Yang harus kita sadari di sini, yang dimaksud doa adalah "krenteg" hati atau geliat hati yang dibarengi dengan penuh perasaan. Entah perasaan baik atau perasaan buruk, senang atau benci. Jadi, tak heran Kanjeng Nabi menyuruh kita berdoa yang baik-baik. Karena faktanya krenteg geliat hati kita sering menjurus pada penilaian buruk. Yup, Justifikasi terhadap polah tingkah manusia adalah kegemaran kita....memakan bangkai saudara sendiri.
Parahnya, kita tak pernah sadar bahwa krenteg-krenteg buruk tersebut telah mewujud menjadi asupan keseharian. Darah bangkai itu telah menyublim menjadi aliran darah kita sendiri. Hingga kita tak pernah tahu darimana sebenarnya kesumpekan dan keburukan diri ini berasal. Dan solusi pelarian kita atas hal itu biasanya sebatas kemampuan mengkorban bangkai kambing hitam atas orang lain...hiks!
*
Maka sembelihlah hewan kurban itu dengan mengalirkan darahnya melalui leher, bukan lagi mengkurbankan bangkai yang sudah mati. Alias putuskan hubungan antara pencapaian indera kepala dengan hati. Dimana leher adalah jalan tengah keduanya. Sehingga penilaian-penilaian yang timbul atas respon kepala tidak sampai mengotori hati. Dengan kata lain, berbanding terbalik dengan pendapat umum, kepala boleh panas, hati tetap dingin.
Seperti mesin, bila kepala tak bekerja, maka mesin otak akan dingin, tidak panas. Lalu bagaimana anjuran ayat afalaa taqilun..afalaa tataffakkarunn...afalaa tubsirun...apa kamu gak menggunakan akalmu, apa kamu tak bertafakur...-bila kita tak mau berfikir menggunakan otak ini?
Toh faktanya orang yang tak mau berfikir secara sistematis, akhirnya ya kepikiran.....yup, pilihannya hanya dua, berfikir atau kepikiran....hehehe...
Sedang hati haruslah tetap dingin. Sebab hati adalah rumah, tempat kenyamanan. Rumah yang nyaman pastilah harus sering dibersihkan, ada udara yang mengalir lancar, sejuk, dan cahaya yang terang. Hal ini sama persis atas tuntutan hati yang meenginginkan kadaan rumah ideal. Agar penghuni yang lelah beraktifitas di luar, ketika istirahat di dalamnya akan terasa nyaman, at home, dan mampu menstimulasi ide-ide baru.
Mudahnya, otak itu pekerjaan kantor, hati adalah pekerjaan rumah. jadi, urusan kantor jangan dibawa ke rumah, dan sebaliknya....daripada rumah tangga jiwa raga ini ruwet....
Intinya, otak dan hati punya logika sendiri-sendiri, seperti fakta otak yang tak punya rasa cinta ataupun hati yang tak kenal kalkulator. Gak perlu dibenturkan, karena keduanya memang mempunyai sifat berlainan. Cukup diberi batas alirannya. Dan Batas tersebut adalah leher....dimana leher sesungguhnya adalah pusat muara kefasihan keduanya. Karena bila tidak dialirkan untuk sesama, pastilah mengandung bahayyya.... yang memunculkan fitnah dari mulut atas perolehan kepandaian akal ataupun khawas hati.
Maka berqurban adalah jalan satu-satunya, yang bertujuan mendekatkan proses olah fikir dan olah hati terhadap hablumminannas ataupun hablummninallah secarta lebih fair dan nyaman.
Di sini nanti dapat diukur dengan mudah, bahwa orang yang suka berdebat dan senang memmbenturkan antara otak dengan hati, atau otak vs otak, ataupun qolbu vs qolbu, sesungguhnya hanya karena kurang bersedekah, berzakat atau berqurban...
Dari sekian banyaknya ilmu kepala ataupun khawas hati tak ada niat mewakafkan diri untuk sesama... hmmh...Spiritual yang masih spirituang....mental yang masih meminta, bukan memberi...entah meminta dianggap paling benar dan jago ataupun minta imbalan....
Belum menjadi tangan di atas yang sanggup kehilangan atas pemberian itu.....eeqqqiiyyy....
Jadi, sekelumit makna Idul Qurban adalah menyembelih secara halal sebuah egoisme isi kepala dengan cara yang benar. Bukan dengan cara mengkambinghitamkan dan memakan bangkai saudara sendiri.
Cara menyembelih diri tentu bukanlah dengan membawa golok dan menggorok tenggorokan sendiri. Tetapi dengan cara wukuf di padang arafah pas ketika matahari di atas kepala. Wukuf yang memaknakan diam mengheningkan cipta dan melenyapkan segala bentuk angan-angan, yang intinya membuang segala krenteg geliat penilaian otak dan hati...sampai muncullah cahaya dalam yang diri teramat terang, tanpa ada bayangan hitam sedikitpun.
Ya, terang tanpa terik...hingga mampu menerangi siapa saja tanpa terasa menyengat panas hati yang sedang disinari.
Maka Wukuflah, diamlah dengan sejenak....diam tanpa gambaran apapun...Ya, sejenak...ya, sejenak...
Namun sejenak bukanlah terburu-buru...perintah sejenak adalah perintah yang mengikuti konsep Yang Memerintah, yaitu perintah hitungan Langit. Sehari di langit adalah seribu tahun bumi. Dan sejenaknya hitungan Langit adalah semasa hidup kita, alias seluruh usia...
Tetapi bila sampean belum mampu berhaji ke tanah Arab, maka carilah Baitullah yang berada dalam diri... Baitullah yang akan mengingatkan kita secara kontan akan perbuatan krenteg baik buruk. Dan Sesungguhnya tempat itu tak jauh...karena memang letaknya di hati kita masing-masing...
Kemudian setelah menyadari keadaan ini, berdoalah di tempat mustajab itu dengan kehati-hatian...dan sampean akan tahu bahwa ayat"berdoalah padaKU niscaya AKU kabulkan", benar adanya....sebab sampean telah menemukan yang dimaksud dengan kata "AKU". Bukan lagi sekedar katanya bin katanya....
Dan sesungguhnya anjuran berhaji bila mampu bukanlah sebatas secara fisik dan finansial. Tetapi telah mampu ruhani melaksanakan empat rukun sebelumnya. Dimana rukun pertama adalah syahadat penyaksian keakbaran laku af'alnya Allah yang membuahkan ketidakberanian diri yang terlanjur mudah melakukan justifikasi-justifikasi polah manusia, dan pastinya rukun kedua adalah bukti dari ketidakberanian itu sehingga setiap tingkah polah pribadi selalu berdasar atas hasil silatun-sholat-nyambung terhadap turunnya petunjuk-petunjuk saat mi'raj dengan Allah.
Hingga muncullah secara otomatis bahwa orang yang telah benar-benar sholat, pasti hidupnya lebih mengutamakan orang lain, mendharma bhaktikan hidup, mezakatkan segala perolehan karunia diri untuk kemakmuran bersama.Karena fakta ayat sudah menjelaskan bahwa setiap perintah sholat, konsekwensinya adalah zakat.
Hmmh...Akhirnya bertemulah wukuf diri di dalam wakafnya jiwa raga buat orang sekitar.
Maka tumbuhlah secara reflek rukun keempat hingga jadilah ia orang yang shoim,orang puasa yang sudah mampu mengendalikan liarnya cairan darah dalam diri.
Mereka-mereka yang telah mampu menahan keinginan-keinginan selain keinginan untuk selalu berwukuf, berdiam diri di Baitullah bersama Sang Pemilik Rumah. Hingga akhirnya Innallaha ma'ani-Sesungguhnya Allah bersamaku telah bersifat menghunjam pribadi, tak bisa goyah karena keadaan ataupun karena logika perdebatan.
Sedangkan Haji yang pergi ke tanah arab hanyalah sebuah proses cross check atas empat rukun sebelumnya, apakah yang kita kerjakan pada rukun sebelumnya adalah sebuah proses wukuf itu sendiri atau masih sebatas riya' hidup yang terombang-ambing penuh penilaian....
Wa ba'du... ( heks! koyok ceramah ae ) Semoga bagi yang sedang menunaikan ibadah haji bisa menjadi haji yang mabrur, haji yang baik sempurna. Karena telah sempurna sinkronisasi dan sinambungnya dengan rukun-rukun sebelumnya. Haji yang merdeka...yang tak lagi terjajah lagi oleh bisikan-bisikan krenteg buruk dan ruwetnya pikiran....Haji yang telah sempurna mengqurban kepala kambing hitam dan berwukuf dalam hati dengan par exellence....
Ehmm...Tapi ini semua cuma sekedar jlentrehan be'e lho yooo...lha wong yang nulis belum pernah naik haji kok....dan jangankan naik haji, lha wong sholat aja masih kembut kembut hare.....sinyale mendhrip-mendhrip...konek nggak..konek...nggak....eeeqqqqiiiyyy....sampe watuk reeeek...rek........
Wassalam, Makmum Tjap Kambing
Dody Ide
www.padhangjingglang.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar