKOG) biasanya disebut sebagai ALAM MATERI dan ALAM ENERGI, yang bisa kita singkat menjadi ALAM saja. Sebaliknya sesuatu yang TIDAK bisa kita kenali sama sekali melalui alat indera kita (VAKOG) biasanya disebut alam GAIB, yang bisa pula kita singkat menjadi GAIB saja. Nanti akan kita bahas bagaimana caranya kita berjalan ke ALAM dan bagaimana caranya kita berjalan ke GAIB. Apa sebenarnya yang disebut sebagia percaya kepada yang GAIB itu seperti yang disampaikan Allah didalam Surat Al Baqarah ayat 3. “Yaitu mereka yang beriman kepada yang GAIB.”
Kita akan melihat bahwa saat kita bermain-main dengan Alam, baik materi maupun energi, berarti kita sedang bersentuhan dengan vibrasi-vibrasi ALAM yang sangat beragam yang bisa kita UKUR. Sebaliknya, saat kita berbicara tentang GAIB, kita akan bersentuhan dengan satu vibrasi saja yang disebut sebagai vibrasi SPIRITUAL. Yaitu Vibrasi SPIRIT atau AR-RUH yang berhubungan dengan Allah. Atau vibrasi IMAN kepada ALLAH.
Jadi kalau kita ingin berbicara tentang Spiritual, tidak bisa tidak, kita harus berbicara tentang hubungan GAIB antara Spirit atau Ar Ruh dengan Allah. Dimensinya adalah dimensi getaran Ar Ruh, bukan dimensi getaran-getaran Alam.
Nah…, dalam pembahasan kita nanti, kita akan banyak membahas perbedaan antara pengaruh getaran-getaran Alam dengan pengaruh getaran Iman kepada Allah terhadap diri kita. Sebab keduanya itu akan membedakan apakah kita ini seorang yang musyrik, kafir, munafik, atau kita ini benar-benar telah menjadi seorang yang bertauhid kepada Allah. Penting sekali sebenarnya.

Vibrasi Alam…
Alam, termasuk tubuh kita sendiri, yang berisikan berbagai energi dan materi ini, sebenarnya adalah kumpulan dari berbagai bentuk getaran atau vibrasi yang bergetar dengan frekuensi tertentu. Jadi semua materi dan energi yang ada di alam semesta ini tak lebih dan tak kurang hanyalah kumpulan vibrasi atau gelombang-dengan berbagai ukuran atau frekuensi tertentu saja. Sebutlah materi apa saja, mulai dari bintang dengan ukuran super bintang sampai dengan partikel berukuran super foton (jika ada), itu semua tak lain adalah perpaduan dari berbagai bentuk gelombang dengan berbagai frekuensi yang berbeda saja.

Untuk mengetahui rahasia dari perilaku energi dan materi yang ada dialam ini, kita telah dibekali oleh Allah dengan alat Indera kita (VAKOG). Misalnya, sesuatu yang bisa kita lihat dengan mata dan bentuknya bisa pula kita raba dengan tangan, baik dengan ataupun tanpa memakai alat bantu, kemudian kita definisikan sebagai materi atau benda.
Selanjutnya, sesuatu yang hanya bisa kita kenali melalui telinga, kita namakan itu bukan materi atau benda lagi, tapi itu kita sebut sebagai gelombang atau vibrasi suara. Sesuatu yang hanya bisa kenali melalui hidung, kita sebut dia sebagai bau, yang sebenarnya itu juga adalah bentuk gelombang atau vibrasi. Sama halnya dengan sesuatu yang dapat kita rasakan dengan lidah kita berupa rasa asin, asam, pahit, manis, pedas, itu juga adalah gelombang dengan frekuensi tertentu yang bersinggungan dengan syaraf-syaraf yang ada di lidah kita.
Semua objek VAKOG yang bisa kita kenali dengan memakai alat-alat indera kita ini akan bermuara dibagian-bagian tertentu di dalam otak kita dalam bentuk jejak-jejak gelombang dan energi yang terkumpul dan tertahan didalam sel-sel otak kita. Misalnya saat kita melihat gajah, didalam otak kita bukan tergambar bentuk gajah itu dengan ukuran mini. Tidak. Tapi sel-sel tertentu di dalam otak kita dialiri oleh arus listrik sangat lemah yang menimbulkan jejak pada sel-sel syaraf otak kita. Jejak itu menyebabkan kita punya asosiasi tentang bentuk seekor gajah yang baru kita lihat. Jadi gambar gajah itu hanyalah kumpulan kode-kode listrik lemah dibeberapa sel otak kita yang menyebabkan kita berasosiasi tentang seekor gajah. Begitu juga semua yang bisa kita kenali dengan alat indera kita, sebenarnya itu tak lain adalah asosiasi kita terhadap vibrasi-vibrasi tertentu yang mengenai sel-sel syaraf di otak kita.
Kalau vibrasi-vibrasi yang kita kenali itu lebih banyak membawa kita kepada asosiasi yang wujudnya adalah berupa materi, maka sel-sel otak kita yang berfungsi dan saling berinteraksi adalah di belahan otak sebelah kiri. Ciri-ciri utamanya adalah, kita ingin mematerialisasikan segala sesuatu yang jadi pusat perhatian kita. Kita baru percaya kepada sesuatu kalau sesuatu itu ada materi atau bendanya. Ada bentuknya, ada dzatnya, ada warnanya, ada ukurannya, ada hitungannya. Dan semua itu harus terlihat oleh mata kita. Kalau tidak, maka kita katakan sesuatu itu tidak ada.
Sebaliknya kalau kita, dengan sedikit latihan tentunya, mulai bisa mengenali vibrasi dengan frekuensi-frekuensi yang lebih halus atau lembut, maka sel-sel otak kanan kitalah yang akan banyak berfungsi dan saling berinteraksi. Hal itu akan mengantarkan kita untuk masuk ke alam energi-energi yang vibrasinya jauh lebih beragam dan lebih halus dari vibrasi alam materi. Belahan otak kanan kita yang aktif akan membuat kita bisa menerima respon dan bersentuhan dengan gelombang-gelombang energi yang ada diluar tubuh kita. Bahwa alam-alam disekitar kita ini, selain dari materi, ternyata ada pula beragam energi. Kita akan bisa merasakan adanya aliran energi yang bergelombang disekitar kita seperti kita bisa merasakan adanya air saat kita menyelam di dalam air.
Dengan latihan lebih lanjut lagi, gelombang energi yang ada disekitar kita itu bisa pula kita permain-mainkan seperti kita mempermainkan air di dalam sebuah kolam renang ketika kita sedang menyelam didalamnya. Gelombang energi itu bisa kita putar, bisa kita dorong, bisa kita ayun sesuka hati kita untuk tujuan-tujuan tertentu.
Untuk melatihnya, tentu saja caranya berbeda-beda antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lainnya. Tapi ada satu hal yang sama yang yang harus kita lakukan untuk kesemua jenis ilmu-ilmu itu, yaitu didalamnya harus kita tambahkan dengan sebuah IMAGINASI dan KEYAKINAN kita. Imaginasi menciptakan BENTUK dan keyakinan menciptakan BISA. Aku bisa ini. Aku bisa itu…, aku bisa…!. Cukup itu. Lalu kita berlatih dengan penuh keyakinan. Pasti bisa, karena kita memang diberikan fasilitas untuk itu oleh Allah. Saking sempurna dan totalnya fasilitas itu diberikan oleh Allah kepada kita, sampai-sampai kita tidak perlu bawa-bawa nilai-nilai agama dan Tuhan sedikitpun dalam kita melakukannya.
Vibrasi-vibrasi alam (materi dan energi) ini akan bisa dirasakan, diolah, dan dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia tanpa kecuali, baik yang beragama ataupun yang atheis. Pengolahan vibrasi alam ini akan menghasilkan berbagai ilmu yang berkenaan dengan kehebatan alam pula.
Vibrasi Inilah yang menjadi dasar-dasar dari ilmu beladiri seperti AIKIDO, TAICHI, FA LUN GONG, TENAGA DALAM, ILMU KONTAK (AL HIKMAH), TENUNG, GENDAM, HIPNOSIS, TENAGA PRANA, TENAGA QUANTUM, ILMU PELLET, ILMU PENGASIHAN, ILMU SANTET, ILMU GENDAM, ILMU MAGNETISME, dan berbagai ilmu lain yang kelihatannya saja tidak sama, tapi sebenarnya semuanya serupa. Dan inilah yang tampaknya sedang tumbuh sangat pesat di negara kita saat ini. Karena HASILNYA memang kelihatan ADA. Bahkan ilmu RUQYAH yang diklaim oleh sebagian orang sebagai pengobatan cara Nabi, yang dipraktekan orang dimana-mana SAAT INIPUN tidak jauh berbeda dengan ilmu-ilmu vibrasi seperti diatas, terutama kalau cara seperti yang banyak dipakai orang saat ini.
Sekarang, semua ilmu yang berbasiskan olah getaran ini sering disamarkan orang sebagai ilmu olah pikiran. Katanya itu ilmu yang sangat ilmiah. Ilmu yang katanya tidak ada unsur magis, unsur setan atau unsur jin nya sedikitpun. Nanti akan kita lihat apa kata Al Qur’an tentang itu, apa benar ilmu getaran itu itu tidak ada persentuhannya dengan SETAN, IBLIS, dan JIN.

Rasa Atau Suasana, Keadaan

Setiap materi dan energi yang berhasil kita miliki, ternyata menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan SUASANA atau KEADAAN yang terjadi di dalam dada kita. Masing-masing seperti ada RASANYA. Untuk selanjutnya, istilah suasana dan keadaan itu akan kita persingkat saja menjadi kata RASA. Saat kita memiliki materi, kita akan merasakan rasa bahagia atau kecewa, bisa pula rasa senang atau susah. Setiap ada energi yang bisa kita kuasai, itu akan membuat kita bisa merasa kuat atau loyo, merasa hebat atau lemah, merasa bisa atau tidak bisa.
Dan setiap rasa itu pastilah berhubungan dengan sekresi salah satu dari hormon-hormon yang terdapat didalam tubuh kita seperti Adrenalin, atau Endorphin, Dopamin, Serotonin, Morfin, dan lain-lain. Setiap sekeresi hormon-hormon itu akan berhubungan pula dengan kelenjer-kelenjer cairan yang ada ditubuh kita seperti kelenjer air mata, kelenjer liur, kelenjer madzi, kelenjer keringat, dan sebagainya.
Karena ada rasanya itulah yang menyebabkan kita selalu ketagihan untuk berpikir tentang materi atau energi. Kita ketagihan berpikir tentang lawan jenis kita, tentang uang, tentang harta, tentang kekuasaan, tentang kekuatan, tentang energi, tentang vibrasi, dan sebagainya. Ketika kita berhasil menyelaraskan pikiran kita dengan frekwensi gelombang materi atau energi tertentu yang sudah ada tersimpan didalam memori kita, maka rasanya juga akan bisa kita rasakan. Walau saat itu materi atau energinya tidak ada di depan kita. Jadi dengan hanya sekedar memikirkan sebuah materi atau energi, kita seakan-akan bisa merasakan bahwa materi dan energi itu benar-benar ada di depan kita.
Misalnya, kalau kita pernah menonton sebuah film tentang hantu dan kita merasa takut saat kita menonton itu, kemudian ketika kita sendirian di rumah kita membayangkan kembali bentuk hantu seperti yang ada di filem itu, maka seketika itu juga rasa takut kita akan muncul kembali. Bahkan rasa takutnya bisa lebih kuat dari sebelumnya, kalau suasananya mendukung.
Dengan begitu, kita bisa simpulkan bahwa setiap proses berpikir kita yang melibatkan vibrasi dengan frekuensi tertentu didalam otak kita, ternyata ada pula rasanya. Setiap proses berpikir kita itu, baik yang melibatkan ada materi atau energinya maupun yang hanya sekedar imaginasi kita, semua itu ada rasanya.
Semua rasa SUKACITA yang timbul, misalnya rasa senang, bahagia, tenang, damai, sehat, bahkan sampai menangis-nangis saat mendapatkannya, yang dimulai dari proses olah pikir ini disebut sebagai rasa yang berasal dari ciptaan pikiran kita. Walau ditambah-tambahi dengan kalimat-kalimat yang berasal dari ayat Al Qur’an atau Al Hadist sekalipun, kalau prosesnya masih memakai proses berpikir seperti ini, maka namanya kita BELUM sampai kearah spiritualitas yang sebenarnya. Kita baru sampai pada tahapan Spiritual yang Salah Kaprah.
Sebagai buktinya, walaupun kelihatannya orang-orang sudah beragama, namun setiap ada masalah mereka selalu ingin larinya ke praktek-praktel perdukunan. Saat sakit, saat bermasalah, saat gelisah, orang-orang larinya ingin ke dunia paranormal. Saat siswa SMA, dan SMP mau UAN saja, mereka banyak yang digiring untuk melakukan dzikir-dzikir tertentu, bertangis-tangisan, mengisi pensil dengan doa, mengisi minuman dengan doa dan jampi-jampi, dan sebagainya. Allah saat itu entah sedang disimpan mereka dimana…, sehingga untuk seterusnya dan seterusnya masyarakat kita selalu akan terjauhkan dengan Allah.
Artinya untuk setiap permasalahan itu, yang suasananya, keadaannya, atau rasanya yang tidak enak memenuhi dada kita, kita ingin segera keluar dari dalam dada kita itu. Kita tidak kuat untuk tetap berlama-lama di dalam suasana rasa DUKACITA didalam dada kita itu. Kita ingin berjalan, ingin lari, ingin meninggalkan dada kita itu dengan segera. Makanya kalau kita sudah tidak tahan dengan rasa tidak enak itu, kadang-kadang kita sampai memukul-mukul dada kita. Kalau bisa saat itu juga dada kita itu pecah berantakan, sehingga segala isinya yang memberatkan kita itu bisa berhamburan keluar dengan cepat.

Lepas Untuk Tidak Lepas
Seperti sudah disampaikan diatas, pada dasarnya kita semua ingin merasakan suasana dada kita yang LONGGAR dan LAPANG. Salah satu cara yang sering kita lakukan adalah kita merubah objek berpikir kita dari yang satu ke objek pikir yang lain. Karena memang salah satu penyebab dari adanya suasana yang ada di dalam dada kita itu adalah ketika kita berpikir tentang sebuah objek pikir tertentu. Sebenarnya, begitu objek pikir kita berobah, maka berubah pulalah suasana yang ada didalam dada kita.
Mari kita lihat sejenak beberapa contoh dibawah ini tentang bagaimana proses berpikir kita tentang materi dan energi tertentu akan memberikan kepada kita rasa-rasa tertentu pula.
Misalnya, saat kita sedang bermasalah, kita datang kepada seorang hipnoterapis. Lalu sang hipnoterapis melakukan proses menciptakan tenang kepada kita dengan hitungan mundur, atau kita diminta untuk membayangkan bahwa kita sedang berada di sebuah tempat yang menyenangkan seperti di pantai, atau di gunung, atau di kebun yang sangat indah. Disini kesadaran kita “dibawa” dulu oleh si hipnoterapis masuk kedalam gelombang pikiran dia tentang materi (pantai, gunung, kebun). Atau bisa pula kita diperdengarkannya dengan lagu-lagu atau nada suara dengan frekuensi tertentu. Katanya sih nada itu berfrekuensi Alfa, Delta, dan Theta.
Lalu dengan intensnya sang hipnoterapis mulai menanamkan kata-kata tenang…, tenang…, bahagia… secara berulang-ulang kedalam pikiran kita. Pengulangan kata seperti ini disebut juga sebagai MANTRA, yang sangat berbeda dengan DZIKIR. Walaupun Dzikir itu ucapannya juga diulang-ulang. Tapi pada dzikir ada tambahannya. Yaitu kita sadar kepada SIAPA kita sedang menghadap dan berbicara. DZIKRULLAH, berarti kita sadar dan sedang menghadapkan wajah kita kepada wajah ALLAH. Tidak bisa tidak. Kalau kita tidak sadar bahwa kita sedang menghadap dan sedang berbicara dengan Allah, maka ucapan dzikir yang kita ulang-ulang itu tidak lebih nilainya dari sekedar ucapan mantra-matra saja. Walau hasilnya tetap masih ada. Tapi bukan hasil yang sebenarnya.
Anehnya, memang kemudian kita seperti bisa merasa tenang benaran. RASA tenangnya benar-benar ada. Tapi rasa tenang itu, tetap saja berawal dari rasa tenang yang kita ciptakan dengan pikiran kita sendiri yang dibantu polanya oleh sang hipnoterapis itu.
Tanpa kita sadari, saat itu sebenarnya kita sedang ditawan dan dimasukkan oleh si hipnoterapis ke alam pikirannya sendiri. Kita sedang dilekatkan dan ditambatkannya ke berbagai objek VAKOG seperti yang telah diterangkan diatas. Setelah itu, si hipnoterapis dengan segala pikiran dan atributnya mulai memenuhi pikiran kita, dan sekaligus saat itu ada rasanya. Ada rasa kagum kita kepadanya. Dengan rasa kagum, kita mulai membesar-besarkan namanya, kita sebut-sebut kehebatannya. Kata-katanya kita kutip-kutip dan kita sebar luaskan. Ketika kita punya masalah, kita akan selalu ingat kepadanya. Karena kita merasa bahwa dialah yang membuat kita berhasil seperti sekarang ini.
Bahkan tidak jarang ketika kita akan melakukan ibadah, shalat misalnya, kita seringkali teringat dulu kepada si hipnoterapis itu. Atau paling paling tidak gelombang pikiran kita akan beresonansi dengan gelombang pikiran si hipnoterapi itu. Sebab sampai kapanpun rohani kita akan tetap tertahan dan terbelenggu pada atribut-atribut si hipnoterapis berikut dengan segala berhala objek VAKOG yang telah dia perkenalkan kepada kita sebelumnya. Tanpa sadar kita telah BERDZIKIR kepadanya. Sungguh dia dan objek fikir VAKOG itu telah berubah menjadi berhala kita yang akan menghalangi kita untuk berhubungan dengan Allah.
Begitu juga dengan para pemakai ilmu kontak. Tenaga kontak itu, yang membuat orang lain yang menyerang kita bisa jumplitan dan terpelanting diudara seperti terdorong oleh sebuah tenaga yang tidak kelihatan, juga adalah sebentuk gelombang dengan vibrasi tertentu saja sebenarnya. Tenaga atau gelombang itu berasal dari ciptaan pikiran dan keyakinan si guru atau si pelatih ilmu itu sendiri yang di tanamkannya kedalam kesadaran kita.
Bisa saja proses itu dimulai dengan pengisian atau penggoresan sebentuk getaran di area sekitar pusar kita, atau atunement dengan cara-cara yang lain, atau bahkan bisa melalui keyakinan kita bahwa kita sudah mendapatkan selembar ijazah ilmu itu darinya. Bagi kita yang beragama islam, proses itu bisa pula ditambah-tambahi oleh si guru itu dengan wirid-wirid yang menyebut-nyebut nama Allah atau dzikir-dzikir yang lainnya. Tapi sebanyak apapun kita berdzikir dan menyebut nama Allah itu, kesadaran kita tetap saja hanya akan terhenti di getaran ilmu kontak itu.
Buah yang kita dapatkan adalah kesombongan kita jadi meningkat dengan sangat cepat. Bahwa kita punya ilmu kontak. Kita jadi tidak takut lagi kepada apapun, kepada siapapun, dan pergi kemanapun. Sebab kita sudah punya ilmu kontak. Tapi…, tetap saja ilmu kontak yang kita punyai itu dengan segala kehebatannya adalah hasil dari ciptaan pikiran kita sendiri yang ditanamkan oleh guru kita kedalam kesadaran kita.
Yang paling tipis jebakannya, adalah ketika kita ingin belajar spiritualitas didalam agama Islam. Untuk masuk masuk kedalam praktek spiritual, seringkali kita diberitahu bahwa belajar spiritual tanpa guru atau mursyid yang “kamil mukammil” akan bisa membuat kita jadi tersesat. Artinya tanpa mursyid, kita di vonis tidak akan pernah bisa belajar spiritual dan kita di klaim akan tersesat, bahkan dikatakan kita bisa menjadi gila. Mengerikan sekali. Sehingga kitapun banyak yang berpikiran, “ngapain kita belajar spiritual kalau sulit begitu. Enakan jadi orang biasa-biasa saja”.
Padahal kalau kita lihat dengan teliti, spiritual yang banyak ditawarkan oleh berbagai kalangan kepada kita saat ini, sebenarnya prosesnya tidak jauh berbeda dengan praktek hipnoterapi dan pelajaran ilmu kontak seperti diatas. Sebelas dua belas saja sebenarnya. Kita belum belajar spiritual yang sebenarnya.
Lihatlah, sebelum berdzikir, banyak aliran yang menyaratkan agar kita terlebih dahulu membayangkan wajah guru yang mengajari kita di dalam pikiran kita, bahkan adakalanya kita harus sampai menyebut silsilah guru-guru dari guru kita sebagai pembawa ilmu itu terlebih dahulu. Tuk…, satu berhala tercipta saat itu.
Kemudian ketika kita berdzikir, arah pikiran dan kesadaran kita juga dihentikan pada beberapa bagian tubuh kita yang disebut sebagai LATHAIF atau dengan nama-nama lain yang sejenisnya. Tuk…, satu lagi berhala tercipta saat itu.
Kemudian bisa pula ditambah dengan berhala ketiga yaitu dengan cara membayangkan kalimat Allah dalam bahasa arab yang masuk menghujam kedalam apa yang disebut sebagai lathaif-lathaif itu tadi, atau cakra dalam istilah meditasi hindu.
Pada sebuah aliran dalam agama islam, sebelum mereka melakukan dzikir, biar ada suasana EMOSIONALNYA, maka jamaahnya terlebih dahulu dibawa untuk masuk ke objek pikir tentang penderitaan ahlul bait, Hasan dan Husein Ra. Terutama mengingat-ngingat penderitaan Husein. Penderitaan Husein dibahas dan disampaikan dengan suara-suara penuh emosi. Mereka kadangkala sampai memaki-maki sahabat-sahabat Nabi tertentu. Emosional sekali suasananya saat itu. Bahkan untuk menmbahkan betapa sakitnya penderitaan Husein, beberapa jemaahnya sampai ada yang melukai diri dengan benda tajam atau benda keras lainnya. Karena suasananya sangat emosional, maka rasa sakit karena melukai diri seperti itu sudah tidak mereka rasakan lagi. Setelah itu barulah mereka berdzikir atau melakukan ibadah ibadah lainnya dan melakukan berbagai INDOKTRINASI lainnya.
Jadi dalam hal ini, ketika kita mau berdzikir, kesadaran kita dibawa untuk melewati dua atau tiga macam berhala terlebih dahulu. Yaitu wajah guru kita, lathaif-lathaif yang katanya ada di tubuh kita, dan huruf Allah dalam bahasa Arab. Atau bisa pula dengan terlebih dahulu menyebut-nyebut penderitaan Husein atau orang-orang lainnya sampai emosi kita mucul dengan kuat. Sebenarnya semua itu tidak ada bedanya dengan berhala-berhala vibrasi dan energi seperti yang telah diuraikan diatas. Semua Itu juga adalah hasil dari olah objek VAKOG sekali sebenarnya. Objek yang bisa kita gambarkan dan kita bayangkan.
Karena bacaan dan konsentarasi kita terpusat kepada berhala-berhala itu untuk sekian waktu lamanya, sampai suatu ketika kita seperti masuk kedalam alam getaran yang awalnya ditandai dengan bergerak dan bergetarnya tubuh kita, atau bisa pula kita sampai berteriak dan menangis histeris. Mata kita kadangkala melotot dan bahkan bisa berputar-putar. Tubuh kita tergoncang seperti sebuah pesawat yang sedang mengalami turbulen di udara. Kita masuk kealam getaran. Fenomena getaran itu bisa pula berupa getaran yang membuat tubuh kita berotasi dan berputar untuk beberapa saat lamanya. Rasanya enak sekali, bebas, merdeka. Kita seperti terbang ke awan, menjulang ke langit yang tinggi.
Karena kita memulainya dengan menyandarkan kesadaran kita kepada beberapa berhala seperti diatas, maka getaran yang kita dapatkan itu adalah getaran alam yang penuh dengan berbagai macam getaran. Makanya getarannya liar. Karena getaran-getaran itu saling potong memotong, saling tindih menindih satu sama lainnya. Gerak tubuh kita jadi mirip gerakan orang yang tidak waras. Hal seperti inilah yang menyebabkan kita seperti perlu bantuan dari orang lain yang disebut mursyid itu. Sebenarnya mursyid yang seperti itu hanyalah orang-orang yang sudah mempunyai getaran yang lebih tinggi dan lebih halus saja, sehingga dia bisa meredakan getaran-getaran liar yang sedang kita alami.
Namun banyak kita yang tidak sadar bahwa kalau kita bermain-main dengan getaran-getaran alam seperti ini, sebenarnya kita juga tengah bercanda ria dengan Jin, Iblis, Syetan, dan makhluk-makhluk getaran lainnya. Hasilnya sangatlah pasti. Bahwa kita akan semakin lupa kepada Allah. Kitapun menjadi begitu terikat dengan mursyid kita. Yang lebih parah adalah kalau orang-orang sekelas paranormal yang kita jadikan sebagai mursyid kita itu. Sebab dengan begitu kitapun akan berperilaku sama dengannya. Kita menjadi copy pastenya. Dan sebagai hasil sampingannya, kita menjadi mahir dengan berbagai ilmu kesaktian seperti yang kita inginkan ketika kita mulai berlatih dengannya. Kita lalu menjadi paranormal pula…
Dan latihan-latihan seperti yang disebutkan diatas dinamakan oleh banyak orang sebagai latihan spiritual. Ah yang benar saja. Sebab yang namanya olah spiritual itu hanya berlaku untuk sebuah aktifitas saja, yaitu aktivitas yang melibatkan SPIRIT atau AR-RUH, yang berhubungan dengan ALLAH. Hanya itu. Titik.

VIBRASI IMAN KEPADA ALLAH
Walaupun dalam olah spiritual itu juga ada melibatkan vibrasi-vibrasi atau getaran-getaran, ada tangis, dan ada histeris yang muncul, tapi vibrasinya sangat berbeda. Sebab kita mengawalinya dengan ita BERIMAN kepada ALLAH. Dan vibrasi yang muncul itu hanya dan hanya akan bisa dirasakan, dimanfaatkan, dan diolah oleh orang yang beriman kepada ALLAH pula.
Yang pasti, vibrasi iman yang kita dapatkan ini persis sama dengan apa yang didapatkan oleh Nabi-Nabi mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa,…, Yusuf,…, Isa, dan Muhammad SAW, begitu juga dengan sahabat-sahabat Beliau, Tabi’in, Tabiit Tabi’in, Para Wali Allah, dan orang-orang shaleh sepanjang zaman.
Untuk selanjutnya kita akan membahas banyak tentang Getaran Iman ini. Sebab untuk mendapatkan Getaran Iman ini sangat berbeda dengan untuk mendapatkan getaran-getaran alam seperti yang telah diterangkan diatas. Getaran iman ini sifatnya DITURUNKAN (ANZALA), DITUNTUNKAN (ISTIA’NAH), DICELUPKAN (SHIBGAH) langsung oleh Allah masuk kedalam dada kita. Jadi untuk mendapatkan getaran iman ini terlebih dahulu harus ada campur tangan Allah langsung kepada kita. Baru kemudian kita bisa beriman. Jadi seperti anugerah begitulah.
Getaran iman itu tidak bisa kita dapatkan dengan cara kita menciptakannya melalui pikiran kita seperti yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan getaran-getaran alam seperti yang telah dibahas diatas. Kita tidak bisa mendapatkannya dengan hanya sekedar mengatakan: “saya sudah beriman…, saya sudah beriman…, saya sudah taqwa…, saya sudah khusyu…, saya sudah sabar…, saya sudah ikhlas…, saya sudah bahagia (aflaha)…, saya sudah tenang (talinu)…, saya sudah suci…, dan berbagai vibrasi iman lainnya.
Iman itu tidak bisa juga kita dapatkan dengan cara-cara hipnoterapi. Misalnya: “dengan hitungan mundur, 10. saya sudah beriman, 9. saya semakin beriman, 8. Iman saya semakin dalam, …, 2. Saya semakin beriman, suer deh, 1. Saya sudah jadi orang beriman. Saya duduk hening dalam keadaan beriman…, beriman”. Ha ha ha…, saya sampai tertawa dalam menulis kalimat ini. Ya nggak bisalah begitu. “Tidak bisa”, itu kata Allah sendiri.
Pernah suatu ketika, seorang baduy datang kepada Rasulullah kemudian dia berkata bahwa dia sudah beriman, “ya Muhammad, saya sudah beriman nih”, katanya dengan wajah sumringah. Tapi seketika itu juga Allah membantahnya: “Dia belum beriman, bohong dia itu, dia masih sekedar patuh saja kok. Sebab iman itu belum Ku-turunkan kedalam dadanya”.
Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS al-Hujurat [49]: 14).

Proses Beriman Itu Mudah
Proses untuk menjadi beriman itu sebenarnya mudah saja.
4.      Pertama, semua “wajah-wajah” berhala harus telah kita singkirkan dari hadapan wajah kita. Sebagian dari berhala-berhala itu sudah kita bahas diatas sebelumnya. Yang boleh ada hanya Satu Wajah saja, Wajah yang tidak bisa kita singkirkan lagi, yaitu Wajah Sang Pencipta langit dan bumi. Dengan begitu, kita artinya telah masuk kedalam suasana nyata dari kalimat: laa ilaha illallah…
Langkah pertama inilah yang sering jadi permasalah utama atas kegagalan kita dalam beriman kepada Allah. Langkah pertama inilah yang harusnya sampai tuntas, sampai ntek…!. Untuk menjadi tuntas itu sebenarnya tidaklah sulit. Mudah sekali sebenarnya. Contoh kemudahnnya adalah seperti yang disampaikan oleh salah seorang peserta “uzlah 3 hari di Shalat Center Bandung, tanggal 29-31 Maret 20013″, saya juga ikut hadir disana. Pesan ini dikirim oleh adik saya Yus Ansari, yang menjadi Intruktur selama 3 hari itu:
“Pak Yus, saya haturkan banyak terimakasih ….Alhamdulillah, setelah dibimbing untuk menyadari dan meyakini bahwa Allah itu ada …. waktu itu setelah pak Yus menjelaskan Bab Kemana Kita Menghadap, saya mendapatkan suasana/ keadaan bahwa yang Maha itu benar2 ada dan terasa, suasana itu ada munculnya mulai jam 15.30… dimana waktu saya coba keluar ruangan saya lihat Gunung, saya lihat sawah, dan kembali ketempat waktu pagi harinya melihat pohon… Nyata sekali ada Dia sang Maha Penggerak…. Alhamdulillah !! Saya dapatkan ” suasananya”, dan dpt merasakannya sampai saat ini…. Mohon do’anya agar Allah selalu sayang kepada saya….. Nuhun
Alhamdulillahi Allahuakbar, Pak XYZ, keadaan yang Pak XYZ rasakan adalah peristiwa diruntuhkannya dinding hijab seorang Hamba dengan Allah oleh Allah Sendiri sebagai Sang Pembuka Hijab . Ini disebut dengan Mukhasyafah. Dimana Pak XYZ melihat dengan sadar dan benar akan adanya Allah (Ru’yah satiiqa). Disini sebenarnya baru perjalanan Rohani dengan Allah di mulai. Disinilah kekhusyu’an akan semakin nyata.. Lakukan selalu penjagaan kondisi zikir ini setiap saat. Sediakan waktu untuk duduk diam dalam keadaan zikir hingga bisa melihat bagaimana Allah menguatkan keadaan zikir tersebut, sehingga iman pun akan terus teperbaharui.. selamat melakukan perjalanan bersama Allah ( Program Uzlah Lanjutan ).”
Jadi untuk lanjut ke langkah kedua, memang harus mukasyyafah dulu dengan Allah. Dalam istilah saya dalam buku MRS adalah “INI”. Setelah itu…
5.      Wajah kita lalu kita hadapkan kepada Wajah Dia yang telah tersingkap. Wajah Yang menciptakan langit dan bumi itu. Wajah Yang Maha Meliputi Segala Sesuatu. Wajah kita bertemu Wajah-Nya. “Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharassamaawaati wal ardhi”.
6.      Baru wajah bertemu Wajah saja, sebenarnya sudah ada rasanya. DERR…!. Rasanya seperti KITA bertemu kembali dengan Wajah yang dulu pernah kita ketahui dan kita kenal dengan sangat baik, tapi Wajah itu telah kita lupakan untuk sekian puluh tahun lamanya. Lama sekali.
Saat itu, bahagia sekali rasanya. Rasa bahagia itu diturunkan seperti turunnya hujan kedalam dada kita. Kerinduan yang terlepaskan itu seperti ikut pula mengajak beberapa butir air mata kita untuk berebutan keluar dari sudut-sudut mata kita untuk menyaksikan pertemuan kita itu.
Dari dalam dada kita, seperti ada sebuah daya yang sangat kuat, yang siap mendorong ujung lidah dan pita suara kita untuk bergetar dan menyebutkan sebuah nama. Nama itupun seperti sudah lama sekali kita kenal. Nama yang juga selalu disebut-sebut oleh langit, oleh burung-burung saat pagi maupun petang hari, oleh para malaikat. Nama itu, dulu, begitu cairnya keluar dari mulut Rasulullah Muhammad SAW.
Daya itu kemudian pecah membentuk sebuah kata yang sangat Agung. Allah…!. Lidah kita bergetar, pita suara kita bergetar, setiap sel tubuh kita bergetar, bulu-bulu di tubuh kita merinding, air mata kita berhamburan. Semuanya seperti seirama dengan setiap penghuni langit dan bumi untuk menyebutkan sebuah Nama Yang Sangat Agung itu. Ya… Allah…, Allah…, Allah…!.
Walaupun kadangkala ucapan kita itu hanya lirih saja, Allaahhhh…, tapi vibrasinya seperti dapat menembus setiap sudut paling kecil sel-sel tubuh kita, menembus relung hati kita yang paling dalam, menembus cakrawala arasy yang tak berujung.

DERR…, sejak itu mulailah proses Allah mengajari kita tentang berbagai seluk beluk Iman kepada-Nya. Kadangkala Allah membuat kita disanjung, dihormati, disegani, ditakuti, dimulyakan oleh orang-orang yang ada disekitar kita. Tapi kadangkala kita juga dibuat-Nya jatuh, terhina, direndahkan, dianiaya oleh orang lain, bahkan oleh orang yang paling dekat dengan kita.
Akan tetapi, selama kita tidak pernah berpaling dari Wajah-Nya, kita akan diperkenalkan-Nya satu persatu jalan keluar dari segala permasalahan kita. Kita diperkenalkan-Nya pula tentang Iman, tentang khusyu, tentang sabar, tentang ikhlas, tentang taqwa, tentang bahagia, tentang tenang tentang kuat, tentang hebat, tentang sehat, tentang cerdas, tentang tahu,…, tentang 99 kehebatan-Nya seperti yang tergambar dari 99 Nama-Nya yang Sangat Agung.
7.      Kita dipindahkan-Nya dari satu keadaan ke keadaan lain dengan cara yang sangat menakjubkan. Kita diperjalankan-Nya, kita direngkuh-Nya, kita dituntun-Nya, kita ditarik-Nya dengan sangat lembut untuk bisa keluar dari sebuah keadaan untuk masuk ke keadaan yang berikutnya. Proses kita diperjalankan-Nya itu mirip sekali seperti kita menarik seutas benang dari setumpukan tepung terigu. Benangnya bergerak, tapi tepungnya diam tidak bergoyang dan tidak berantakan sedikitpun. Ya…, Ada yang diam, dan ada yang diperjalankan….

Aku Dan Pikiranku
Nah…, yang telah kita ulas panjang lebar diatas, baik itu materi maupun energi, semua itulah yang kita sebut sebagai OBJEK PIKIR, atau PIKIRAN kita. Makanya pikiran kita itu ada getarannya yang disebut dengan GETARAN PIKIRAN. Setiap kita melekat pada sebuah objek pikir, maka sebenarnya kita juga sedang menciptakan sebuah getaran yang ujung-ujungnya pastilah materialisasi dan energisasi dari apa-apa yang menjadi objek pikir kita itu.
Dengan begitu kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya yang ada itu hanyalah kita dan pikiran kita. Ada AKU dan PIKIRANKU. Alat untuk mengenal dan mengekslorasi pikiran kita itu adalah otak kita bersama-sama dengan semua alat indera kita.
Untuk setiap pikiran kita, ternyata ada pula pasangannya berupa suasana atau keadaan yang muncul di dalam dada kita. Seperti ada RASANYA. Rasa yang muncul itu bisa berubah-rubah. Rasanya tergantung kepada ada atau tidaknya KESESUAIAN antara PIKIRAN kita itu dengan ATRIBUT atau STATUS yang sedang kita sandang-sandang atau kita bawa-bawa kemana-mana.
Kalau PIKIRAN kita itu SESUAI dengan ATRIBUT atau STATUS kita, maka rasa yang muncul di dalam dada kita adalah rasa sukacita seperti enak, senang, dan bahagia, tenang, sumringah, aman, kaya, dan dihargai. Rasanya seperti kita sedang BERKELIMPAHAN. Ada suasana yang sedang melimpah ruah di dalam dada kita. Rasanya dada kita terasa longgar, lapang, dan lunak.
Akan tetapi, kalau PIKIRAN kita itu TIDAK SESUAI dengan ATRIBUT atau STATUS yang sedang kita usung-usung, maka rasanya adalah dukacita, seperti tidak enak, kecewa, sedih, marah, benci, sakit, dilecehkan, dan rasa-rasa negatif lainnya. Rasanya seperti kita sedang KEKURANGAN. Ruang dada terasa kita seperti sangat sempit. PEDIH dan PAHIT sekali rasanya.
Karena ada rasanya itulah yang membuat kita seperti menjadi lengket atau melekat terus kepada apa yang sedang jadi buah pikiran kita. Kita menjadi satu dengan pikiran kita itu. Kita menjadi lengket kayak perangko dengan pikiran kita. Nempel terus.
Secara sederhana hubungan antara kita dengan pikiran kita dan rasa kita dapat digambarkan sebagai berikut:
Aku objek pikirku (Pikiranku) suasana dadaku (Rasaku)
Sekarang mari kita berkata-kata dengan beraku-aku…
Selama ini aku “berada” di dalam pikiranku. Aku bersatu dengan objek pikirku. Setiap aku berpikir, aku seperti BERJALAN dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Dan pada setiap objek yang kujadikan sebagai pikiranku itu, aku seperti masuk ke dalam sebuah KOLAM RASA…

Aku Yang Berjalan
AKU adalah SATU, yaitu AKU. Sedangkan PIKIRANKU (Objek Pikirku) adalah BANYAK. Karena pikiranku itu bisa banyak, maka kolam rasa yang ada di dalam dadakupun banyak pula ragamnya.
Walaupun aku satu, aku bisa berubah-rubah sesuai dengan apa yang sedang aku pikirkan. Yang aku pikirkan itu selalu punya ATRIBUT, yaitu dia punya: ZAT, ASMA’ (NAMA), SIFAT, AF’AL (PERBUATAN), atau ZASA.
Maka agar aku bisa berjalan ke sebuah pikiranku, paling tidak aku harus tahu salah satu atribut dari objek pikirku itu. Bisa Zat, atau Asma’, atau Sifat, atau Af’alnya. Syukur-syukur aku bisa mengenal ke empat atribut yang kupikirkan itu sekaligus. Kalau aku kenal salah satu atau lebih saja dari atribut-atributnya itu, tidak semuanya, namanya aku sedang berprasangka saja terhadap objek yang aku pikirkan itu. Aku seperti bertemu dengan sesuatu yang TIDAK JELAS. Karena berprasangka, biasanya aku terjebak dengan keadaan WAKTU LALU yang telah kulalui, kupelajari, kuketahui, atau keadaan WAKTU DEPAN yang pernah aku angan-angankan.
Artinya ketika aku berjalan dalam keadaan seperti ini, aku jadi kehilangan MASA KINIKU. Sebab saat ini ternyata aku sedang menghabiskan waktuku hanya untuk sekedar melakukan RETRIEVE, REWIND terhadap pengalaman-pengalaman masa laluku dan berbagai angan-anganku saja. Aku hanya sekedar bersilaturrahim, shilatun, bertemu dengan diriku saja dengan berbagai atribut yang pernah aku lakukan atau aku angan-angankan sebelumnya.
Akan tetapi, kalau aku bisa mengenal ke empat atribut objek yang aku pikirkan itu sekaligus, namanya aku benar-benar telah BERJUMPA dengan objek yang aku pikirkan itu. Artinya SAAT INI aku sedang BERSILATURRAHIM dengan objek yang aku pikirkan itu. Aku sedang SHILATUN dengannya. Aku sedang BERTEMU dengan objek yang aku pikirkan itu, sehingga aku tidak punya kesempatan lagi untuk berjalan ke objek pikirku yang lain. Karena SAAT INI aku sedang bertemu dengan sesuatu yang JELAS ZATNYA, jelas ASMA’NYA, jelas SIFATNYA, jelas AF’ALNYA.
Karena sudah bertemu, maka aku bisa pula menceritakan bagaimana suasana saat pertemuanku dengan sesuatu itu, bagaimana Zatnya, bagaimana Asma’nya, bagaimana Sifatnya, dan bagaimana Af’alnya.

Misalnya:
Ø  Saat aku berhadapan dengan orang tuaku dan aku berpikir bahwa aku adalah seorang anak, maka rasa sebagai anakpun muncul di dalam dadaku.
Ø  Ketika aku di kantor, dan aku berpikir sebagai seorang karyawan sebuah perusahaan, maka rasa sebagai karyawanpun muncul di dalam dadaku.
Ø  Akan tetapi ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang atasan dari bawahanku, maka rasa sebagai atasanpun muncul didalam dadaku.
Ø  Ketika sampai dirumah, dan aku berpikir sebagai seorang suami terhadap istriku, maka rasa sebagai seorang suamipun muncul di dalam dadaku.
Ø  Ketika aku dihadap anakku, dan aku berpikir bahwa aku adalah seorang ayah, maka rasa sebagai seorang ayahpun muncul di dalam dadaku.
Ø  Akan tetapi aku berpikir bahwa aku adalah sahabat anakku, maka rasa sebagai seorang sahabatpun muncul di dalam dadaku. Aku bisa bermain-main dan bercanda dengan anakku.
Ø  Ketika aku berpikir bahwa aku adalah wakil rakyat, maka rasa sebagai wakil rakyatpun muncul di dalam dadaku.
Ø  Ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang presiden, maka rasa sebagai presidenpun muncul di dalam dadaku.
Ø  Ketika aku berhadapan dengan seorang lawan jenisku, kemudian aku berpikir bahwa dia adalah istri atau suami kita, padahal tidak, maka rasa bukan jadi pasanganku pun muncul didalam dadaku. Rasanya beda dengan rasa ketika aku berhadapan dengan pasanganku yang sebenarnya.
Ø  Ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang milyuner, padahal sebenarnya aku hanyalah seorang yang miskin dan biasa-biasa saja, maka rasa yang muncul di dalam dadakupun bukanlah rasa sorang milyuner. Yang ada adalah rasa sedih, menyesal dan sebagainya.
Ø  Ketika aku berpikir tentang hipnotis atau ilmu-ilmu lainnya, maka aku segera akan bersilaturrahim dengan orang yang pernah mengajarkan hipnotis itu kepadaku. Aku akan ingat kata-katanya, aku ingat namanya, aku ingat af’alnya, aku ingat orangnya. Lalu akupun melakukan apa-apa yang pernah dilakukannya didepanku. Aku telah menjadi akunya orang yang menalatihku ilmu hipnotis itu, atau ilmu-ilmu lainnya.
Aku seperti bisa berubah menjadi banyak. Aku juga diberi nama sesuai dengan pikiran yang sedang aku pikirkan. Ketika aku selalu berpikir tentang menjadi seorang pencuri dan aku melakukan pencurian itu, maka akupun dipanggil dengan nama si Pencuri. Ketika aku terlalu banyak berpikir, maka aku dinamakan sebagai si Pemikir. Semua atributku yang memanggil-manggilku itu disebut sebagai hawa nafsuku. Kecenderungan diriku.
Makanya kemudian muncul istilah yang sangat sering kita dengar:
“Aku adalah seperti apa yang kupikirkan”
Aku = pikiranku, sehingga
Aku = Rasaku
Pikiranku dan Rasaku = Diriku
Aku = Diriku
Diriku = Hawa Nafsuku.
Aku = Hawa Nafsuku.
Karena setiap orang berhak pula berkata seperti itu, maka setiap pikiranku berbeda dengan pikiran orang lain, maka akupun merasa diriku berbeda dengannya. “Diriku berbeda dengan dirinya”, kataku. Akupun segera merasakan bahwa hanya akulah yang benar. Aku seperti berhak untuk menghakiminya. Kalau dia tidak mau mengikuti pikiranku, maka aku bisa saja menganggapnya sebagai lawanku, musuhku. Bahkan kalau perlu dia aku bunuh agar hanya diriku sajalah yang benar, yang ada atau exist. Duar…, terjadilah bunuh-bunuhan.
Kalau aku selalu mengikuti pikiranku seperti ini, maka dalam istilah agama islam aku disebut sebagai orang yang mengikuti hawa nafsuku. Sebenarnya artikel “menyalakan Tombol Kehidupan” bercerita tentang hal ini. Yaitu aku yang selalu dikuasai oleh hawa nafsuku. Dan sumber dari hawa nafsuku itu ternyata adalah pikiranku sendiri…
Demikianlah, karena aku berada di pikiranku yang begitu banyak, maka setiap hari aku seperti berubah-rubah. Aku selalu berjalan, berlari, berputar-putar, bolak-balik dari satu pikiranku ke pikiranku yang lain. Duh capeknya…
Suatu saat aku sampai berujar: Sebenarnya aku butuh istirahat dari perjalanan tiada henti diantara pikiran-pikiranku itu. Aku ingin istirahat dari pikiranku. Aku ingin keluar dari pikiranku. Tapi aku tidak tahu caranya yang sebenarnya, yang HAKIKI… Karena saat ini di sekitarku banyak cara yang sedang ditawarkan kepadaku. Aku sedang bingung untuk memilihnya.
Apalagi, apa-apa yang aku pikirkan di MASA LALU dan di MASA DEPAN itu, anehnya tetap memberikan rasa tertentu di dalam dadaku. Seakan-akan yang aku pikirkan itu terjada di SAAT INI. Aku tidak sadar bahwa ketika saat ini aku sedang berpikir tentang masa lalu dan masa depanku. Aku sebenarnya sedang MENIPU diriku sendiri. Aku menipu diriku sehingga akupun kehilangan waktu saat iniku yang sangat berharga yang sedang ada didepanku, DISINI. Aku kehilangan kesadaran untuk menyadari apa-apa yang sedang ada didepanku. Bahkan aku tidak sadar terhadap INI, yang sedang ADA di depanku setiap saat. Makanya suasana di dalam dadaku menjadi tidak enak…

Aku Yang Mengakali Diriku
Selain dengan memikirkan tentang masa lalu dan masa depan, agar aku bisa keluar dari pikiranku yang sedang membelengguku, aku juga bisa mengakali diriku sendiri dengan cara membuat pikiranku terbolak balik, sehingga rasa yang muncul di dalam dadaku pun jadi terbolak balik pula. Biasanya agar aku bisa bisa mengakali diriku sendiri, aku diajarkan ilmunya terlebih dahulu oleh orang-orang yang sudah mengalaminya. Dan aku harus percaya kepadanya, karena aku percaya bahwa dia ahlinya. Aku harus bersedia untuk memakai pikirannya sebagai pikiranku sendiri.
Ø  Aku diajarkan, ketika aku berbelanja disebuah toko, harga sebuah barang RP. 998.200 akan menjadi ringan bagi ku untuk membelinya saat aku berpikir bahwa harga barang itu hanya ratusan ribu rupiah saja dibandingkan dengan kalau aku berpikir bahwa harganya adalah hampir satu juta rupiah. Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang agar barangnya bisa laku terjual lebih mudah.
Ø  Aku diajarkan, ketika aku sedang marah kepada seseorang, kemudian aku katakan bahwa saat itu aku sebenarnya tidak marah kepada orang yang kumarahi itu, bahwa sebenarnya aku hanya salah pengertian saja kepadanya, maka marahkupun bisa sedikit agak reda.
Ø  Ketika aku gelisah, karena aku sedang menjadi pikiranku yang membuat suasana di dalam dadaku tidak enak, aku diajarkan untuk berpikir dan berkata-kata kepada dirikua sendiri: “aku bisa tenang, aku bisa damai, aku bisa bahagia, 10, 9, 8, bahagia…,“. Karena pikiranku sudah sama dengan pikiran orang yang mengajariku, maka suasana di dalam dadakupun sama pula dengan suasana di dalam dadanya.
Karena hal seperti ini sangat bisa dilakukan oleh semua orang, maka otak-atik pikiran seperti inipun dipakai oleh para hipnoterapis untuk mensugesti subjeknya. Akupun lama-lama menjadi menjadi foto copy dirinya. Aku melakukan apa yang dia lakukan, aku memasarkan apa yang dia pasarkan, aku akan gadang-gadangkan apa yang dia gadang-gadangkan..
Dengan sering-sering begini, maka sekarang akupun berubah menjadi:
Aku = pikiranku yang sudah terpola, sehingga
Aku = rasaku yang sudah terpola pula
Orang-orang dengan pola pikiran yang sama, yang sekaligus bersuasana yang sama di dalam dadanya, kemudian akan membentuk sebuah komunitas. Tujuan komunitas ini adalah untuk saling memperkuat pikiranku, yang akan menyebabkan rasa di dalam dadaku pun semakin kuat pula. Semakin kuat pikiranku kepada pola-pola pikir tertentu, semakin kuat pulalah rasa yang ada di dalam dadaku, sehingga pola pikiranku itupun menjadi KEPERCAYAANKU. Aku percaya bahwa dengan pola pikiranku yang tertentu, misalnya pola pikiran hipnoterapi, aku bisa mengubah jalan hidupku, merubah keadaanku, merubah diriku, merubah apa yang aku rasakan menjadi lebih baik dari yang aku rasakan sebelumnya.
Makanya kemudian muncul beragam komunitas seperti Komunitas Hipnoterapi, Komunitas Paranormal, Komunitas dzikir ini atau dzikir itu. Dimana setiap anggota dari komunitas itu, saat bertemu akan membicarakan pikiran yang sama, membesar-besarkan objek pikir yang sama, dan merekapun mendapatkan suasana yang sama pula di dalam dadanya. Bisa hebat?. Bisa…!. Tapi hebatnya hanya sebatas hebat pikiran para anggota komunitas itu saja.
Karena pikiranku itu sudah menjadi kepercayaanku. Aku beriman kepada objek pikirku, maka aku akan selalu mengingat-ingat, membesar-besarkan, menggadang-gadangkan, dan menyebut-nyebut objek pikirku itu setiap sata. Kalau tidak begitu, rasanya tidak enak. Rasanya seperti aku tidak BERSYUKUR kepada objek pikirku itu. Aku bahkan memanggil-manggil, mengiklan-iklankan objek pikirku itu agar orang lain mau pula memakai objek pikirku itu sebagai objek pikirnya. Tanpa aku sadari, aku telah berubah menjadi pelayan dari objek pikirku… Aku menjadi budak dari objek pikirku. Aku disuruh-suruh kesana kemari oleh objek pikirku itu. Dan aku tidak kuasa untuk menolaknya…
Nah…, semua ulasan tentang kehebatan olah VAKOG seperti diatas, intinya adalah bahwa semua itu sebenarnya hanyalah sekedar PROSES MENGAKALI DIRIKU saja. Itu bukan proses yang seharusnya aku lakukan dan aku pertahankan dalam keseharianku. Masak sih aku mau mengakali diriku sendiri secara terus menerus?. Ya nggak lah. Karena mengakali diriku sendiri itu sama saja dengan menyiksa diriku sendiri…

Aku Yang Menyiksa Diriku Sendiri
Ketika aku sedang SENDIRIAN, seringkali aku merasakan bahwa dengan cara-cara mengakali diriku seperti diatas sudah tidak cukup lagi untuk bisa membuat aku keluar dan terbebas dari belenggu pikiranku itu. Tapi walau bagaimanapun aku tetap ingin bebas. Aku ingin bebas…, merdeka. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak mau jadi bayang-bayang diri orang lain.
Untuk itu, aku kadangkala sampai merusak pikiranku sendiri dengan cara aku meneguk minuman keras, atau bahkan memakai narkoba. Aku jadi Mabok dan Tidak Sadar. Dengan begitu aku memang seperti bisa terlepas dari pikiran-pikiran yang menggangguku buat beberapa saat. Aku terlepas dari pikiran-pikiran tentang masa lalu yang menyakitkanku, dan aku terlepas pula dari pikiran-pikiran tentang masa depanku yang sangat mengkhawatirkan dan menakutkanku. Akan tetapi dengan mabok dan tidak sadar seperti itu, aku sebenarnya sedang kehilangan masa MASA KINIKU yang sangat berharga.
Begitu sadar, aku kembali berjalan-dan berjalan tak tentu arah menuju pikiran-pikiranku, aku kembali mengakali diriku. aku kembali menyakiti diriku sendiri. Akan tetapi karena semua itu tidak berhasil membuatku merdeka. Tidak bisa membuatku terbebas dari penjara pikiran-pikiranku yang rasanya benar-benar memancarkan kepedihan dari dalam dadaku.
Tekanan darahku kacau, jantungku kacau, leverku kacau, sel-otakku kacau, sehingga penyikitpun bermunculan di dalam tubuhku. Aku jadi sakit-sakitan. Lalu aku berobat kesana kemari. Aku datang ke orang pintar ini dan itu. Aku menjadi sibuk sekali dengan penyakitku. Aku ingin sembuh. Aku telah menjadi seorang pesakitan. Lalu aku akan menyalahkan orang-orang yang ada disekitarku sebagai penyebab dari kesakitanku ini. “Ini salahmu, ini salah si itu, ini karena kamu…”, kataku dengan berapi-api. Duar…, lalu dimanapun aku berada maka disana akan ada huru-hara.
Kadangkala aku ingin mencoba untuk tidak memiliki semua yang bisa menjadi beban pikiranku. Aku tidak ingin punya istri/suami. Aku tidak ingin punya anak. aku tidak ingin punya harta. Aku tidak ingin punya rumah. Aku bahkan ingin lari kepuncak gunung dan goa-goa untuk bertapa, bermeditasi. Tapi dengan memenuhi semua keinginanku itu, berarti aku membunuh fitrah diriku sendiri. Sehingga selama bertapa itu aku hanya sibuk melawan fitrah diriku sendiri.
Oleh sebab itu, pada puncak kepedihanku, aku bisa saja melakukan tindakan yang sangat ekstrim. Aku bisa membunuh diriku sendiri. Aku ingin mati… Duar…!. Semuanya itu aku lakukan agar aku bisa keluar dari penjara pikiranku yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Raaji’un
Dari cerita panjang diatas, sudah saatnya kita untuk mengambil sebuah kesimpulan bahwa, perjalanan yang kita lakukan seperti diatas, perjalanan di dunia pikiran, untuk mendapatkan KESUKACITAAN di dalam setiap langkah kehidupan kita, ternyata tidak bisa kita dapatkan. Karena semua cara diatas ternyata tidak akan pernah berhasil membawa kita kembali pulang kerumah kita yang HAKIKI.
Adakah barangkali tempat untuk kembali yang benar-benar bisa membuat kita bisa nyaman, bahagia, tenang, enak, damai, bersemangat, setiap saat tanpa dimulai dengan pikiran-pikiran kita?. Bisakah kita BERSUKACITA setiap saat tanpa menciptakannya dengan pikiran kita?.
Adakah yang bukan pikiran?. Adakah objek pikir yang TIDAK BISA kita pikirkan yang bisa kita jadikan sebagai alamat kita untuk kembali?.
Setiap kita punya masalah, setiap kita menghadapi cobaan, yang menimbulkan rasa DUKACITA yang dalam, kita akan kembali pulang kerumah kita itu. Sehingga rasa dukacita kitapun berganti seketika itu juga dengan rasa SUKACITA. Adakah?.
Kalau ada, Objek pikir itu haruslah TIDAK BISA kita lihat dengan mata, kita dengar suaranya dengan telinga, kita rasakan dengan kulit, kita kecap dengan lidah, kita hirup dengan hidung kita. Objek itu tidak tidak bisa kita bayang-bayangkan, tidak bisa kita lamun-lamunkan, tidak bisa kita persepsikan dengan pikiran kita sendiri.
Artinya Objek itu pastilah GAIB, TERSEMBUNYI dari jangkauan Panca Indera kita (VAKOG). Masalahnya adalah, PERCAYAKAH kita terhadap KEBERADAAN sesuatu YANG GAIB itu.
Nah…, sesuatu yang gaib itu bukanlah IBLIS, SYETAN, JIN, ataupun MALAIKAT. Bukan…!. Karena mereka semua itu masih bisa digambarkan, paling tidak berdasarkan hadist-hadist atau cerita-cerita dari mulut kemulut yang pernah kita dengar. Bahkan Jin, Iblis, Syetan itu bisa kita ketahui keberadaannya dengan sedikit bermain-main dengan getaran-getaran seperti yang telah kita bahas diatas. Karena wujud mereka sebenarnya tidak jauh-jauh dari getaran-getaran saja. Getaran yang setara dengan getaran API yang sifatnya PANAS. Makanya Iblis hanya tahu tentang GETARAN TANAH yang ada pada diri ADAM ketika dia pertama kali dipertemukan Allah dengan Adam ketika masa-masa penciptaan Adam dulu. Iblis mengira bahwa getaran API lebih baik dari Getaran Tanah.
Sedangkan tentang Malaikat, Nabi Muhammad juga bisa menggambarkan bentuknya, misalnya Malaikat JIBRIL, ketika Nabi sudah berada dalam sebuah Kesadaran yang nanti akan kita sebut sebagai BERKESADARAN RUHANI. Ya…, Kesadaran RUHANI. Dimana Kesadaran RUHANI ini juga punya getaran yang bisa disebut sebagai Getaran RUHANI yang kualitasnya sangat jauh berbeda dengan kualitas Getaran Api ataupun Getaran TANAH. Sebab api dan tanah masih bisa saling berinteraksi dengan berbagai getaran ALAM lainnya seperti yang telah kita bahas sebelumnya. Sedangkan AR-RUH hanya akan bisa saling berinteraksi dengan Malaikat melalui getaran RUHANI. Karena keduanya adalah wujud yang sangat patuh kepada Allah TANPA SYARAT. MIN AMRI RABBI…
Sedangkan kepada Getaran Alam, Getaran Tanah, Getaran Api, dan getaran-getaran Alam lainnya yang sebenarnya bukan tujuan kita untuk berada disitu, kita masih banyak yang tidak mempercayai keberadaannya. Walaupun kita sudah duduk berlama-lama disana. Buktinya sangat gampang kok. Ketika kita marah benci, sedih, takut, iri, dan sebagainya, getarannya itu sangat mirip dengan getaran Api yang dimiliki oleh Iblis. Panas membakar. Apalagi kalau kita berbicara tentang Getaran RUHANI. Akan semakin banyak saja kita yang tidak mempercayainya.
Padahal, kalau kita tidak percaya dengan adanya Getaran Ruhani, bagaimana kita akan bisa percaya dengan Sesuatu Yang GAIB. Sebab hanya dan hanya dengan menggunakan Getaran Ruhani inilah kita akan bisa mengenal Sesuatu Yang Gaib. Zat Yang Maha Gaib, Zat Yang Maha Tersembunyi.
Getaran Ruhani itu bisa kita rasakan hanya dan hanya ketika kita bisa menyadari bahwa diri kita ini sebenarnya adalah MIN-RUHI, AR-RUH milik Allah. Sama halnya dengan MALAIKAT. Yaitu ketika kita bisa menyadari dan memposisikan diri kita sebagai SEMURNI-MURNINYA RUH Milih ALLAH. Sehingga kitapun bisa merasakan betapa PATUH dan TUNDUKNYA AR RUH itu mengikuti AMR-AMR Allah.
AR-RUH itu juga BERGETAR. Getaran itu kita sebut sebagai saja GETARAN RUHANI, biar memudahkan kita dalam memahaminya. Di Ujung awal dari Getaran Ruhani itu pastilah ada sesuatu yang menggetarkan Ar-Ruh itu. Karena AR-RUH itu adalah Milik Allah, yang sangat patuh mengikuti Amr Allah, yang selalu patuh kemanapun Allah menggerakkannya, maka getaran AR-RUH itu pasti akan MENGARAH pula kepada ALLAH.
ALLAH Inilah Zat Yang Maha Gaib yang harus kita Imani kalau kita mau pulang kerumah kita yang sebenarnya. Karena kita ingin pulang KESISI ALLAH. Untuk meringkuk di dalam Pelukan Allah, di dalam LIPUTAN ALLAH.
Dengan mengikuti atau menumpang pada Getaran Ruhani, yang digerakkan sendiri oleh Allah, inilah kita akan bisa bertemu dengan-Nya ditempat persembunyian-Nya yang Sangat Tersembunyi. Kita akan diantarkan sendiri oleh Allah untuk mengenal Diri-Nya. Lalu satu-per satu Rahasia Kemahahebatan-Nya akan dibukakan-Nya buat kita. Sehingga kitapun benar-benar habis. Kita tidak bisa sedikitpun untuk mencoba mengaku-ngaku dihadapan-Nya. FANA. Karena Yang berhak mengaku-aku hanya Dia Sendiri.
Dan disinilah RUMAH kita yang sebenarnya. Disisi Allah. Rumah dimana kita tidak kuasa lagi mengaku-ngaku. Karena tidak mengaku, maka kita tidak dibebani lagi dengan tanggung jawab. Kita tidak akan dihantui lagi oleh berbagai rasa yang selama ini menakutkan kita. Yang ada saat itu hanyalah sebuah KESUKACITAAN yang sangat kuat. Karena semua yang terjadi pada diri kita ternyata sudah ditanggung oleh Allah sendiri.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya, Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].
Dan kemanapun kita menghadap, itu kita bisa melihat bahwa semua yang tergelar dan peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah sebagai bukti akan keberadaan Sang Perbendaharaan Tersembunyi, Sang Maha Gaib, yang sedang Mengenalkan Diri-nya kepada kita.
Kuntu kanzan makhfiyyan ahbabtu an ‘urifa fa khalaqtu khalqa li ‘urifa
Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk-Ku, (dengan Allah lah) agar mereka mengenal Aku (Al Hadits).

Antara Kafir, Munafik, Dan Musyrik.
Nah…, kalau kita sudah beriman kepada Yang Maha Gaib, Allah, seperti diatas, maka masalah utama kita untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya sudah SELESAI. Kita tinggal mencari PETA yang cocok yang bisa mengantarkan kita kearah Tujuan akhir kita itu, dan kita mencari CONTOH atau PANUTAN pula tentang siapa-siapa yang sudah berhasil menjalani Jalan menuju Yang Gaib itu dengan cepat, tepat, benar, dan Lurus.
Kalau kita tidak beriman dan tidak yakin kepada keberadaan Yang Maha Gaib, Allah, maka kita dikatakan sebagai orang yang tercover. KAFIR…!. Ya selesai sudah. Tamat. Kita tinggal menunggu hidayah saja, atau kita mati di dalam kekafiran.
Kalau kita percaya kepada Yang Maha Gaib, Allah, tapi kadang-kadang kita lupa kepada-Nya, kadang-kadang kita lalai, kadang-kadang kita sadar lagi, maka kita disebut sebagai orang MUNAFIK. Biasanya kita lebih sering lupa dari pada ingat dan sadar kepada-Nya. Istilah kerennya adalah TOMAT. Kita kadang-kadang Tobat, tapi kadang-kadang Kumat kembali. Untuk keadaan kita yang seperti ini, sebenarnya masih ada harapan bagi kita agar kita kembali menjadi beriman kepada Allah. Ada…
Akan tetapi kalau kita sudah percaya kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita masih memakai perantara-perantara untuk datang dan meminta kepada Allah, maka kita disebut sebagai orang MUSYRIK. Artinya antara Allah dan kita masih ada berbagai berhala yang membatasi kita. Berhala-berhala itu kita anggap (kita PIKIR) bisa membuat kita lebih dekat dan lebih berkonsentrasi kepada Allah. Padahal semakin ada berhala didepan kita, maka kita akan semakin terhalang dan jauh dari Allah.

Berhala-Berhala…
Ketika kita mengaku beriman kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita masih nyangkut, tertahan di PIKIRAN kita, maka kita disebut sebagai orang yang musyrik. Artinya saat itu kesadaran kita nyangkut di berhala-berhala. Kita tidak bisa lagi berjalan meneruskan perjalanan kita.
Misalnya, ketika kita mengaku percaya kepada Allah, tapi ketika kita ingin menghadap kepada Allah dengan lebih khusyu kita masih menggunakan berbagai objek VAKOG seperti yang sudah dicontohkan diatas, maka saat itu kita disebut sebagai seorang musyrikin. Seorang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu yang kita jadikan sebagai perantara antara kita dengan Allah.
Ketika kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kemudian kita menggunakan suara-suara, nada-nada, dan bunyi-bunyian dengan berbagai frekuansi tertentu, maka seberapa lama pun kita menyebut nama Allah, kita tetap tidak akan bisa sampai ke Allah. Kita seperti tertahan oleh vibrasi suara itu. Kita berhenti di vibrasi suara itu.
Ketika kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kita menggunakan patung-patung atau benda benda sebagai objek perantara kita, maka selama dan sekuat apapun kita menyebut nama Allah, maka kita tidak akan pernah bisa sampai ke Allah. Kita seperti tertahan dan berheti di benda-benda dan patung-patung itu.
Ketika kita punya masalah, kita lari ke dukun, paranormal, hipnoterapis, dan sebagainya yang sejenis itu, maka mereka pasti tidak akan mengenalkan kita kepada Allah. Pasti. Itulah yang disebut sebagai musyrik.
Kalau masih musyrik seperti ini, saat kita melakukan sesuatu kita mau baca BISMILLAH atau tidak, mau menyebut nama Allah atau ayat-ayat tertentu dari Al Qur’an atau tidak, hasilnya akan tetap sama. Itu bisa, dan hasilnya tetap ada. Menyebut atau tidak menyebut nama Allah, tidak akan mempercepat atau memperlambat hasilnya. Hasilnya semata-mata hanya akan tergantung pada ketekunan kita berlatih dan besarnya keyakinan kita saat berlatih. Itu saja. Lhooo…
Ya begitu…!.
Sebab bismillah bukanlah sebuah ungkapan yang bisa dibaca-baca begitu saja oleh sembarangan orang. Bukan…. Karena bismillah itu adalah sebuah ungkapan yang sangat suci yang hanya berhak diucapkan oleh orang-orang yang sudah punya perjanjian dengan Allah untuk bersedia menjadi Khalifatullah, Wali Allah, Hamba Allah yang akan bertugas mewakili Allah untuk urusan Allah di muka bumi ini. Makanya ungkapannya juga bismillah…, mengatasnamakan Allah.
Apapun yang kita lakukan benar-benar adalah sebuah pekerjaan yang mengatas namakan Allah. Kita melakukan pekerjaan yang telah dimandatkan oleh Allah kepada kita sebelumnya. Allah telah memberikan izin-Nya kepada kita sebelum kita melakukan pekerjaan itu. “Silahkan hamba-Ku, lakukanlah ini, Aku telah memberi izin-Ku agar kamu melakukannya atas nama-Ku”.
Saat serah terima mandat dari Allah itu kepada kita, terasa sekali sukacita dan bahagianya. Sukacita yang teramat sangat (RIQQAH) turun keadalam ada kita. Dada kita terasa menjadi sangat lapang, selapang jagad raya. Dada kita terasa sangat lunak dan cair, selunak dan secair samudera luas. Rasa dingin mengalir dari dada kita menyebar keseluruh sudut-sudut sel di dalam tubuh kita. Bahagianya menggetarkan tubuh, menggetarkan mata, menggetarkan seluruh cairan tubuh kita termasuk cairan yang dengan deras mengalir dari sudut-sudut mata kita. Mulut kita sudah tidak sempat lagi untuk berkata-kata. Adapun suara yang muncul dari ujung lidah kita hanyalah sepatah dua patah kata yang paling menggetarkan, yaitu “ya Allah…”, dan itupun nyaris hanya berbisik saja. Ya Allah…, terima kasih ya Allah…, alhamdulillah….
Setelah ada RIQQAH itu ada, berupa sakinah, berkah, aflaha, salamah yang diturunkan dan dimasukkan oleh Allah ke dalam dada kita, barulah kemudian kita bergegas menebarkannya buat diri kita sendiri, buat keluarga kita, buat tetangga kita, buat masyarakat kita, buat siapapun yang kita jumpai dalam perjalanan kita.
Ø  Bismillah…, mata kitapun kita rahmati dengan mengajaknya melihat segala keindahan yang telah Allah gelar di depan mata kita.
Ø  Bismillah…, telinga kitapun kita rahmati dengan mengajaknya mendengarkan ayat-ayat Allah yang bertebaran di sekeliling kita.
Ø  Bismillah…., bismillah…, bismillah, rongga perut kita, otak kita, faraj kita, kita rahmati dengan memberikannya apa-apa yang diridhai oleh Allah. Lidah kita, tangan kita, kaki kita, kita pergunakan untuk menebarkan RIQQAH yang sedang menggumpal di dalam dada kita kepada siapapun yang kita temui. “salamun qaulan mirrabbirrahiim”. Semuanya itu kita lakukan seperti kita sedang berada di samping “ibu kita”. FEEL AT HOME BANGET (ini merupakan tema artikel selanjutnya setelah artikel “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN”). Kita bekerja, berkarya, menolong, meringankan beban orang lain dengan nyaris tanpa lelah. Mengherankan sekali.
Kalau saat membaca bismillah itu tidak ada proses serah terima mandat dari Allah kepada kita seperti diatas, namanya saat itu kita membaca bismillah untuk mewakili hawa nafsu kita, mewakili ego kita. Kita melakukan sesuatu dengan mengatasnamakan hati kita yang kotor, syirik, gelap, dendam. Artinya saat itu kita sedang mempertuhankan hawa nafsu kita sendiri. Bacaan bismillah kita itu tak lebih hanyalah sekedar ucapan pemanis bibir saja. Atau istilah yang lebih keras untuk itu adalah “ucapan seorang pengkhianat kepada Allah”.
Anehnya, semakin kita kuat dan kukuh membaca bismillah ketika keadaan hati kita kotor seperti itu, getarannya pun akan sangat besar pula. Ada kekuatan juga yang mucul ketika itu. Tapi kita jangan bangga dulu dengan segala getaran dan kekuatan walaupun saat itu sedang mewakili hawa nafsu kita itu, karena iblispun saat meminta kesaktian dan kekuatannya juga melalui getaran. Tujuannya hanya satu, yaitu agar dia bisa menyesatkan seluruh umat manusia.
Iblis meminta kepada Allah dengan dorongan hawa nafsunya dan dengan menyebut Nama Allah juga kok. “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. Dan Allah pun berkenan memberinya. Hasilnya pun sedikit banyaknya sudah kita ketahui pula. Mirip dengan apa yang kita lakukan ketika kita telah mengatakan Ana Khairu Minhu kepada sesama…

Mengenal Aku
Jangan-jangan semua permasahan yang kita hadapi selama ini adalah karena kita tidak mengenal siapa diri kita yang sebenarnya, sehingga kita menganggap bahwa pikiran-pikiran kita itulah yang menjadi diri kita.
Mari kita urai…
Ada Aku  ada Pikiranku.
Yang menjadi masalah bagi kita adalah, bagaimana kita bisa memisahkan diri kita dari sejuta pikiran yang sudah kadung ada di dalam memori kita.
Kalau kita melakukan dengan cara kita mengamati objek-objek pikir apapun yang sedang menjadi buah pikiran kita, maka kita akan menjadi sangat tersiksa dalam waktu yang lama. Bisa berjam-jam, bisa berhari-hari. Cara seperti ini bisa disebut sebagai “Meditasi Mengamati Pikiran”. Semua pikiran-pikiran masa lalu yang ada di dalam memori kita seperti berloncatan keluar. Baik yang sudah kita lupakan, apalagi yang masih segar di dalam ingatan kita. Ingatan bawah sadar kita keluar semua. Biasanya kita bisa muntah-muntah, pusing tujuh keliling, atau berkunang-kunang. Karena memang setiap objek pikir kita itu masing-masing ada rasanya. Sehingga setiap kali kita berpindah objek pikir, maka rasanya juga berbeda dengan objek pikir kita yang sebelumnya.
Pada metoda EFT (EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE), misalnya, saat kita punya emosi yang negatif terhadap sebuah objek pikir, maka kesadaran kita dipindahkan kepada objek pikir lain berupa ketukan-ketukan halus pada beberapa titik di wajah dan di tubuh kita.
Contohnya begini:
“Aku takut pada kucing, aku diminta untuk memikirkan seekor kucing. Atau yang paling manjur adalah dengan meletakkan kucing benaran di dekatku. Aku diminta untuk merasakan rasa takut yang muncul ketika aku memikirkan atau berdekatan dengan kucing itu. Aku diminta untuk mengukur rasa takutku itu dengan memakai skala 1 sd/ 10. Aku diminta untuk menaikkan rasa takutku ke tingkat yang paling tinggi. Takut sekali. Caranya bisa dengan memikirkan banyak kucing yang ada disekitarku, atau bisa pula lebih mendekatkan kucing benaran itu ke pangkuanku. Semakin tinggi rasa takutku, akan tergambar dari emosiku yang semakin meningkat pula. Bahkan aku bisa sampai berteriak histeris dan menangis.
Pada puncak ketakutanku, dengan lembut beberapa titik diwajahku diketuk oleh istruktur (penyembuh) EFT dengan ujung jarinya. Seketika itu juga kucing bukan lagi menjadi objek pikirku. Objek pikirku berubah menjadi beberapa titik diwajahku yang diketuk-ketuk oleh ujung jari instrukturku itu. Kemudian instrukturku itu berkata, sekarang saya tidak takut lagi kepada kucing, rasa takut saya berkurang, 10…, 9…, 8…, rasa takut ku berkurang…., 2…, 1 saya sudah tidak takut lagi kepada kucing.
Ketika instrukturku meminta agar aku mengukur kadar rasa takutku kembali, aku memang sudah tidak merasakan rasa takut kepada kucing lagi. Karena memang objek pikirku sudah bukan kucing lagi, tapi titik-titik yang tadi disentuh oleh instruktur itu. Sejak itu aku dikatakan tidak takut lagi kepada kucing. Karena aku percaya kepadanya maka akupun seperti bisa tidak takut lagi kepada kucing… Plok…, plokk…, plokk…, tepuk tanganpun membahana diruang latihan itu.
Yang lebih jelas lagi adalah ketika aku didekatkan dengan kucing benaran. Takutku itu takut benaran juga. Semakin didekatkan, rasa takutku juga semakin meningkat. Pada puncak ketakutanku, kembali jari-jari instrukturku itu mengetuk-ngetuk beberap titik diwajah dan badanku. Aku diminta untuk MERASAKAN ketukan jari instrukturku itu. Mataku masih tetap melihat kepada kucing, tapi pada saat yang sama aku diminta pula untuk merasakan ketukan jarinya diwajahku.
Ketika aku merasakan ketukan jarinya, dengan seketika itu juga objek pikirku akan pindah dari kucing yang ada didepanku kepada beberapa titik diwajahku yang diketuk olehujung jarinya. Sejenak aku seperti menjadi TERPISAH dari kucing yang ada tepat didepanku. Kemudian kata-kata hipnosa seperti diatas dipaksakan kembali masuk kedalam otakku.
Sekarang otakku jadi konflik. Ada kucing yang tepat didepanku, ada ketukan-ketukan diwajahku yang harus aku rasakan, dan ada pula kata-kata hipnosa yang menghantam otakku untuk membuang rasa ketakutanku kepada kucing itu. Saat ada kucing didepanku, aku dipisahkan dari pikiranku tentang kucing itu melalui ketukan di beberapa titik diwajahku yang cukup lemah. Kemudian aku benar-benar seperti bisa terpisah dari kucing yang ada didepanku. Apalagi karena aku berada dalam pengaruh kata-kata hipnosanya maka akupun bisa menjadi tidak takut lagi kepada kucing itu”.
Metoda seperti ini sebenarnya adalah metoda hipnotis juga. Metoda yang mengacaukan kesadaran internal kita melalui perubahan-perubahan objek pikir kita dengan cepat dan tiba-tiba. Dan untuk bisa seperti ini, kita harus bayar mahal. Dan tak lupa kita diiming-imingi bahwa semua permasalahan emosional kita bisa kita selesaikan dengan cepat.
Kalau instrukturnya beragama Islam, maka kata-kata hipnosanya dirubahnya dengan memakai istilah-istilah agama Islam. Misalnya dengan membawa-bawa nama Tuhan. Seakan-akan metoda itu sudah berubah menjadi sebuah metoda yang bercirikan SPIRITUALITAS secara Islam. Sehingga kemudian metoda EFT yang dikembangkan oleh seseorang di Amerika sana, dirubah menjadi metoda XYZT yang seakan-akan menjadi sebuah metoda spiritual ala Islam yang dia ciptakan sendiri. Apalagi kemudian semua teknik yang pernah dipelajari oleh sang instruktur di jejalkan satu persatu di dalam training itu. Seakan-akan cara itu bisa menjadi sesuatu cara yang paling top sejagad.
Padahal sebenarnya untuk melepaskan diri kita dari pikiran-pikiran kita seperti itu, tidak sulit-sulit amat kok. Mari kita coba…
Sekarang coba amati sesuatu yang menjadi pikiran kita.
Ø  Duduklah rileks.
Ø  Pikirkanlah sesuatu, atau letakkanlah sesuatu yang kita takuti didepan kita.
Ø  Misalnya kucing kita yang kita takuti tadi.
Ø  Amatilah pikiran kita tentang kucing itu, atau amatilah kucing itu.
Ø  Amati saja…
Ø  Ada kucingku yang sedang kupikirkan atau yang ada didepanku, dan ada “aku” yang sedang mengamati kucingku yang kupikirkan atau yang ada didepanku.
Ø  Ada Aku yang mengamati kucingku yang ada dipikiranku atau didepanku.
Ø  Ada aku, ada kucingku.
Ø  Ini aku yang mengamati, dan itu kucingku yang kuamati
Ø  Ini aku…, itu kucingku…
Ø  Lha…, ternyata aku bukanlah kucingku seperti yang kurasakan selama ini.
Ø  Aku ternyata bisa terpisah dari kucingku.
Ø  Ini aku…, itu kucingku.
Ø  Ooo…., aku ternyata terpisah dari kucingku.
Ø  Dengan santai aku bisa katakan kepada diriku sendiri, “ah nggapain aku takut kepada kucingku ini”.
Ø  Santai saja…
Ø  Rasakanlah keterpisahan itu.
Duduklah dalam suasana keterpisahan itu buat sejenak. Sebab biasanya setelah itu pikiran kita akan bergerak kembali kepada pikiran-pikiran lain yang sedang “hangat” dikepala kita.
Kalau pikiran kita banyak, alangkah capeknya kalau kita harus melakukan hal seperti itu satu persatu. Tapi kalau kita ingin memakai metoda konsentari kepada sebuah objek pikir saja seperti LILIN, ujung hidung, atau titik konsentrasi diantara kedua mata kita, ya ada juga sih metodanya seperti itu. Tapi yang namanya konsentrasi, kita butuh tenaga yang sangat besar agar kita bisa bertahan pada satu objek pikir saja untuk jangka waktu yang lama. Itu namanya kita masih berada pada pikiran kita juga, walau hanya satu objek pikir. Makanya lama, dan butuh tempat yang sepi dan sunyi pula untuk melakukannya.
Oleh sebab itu, berikut ini kita akan mencoba sebuah metoda yang sangat sederhana yang bisa melepaskan diri kita dari jeratan pikiran-pikiran kita yang selama ini telah mengganggu perjalanan pulang kita menuju Yang Maha Gaib.

AKU DAN GERAK NAFASKU.
Kalau kita mengamati nafas kita, maka sebenarnya kita sedang berada pada suasana SAAT INI. Untuk mengamati nafas kita tidak perlu berpikir seperti apa nafas itu. Kita juga tidak perlu berpikir seperti apa gerakan nafas itu. Dengan mengati nafas, secara otomatis kita akan terlepas dari pikiran MASA LALU dan MASA DEPAN. Bahkan kita tidak ingat dengan kejadian satu detik yang lalu atau angan-angan kita satu detik yang akan datang.
Untuk mengamati nafas, kita juga tidak perlu pergi jauh-jauh. Amatilah DISINI, di DADA kita. DEKAT sekali.
Dengan begitu yang kita sadari tinggal SAAT INI dan DISINI.
Mari kita amati gerak nafas kita. Duduklah rileks saja, nggak usah tutup mata kok.
Duduk rileks itu maksudnya adalah, bagi yang biasa berenang di air, kita seperti mengambang saja di dalam air. Kalau ada udara di dalam dada kita. Saat tubuh kita rileks itu, kita pasti akan mengambang. PASTI. Tubuh kita sudah seperti menjadi air itu sendiri. Kita tidak perlu lagi melawan air yang ada di sekeliling kita agar kita bisa mengambang. Suasana rileks itu terasa sekali. Sebab kalau kita kejangkan tubuh kita sedikit saja, dengan seketika itu juga kita akan merasa seperti terpisah dengan air. Kita langsung goyah, bahkan bisa tenggelam. Kalau ada yang belum pernah merasakan rasa mengambang di dalam air, maka sebaiknya cobalah lakukan., dan rasakan. PASTI BERMANFAAT.
Kenapa kita haruss rileks seperti itu?.
Karena kita nanti akan ikut mengambang pula seperti mengambang di dalam air itu, tapi airnya kita ganti dengan udara. Rasanya akan sama. Rasa mengambang. Rasa tenggelam di dalam udara. Rasa menjadi satu dengan udara yang ada disekitar kita. Kita tidak perlu mencari udara itu jauh-jauh. Karena udara itu juga ada disekitar kita. DISINI dan SAAT INI.
Catatan: Pada artikel berikutnya “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN” kegunaan rileks ini akan kita bahas lebih dalam lagi agar kita bisa masuk ke kekinian waktu, meninggalkan waktu lalu yang sudah jadi sejarah dan waktu akan datang yang masih sekedar angan-angan kita. Untuk kali ini kita akan membahas hanya salah satu dari pintu itu, yaitu PINTU NAFAS.
Nah…, kita juga harus bisa pula merasakan rasa mengambang bersama angin. Bersama udara. Bersama RIH…, dalam bahasa arabnya. Tapi nanti JANGAN berlama-lama disini, karena ini hanya sekedar PINTU MASUK saja ke gerbang WAKTU SEKARANG. Untuk keluar dari PIKIRAN kita yang selama ini menggangu kita. Kalau berlama-lama disini, artinya kita telah menjadikan udara itu sebagai berhala kita. Ya…, masih masuk dalam kategori BERHALA juga sebenarnya.
Ø  Amatilah…
Ø  SAAT INI, DISINI, di dalam DADAKU ada udara yang sedang bergerak.
Ø  Udara itu sedang bergerak masuk dan keluar dari paru-paruku.
Ø  Ya…, ada udara yang sedang bergerak keluar-masuk paru-paruku melalui hidungku atau mulutku.
Ø  Kuamati…,
Ø  Hanya kuamati saja…
Ø  Aku tidak memikirkannya.
Ø  Aku tidak perlu membayangkannya.
Ø  Sesekali kuhirup udara itu secara perlahan.
Ø  Kukeluarkan pula secara perlahan.
Ø  Kunikmati rasa udara itu.
Ø  Kunikmati aliran udara itu.
Ø  Sejenak aku bermain-main dengan udara itu.
Ø  Selama waktu itu, otomatis aku sudah tidak ingat lagi MASA LALU dan MASA DEPAN.
Ø  Aku berada DISINI dan SAAT INI
Ø  Aku sedang mengamati nafasku.
Ø  Mengamati udara yang keluar masuk paruk-paruku.
Ø  Ada aku dan
Ø  Ada udara yang kuamati.
Ø  Aku bukanlah udara.
Ø  Kembali kuamati keluar masuknya nafasku…
Ø  Kembali kurasakan pergerakan udara itu.
Ø  Ya…, KURASAKAN pergerakan udara itu.
Ø  Sebenarnya Apakah akukah yang menggerakkan udara itu?
Ø  Atau udara itu bergerak sendiri keluar masuk paru-paruku?.
Ø  Aku mencoba diam saja.
Ø  Ya…, aku hanya diam.
Ø  Tapi udara itu tetap bergerak dengan sendirinya masuk dan keluar dari paru-paruku.
Ø  Ternyata untuk keluar masuknya nafasku itu, aku tidak berperan apa-apa.
Ø  Ya…, aku tidak berperan apa-apa. Sedikitpun tidak.
Ø  Ooo…, ternyata aku salah selama ini kalau aku mengaku bahwa akulah yang bernafas.
Ø  Ternyata bukan…
Ø  Aku hanya diam.
Ø  Nafasku bergerak dengan sendirinya.
Ø  Untuk memastikan apakah aku atau bukan yang menggerakkan udara itu keluar masuk paru-paruku, aku lakukan langkah berikut ini.
Ø  Aku hirup udara memenuhi paru-paruku..
Ø  Lalu aku mencoba menahan udara itu didalam paru-paruku selama mungkin.
Ø  Aku amati pengaruh yang muncul ketika aku menahan gerak paru-paruku untuk mengeluarkan udara.
Ø  Satu…, dua detik…, ok, nggak ada masalah.
Ø  Belasan detik kemudian, mulai ada sebuah dorongan yang semakin lama semakin kuat agar aku bersedia melepaskan udara yang sudah tertahan lama didalam dadaku.
Ø  Semakin aku tahan, semakin kuat pula dorongan itu.
Ø  Kalau aku tahan terus, aku merasa seperti sedang berada dalam sebuah Tungku Penyiksaan.
Ø  Aku gelagapan. Aku ngap-ngapan. Aku limbung.
Ø  Kalau aku segera melepaskan udara dari paru-paruku dan aku kemudian membiarkan udara masuk kembali kedalam paru-paruku, rasanya aku seperti LONGGAR. Aku seperti lepas dari siksaan yang tadi aku alami.
Ø  Kalau aku masih tetap ngotot menahan nafasku, walau aku sudah limbung, maka suatu saat aku akan Blackout. Pingsan, atau bahkan bisa mati.
Ø  Ooo…, ternyata memang bukan aku yang menggerakkan nafasku.
Ø  Sekarang kuamati yang membuat udara keluar masuk dari partu-paruku.
Ø  Hei…., seperti Ada Gerak yang diikuti oleh nafasku.
Ø  Udara seperti bersandar begitu saja kepada sebuah gerak yang bergerak secara teratur, berulang-ulang dan sangat halus sekali.
Ø  Sekarang kuamati pergerakan nafas itu.
Ø  Ya…, sebenarnya udara itu sedang ikut dan patuh kepada sebuah GERAK yang sedang bergerak.
Ø  Kemudian kubiarkan nafas itu bergerak seperti biasa.
Ø  Aku tidak melawan gerak nafas kita itu,
Ø  Karena aku kita tidak akan pernah bisa melawannya.
Ø  Sampai aku yakin sekali bahwa ternyata bukan aku yang menggerakkan nafasku.
Ø  ADA GERAK yang menggerakkan nafasku.
Ø  Kuamati gerak itu untuk sekian lama.
Ø  Ooo… Gerak itu ternyata berbeda dengan udara.
Ø  Ooo… Gerak…
Sekarang berhentilah sejenak. Dan coba ingat-ingat, selama kita melakukan pengamatan pergerakan keluar masuknya nafas kita tadi, apakah kita masih ingat kepada pikiran-pikiran kita yang sebelumnya selalu bermunculan didalam benak kita?. Pasti tidak ingat kan?.
Sampai disinilah para ilmuan kebanyakan BERHENTI. Ilmuan Molekuler, Ilmuan Quantum, Ilmuan Mikro Sel, Ilmuan Makro Kosmos, Ilmuan Mikro Kosmos. Ilmuan Energi, Ilmuan Cahaya. Ilmuan Semua Cabang Pengetehuan. Semuanya sudah paham betul bahwa Alam itu bergerak, bintang bergerak, sel-sel bergerak, hormon bergerak, cahaya bergerak, energi bergerak, getaran bergerak. Semuanya seperti bergerak dengan sendirinya. Sendiri…!.
Ketika mereka diberitahu bahwa gerak itu ada yang menggerakkan, sebagian ada yang percaya, dan sebagian lagi mereka tetap teguh berpendirian (keukeuh -bahasa Sunda) bahwa semua itu bergerak dengan sendirinya.
Stefans Hawking, salah seorang ilmuan Quantum masa kini, tetap mempercayai bahwa semua yang di alam ini bergerak dengan sendirinya. Sampai sekarang dia tetap mempercayai bahwa di alam ini TIDAK ada peran TUHAN sedikitpun. Sementara fitrah dirinya ingin pulang kerumahnya yang sebenarnya, tapi dia lawan fitrah itu. Akibatnya fisiknya tidak kuat menahan kerinduan itu, sehingga perlahan-lahan dia menghancurkan tubuhnya sendiri. Sampai suatu saat tubuhnya tidak kuat lagi menahan kerinduan itu, MATI, barulah dia bebas untuk kembali kerumahnya yang hakiki. Tapi karena pulangnya dengan tidak sukarela, dia pulang dengan DIPAKSA, MATI, maka diapun akan tidak pernah bisa pulang kerumahnya yang hakiki. Disisi Allah.
Karena gambaran akhirat itu adalah persis seperti gambaran kita di dunia saat ini. Kalau di dunia kita TIDAK pernah bisa pulang ke sisi Allah, maka di akhiratpun kita TIDAK akan pernah bisa pulang ke sisi Allah. Tidak bisa pulang ke sisi Allah berarti itu adalah siksaan yang pedih. Di dunia kita tersiksa dengan sangat pedih, maka diakhiratpun kita akan tersiksa dengan pedih pula. Neraka…, kata Al Qur’an
Dengan mengamati gerak nafas kita itu, ternyata kita bisa melepaskan diri kita, hampir dengan seketika, dari segala pikiran kita yang selama ini menggangu kita. Kita seperti terlepas dari pikiran-pikiran kita DIMASA LALU dan DIMASA DEPAN. Semua pikiran kita sudah kita lupakan. Habis. Dan semua rasa dari masing-masing pikiran kita itupun sudah tidak kita rasakan lagi. Lenyap.
Ø  Sekarang kulanjutkan lagi.
Ø  Yang ada sekarang adalah aku yang sedang mengamati GERAK.
Ø  Aku bukan mengamati udaranya.
Ø  Tapi yang aku amati adalah gerakan yang membuat udara itu bergerak keluar masuk kedalam paru-paruku.
Ø  Aku mengamati sebuah GERAK.
Ø  Entah GERAK apa namanya.
Ø  Untuk mengetahui Gerak itu, Kemudian coba untuk MERASAKAN gerak itu.
Ø  Kurasakan GERAK itu dengan MENGIKUTI pergerakan gerak itu.
Ø  Kuikuti GERAK itu TANPA perlawanan.
Ø  Aku tidak melawan Gerak itu.
Ø  Ternyata aku juga bisa mengambang didalam Gerak itu seperti aku mengambang di dalam Air
Ø  Lalu akupun ikut mengambang saja di dalam gerak itu.
Ø  Aku mengambang mengikuti GERAK itu.
Ø  Aku ikuti pergerakan gerak itu.
Ø  Gerak itu bergerak sebanyak sekian kali gerakan dalam satu menit.
Ø  Teratur sekali.
Ø  Konsisten sekali.
Ø  Teliti sekali.
Ø  Lembut sekali.
Ø  Santun sekali.
Ø  Tidak menyakitkan sedikitpun.
Ø  Oya… Gerak itu memang ada
Ø  Aku bisa menunjuk Gerak itu dengan jelas.
Ø  Mana?.
Ø  INI…
Ø  Ku palingkan pengamatanku ke kiri dan ke kanan.
Ø  Yang ada INI juga. GERAK
Ø  Ku amati kebawah dan keatas…
Ø  Yang ada INI juga. GERAK.
Ø  Ku amati kesana dan kemari…
Ø  Yang ada INI juga. GERAK.
Ø  Ku amati yang ada disitu…, disitu…, disitu…
Ø  Eh…, yang ada INI juga. GERAK.
Ø  Kemanapun aku memandang,
Ø  Ternyata yang terpadang adalah INI. GERAK.
Ø  Sekarang aku sudah benar-benar terpisah dengan pikiran-pikiranku selama ini.
Ø  Aku hanya sedang memandang GERAK INI. DISINI, dan SAAT INI.
Ø  Kucoba merasakan GERAK INI
Ø  GERAK INI ternyata tidak dibatasi oleh rongga dadaku.
Ø  Rongga dadaku hanya membatasi udara, bukan membatasi GERAK INI.
Ø  Saat rongga dadaku penuh dengan udara, kurasakan ujung dari GERAK INI.
Ø  Ujungnya melampaui rongga paru-paruku.
Ø  Kurasakan ujung GERAK INI.
Ø  Ujungnya tak ada ujungnya.
Ø  Ku rasakan ujung yang tak berujung itu.
Ø  Aku terpekik, ujungnya diketinggian tak terukur.
Ø  Iiiiihhh…, aku meringis…, ujungnya seperti menyedotku.
Ø  Ujung gerak itu seperti mengantarkanku ke sebuah tempat yang sangat luas.
Ø  Ujung gerak itu seperti menarikku ke sebuah tempat yang sangat besar.
Ø  Ujung gerak itu seperti membawaku ketempat yang sangat tinggi.
Ø  Aku tidak peduli lagi dengan GERAK INI
Ø  Aku sudah melupakan GERAK
Ø  Aku hanya mencoba merasakan INI
Ø  Kurasakan INI yang sangat luas…
Ø  Kurasakan INI yang sangat besar
Ø  Kurasakan INI yang sangat tinggi.
Ø  Kurasakan sekelilingku…
Ø  Kalau-kalau ADA yang selain INI, DISINI dan SAAT INI.
Ø  Kosong…, tidak ada apa-apa.
Ø  Tidak ada apa-apa dan siapa-siapa lagi DISINI SAAT INI.
Ø  Kecuali hanya aku yang sedang memandang INI.
Ø  Suatu saat kemudian…
Ø  Aku pun merasa menjadi Luas
Ø  Aku merasa menjadi besar.
Ø  Aku merasa menjadi Tinggi.
Ø  Aku merasa menjadi sendiri.
Ø  Sehingga akupun bisa berkata:
Ø  Aku adalah yang luas…
Ø  Aku adalah yang besar…
Ø  Aku adalah yang tinggi…
Ø  Aku adalah yang sendiri…
Ø  Aku sudah tidak peduli lagi dengan INI
Ø  Karena aku sendiri jadi merasa bahwa akulah yang luas…
Ø  Ooo. Aku jadi tahu
Ø  Aku tahu…
Ø  Aku tahu bahwa akulah yang besar…
Ø  Aku tahu bahwa akulah yang tinggi…
Ø  Aku tahu bahwa akulah yang sendiri…
Ø  Sehingga akupun bisa berkata aku…
Ø  Aku…
Ø  Ya, aku…, aku…, aku…
Pada titik aku seperti inilah para MEDITATOR biasanya berhenti. Yaitu setelah mereka ketemu dengan akunya. Yaitu akunya yang merasa sendirian. Akunya yang sudah terpisah dengan segala pikirannya. Akunya yang mereka rasakan menjadi aku yang sangat luas tak terbatas. Akunya yang sendirian.
Wilayah yang ditempati oleh para meditator ini lebih tinggi setingkat dari wilayah yang dihuni oleh para ilmuan yang telah kita terangkan diatas. Makanya kemudian banyak para ilmuan yang mengikuti meditasi tertentu, seperti yoga, agar dia bisa pulang. Tapi dengan cara begitu mereka tidak sadar bahwa mereka baru sampai ketahap SERASA pulang saja. Belum sampai kealamat rumahnya yang sebenarnya. Sayang sekali sebenarnya.
Tapi jarang sekali orang yang memulai hidupnya dengan meditasi, dan menemukan akunya, yang RELA turun kembali ke alam nyata. Menjadi ilmuan, untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dan menciptakan peradaban. Mereka sudah keenakan berada dalam alam kesendirian, Moksa, sehingga mereka malas untuk turun kealam keramaian.
Nanti akan kita lihat betapa longgarnya posisi akhir Rasulullah Muhammad SAW, karena Beliau berhenti di rumah Beliau yang HAKIKI, yang ternyata sangat didambakan pula oleh seluruh umat manusia.
Lalu mereka hanya berhenti di akunya itu. Karena mereka tidak mengerti lagi bagaimana caranya untuk tidak mengaku-ngaku aku, makanya banyak meditator yang berusaha untuk hidup terlunta-lunta. Mereka hidup tanpa rumah, tanpa keluarga, dan berbaju kumal. Tujuannya adalah untuk menghilangkan akunya. Banyak juga yang kemudian berusaha untuk melakukan meditasi selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka Menyiksa diri mereka sendiri. Tanpa menikah dan tanpa rumah, tanpa segala-galanya. Mereka ingin dipandang hina dan tidak berguna oleh orang lain. Keadaan seperti ini banyak sekali bisa kita jumpai di INDIA.
Di dalam cerita silat Kho Ping Hoo juga seringkali digambarkan ada seorang yang ilmunya sudah sangat tinggi sekali sehingga tidak ada satu orang lagipun yang bisa mengalahkannya. Dia akan merasa sendirian. Agar akunya tidak mengada, maka dia berusaha untuk mengasingkan diri kepuncak-puncak gunung yang diliputi oleh kabut dan halimunan. Sampai akhirnya dia hilang seperti ditelan bumi. Namanya kemudian hanya akan diingat orang sebagai sebuah legenda yang pernah menggegerkan dunia persilatan.
Keadaan seperti inilah yang dianggap sebagai pencapai tertinggi bagi seorang meditator. Posisi inilah yang dianggap sebagai TITIK TERTINGGI atau TITIK AKHIR yang bisa dicapai oleh seorang meditor, tapi sebenarnya masih artificial. Ya…, Pengalaman Puncak Artificial.
Karena titik tertinggi, maka tidak jarang meditator itu merasa bahwa dirinya adalah Tuhan. Diri yang paling kuasa. Diri yang bisa melakukan apapun juga. Karena memang saat itu memang hanya dia sendiri yang ada. Yang ada didepannya hanya kekosongan yang maha luas dan tidak ada apa-apa. Oleh sebab itulah sering muncul ungkapan yang sangat terkenal dikalangan meditator  “Aku adalah Dia, Dia adalah aku”. TAT TWAM ASI. Dan ini juga sangat menyiksa sekali sebenarnya. Nggaak percaya?. Coba deh…
Pengalaman Puncak Artificial seperti inilah yang akan dialami oleh orang-orang yang merasa mendapatkan pencerahan akibat mengalami suatu penderitaan yang sangat hebat, atau berada dalam suatu tekanan hidup yang sangat besar, atau menyiksa dirinya sampai kebatas maksimum yang dapat dipikul oleh tubuhnya. Enkart Tole, pengarang buku “The Power of Now”, mengalaminya. Stefan Hawkins mengalaminya, Penemu-penemu ilmu pengetahuan lainnya juga mengalaminya. Sidharta Gautama Mengalaminya. Bunda Theresa mengalaminya.
Tapi walaupun masih Artificial, hasilnya sangatlah hebat. Bunda Theresa, misalnya, sangat terkenal pengabdiannya untuk membantu orang-orang papa, miskin, penyakitan, dan penuh kekurangan hidup. Dia seperti hidup penuh KASIH SAYANG kepada semua orang-orang seperti itu, sehingga dia dikenal hampir diseluruh dunia.
Kenapa Beliau bisa memberikan kasih sayang yang sedemikian besarnya kepada orang-orang yang mederita seperti itu?. Jawabannya sebenarnya sederhana. Pada posisi kesadaran dia sebagai aku yang sendirian dan sangat luas seperti diatas, ketika dia melihat orang-orang yang menderita, penderitaan orang-orang itu telah menjadi penderitaan dia sendiri. Sehingga diapun dialiri oleh kesenangan dan kebahagia ketika dia membantu orang-orang yang berada dalam penderitaan itu. Sebab saat itu dia, dengan kesadaran akunya yang sudah luas itu, ketika dia membantu orang lain, pada hakikatnya dia sedang membantu dirinya sendiri.
Kebahagian seperti inilah yang akan dialami oleh semua pekerja sosial yang sangat banyak tersebar diseluruh permukaan bumi. Bagus?. Ya…bagus sekali. Karena semua itu memang adalah fitrah manusia yang kalau kita jalani akan menimbulkan kebahagiaan buat diri kita sendiri.
Cuma tetap saja ada sebuah fitrah yang selalu mengalir begitu kuatnya di dalam diri kita, yaitu fitrah untuk berterima kasih. Fitrah untuk bersyukur yang nanti akan kita bahas dalam bagian tersendiri.

Dua Jalan Yang Membentang Luas
Dalam keadaan aku yang sendirian seperti ini, tak ubahnya seperti aku sedang berada di wilayah AMBANG. Wilayah antara. Aku berada dipersimpangan jalan. Aku bisa memilih antara aku bisa MENGADA atau aku bersedia untuk TIADA. Aku dihadapkan pada dua pilihan jalan yang terbentang luas dihadapanku.
Aku tak ubahnya seperti sedang berada di sebuah lantai yang sangat tipis yang membatasi dua wilayah yang sangat berbeda. Jika aku memandang kebawah, maka aku segera melihat ALAM KETIDAKPATUHAN. Berbagai keramaian pikiran, getaran, dan energi saling menggulung dan tumpang tindih. Dan aku bebas sekali untuk menggunakan semuanya itu. Sebaliknya, jika ku palingkan pandanganku keatas, aku dihadapkan dengan ALAM KEPATUHAN. Untuk masuk kesana, aku harus menanggalkan kedua “terompahku”. Karena semua yang ada disana sedang bersujud patuh, tidak berkutik, tidak berani berkata-kata, tidak berani bertanya, bahkan untuk mengangkat kepalapun tidak ada yang berani tanpa diperintahkan. Kebeningan dan kelembutan menyergap semuanya.
Aku bebas untuk memilih wilayah mana yang akan kumasuki dan kulalui :
Pilihan itu adalah:
•    Jalan Pertama, Jalan Ketidakpatuhan, memintaku agar aku segera menyatakan keakuanku itu, dalam bentuk berbagai ilmu dan kemampuan, sehingga aku menjadi orang yang sakti, hebat, kuat. Ada berbagai hukum dan kepastian yang bisa aku olah dan aku manfaatkan sebagai tanda bahwa aku ada. Apakah aku akan mengambil segala ilmu, kehebatan, dan kesaktian itu yang sedang menggodaku agar aku mendekat kepadanya?. Sehingga aku bisa mengaku, Atau…
•    Aku memilih jalan kedua, Jalan Kepatuhan, dimana aku harus bersedia untuk melepaskan keakuanku itu kepada sesuatu yang paling berhak untuk mengaku-ngaku itu, sehingga akupun akhirnya bisa berjalan dengan lega, lapang, longgar tanpa pengakuan akan apapun juga. Karena kalau aku bersedia untuk tidak mengaku, maka akupun tidak akan pernah dimintakan pertanggungjawaban atas apa–apa yang tidak aku akui. Aku sudah tiada, sehingga hilanglah segala urusan yang akan dinisbahkan kepadaku.
Dimana, Jalan kedua inilah yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah, Para Wali Allah dan orang-orang Shaleh di sepanjang zaman.

Jalan Penuh Ilmu…
Karena aku masih belum mau untuk tiada, hawa nafsuku dan pikiranku masih menawanku, maka akupun memilih Jalan Ketidakpatuhan. Jalan penuh ilmu. Aku ingin mengada, aku ingin eksis. Aku ingin lebih sakti, lebih baik dari siapapun juga. Aku bersedia patuh kepada hukum getaran dan hukum-hukum universal lainnya yang telah disiapkan oleh Allah untuk bekalku mengada.
Ya…, dititik “aku” inilah TITIK AKHIR perjalanan ruhaniku, dan sekaligus TITIK AWAL bagiku untuk mendapatkan berbagai ILMU KESAKTIAN bermula. Karena saat itu, aku yang sendirian ini sedang berada dalam keadaan KONSENTRASI PENUH. Aku berada dikekinian waktu dan tempat. Aku berada disini pada detik ini untuk MENGADA. Aku SIAP untuk melakukan proses berbagai keilmuan yang akan membuat diriku menjadi SAKTI. Aku sudah berhasil. Aku sudah bertemu dengan DIRIKU sendiri. Aku sudah tahu siapa aku. Yaitu aku yang berilmu dan sakti… Dengan begitu aku Siap MENGADA.
Pada titik “aku” ini pulalah yang akan menjadi TITIK AWAL dari perjalanan TANPA AKHIRKU yang akan aku JALANI karena aku sudah tidak tahu lagi dimana alamat tempat pemberhentianku yang terakhir. Aku akan menjadi seorang pejalan abadi. Berbagai alam sedang menantiku untuk aku masuki, termasuk ALAM ASTRAL yang sangat mengasyikkan.
Begitu aku berpikir tentang suatu ilmu, maka yang muncul pertama kali adalah GETARAN dari ILMU itu. Ilmu getaran. Jika aku mengolah getaran itu dengan cara-cara tertentu, maka getaran itu akan berujung pada penciptaan sebuah materi atau energi sebagai hasil dari ilmu yang aku pikirkan tadi. Hasilny itulah yang akan aku jadikan sebagai bukti tentang kesaktianku. DUAR… Bisa…, Jadi….
Paling tidak ada 12 hukum universal yang sedang melambai-lambaikan tangannya agar aku memanfaatkannya. Allah memberiku fasilitas dan hukum-hukum yang sangat wah dan penuh kepastian yang bisa kupakai untuk mengaku-ngaku…, yaitu:
1.      The Law of Divine Oneness
Bahwa aku hidup di dunia berada dalam sebuah kesatuan. Aku terhubung dengan segala sesuatu yang ada dan yang terjadi di alam semesta ini. Semua yang aku lakukan, katakan, pikirkan dan percayai akan mempengaruhi orang lain dan alam semesta di sekitarku.
2.      The Law of Vibration
Bahwa segala sesuatu di alam semesta ini bergerak, bergetar, dan berjalan mengikuti pola-pola melingkar. Hal ini berlaku untuk semua materi dan energi yang ada di dunia fisik, maupun untuk pikiran, perasaan, keinginan, dan kehendak di dunia Etheric. Setiap suara, hal atau keadaan, dan bahkan aktiftas berpikir memiliki frekuensi getarannya sendiri-sendiri yang unik.
3.      The Law of Action
Aku harus melakukan tindakan-tindakan nyata untuk mendukung dan mengujudkan pikiran, mimpi, emosi dan kata-kataku.
4.      The Law of Correspondence
Hukum ini menyatakan bahwa prinsip-prinsip atau hukum-hukum fisika yang menjelaskan dunia fisik – energi, cahaya, getaran, dan gerak akan memiliki prinsip-prinsip yang berkesesuaian atau kesamaan masing-masing di dunia eterik atau alam semesta. “Seperti apa di atas, seperti itu pulalah di bawah”, “Seperti apa di dalam batin kita, seperti itu pulalah di luar atau lahiriah kita”.
5.      The Law of Cause and Effect
Bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan atau di luar Hukum Universal. Setiap tindakan yang aku lakukan memiliki reaksi atau konsekuensi yang akan kurasakan sendiri. “aku akan menuai apa yang telah aku tabur”. Atau dalam istilah agama Hindu disebut sebagai Hukum KARMA.
6.      The Law of Compensation
Hukum ini adalah Hukum Sebab Akibat yang berkenaan dengan berkah dan kelimpahan yang disediakan bagiku. Efek dari perbuatanku yang diberikan kepadaku dalam bentuk hadiah, uang, warisan, persahabatan, dan berkah.
7.      The Law of Attraction
Hukum ini menunjukkan bagaimana aku menciptakan hal-hal, peristiwa, dan orang-orang yang datang dan pergi ke dalam hidupku. Pikiranku, perasaanku, perkataanku, dan tindakanku akan menghasilkan energi yang yang akan menarik energi yang sesuai dan seirama dengan energi yang ku berikan. Energi negatif menarik energi negatif dan energi positif menarik energi positif.
8.      The Law of Perpetual Transmutation of Energy
Bahwa aku memiliki kekuatan di dalam diriku untuk mengubah kondisi hidupku. Getaranku yang lebih tinggi akan mengkonsumsi dan mengubah getaranmu yang lebih rendah. Dengan demikian, aku dan kamu dapat mengubah energi dalam kehidupan kita dengan memahami Hukum Universal dan menerapkan prinsip-prinsipnya sedemikian rupa untuk melakukan perubahan. Hukum ini sangat powerful
9.      The Law of Relativity
Bahwa setiap orang akan menerima serangkaian masalah (Tes Inisiasi) untuk tujuan memperkuat Cahaya di dalam dirinya. Aku mempertimbangkan setiap tes atau permasalah ini menjadi tantangan dan aku tetap terhubung dengan hatiku ketika aku memecahkan permasalahan ini. Hukum ini juga mengajarku untuk membandingkan masalahku dengan masalah orang lain dan meletakkan segala sesuatunya dalam perspektif yang tepat. Tidak peduli betapa buruknya situasi dimana aku berada, selalu ada orang lain yang berada dalam posisi yang lebih buruk dariku. Itu semua relatif.
10. The Law of Polarity
Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sebuah kontinum dan memiliki hal-hal yang berlawanan. Ada dua kutub yang saling berlawanan. Aku dapat menekan dan mengubah pikiran yang tidak aku inginkan dengan berkonsentrasi pada kutub pemikiran yang berlawanan. Ini adalah hukum getaran mental.
11. The Law of Rhythm
Hukum ini menyatakan bahwa segala sesuatu bergetar dan bergerak dengan ritme yang tertentu. Ritme ini menetapkan musim, siklus, tahap perkembangan, dan pola. Setiap siklus mencerminkan keteraturan alam semesta. Aku tahu tahu bagaimana caranya untuk naik di atas bagian negatif dari sebuah siklus dengan tidak pernah terlalu bersemangat atau membiarkan hal-hal negatif untuk menembus kesadaran mereka.
12. The Law of Gender
Bahwa segala sesuatu memiliki prinsip-prinsip sifat maskulin (YANG) dan feminin (YIN) masing-masing yang merupakan dasar bagi semua ciptaan. Untuk memulai Spirituality, energi maskulin dan feminin yang ada di dalam diriku harus aku seimbangkan untuk menjadikanku seseorang yang benar-benar bisa menciptakan sesuatu bersama Tuhan.
Jika aku ambil, aku olah, dan aku manfaatkan semua fasilitas itu, maka aku yang tadinya sudah bebas merdeka, sendirian, kemudian berubah menjadi budak dari ilmu kesaktian itu. Aku dipaksa oleh ilmu kesaktian itu untuk mengabdi kepadanya. Aku akan dipaksa pergi kemana-mana, sibuk modar-mandir, untuk mencerita-ceritakan kesaktianku itu. Ketika aku melakukan itu, aku seperti menceritakan diriku sendiri. Aku seperti mengiklankan diriku sendiri. Aku juga dipaksa oleh ilmuku itu untuk mengajak-ngajak orang lain agar dia mau pula mengabdi kepadanya. Aku akan berusaha sekuat tenaga, sekuat upaya, sekuat gaya, sepenuh taktik sampai orang lain itu bisa pula menjadi hamba dari kesaktian seperti yang aku miliki itu.
Karena kesaktian itu sudah berubah menjadi diriku sendiri, kalau kesaktianku itu dilecehkan, dihina, atau tidak dihargai, bahkan ditantang oleh orang lain, maka itu namanya menantang aku… Aku akan lawan siapa saja yang tidak menghargai diriku itu. Aku akan membela diriku. Membela kesaktianku.
Akan tetapi, kalau kesaktianku dihargai orang, dikagumi orang, dipuja orang, maka aku akan merasa sangat bahagia, aku sangat merasa senang. Aku bisa tersenyum dengan sumringah. Aku akan terkekeh kesenangan. Angkuhku pun kemudian tumbuh dan berkembang dengan semakin subur.
Disinilah adanya NIKMAT MENGAKU. Dan nikmat ini pulalah yang menyebabkan orang-orang yang berilmu, orang-orang yang sakti enggan untuk melepaskan kesaktiannya, untuk melepaskan ilmunya. Mereka enggan untuk tidak menjadi siapa-siapa dan tidak menjadi apa-apa.
Allah telah menciptakan HIJAB-NYA yang sangat sempurna di depanku berupa ILMU dan HUKUM-HUKUM-NYA yang bisa ku anggap hanya sekedar hukum alam atau hukum universal biasa saja. Dan itupun bisa ku olah dan ku akui sebagai kehebatanku sendiri yang akan memberiku rasa NIKMAT MENGAKU.
Dia bersembunyi (GAIB) dibalik Ilmu dan Hukum-hukum-Nya itu dengan sangat sempurna sekali. Sungguh…
Dan yang pasti diwilayah pengakuan ini pulalah tempat yang dipakai dan dihuni oleh IBLIS, JIN, dan SYETAN. Sehingga ketika aku berada di wilayah ini, persinggungan-persinggunganku dengan mereka sangat mudah sekali, semudah mengedipkan mata.
Az Zukhruf 36:
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (tidak ingat kepada Allah), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syatan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (corona).
Al Mujaadilah 19:
Syaitan itulah yang menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi.

Bersambung ke :