Kamis, 05 September 2013

Sawung Cemoro ( Ayam di Puncak Pohon )

Suatu Malam beberapa anak muda mendatangi Yai Ngewes...

"Yai, kami ingin mengaji di sini, bolehkah...?"

"Mau ngaji apa cuma mau hafalan, nak...kalau cuman mau hafalan, di sini bukan tempatnya.."

"Ya mau ngaji, Yai.....biar paham ayat keadaan hidup gitu loh..."

"Baiklah...ayo kalian ikut aku..."

Sesaat kemudian Yai Ngewes mengajak anak-anak muda itu ke peternakan ayam miliknya....

"Anak-anak, di dalam kandang ini ada ribuan ayam potong dan anak ayam dan hanya beberapa gelintir jago....jangan berisik, jangan mengambil ayam potong, juga jangan menginjak anak ayam....coba tiap anak ambil yang jago..!!!"

Bleng! Yai Ngewes mendadak mendorong anak-anak muda itu ke dalam kandang yang remang-remang itu...."Ayo Cepetan!" bentak Yai Ngewes...

Selang tak lama kemudian dengan belepotan tai dan bulu ayam, tiap anak-anak muda itu mendapat seekor jago....

"Nah, sekarang bawa jago itu dan ikut" Yai Ngewes pun mengajak anak-anak muda ke warung pojok

Anak-anak muda mulai gelisah dan tak paham maksud Yai Ngewes. Seseorang dari mereka memberanikan diri bertanya "Yai, kapan ngajinya? kok malah ngurusi ayam...?"

"Sebentar lagi, tenang, tenang, tenang, sabar..."Kata Yai Ngewes sambil menuangkan secangkir kopi pahit ke tiap-tiap gelas muridnya...

"Kamu semua kan rata-rata sudah baca kitab suci...nah, sekarang coba ingat2 tentang hikayat Musa dengan Khidir yang telah kau hafalkan itu...sambil menghafal, jangan lupa mengelus kepala dan dada jago yang kamu bawa masing2....jangan bicara, jangan berhenti mengelus sebelum kuperintahkan...kamu sekalian boleh berhenti mengelus kalau sedang kehausan, dan minummu hanya boleh kopi ini...jagalah kesadaranmu dengan kopi ini sampai fajar terbit!"

Buss.....Yai Ngewes menyulut rokok kretek....tapi ia tidak menyedotnya...ia hanya mengarahkan batang rokok itu ke atas....ia terdiam....rokok itu pus habis....ia menyulut lagi...dan mengulang terus menerus...

Jam demi jam tlah berlalu, batang demi batang rokok pupus terbakar percuma, tapi tak ada pembicaraan apa2...

Beberapa murid mulai tidak betah....usrag-usreg...saling lirik...

Tak lama Yai Ngewes matanya terpejam dalam posisi duduk...

Beberapa murid yang tidak betah tadi mengira Yai Ngewes ketiduran...mereka saling mengkode untuk meninggalkan tempat itu...

Srett...pelan2 beberapa diantaranya meninggalkan tempat itu bersama-sama.....

Dari kejauhan mereka saling ngrasani "Dasar Yai Gila! mau ngaji kok malah ditinggal tidur...udah gitu badan kita bau ayam gak karuan...hufh...apes....salah cari guru nih kita orang...!"

Mereka tak henti-hentinya mengolok-olok Yai Ngewes.....

*

Sesaat kemudian di warung itu terdengar jago-jago yang dibawa beberapa murid yang masih tinggal itu mulai berkokok...

Yai Ngewes mulai membuka mata "Sudah nak, ngajimu sudah selesai....hari sudah fajar..."

Murid yang masih tinggal di warung itu pun juga masih tak kalah heran. "Lho Yai...kok sudah....terus kita ngajinya kapan sih kok tiba2 sudah?" kata salah seorang anak muda itu...

"He...he he...sudah kuduga, pasti banyak yang gak betah ngaji gini...yang pulang biarin pulang, dan itulah batas kepuasan yang mereka peroleh...

Sekarang aku mau menerangkan padamu...Pertama, aku memang tak mau mencetak ayam potong karena ayam potong itu umurnya pendek dan manfaatnya dikit, pembelaan diri dari musang pun lemah...aku tak ingin kamu seperti ayam potong. Kayaknya cepat besar dan matang tapi ketika menghadapi tantangan hidup gampang menyerah....

Kedua, jangan menginjak anak-anak ayam karena bila suatu saat ia tumbuh menjadi jago yang unggul, jago kamu akan kewalahan melawannya...seperti itulah kamu harus menghargai junior2mu kelak bila engkau telah menjadi senior....

ketiga, kamu harus mengelus2 kepala dan dada jago itu agar kau ingat, kepala dan dada adalah hal yang berbeda, tapi semuanya harus kau perlakukan dengan lembut. Ilmumu lebih samar dan halus dari intelejen, maka engkau pun harus membiasakan diri berlaku halus seperti itu....bila engkau selalu memperlakukan dengan benar dua hal itu, maka engkau akan menjadi manusia jago tanpa tanding...

Keempat, hidup memang seperti kopi...hitam dan pahit. Tetapi harus kau teguk demi menjaga kesadaran saat peralihan dari gelap ke terang...minadzulumati ilannur...

kelima, sadarilah bahwa hidupmu seperti dukhan...seperti asap...semua akan terbang ke langit, tak terlihat, kosong...wangwung...alias jangan berharap apa2 sampai benar2 ada tanda bahwa engkau harus bangkit menyongsong cahaya, sang fajar....fajar adalah pertemuan malam dan pagi...bertemunya dua lautan...dimana rejeki2 dibagi oleh malaikat...bagai hidupnya ikan mati dalam kantong Musa yang tiba2 melompat ke air...itulah wilayah bertemunya kecerdasan kepala dan hatimu hingga memunculkan hikmah2 tersembunyi

Dan terakhir, ambil pelajaran, teman2mu yang tidak sabar, yang tidak betah hanya mendapat persangkaan-persangkaan ilmu, walau secanggih apapun peradabannya....

Sudah, sudah...kalian semua lulus...boleh pulang! praktekkan dan renungkan di rumah masing2...jangan nginep di sini! lha wong saya sendiri makan aja masih senen kemis kok kamu mau ikut numpang hidup disini...hekekekeks.......

Seperti biasa, Yai Ngewes melanjutkan menikmati kesendirian hidupnya itu sambil rengeng2 nembang....

"
Pithek pithek jago ( ayamnya ayam Jago )

Duhai dambaan rahasia terdalam

Ingon - ingon selo dino ( dipelihara waktu luang )

Yang hanya dapat dijumpai ketika nafsu dan fikiran telah reda

Kanggo konco sing ra biso diganteni rojo brono ( teman yang tak bisa digantikan materi )

Sahabat sejati yang mengajarkan betapa dunia ini debu bagi yang telah tersadar akan langit

Kuku kukuruyuk..... ( berkokok )

Suaranya selalu lantang bila benar – benar kau perhatikan

Ndhemenake suaranae ing wayah sore ( menjelang petang suaranya menentramkan hati )

Setia mengingatkan akan datangnya pergantian jaman kegelapan

Dadi marem ati ngrungo'ake ( hati menjadi tenang mendengarnya )

Beruntung bagi yang berendah hati khusyu' mendengarkan

Dino – dino manggon ning cemoro ( tiap hari bertengger di pohon cemara )

Dari waktu ke waktu selalu berada di puncak tertinggi pohon kehidupan

Suwiwine mekar gagah koyo rojo ( sayapnya mengembang bagaikan kekuasaan raja )

Kegaiban mata air pengetahuannya lebih dari sekedar bentangan timur dan barat

Buntut moncer kerlap – kerlip nggudho moto ( ekor menjuntai mengkilau menggoda mata )

Imbalan kedigdayaan terkadang menggoda menjerumuskan kembali pada kedangkalan

Jalu lancip dadi gaman samber nyowo ( taji yang tajam jadi senjata mematikan )

karena setiap kata adalah kejadian tak terbantahkan

Jagoku jago sing tanpo tanding ( jagoku yang tanpa tanding )

Siapa yang menemukan akan menjadi raja tanpa ruang dan waktu

Jagoku jago sing tanpo banding ( jagoku yang tiada banding )

Jangan kau ucap karena setiap orang takkan pernah sama

Jagoku jago sing tanpo tanding ( jagoku yang tanpa tanding )

Apa yang kau ucap bila hanya kosong

Jagoku sing tanpo banding ( jagoku yang tiada banding )

Apa yang akan kau bedakan bila hanya bertemu Satu


Ramadhan 1427 H

http://padhangjingglang.blogspot.com/2008/07/sawung-menoro.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar