Kamis, 05 September 2013

Dan Tuhan Pun Menangis

Huuu...Allah....Huuu...Allah....Huuu...Allah...Menangislah bila itu membuat kita ingat Allah.... berhentilah bila itu membuat kita lupa Allah....

Malam itu HP berbunyi sebagai tanda sms masuk. Sebuah pesan singkat berbunyi "Aku kok jadi sering menangis yo cak...Hu...Allah.." Dari pesan singkat itu, hati saya menghamili otak dan akhirnya lahirlah tulisan ini. Ehheeemm...

Sering kita menganggap menangis sebagai konotasi kecengengan dan kedukaan. Sehingga kita sering menahan tangis hanya karena sebuah alasan sosial dan pencitraan diri. Padahal kalau kita sadar, menangis adalah gerbang awal menuju terbukanya tabir ruhani.

Dan bukankah fitrah manusia ketika menghadapi kebuntuan hidup sampai tahap paling menthok thok pasti akan menangis ? Sekarang masalahnya tangisan itu hanya terhenti sebatas seremoni ratapan atau akan menjadi tenaga penggerak menuju kekuatan immateriil, ruh yang lepas dari ikatan ruang waktu.

*

Mata sesungguhnya adalah pos ruhani kita. Begitu banyak urusan mata ini dalam dunia spiritual. Ada istilah mata ketiga, chakra ajna, mata hati, mata cahaya, mata sekujur tubuh, mata iblis, bashirah dll.

Untuk mengetahui hal semacam itu bukanlah perkara mudah karena harus memiliki kemauan ritual dan tirakat - tirakat. Tentu, tak semua orang bisa menggapainya.

Maka daripada membahas yang rumit - rumit, kita cukup membahas air mata yang sesungguhnya sangat natural dan mudah terjadi pada semua orang.

Mari merenung sejenak. Saat kita mengalami penderitaan terhebat atau kegembiraan teramat sangat, bukankah air mata pasti hadir di situ ?

Hmhh...jangan lama - lama menyimpulkan, yuk kita simpulkan bahwa berarti air mata adalah sebuah tanda munculnya rasa terdalam. Ya, teramat dalam.....dimana logika - logika kesedihan dan kegembiraan sudah terlampaui dan tak tergambarkan....

Saking hebatnya buraian air mata ini biasanya secara gerak fisik juga ditandai dengan posisi menunduk, bersimpuh, nglesot, ndhlosor, sujud dan sejenisnya...lemes bin lepas gitu loh...

Dan kita tahu bahwa semua perjalanan spiritual dari agama apapun mengalami hal ini. Sebab hal ini adalah fitrah manusia hidup yang memiliki ruh yang berasal dari Tuhan.

Dalam dunia spiritual banyak sekali orang menggunakan tangisan untuk mengantarkan pada ruang kesadaran yang lebih tinggi. Dan ini memang tool ataupun shortcut termudah yang telah dibekalkan Allah kepada manusia untuk membuka gerbang ruhani.

Ketika menangis, mata mengeluarkan air yang sifatnya sebagai suspensi atau peredam getaran hebat nan cepat dari gerakan mata.

Lalu apa hubungannya ?

Mata adalah gerbang dunia. Dengan kecepatan ribuan syaraf geraknya, tiap hari ia menyerap jutaan gambar. Tentu saja gambar itu akan masuk menuju memori kita. Masalahnya, tidak semua gambar yang kita tangkap dapat diingat dan dipelajari. Biasanya pemunculan gambar yang tak sempat termaknai ini akan menyembul di mimpi.

Pemunculan fase tidur mimpi ini biasa disebut Rapid Eye Movement ( REM ) dimana seseorang mengalami penataan - penataan lompatan pikiran dalam otak. Bisa kita lihat pada anak atau istri kita yang lagi tidur terkadang matanya seperti bergerak - gerak kesana kemari. Hal ini berguna agar ketika bangun fikiran terasa fresh kembali.

Masalahnya lagi, kok tiba - tiba jadi fresh tanpa tahu hal apa sih yang sedang ditata atas memori kita ? Padahal pengetahuan penataan inilah yang sesungguhnya membuat kita selalu fresh berfikir tanpa terlebih dulu melewati tidur.

Kembali lagi, salah satu cara mengetahui jawabannya adalah dengan tehnik air mata alias menangis. Runutannya, ketika mata terbasahi oleh air mata, syaraf - syaraf mata menjadi rileks. Hidung mengeluarkan cairan yang disertai toksin - toksin tubuh. Akhirnya sesak dada mengurai, dan jantung pun lega. Otomatis nafas jadi bersih, oksigen menuju otak lancar.

Terus ?

Ketika orang sangat gembira, sangat sedih, sedang berdzikir, tafakur, tidur atau meditasi, pada tahap awal otak menurunkan gelombang dari betha menuju alpha. Perpindahan penurunan gelombang inilah yang menghubungkan alam sadar dan bawah sadar. Dan dua alam ini bisa kita jembatani dengan kesadaran tangisan.

Ya, harus menangis dalam keadaan sadar menangis alias bukan menangis lepas kontrol.

Kenapa beginu ..eh,..begitu ?

Perpindahan dari gelombang betha menuju alpha layaknya seperti pindahnya pesawat ulang - alik menuju lapisan setelah atmosfer. Perpindahan yang penuh guncangan hebat dan harus dilakukan sangat cepat agar pesawat tak terbakar. Pastilah saat kondisi sedemikian panik banyak hal yang terlewatkan.

Kalau dalam urusan tidur, dzikir atau meditasi, pesawat itu adalah mata kita. Dan proses perpindahan atmosfer mata dan otak ini kata orang barat sono disebut REM tadi.

Jadi saat perpindahan itu kita lapisi dengan air mata, maka perpindahan yang super cepat akan menjadi lambat. Otomatis akan tampak link -link, shortcut - shortcut, detail - detail konektivitas penghubung antara kesadaran betha dengan alpha.

Kok Biiiiiisa...?!

Ketika mata digenangi air mata, gerakan mata jadi melambat. Emm...seperti kalau kita lagi berendam di kolam renang itu lho...kan gerakan badan kita otomatis jadi lambat.

Bahkan mata bisa sampai pada tahap tenang tak bergerak sehingga mampu melihat dengan jelas segala kejadian perpindahan antar alam kesadaran. hal ini dikarenakan gerakan kecepatan mata berkorelasi dengan kecepatan asosiasi otak.

He he...kalau gak percaya coba diskusikan hal ini pada dokter mata dan neurolog. Dan semoga ada penelitian korelasi air mata dan terbukanya gerbang syaraf menuju pineal atau God Spot. Titik Ketuhanan.

Analogi mudahnya dalam keseharian, semakin pelan mata melirik, semakin banyak gambar yang dapat kita pikirkan dan nikmati dengan sadar. Tentu dalam hal ini yang melihat bukan lagi mata yang sifatnya indera. Melainkan sifat indera mata. Orang menyebutnya bashirah, yaitu penglihatan yang berpindah ke dalam. Penglihatan tanpa indera layaknya kita bisa melihat segala sesuatu saat mimpi walau mata tertutup.

Kita pun akhirnya bisa memaknai pesan - pesan dalam mimpi kita. Tentu hal ini sangat berguna untuk menghadapi kehidupan esok hari. Kita menjadi manusia yang lebih siap apapun yang terjadi. Susah maupun senang. Menjadi manusia yang benar - benar bermaqam di rukun iman yang keenam. Percaya takdir baik buruk, yang sudah dan belum terjadi.

Jadi, air mata itu sesungguhnya seperti alat slow down pada video player. Sehingga dengan men-slow down-kan kilatan - kilatan persinggungan otak dan mata, kita akan menjadi tahu segala sesuatu yang terlintas sangat cepat. Frame - frame kejadian yang tak terlihat detailnya saat putaran cepat akan menjadi terlihat satu persatu saat dilambatkan dengan air mata.

Tetapi sayangnya, ketika menangis, walau dalam sesi latihan spiritual, kita malah menangis model kalap. Bukannya menggunakan moment itu menuju capaian mutmainah - nafsu yang tenang, eh...malah meraung - raung kayak kuda lumping makan lombok sekilo.... huaaaaaaahh...... huaaaaaaahh.......huwarakadaaaahh.......

Hmmh....seandainya saat seperti itu kita bisa memberi ruang konsentrasi kesadaran akan proses tangisan, pasti secepat kilat kita akan mudah memahami segala kejadian hidup.

Kalau sudah tahu ini, pasti sampeyan pingin sering - sering nangis. Entah dengan cara minta dimarahi ortu, suami, atasan, mengingat neraka atau mungkin dengan cara mengingat - ingat memori indah dengan si dia....eh siapa tahu kelak di surga ketemu lagi...suiiit suiiiiiiiit...........

**

Yah, Air mata adalah cara termudah untuk mengantarkan diri kita menuju pos ruhani setahap lebih tinggi dari kesadaran keseharian. Dan Kanjeng Nabi Muhammad sendiri mencontohkan metode ini. Karena memang hal inilah yang paling bisa dijangkau semua lapisan umat.

Hmh...tapi kalau kita tetap gak bisa menangis, salah siapa hayo ? Jangan - jangan hati kita sudah mati.......hiiiii...seyyeeeemmm....au' ahh...hhgelaaaaapppp.......

Tetapi memang ada sih sebagian orang yang tak lagi menangis dalam hal berdizkir atau meditasi. Karena orang tersebut memang meneruskan perjalanan selanjutnya - mengembalikan nafsu yang sudah tenang mutmainah menuju Sang Pencipta nafsu. Inilah wilayah orang yang sudah ridha dengan segala kejadian hidupnya, baik buruknya.

Sehingga ketika orang tersebut menuju yang tak dapat diserupakan apapun dengan tepat, ia tidak lagi menangis ataupun mengumbar rasa bentuk apapun. Tak ada lagi apa - apa, tak dapat digambarkan, Allah. La ila hailallah....

Ya, sudah tak ada lagi guratan gambar, fikiran dan perasaan pribadi apapun. Sebab menangis masih bagian dari penggambaran diri. Sehingga ketika memandang diri, maka lenyaplah pandangan akan Allah... Ketika Allah lenyap, timbullah keharuan akan perjumpaan. Kangen lagi...nangis lagi.... sujud lagi....

Ya, hidupnya untuk sujud lagi menangis lagi.....mbulet wis.....

Jadi dalam urusan tangis - tangisan ini, tanda bekas sujud bisa kita maknai bahwa orang tersebut hidupnya dalam keadaan penuh tangis sekaligus bahagia full.

Penuh tangis yang berarti kesadaran kekangenan Ilahinya begitu tinggi sekaligus bahagia full karena ikatan - ikatan dunia sudah tak mampu membelenggu dirinya.

Satu langkah lagi ia telah menjadi manusia merdeka....sebab ia selalu mempunyai jawaban atas persoalan hidup. Dalam hatinya selalu bersyukur dan bergembira " Horeeee...gotcha... bisaaaa.....eureka...yes...yes..iiyyyeeesss !!! maturnuwun Gustiiiiii.....Alhamdulillaaaaaaah......."

***

Kalau kita ingat kiasan hadits qudsi yang menyebutkan bila kita mendekat sehasta maka Allah akan mendekat sedepa, bila kita menuju berjalan, Allah akan berlari......maka dapat ditarik garis sepadan bahwa...

" Bila saja kita menitikkan air mata, maka Tuhan pun menangis bahagia menyambut diri kita..."

Tentu saja tangisan itu bukan berwujud buliran air mata. Melainkan limpahan rahmat yang luar biasa. Salah satunya berupa kunci - kunci jawaban dalam menghadapi hidup.

Sehingga sesulit apapun rintangan hidup, kita tinggal ndhoprok, nglesot, ndhlosor bersimpuh di pos ruhani hati tuk menyimak jawaban demi jawaban yang digelar.

Terserah secara fisik kita mau bersimpuh di atas sajadah, sujud di atas batu, ndhlosor di gua ataupun nglesot di emperan toko. Karena yang dibutuhkan adalah kehadiran hati....karena di manapun bumi adalah tempat untuk bersujud...karena bumi adalah unsur tanah dimana asal muasal Adam beserta seluruh umat manusia tercipta.


Maka sujudilah proses kejadian Adam atas tanah ini dengan sujud yang baik. Karena ia adalah dagingmu sendiri.

Dzikirlah dengan merawat pepohonan dan hirup kesegaranya. Karena ia adalah jantungmu sendiri.

Puasalah mengotori sungai - sungainya. Karena ia adalah aliran darahmu sendiri.

Karena alam adalah kendali manusia dan manusia adalah kendali alam. Makrokosmos dan mikrokosmos. Jagad cilik jagad gedhe.

Kemudian berdoalah kepadaKU pada moment menangis, beri ruang kesadaran yang tenang....dan jawabanpun tergelar dengan gamblangnya....

Ya, inilah sejatinya tanah air. Percampuran tanah dan air yang berwujud manusia itu sendiri.

Semoga percampuran yang baik akan mempertemukan kita dengan hidup yang gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibatun warobbun ghofur hingga terbukanya rahmatan lil alamin yang sesungguhnya...

Tak lagi bencana banjir...tak lagi tanah yang marah memuntahkan api...tak lagi hawa yang pengap...seperti negeriku saat ini...

Selamat tahun baru...selamat ulang tahun...selamat apa saja... yang penting siap selamat menangis........Huuuuu......Allaaaaaaah.........


Wassalam, Makmum Gembeng...





Dody Ide



http://www.padhangjingglang.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar