Hidup Adalah Perjalanan
Hidup adalah sebuah perjalanan tiada henti yang mau tidak mau
harus kita lalui. Dari tiada, kita lalu ada, dan kemudian kita kembali tiada.
Kita kecil, besar, dewasa, tua, lalu mati. Kita tidak bisa menahan ketuaan
kita. Dalam setiap langkah perjalanan kita itu selalu ada dua rasa yang berbeda
yang datang silih berganti yang mengisi rongga dada kita. Kadangkala kita
merasakan rasa SUKACITA yang menguasai kita, dan adakalanya pula kita merasakan
rasa DUKACITA yang mewarnai setiap langkah yang kita lalui. Kedua rasa itu,
sukacita dan dukacita, berganti-ganti memenuhi rongga dada kita. Sehingga
kitapun berasa terbolak balik. Ronga dada kita (SUDUR) yang dapat menangkap
keadaan yang bisa berubah-ubah itu disebut QALB (HATI).
Kalau rongga dada kita sudah tidak bisa lagi berubah dari DUKACITA
menjadi sukacita, maka rongga dada kita itu disebut sebagai QALB yang sudah
mati, hati yang keras membatu, hati yang gelap, hati yang buta dan tuli. Rongga
dada yang seperti ini akan SULIT menerima pengajaran-pengajaran dari Allah
berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Biasanya hanya menerima ILHAM tentang KEFUJURAN
yang akan membuat suasana di rongga dada kita semakin gelap dan mati. Inilah
kesesatan atau kesalahan kita dalam memilih jalan yang sangat nyata kata Allah
didalam surat Az Zumar ayat 22.
Sebaliknya, kalau rongga dada kita itu selalu diisi oleh keadaan
SUKACITA yang dari waktu ke waktu selalu bertambah kuat, maka rongga dada kita
itu disebut QALB yang sudah diberi CAHAYA, sehingga rongga dada itu menjadi
hidup, lunak (talinu), lembut, sehingga sangat mudah untuk menerima
pengajaran-pengajaran dari Allah berupa ILHAM tentang KETAQWAAN. Dada yang
mudah sekali diresapi oleh suasana atau rasa IMAN, KHUSYU, SABAR, IKHLAS, IHSAN,
ZUHUD, WARA, TAWAKKAL, RIDHA, SYUKUR, dan lain-lain sebagainya. Suasana atau
rasa yang dari dulu dan sampai kapanpun juga sama keadaannya. Inilah yang
disebut sebagai AYAT-AYAT ALLAH yang nyata dan berulang-ulang disampaikan
kedalam dada kita. Rasa dan suasana yang sudah berulangkali diberikan oleh
Allah kepada orang-orang yang terdahulu, dan juga kepada kita. Keadaan dada
yang seperti ini diindikasikan oleh Allah di dalam surat Az Zumar ayat 23.
Semenjak kita baligh (dewasa) yang berlanjut sampai kita tua dan
mati, sepertinya kita lebih banyak menjalani berbagai peristiwa kehidupan yang
menimbulkan rasa DUKACITA yang dalam di rongga dada kita. Paling tidak ada 6
rasa DUKACITA yang selalu menghiasi jalan hidup kita:
1. Rasa TAKUT yang kadangkala seperti tanpa alasan yang jelas.
2. Rasa SAKIT dalam waktu
tertentu atau rasa sakit yang berkepanjangan
3. Rasa MISKIN yang berkepanjangan.
4. Rasa DILECEHKAN oleh orang lain.
5. Rasa SEDIH yang muncul terus menerus.
6. Rasa TERSIKSA yang sangat pedih tiap sebentar.
Oleh sebab itu, kita ingin selalu berjalan kemana-mana, minta
tolong kesana-kemari, berusaha sekuat tenaga, agar kita bisa mendapatkan 6 rasa
SUKACITA berikut ini selama kita menjalani kehidupan kita, yaitu:
1. Rasa AMAN.
2. Rasa SEHAT.
3. Rasa KAYA
4. Rasa DIHORMATI orang lain.
5. Rasa BAHAGIA
6. Rasa SYURGA yang tanpa siksa dan tanpa kepedihan lagi.
Inilah yang disebut sebagai perjalanan abadi kita. Yaitu
perjalanan dari kecil, besar, tua, lalu mati yang tidak bisa kita tahan dan
hentikan sedikitpun. Dan selama dalam perjalanan kita itu, kita berusaha pula
mendapatkan rasa SUKACITA yang tiada henti-hentinya. Karena kita seperti
ingat-ingat lupa bahwa kita pernah mengalami keadaan SUKACITA yang amat sangat
itu di suatu saat dulu, saat kita berhadapan dengan Allah SWT. Kita ingin mendapatkan
suasana itu kembali. Sehingga kitapun ingin berjalan dan berjalan selama hidup
kita untuk bisa kembali mendapatkan dan menikmati suasana seperti dulu itu di
saat sekarang ini. Setiap saat malah…
Berbagai Macam Perjalanan Ruhani
Dalam artikel ini, kita akan berbicara banyak tentang serba serbi
perjalanan ruhani yang merupakan kajian paling lama menjadi topik perbincangan
umat manusia di seluruh dunia. Topik yang mampu melintasi zaman, ruang, dan
waktu untuk sampai kepada kita sekarang ini. Tapi nampaknya perbincangan ini
hampir selalu saja menuai pro dan kontra, debat kusir yang tak kunjung selesai,
baik bagi orang-orang yang berbeda agama maupun bagi orang-orang yang beragama
sama. Dalam penganut agama Islam sendiri, topik perjalanan ruhani ini telah
menciptakan friksi yang sangat tajam setajam pisau silet. Menyayat-nyayat
persatuan umat Islam tanpa ampun.
Akar masalah dari adanya debat kusir ini sebenarnya hanya satu,
yaitu dalam belajar kita saling tidak mengerti dan tidak sampai pada kepahaman
yang benar, sehingga kita pun saling tidak bisa pula mengamalkannya dengan
benar. Kita saling tidak paham satu sama lainnya. Itu karena kita masing-masing
belajar kepada orang yang tidak paham dan tidak mengamalkannya seperti apa yang
diinginkan oleh Allah di dalam Al Qur’an. Itu saja kok akar permasalahannya.
Makanya Allah sangat marah didalam Al Quran kepada orang-orang
yang mengatakan atau mengajarkan kepada orang lain apa-apa yang sebenarnya
tidak dia pahami dan tidak dia alami sendiri terlebih dahulu sebelumnya. Ini
berlaku terutama untuk hal-hal yang berkenaan dengan IMAN, KHUSYU’, IHSAN, dan
masalah-masalah lainnya yang berhubungan dengan sebuah KEADAAN yang ada didalam
dada kita. Karena Allah sendiri mengatakan bahwa kalau kita ingin berbicara
tentang IMAN, maka iman itu, terlebih dahulu, harus sudah masuk ke dalam dada
kita, berupa cahaya yang menerangi. Dan setelah itu akan ada keadaannya, ada
suasananya, ada realitasnya.
Nah…, yang dikatakan da’wah itu adalah bahwa kita sedang bercerita
tentang keadaan dan suasana yang ada di dalam dada kita sendiri, bukan apa yang
ada di dalam otak kita berupa hafalan-hafalan terhadap berbagai
hukum-hukum-hukum dan ilmu-ilmu Islam, hafalan ayat-ayat Al Qur’an dan Al
hadist, sejarah-sejarah orang terdahulu, doktrin-doktrin, dan sebagainya. Sebab
kalau kita hanya sekedar menyampaikan hal-hal seperti ini, itu namanya kita
sedang bercerita diluar kepala kepada orang lain tentang istilah-istilah agama.
Karena Allah sendiri yang menyatakan bahwa Al Qur’an yang
sebenarnya itu adalah apa-apa, keadaan apa, suasana apa yang sedang ada di
dalam dada kita saat ini.
Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yg nyata di dalam dada
orang-orang yg diberi ilmu. Dan tak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali
orang-orang yang zalim. (Al Ankabut 49).
Karena memang suasana yang ada di dalam dada kita itu tidak pernah
berbohong. Misalnya, kalau kita kafir kepada Allah, maka suasana di dalam dada
kita itu pas kafirnya, sehingga kita bisa dengan lantang berkata: “ah…, saya
nggak percaya tuh”. Atau, kalau kita ragu-ragu kepada Allah atau kepada
siapapun, atau apapun juga, maka suasana di dalam dada kita juga pas
ragu-ragunya, sehingga kita bisa berbicara dengan penuh ekspresi: “kok saya
ragu ya ?, bagaimana dong”. Atau, kalau kita berbahagia, maka suasana di dalam
dada kita juga pas bahagianya, sehingga kita bisa berbicara dengan mata
berbinar-binar: “Duh…, hari ini saya sangat berbahagia sekaliiiiiii…”. Kita
seperti ingin menceritakan kepada siapapun juga tentang kebahagiaan kita itu.
Bahagia itu benar-benar sudah ada terlebih dahulu didalam dada kita dengan
sangat padat dan kuatnya.
Begitu juga dengan keadaan-keadaan lain yang menandakan bahwa kita
ini telah beriman kepada Allah. Iman itu sudah ada terlebih dahulu muncul dan
berkembang di dalam dada kita, sehingga keadaan-keadaan lainnya, sebagai
ciri-ciri dari seorang yang beriman, kemudian bermunculan di dalam dada kita.
Misalnya muncul keadaan Taqwa, Sabar, Ihsan, Ikhlas, suasana Zuhud, Taubat, dan
sebagainya. Semua kata-kata yang kita ucapkan itu bermuara dan berujung pada
sebuah keadaan yang khas yang sedang ada di dalam dada kita. Kata-kata kita
itupun hanya sekedar meloncat saja keluar dari ujung lidah kita. Kitapun
kemudian bisa berkata-kata tentang suasana macam apa yang ada di dalam dada
kita, sehingga kita tidak lagi dicap sebagai seorang yang munafik.
Hanya orang-orang yang diberi ilmu oleh Allah lah yang akan bisa
membaca suasana macam yang sedang ada di dalam dadanya, kemudian dia tahu pula
suasana macam apa yang seharusnya dia masuki. Sehingga dengan seketika, dia
bisa merasakan perubahan suasana dadanya yang awalnya bersuasana munafik, atau
tidak beriman, kemudian berubah menjadi dada orang beriman. Dan setiap
perubahan itu bisa terjadi karena dia segera datang kepada Allah, untuk minta
ampun, dan minta dituntun oleh Allah untuk kembali memiliki suasana dada orang
beriman seperti yang dimiliki oleh Rasulullah, Sahabat-sahabat Beliau dan
Wali-wali Allah. Makanya kalau kemudian berkata-kata, dia hanya akan bercerita
tentang kehebatan Allah yang merubah suasana kekafiran dan kemunafikan yang ada
di dalam dadanya, menjadi dada yang beriman dan yang diberi cahaya oleh Allah
sendiri.
Bagi
orang yang tidak diberi ilmu, dia tidak akan bisa merasakan perubahan-perubahan
suasana yang ada di dalam dadanya setiap saat. Karena dada orang yang tidak
beriman kepada Allah itu keadaaanya adalah seperti batu hitam yang sangat
keras. Dadanya telah mati, keras, dan membatu. Suasana di dalam dadanya tidak
bergeming sedikitpun ketika dia membaca nama Allah, membaca ayat, ayat Al
Qur’an, mendirikan shalat, berdzikir, dan sebagainya. Dada yang seperti itu
sebenarnya sangat berat sekali menekan dan membebaninya. Dia membawa-bawa beban
itu kesana-kemari setiap saat. Itu capek sekali rasanya. Ketika dia
berkata-katapun, ujung-ujung perkataannya tidak akan jauh-jauh dari
memperkatakan kesulitannya, penderitaannya, kegalauannya, kesakitannya,
ketersiksaannya, problematikanya. Tidak jauh-jauh dari sana.
Jadi
yang akan membedakan kita satu sama lainnya hanyalah tentang SUASANA seperti
apa yang sedang mekar dan berkembang di dalam dada kita saat ini. Bisa tidak
kita untuk membaca suasana yang ada di dalam dada kita itu. Kemudian bisa tidak
kita untuk membaca setiap perubahan yang terjadi di dalam dada kita setelah
kita melakukan sesuatu aktifitas.
Nah…,
cerita-cerita kita kepada orang lain nantinya tidak akan jauh-jauh dari itu.
Kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita dahulu kala
(kemaren-kemaren) dibandingkan dengan suasana sekarang. Kalau ada perubahan,
perubahannya itu seperti apa, dan bagaimana sejarahnya sampai kita bisa
mendapatkan perubahan itu. SEBAB berubahnya kenapa, dan CARANYA bagaimana?.
Kalaupun tidak ada perubahan, kita juga akan bercerita tentang tidak berubahnya
suasana hati kita itu, walau kita sudah melakukan berbagai hal dan bermacam
cara. Kalau masalah cara bercerita kita dan pemilihan kata-kata kita, itu sih
hanya tergantung kepada seberapa banyak perbendaharaan kata kita, ilmu kita,
dan pengalaman kita. Itu tidak terlalu penting sebenarnya.
Suasana
yang ada didalam dada kita itulah yang disebut sebagai ayat-ayat Allah yang
sebenarnya. Ayat-ayat Allah yang NYATA. Ayat-ayat yang tidak pernah bohong.
Kalau kemudian kita berkata-kata, tapi perkataan kita itu tidak sesuai dengan
keadaan yang sedang mekar di dalam dada kita, maka dengan sangat pas kita bisa
menghakimi diri kita sendiri: “Ah…, kayaknya saya bohong deh…”. Dan rasa
bohongnya itu pas sekali. Dan saat kita berbohong itu, Al Qur’an menyebut kita
sebagai orang yang zalim. Kita zalim terhadap diri kita sendiri. Kita menyakiti
diri kita sendiri. Karena rasanya memang sakit sekali, seperti di palu begitu
rasanya dada kita. Kalau sampai tidak terasa, ya nggak apa-apa…
Jadi
da’wah itu lebih cocok dikatakan sebagai aktivitas kita untuk menyampaikan
keadaan yang muncul atau sedang ada di dalam dada kita setelah kita menjalankan
sebuah praktek agama Islam, misalnya shalat, membaca Al Qur’an, puasa, zakat,
sedekah, haji, dan sebagainya. Kemudian kita mengajak orang lain untuk singgah
sejenak guna menikmati suasana seperti yang ada di dalam dada kita itu. Hanya
mengajak singgah saja. Bukan memaksa orang lain agar mereka mau ikut dengan
kita.
Dan
untuk pembanding antara apa yang kita dapatkan dengan apa yang kita lakukan
itu, petanya cukup dua saja, yaitu Al Qur’an dan Al Hadist. Jelas kok peta
suasana dada kita yang digambarkan oleh Al Qur’an dan Al Hadist itu. Kita tidak
perlu mencari-cari peta yang lain. Saat Al Qur’an berkata: kalau kita shalat,
hasilnya begini…, begitu…, dada kita lapang, kita bahagia, lalu ketika kita
shalat ternyata kita tidak bahagia, maka berarti shalat kita itu masih salah.
Simple sekali.
Oleh karena itu, da’wah akan sangat berbeda dengan cara-cara
motivasi yang disampaikan di dalam training-training hipnosis yang sangat
banyak ditawarkan kepada kita saat ini. Training seperti itu bisa dilakukan
oleh semua orang tanpa memandang apapun agamanya. Bahkan orang yang nggak jelas
agamanyapun bisa menyampaikan kata-kata hipnosa tertentu kepada kita, dan itu
ada hasilnya. Da’wah itu juga sangat berbeda dengan pengajian-pengajian olah
emosional yang di dalamnya bisa membuat orang yang sebelumnya sakit menjadi
sehat, membuat orang-orang yang tadinya galau menjadi sumringah, membuat
pesertanya saling bertangis-tangisan. Dan jebakan kedua-duanya, baik training
hipnosis maupun pengajian-pengajian mengolah emosi seperti itu seolah-olah ADA
HASILNYA. Biasanya suasana di dalam dada kita sejenak bisa agak LONGGAR dari
biasanya.
Nah…,
kalau saat itu kita bercerita dan berkata-kata, kita tidak akan jauh-jauh dari
suasana yang ada didalam dada kita sekarang. Cara bercerita kita bisa
bermacam-macam. Berikut ini kita akan melihat beberapa cerita yang sedang
menjadi TREND ditengah-tengah masyarakat, sehingga banyak pula diantara kita
yang ingin ikut-ikutan melakukannya. Seakan-akan hal seperti ini sudah
merupakan jalan keluar dari rasa DUKACITA yang kita alami selama ini sehingga
kemudian kita bisa merasakan rasa SUKACITA dalam bentuk rasa bahagia, rasa
aman, rasa sehat, rasa kaya, atau rasa dihormati.
Misalnya,
“Tadinya
saya sakit, galau, marah, sedih, gelisah. Kemudian saya ikut hipnoterapi, saya
di hipnotis. Atau saya ikut pengajian anu, saya datang kepada ustad ini dan
disuruh berdzikir, lalu sakit saya berkurang, galau saya hilang, marah saya
lenyap, sedih saya terobati. Saya menjadi tenang dan berbahagia. Hebat deh
instrukturnya, ustadznya keren habis”.
Atau,
“tadi
itu saya bermasalah, kemudian saya lepaskan diri saya dari masalah itu, saya
lupakan, saya terima, dan ndilalah masalah saya itu selesai dengan sendirinya
dengan cara-cara yang tak terduga, saya benar-benar merasa bahagia saat itu,
saya “terhipnotis” dengan hasilnya, dan berbagai istilah lainnya”.
Atau,
“ketika
tadi saya ingin melakukan sesuatu, ternyata disitu saya harus antri yang sangat
panjang. Kemudian saya akses “getaran” dan saya katakan saya akan bisa segera
melakukan aktifitas saya tanpa ikut antrian. Tiba-tiba antrian itu seperti
terurai sehingga sayapun bisa melakukan aktifitas saya dengan sangat mudahnya,
tanpa ikut antrian”. “Hebatkan?, siapa yang mau belajar hayoo..?”,
Atau,
“tadinya
saya adalah seorang yang penakut, saya sebenarnya mendambakan rasa aman dari
semua gangguan dimanapun saya berada. Kalau ada musuh yang menggangu, saya
ingin musuh saya itu bisa terjengkang dan jumpalitan tanpa saya sentuh
sedikitpun. Lalu saya datang kepada si “A”. Setelah perut saya di “gores”-nya
sedikit dengan tangannya (di inisiasi, di isi atau attunement) kemudian saya
uji coba kepada beberapa orang yang ada disitu, benar lho…!. Para penyerang
saya itu benar-benar bisa terjengkang dan jumpalitan. Jadi sekarang saya tidak
pernah takut lagi kemana-mana. Karena saya sudah punya ilmu kontak ini”.
Atau,
“tadinya
saya seperti nggak habis-habisnya dirundung malang. Saya sangat miskin. Rejeki
saya seperti mandeg. Kemudian saya ikut sebuah pelatihan tentang Magnet Rejeki
atau cara-cara lain seperti Bersedekah. Saya ikuti metodanya. Saya bayangkan
saya bisa menarik Rejeki itu, atau saya perbanyak bersedekah. Eh iya lho,
alhamdulillah, rejeki saya sekarang jadi sangat mudah”. Sehingga setelah itu
kitapun bisa berpromosi agar orang lain bisa pula melakukan apa-apa yang kita
lakukan: ” Coba deh anda ikut pelatihan Magnet Rejeki itu atau bersedekahnya
diperbanyak. Pasti anda juga akan mengalaminya. Eh insyaallah maksud saya”.
Atau,
Kalau
kita sudah hebat, kita bisa berkata:
“Saya
itu bisa mengobati penyakit. Supaya tidak dianggap sombong kita tambahkan
sedikit kalimat “alhamdulillah”, atas izin Allah. Pernah orang datang kesaya,
kelihatannya dia sakit, stress. Kemudian saya coba menyembuhnya. Saya
konsentrasi, saya kirimkan beberapa getaran kedalam tubuhnya. Sampai dia itu
keter-keter, melotot-melotot, dan kadang-kadang muntah-muntah. Saya minta jin
atau makhluk halus yang ada di dalam tubuhnya untuk keluar. Di bergetar-getar
dan muntah-muntah. Setelah getarannya hilang, kemudian dia menjadi tenang.
Siapa yang mau belajar ke saya?”.
Atau
kesaksian atas keberhasilan seseorang atas sebuah metoda hipnotis sbb:
“Tuan
XYZ, saya mengucapkan terimakasih, sudah puluhan tahun saya belajar hipnotis,
tapi baru kali ini saya paham dan menjadi percaya diri dan langsung bisa….Salam
hormat tuan XYZ yang sangat hebat….Saya mohon ijin untuk mengajarkannya kepada
orang lain”
Tuan.
P, dari sebuah Kota
“Sekarang
saya menjadi pribadi penuh percaya diri seperti Rajawali sakti….Saya sudah
frustasi awalnya, belajar hipnotis di hotel mewah dengan biaya mahal dan diajar
oleh pakar hipnotis terkenal, tapi tidak bisa, tapi melalui modul sederhana XYZ
sekarang saya gagah perkasa menghipnotis orang tiap hari minimal 10, bahkan 40
orang perhari….Hidup Hipnotis!….
Mr.
X, dari sebuah kota.
“Pak
XYZ, saya hanya ingin memberitahukan melalu SMS ini dan berterimakasih
sebesar-besarnya bahwa saya sudah bisa menghipnotis dengan mudah….”
Mr.
X, di S
“Dulu
saya waktu kecil saya sempat ingin belajar hipnotis, tapi dilarang oleh orang
tua, ternyata sekarang saya bisa menghipnotis orang dengan mudah melalui paket
pembelajaran dari anda, terimakasih wawasan saya jadi terbuka lebar!”
Mr.
X, di A
“Saya
sudah puluhan tahun mengajar prana dan tenaga dalam, dan ikut pelatihan
hipnotis berkali-kali, tapi saya baru mendapatkan kejelasan dan pencerahan
melalui Bapak XYZ, terimakasih…
Mr.
X, Guru Besar perguruan esoterik di S
“Tuan
saya rata-rata perhari menghipnotis 20 orang, di mana saja, di pura, di pasar,
di manapun….Sangat seru….Terimakasih Tuan…..”
Mr.
X, di K
BAnyak kok iklan seperti ini bertebaran di dunia maya atau di
berbagai surat kabar dan majalah.
Atau
bisa kita katakan kehebatan kita dengan agak lengkap seperti berikut:
“Bagi
siapapun yang punya:
Hambatan
emosi seperti: Depresi / Trauma, Phobia, Sulit tidur, Mudah Marah, Tersinggung,
Dendam lama, Perselingkuhan, Tidak Percaya Diri berbicara di depan Publik,
kecanduan Obat Terlarang.
Atau
hambatan Fisik seperti: Sakit kepala / Migrain, Nyeri Punggung, Maag Akut,
Kanker, Penyembuhan pasca stroke, Hypertensi, Asma, Vertigo, Sakit Jantung,
dll.
Atau
Masalah Keluarga: Rasa kecewa karena pasangan / istri / suami / anak tidak
bersikap seperti yang diharapkan; Rasa terlalu posesif atau protektif yang
tidak produktif, Rasa takut kehilangan, Hilangnya romantisme atau rasa cinta;
Ingin (dan bernafsu untuk) selingkuh.
Atau
Masalah Anak: Hiperaktif, Ngompol (enuresis), Gagap, Autis, Suka Berbohong,
Pemalu, Gangguan Konsentrasi Belajar /Prestasi belajar rendah, Mudah Emosi
(perasaan takut, cemas, Marah, sedih, dll), Anak & Remaja Membangkang, Suka
Memberontak, Manja & Sangat bergantung dengan orang tua, Anak yang tidak
mau menurut, Mudah tersinggung, Cemburu yang berlebihan, dll.
Atau
ingin menghasilkan Kinerja Unggul: Pelayanan Prima terhadap Pelanggan, Prestasi
penjualan yang mengesankan, Tingkat produksi yang tinggi, Ide-ide kreatif
inovatif, Budaya kerja yang efisien, Karyawan Lebih Puas, Lebih Loyal, Menerima
kondisi yang ada dsb.
Atau
banyak lagi hal-hal negative lainnya yang sering disebut sebagai penyakit
masyarakat.
Maka
datanglah ketempat saya, ketempat pelatihan saya, ketempat training saya.
Karena saya punya gabungan banyak metoda untuk memperbaiki bahkan menghilangkan
semua penyakit masyarakat itu. Yaitu:
7. Powerfull Prayer (Spirituality)
8. Provocative Therapy
9. Energy Therapy (EFT)
10. Loving Kindness Therapy.
11. Cognitive Therapy (NLP)
12. Behavioral Therapy
13. Logotheraphy
14. Psychoanalisa
15. Self Hypnosis (Ericksonian)
16. Sugesty & Affirmation
17. Visualization
18. Gestalt Therapy
19. Meditation
20. Sedona Method
Sehingga
saya menjamin anda akan sehat, unconditional bahagia, meraih sukses,
keberuntungan, keberhakan, hidup yang mulia, berguna bagi orang lain. Saya
garansi. Lihatlah beberap tokoh penting memberikan testimoninya tentang saya”.
Demikianlah
kita akan bercerita tentang suasana yang ada di dalam dada kita. Kita bisa
mengungkapkannya dengan berbagai cara. Kita ungkapkan dalam bentuk bahasa
berbagai macam ilmu yang kita punyai, dalam bentuk bahasa kehebatan metoda
kita. Kalau perlu itu kita tambah-tambahi dengan ucapan-ucapan dzikir dengan
menyebut nama Allah, biar umat islam yang ingin mengikutinya bisa percaya bahwa
itu adalah sebuah cara yang sangat islami. Bahkan kemudian ditambahi pula
dengan acara-acara pengajian, shalat, baca al qur’an. Sungguh islami sekali
kelihatannya. Sehingga banyak pula orang yang tertarik dan melatihnya dengan
semangat 45.
Yang lebih konyol sebenarnya adalah ketika didalam dada seseorang
sedang ada rasa bahagia, tapi asal rasa itu adalah karena dia baru saja selesai
menonton OVJ, maka ceritanya pastilah tentang kelucuan si S, A, N, A, P, dan
anggota-anggota OVJ lainnya. Ceritanya pas banget. Karena dia memang sedang
bercerita tentang suasana yang ada di dalam dadanya.
Nggak
Nyambung
Oleh
sebab itu, kalau rasa bahagia yang kita rasakan hanya sekelas bahagia OVJ dan
yang sejenisnya, atau rasa bahagia sekelas getaran hipnosa dan yang sejenisnya,
maka ketika kita mencoba untuk bercerita tentang rasa bahagia akibat BERIMAN
kepada Allah, ya nggak nyambung.
Karena
rasa bahagia karena adanya getaran IMAN di dalam dada kita sangat jauh berbeda
dengan rasa bahagia yang kita ciptakan sendiri dengan pikiran kita. Kalau kita
masih nekat juga menyampaikannya, maka saat itu kita akan berhadapan dengan
ayat Al Qur’an dimana Allah sangat marah kepada orang-orang yang menyampaikan,
memperkatakan apa-apa yang tidak ada suasananya didalam dadanya. Hambar.
Sebab
dengan begitu, berarti kita telah ikut pula berperan menyebarluaskan
ketidakpahaman kita itu kepada orang banyak. Jika kita memberitahu dan
mengajarkanya kepada satu jamaah, maka akan menghasilkan sekumpulan orang yang
sama-sama tidak pahamnya dengan kita. Apalagi kalau jamaah kita itu adalah
masyarakat luas yang ada disebuah negara atau bahkan di berbagai penjuru dunia.
Alangkah akan mengerikan sekali akibatnya. Ketidakpahaman bertemu dengan
ketidak pahaman lainnya, sehingga yang muncul adalah kelompok-kelompok yang
saling membenarkan dirinya sendiri. Seperti yang terjadi sekarang inilah. Allah
di dalam Al qur’an tanpa ragu-ragu menyatakan bahwa keadaan seperti ini adalah
termasuk musyrik. Ya… MUSYRIK.
“Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui. Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya
serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang MUSYRIK
(mempersekutukan Allah), yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan
mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa
yang ada pada golongan mereka.” , (Ar Ruum 30: 30 – 32)
Namun, ditengah-tengah ancaman Allah seperti itu, sa(ha)ya masih
memberanikan diri untuk menulis ini hanya karena sa(ha)ya sudah menyerahkan
diri sa(ha)ya kepada Allah untuk diapakan saja oleh Allah. Sa(ha)ya hanya
berharap, selama penulisan artikel ini, Allah berkenan memasukkan suasana demi
suasana yang sa(ha)ya tulis itu kedalam dada sa(ha)ya. Ya Allah…, hamba sahaya
bersedia ya Allah…
Dengan
Ijin Allah, Bismillahi Allahu Akbar…
Kita
akan mencoba membuka selapis kulit labirin tipis yang selama ini membatasi
perjalanan kita dalam memahami istilah-istilah mendekatkan diri dan kembali
kepada Allah. Sebab kita sering sekali mendengar bahwa ketika kita sujud di
dalam shalat adalah saat-saat paling dekat antara kita dengan Allah. Begitu
juga setiap kita menjumpai permasalahan segala permasalah hidup, kita diminta
untuk datang kembali kepada Allah. Misalnya dalam ungkapan-ungkapan berikut:
“Wasjud waqtarib…, innalillahi wa inna ilaihi raji’un…, Wa annahum ilaihi
raji’un…, fafirru ilallah…, taqarrub ilallah…, mulaqu rabbihim…, dan
sebagainya”.
Dan
hasilnya adalah, semua permasalahan masyarakat diatas ternyata bisa kita
selesaikan dengan sempurna hanya dan hanya dengan mendekatkan diri kepada
Allah, dan dengan menjalankan syariat dan amalan (aktivitas) seperti yang telah
dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, yang puncaknya adalah SHALAT.
Kita
akan membahasnya dalam perspektif sebuah perjalanan yang kita tempuh agar kita
bisa keluar dari segala permasalahan masyarakat diatas yang mungkin saja
beberapa bagiannya sedang kita hadapi. Kita akan lihat perspektif perjalanan
seperti apa yang kita lalui kalau kita memakai belasan metoda seperti diatas,
dan perjalanan yang bagaimana pula yang akan kita lalui kalau kita memakai satu
metoda saja, yaitu metoda perjalanan Spiritual untuk mendekatkan diri kita
dengan Allah dan kembali pulang kesisi Allah. INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI
RAJI’UN.
Karena
sebenarnya pada setiap diri kita ada sebuah keadaan yang terjadi dimana ada
wujud yang selalu ingin mendekat dan kembali kepada Wujud lain yang sangat
didambakannya. Ada sebuah kerinduan yang amat sangat dari wujud yang ingin
mendekat dan kembali itu kepada Wujud yang ingin didekati dan didatanginya.
Kerinduan itu seperti sebuah kerinduan yang abadi. Kerinduan butir-butir air
untuk pulang ke samudera luas. Kerinduan yang menggema melampau zaman.
Dilain
pihak, Wujud yang dituju dan yang didatangi itu tak henti-hentinya memanggil…,
dan memanggil… “Datanglah kepada-Ku…, Kembalilah kepada-Ku…”. Panggilan itu
ditujukannya kepada wujud yang memang seharusnya sesering mungkin datang
mendekat dan kembali kepada-Nya. Panggilan itu seperti sebuah panggilan
kerinduan seorang ibu kepada anaknya, agar anaknya berlari mendekat dan kembali
kepada sang ibu. Karena sang ibu telah menyiapkan sepotong makanan dan segelas
air pelepas lapar dan dahaga kesukaan si anak.
Sementara itu, sang anak kadangkala entah sedang berada dimana.
Dia seringkali sedang berlari kesana kemari menikmati mimpi-mimpi indahnya
tentang hidupnya sendiri. Tatkala ibunya memanggil, suara ibunya seringkali
hilang ditelan tiupan angin. Akhirnya sang bu hanya bisa mendesahkan
panggilannya untuk anaknya, “Nak…, pulanglah, datanglah, mendekatlah…”. Dan
desahannya itupun mengalir bersama angin…
BERJALAN
DIANTARA BEBATUAN.
Berikut
ini kita akan belajar bersama-sama tentang makna dari sebuah perjalanan. Apa
yang dimaksud dengan berjalan, perjalanan, halangan-halang dalam sebuah
perjalanan, dan yang lebih penting lagi adalah apa dan siapa yang berjalan,
serta kemana dan kepada siapa yang berjalan itu pergi.
Nanti
kita akan melihat apakah kita selama ini berjalan seperti yang dilakukan oleh
seorang yang melakukan gerakan pantomim. Dimana kelihatannya saja kita telah
berjalan, akan tetapi sebenarnya kita masih berada ditempat yang sama. Kita
berjalan ditempat.
Atau
boleh jadi kita sudah berjalan, tapi perjalanan kita itu masih bolak balik dari
tempat awal kita bergerak kemudian kita kembali lagi ketempat awal kita
bergerak tadi. Itu kita lakukan karena didepan kita ada halangan yang
menghalangi kita untuk melanjutkan perjalanan kita. Halangan itu bisa saja sebuah
batu besar yang menghalangi jalan kita, atau jalan yang akan kita lalui
jembatannya putus.
Atau
bisa pula kita kelihatannya saja sudah berjalan dan berjalan. Bahkan perjalanan
itu kita rasakan sudah sangat jauh dan kita lakukan dalam waktu ang sangat lama.
Tapi perjalanan kita itu masih seperti bergerak dari satu tempat ketempat yang
lain yang kelihatannya saja berbeda tapi sebenarnya tempatnya masih mirip kalau
tidak mau dikatakan sama. Yang kita temukan ditempat yang baru itu masih sama
keadaannya dengan tempat-tempat yang kita lalui sebelum- sebelumnya. Cuma
bedanya hanyalah di asesorisnya saja.
Sehingga
kita dengan cepat merasa bosan dengan tempat yang baru kita kunjungi itu. Kita
ingin melanjutkan perjalanan kita ketempat yang lain. Karena ternyata jalan
masih terbentang jauh didepan kita. Tapi sejauh apapun kita berjalan, yang kita
temukan hanyalah tempat-tempat yang cepat sekali membuat kita bosan. Kalau
keadaan kita seperti ini, perjalanan kita disebut sebagai perjalanan yang belum
sampai ketempat tujuan kita yang sebenarnya. Kita masih bergerak dari satu
tempat ketempat yang sama dengan tempat kita yang sebelumnya, cuma alamatnya
saja yang berbeda. Misalnya kita bergerak dari Jakarta ke Bandung. Alamatnya
memang berbeda, tapi suasananya dan apa-apa yang kita temukan di kedua tempat
itu tetap sama saja. Itu lagi, itu lagi. Membosankan.
Perjalanan
yang kita lakukan seperti itu seakan-akan membawa kita melewati jalan yang
penuh dengan bebatuan. Kadang-kadang kita bisa tersandung, kadang-kadang kita menginjal
batu kerikil, kadang-kadang jalan kita benar-benar terhalang, , sehingga kita
harus mengambali jalan memutar, atau untuk beberapa saat kita terpaksa kembali
kesuatu tempat pemberhentian sementara sekedar untuk menarik nafas sejenak,
agar kemudian kita kita bisa melanjutkan perjalanan kita untuk sampai ketujuan
akhir perjalanan kita yang alamatnya sendiripun kita juga lupa-lupa ingat.
Kita
sangat rindu untuk pulang. Namun kendaraan yang kita pakai ternyata salah.
Kendaraan yang berjalan dengan sangat perlahan. Kendaraan yang tidak akan
pernah mampu untuk membawa kita sampai ketujuan kita. Dan jalan yang kita
lewatipun ternyata salah pula. Jalan yang penuh liku dan bebatuan. Sudahlah
begitu, peta yang kita pakai untuk menemukan tujuan akhir kita itu juga peta
yang tidak lengkap, tidak utuh, kumal, dan tidak jelas. Sehingga kita hanya
bisa melihat secara samar-samar jalan yang akan kita lalui dan
rintangan-rintangan yang ada disepanjang perjalanan kita itu. Dan ketika kita
bertanya kepada seseorang, kita bertanya kepada orang yang tidak tahu, kepada
orang yang juga belum pernah sampai ditempat yang akan kita tuju itu.
Selama
dalam perjalanan itu, kita memang dihadapkan dengan berbagai fenomena an
keadaan. Kita punya pengalaman yang bisa kita nikmati dan rasakan. Kita bisa
menceritakan pengalaman sepanjang perjalanan kita itu. Begitu juga dengan orang
lain. Ya…, setiap orang bisa pula bercerita pengalaman yang mereka alami. Dan
lucunya kita juga ingin mengalami hal-hal yang mereka alami itu. Padahal mereka
belum tentu sampai ke alamat yang seharusnya dituju oleh seluruh umat manusia.
Sehingga kitapun sibuk bercerita fenomena demi fenomena sepanjang perjalanan
kita dan perjalanan banyak orang yang lainnya. Kita jadi lupa untuk berjalan
kerumah kita yang sebenarnya. Kita melakukan hal seperti itu secara
berulang-ulang dari hari ke hari, dari tahun ke tahun. Sehingga akhirnya kita
menganggap bahwa yang kita lakukan itu sudah benar adanya.
Itulah
yang akan kita bongkar sekarang ini. Alamat RUMAH kita yang akan kita tuju ada
DIMANA. JALAN yang tercepat dan KENDARAAN yang bisa kita pakai untuk sampai
kerumah kita seperti apa. PETA yang bisa kita pakai apa. PENUNJUK jalan yang
bisa kita tanya ketika kita merasa ragu dan tersesat SIAPA. Kita bisa MENIRU
dan MENAULADANI siapa, sehingga kita bisa mencontohnya habis-habis. Dengan
begitu kita juga bisa mengalami fenomena yang sama dengan orang yang kita
contoh dan tauladani itu. Fenomenanya pasti sama. PASTI. Kalau tidak sama
berarti orang yang kita contoh dan tauladani itu adalah orang yang salah.
Nanti
akan kita lihat perbedaan yang sangat kentara antara Rasulullah Muhammad SAW
dengan siapapun juga yang dianggap hebat diseluruh dunia saat ini ataupun
dimasa-masa lalu. Karena Hasil yang Beliau alami PERSIS sama dengan Rasul-Rasul
Allah terdahulu. Bedanya hanya dalam hal RISALAH dan PRAKTEKNYA.
Beda
risalah yang Beliau bawa dengan risalah yang dibawa oleh Nabi-nabi terdahulu
adalah dalam hal KECEPATAN untuk mendapatkan suasana kembali berada DISISI
ALLAHNYA. Cepat, secepat kilat. Makanya Risalah Nabi Muhammad SAW bisa disebut
sebagai Risalah yang paling lengkap dan Paling Sempurna. Kita akan lihat nanti
Rahasia perbedaannya. Dan jalan itu pulalah yang dicontoh oleh Para Sahabat
Beliau dan wali-wali Allah sepanjang zaman.
Pulang
ke Rumah
Kita,
siapapun, pasti punya kerinduan untuk kembali pulang kerumah kita untuk bertemu
dengan orang tua kita. Terutama dengan ibu kita. Entah kenapa, kita ingin
kembali kerumah asal kita untuk bertemu kembali dengan sebuah keadaan yang dulu
pernah kita rasakan tatkala kita begitu dekat dengan ibu kita. Ada suatu
keadaan yang membuat kita selalu rindu untuk pulang kerumah untuk bertemu
kembali dengan ibu kita. Walaupun ibu kita sudah meninggal, tapi suasana
kedekatan dengan beliau masih dapat kita rasakan dengan intensitas yang sama
sama dengan suasana tatkala beliau masih hidup ketika kita sampai dirumah
dimana kita dilahirkan dan dibesarkan.
Ketika
sampai dirumah, kita bertemu dengan beliau, ibu kita, seketika itu juga ada
sebuah rasa haru, rasa bahagia, rasa tenang dan damai yang mucul dari dalam
dada kita tatkala kita melihat wajah beliau, melihat mata beliau, melihat
senyum beliau. Ketika beliau memanggil kita, nak…
Suasana
ketika kita berjalan pulang untuk menemui ibu kita itu tidak sedikitpun
melelahkan kita. Sejauh apapun perjalanan kita, rasanya ibu kita itu begitu
dekatnya dengan kita. kita seperti terhubung sangat dekat dengan beliau.
Hubungan yang sangat halus, bukan hubungan jasmaniah. Kerinduannya nyata,
bahagianya nyata, ingin segera betemunya nyata.
Perjalanan
kita pulang untuk bertemu dengan ibu kita seperti ini disebut sebagai perjalan
yang kembali kealamat kita yang sebenarnya di dunia ini. Perjalan pulang sampai
ke rumah kita yang ternyata disana ada ibu kita yang selalu merindukan kita,
yang selalu menyiapkan makanan, minuman, sampai kepada hal-hal terkecil yang
bisa membahagiakan kita.
Disuatu
saat dulu, kita pernah merasakan betapa kita begitu bersemangatnya untuk
melakukan suatu aktifitas dimana orang tua kita saat itu tersenyum bangga
melihat aktifitas kita itu. Senyuman beliau begitu membangkitkan semangat kita.
Sorot mata kekaguman beliau begitu memberikan energi yang berlipat ganda bagi
kita. Usapan lembut beliau seperti memacu keinginan kita yang mulai mengendor
agar kira bisa melanjutkan aktifitas kita sampai ada hasilnya.
Saat
kita takut, kita segera datang kepelukan beliau. Seketika itu juga seperti ada
sebuah rasa aman yang mengalir ke dalam dada kita. Semua manusia akan bisa
menceritakan rasa itu tanpa kecuali. Sehingga dengan begitu rasa takut kita itu
lenyap tak bersisa. Nikmat sekali rasanya saat kita menyandarkan tubuh kita ke
tubuh beliau. Kita tidak merasa takut dan khawatir. Kita tidak cemas, sehingga
kitapun bisa bernafas dengan sangat lega. Longgar sekali rasanya. Kita tidak
sedikitpun khawatir saat kita menutup mata kita, sehingga dengan seketika kita
bisa tertidur nyeyak dipangkuan Beliau.
Nah
perjalanan spiritual juga hampir mirip seperti itu. Karena ketika kita
berbicara tentang sebuah perjalanan spiritual, pada hakekatnya kita sedang
bercerita tentang sebuah perjalanan kita untuk kembali kepada Allah saat ini
juga. Wa innahum ilahi raji’un. Bukan perjalanan setelah kita mati nanti saja,
dimana badan kita telah menjadi bangkai. Tapi bagaimana agar saat ini kita bisa
mengenal kembali jalan pulang kita untuk memenuhi panggilan-panggilan Allah
yang bergema sepanjang zaman: “ya ayyatuhannafsul muthmainnah, irji’i ila
rabbiki…”, yang situasinya adalah seperti Allah memanggil-manggil kita: “wahai
hamba-Ku yang sudah tidak terperangkap lagi dengan hawa nafsumu, bergeraklah
datang kepada-Ku…, datanglah, berlarilah, kembalilah. Kenalilah kembali jalan
pulangmu. Matilah sebelum mati. Karena disamping-Ku telang menunggu
hamba-hamba-Ku yang lain yang akan sama-sama merasakan kesukacitaan yang sangat
tinggi bersamamu”.
Jadi
perjalanan spiritual itu harus ada suasana dimana kita langsung bertemu dengan
Allah. Beda antara perjalanan kita pulang untuk menemui ibu kita dengan
perjalan pulang untuk menemui Allah paling tidak ada 3 hal:
1. Ibu
kita ada wujud fisiknya, sedangkan Allah tidak bisa dilihat dengan mata, tidak
bisa dipindai dengan alat indera kita yang manapun. Allah adalah GAIB, tapi ADA
seperti adanya ibu kita.
2. Kalau
kita pulang menemui ibu kita, selama dalam perjalanan kita mempergunakan tenaga
dan usaha kita sendiri. Sedangkan perjalanan pulang untuk menemui Allah adalah
sebuah perjalanan yang sepenuhnya dituntun dan diperjalankan oleh Allah
sendiri. Effortless.
3. Rasa
yang muncul ketika kita menemui ibu kita adalah seperti rasa yang telah pernah
kita rasakan sebelumnya. Akan tetapi rasa yang muncul saat kita bertemu dengan
Allah adalah rasa diatas rasa-rasa yang pernah kita rasakan sebelumnya. Rasa
diatas rasa. Rasa yang membuat kita ingin berlama-lama dengan-Nya. Rasa yang
bisa bertahan lama. Malah semakin lama kita berada dalam suasana pertemuan itu,
maka semakin tinggi pula intensitas rasa itu. Dalam istilah Al Qur’an keadaan
iman seperti ini disebut sebagai bertambahnya rasa iman kita kepada Allah.
Bertambah dan bertambah setiap saat. Kalau tidak ada pertambahan, kita akan
merasa seakan-akan rasa iman kita turun dari rasa iman kita yang sebelumnya.
Sebab kalau tidak bertambah, pastilah kita akan merasa garing, kosong, tidak
ada respon apa-apa. Sehingga kitapun jadi gelagapan. Galau kata orang sekarang…
Nah…, perumpamaan-perumpamaan ini akan kita pakai untuk memahami
seperti apakah sebenarnya yang disebut sebagai perjalanan ruhani, atau
perjalanan spiritual yang hakiki, dan bagaimana pula yang disebut sebagai
perjalanan spiritual yang salah kaprah. Sebab beda keduanya sangat jelas
sekali, seperti jelasnya perbedaan antara siang dan malam.
Perjalanan
spiritual yang salah kaprah adalah perjalanan kita yang TIDAK sampai DITUJUAN.
Keadaannya persis seperti kita sedang berjalan ditempat atau gerak pantomim.
Atau seperti kita bergerak mundar-mandir dari tempat awal kita berangkat lalu
kita kembali lagi ketempat awal itu. Karena di depan kita ternyata ada
penghalang jalan yang tidak bisa kita tembus. Atau bisa pula seperti kita bergerak
dari satu tempat ke tempat lain, tapi tempat-tempat yang kita lalui itu
hakekatnya sama saja.
Artinya,
spiritual salah kaprah adalah ketika kita menjalankan spiritualitas, ternyata
kita masih belum bergerak ketempat tujuan kita yang sebenarnya. Kita masing
terhalang. Semua halangan yang kita hadapi itu dalam istilah perjalanan
spiritual disebut sebagai BERHALA. Jadi semua berhala pastilah menghambat gerak
kita untuk pulang kerumah kita.
Sedangkan
perjalanan spiritual yang hakiki, adalah sebuah perjalan spirit, atau ruhani
kita yang sudah meninggalkan semua berhala-berhala, sehingga akhirnya kita bisa
berhadapan langsung dengan Allah. Tanpa perantara, tanpa berhala-berhala.
Oleh
sebab itu pada bagian selanjutnya kita akan banyak membahas tentang segala
sesuatu yang bisa menjadi berhala-berhala yang akan menghalangi berjalannya
rohani kita kepada Allah. Apa yang berjalan, dan kemana kita harus menghadap
agar perjalanan kita menuju ke arah yang benar. Itu perlu kita ketahui agar
kita segera menyingkirkannya dari haapan kita. Mari kita bahas satu persatu.
Vibrasi
Alam Vs Vibrasi Iman Kepada Allah
Sesuatu
yang bisa kita kenali melalui alat indera kita (VAKOG) biasanya disebut sebagai
ALAM MATERI dan ALAM ENERGI, yang bisa kita singkat menjadi ALAM saja. Sebaliknya
sesuatu yang TIDAK bisa kita kenali sama sekali melalui alat indera kita
(VAKOG) biasanya disebut alam GAIB, yang bisa pula kita singkat menjadi GAIB
saja. Nanti akan kita bahas bagaimana caranya kita berjalan ke ALAM dan
bagaimana caranya kita berjalan ke GAIB. Apa sebenarnya yang disebut sebagia
percaya kepada yang GAIB itu seperti yang disampaikan Allah didalam Surat Al
Baqarah ayat 3. “Yaitu mereka yang beriman kepada yang GAIB.”
Kita
akan melihat bahwa saat kita bermain-main dengan Alam, baik materi maupun
energi, berarti kita sedang bersentuhan dengan vibrasi-vibrasi ALAM yang sangat
beragam yang bisa kita UKUR. Sebaliknya, saat kita berbicara tentang GAIB, kita
akan bersentuhan dengan satu vibrasi saja yang disebut sebagai vibrasi SPIRITUAL.
Yaitu Vibrasi SPIRIT atau AR-RUH yang berhubungan dengan Allah. Atau vibrasi
IMAN kepada ALLAH.
Jadi
kalau kita ingin berbicara tentang Spiritual, tidak bisa tidak, kita harus
berbicara tentang hubungan GAIB antara Spirit atau Ar Ruh dengan Allah. Dimensinya
adalah dimensi getaran Ar Ruh, bukan dimensi getaran-getaran Alam.
Nah…,
dalam pembahasan kita nanti, kita akan banyak membahas perbedaan antara
pengaruh getaran-getaran Alam dengan pengaruh getaran Iman kepada Allah
terhadap diri kita. Sebab keduanya itu akan membedakan apakah kita ini seorang
yang musyrik, kafir, munafik, atau kita ini benar-benar telah menjadi seorang
yang bertauhid kepada Allah. Penting sekali sebenarnya.
Vibrasi Alam…
Alam,
termasuk tubuh kita sendiri, yang berisikan berbagai energi dan materi ini,
sebenarnya adalah kumpulan dari berbagai bentuk getaran atau vibrasi yang
bergetar dengan frekuensi tertentu. Jadi semua materi dan energi yang ada di
alam semesta ini tak lebih dan tak kurang hanyalah kumpulan vibrasi atau
gelombang-dengan berbagai ukuran atau frekuensi tertentu saja. Sebutlah materi
apa saja, mulai dari bintang dengan ukuran super bintang sampai dengan partikel
berukuran super foton (jika ada), itu semua tak lain adalah perpaduan dari
berbagai bentuk gelombang dengan berbagai frekuensi yang berbeda saja.
Untuk
mengetahui rahasia dari perilaku energi dan materi yang ada dialam ini, kita
telah dibekali oleh Allah dengan alat Indera kita (VAKOG). Misalnya, sesuatu
yang bisa kita lihat dengan mata dan bentuknya bisa pula kita raba dengan
tangan, baik dengan ataupun tanpa memakai alat bantu, kemudian kita definisikan
sebagai materi atau benda.
Selanjutnya,
sesuatu yang hanya bisa kita kenali melalui telinga, kita namakan itu bukan
materi atau benda lagi, tapi itu kita sebut sebagai gelombang atau vibrasi
suara. Sesuatu yang hanya bisa kenali melalui hidung, kita sebut dia sebagai
bau, yang sebenarnya itu juga adalah bentuk gelombang atau vibrasi. Sama halnya
dengan sesuatu yang dapat kita rasakan dengan lidah kita berupa rasa asin,
asam, pahit, manis, pedas, itu juga adalah gelombang dengan frekuensi tertentu
yang bersinggungan dengan syaraf-syaraf yang ada di lidah kita.
Semua
objek VAKOG yang bisa kita kenali dengan memakai alat-alat indera kita ini akan
bermuara dibagian-bagian tertentu di dalam otak kita dalam bentuk jejak-jejak
gelombang dan energi yang terkumpul dan tertahan didalam sel-sel otak kita.
Misalnya saat kita melihat gajah, didalam otak kita bukan tergambar bentuk
gajah itu dengan ukuran mini. Tidak. Tapi sel-sel tertentu di dalam otak kita
dialiri oleh arus listrik sangat lemah yang menimbulkan jejak pada sel-sel
syaraf otak kita. Jejak itu menyebabkan kita punya asosiasi tentang bentuk
seekor gajah yang baru kita lihat. Jadi gambar gajah itu hanyalah kumpulan
kode-kode listrik lemah dibeberapa sel otak kita yang menyebabkan kita
berasosiasi tentang seekor gajah. Begitu juga semua yang bisa kita kenali
dengan alat indera kita, sebenarnya itu tak lain adalah asosiasi kita terhadap
vibrasi-vibrasi tertentu yang mengenai sel-sel syaraf di otak kita.
Kalau
vibrasi-vibrasi yang kita kenali itu lebih banyak membawa kita kepada asosiasi
yang wujudnya adalah berupa materi, maka sel-sel otak kita yang berfungsi dan
saling berinteraksi adalah di belahan otak sebelah kiri. Ciri-ciri utamanya
adalah, kita ingin mematerialisasikan segala sesuatu yang jadi pusat perhatian
kita. Kita baru percaya kepada sesuatu kalau sesuatu itu ada materi atau
bendanya. Ada bentuknya, ada dzatnya, ada warnanya, ada ukurannya, ada
hitungannya. Dan semua itu harus terlihat oleh mata kita. Kalau tidak, maka
kita katakan sesuatu itu tidak ada.
Sebaliknya
kalau kita, dengan sedikit latihan tentunya, mulai bisa mengenali vibrasi
dengan frekuensi-frekuensi yang lebih halus atau lembut, maka sel-sel otak
kanan kitalah yang akan banyak berfungsi dan saling berinteraksi. Hal itu akan
mengantarkan kita untuk masuk ke alam energi-energi yang vibrasinya jauh lebih
beragam dan lebih halus dari vibrasi alam materi. Belahan otak kanan kita yang
aktif akan membuat kita bisa menerima respon dan bersentuhan dengan
gelombang-gelombang energi yang ada diluar tubuh kita. Bahwa alam-alam
disekitar kita ini, selain dari materi, ternyata ada pula beragam energi. Kita
akan bisa merasakan adanya aliran energi yang bergelombang disekitar kita
seperti kita bisa merasakan adanya air saat kita menyelam di dalam air.
Dengan
latihan lebih lanjut lagi, gelombang energi yang ada disekitar kita itu bisa
pula kita permain-mainkan seperti kita mempermainkan air di dalam sebuah kolam
renang ketika kita sedang menyelam didalamnya. Gelombang energi itu bisa kita
putar, bisa kita dorong, bisa kita ayun sesuka hati kita untuk tujuan-tujuan
tertentu.
Untuk
melatihnya, tentu saja caranya berbeda-beda antara ilmu yang satu dengan ilmu
yang lainnya. Tapi ada satu hal yang sama yang yang harus kita lakukan untuk
kesemua jenis ilmu-ilmu itu, yaitu didalamnya harus kita tambahkan dengan
sebuah IMAGINASI dan KEYAKINAN kita. Imaginasi menciptakan BENTUK dan keyakinan
menciptakan BISA. Aku bisa ini. Aku bisa itu…, aku bisa…!. Cukup itu. Lalu kita
berlatih dengan penuh keyakinan. Pasti bisa, karena kita memang diberikan
fasilitas untuk itu oleh Allah. Saking sempurna dan totalnya fasilitas itu
diberikan oleh Allah kepada kita, sampai-sampai kita tidak perlu bawa-bawa
nilai-nilai agama dan Tuhan sedikitpun dalam kita melakukannya.
Vibrasi-vibrasi
alam (materi dan energi) ini akan bisa dirasakan, diolah, dan dimanfaatkan oleh
seluruh umat manusia tanpa kecuali, baik yang beragama ataupun yang atheis. Pengolahan
vibrasi alam ini akan menghasilkan berbagai ilmu yang berkenaan dengan
kehebatan alam pula.
Vibrasi
Inilah yang menjadi dasar-dasar dari ilmu beladiri seperti AIKIDO, TAICHI, FA
LUN GONG, TENAGA DALAM, ILMU KONTAK (AL HIKMAH), TENUNG, GENDAM, HIPNOSIS,
TENAGA PRANA, TENAGA QUANTUM, ILMU PELLET, ILMU PENGASIHAN, ILMU SANTET, ILMU
GENDAM, ILMU MAGNETISME, dan berbagai ilmu lain yang kelihatannya saja tidak
sama, tapi sebenarnya semuanya serupa. Dan inilah yang tampaknya sedang tumbuh
sangat pesat di negara kita saat ini. Karena HASILNYA memang kelihatan ADA.
Bahkan ilmu RUQYAH yang diklaim oleh sebagian orang sebagai pengobatan cara
Nabi, yang dipraktekan orang dimana-mana SAAT INIPUN tidak jauh berbeda dengan
ilmu-ilmu vibrasi seperti diatas, terutama kalau cara seperti yang banyak
dipakai orang saat ini.
Sekarang,
semua ilmu yang berbasiskan olah getaran ini sering disamarkan orang sebagai
ilmu olah pikiran. Katanya itu ilmu yang sangat ilmiah. Ilmu yang katanya tidak
ada unsur magis, unsur setan atau unsur jin nya sedikitpun. Nanti akan kita
lihat apa kata Al Qur’an tentang itu, apa benar ilmu getaran itu itu tidak ada
persentuhannya dengan SETAN, IBLIS, dan JIN.
Rasa
Atau Suasana, Keadaan
Setiap
materi dan energi yang berhasil kita miliki, ternyata menyebabkan terjadinya
perubahan-perubahan SUASANA atau KEADAAN yang terjadi di dalam dada kita.
Masing-masing seperti ada RASANYA. Untuk selanjutnya, istilah suasana dan
keadaan itu akan kita persingkat saja menjadi kata RASA. Saat kita memiliki
materi, kita akan merasakan rasa bahagia atau kecewa, bisa pula rasa senang
atau susah. Setiap ada energi yang bisa kita kuasai, itu akan membuat kita bisa
merasa kuat atau loyo, merasa hebat atau lemah, merasa bisa atau tidak bisa.
Dan
setiap rasa itu pastilah berhubungan dengan sekresi salah satu dari
hormon-hormon yang terdapat didalam tubuh kita seperti Adrenalin, atau
Endorphin, Dopamin, Serotonin, Morfin, dan lain-lain. Setiap sekeresi
hormon-hormon itu akan berhubungan pula dengan kelenjer-kelenjer cairan yang
ada ditubuh kita seperti kelenjer air mata, kelenjer liur, kelenjer madzi,
kelenjer keringat, dan sebagainya.
Karena
ada rasanya itulah yang menyebabkan kita selalu ketagihan untuk berpikir
tentang materi atau energi. Kita ketagihan berpikir tentang lawan jenis kita,
tentang uang, tentang harta, tentang kekuasaan, tentang kekuatan, tentang
energi, tentang vibrasi, dan sebagainya. Ketika kita berhasil menyelaraskan
pikiran kita dengan frekwensi gelombang materi atau energi tertentu yang sudah
ada tersimpan didalam memori kita, maka rasanya juga akan bisa kita rasakan.
Walau saat itu materi atau energinya tidak ada di depan kita. Jadi dengan hanya
sekedar memikirkan sebuah materi atau energi, kita seakan-akan bisa merasakan
bahwa materi dan energi itu benar-benar ada di depan kita.
Misalnya,
kalau kita pernah menonton sebuah film tentang hantu dan kita merasa takut saat
kita menonton itu, kemudian ketika kita sendirian di rumah kita membayangkan
kembali bentuk hantu seperti yang ada di filem itu, maka seketika itu juga rasa
takut kita akan muncul kembali. Bahkan rasa takutnya bisa lebih kuat dari
sebelumnya, kalau suasananya mendukung.
Dengan
begitu, kita bisa simpulkan bahwa setiap proses berpikir kita yang melibatkan
vibrasi dengan frekuensi tertentu didalam otak kita, ternyata ada pula rasanya.
Setiap proses berpikir kita itu, baik yang melibatkan ada materi atau energinya
maupun yang hanya sekedar imaginasi kita, semua itu ada rasanya.
Semua
rasa SUKACITA yang timbul, misalnya rasa senang, bahagia, tenang, damai, sehat,
bahkan sampai menangis-nangis saat mendapatkannya, yang dimulai dari proses
olah pikir ini disebut sebagai rasa yang berasal dari ciptaan pikiran kita.
Walau ditambah-tambahi dengan kalimat-kalimat yang berasal dari ayat Al Qur’an
atau Al Hadist sekalipun, kalau prosesnya masih memakai proses berpikir seperti
ini, maka namanya kita BELUM sampai kearah spiritualitas yang sebenarnya. Kita
baru sampai pada tahapan Spiritual yang Salah Kaprah.
Sebagai
buktinya, walaupun kelihatannya orang-orang sudah beragama, namun setiap ada
masalah mereka selalu ingin larinya ke praktek-praktel perdukunan. Saat sakit,
saat bermasalah, saat gelisah, orang-orang larinya ingin ke dunia paranormal.
Saat siswa SMA, dan SMP mau UAN saja, mereka banyak yang digiring untuk
melakukan dzikir-dzikir tertentu, bertangis-tangisan, mengisi pensil dengan
doa, mengisi minuman dengan doa dan jampi-jampi, dan sebagainya. Allah saat itu
entah sedang disimpan mereka dimana…, sehingga untuk seterusnya dan seterusnya
masyarakat kita selalu akan terjauhkan dengan Allah.
Artinya
untuk setiap permasalahan itu, yang suasananya, keadaannya, atau rasanya yang
tidak enak memenuhi dada kita, kita ingin segera keluar dari dalam dada kita
itu. Kita tidak kuat untuk tetap berlama-lama di dalam suasana rasa DUKACITA
didalam dada kita itu. Kita ingin berjalan, ingin lari, ingin meninggalkan dada
kita itu dengan segera. Makanya kalau kita sudah tidak tahan dengan rasa tidak
enak itu, kadang-kadang kita sampai memukul-mukul dada kita. Kalau bisa saat
itu juga dada kita itu pecah berantakan, sehingga segala isinya yang
memberatkan kita itu bisa berhamburan keluar dengan cepat.
Lepas
Untuk Tidak Lepas
Seperti
sudah disampaikan diatas, pada dasarnya kita semua ingin merasakan suasana dada
kita yang LONGGAR dan LAPANG. Salah satu cara yang sering kita lakukan adalah
kita merubah objek berpikir kita dari yang satu ke objek pikir yang lain.
Karena memang salah satu penyebab dari adanya suasana yang ada di dalam dada
kita itu adalah ketika kita berpikir tentang sebuah objek pikir tertentu.
Sebenarnya, begitu objek pikir kita berobah, maka berubah pulalah suasana yang
ada didalam dada kita.
Mari
kita lihat sejenak beberapa contoh dibawah ini tentang bagaimana proses
berpikir kita tentang materi dan energi tertentu akan memberikan kepada kita
rasa-rasa tertentu pula.
Misalnya,
saat kita sedang bermasalah, kita datang kepada seorang hipnoterapis. Lalu sang
hipnoterapis melakukan proses menciptakan tenang kepada kita dengan hitungan
mundur, atau kita diminta untuk membayangkan bahwa kita sedang berada di sebuah
tempat yang menyenangkan seperti di pantai, atau di gunung, atau di kebun yang
sangat indah. Disini kesadaran kita “dibawa” dulu oleh si hipnoterapis masuk
kedalam gelombang pikiran dia tentang materi (pantai, gunung, kebun). Atau bisa
pula kita diperdengarkannya dengan lagu-lagu atau nada suara dengan frekuensi
tertentu. Katanya sih nada itu berfrekuensi Alfa, Delta, dan Theta.
Lalu
dengan intensnya sang hipnoterapis mulai menanamkan kata-kata tenang…, tenang…,
bahagia… secara berulang-ulang kedalam pikiran kita. Pengulangan kata seperti
ini disebut juga sebagai MANTRA, yang sangat berbeda dengan DZIKIR. Walaupun
Dzikir itu ucapannya juga diulang-ulang. Tapi pada dzikir ada tambahannya.
Yaitu kita sadar kepada SIAPA kita sedang menghadap dan berbicara. DZIKRULLAH,
berarti kita sadar dan sedang menghadapkan wajah kita kepada wajah ALLAH. Tidak
bisa tidak. Kalau kita tidak sadar bahwa kita sedang menghadap dan sedang
berbicara dengan Allah, maka ucapan dzikir yang kita ulang-ulang itu tidak
lebih nilainya dari sekedar ucapan mantra-matra saja. Walau hasilnya tetap
masih ada. Tapi bukan hasil yang sebenarnya.
Anehnya,
memang kemudian kita seperti bisa merasa tenang benaran. RASA tenangnya
benar-benar ada. Tapi rasa tenang itu, tetap saja berawal dari rasa tenang yang
kita ciptakan dengan pikiran kita sendiri yang dibantu polanya oleh sang
hipnoterapis itu.
Tanpa
kita sadari, saat itu sebenarnya kita sedang ditawan dan dimasukkan oleh si
hipnoterapis ke alam pikirannya sendiri. Kita sedang dilekatkan dan ditambatkannya
ke berbagai objek VAKOG seperti yang telah diterangkan diatas. Setelah itu, si
hipnoterapis dengan segala pikiran dan atributnya mulai memenuhi pikiran kita,
dan sekaligus saat itu ada rasanya. Ada rasa kagum kita kepadanya. Dengan rasa
kagum, kita mulai membesar-besarkan namanya, kita sebut-sebut kehebatannya.
Kata-katanya kita kutip-kutip dan kita sebar luaskan. Ketika kita punya
masalah, kita akan selalu ingat kepadanya. Karena kita merasa bahwa dialah yang
membuat kita berhasil seperti sekarang ini.
Bahkan
tidak jarang ketika kita akan melakukan ibadah, shalat misalnya, kita
seringkali teringat dulu kepada si hipnoterapis itu. Atau paling paling tidak
gelombang pikiran kita akan beresonansi dengan gelombang pikiran si hipnoterapi
itu. Sebab sampai kapanpun rohani kita akan tetap tertahan dan terbelenggu pada
atribut-atribut si hipnoterapis berikut dengan segala berhala objek VAKOG yang
telah dia perkenalkan kepada kita sebelumnya. Tanpa sadar kita telah BERDZIKIR
kepadanya. Sungguh dia dan objek fikir VAKOG itu telah berubah menjadi berhala
kita yang akan menghalangi kita untuk berhubungan dengan Allah.
Begitu
juga dengan para pemakai ilmu kontak. Tenaga kontak itu, yang membuat orang
lain yang menyerang kita bisa jumplitan dan terpelanting diudara seperti
terdorong oleh sebuah tenaga yang tidak kelihatan, juga adalah sebentuk
gelombang dengan vibrasi tertentu saja sebenarnya. Tenaga atau gelombang itu
berasal dari ciptaan pikiran dan keyakinan si guru atau si pelatih ilmu itu
sendiri yang di tanamkannya kedalam kesadaran kita.
Bisa
saja proses itu dimulai dengan pengisian atau penggoresan sebentuk getaran di
area sekitar pusar kita, atau atunement dengan cara-cara yang lain, atau bahkan
bisa melalui keyakinan kita bahwa kita sudah mendapatkan selembar ijazah ilmu
itu darinya. Bagi kita yang beragama islam, proses itu bisa pula
ditambah-tambahi oleh si guru itu dengan wirid-wirid yang menyebut-nyebut nama
Allah atau dzikir-dzikir yang lainnya. Tapi sebanyak apapun kita berdzikir dan
menyebut nama Allah itu, kesadaran kita tetap saja hanya akan terhenti di
getaran ilmu kontak itu.
Buah
yang kita dapatkan adalah kesombongan kita jadi meningkat dengan sangat cepat.
Bahwa kita punya ilmu kontak. Kita jadi tidak takut lagi kepada apapun, kepada
siapapun, dan pergi kemanapun. Sebab kita sudah punya ilmu kontak. Tapi…, tetap
saja ilmu kontak yang kita punyai itu dengan segala kehebatannya adalah hasil
dari ciptaan pikiran kita sendiri yang ditanamkan oleh guru kita kedalam
kesadaran kita.
Yang
paling tipis jebakannya, adalah ketika kita ingin belajar spiritualitas didalam
agama Islam. Untuk masuk masuk kedalam praktek spiritual, seringkali kita
diberitahu bahwa belajar spiritual tanpa guru atau mursyid yang “kamil
mukammil” akan bisa membuat kita jadi tersesat. Artinya tanpa mursyid, kita di
vonis tidak akan pernah bisa belajar spiritual dan kita di klaim akan tersesat,
bahkan dikatakan kita bisa menjadi gila. Mengerikan sekali. Sehingga kitapun
banyak yang berpikiran, “ngapain kita belajar spiritual kalau sulit begitu.
Enakan jadi orang biasa-biasa saja”.
Padahal
kalau kita lihat dengan teliti, spiritual yang banyak ditawarkan oleh berbagai
kalangan kepada kita saat ini, sebenarnya prosesnya tidak jauh berbeda dengan
praktek hipnoterapi dan pelajaran ilmu kontak seperti diatas. Sebelas dua belas
saja sebenarnya. Kita belum belajar spiritual yang sebenarnya.
Lihatlah,
sebelum berdzikir, banyak aliran yang menyaratkan agar kita terlebih dahulu
membayangkan wajah guru yang mengajari kita di dalam pikiran kita, bahkan
adakalanya kita harus sampai menyebut silsilah guru-guru dari guru kita sebagai
pembawa ilmu itu terlebih dahulu. Tuk…, satu berhala tercipta saat itu.
Kemudian
ketika kita berdzikir, arah pikiran dan kesadaran kita juga dihentikan pada
beberapa bagian tubuh kita yang disebut sebagai LATHAIF atau dengan nama-nama
lain yang sejenisnya. Tuk…, satu lagi berhala tercipta saat itu.
Kemudian
bisa pula ditambah dengan berhala ketiga yaitu dengan cara membayangkan kalimat
Allah dalam bahasa arab yang masuk menghujam kedalam apa yang disebut sebagai
lathaif-lathaif itu tadi, atau cakra dalam istilah meditasi hindu.
Pada
sebuah aliran dalam agama islam, sebelum mereka melakukan dzikir, biar ada
suasana EMOSIONALNYA, maka jamaahnya terlebih dahulu dibawa untuk masuk ke
objek pikir tentang penderitaan ahlul bait, Hasan dan Husein Ra. Terutama
mengingat-ngingat penderitaan Husein. Penderitaan Husein dibahas dan
disampaikan dengan suara-suara penuh emosi. Mereka kadangkala sampai
memaki-maki sahabat-sahabat Nabi tertentu. Emosional sekali suasananya saat
itu. Bahkan untuk menmbahkan betapa sakitnya penderitaan Husein, beberapa
jemaahnya sampai ada yang melukai diri dengan benda tajam atau benda keras
lainnya. Karena suasananya sangat emosional, maka rasa sakit karena melukai
diri seperti itu sudah tidak mereka rasakan lagi. Setelah itu barulah mereka
berdzikir atau melakukan ibadah ibadah lainnya dan melakukan berbagai
INDOKTRINASI lainnya.
Jadi
dalam hal ini, ketika kita mau berdzikir, kesadaran kita dibawa untuk melewati
dua atau tiga macam berhala terlebih dahulu. Yaitu wajah guru kita,
lathaif-lathaif yang katanya ada di tubuh kita, dan huruf Allah dalam bahasa
Arab. Atau bisa pula dengan terlebih dahulu menyebut-nyebut penderitaan Husein
atau orang-orang lainnya sampai emosi kita mucul dengan kuat. Sebenarnya semua
itu tidak ada bedanya dengan berhala-berhala vibrasi dan energi seperti yang
telah diuraikan diatas. Semua Itu juga adalah hasil dari olah objek VAKOG sekali
sebenarnya. Objek yang bisa kita gambarkan dan kita bayangkan.
Karena
bacaan dan konsentarasi kita terpusat kepada berhala-berhala itu untuk sekian
waktu lamanya, sampai suatu ketika kita seperti masuk kedalam alam getaran yang
awalnya ditandai dengan bergerak dan bergetarnya tubuh kita, atau bisa pula
kita sampai berteriak dan menangis histeris. Mata kita kadangkala melotot dan
bahkan bisa berputar-putar. Tubuh kita tergoncang seperti sebuah pesawat yang
sedang mengalami turbulen di udara. Kita masuk kealam getaran. Fenomena getaran
itu bisa pula berupa getaran yang membuat tubuh kita berotasi dan berputar
untuk beberapa saat lamanya. Rasanya enak sekali, bebas, merdeka. Kita seperti
terbang ke awan, menjulang ke langit yang tinggi.
Karena
kita memulainya dengan menyandarkan kesadaran kita kepada beberapa berhala
seperti diatas, maka getaran yang kita dapatkan itu adalah getaran alam yang
penuh dengan berbagai macam getaran. Makanya getarannya liar. Karena
getaran-getaran itu saling potong memotong, saling tindih menindih satu sama
lainnya. Gerak tubuh kita jadi mirip gerakan orang yang tidak waras. Hal
seperti inilah yang menyebabkan kita seperti perlu bantuan dari orang lain yang
disebut mursyid itu. Sebenarnya mursyid yang seperti itu hanyalah orang-orang
yang sudah mempunyai getaran yang lebih tinggi dan lebih halus saja, sehingga
dia bisa meredakan getaran-getaran liar yang sedang kita alami.
Namun
banyak kita yang tidak sadar bahwa kalau kita bermain-main dengan
getaran-getaran alam seperti ini, sebenarnya kita juga tengah bercanda ria
dengan Jin, Iblis, Syetan, dan makhluk-makhluk getaran lainnya. Hasilnya
sangatlah pasti. Bahwa kita akan semakin lupa kepada Allah. Kitapun menjadi
begitu terikat dengan mursyid kita. Yang lebih parah adalah kalau orang-orang
sekelas paranormal yang kita jadikan sebagai mursyid kita itu. Sebab dengan
begitu kitapun akan berperilaku sama dengannya. Kita menjadi copy pastenya. Dan
sebagai hasil sampingannya, kita menjadi mahir dengan berbagai ilmu kesaktian
seperti yang kita inginkan ketika kita mulai berlatih dengannya. Kita lalu
menjadi paranormal pula…
Dan
latihan-latihan seperti yang disebutkan diatas dinamakan oleh banyak orang
sebagai latihan spiritual. Ah yang benar saja. Sebab yang namanya olah
spiritual itu hanya berlaku untuk sebuah aktifitas saja, yaitu aktivitas yang
melibatkan SPIRIT atau AR-RUH, yang berhubungan dengan ALLAH. Hanya itu. Titik.
VIBRASI
IMAN KEPADA ALLAH
Walaupun
dalam olah spiritual itu juga ada melibatkan vibrasi-vibrasi atau
getaran-getaran, ada tangis, dan ada histeris yang muncul, tapi vibrasinya
sangat berbeda. Sebab kita mengawalinya dengan ita BERIMAN kepada ALLAH. Dan
vibrasi yang muncul itu hanya dan hanya akan bisa dirasakan, dimanfaatkan, dan
diolah oleh orang yang beriman kepada ALLAH pula.
Yang
pasti, vibrasi iman yang kita dapatkan ini persis sama dengan apa yang
didapatkan oleh Nabi-Nabi mulai dari Nabi Adam, Idris, Nuh, Ibrahim, Musa,…,
Yusuf,…, Isa, dan Muhammad SAW, begitu juga dengan sahabat-sahabat Beliau,
Tabi’in, Tabiit Tabi’in, Para Wali Allah, dan orang-orang shaleh sepanjang
zaman.
Untuk
selanjutnya kita akan membahas banyak tentang Getaran Iman ini. Sebab untuk
mendapatkan Getaran Iman ini sangat berbeda dengan untuk mendapatkan
getaran-getaran alam seperti yang telah diterangkan diatas. Getaran iman ini
sifatnya DITURUNKAN (ANZALA), DITUNTUNKAN (ISTIA’NAH), DICELUPKAN (SHIBGAH)
langsung oleh Allah masuk kedalam dada kita. Jadi untuk mendapatkan getaran
iman ini terlebih dahulu harus ada campur tangan Allah langsung kepada kita.
Baru kemudian kita bisa beriman. Jadi seperti anugerah begitulah.
Getaran
iman itu tidak bisa kita dapatkan dengan cara kita menciptakannya melalui
pikiran kita seperti yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan getaran-getaran
alam seperti yang telah dibahas diatas. Kita tidak bisa mendapatkannya dengan
hanya sekedar mengatakan: “saya sudah beriman…, saya sudah beriman…, saya sudah
taqwa…, saya sudah khusyu…, saya sudah sabar…, saya sudah ikhlas…, saya sudah
bahagia (aflaha)…, saya sudah tenang (talinu)…, saya sudah suci…, dan berbagai
vibrasi iman lainnya.
Iman
itu tidak bisa juga kita dapatkan dengan cara-cara hipnoterapi. Misalnya:
“dengan hitungan mundur, 10. saya sudah beriman, 9. saya semakin beriman, 8.
Iman saya semakin dalam, …, 2. Saya semakin beriman, suer deh, 1. Saya sudah
jadi orang beriman. Saya duduk hening dalam keadaan beriman…, beriman”. Ha ha
ha…, saya sampai tertawa dalam menulis kalimat ini. Ya nggak bisalah begitu.
“Tidak bisa”, itu kata Allah sendiri.
Pernah
suatu ketika, seorang baduy datang kepada Rasulullah kemudian dia berkata bahwa
dia sudah beriman, “ya Muhammad, saya sudah beriman nih”, katanya dengan wajah
sumringah. Tapi seketika itu juga Allah membantahnya: “Dia belum beriman,
bohong dia itu, dia masih sekedar patuh saja kok. Sebab iman itu belum
Ku-turunkan kedalam dadanya”.
Orang-orang
Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka): “Kamu
belum beriman, tetapi katakanlah: “Kami telah tunduk”, karena iman itu belum
masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada
akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang” (TQS al-Hujurat [49]: 14).
Proses
Beriman Itu Mudah
Proses
untuk menjadi beriman itu sebenarnya mudah saja.
4.
Pertama, semua “wajah-wajah” berhala harus telah kita singkirkan
dari hadapan wajah kita. Sebagian dari berhala-berhala itu sudah kita bahas
diatas sebelumnya. Yang boleh ada hanya Satu Wajah saja, Wajah yang tidak bisa
kita singkirkan lagi, yaitu Wajah Sang Pencipta langit dan bumi. Dengan begitu,
kita artinya telah masuk kedalam suasana nyata dari kalimat: laa ilaha
illallah…
Langkah
pertama inilah yang sering jadi permasalah utama atas kegagalan kita dalam
beriman kepada Allah. Langkah pertama inilah yang harusnya sampai tuntas,
sampai ntek…!. Untuk menjadi tuntas itu sebenarnya tidaklah sulit. Mudah sekali
sebenarnya. Contoh kemudahnnya adalah seperti yang disampaikan oleh salah
seorang peserta “uzlah 3 hari di Shalat Center Bandung, tanggal 29-31 Maret
20013″, saya juga ikut hadir disana. Pesan ini dikirim oleh adik saya Yus
Ansari, yang menjadi Intruktur selama 3 hari itu:
“Pak
Yus, saya haturkan banyak terimakasih ….Alhamdulillah, setelah dibimbing untuk
menyadari dan meyakini bahwa Allah itu ada …. waktu itu setelah pak Yus
menjelaskan Bab Kemana Kita Menghadap, saya mendapatkan suasana/ keadaan bahwa
yang Maha itu benar2 ada dan terasa, suasana itu ada munculnya mulai jam 15.30…
dimana waktu saya coba keluar ruangan saya lihat Gunung, saya lihat sawah, dan
kembali ketempat waktu pagi harinya melihat pohon… Nyata sekali ada Dia sang
Maha Penggerak…. Alhamdulillah !! Saya dapatkan ” suasananya”, dan dpt
merasakannya sampai saat ini…. Mohon do’anya agar Allah selalu sayang kepada
saya….. Nuhun
Alhamdulillahi
Allahuakbar, Pak XYZ, keadaan yang Pak XYZ rasakan adalah peristiwa
diruntuhkannya dinding hijab seorang Hamba dengan Allah oleh Allah Sendiri
sebagai Sang Pembuka Hijab . Ini disebut dengan Mukhasyafah. Dimana Pak XYZ
melihat dengan sadar dan benar akan adanya Allah (Ru’yah satiiqa). Disini
sebenarnya baru perjalanan Rohani dengan Allah di mulai. Disinilah kekhusyu’an
akan semakin nyata.. Lakukan selalu penjagaan kondisi zikir ini setiap saat.
Sediakan waktu untuk duduk diam dalam keadaan zikir hingga bisa melihat
bagaimana Allah menguatkan keadaan zikir tersebut, sehingga iman pun akan terus
teperbaharui.. selamat melakukan perjalanan bersama Allah ( Program Uzlah
Lanjutan ).”
Jadi
untuk lanjut ke langkah kedua, memang harus mukasyyafah dulu dengan Allah.
Dalam istilah saya dalam buku MRS adalah “INI”. Setelah itu…
5.
Wajah kita lalu kita hadapkan kepada Wajah Dia yang telah
tersingkap. Wajah Yang menciptakan langit dan bumi itu. Wajah Yang Maha
Meliputi Segala Sesuatu. Wajah kita bertemu Wajah-Nya. “Inni wajjahtu wajhiya
lilladzi fatharassamaawaati wal ardhi”.
6.
Baru wajah bertemu Wajah saja, sebenarnya sudah ada rasanya.
DERR…!. Rasanya seperti KITA bertemu kembali dengan Wajah yang dulu pernah kita
ketahui dan kita kenal dengan sangat baik, tapi Wajah itu telah kita lupakan
untuk sekian puluh tahun lamanya. Lama sekali.
Saat itu, bahagia sekali rasanya. Rasa bahagia itu diturunkan
seperti turunnya hujan kedalam dada kita. Kerinduan yang terlepaskan itu
seperti ikut pula mengajak beberapa butir air mata kita untuk berebutan keluar
dari sudut-sudut mata kita untuk menyaksikan pertemuan kita itu.
Dari
dalam dada kita, seperti ada sebuah daya yang sangat kuat, yang siap mendorong
ujung lidah dan pita suara kita untuk bergetar dan menyebutkan sebuah nama.
Nama itupun seperti sudah lama sekali kita kenal. Nama yang juga selalu
disebut-sebut oleh langit, oleh burung-burung saat pagi maupun petang hari,
oleh para malaikat. Nama itu, dulu, begitu cairnya keluar dari mulut Rasulullah
Muhammad SAW.
Daya
itu kemudian pecah membentuk sebuah kata yang sangat Agung. Allah…!. Lidah kita
bergetar, pita suara kita bergetar, setiap sel tubuh kita bergetar, bulu-bulu
di tubuh kita merinding, air mata kita berhamburan. Semuanya seperti seirama
dengan setiap penghuni langit dan bumi untuk menyebutkan sebuah Nama Yang
Sangat Agung itu. Ya… Allah…, Allah…, Allah…!.
Walaupun
kadangkala ucapan kita itu hanya lirih saja, Allaahhhh…, tapi vibrasinya
seperti dapat menembus setiap sudut paling kecil sel-sel tubuh kita, menembus relung
hati kita yang paling dalam, menembus cakrawala arasy yang tak berujung.
DERR…,
sejak itu mulailah proses Allah mengajari kita tentang berbagai seluk beluk
Iman kepada-Nya. Kadangkala Allah membuat kita disanjung, dihormati, disegani,
ditakuti, dimulyakan oleh orang-orang yang ada disekitar kita. Tapi kadangkala
kita juga dibuat-Nya jatuh, terhina, direndahkan, dianiaya oleh orang lain,
bahkan oleh orang yang paling dekat dengan kita.
Akan
tetapi, selama kita tidak pernah berpaling dari Wajah-Nya, kita akan
diperkenalkan-Nya satu persatu jalan keluar dari segala permasalahan kita. Kita
diperkenalkan-Nya pula tentang Iman, tentang khusyu, tentang sabar, tentang
ikhlas, tentang taqwa, tentang bahagia, tentang tenang tentang kuat, tentang
hebat, tentang sehat, tentang cerdas, tentang tahu,…, tentang 99 kehebatan-Nya
seperti yang tergambar dari 99 Nama-Nya yang Sangat Agung.
7.
Kita dipindahkan-Nya dari satu keadaan ke keadaan lain dengan cara
yang sangat menakjubkan. Kita diperjalankan-Nya, kita direngkuh-Nya, kita
dituntun-Nya, kita ditarik-Nya dengan sangat lembut untuk bisa keluar dari
sebuah keadaan untuk masuk ke keadaan yang berikutnya. Proses kita
diperjalankan-Nya itu mirip sekali seperti kita menarik seutas benang dari
setumpukan tepung terigu. Benangnya bergerak, tapi tepungnya diam tidak
bergoyang dan tidak berantakan sedikitpun. Ya…, Ada yang diam, dan ada yang
diperjalankan….
Aku Dan Pikiranku
Nah…,
yang telah kita ulas panjang lebar diatas, baik itu materi maupun energi, semua
itulah yang kita sebut sebagai OBJEK PIKIR, atau PIKIRAN kita. Makanya pikiran
kita itu ada getarannya yang disebut dengan GETARAN PIKIRAN. Setiap kita
melekat pada sebuah objek pikir, maka sebenarnya kita juga sedang menciptakan
sebuah getaran yang ujung-ujungnya pastilah materialisasi dan energisasi dari
apa-apa yang menjadi objek pikir kita itu.
Dengan
begitu kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya yang ada itu hanyalah kita dan
pikiran kita. Ada AKU dan PIKIRANKU. Alat untuk mengenal dan mengekslorasi
pikiran kita itu adalah otak kita bersama-sama dengan semua alat indera kita.
Untuk
setiap pikiran kita, ternyata ada pula pasangannya berupa suasana atau keadaan
yang muncul di dalam dada kita. Seperti ada RASANYA. Rasa yang muncul itu bisa
berubah-rubah. Rasanya tergantung kepada ada atau tidaknya KESESUAIAN antara
PIKIRAN kita itu dengan ATRIBUT atau STATUS yang sedang kita sandang-sandang
atau kita bawa-bawa kemana-mana.
Kalau
PIKIRAN kita itu SESUAI dengan ATRIBUT atau STATUS kita, maka rasa yang muncul
di dalam dada kita adalah rasa sukacita seperti enak, senang, dan bahagia,
tenang, sumringah, aman, kaya, dan dihargai. Rasanya seperti kita sedang
BERKELIMPAHAN. Ada suasana yang sedang melimpah ruah di dalam dada kita.
Rasanya dada kita terasa longgar, lapang, dan lunak.
Akan
tetapi, kalau PIKIRAN kita itu TIDAK SESUAI dengan ATRIBUT atau STATUS yang
sedang kita usung-usung, maka rasanya adalah dukacita, seperti tidak enak,
kecewa, sedih, marah, benci, sakit, dilecehkan, dan rasa-rasa negatif lainnya.
Rasanya seperti kita sedang KEKURANGAN. Ruang dada terasa kita seperti sangat
sempit. PEDIH dan PAHIT sekali rasanya.
Karena
ada rasanya itulah yang membuat kita seperti menjadi lengket atau melekat terus
kepada apa yang sedang jadi buah pikiran kita. Kita menjadi satu dengan pikiran
kita itu. Kita menjadi lengket kayak perangko dengan pikiran kita. Nempel
terus.
Secara
sederhana hubungan antara kita dengan pikiran kita dan rasa kita dapat
digambarkan sebagai berikut:
Aku
objek pikirku (Pikiranku) suasana dadaku (Rasaku)
Sekarang
mari kita berkata-kata dengan beraku-aku…
Selama
ini aku “berada” di dalam pikiranku. Aku bersatu dengan objek pikirku. Setiap
aku berpikir, aku seperti BERJALAN dari satu pikiran ke pikiran yang lain. Dan
pada setiap objek yang kujadikan sebagai pikiranku itu, aku seperti masuk ke
dalam sebuah KOLAM RASA…
Aku
Yang Berjalan
AKU
adalah SATU, yaitu AKU. Sedangkan PIKIRANKU (Objek Pikirku) adalah BANYAK.
Karena pikiranku itu bisa banyak, maka kolam rasa yang ada di dalam dadakupun
banyak pula ragamnya.
Walaupun
aku satu, aku bisa berubah-rubah sesuai dengan apa yang sedang aku pikirkan.
Yang aku pikirkan itu selalu punya ATRIBUT, yaitu dia punya: ZAT, ASMA’ (NAMA),
SIFAT, AF’AL (PERBUATAN), atau ZASA.
Maka
agar aku bisa berjalan ke sebuah pikiranku, paling tidak aku harus tahu salah
satu atribut dari objek pikirku itu. Bisa Zat, atau Asma’, atau Sifat, atau
Af’alnya. Syukur-syukur aku bisa mengenal ke empat atribut yang kupikirkan itu
sekaligus. Kalau aku kenal salah satu atau lebih saja dari atribut-atributnya
itu, tidak semuanya, namanya aku sedang berprasangka saja terhadap objek yang
aku pikirkan itu. Aku seperti bertemu dengan sesuatu yang TIDAK JELAS. Karena
berprasangka, biasanya aku terjebak dengan keadaan WAKTU LALU yang telah
kulalui, kupelajari, kuketahui, atau keadaan WAKTU DEPAN yang pernah aku
angan-angankan.
Artinya
ketika aku berjalan dalam keadaan seperti ini, aku jadi kehilangan MASA KINIKU.
Sebab saat ini ternyata aku sedang menghabiskan waktuku hanya untuk sekedar
melakukan RETRIEVE, REWIND terhadap pengalaman-pengalaman masa laluku dan
berbagai angan-anganku saja. Aku hanya sekedar bersilaturrahim, shilatun,
bertemu dengan diriku saja dengan berbagai atribut yang pernah aku lakukan atau
aku angan-angankan sebelumnya.
Akan
tetapi, kalau aku bisa mengenal ke empat atribut objek yang aku pikirkan itu
sekaligus, namanya aku benar-benar telah BERJUMPA dengan objek yang aku
pikirkan itu. Artinya SAAT INI aku sedang BERSILATURRAHIM dengan objek yang aku
pikirkan itu. Aku sedang SHILATUN dengannya. Aku sedang BERTEMU dengan objek
yang aku pikirkan itu, sehingga aku tidak punya kesempatan lagi untuk berjalan
ke objek pikirku yang lain. Karena SAAT INI aku sedang bertemu dengan sesuatu
yang JELAS ZATNYA, jelas ASMA’NYA, jelas SIFATNYA, jelas AF’ALNYA.
Karena
sudah bertemu, maka aku bisa pula menceritakan bagaimana suasana saat
pertemuanku dengan sesuatu itu, bagaimana Zatnya, bagaimana Asma’nya, bagaimana
Sifatnya, dan bagaimana Af’alnya.
Misalnya:
Ø
Saat aku berhadapan dengan orang tuaku dan aku berpikir bahwa aku
adalah seorang anak, maka rasa sebagai anakpun muncul di dalam dadaku.
Ø
Ketika aku di kantor, dan aku berpikir sebagai seorang karyawan
sebuah perusahaan, maka rasa sebagai karyawanpun muncul di dalam dadaku.
Ø
Akan tetapi ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang atasan
dari bawahanku, maka rasa sebagai atasanpun muncul didalam dadaku.
Ø
Ketika sampai dirumah, dan aku berpikir sebagai seorang suami
terhadap istriku, maka rasa sebagai seorang suamipun muncul di dalam dadaku.
Ø
Ketika aku dihadap anakku, dan aku berpikir bahwa aku adalah
seorang ayah, maka rasa sebagai seorang ayahpun muncul di dalam dadaku.
Ø
Akan tetapi aku berpikir bahwa aku adalah sahabat anakku, maka
rasa sebagai seorang sahabatpun muncul di dalam dadaku. Aku bisa bermain-main
dan bercanda dengan anakku.
Ø
Ketika aku berpikir bahwa aku adalah wakil rakyat, maka rasa
sebagai wakil rakyatpun muncul di dalam dadaku.
Ø
Ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang presiden, maka rasa
sebagai presidenpun muncul di dalam dadaku.
Ø
Ketika aku berhadapan dengan seorang lawan jenisku, kemudian aku
berpikir bahwa dia adalah istri atau suami kita, padahal tidak, maka rasa bukan
jadi pasanganku pun muncul didalam dadaku. Rasanya beda dengan rasa ketika aku
berhadapan dengan pasanganku yang sebenarnya.
Ø
Ketika aku berpikir bahwa aku adalah seorang milyuner, padahal
sebenarnya aku hanyalah seorang yang miskin dan biasa-biasa saja, maka rasa
yang muncul di dalam dadakupun bukanlah rasa sorang milyuner. Yang ada adalah
rasa sedih, menyesal dan sebagainya.
Ø
Ketika aku berpikir tentang hipnotis atau ilmu-ilmu lainnya, maka
aku segera akan bersilaturrahim dengan orang yang pernah mengajarkan hipnotis
itu kepadaku. Aku akan ingat kata-katanya, aku ingat namanya, aku ingat af’alnya,
aku ingat orangnya. Lalu akupun melakukan apa-apa yang pernah dilakukannya
didepanku. Aku telah menjadi akunya orang yang menalatihku ilmu hipnotis itu,
atau ilmu-ilmu lainnya.
Aku
seperti bisa berubah menjadi banyak. Aku juga diberi nama sesuai dengan pikiran
yang sedang aku pikirkan. Ketika aku selalu berpikir tentang menjadi seorang
pencuri dan aku melakukan pencurian itu, maka akupun dipanggil dengan nama si
Pencuri. Ketika aku terlalu banyak berpikir, maka aku dinamakan sebagai si
Pemikir. Semua atributku yang memanggil-manggilku itu disebut sebagai hawa
nafsuku. Kecenderungan diriku.
Makanya
kemudian muncul istilah yang sangat sering kita dengar:
“Aku
adalah seperti apa yang kupikirkan”
Aku
= pikiranku, sehingga
Aku
= Rasaku
Pikiranku
dan Rasaku = Diriku
Aku
= Diriku
Diriku
= Hawa Nafsuku.
Aku
= Hawa Nafsuku.
Karena
setiap orang berhak pula berkata seperti itu, maka setiap pikiranku berbeda
dengan pikiran orang lain, maka akupun merasa diriku berbeda dengannya. “Diriku
berbeda dengan dirinya”, kataku. Akupun segera merasakan bahwa hanya akulah
yang benar. Aku seperti berhak untuk menghakiminya. Kalau dia tidak mau
mengikuti pikiranku, maka aku bisa saja menganggapnya sebagai lawanku, musuhku.
Bahkan kalau perlu dia aku bunuh agar hanya diriku sajalah yang benar, yang ada
atau exist. Duar…, terjadilah bunuh-bunuhan.
Kalau
aku selalu mengikuti pikiranku seperti ini, maka dalam istilah agama islam aku
disebut sebagai orang yang mengikuti hawa nafsuku. Sebenarnya artikel
“menyalakan Tombol Kehidupan” bercerita tentang hal ini. Yaitu aku yang selalu
dikuasai oleh hawa nafsuku. Dan sumber dari hawa nafsuku itu ternyata adalah
pikiranku sendiri…
Demikianlah,
karena aku berada di pikiranku yang begitu banyak, maka setiap hari aku seperti
berubah-rubah. Aku selalu berjalan, berlari, berputar-putar, bolak-balik dari
satu pikiranku ke pikiranku yang lain. Duh capeknya…
Suatu
saat aku sampai berujar: Sebenarnya aku butuh istirahat dari perjalanan tiada
henti diantara pikiran-pikiranku itu. Aku ingin istirahat dari pikiranku. Aku
ingin keluar dari pikiranku. Tapi aku tidak tahu caranya yang sebenarnya, yang
HAKIKI… Karena saat ini di sekitarku banyak cara yang sedang ditawarkan
kepadaku. Aku sedang bingung untuk memilihnya.
Apalagi,
apa-apa yang aku pikirkan di MASA LALU dan di MASA DEPAN itu, anehnya tetap
memberikan rasa tertentu di dalam dadaku. Seakan-akan yang aku pikirkan itu
terjada di SAAT INI. Aku tidak sadar bahwa ketika saat ini aku sedang berpikir
tentang masa lalu dan masa depanku. Aku sebenarnya sedang MENIPU diriku
sendiri. Aku menipu diriku sehingga akupun kehilangan waktu saat iniku yang
sangat berharga yang sedang ada didepanku, DISINI. Aku kehilangan kesadaran
untuk menyadari apa-apa yang sedang ada didepanku. Bahkan aku tidak sadar
terhadap INI, yang sedang ADA di depanku setiap saat. Makanya suasana di dalam
dadaku menjadi tidak enak…
Aku
Yang Mengakali Diriku
Selain
dengan memikirkan tentang masa lalu dan masa depan, agar aku bisa keluar dari
pikiranku yang sedang membelengguku, aku juga bisa mengakali diriku sendiri
dengan cara membuat pikiranku terbolak balik, sehingga rasa yang muncul di
dalam dadaku pun jadi terbolak balik pula. Biasanya agar aku bisa bisa
mengakali diriku sendiri, aku diajarkan ilmunya terlebih dahulu oleh
orang-orang yang sudah mengalaminya. Dan aku harus percaya kepadanya, karena
aku percaya bahwa dia ahlinya. Aku harus bersedia untuk memakai pikirannya
sebagai pikiranku sendiri.
Ø
Aku diajarkan, ketika aku berbelanja disebuah toko, harga sebuah
barang RP. 998.200 akan menjadi ringan bagi ku untuk membelinya saat aku
berpikir bahwa harga barang itu hanya ratusan ribu rupiah saja dibandingkan
dengan kalau aku berpikir bahwa harganya adalah hampir satu juta rupiah.
Sehingga hal ini dimanfaatkan oleh pedagang-pedagang agar barangnya bisa laku
terjual lebih mudah.
Ø
Aku diajarkan, ketika aku sedang marah kepada seseorang, kemudian
aku katakan bahwa saat itu aku sebenarnya tidak marah kepada orang yang
kumarahi itu, bahwa sebenarnya aku hanya salah pengertian saja kepadanya, maka
marahkupun bisa sedikit agak reda.
Ø
Ketika aku gelisah, karena aku sedang menjadi pikiranku yang
membuat suasana di dalam dadaku tidak enak, aku diajarkan untuk berpikir dan
berkata-kata kepada dirikua sendiri: “aku bisa tenang, aku bisa damai, aku bisa
bahagia, 10, 9, 8, bahagia…,“. Karena pikiranku sudah sama dengan pikiran orang
yang mengajariku, maka suasana di dalam dadakupun sama pula dengan suasana di
dalam dadanya.
Karena
hal seperti ini sangat bisa dilakukan oleh semua orang, maka otak-atik pikiran
seperti inipun dipakai oleh para hipnoterapis untuk mensugesti subjeknya.
Akupun lama-lama menjadi menjadi foto copy dirinya. Aku melakukan apa yang dia
lakukan, aku memasarkan apa yang dia pasarkan, aku akan gadang-gadangkan apa
yang dia gadang-gadangkan..
Dengan
sering-sering begini, maka sekarang akupun berubah menjadi:
Aku
= pikiranku yang sudah terpola, sehingga
Aku
= rasaku yang sudah terpola pula
Orang-orang
dengan pola pikiran yang sama, yang sekaligus bersuasana yang sama di dalam
dadanya, kemudian akan membentuk sebuah komunitas. Tujuan komunitas ini adalah
untuk saling memperkuat pikiranku, yang akan menyebabkan rasa di dalam dadaku
pun semakin kuat pula. Semakin kuat pikiranku kepada pola-pola pikir tertentu,
semakin kuat pulalah rasa yang ada di dalam dadaku, sehingga pola pikiranku
itupun menjadi KEPERCAYAANKU. Aku percaya bahwa dengan pola pikiranku yang
tertentu, misalnya pola pikiran hipnoterapi, aku bisa mengubah jalan hidupku,
merubah keadaanku, merubah diriku, merubah apa yang aku rasakan menjadi lebih
baik dari yang aku rasakan sebelumnya.
Makanya
kemudian muncul beragam komunitas seperti Komunitas Hipnoterapi, Komunitas
Paranormal, Komunitas dzikir ini atau dzikir itu. Dimana setiap anggota dari
komunitas itu, saat bertemu akan membicarakan pikiran yang sama,
membesar-besarkan objek pikir yang sama, dan merekapun mendapatkan suasana yang
sama pula di dalam dadanya. Bisa hebat?. Bisa…!. Tapi hebatnya hanya sebatas
hebat pikiran para anggota komunitas itu saja.
Karena
pikiranku itu sudah menjadi kepercayaanku. Aku beriman kepada objek pikirku,
maka aku akan selalu mengingat-ingat, membesar-besarkan, menggadang-gadangkan,
dan menyebut-nyebut objek pikirku itu setiap sata. Kalau tidak begitu, rasanya
tidak enak. Rasanya seperti aku tidak BERSYUKUR kepada objek pikirku itu. Aku
bahkan memanggil-manggil, mengiklan-iklankan objek pikirku itu agar orang lain
mau pula memakai objek pikirku itu sebagai objek pikirnya. Tanpa aku sadari,
aku telah berubah menjadi pelayan dari objek pikirku… Aku menjadi budak dari
objek pikirku. Aku disuruh-suruh kesana kemari oleh objek pikirku itu. Dan aku
tidak kuasa untuk menolaknya…
Nah…,
semua ulasan tentang kehebatan olah VAKOG seperti diatas, intinya adalah bahwa
semua itu sebenarnya hanyalah sekedar PROSES MENGAKALI DIRIKU saja. Itu bukan
proses yang seharusnya aku lakukan dan aku pertahankan dalam keseharianku.
Masak sih aku mau mengakali diriku sendiri secara terus menerus?. Ya nggak lah.
Karena mengakali diriku sendiri itu sama saja dengan menyiksa diriku sendiri…
Aku
Yang Menyiksa Diriku Sendiri
Ketika
aku sedang SENDIRIAN, seringkali aku merasakan bahwa dengan cara-cara mengakali
diriku seperti diatas sudah tidak cukup lagi untuk bisa membuat aku keluar dan
terbebas dari belenggu pikiranku itu. Tapi walau bagaimanapun aku tetap ingin
bebas. Aku ingin bebas…, merdeka. Aku ingin menjadi diriku sendiri. Aku tidak
mau jadi bayang-bayang diri orang lain.
Untuk
itu, aku kadangkala sampai merusak pikiranku sendiri dengan cara aku meneguk
minuman keras, atau bahkan memakai narkoba. Aku jadi Mabok dan Tidak Sadar.
Dengan begitu aku memang seperti bisa terlepas dari pikiran-pikiran yang
menggangguku buat beberapa saat. Aku terlepas dari pikiran-pikiran tentang masa
lalu yang menyakitkanku, dan aku terlepas pula dari pikiran-pikiran tentang
masa depanku yang sangat mengkhawatirkan dan menakutkanku. Akan tetapi dengan
mabok dan tidak sadar seperti itu, aku sebenarnya sedang kehilangan masa MASA
KINIKU yang sangat berharga.
Begitu
sadar, aku kembali berjalan-dan berjalan tak tentu arah menuju
pikiran-pikiranku, aku kembali mengakali diriku. aku kembali menyakiti diriku
sendiri. Akan tetapi karena semua itu tidak berhasil membuatku merdeka. Tidak
bisa membuatku terbebas dari penjara pikiran-pikiranku yang rasanya benar-benar
memancarkan kepedihan dari dalam dadaku.
Tekanan
darahku kacau, jantungku kacau, leverku kacau, sel-otakku kacau, sehingga
penyikitpun bermunculan di dalam tubuhku. Aku jadi sakit-sakitan. Lalu aku
berobat kesana kemari. Aku datang ke orang pintar ini dan itu. Aku menjadi
sibuk sekali dengan penyakitku. Aku ingin sembuh. Aku telah menjadi seorang
pesakitan. Lalu aku akan menyalahkan orang-orang yang ada disekitarku sebagai
penyebab dari kesakitanku ini. “Ini salahmu, ini salah si itu, ini karena
kamu…”, kataku dengan berapi-api. Duar…, lalu dimanapun aku berada maka disana
akan ada huru-hara.
Kadangkala
aku ingin mencoba untuk tidak memiliki semua yang bisa menjadi beban pikiranku.
Aku tidak ingin punya istri/suami. Aku tidak ingin punya anak. aku tidak ingin
punya harta. Aku tidak ingin punya rumah. Aku bahkan ingin lari kepuncak gunung
dan goa-goa untuk bertapa, bermeditasi. Tapi dengan memenuhi semua keinginanku
itu, berarti aku membunuh fitrah diriku sendiri. Sehingga selama bertapa itu
aku hanya sibuk melawan fitrah diriku sendiri.
Oleh
sebab itu, pada puncak kepedihanku, aku bisa saja melakukan tindakan yang
sangat ekstrim. Aku bisa membunuh diriku sendiri. Aku ingin mati… Duar…!.
Semuanya itu aku lakukan agar aku bisa keluar dari penjara pikiranku yang
selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.
Innalillahi
Wa Inna Ilaihi Raaji’un
Dari
cerita panjang diatas, sudah saatnya kita untuk mengambil sebuah kesimpulan
bahwa, perjalanan yang kita lakukan seperti diatas, perjalanan di dunia
pikiran, untuk mendapatkan KESUKACITAAN di dalam setiap langkah kehidupan kita,
ternyata tidak bisa kita dapatkan. Karena semua cara diatas ternyata tidak akan
pernah berhasil membawa kita kembali pulang kerumah kita yang HAKIKI.
Adakah
barangkali tempat untuk kembali yang benar-benar bisa membuat kita bisa nyaman,
bahagia, tenang, enak, damai, bersemangat, setiap saat tanpa dimulai dengan
pikiran-pikiran kita?. Bisakah kita BERSUKACITA setiap saat tanpa
menciptakannya dengan pikiran kita?.
Adakah
yang bukan pikiran?. Adakah objek pikir yang TIDAK BISA kita pikirkan yang bisa
kita jadikan sebagai alamat kita untuk kembali?.
Setiap
kita punya masalah, setiap kita menghadapi cobaan, yang menimbulkan rasa
DUKACITA yang dalam, kita akan kembali pulang kerumah kita itu. Sehingga rasa
dukacita kitapun berganti seketika itu juga dengan rasa SUKACITA. Adakah?.
Kalau
ada, Objek pikir itu haruslah TIDAK BISA kita lihat dengan mata, kita dengar
suaranya dengan telinga, kita rasakan dengan kulit, kita kecap dengan lidah,
kita hirup dengan hidung kita. Objek itu tidak tidak bisa kita
bayang-bayangkan, tidak bisa kita lamun-lamunkan, tidak bisa kita persepsikan
dengan pikiran kita sendiri.
Artinya
Objek itu pastilah GAIB, TERSEMBUNYI dari jangkauan Panca Indera kita (VAKOG).
Masalahnya adalah, PERCAYAKAH kita terhadap KEBERADAAN sesuatu YANG GAIB itu.
Nah…,
sesuatu yang gaib itu bukanlah IBLIS, SYETAN, JIN, ataupun MALAIKAT. Bukan…!.
Karena mereka semua itu masih bisa digambarkan, paling tidak berdasarkan
hadist-hadist atau cerita-cerita dari mulut kemulut yang pernah kita dengar.
Bahkan Jin, Iblis, Syetan itu bisa kita ketahui keberadaannya dengan sedikit
bermain-main dengan getaran-getaran seperti yang telah kita bahas diatas.
Karena wujud mereka sebenarnya tidak jauh-jauh dari getaran-getaran saja.
Getaran yang setara dengan getaran API yang sifatnya PANAS. Makanya Iblis hanya
tahu tentang GETARAN TANAH yang ada pada diri ADAM ketika dia pertama kali
dipertemukan Allah dengan Adam ketika masa-masa penciptaan Adam dulu. Iblis
mengira bahwa getaran API lebih baik dari Getaran Tanah.
Sedangkan
tentang Malaikat, Nabi Muhammad juga bisa menggambarkan bentuknya, misalnya
Malaikat JIBRIL, ketika Nabi sudah berada dalam sebuah Kesadaran yang nanti
akan kita sebut sebagai BERKESADARAN RUHANI. Ya…, Kesadaran RUHANI. Dimana
Kesadaran RUHANI ini juga punya getaran yang bisa disebut sebagai Getaran
RUHANI yang kualitasnya sangat jauh berbeda dengan kualitas Getaran Api ataupun
Getaran TANAH. Sebab api dan tanah masih bisa saling berinteraksi dengan
berbagai getaran ALAM lainnya seperti yang telah kita bahas sebelumnya.
Sedangkan AR-RUH hanya akan bisa saling berinteraksi dengan Malaikat melalui
getaran RUHANI. Karena keduanya adalah wujud yang sangat patuh kepada Allah
TANPA SYARAT. MIN AMRI RABBI…
Sedangkan
kepada Getaran Alam, Getaran Tanah, Getaran Api, dan getaran-getaran Alam
lainnya yang sebenarnya bukan tujuan kita untuk berada disitu, kita masih
banyak yang tidak mempercayai keberadaannya. Walaupun kita sudah duduk
berlama-lama disana. Buktinya sangat gampang kok. Ketika kita marah benci,
sedih, takut, iri, dan sebagainya, getarannya itu sangat mirip dengan getaran
Api yang dimiliki oleh Iblis. Panas membakar. Apalagi kalau kita berbicara
tentang Getaran RUHANI. Akan semakin banyak saja kita yang tidak mempercayainya.
Padahal,
kalau kita tidak percaya dengan adanya Getaran Ruhani, bagaimana kita akan bisa
percaya dengan Sesuatu Yang GAIB. Sebab hanya dan hanya dengan menggunakan
Getaran Ruhani inilah kita akan bisa mengenal Sesuatu Yang Gaib. Zat Yang Maha
Gaib, Zat Yang Maha Tersembunyi.
Getaran
Ruhani itu bisa kita rasakan hanya dan hanya ketika kita bisa menyadari bahwa
diri kita ini sebenarnya adalah MIN-RUHI, AR-RUH milik Allah. Sama halnya
dengan MALAIKAT. Yaitu ketika kita bisa menyadari dan memposisikan diri kita
sebagai SEMURNI-MURNINYA RUH Milih ALLAH. Sehingga kitapun bisa merasakan
betapa PATUH dan TUNDUKNYA AR RUH itu mengikuti AMR-AMR Allah.
AR-RUH
itu juga BERGETAR. Getaran itu kita sebut sebagai saja GETARAN RUHANI, biar
memudahkan kita dalam memahaminya. Di Ujung awal dari Getaran Ruhani itu
pastilah ada sesuatu yang menggetarkan Ar-Ruh itu. Karena AR-RUH itu adalah
Milik Allah, yang sangat patuh mengikuti Amr Allah, yang selalu patuh kemanapun
Allah menggerakkannya, maka getaran AR-RUH itu pasti akan MENGARAH pula kepada
ALLAH.
ALLAH
Inilah Zat Yang Maha Gaib yang harus kita Imani kalau kita mau pulang kerumah
kita yang sebenarnya. Karena kita ingin pulang KESISI ALLAH. Untuk meringkuk di
dalam Pelukan Allah, di dalam LIPUTAN ALLAH.
Dengan
mengikuti atau menumpang pada Getaran Ruhani, yang digerakkan sendiri oleh
Allah, inilah kita akan bisa bertemu dengan-Nya ditempat persembunyian-Nya yang
Sangat Tersembunyi. Kita akan diantarkan sendiri oleh Allah untuk mengenal
Diri-Nya. Lalu satu-per satu Rahasia Kemahahebatan-Nya akan dibukakan-Nya buat
kita. Sehingga kitapun benar-benar habis. Kita tidak bisa sedikitpun untuk
mencoba mengaku-ngaku dihadapan-Nya. FANA. Karena Yang berhak mengaku-aku hanya
Dia Sendiri.
Dan
disinilah RUMAH kita yang sebenarnya. Disisi Allah. Rumah dimana kita tidak
kuasa lagi mengaku-ngaku. Karena tidak mengaku, maka kita tidak dibebani lagi
dengan tanggung jawab. Kita tidak akan dihantui lagi oleh berbagai rasa yang
selama ini menakutkan kita. Yang ada saat itu hanyalah sebuah KESUKACITAAN yang
sangat kuat. Karena semua yang terjadi pada diri kita ternyata sudah ditanggung
oleh Allah sendiri.
Rasulullah
saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar berfirman,
“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku telah mengumumkan perang
kepadanya. Hamba-Ku tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang paling
Aku sukai, daripada sesuatu yang Aku fardhukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa
mendekatkan diri kepada-Ku dengan sunat-sunat sampai Aku mencintainya. Apabila
Aku mencintainya, maka Aku menjadi Pendengaran untuk pendengarannya,
Penglihatan untuk penglihatannya, Tangan untuk perbuatannya dan Kaki untuknya
berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya, jika
ia memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya. Dan
Aku tidak bimbang terhadap sesuatu yang Aku lakukan, seperti kebimbangan-Ku
terhadap jiwa [nafsi] hamba-Ku yang beriman yang tidak senang mati, sedang Aku
tidak senang berbuat buruk terhadap-Nya [Hadits Bukhari – Muslim].
Dan
kemanapun kita menghadap, itu kita bisa melihat bahwa semua yang tergelar dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi adalah sebagai bukti akan keberadaan Sang
Perbendaharaan Tersembunyi, Sang Maha Gaib, yang sedang Mengenalkan Diri-nya
kepada kita.
Kuntu
kanzan makhfiyyan ahbabtu an ‘urifa fa khalaqtu khalqa li ‘urifa
Aku
adalah Perbendaharaan Tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan
makhluk-Ku, (dengan Allah lah) agar mereka mengenal Aku (Al Hadits).
Antara
Kafir, Munafik, Dan Musyrik.
Nah…,
kalau kita sudah beriman kepada Yang Maha Gaib, Allah, seperti diatas, maka
masalah utama kita untuk mencari jalan pulang yang sebenarnya sudah SELESAI.
Kita tinggal mencari PETA yang cocok yang bisa mengantarkan kita kearah Tujuan
akhir kita itu, dan kita mencari CONTOH atau PANUTAN pula tentang siapa-siapa
yang sudah berhasil menjalani Jalan menuju Yang Gaib itu dengan cepat, tepat,
benar, dan Lurus.
Kalau
kita tidak beriman dan tidak yakin kepada keberadaan Yang Maha Gaib, Allah,
maka kita dikatakan sebagai orang yang tercover. KAFIR…!. Ya selesai sudah.
Tamat. Kita tinggal menunggu hidayah saja, atau kita mati di dalam kekafiran.
Kalau
kita percaya kepada Yang Maha Gaib, Allah, tapi kadang-kadang kita lupa
kepada-Nya, kadang-kadang kita lalai, kadang-kadang kita sadar lagi, maka kita
disebut sebagai orang MUNAFIK. Biasanya kita lebih sering lupa dari pada ingat
dan sadar kepada-Nya. Istilah kerennya adalah TOMAT. Kita kadang-kadang Tobat,
tapi kadang-kadang Kumat kembali. Untuk keadaan kita yang seperti ini,
sebenarnya masih ada harapan bagi kita agar kita kembali menjadi beriman kepada
Allah. Ada…
Akan
tetapi kalau kita sudah percaya kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita
masih memakai perantara-perantara untuk datang dan meminta kepada Allah, maka
kita disebut sebagai orang MUSYRIK. Artinya antara Allah dan kita masih ada
berbagai berhala yang membatasi kita. Berhala-berhala itu kita anggap (kita
PIKIR) bisa membuat kita lebih dekat dan lebih berkonsentrasi kepada Allah.
Padahal semakin ada berhala didepan kita, maka kita akan semakin terhalang dan
jauh dari Allah.
Berhala-Berhala…
Ketika
kita mengaku beriman kepada Allah, tapi pada saat yang sama kita masih
nyangkut, tertahan di PIKIRAN kita, maka kita disebut sebagai orang yang musyrik.
Artinya saat itu kesadaran kita nyangkut di berhala-berhala. Kita tidak bisa
lagi berjalan meneruskan perjalanan kita.
Misalnya,
ketika kita mengaku percaya kepada Allah, tapi ketika kita ingin menghadap
kepada Allah dengan lebih khusyu kita masih menggunakan berbagai objek VAKOG
seperti yang sudah dicontohkan diatas, maka saat itu kita disebut sebagai
seorang musyrikin. Seorang yang menyekutukan Allah dengan sesuatu yang kita
jadikan sebagai perantara antara kita dengan Allah.
Ketika
kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kemudian kita menggunakan
suara-suara, nada-nada, dan bunyi-bunyian dengan berbagai frekuansi tertentu,
maka seberapa lama pun kita menyebut nama Allah, kita tetap tidak akan bisa
sampai ke Allah. Kita seperti tertahan oleh vibrasi suara itu. Kita berhenti di
vibrasi suara itu.
Ketika
kita ingin khusyu menghadap kepada Allah, kita menggunakan patung-patung atau
benda benda sebagai objek perantara kita, maka selama dan sekuat apapun kita
menyebut nama Allah, maka kita tidak akan pernah bisa sampai ke Allah. Kita
seperti tertahan dan berheti di benda-benda dan patung-patung itu.
Ketika
kita punya masalah, kita lari ke dukun, paranormal, hipnoterapis, dan
sebagainya yang sejenis itu, maka mereka pasti tidak akan mengenalkan kita
kepada Allah. Pasti. Itulah yang disebut sebagai musyrik.
Kalau
masih musyrik seperti ini, saat kita melakukan sesuatu kita mau baca BISMILLAH
atau tidak, mau menyebut nama Allah atau ayat-ayat tertentu dari Al Qur’an atau
tidak, hasilnya akan tetap sama. Itu bisa, dan hasilnya tetap ada. Menyebut
atau tidak menyebut nama Allah, tidak akan mempercepat atau memperlambat
hasilnya. Hasilnya semata-mata hanya akan tergantung pada ketekunan kita
berlatih dan besarnya keyakinan kita saat berlatih. Itu saja. Lhooo…
Ya
begitu…!.
Sebab
bismillah bukanlah sebuah ungkapan yang bisa dibaca-baca begitu saja oleh
sembarangan orang. Bukan…. Karena bismillah itu adalah sebuah ungkapan yang
sangat suci yang hanya berhak diucapkan oleh orang-orang yang sudah punya
perjanjian dengan Allah untuk bersedia menjadi Khalifatullah, Wali Allah, Hamba
Allah yang akan bertugas mewakili Allah untuk urusan Allah di muka bumi ini.
Makanya ungkapannya juga bismillah…, mengatasnamakan Allah.
Apapun
yang kita lakukan benar-benar adalah sebuah pekerjaan yang mengatas namakan
Allah. Kita melakukan pekerjaan yang telah dimandatkan oleh Allah kepada kita
sebelumnya. Allah telah memberikan izin-Nya kepada kita sebelum kita melakukan
pekerjaan itu. “Silahkan hamba-Ku, lakukanlah ini, Aku telah memberi izin-Ku
agar kamu melakukannya atas nama-Ku”.
Saat
serah terima mandat dari Allah itu kepada kita, terasa sekali sukacita dan
bahagianya. Sukacita yang teramat sangat (RIQQAH) turun keadalam ada kita. Dada
kita terasa menjadi sangat lapang, selapang jagad raya. Dada kita terasa sangat
lunak dan cair, selunak dan secair samudera luas. Rasa dingin mengalir dari
dada kita menyebar keseluruh sudut-sudut sel di dalam tubuh kita. Bahagianya
menggetarkan tubuh, menggetarkan mata, menggetarkan seluruh cairan tubuh kita
termasuk cairan yang dengan deras mengalir dari sudut-sudut mata kita. Mulut
kita sudah tidak sempat lagi untuk berkata-kata. Adapun suara yang muncul dari
ujung lidah kita hanyalah sepatah dua patah kata yang paling menggetarkan,
yaitu “ya Allah…”, dan itupun nyaris hanya berbisik saja. Ya Allah…, terima
kasih ya Allah…, alhamdulillah….
Setelah
ada RIQQAH itu ada, berupa sakinah, berkah, aflaha, salamah yang diturunkan dan
dimasukkan oleh Allah ke dalam dada kita, barulah kemudian kita bergegas
menebarkannya buat diri kita sendiri, buat keluarga kita, buat tetangga kita,
buat masyarakat kita, buat siapapun yang kita jumpai dalam perjalanan kita.
Ø
Bismillah…, mata kitapun kita rahmati dengan mengajaknya melihat
segala keindahan yang telah Allah gelar di depan mata kita.
Ø
Bismillah…, telinga kitapun kita rahmati dengan mengajaknya
mendengarkan ayat-ayat Allah yang bertebaran di sekeliling kita.
Ø
Bismillah…., bismillah…, bismillah, rongga perut kita, otak kita,
faraj kita, kita rahmati dengan memberikannya apa-apa yang diridhai oleh Allah.
Lidah kita, tangan kita, kaki kita, kita pergunakan untuk menebarkan RIQQAH
yang sedang menggumpal di dalam dada kita kepada siapapun yang kita temui.
“salamun qaulan mirrabbirrahiim”. Semuanya itu kita lakukan seperti kita sedang
berada di samping “ibu kita”. FEEL AT HOME BANGET (ini merupakan tema artikel
selanjutnya setelah artikel “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN”). Kita bekerja,
berkarya, menolong, meringankan beban orang lain dengan nyaris tanpa lelah.
Mengherankan sekali.
Kalau
saat membaca bismillah itu tidak ada proses serah terima mandat dari Allah
kepada kita seperti diatas, namanya saat itu kita membaca bismillah untuk
mewakili hawa nafsu kita, mewakili ego kita. Kita melakukan sesuatu dengan
mengatasnamakan hati kita yang kotor, syirik, gelap, dendam. Artinya saat itu
kita sedang mempertuhankan hawa nafsu kita sendiri. Bacaan bismillah kita itu
tak lebih hanyalah sekedar ucapan pemanis bibir saja. Atau istilah yang lebih
keras untuk itu adalah “ucapan seorang pengkhianat kepada Allah”.
Anehnya,
semakin kita kuat dan kukuh membaca bismillah ketika keadaan hati kita kotor
seperti itu, getarannya pun akan sangat besar pula. Ada kekuatan juga yang
mucul ketika itu. Tapi kita jangan bangga dulu dengan segala getaran dan kekuatan
walaupun saat itu sedang mewakili hawa nafsu kita itu, karena iblispun saat
meminta kesaktian dan kekuatannya juga melalui getaran. Tujuannya hanya satu,
yaitu agar dia bisa menyesatkan seluruh umat manusia.
Iblis
meminta kepada Allah dengan dorongan hawa nafsunya dan dengan menyebut Nama
Allah juga kok. “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan
bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan
maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya”. Dan
Allah pun berkenan memberinya. Hasilnya pun sedikit banyaknya sudah kita
ketahui pula. Mirip dengan apa yang kita lakukan ketika kita telah mengatakan
Ana Khairu Minhu kepada sesama…
Mengenal
Aku
Jangan-jangan
semua permasahan yang kita hadapi selama ini adalah karena kita tidak mengenal
siapa diri kita yang sebenarnya, sehingga kita menganggap bahwa pikiran-pikiran
kita itulah yang menjadi diri kita.
Mari
kita urai…
Ada
Aku ada Pikiranku.
Yang
menjadi masalah bagi kita adalah, bagaimana kita bisa memisahkan diri kita dari
sejuta pikiran yang sudah kadung ada di dalam memori kita.
Kalau
kita melakukan dengan cara kita mengamati objek-objek pikir apapun yang sedang
menjadi buah pikiran kita, maka kita akan menjadi sangat tersiksa dalam waktu
yang lama. Bisa berjam-jam, bisa berhari-hari. Cara seperti ini bisa disebut
sebagai “Meditasi Mengamati Pikiran”. Semua pikiran-pikiran masa lalu yang ada
di dalam memori kita seperti berloncatan keluar. Baik yang sudah kita lupakan,
apalagi yang masih segar di dalam ingatan kita. Ingatan bawah sadar kita keluar
semua. Biasanya kita bisa muntah-muntah, pusing tujuh keliling, atau
berkunang-kunang. Karena memang setiap objek pikir kita itu masing-masing ada
rasanya. Sehingga setiap kali kita berpindah objek pikir, maka rasanya juga
berbeda dengan objek pikir kita yang sebelumnya.
Pada
metoda EFT (EMOTIONAL FREEDOM TECHNIQUE), misalnya, saat kita punya emosi yang
negatif terhadap sebuah objek pikir, maka kesadaran kita dipindahkan kepada
objek pikir lain berupa ketukan-ketukan halus pada beberapa titik di wajah dan
di tubuh kita.
Contohnya
begini:
“Aku
takut pada kucing, aku diminta untuk memikirkan seekor kucing. Atau yang paling
manjur adalah dengan meletakkan kucing benaran di dekatku. Aku diminta untuk
merasakan rasa takut yang muncul ketika aku memikirkan atau berdekatan dengan
kucing itu. Aku diminta untuk mengukur rasa takutku itu dengan memakai skala 1
sd/ 10. Aku diminta untuk menaikkan rasa takutku ke tingkat yang paling tinggi.
Takut sekali. Caranya bisa dengan memikirkan banyak kucing yang ada
disekitarku, atau bisa pula lebih mendekatkan kucing benaran itu ke pangkuanku.
Semakin tinggi rasa takutku, akan tergambar dari emosiku yang semakin meningkat
pula. Bahkan aku bisa sampai berteriak histeris dan menangis.
Pada
puncak ketakutanku, dengan lembut beberapa titik diwajahku diketuk oleh
istruktur (penyembuh) EFT dengan ujung jarinya. Seketika itu juga kucing bukan
lagi menjadi objek pikirku. Objek pikirku berubah menjadi beberapa titik
diwajahku yang diketuk-ketuk oleh ujung jari instrukturku itu. Kemudian
instrukturku itu berkata, sekarang saya tidak takut lagi kepada kucing, rasa
takut saya berkurang, 10…, 9…, 8…, rasa takut ku berkurang…., 2…, 1 saya sudah
tidak takut lagi kepada kucing.
Ketika
instrukturku meminta agar aku mengukur kadar rasa takutku kembali, aku memang
sudah tidak merasakan rasa takut kepada kucing lagi. Karena memang objek
pikirku sudah bukan kucing lagi, tapi titik-titik yang tadi disentuh oleh
instruktur itu. Sejak itu aku dikatakan tidak takut lagi kepada kucing. Karena
aku percaya kepadanya maka akupun seperti bisa tidak takut lagi kepada kucing…
Plok…, plokk…, plokk…, tepuk tanganpun membahana diruang latihan itu.
Yang
lebih jelas lagi adalah ketika aku didekatkan dengan kucing benaran. Takutku
itu takut benaran juga. Semakin didekatkan, rasa takutku juga semakin
meningkat. Pada puncak ketakutanku, kembali jari-jari instrukturku itu
mengetuk-ngetuk beberap titik diwajah dan badanku. Aku diminta untuk MERASAKAN
ketukan jari instrukturku itu. Mataku masih tetap melihat kepada kucing, tapi
pada saat yang sama aku diminta pula untuk merasakan ketukan jarinya diwajahku.
Ketika
aku merasakan ketukan jarinya, dengan seketika itu juga objek pikirku akan
pindah dari kucing yang ada didepanku kepada beberapa titik diwajahku yang
diketuk olehujung jarinya. Sejenak aku seperti menjadi TERPISAH dari kucing
yang ada tepat didepanku. Kemudian kata-kata hipnosa seperti diatas dipaksakan
kembali masuk kedalam otakku.
Sekarang
otakku jadi konflik. Ada kucing yang tepat didepanku, ada ketukan-ketukan
diwajahku yang harus aku rasakan, dan ada pula kata-kata hipnosa yang
menghantam otakku untuk membuang rasa ketakutanku kepada kucing itu. Saat ada
kucing didepanku, aku dipisahkan dari pikiranku tentang kucing itu melalui
ketukan di beberapa titik diwajahku yang cukup lemah. Kemudian aku benar-benar
seperti bisa terpisah dari kucing yang ada didepanku. Apalagi karena aku berada
dalam pengaruh kata-kata hipnosanya maka akupun bisa menjadi tidak takut lagi
kepada kucing itu”.
Metoda
seperti ini sebenarnya adalah metoda hipnotis juga. Metoda yang mengacaukan
kesadaran internal kita melalui perubahan-perubahan objek pikir kita dengan
cepat dan tiba-tiba. Dan untuk bisa seperti ini, kita harus bayar mahal. Dan
tak lupa kita diiming-imingi bahwa semua permasalahan emosional kita bisa kita
selesaikan dengan cepat.
Kalau
instrukturnya beragama Islam, maka kata-kata hipnosanya dirubahnya dengan
memakai istilah-istilah agama Islam. Misalnya dengan membawa-bawa nama Tuhan.
Seakan-akan metoda itu sudah berubah menjadi sebuah metoda yang bercirikan
SPIRITUALITAS secara Islam. Sehingga kemudian metoda EFT yang dikembangkan oleh
seseorang di Amerika sana, dirubah menjadi metoda XYZT yang seakan-akan menjadi
sebuah metoda spiritual ala Islam yang dia ciptakan sendiri. Apalagi kemudian
semua teknik yang pernah dipelajari oleh sang instruktur di jejalkan satu
persatu di dalam training itu. Seakan-akan cara itu bisa menjadi sesuatu cara
yang paling top sejagad.
Padahal
sebenarnya untuk melepaskan diri kita dari pikiran-pikiran kita seperti itu,
tidak sulit-sulit amat kok. Mari kita coba…
Sekarang
coba amati sesuatu yang menjadi pikiran kita.
Ø
Duduklah rileks.
Ø
Pikirkanlah sesuatu, atau letakkanlah sesuatu yang kita takuti didepan
kita.
Ø
Misalnya kucing kita yang kita takuti tadi.
Ø
Amatilah pikiran kita tentang kucing itu, atau amatilah kucing
itu.
Ø
Amati saja…
Ø
Ada kucingku yang sedang kupikirkan atau yang ada didepanku, dan
ada “aku” yang sedang mengamati kucingku yang kupikirkan atau yang ada
didepanku.
Ø
Ada Aku yang mengamati kucingku yang ada dipikiranku atau
didepanku.
Ø
Ada aku, ada kucingku.
Ø
Ini aku yang mengamati, dan itu kucingku yang kuamati
Ø
Ini aku…, itu kucingku…
Ø
Lha…, ternyata aku bukanlah kucingku seperti yang kurasakan selama
ini.
Ø
Aku ternyata bisa terpisah dari kucingku.
Ø
Ini aku…, itu kucingku.
Ø
Ooo…., aku ternyata terpisah dari kucingku.
Ø
Dengan santai aku bisa katakan kepada diriku sendiri, “ah nggapain
aku takut kepada kucingku ini”.
Ø
Santai saja…
Ø
Rasakanlah keterpisahan itu.
Duduklah
dalam suasana keterpisahan itu buat sejenak. Sebab biasanya setelah itu pikiran
kita akan bergerak kembali kepada pikiran-pikiran lain yang sedang “hangat”
dikepala kita.
Kalau
pikiran kita banyak, alangkah capeknya kalau kita harus melakukan hal seperti
itu satu persatu. Tapi kalau kita ingin memakai metoda konsentari kepada sebuah
objek pikir saja seperti LILIN, ujung hidung, atau titik konsentrasi diantara
kedua mata kita, ya ada juga sih metodanya seperti itu. Tapi yang namanya
konsentrasi, kita butuh tenaga yang sangat besar agar kita bisa bertahan pada
satu objek pikir saja untuk jangka waktu yang lama. Itu namanya kita masih
berada pada pikiran kita juga, walau hanya satu objek pikir. Makanya lama, dan
butuh tempat yang sepi dan sunyi pula untuk melakukannya.
Oleh
sebab itu, berikut ini kita akan mencoba sebuah metoda yang sangat sederhana
yang bisa melepaskan diri kita dari jeratan pikiran-pikiran kita yang selama
ini telah mengganggu perjalanan pulang kita menuju Yang Maha Gaib.
AKU
DAN GERAK NAFASKU.
Kalau
kita mengamati nafas kita, maka sebenarnya kita sedang berada pada suasana SAAT
INI. Untuk mengamati nafas kita tidak perlu berpikir seperti apa nafas itu.
Kita juga tidak perlu berpikir seperti apa gerakan nafas itu. Dengan mengati
nafas, secara otomatis kita akan terlepas dari pikiran MASA LALU dan MASA
DEPAN. Bahkan kita tidak ingat dengan kejadian satu detik yang lalu atau
angan-angan kita satu detik yang akan datang.
Untuk
mengamati nafas, kita juga tidak perlu pergi jauh-jauh. Amatilah DISINI, di
DADA kita. DEKAT sekali.
Dengan
begitu yang kita sadari tinggal SAAT INI dan DISINI.
Mari
kita amati gerak nafas kita. Duduklah rileks saja, nggak usah tutup mata kok.
Duduk
rileks itu maksudnya adalah, bagi yang biasa berenang di air, kita seperti
mengambang saja di dalam air. Kalau ada udara di dalam dada kita. Saat tubuh
kita rileks itu, kita pasti akan mengambang. PASTI. Tubuh kita sudah seperti
menjadi air itu sendiri. Kita tidak perlu lagi melawan air yang ada di sekeliling
kita agar kita bisa mengambang. Suasana rileks itu terasa sekali. Sebab kalau
kita kejangkan tubuh kita sedikit saja, dengan seketika itu juga kita akan
merasa seperti terpisah dengan air. Kita langsung goyah, bahkan bisa tenggelam.
Kalau ada yang belum pernah merasakan rasa mengambang di dalam air, maka
sebaiknya cobalah lakukan., dan rasakan. PASTI BERMANFAAT.
Kenapa
kita haruss rileks seperti itu?.
Karena
kita nanti akan ikut mengambang pula seperti mengambang di dalam air itu, tapi
airnya kita ganti dengan udara. Rasanya akan sama. Rasa mengambang. Rasa
tenggelam di dalam udara. Rasa menjadi satu dengan udara yang ada disekitar
kita. Kita tidak perlu mencari udara itu jauh-jauh. Karena udara itu juga ada
disekitar kita. DISINI dan SAAT INI.
Catatan:
Pada artikel berikutnya “PINTU GERBANG MENUJU KEKINIAN” kegunaan rileks ini
akan kita bahas lebih dalam lagi agar kita bisa masuk ke kekinian waktu,
meninggalkan waktu lalu yang sudah jadi sejarah dan waktu akan datang yang
masih sekedar angan-angan kita. Untuk kali ini kita akan membahas hanya salah
satu dari pintu itu, yaitu PINTU NAFAS.
Nah…,
kita juga harus bisa pula merasakan rasa mengambang bersama angin. Bersama
udara. Bersama RIH…, dalam bahasa arabnya. Tapi nanti JANGAN berlama-lama
disini, karena ini hanya sekedar PINTU MASUK saja ke gerbang WAKTU SEKARANG.
Untuk keluar dari PIKIRAN kita yang selama ini menggangu kita. Kalau
berlama-lama disini, artinya kita telah menjadikan udara itu sebagai berhala
kita. Ya…, masih masuk dalam kategori BERHALA juga sebenarnya.
Ø Amatilah…
Ø SAAT INI, DISINI, di dalam DADAKU ada udara yang sedang bergerak.
Ø Udara itu sedang bergerak masuk dan keluar dari paru-paruku.
Ø Ya…, ada udara yang sedang bergerak keluar-masuk paru-paruku
melalui hidungku atau mulutku.
Ø Kuamati…,
Ø Hanya kuamati saja…
Ø Aku tidak memikirkannya.
Ø Aku tidak perlu membayangkannya.
Ø Sesekali kuhirup udara itu secara perlahan.
Ø Kukeluarkan pula secara perlahan.
Ø Kunikmati rasa udara itu.
Ø Kunikmati aliran udara itu.
Ø Sejenak aku bermain-main dengan udara itu.
Ø Selama waktu itu, otomatis aku sudah tidak ingat lagi MASA LALU
dan MASA DEPAN.
Ø Aku berada DISINI dan SAAT INI
Ø Aku sedang mengamati nafasku.
Ø Mengamati udara yang keluar masuk paruk-paruku.
Ø Ada aku dan
Ø Ada udara yang kuamati.
Ø Aku bukanlah udara.
Ø Kembali kuamati keluar masuknya nafasku…
Ø Kembali kurasakan pergerakan udara itu.
Ø Ya…, KURASAKAN pergerakan udara itu.
Ø Sebenarnya Apakah akukah yang menggerakkan udara itu?
Ø Atau udara itu bergerak sendiri keluar masuk paru-paruku?.
Ø Aku mencoba diam saja.
Ø Ya…, aku hanya diam.
Ø Tapi udara itu tetap bergerak dengan sendirinya masuk dan keluar
dari paru-paruku.
Ø Ternyata untuk keluar masuknya nafasku itu, aku tidak berperan
apa-apa.
Ø Ya…, aku tidak berperan apa-apa. Sedikitpun tidak.
Ø Ooo…, ternyata aku salah selama ini kalau aku mengaku bahwa akulah
yang bernafas.
Ø Ternyata bukan…
Ø Aku hanya diam.
Ø Nafasku bergerak dengan sendirinya.
Ø Untuk memastikan apakah aku atau bukan yang menggerakkan udara itu
keluar masuk paru-paruku, aku lakukan langkah berikut ini.
Ø Aku hirup udara memenuhi paru-paruku..
Ø Lalu aku mencoba menahan udara itu didalam paru-paruku selama
mungkin.
Ø Aku amati pengaruh yang muncul ketika aku menahan gerak
paru-paruku untuk mengeluarkan udara.
Ø Satu…, dua detik…, ok, nggak ada masalah.
Ø Belasan detik kemudian, mulai ada sebuah dorongan yang semakin
lama semakin kuat agar aku bersedia melepaskan udara yang sudah tertahan lama
didalam dadaku.
Ø Semakin aku tahan, semakin kuat pula dorongan itu.
Ø Kalau aku tahan terus, aku merasa seperti sedang berada dalam
sebuah Tungku Penyiksaan.
Ø Aku gelagapan. Aku ngap-ngapan. Aku limbung.
Ø Kalau aku segera melepaskan udara dari paru-paruku dan aku
kemudian membiarkan udara masuk kembali kedalam paru-paruku, rasanya aku
seperti LONGGAR. Aku seperti lepas dari siksaan yang tadi aku alami.
Ø Kalau aku masih tetap ngotot menahan nafasku, walau aku sudah
limbung, maka suatu saat aku akan Blackout. Pingsan, atau bahkan bisa mati.
Ø Ooo…, ternyata memang bukan aku yang menggerakkan nafasku.
Ø Sekarang kuamati yang membuat udara keluar masuk dari partu-paruku.
Ø Hei…., seperti Ada Gerak yang diikuti oleh nafasku.
Ø Udara seperti bersandar begitu saja kepada sebuah gerak yang
bergerak secara teratur, berulang-ulang dan sangat halus sekali.
Ø Sekarang kuamati pergerakan nafas itu.
Ø Ya…, sebenarnya udara itu sedang ikut dan patuh kepada sebuah
GERAK yang sedang bergerak.
Ø Kemudian kubiarkan nafas itu bergerak seperti biasa.
Ø Aku tidak melawan gerak nafas kita itu,
Ø Karena aku kita tidak akan pernah bisa melawannya.
Ø Sampai aku yakin sekali bahwa ternyata bukan aku yang menggerakkan
nafasku.
Ø ADA GERAK yang menggerakkan nafasku.
Ø Kuamati gerak itu untuk sekian lama.
Ø Ooo… Gerak itu ternyata berbeda dengan udara.
Ø Ooo… Gerak…
Sekarang
berhentilah sejenak. Dan coba ingat-ingat, selama kita melakukan pengamatan
pergerakan keluar masuknya nafas kita tadi, apakah kita masih ingat kepada
pikiran-pikiran kita yang sebelumnya selalu bermunculan didalam benak kita?.
Pasti tidak ingat kan?.
Sampai
disinilah para ilmuan kebanyakan BERHENTI. Ilmuan Molekuler, Ilmuan Quantum,
Ilmuan Mikro Sel, Ilmuan Makro Kosmos, Ilmuan Mikro Kosmos. Ilmuan Energi,
Ilmuan Cahaya. Ilmuan Semua Cabang Pengetehuan. Semuanya sudah paham betul
bahwa Alam itu bergerak, bintang bergerak, sel-sel bergerak, hormon bergerak,
cahaya bergerak, energi bergerak, getaran bergerak. Semuanya seperti bergerak
dengan sendirinya. Sendiri…!.
Ketika
mereka diberitahu bahwa gerak itu ada yang menggerakkan, sebagian ada yang
percaya, dan sebagian lagi mereka tetap teguh berpendirian (keukeuh -bahasa
Sunda) bahwa semua itu bergerak dengan sendirinya.
Stefans
Hawking, salah seorang ilmuan Quantum masa kini, tetap mempercayai bahwa semua
yang di alam ini bergerak dengan sendirinya. Sampai sekarang dia tetap
mempercayai bahwa di alam ini TIDAK ada peran TUHAN sedikitpun. Sementara
fitrah dirinya ingin pulang kerumahnya yang sebenarnya, tapi dia lawan fitrah
itu. Akibatnya fisiknya tidak kuat menahan kerinduan itu, sehingga
perlahan-lahan dia menghancurkan tubuhnya sendiri. Sampai suatu saat tubuhnya
tidak kuat lagi menahan kerinduan itu, MATI, barulah dia bebas untuk kembali
kerumahnya yang hakiki. Tapi karena pulangnya dengan tidak sukarela, dia pulang
dengan DIPAKSA, MATI, maka diapun akan tidak pernah bisa pulang kerumahnya yang
hakiki. Disisi Allah.
Karena
gambaran akhirat itu adalah persis seperti gambaran kita di dunia saat ini.
Kalau di dunia kita TIDAK pernah bisa pulang ke sisi Allah, maka di akhiratpun
kita TIDAK akan pernah bisa pulang ke sisi Allah. Tidak bisa pulang ke sisi
Allah berarti itu adalah siksaan yang pedih. Di dunia kita tersiksa dengan
sangat pedih, maka diakhiratpun kita akan tersiksa dengan pedih pula. Neraka…,
kata Al Qur’an
Dengan
mengamati gerak nafas kita itu, ternyata kita bisa melepaskan diri kita, hampir
dengan seketika, dari segala pikiran kita yang selama ini menggangu kita. Kita
seperti terlepas dari pikiran-pikiran kita DIMASA LALU dan DIMASA DEPAN. Semua
pikiran kita sudah kita lupakan. Habis. Dan semua rasa dari masing-masing
pikiran kita itupun sudah tidak kita rasakan lagi. Lenyap.
Ø Sekarang kulanjutkan lagi.
Ø Yang ada sekarang adalah aku yang sedang mengamati GERAK.
Ø Aku bukan mengamati udaranya.
Ø Tapi yang aku amati adalah gerakan yang membuat udara itu bergerak
keluar masuk kedalam paru-paruku.
Ø Aku mengamati sebuah GERAK.
Ø Entah GERAK apa namanya.
Ø Untuk mengetahui Gerak itu, Kemudian coba untuk MERASAKAN gerak
itu.
Ø Kurasakan GERAK itu dengan MENGIKUTI pergerakan gerak itu.
Ø Kuikuti GERAK itu TANPA perlawanan.
Ø Aku tidak melawan Gerak itu.
Ø Ternyata aku juga bisa mengambang didalam Gerak itu seperti aku
mengambang di dalam Air
Ø Lalu akupun ikut mengambang saja di dalam gerak itu.
Ø Aku mengambang mengikuti GERAK itu.
Ø Aku ikuti pergerakan gerak itu.
Ø Gerak itu bergerak sebanyak sekian kali gerakan dalam satu menit.
Ø Teratur sekali.
Ø Konsisten sekali.
Ø Teliti sekali.
Ø Lembut sekali.
Ø Santun sekali.
Ø Tidak menyakitkan sedikitpun.
Ø Oya… Gerak itu memang ada
Ø Aku bisa menunjuk Gerak itu dengan jelas.
Ø Mana?.
Ø INI…
Ø Ku palingkan pengamatanku ke kiri dan ke kanan.
Ø Yang ada INI juga. GERAK
Ø Ku amati kebawah dan keatas…
Ø Yang ada INI juga. GERAK.
Ø Ku amati kesana dan kemari…
Ø Yang ada INI juga. GERAK.
Ø Ku amati yang ada disitu…, disitu…, disitu…
Ø Eh…, yang ada INI juga. GERAK.
Ø Kemanapun aku memandang,
Ø Ternyata yang terpadang adalah INI. GERAK.
Ø Sekarang aku sudah benar-benar terpisah dengan pikiran-pikiranku
selama ini.
Ø Aku hanya sedang memandang GERAK INI. DISINI, dan SAAT INI.
Ø Kucoba merasakan GERAK INI
Ø GERAK INI ternyata tidak dibatasi oleh rongga dadaku.
Ø Rongga dadaku hanya membatasi udara, bukan membatasi GERAK INI.
Ø Saat rongga dadaku penuh dengan udara, kurasakan ujung dari GERAK
INI.
Ø Ujungnya melampaui rongga paru-paruku.
Ø Kurasakan ujung GERAK INI.
Ø Ujungnya tak ada ujungnya.
Ø Ku rasakan ujung yang tak berujung itu.
Ø Aku terpekik, ujungnya diketinggian tak terukur.
Ø Iiiiihhh…, aku meringis…, ujungnya seperti menyedotku.
Ø Ujung gerak itu seperti mengantarkanku ke sebuah tempat yang
sangat luas.
Ø Ujung gerak itu seperti menarikku ke sebuah tempat yang sangat
besar.
Ø Ujung gerak itu seperti membawaku ketempat yang sangat tinggi.
Ø Aku tidak peduli lagi dengan GERAK INI
Ø Aku sudah melupakan GERAK
Ø Aku hanya mencoba merasakan INI
Ø Kurasakan INI yang sangat luas…
Ø Kurasakan INI yang sangat besar
Ø Kurasakan INI yang sangat tinggi.
Ø Kurasakan sekelilingku…
Ø Kalau-kalau ADA yang selain INI, DISINI dan SAAT INI.
Ø Kosong…, tidak ada apa-apa.
Ø Tidak ada apa-apa dan siapa-siapa lagi DISINI SAAT INI.
Ø Kecuali hanya aku yang sedang memandang INI.
Ø Suatu saat kemudian…
Ø Aku pun merasa menjadi Luas
Ø Aku merasa menjadi besar.
Ø Aku merasa menjadi Tinggi.
Ø Aku merasa menjadi sendiri.
Ø Sehingga akupun bisa berkata:
Ø Aku adalah yang luas…
Ø Aku adalah yang besar…
Ø Aku adalah yang tinggi…
Ø Aku adalah yang sendiri…
Ø Aku sudah tidak peduli lagi dengan INI
Ø Karena aku sendiri jadi merasa bahwa akulah yang luas…
Ø Ooo. Aku jadi tahu
Ø Aku tahu…
Ø Aku tahu bahwa akulah yang besar…
Ø Aku tahu bahwa akulah yang tinggi…
Ø Aku tahu bahwa akulah yang sendiri…
Ø Sehingga akupun bisa berkata aku…
Ø Aku…
Ø Ya, aku…, aku…, aku…
Pada
titik aku seperti inilah para MEDITATOR biasanya berhenti. Yaitu setelah mereka
ketemu dengan akunya. Yaitu akunya yang merasa sendirian. Akunya yang sudah
terpisah dengan segala pikirannya. Akunya yang mereka rasakan menjadi aku yang
sangat luas tak terbatas. Akunya yang sendirian.
Wilayah
yang ditempati oleh para meditator ini lebih tinggi setingkat dari wilayah yang
dihuni oleh para ilmuan yang telah kita terangkan diatas. Makanya kemudian
banyak para ilmuan yang mengikuti meditasi tertentu, seperti yoga, agar dia
bisa pulang. Tapi dengan cara begitu mereka tidak sadar bahwa mereka baru
sampai ketahap SERASA pulang saja. Belum sampai kealamat rumahnya yang
sebenarnya. Sayang sekali sebenarnya.
Tapi
jarang sekali orang yang memulai hidupnya dengan meditasi, dan menemukan
akunya, yang RELA turun kembali ke alam nyata. Menjadi ilmuan, untuk
menghasilkan ilmu pengetahuan dan menciptakan peradaban. Mereka sudah keenakan
berada dalam alam kesendirian, Moksa, sehingga mereka malas untuk turun kealam
keramaian.
Nanti
akan kita lihat betapa longgarnya posisi akhir Rasulullah Muhammad SAW, karena
Beliau berhenti di rumah Beliau yang HAKIKI, yang ternyata sangat didambakan
pula oleh seluruh umat manusia.
Lalu
mereka hanya berhenti di akunya itu. Karena mereka tidak mengerti lagi
bagaimana caranya untuk tidak mengaku-ngaku aku, makanya banyak meditator yang
berusaha untuk hidup terlunta-lunta. Mereka hidup tanpa rumah, tanpa keluarga,
dan berbaju kumal. Tujuannya adalah untuk menghilangkan akunya. Banyak juga
yang kemudian berusaha untuk melakukan meditasi selama berhari-hari,
berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka Menyiksa diri mereka sendiri.
Tanpa menikah dan tanpa rumah, tanpa segala-galanya. Mereka ingin dipandang
hina dan tidak berguna oleh orang lain. Keadaan seperti ini banyak sekali bisa
kita jumpai di INDIA.
Di
dalam cerita silat Kho Ping Hoo juga seringkali digambarkan ada seorang yang
ilmunya sudah sangat tinggi sekali sehingga tidak ada satu orang lagipun yang
bisa mengalahkannya. Dia akan merasa sendirian. Agar akunya tidak mengada, maka
dia berusaha untuk mengasingkan diri kepuncak-puncak gunung yang diliputi oleh
kabut dan halimunan. Sampai akhirnya dia hilang seperti ditelan bumi. Namanya
kemudian hanya akan diingat orang sebagai sebuah legenda yang pernah
menggegerkan dunia persilatan.
Keadaan
seperti inilah yang dianggap sebagai pencapai tertinggi bagi seorang meditator.
Posisi inilah yang dianggap sebagai TITIK TERTINGGI atau TITIK AKHIR yang bisa
dicapai oleh seorang meditor, tapi sebenarnya masih artificial. Ya…, Pengalaman
Puncak Artificial.
Karena
titik tertinggi, maka tidak jarang meditator itu merasa bahwa dirinya adalah
Tuhan. Diri yang paling kuasa. Diri yang bisa melakukan apapun juga. Karena
memang saat itu memang hanya dia sendiri yang ada. Yang ada didepannya hanya
kekosongan yang maha luas dan tidak ada apa-apa. Oleh sebab itulah sering
muncul ungkapan yang sangat terkenal dikalangan meditator “Aku adalah Dia,
Dia adalah aku”. TAT TWAM ASI. Dan ini juga sangat menyiksa sekali sebenarnya.
Nggaak percaya?. Coba deh…
Pengalaman
Puncak Artificial seperti inilah yang akan dialami oleh orang-orang yang merasa
mendapatkan pencerahan akibat mengalami suatu penderitaan yang sangat hebat,
atau berada dalam suatu tekanan hidup yang sangat besar, atau menyiksa dirinya
sampai kebatas maksimum yang dapat dipikul oleh tubuhnya. Enkart Tole,
pengarang buku “The Power of Now”, mengalaminya. Stefan Hawkins mengalaminya,
Penemu-penemu ilmu pengetahuan lainnya juga mengalaminya. Sidharta Gautama
Mengalaminya. Bunda Theresa mengalaminya.
Tapi
walaupun masih Artificial, hasilnya sangatlah hebat. Bunda Theresa, misalnya,
sangat terkenal pengabdiannya untuk membantu orang-orang papa, miskin,
penyakitan, dan penuh kekurangan hidup. Dia seperti hidup penuh KASIH SAYANG
kepada semua orang-orang seperti itu, sehingga dia dikenal hampir diseluruh
dunia.
Kenapa
Beliau bisa memberikan kasih sayang yang sedemikian besarnya kepada orang-orang
yang mederita seperti itu?. Jawabannya sebenarnya sederhana. Pada posisi
kesadaran dia sebagai aku yang sendirian dan sangat luas seperti diatas, ketika
dia melihat orang-orang yang menderita, penderitaan orang-orang itu telah
menjadi penderitaan dia sendiri. Sehingga diapun dialiri oleh kesenangan dan
kebahagia ketika dia membantu orang-orang yang berada dalam penderitaan itu.
Sebab saat itu dia, dengan kesadaran akunya yang sudah luas itu, ketika dia
membantu orang lain, pada hakikatnya dia sedang membantu dirinya sendiri.
Kebahagian
seperti inilah yang akan dialami oleh semua pekerja sosial yang sangat banyak
tersebar diseluruh permukaan bumi. Bagus?. Ya…bagus sekali. Karena semua itu
memang adalah fitrah manusia yang kalau kita jalani akan menimbulkan
kebahagiaan buat diri kita sendiri.
Cuma
tetap saja ada sebuah fitrah yang selalu mengalir begitu kuatnya di dalam diri
kita, yaitu fitrah untuk berterima kasih. Fitrah untuk bersyukur yang nanti
akan kita bahas dalam bagian tersendiri.
Dua
Jalan Yang Membentang Luas
Dalam
keadaan aku yang sendirian seperti ini, tak ubahnya seperti aku sedang berada
di wilayah AMBANG. Wilayah antara. Aku berada dipersimpangan jalan. Aku bisa
memilih antara aku bisa MENGADA atau aku bersedia untuk TIADA. Aku dihadapkan
pada dua pilihan jalan yang terbentang luas dihadapanku.
Aku
tak ubahnya seperti sedang berada di sebuah lantai yang sangat tipis yang
membatasi dua wilayah yang sangat berbeda. Jika aku memandang kebawah, maka aku
segera melihat ALAM KETIDAKPATUHAN. Berbagai keramaian pikiran, getaran, dan
energi saling menggulung dan tumpang tindih. Dan aku bebas sekali untuk
menggunakan semuanya itu. Sebaliknya, jika ku palingkan pandanganku keatas, aku
dihadapkan dengan ALAM KEPATUHAN. Untuk masuk kesana, aku harus menanggalkan
kedua “terompahku”. Karena semua yang ada disana sedang bersujud patuh, tidak
berkutik, tidak berani berkata-kata, tidak berani bertanya, bahkan untuk mengangkat
kepalapun tidak ada yang berani tanpa diperintahkan. Kebeningan dan kelembutan
menyergap semuanya.
Aku
bebas untuk memilih wilayah mana yang akan kumasuki dan kulalui :
Pilihan
itu adalah:
• Jalan Pertama, Jalan Ketidakpatuhan,
memintaku agar aku segera menyatakan keakuanku itu, dalam bentuk berbagai ilmu
dan kemampuan, sehingga aku menjadi orang yang sakti, hebat, kuat. Ada berbagai
hukum dan kepastian yang bisa aku olah dan aku manfaatkan sebagai tanda bahwa
aku ada. Apakah aku akan mengambil segala ilmu, kehebatan, dan kesaktian itu
yang sedang menggodaku agar aku mendekat kepadanya?. Sehingga aku bisa mengaku,
Atau…
• Aku memilih jalan kedua, Jalan Kepatuhan,
dimana aku harus bersedia untuk melepaskan keakuanku itu kepada sesuatu yang
paling berhak untuk mengaku-ngaku itu, sehingga akupun akhirnya bisa berjalan
dengan lega, lapang, longgar tanpa pengakuan akan apapun juga. Karena kalau aku
bersedia untuk tidak mengaku, maka akupun tidak akan pernah dimintakan
pertanggungjawaban atas apa–apa yang tidak aku akui. Aku sudah tiada, sehingga
hilanglah segala urusan yang akan dinisbahkan kepadaku.
Dimana,
Jalan kedua inilah yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul Allah, Para Wali
Allah dan orang-orang Shaleh di sepanjang zaman.
Jalan
Penuh Ilmu…
Karena
aku masih belum mau untuk tiada, hawa nafsuku dan pikiranku masih menawanku,
maka akupun memilih Jalan Ketidakpatuhan. Jalan penuh ilmu. Aku ingin mengada,
aku ingin eksis. Aku ingin lebih sakti, lebih baik dari siapapun juga. Aku
bersedia patuh kepada hukum getaran dan hukum-hukum universal lainnya yang
telah disiapkan oleh Allah untuk bekalku mengada.
Ya…,
dititik “aku” inilah TITIK AKHIR perjalanan ruhaniku, dan sekaligus TITIK AWAL
bagiku untuk mendapatkan berbagai ILMU KESAKTIAN bermula. Karena saat itu, aku
yang sendirian ini sedang berada dalam keadaan KONSENTRASI PENUH. Aku berada
dikekinian waktu dan tempat. Aku berada disini pada detik ini untuk MENGADA.
Aku SIAP untuk melakukan proses berbagai keilmuan yang akan membuat diriku
menjadi SAKTI. Aku sudah berhasil. Aku sudah bertemu dengan DIRIKU sendiri. Aku
sudah tahu siapa aku. Yaitu aku yang berilmu dan sakti… Dengan begitu aku Siap
MENGADA.
Pada
titik “aku” ini pulalah yang akan menjadi TITIK AWAL dari perjalanan TANPA
AKHIRKU yang akan aku JALANI karena aku sudah tidak tahu lagi dimana alamat
tempat pemberhentianku yang terakhir. Aku akan menjadi seorang pejalan abadi.
Berbagai alam sedang menantiku untuk aku masuki, termasuk ALAM ASTRAL yang
sangat mengasyikkan.
Begitu
aku berpikir tentang suatu ilmu, maka yang muncul pertama kali adalah GETARAN
dari ILMU itu. Ilmu getaran. Jika aku mengolah getaran itu dengan cara-cara
tertentu, maka getaran itu akan berujung pada penciptaan sebuah materi atau
energi sebagai hasil dari ilmu yang aku pikirkan tadi. Hasilny itulah yang akan
aku jadikan sebagai bukti tentang kesaktianku. DUAR… Bisa…, Jadi….
Paling
tidak ada 12 hukum universal yang sedang melambai-lambaikan tangannya agar aku
memanfaatkannya. Allah memberiku fasilitas dan hukum-hukum yang sangat wah dan
penuh kepastian yang bisa kupakai untuk mengaku-ngaku…, yaitu:
1. The
Law of Divine Oneness
Bahwa
aku hidup di dunia berada dalam sebuah kesatuan. Aku terhubung dengan segala
sesuatu yang ada dan yang terjadi di alam semesta ini. Semua yang aku lakukan,
katakan, pikirkan dan percayai akan mempengaruhi orang lain dan alam semesta di
sekitarku.
2. The
Law of Vibration
Bahwa
segala sesuatu di alam semesta ini bergerak, bergetar, dan berjalan mengikuti
pola-pola melingkar. Hal ini berlaku untuk semua materi dan energi yang ada di
dunia fisik, maupun untuk pikiran, perasaan, keinginan, dan kehendak di dunia
Etheric. Setiap suara, hal atau keadaan, dan bahkan aktiftas berpikir memiliki
frekuensi getarannya sendiri-sendiri yang unik.
3. The
Law of Action
Aku
harus melakukan tindakan-tindakan nyata untuk mendukung dan mengujudkan
pikiran, mimpi, emosi dan kata-kataku.
4. The
Law of Correspondence
Hukum
ini menyatakan bahwa prinsip-prinsip atau hukum-hukum fisika yang menjelaskan
dunia fisik – energi, cahaya, getaran, dan gerak akan memiliki prinsip-prinsip
yang berkesesuaian atau kesamaan masing-masing di dunia eterik atau alam
semesta. “Seperti apa di atas, seperti itu pulalah di bawah”, “Seperti apa di
dalam batin kita, seperti itu pulalah di luar atau lahiriah kita”.
5. The
Law of Cause and Effect
Bahwa
tidak ada sesuatupun yang terjadi secara kebetulan atau di luar Hukum
Universal. Setiap tindakan yang aku lakukan memiliki reaksi atau konsekuensi
yang akan kurasakan sendiri. “aku akan menuai apa yang telah aku tabur”. Atau
dalam istilah agama Hindu disebut sebagai Hukum KARMA.
6. The
Law of Compensation
Hukum
ini adalah Hukum Sebab Akibat yang berkenaan dengan berkah dan kelimpahan yang
disediakan bagiku. Efek dari perbuatanku yang diberikan kepadaku dalam bentuk
hadiah, uang, warisan, persahabatan, dan berkah.
7. The
Law of Attraction
Hukum
ini menunjukkan bagaimana aku menciptakan hal-hal, peristiwa, dan orang-orang
yang datang dan pergi ke dalam hidupku. Pikiranku, perasaanku, perkataanku, dan
tindakanku akan menghasilkan energi yang yang akan menarik energi yang sesuai
dan seirama dengan energi yang ku berikan. Energi negatif menarik energi
negatif dan energi positif menarik energi positif.
8. The
Law of Perpetual Transmutation of Energy
Bahwa
aku memiliki kekuatan di dalam diriku untuk mengubah kondisi hidupku. Getaranku
yang lebih tinggi akan mengkonsumsi dan mengubah getaranmu yang lebih rendah.
Dengan demikian, aku dan kamu dapat mengubah energi dalam kehidupan kita dengan
memahami Hukum Universal dan menerapkan prinsip-prinsipnya sedemikian rupa
untuk melakukan perubahan. Hukum ini sangat powerful
9. The
Law of Relativity
Bahwa
setiap orang akan menerima serangkaian masalah (Tes Inisiasi) untuk tujuan
memperkuat Cahaya di dalam dirinya. Aku mempertimbangkan setiap tes atau
permasalah ini menjadi tantangan dan aku tetap terhubung dengan hatiku ketika
aku memecahkan permasalahan ini. Hukum ini juga mengajarku untuk membandingkan
masalahku dengan masalah orang lain dan meletakkan segala sesuatunya dalam
perspektif yang tepat. Tidak peduli betapa buruknya situasi dimana aku berada,
selalu ada orang lain yang berada dalam posisi yang lebih buruk dariku. Itu
semua relatif.
10. The
Law of Polarity
Hukum
ini menyatakan bahwa segala sesuatu adalah sebuah kontinum dan memiliki hal-hal
yang berlawanan. Ada dua kutub yang saling berlawanan. Aku dapat menekan dan
mengubah pikiran yang tidak aku inginkan dengan berkonsentrasi pada kutub
pemikiran yang berlawanan. Ini adalah hukum getaran mental.
11. The
Law of Rhythm
Hukum
ini menyatakan bahwa segala sesuatu bergetar dan bergerak dengan ritme yang
tertentu. Ritme ini menetapkan musim, siklus, tahap perkembangan, dan pola.
Setiap siklus mencerminkan keteraturan alam semesta. Aku tahu tahu bagaimana
caranya untuk naik di atas bagian negatif dari sebuah siklus dengan tidak
pernah terlalu bersemangat atau membiarkan hal-hal negatif untuk menembus
kesadaran mereka.
12. The
Law of Gender
Bahwa
segala sesuatu memiliki prinsip-prinsip sifat maskulin (YANG) dan feminin (YIN)
masing-masing yang merupakan dasar bagi semua ciptaan. Untuk memulai
Spirituality, energi maskulin dan feminin yang ada di dalam diriku harus aku
seimbangkan untuk menjadikanku seseorang yang benar-benar bisa menciptakan
sesuatu bersama Tuhan.
Jika
aku ambil, aku olah, dan aku manfaatkan semua fasilitas itu, maka aku yang
tadinya sudah bebas merdeka, sendirian, kemudian berubah menjadi budak dari
ilmu kesaktian itu. Aku dipaksa oleh ilmu kesaktian itu untuk mengabdi
kepadanya. Aku akan dipaksa pergi kemana-mana, sibuk modar-mandir, untuk
mencerita-ceritakan kesaktianku itu. Ketika aku melakukan itu, aku seperti
menceritakan diriku sendiri. Aku seperti mengiklankan diriku sendiri. Aku juga
dipaksa oleh ilmuku itu untuk mengajak-ngajak orang lain agar dia mau pula
mengabdi kepadanya. Aku akan berusaha sekuat tenaga, sekuat upaya, sekuat gaya,
sepenuh taktik sampai orang lain itu bisa pula menjadi hamba dari kesaktian
seperti yang aku miliki itu.
Karena
kesaktian itu sudah berubah menjadi diriku sendiri, kalau kesaktianku itu
dilecehkan, dihina, atau tidak dihargai, bahkan ditantang oleh orang lain, maka
itu namanya menantang aku… Aku akan lawan siapa saja yang tidak menghargai
diriku itu. Aku akan membela diriku. Membela kesaktianku.
Akan
tetapi, kalau kesaktianku dihargai orang, dikagumi orang, dipuja orang, maka
aku akan merasa sangat bahagia, aku sangat merasa senang. Aku bisa tersenyum
dengan sumringah. Aku akan terkekeh kesenangan. Angkuhku pun kemudian tumbuh
dan berkembang dengan semakin subur.
Disinilah
adanya NIKMAT MENGAKU. Dan nikmat ini pulalah yang menyebabkan orang-orang yang
berilmu, orang-orang yang sakti enggan untuk melepaskan kesaktiannya, untuk
melepaskan ilmunya. Mereka enggan untuk tidak menjadi siapa-siapa dan tidak
menjadi apa-apa.
Allah
telah menciptakan HIJAB-NYA yang sangat sempurna di depanku berupa ILMU dan
HUKUM-HUKUM-NYA yang bisa ku anggap hanya sekedar hukum alam atau hukum
universal biasa saja. Dan itupun bisa ku olah dan ku akui sebagai kehebatanku
sendiri yang akan memberiku rasa NIKMAT MENGAKU.
Dia
bersembunyi (GAIB) dibalik Ilmu dan Hukum-hukum-Nya itu dengan sangat sempurna
sekali. Sungguh…
Dan
yang pasti diwilayah pengakuan ini pulalah tempat yang dipakai dan dihuni oleh
IBLIS, JIN, dan SYETAN. Sehingga ketika aku berada di wilayah ini,
persinggungan-persinggunganku dengan mereka sangat mudah sekali, semudah
mengedipkan mata.
Az
Zukhruf 36:
Barang
siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (tidak ingat
kepada Allah), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syatan
itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya (corona).
Al
Mujaadilah 19:
Syaitan
itulah yang menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;
mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan syaitan
itulah golongan yang merugi.
Bersambung
ke :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar