Kamis, 31 Maret 2016

Hijab

Posted by Mistikus Cinta

Sayyidina Ali r.a. pernah ditanya oleh seorang sahabatnya bernama Zi'lib Al-Yamani, "Apakah Anda pernah melihat Tuhan?" Beliau menjawab, "Bagaimana saya menyembah yang tidak pernah saya lihat?" "Bagaimana Anda melihat-Nya?" tanyanya kembali. Imam Ali menjawab, "Dia tak bisa dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat, tetapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan ...".
Kisah diatas telah menggambarkan bahwa tidaklah mustahil seorang yang telah beriman untuk dapat melihat Allah azza wazala, Dia Tuhan yang menciptakannya, Tuhan yang kita sembah, yang memberi kita hidup. Lalu pertanyaannya kemudian Mungkinkah kita dapat melihatNya ? ..., Dimanakah Allah ...?..
Hati merupakan pusat dari segala kemunafikan, kemusyrikan, dan merupakan pusat dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusiawi. Dan pusat ini merupakan tempat dimana mereka bertemu dengan Tuhannya. Merupakan janji Allah saat fitrah manusia menanyakan dimanakah Allah ? Lalu, Allah menyatakan diri-Nya berada "sangat dekat", sebagaimana tercantum dalam Al Qur'an :
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang "Aku" maka (jawablah) Bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila berdo'a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran " (QS 2:186)
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya" (QS 50:16)

Didalam ayat-ayat di atas, mengungkapkan keberadaan Allah sebagai "wujud" yang sangat dekat. Dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara utuh. Maka dari itu jawaban atas pertanyaan "dimanakah Allah?". Al Qur'an mengungkapkan jawaban secara dimensional. Jawaban-jawaban tersebut tidak sebatas itu, akan tetapi dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia seutuhnya. Saat pertanyaan itu terlontar "dimanakah Allah ", Allah menjawab "Aku ini dekat", kemudian jawaban meningkat sampai kepada "Aku lebih dekat dari urat leher kalian atau dimana saja kalian menghadap disitu wujud wajah-Ku dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu."
Keempat jawaban tersebut menunjukkan bahwa Allah tidak bisa dilihat hanya dari satu dimensi saja, akan tetapi Allah merupakan kesempurnaan wujud-Nya, seperti didalam firman Allah : "Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keragu-raguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. ingatlah bahwa sesungguhnya Dia maha meliputi segala sesuatu. (QS 41:54)
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah maha luas lagi maha mengetahui" (QS 2:115)
Sangat jelas sekali bahwa Allah menyebut dirinya "Aku" berada meliputi segala sesuatu, dilanjutkan surat Al Baqarah ayat 115 ..dimana saja engkau menghadap disitu wajah-Ku berada!!! Kalau kita perhatikan jawaban Allah, begitu lugas dan tidak merahasiakan sama sekali akan wujud-Nya.
Namun demikian Allah mengingatkan kepada kita bahwa untuk memahami atas ilmu Allah ini tidak semudah yang kita kira. Karena kesederhanaan Allah ini sudah dirusak oleh anggapan bahwa Allah sangat jauh. Dan kita hanya bisa membicarakan Allah nanti di alam surga. Untuk mengembalikan dzan kita kepada pemahaman seperti yang diungkap oleh Al Qur'an tadi, kita hendaknya memperhatikan peringatan Allah, bahwa Allah tidak bisa ditasybihkan (diserupakan) dengan makhluq-Nya.
Didalam kitab tafsir Jalalain ataupun didalam tafsir fi dzilalil qur'an, membahas masalah surat Fushilat ayat 54, Allah meliputi segala sesuatu adalah ilmu atau kekuasaan-Nya yang meliputi segala sesuatu, bukan dzat-Nya.
Pendapat ini merupakan tafsiran ulama, untuk mencoba menghindari kemungkinan masyarakat awam mentasybihkan (menyerupakan) wujud Allah dengan apa yang terlintas didalam fikirannya ataupun perasaannya. Sehingga "Allah" sebagai wujud sejati ditafsirkan dengan sifat-sifat Nya yang meliputi segala sesuatu. Untuk itu, saya huznudzan memahami pemikiran para mufassirin sebagai pendekatan ilmu dan membatasi pemikiran para awam.

Akan tetapi kalau "Allah" ditafsirkan dengan sifat-sifat-Nya, yang meliputi segala sesuatu. Akan timbul pertanyaan, kepada apanya kita menyembah? Apakah kepada ilmunya, kepada kekuasaan-Nya atau kepada wujud-Nya? Kalau dijawab dengan kekuasan-Nya atau dengan ilmu-Nya maka akan bertentangan dengan firman Allah :
"Sesungguhnya Aku ini Allah , tidak ada tuhan kecuali "Aku", maka sembahlah "Aku" (QS 20:14)

Ayat ini menyebutkan "pribadinya" atau dzat Allah, kalimat sembahlah "Aku". Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan menghadapkan wajahnya kepada wajah Dzat yang Maha Mutlak. Sekaligus menghapus pernyataan selama ini yang justru menjauhkan "pengetahuan kita " tentang dzat, kita menjadi takut kalau membicarakan dzat, padahal kita akan menuju kepada pribadi.Allah, bukan nama, bukan sifat dan bukan perbuatan Allah. Kita akan bersimpuh dihadapan sosok-Nya yang sangat dekat.
Ungkapan tentang Tuhan, juga disebut sebagai dalil pertama yang menyinggung hubungan antara dzat, sifat, dan af'al (perbuatan) Allah. Diterangkan bahwa dzat meliputi sifat ; sifat menyertai nama ; nama menandai af'al. Hubungan-hubungan ini bisa diumpamakan seperti madu dengan rasa manisnya, pasti tidak dapat dipisahkan. Sifat menyertai nama, ibarat matahari dengan sinarnya, pasti tidak bisa dipisahkan. Nama menandai perbuatan, seumpama cermin, orang yang bercermin dengan bayangannya, pasti segala tingkah laku yang bercermin, bayangannya pasti mengikutinya. Perbuatan menjadi wahana dzat, seperti samudra dengan ombaknya, keadaan ombak pasti mengikuti perintah samudra.

Uraian di atas menjelaskan, betapa eratnya hubungan antara dzat, sifat, asma, dan af'al Tuhan. Hubungan antara dzat, dan sifat ditamsilkan laksana hubungan antara madu dan rasa manisnya. Meskipun pengertian sifat bisa dibedakan dengan dzat..namun keduanya tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Kalimat Allah meliputi segala sesuatu (QS 41:54) adalah kesempurnaan ..dzat , sifat, asma, dan af'al. Sebab kalau hanya disebut sifatnya saja yang meliputi segala sesuatu, lantas ada pertanyaan, "sifat" itu bergantung kepada apa atau siapa ? Jelas akan bergantung kepada pribadi (Aku) yang memiliki sifat. Kemudian kalau sifat yang meliputi segala sesuatu, kepada siapakah kita menghadap? Kepada Dzat atau sifat Allah. Kalau sifat Allah sebagai obyek ibadah kita, maka kita telah tersesat, sebab sifat, asma dan perbuatan Allah bukanlah sosok dzat yang Maha Mutlak itu sendiri.
Semua selain Allah adalah hudust (baru),. karena "adanya" sebagai akibat adanya sang Dzat. seperti adanya alam, adanya malaikat, adanya jin dan manusia. Semua ada karena adanya dzat yang maha qadim. Seperti perumpamaan madu dan manisnya, sifat manis tidak akan ada kalau madu itu tidak ada. Dan sifat manis itu bukanlah madu. Sebaliknya madu bukanlah sifat manis. Artinya sifat manis tergantung kepada adanya "madu". Apakah Dzat itu, seperti apa? Apakah ada orang yang mampu menjabarkan keadaannya ?
Singkat kata, dualitas berkaitan dengan sifat diskursus manusia tentang Tuhan. Untuk bisa memahami Tuhan, kita harus mengerti keterbatasan-keterbatasan konsepsi kita sendiri, karena menurut perspektif ketakperbandingan tak ada yang bisa mengenal Allah kecuali Allah sendiri!!! Karena itu kita punya pengertian tentang Tuhan, "Tuhan" konsepsi saya dan "Tuhan" konsepsi hakiki, yang berada jauh diluar konsepsi saya. Tuhan yang dibicarakan berkaitan dengan "konsepsi saya". Konsepsi Dzat yang hakiki tidak bisa kita fahami, baik oleh saya maupun anda. Karena itu kita tidak bisa berbicara tentangnya secara bermakna. bagaimana kita bisa memahami tentang Dia, sedang kata-kata yang ada hanya melemparkan kita keluar dari seluruh konsepsi manusia. Seperti, Al awwalu wal akhiru (Dia yang Awal dan yang akhir), Dia yang tampak dan yang tersembunyi (Al dhahiru wal bathinu), cahaya-Nya tidak di timur dan tidak di barat (la syarkiya wa la gharbiya), tidak laki-laki dan tidak tidak perempuan, tidak serupa dengan ciptaan-Nya dst.
Kenyataan Tuhan tidak bisa dikenal dan diketahui berasal dari penegasan dasar tauhid `laa ilaha illallah atau laisa ka mistlihi syai'un' (tidak sama dengan sesuatu). Karena tuhan secara mutlak dan tak terbatas benar-benar dzat maha tinggi, sementara kosmos berikut segala isinya hanya secara relatif bersifat hakiki, maka realitas Ilahi berada jauh diluar pemahaman realitas makhluq. Dzat yang maha mutlak tidak bisa dijangkau oleh yang relatif.
Kita dan kosmos (alam) berhubungan dengan tuhan melalui sifat-sifat Ilahi yang menampakkan jejak-jejak dan tanda-tandanya dalam eksistensi kosmos. Kita tidak bisa mengenal dan mengetahui Tuhan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya melalui kosmos (sifat, nama, af'al). Firman Allah:
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Dia mempunyai nama-nama yang yang indah "(QS 20:8)
Sifat, nama, dan af'al, secara relatif bisa dirasakan dan difahami "maknanya". Akan tetapi "Dzat", adalah realitas mutlak. Dan untuk memahami secara hakiki harus mampu memfanakan diri, ... yaitu dengan memahami bahwa keberadaan makhluq adalah tiada.
Firman Allah :
"(yang memiliki sifat-sifat yang..) Demikian itu ialah Tuhan kamu. Tidak ada Tuhan selain Dia. pencipta segala sesuatu maka sembahlah Dia, dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan. Dan Dialah yang maha halus lagi maha mengetahui" ( QS 6:102-103)
Realitas bahwa Dzat tuhan tidak bisa dibandingkan dengan sesuatu (QS 26:11) ... berlaku sampai diakhirat kelak. Walaupun Tuhan sendiri mengatakan bahwa manusia di alam surga akan melihat realitas Tuhan secara nyata atas eksistensi Allah, bukan berarti kita melihat dengan perbandingan pikiran manusia yang dimaksud melihat secara hak disini adalah kesadaran jiwa muthmainnah yang telah lepas dari ikatan alam atau kosmos.
Atau biasa disebut "fana", keadaan ini manusia dan alam seperti keadaan sebelum diciptakan yaitu keadaan masih kosong 'awang uwung' (jawa), kecuali Allah sendiri yang ada. Tidak ada yang mengetahui keadaan ini kecuali Allah sendiri.
Keadaan awal (Al Awwalu) tidak ada yang wujud selain Allah, tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada alam apapun yang tercipta. Untuk mengetahui keadaan seperti ini marilah kita ikuti kisah nabi Musa As. Firman Allah :
"Dan tatkala Musa datang (untuk munajat) dengan Kami, pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya. Berkatalah Musa : ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku. Agar aku dapat melihat kepada Engkau. Tuhan berfirman: kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat-Ku, tetapi melihat-lah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagaimana sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku. Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan, maka setelah Musa sadar kembali dia berkata. Maha Suci Engkau, dan aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman" (QS 7:143)
Ada yang menarik dalam peristiwa "pertemuan" nabi Musa ... dan saya hubungkan dengan pembahasan mengenai keadaan "kefanaan" manusia dan alam. Yakni keadaan hancur luluh lantak keadaan gunung Thursina dan keadaan Musa jatuh pingsan!!! Setelah gunung itu hancur dan Musa-pun jatuh pingsan, tidak satupun yang terlintas realitas apapun didalam perasan Musa dan fikirannya, kecuali ia tidak tahu apa-apa. Yaitu realitas konsepsi manusia dan alam tidak ada (fana). Dalam keadaan inilah Musa melihat realita Tuhan, bahwa benar Tuhan tidak bisa dibandingkan oleh sesuatu apapun. Kemudian Musa kembali sadar memasuki realitas dirinya sebagai manusia dan alam. Musa berkata :aku orang yang pertama-tama beriman..dan percaya bahwa Allah tidak seperti konsepsi "saya".
Setelah kita mengetahui dan faham akan Dzat, sifat, dan af'al Allah, teranglah fikiran dan batin kita, sehingga secara gamblang kedudukan kita dan Allah menjadi jelas, yaitu yang hakiki dan yang bukan hakiki. Terbukalah mata kita dari ketidaktahuan akan Dzat. Ketidaktahuan inilah yang dimaksudkan dengan tertutupnya hijab, sehingga perlu disadarkan oleh kita sendiri atau seorang guru yang mursyid agar kemudian dapat meningkat kepada mengenal-Nya (ma'rifat).
Hijab atau tirai itu berkenaan dengan mereka yang terdinding / terhalang dengan Zat Yang Agung itu. Nur / Cahaya Allah. Ada sebuah hadis yang menyebutkan ;
"Allah mempunyai 70 000 hijab cahaya dan gelap; sekiranya Dia membuka hijab itu, maka Keagungan wajahNya nescaya akan menelan tiap-tiap orang yang menelannya dengan pandangannya"

(Setengah mengatakan "70 000" hijab, dan ada pula yang mengatakan "700" hijab). Imam Gozhali menerangkan bahwa angka bukanlah menunjuk pada jumlah, hal tersebut lebih menekankan kepada makna bahwa hijab itu tidaklah sedikit.
Ada tiga jenis hijab yang ada pada manusia iaitu;
Gelap sebenarnya,
Campuran gelap dengan cahaya,

Cahaya sebenarnya.

Iblis Pun Ber LOA

Sejak beberapa waktu belakangan ini - terutama sejak beredarnya buku-buku best sellers: The Secret, The Law of Atraction (LOA), The Quantum Ikhlas, yang kesemuanya bisa dimampatkan kedalam topik tentang serba serbi pemanfaatan the LOA – milis dzikrullah yang kita cintai ini telah kebanjiran ulasan-ulasan tentang fenomena LOA ini.

Ada yang bertanya-tanya dengan penuh penasaran dan bahkan selalu ingin bertanya, ada yang menjelaskannya dengan sangat bersemangat (bravo untuk pak Adhi Susilo), ada juga yang masih terbengong-bengong mengamati serbuan informasi dan testimony dari berbagai bahan bacaan. Ada yang kemudian menyangkutnya pula dengan Plurarisme, dan sebagainya. Rame sekali…, tapi ya ndak apa-apa…, otak kita harus ramai memang biar otak kita tersebut berfungsi.

Sebelum saya ikut serta menyedekahkan fikiran saya, terlebih dahulu saya ucapkan selamat hari raya idul fitri 1428 H, mohon maaf lahir dan batin buat semua peserta milis dzikrullah ini. Bagaimana kabar Abang-abang dan Uni-Uni: John Bandempo, Doddy Ide, Fajar Buana, Kobink, M Husaini, Rita Maria, Aziz Fajar, I-ONE, Sadi Harjo, Abu Robert, Mardibros, dan lain-lain. Pokoknya semua…

Marilah kita semuanya selalu menyiapkan otak kita untuk menerima informasi-informasi baru dari berbagai sumber yang telah diatur oleh Allah sedemikian rupa. Karena Allah selalu akan mengalirkan ilmu baru-Nya setiap saat melalui orang-orang yang mau menyiapkan otaknya dipakai oleh Allah untuk mengalirkan ilmu-Nya buat orang lain yang juga bersedia membuka otaknya untuk menerima ilmu tersebut.
Ilmu Allah yang diturunkan-Nya buat seluruh umat manusia ini selalu akan di update sehingga selalu pula up to date di setiap saat. Ilmu Allah tidak akan pernah obsolet. Dan Dia akan selalu mengalirkan KEBARUAN ilmu dan pemahaman disetiap nafas yang mengalir. Oleh sebab itu janganlah kita coba-coba untuk menahan aliran ilmu Allah itu dengan ilmu kita yang cetek ini. Karena pastilah kita akan keteteran. Dan anehnya, setiap kebaruan itu, berapa pun barunya, masih sangat bisa dilihat melalui ‘kacamata’ Al Qur’an.
Kalaupun kita belum mengerti dengan kebaruan ilmu itu, kita simpan dulu sebagai bahan perenungan kita untuk nanti kita tanyakan kepada Allah saat kita berduaan saja dengan Allah. Kita omongin ke Allah: “Ya Allah kok saya belum mengerti tentang ilmu yang tadi itu. Mohon tuntun ya Allah otak saya untuk bisa memahaminya, mohon ya Allah agar dada saya bisa menyerap suasana yang dimaksud oleh ilmu itu…”. Dan kemudian kita tinggal menanti saja, diam, hening, WUQUF, sampai kita dipahamkan-Nya. Insyaallah, tidak akan butuh waktu yang lama…, akan ada AHA…, OOO…, dan kita tinggal menikmatinya saja lagi…

Berbicara sedikit tentang the Law of Atraction, sebenarnya dapat dikatakan bahwa The Law of Atraction itu adalah salah satu dari sekian banyak hukum Allah yang ada dimuka bumi ini. Hukum-hukum Allah yang lain yang sudah dikenal orang misalnya adalah: Hukum Kekekalan Energi, Hukum Getaran, Hukum Polaritas, Hukum Irama, Hukum Pilihan Bebas, Hukum Aksi, Hukum Atraksi, Hukum Relativitas, Hukum Sebab Akibat, Hukum “karma”, Hukum Balas Jasa, Hukum Ketertarikan (Law of Attraction), Hukum Ganti-Rugi, Hukum Kebijaksanaan, Hukum “Reinkarnasi”, Hukum Keselarasan, Hukum Pelayanan, Hukum Kasih Tanpa Syarat, Hukum Kelimpahan, Hukum Evolusi, Hukum Kesesuaian, Hukum Gender (Yin Yang), Hukum Kesatuan, Hukum Tingkatan Keilahian, dan sebagainya… Dan anehnya semua pemahaman tentang hukum-hukum itu datangnya dari umat yang dikatakan bukan beragama islam, tapi tanpa mereka sadari mereka mampu bersikap islami (fitrah).

Sementara kita yang mengaku sebagai umat Islam ini masih saja berkutat dengan hukum-hukum dosa dan pahala, hukum neraka dan syurga. Dan untuk memahaminyapun kita masih saja menempelkan otak kita kepada tafsiran-tafsiran ulama masa lalu yang kadangkala kalau kita baca sekarang ini agak membuat kening kita berkerut marut. Otak kita berhenti di pemikiran ulama masa lalu. Begitu otak kita kita tempelkan dengan buku-buku masa lalu itu, maka otomatis kita akan berada di masa lalu pula. Otak kita tidak akan bergerak menjamah waktu sekarang, apalagi merengkuh waktu yang akan datang. Ada memang usaha kita merambah masa depan, tapi jangkauan waktunya masih sangat terlalu jauh, yaitu waktu diakhirat nanti. Jangkauan pikiran kita selalu berharap akan nikmat syurga yang nun jauh disana, sehingga hampir-hampir saja kita lupa dengan kehidupan kita saat ini. Kita jadi lupa berkarya untuk diri kita saat ini dan masa depan anak cucu kita. Kita nyaris menjadi manusia tanpa peran di zaman kita ini untuk membangun peradaban kita sendiri.
Akibatnya, jangan salahkan kalau Allah kalau Dia lalu memakai OTAK umat yang lainnya, selain Islam, untuk mengalirkan segenap ilmu-Nya yang baru sebagai bekal untuk melengkapi kebutuhan membangun peradaban umat manusia itu sendiri. Kita jadinya melongo terus dan terus melongo, atau paling banter kita masih mau menjadi pengekor saja dibelakang walau dengan agak malu-malu kucing…

IBLIS dengan LOA nya…
Suatu ketika, tatkala iblis bengong dan iri dengan bentuk Adam dihadapannya, sehingga dia tidak mau tunduk dan patuh atas perintah Allah agar dia sujud kepada Adam. Dipuncak kepenasarannya dia langsung protes menghadap kepada Allah dan menyampaikan “permintaannya” kepada Allah: Ya Rabbi, “demi Kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka kecuali hamba-hambaMu yang MUKHLISH diantara mereka (As Shaad 82-83)”. Dan…, ternyata Allah mengabulkan permintaan si iblis tersebut bahkan untuk jangka waktu sedemikian lamanya. Sampai akhir dunia ini bergerak. Kiamat.

Lalu apanya yang aneh dengan The Law of Attraction itu ??. Wong iblis saja yang notabene tidak patuh kepada Allah, namun permintaannya, do’anya, kenginannya tetap saja dikabulkan oleh Allah. Ndak aneh toh LOA itu, karena ini hanyalah kata lain dari proses pengkabulan atas apa-apa yang kita pikirkan atau inginkan?.

Begitu juga dengan do’a-do’a jutaan manusia lainnya. Allah akan kabulkan do’a itu selama si manusia itu YAKIN bahwa do’anya akan dikabulkan oleh “SESUATU” yang melampaui dirinya sendiri. Artinya saat berdo’a itu si manusia berada dalam kesadaran atas ketidakmampuan dirinya sendiri untuk mendapatkan apa-apa yang dia inginkan itu. Bahwa dia yakin atas adanya “aktivitas lain” yang akan mengantarkan apa-apa yang dia inginkan itu kepadanya. Hatta dalam memahami akan hakekat dari sesuatu itu umat manusia itu masih tersasar-sasar kemana-mana (belum tepat menghadap ke Wajah-Nya), namun Allah akan tetap saja mengabulkan doanya tanpa pandang bulu. Itulah kehebatan Allah yang tiada tandingannya…!. Karena Allah memang sudah menyatakan dengan tegas bahwa: ud’uni astajib lakum..., fadzkuruni adzkurkum..., terjemahan bebasnya: ”Berdoalah kepada-Ku, pasti Ku kabulkan, Ingatlah Aku dengan ingatanmu yang bagaimanapun juga, Akupun akan balas ingat kamu itu seperti ingatmu kepada-Ku itu”.
Malah rasanya sangat aneh kalau kita yang mengaku-ngaku sebagai umat Islam ini, jarang sekali kalau tidak mau dikatakan tidak pernah merasa yakin atas pengkabulan do’a-do’a yang kita lantunkan sehari-hari saat ini juga. Ya salah kita sendiri toh …?. Nggak YAKIN (IMAN) sih…!. NGGAK IMAN itu kan bahasa lain dari KAFIR ya ??. Atau paling tidak kita ragu-ragu terhadap Allah. RAGU-RAGU itu kan nama lain dari MUNAFIK ya nggak..?. He he he kok kaget …?


Penyebab keraguan kita itu apa ?...
Pertama, kita ragu-ragu terus atas pengkabulan Tuhan terhadap do’a-do’a yang kita lantunkan karena memang ada ilmunya yang terus kita pelihara. ILMU RAGU-RAGU. Dikabulkan Allah nggak sih do’a saya ini?. Atau baik nggak sih apa yang saya do’akan ini bagi saya?. Ditambah lagi dengan adanya ajaran yang disampaikan kepada kita selama ini bahwa kalau Allah tidak atau belum mengabulkan do’a kita didunia ini, maka kita diminta untuk yakin bahwa barangkali do’a kita itu memang tidak baik untuk kita nikmati di dunia ini, dan pastilah permintaan kta itu akan diganti oleh Allah dengan yang lebih baik di AKHIRAT kelak. Sehingga akhirnya dalam setiap do’a kita, muncul sedikit keraguan didalam diri kita atas pengkabulannya oleh Allah. Dikabulkan Allah nggak ya??.
Padahal begitu kita ragu, maka Allah pasti akan ragu pula dengan kita. Itulah sebabnya Allah di panggil juga dengan panggilan Al Mukmin. Dzat Yang Maha Yakin. Dzat Yang Tidak Boleh Diragukan Atas Keberadaan-Nya dan Atas Aktivitas Pengkabulan-Nya. Dan…, begitu kita berada dalam posisi YAKIN PENUH kepada Allah, YAKIN PENUH akan pengkabulan Allah atas do’a-do’a kita, maka kita juga akan di panggil oleh Allah sebagai Mukminin, Si Yakin.
Jadi begitu kita datangi Allah dengan rasa ingat (dzikir) kita dalam posisi sebagai si YAKIN, si MUKMIN, maka Allah akan menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya (Dzikir-Nya) sebagai AL MUKMIN, SANG MAHA YAKIN. Tegasnya, tugas kita ini sederhana saja sebenarnya, yaitu datangilah Allah dengan rasa ingat kita sebagai Mukminin, Si Yakin. Itu saja kok. Titik.
Dan selanjutnya adalah AKTIVITAS ALLAH. Maka seketika itu juga Allah akan menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya sebagai Al Mukmin, Sang Maha Yakin. Itu pasti. Dan kita tidak usah pikirkan bagaimana cara Allah menyambut rasa ingat kita itu dengan Rasa Ingat-Nya. Ini adalah hak Prerogatif Allah.
Jadi…, fadzkuruni..., datangilah Allah dengan rasa ingat kita sebagai Mukminin, Si Yakin, maka adzkurkum..., Allah akan mendatangi kita pula dengan Rasa Ingat-Nya sebagai Al Mukmin, Sang Maha Yakin.
Ssst…, let me tell you, sebenarnya Rasa Ingat Allah itu jauh melampau rasa ingat kita kepada-Nya. Saat kita datangi Allah dengan rasa ingat kita walau hanya sejengkal, maka Allah akan menyambutnya dengan Rasa Ingat-Nya dengan sehasta. Saat kita berjalan membawa rasa ingat kita kepada-Nya, maka Dia akan berlari membawa Rasa Ingat-Nya kepada kita. Artinya, sebenarnya (hakikinya) rasa ingat kita kepada-Nya itu adalah DITAROK, DISUSUPKAN, DIALIRKAN oleh Allah sendiri kedalam DADA kita. Dan aliran itu tidak akan pernah berhenti kalau kita tidak menghentikannya dengan penghalang-penghalang (HIJAB) yang kita buat sendiri. Lain kali akan kita bahas tentang hijab-hijab ini.
Kedua, kita tidak pernah Fokus serta Detail dalam berdo’a kepada Allah. Do’a kita begitu UMUM. Misalnya, kita minta kebaikan didunia ini, dan kebaikan pula diakhirat kelak, tanpa pernah kita detailkan kebaikan dunia macam apa yang kita inginkan itu. Barangkali Allah sendiripun “bertanya-tanya” atas doa-doa kita itu:
“Kau ini minta apa sebenarnya wahai hamba-Ku??. Ayo perjelas, ayo detailkan do’amu itu tentang wujud, jumlah dan kapan waktu dibutuhkan atas apa yang kau do’akan itu. Akulah yang akan mengabulkan do’amu itu. Aku akan kirim Keadaan (Hal), Orang-Orang, Situasi-Situasi, Peristiwa-Peristiwa, Kesempatan-Kesempatan yang harus kau amati dan tangkap terus disetiap saat. Karena dengan cara itulah Aku akan mengabulkan do’amu itu”.
Dan tidak jarang pula do’a kita itu begitu panjangnya sampai-sampai kita sendiri jadi bengong, bahwa sebenarnya yang kita inginkan dan mintakan kepada Allah itu itu apa sih?.

Catatan kecil:
Alhamdulillah bulan puasa kemaren ini (1428 H) saya umroh di 10 hari terakhir ramadhan. Do’a imam dalam witir dimalam 27 ramadhan begitu panjangnya. Dan banyak pula makmum yang menangis mengamininya, terutama saat imam juga menangis dalam berdo’a itu. Sepuluh tahun yang lalu, saat saya umroh ramadhan sebulan penuh, saya masih bisa menangis pula saat mendengarkan imam menangis dalam berdo’a. Tapi kemaren itu kok saya nggak bisa menangis lagi saat mendengarkan imam menangis dalam berdo’a itu ya ?. Pada saatnya nanti akan saya tulis juga sedikit pengalaman saya dalam berumroh ramadhan ini. Karena didalamnya ada suasana Mengupas Dinding Ka’bah; bermihrab di Gua Hiro (malam 27 Ramadhan); Pengajaran “Ana khairuminhu”; Didudukkan Dipinggiran Raudah; Shalawat (bukan) di makam Nabi; Deer di 1 Syawal 1428 H; Apa yang kau kejar wahai hamba-hamba-Ku?; Inikah peradaban Islam yang diinginkan Allah?.

Ketiga, kita jarang sekali menyerahkan, mendekatkan, menghantarkan (QURBAN) muatan atau suasana isi do’a kita itu kepada Allah. Kita jarang sekali merentangkan tangan kita untuk menghantarkan muatan do’a kita kepada Allah sampai isi dari do’a kita itu berpindah dari tangan kita ke tangan Allah. Padahal saat itu kita sedang meminta sesuatu kepada-Nya. Sebenarnya saat itu kita sedang menyerahkan sesuatu kepada Allah. “Ini do’a saya ya Allah…”. Tinggal kita Berikan…!, berikan…!, berikan…!, sampai tangan dan dada kita, tidak digandoli lagi oleh muatan do’a kita itu.

Keempat, Begitu selesai berdo’a kita jarang sekali merasakan kebahagiaan, hampir tidak pernah dada kita ini menjadi lapang, luas dan ringan setelah kita berdo’a itu. Kita belum bisa merasakan bahwa saat itu juga do’a kita itu sebenarnya sudah dikabulkan Allah. Karena bagi Allah tidak ada pembagian waktu seperti waktu kita. Bagi Allah tidak ada waktu lalu, waktu sekarang dan waktu yang akan datang. Yang ada adalah SAAT INI. Sehingga kita tidak pernah menyiapkan otak dan dada kita untuk merasakan sudah terkabulnya do’a kita itu. Sehingga kitapun tidak pernah benar-benar bersyukur kepada Allah setelah kita menyampaikan do’a kita itu kepada Allah. Kita tidak pernah berterima kasih dengan tulus kepada Allah setelah berdo’a. Kita selalu hanya mau berterima kasih setelah do’a kita itu terwujud didepan mata kita. Kita seakan-akan tidak akan pernah menghantarkan rasa terima kasih kita kepada Allah kalau isi do’a kita itu belum dikabulkan oleh Allah. Selanjutnya kita malah sibuk mengatur PIKIRAN ALLAH dalam mengabulkan do’a kita itu. Kita tidak mau IQRA’, membaca PIKIRAN ALLAH. Duh…, betapa sombongnya kita ini memang.

Mau coba…?.
Nah…, agar kita umat islam ini tidak penasaran terus, atau siapapun juga sebenarnya boleh melakukannya, cobalah proses berdo’a berikut ini dengan rileks.

Duduklah dengan tenang dan rileks. Boleh bersimpuh ataupun bersila, atau berdiripun boleh juga:

• MENGHADAPLAH ke WAJAH ALLAH…, atau keliru-keliru sedikit maupun banyak sekalipun dalam memahami Wajah Allah ini tidak masalah yang besar kalau hanya sekedar untuk berdo’a meminta sesuatu seperti ini. Mau menghadap ke alam kek, mau mengarah ke semesta kek, mau dzikir ke pikiran universal kek, mau mi’raj ke pikiran bahwah sadar kek, disini nggak ada masalah sedikitpun.

Cuma bagi siapapun yang mau meningkatkan kesadarannya, ingatlah bahwa: saat itu juga sebenarnya Allah tengah mewanti-wanti dan berkata dengan TEGAS kepada kita: “Wahai Hamba-Ku, semua yang kau sebut itu tadi sebenarnya adalah milik-Ku, maka seyogyanya hanya kepada Aku sajalah kau seharus menghadap. Demi kebaikanmu, jangan keliru sedikitpun juga wahai Hamba-Ku…!.

• MENCIPTA DO’A: Mulailah membuat sebuah do’a yang detail. Pikirkan bentuk dari apa yang kita do’akan itu, misalnya sebuah rumah. Visualkan, berapa ruangannya, bagaimana tata letaknya, kemudian buat gambarnya dalam sebuah kertas lengkap dengan taman, instalasi air dan listriknya. Jadi visualkan, perjelas dan detailkan HASIL AKHIR yang kita inginkan.

• MEMINTA, QURBAN: Setelah detail, angkat tangan kita seperti berdo’a, rasakan dikedua telapak tangan kita muatan doa itu mengalir dan menggumpal. Angkat terus tangan kita itu keatas dan dan lepaskanlah isi muatan doa’ kita itu dari telapak tangan kita menuju ke ketidakterbatasan (bagi yang ingin meningkatkan kesadarannya serahkanlah muatan do’a itu kepada PEMILIK Ketidakterbatasan itu). Penyerahan itu SEKALI saja cukup.

• IMAN, YAKIN: Untuk masalah iman atau yakin ini, dengan hanya sekedar memotivasi (memaksa) diri kita bahwa apa yang kita inginkan itu Sudah dikabulkan dan Sudah menjadi milik kita saja sudah cukup sebenarnya. Percaya seperti ini bisa dimiliki oleh siapun juga. Orang yang tidak beragamapun bisa mendapatkan keyakinan akan adanya proses pengkabulan do’a ini. Sebab implikasi dari iman seperti ini tidaklah terlalu besar sebenarnya. Inilah yang disebut dengan pikiran iman. Iman yang dipikir-pikir, iman yang dikira-kira.
Akan tetapi ada iman atau yakin yang datangnya langsung dari Allah. Iman itu dialirkan, dicurahkan, ditarok langsung oleh Allah kedalam dada kita. Dada kita bergetar, otak kita berosilasi, seluruh jaringan otot, syaraf, kelenjer-kelenjer hormon kita bergerak menuju keharmonisan iman. Iman yang seperti ini disebut juga dengan rasa iman yang ditarok Allah. Dan implikasinya sangatlah besar. Karena dalam iman seperti akan ada penghormatan, akan ada penghambaan, akan ada penyembahan, akan ada ketersungkuran, akan ada kepatuhan, akan ada pemujaan dan pemujian, akan ada rukuk dan sujud, akan ada persaksian (syahadah) kedapa Wujud-Nya. Allah…!. Dan disinilah sebenarnya ketinggian ajaran islam dibandingkan dengan ajaran-ajaran lainnya. Untuk ini akan kita bahas lagi nanti.

• BERSYUKUR: begitu kita yakin bahwa do’a kita itu sudah dikabulkan oleh Allah, SEGERALAH bersyukur kepada-Nya saat itu juga. Ungkapkanlah rasa syukur itu tidak hanya dalam bentuk ucapan lisan kita saja, tapi juga dalam bentuk kegiatan memberi kepada seseorang atau organisasi yang sedang membutuhkan bantuan kita. Karena memberi adalah bentuk rasa syukur yang paling tinggi. Karena sebenarnya kita diutus oleh Allah untuk turun kedua ini adalah untuk memberi kepada orang lain, bukan hanya untuk diri kita. Masalah memberi ini akan dibahas pula dilain waktu.

• MENERIMA: Setelah kita yakin bahwa apa yang kita do’akan itu dikabulkan oleh Allah, bentuk rasa syukur yang lainnya adalah menyiapkan diri kita untuk menerima pengkabulan do’a kita itu. Dalam proses menerima ini ada rasa senang, rasa bahagia, rasa ringan. Setiap kita memandang kembali detail rencana kita itu, rasa bahagia itu terus mengalir. Wajah kita akan cerah. Orang-orang akan senang melihat wajah kita, bergaul dengan kita, dan bekerjasama dengan kita. Kalau sudah begini, maka kita tinggal Iqra saja lagi. Karena aktifitas berikutnya adalah Aktivitas Allah.

• IQRA’: MEMBACA dan MELAKSANA. Selanjutanya Allah punya Mekanisme Sendiri dalam mengabulkan do’a kita itu. Kita tinggal membaca PIKIRAN TUHAN (MAKAR TUHAN). Untuk pengkabulan do’a kita itu Dia akan buatkan: Keadaan-keadaan (Hal), Orang-Orang, Situasi-Situasi, Peristiwa-Peristiwa, Kesempatan-Kesempatan secara silih berganti. Nah tugas kita selanjutnya hanyalah menyesuaikan tindakan kita dengan Pikiran Tuhan itu.

Ya…, Tuhanlah yang SIBUK mengabulkan do’a kita itu. Karena memang Dialah Sang Pengabul Do’a. Kita hanyalah masuk dan bergerak dari satu keadaan kekeadaan lain, dari satu orang ke orang yang lain, dari suatu situasi, peristiwa, dan kesempatan ke situasi, peristiwa, dan kesempatan yang lainnya. Kita jalani saja semua Pikiran Tuhan itu dengan rasa gembira dan rasa terima kasih kita kepada-Nya. Sampai pada saat yang tepat menurut Pikiran Allah, AHA…, tiba-tiba saja Do’a kita itupun sudah berwujud di depan kita. Setelah itu terserah kita saja, mau kita isi muatan do’a kita itu dengan hal yang baik atapun yang buruk, terserah kita saja. Nanti toh kita sendiri juga yang akan menuai hasilnya, baik ataupun buruk… Selamat mencoba…

Setelah itu apa…?.
Jadi kalau hanya sampai pada pengkabulan do’a seperti yang selalu diinformasikan sedemikian banyak orang dalam mempromosikan LOA yang sangat booming dipenjuru dunia saat ini, maka semua itu hanyalah sebuah keniscayaan saja. Ya…, itu adalah hal yang lumrah saja. Karena LOA itu memang sedang mencoba bermain diwilayah ke MahaRahmanan dan MahaRahiman Allah yang menjangkau seluruh alam semesta berserta segala isinya. Dan media yang dilalui untuk proses LOA itu adalah Wilayah GETARAN…

Saya jadi ingat pada pesan Pak Haji Slamet Utomo beberapa tahun yang lalu, saat saya dengan beberapa orang teman sedang di gembleng oleh Beliau di kegelapan malam Bumi perkemahan Cibubur. Ditengah-tengah latihan, beliau berhenti sebentar dan mengumpulkan kami.

“Apa kalian kira orang spiritual itu tidak bisa apa-apa?”, kata Beliau membuka obrolan.
“Maksud Pak Haji bagaimana??”, kata salah seorang dari kami untuk minta penjelasan.
“Patrap Satu itu adalah wilayah kesaktian, wilayah permintaan, wilayah pengkabulan do’a, wilayah keramaian manusia. Kalian minta apapun, pasti akan dijawab oleh Allah, pasti akan dikabulkan oleh Allah. Saya selama ini tidak membiarkan kalian berhenti diwilayah ini, karena saya khawatir kalian akan terlena diwilayah ini. Saya tidak ingin kalian akan dibuat sibuk oleh wilayah keramaian ini. Karena memang wilayah keramaian ini sangatlah mengasyikkan dan memabokkan. Selama ini dengan bersusah payah kalian saya ajak melewati wilayah Patrap Satu itu, masuk ke wilayah Patrap Kedua (Wilayah Pengembalian), dan bahkan sudah berkali-kali pula kalian kuajak duduk bersama-sama di wilayah Patrap Ketiga (Wilayah Berserah Mengikuti Dzat)”, kata beliau sambil berhenti sejenak.

“ ___”, kami hanya diam dan hening saja menunggu wejangan Beliau selanjutnya…
“Saya sudah mengenalkan Allah kepada kalian sampai “Ntek”. Sehingga kalian sekarang sudah tahu rumahmu yang sebenarnya, yaitu Disisi Allah. Saya menjadi lega sekarang, karena tugas saya sudah selesai”, kata Beliau lirih.

Tiba-tiba saja rasa haru yang sangat pekat menyelimuti dada saya, menyelimuti mata saya, menyelimuti pikiran saya. Sepatah kata yang menggema di hati saya waktu itu hanyalah satu, yaitu ALLAH…!, yang gemanya begitu dahsyat memenuhi rongga alam semesta yang lengang dan hening.
Beberapa lama berselang, Beliau melanjutkan kembali obrolan Beliau dengan kami.
“Nah…, sekarang kalian cobalah menyampaikan kehendak kalian. Pak Yusdeka coba minta kepada Allah pakerti Gubernur Jendral Deandles”, pinta Beliau
Tidak berapa lama kemudian lidah saya seperti bisa mengucapkan beberapa kalimat berbahasa Belanda yang tidak saya mengerti. Tapi saya tetap sadar.
“Sudah”, kata beliau lembut beberapa saat kemudian.
Dan anehnya semua itu bisa saya hentikan seketika tanpa ada kesulitan sedikitpun.
“Bagi yang lain, coba kalian minta kepada Allah pakerti si A, si B, dan seterusnya”, minta Beliau kepada beberapa orang teman saya yang lain yang hadir saat itu. Lalu ramailah bumi perkemahan Cibubur ketika itu untuk beberapa saat.
Berhubung waktu itu akan ada pemilu untuk pemilihan Presiden, saat itu masih ada nama Amin Rais dan sebagainya (sebelum Pemilu Tahap 1), Beliau minta kepada kami agar kami minta ditunjukkan oleh Allah siapa yang akan jadi Presiden yang akan datang.
“Ayo kalian minta diberitahu oleh Allah siapa yang akan menang dalam Pemilu Presiden yang akan datang” kata Beliau sambil tersenyum.
Lalu ada yang melihat Amin Rais mendahului calon-calon yang lain seperti dalam sebuah perlombaan. Lalu Amin Rais seperti didahului oleh Megawati. Dan SBY menguntit di belakang dengan ketat.
“Teruskan pengamatanmu”, kata pak Haji…
Sampai beberapa lama kemudian ada diantara kami yang nyletuk: “SBY pak Haji…”
Mendengar itu, Beliau hanya berguman dan berkata, “ya itu…”. Dan sejarahpun berbicara bahwa memang SBY lah yang naik menjadi Presiden RI sampai sekarang.
Lalu malam itu kami lewati dengan berbagai wejangan Beliau lainnya yang sangat bermanfaat.
“Sekali-sekali kalian sekarang boleh turun dan bermain-main dengan berbagai fenomena menarik diwilayah Patrap Satu itu. Itu gunanya sebagai pembuktian buat kalian bahwa kalian itu punya Tuhan yang sangat penyayang kepada kalian, tapi tetaplah ingat bahwa rumahmu bukan disitu. Rumahmu yang sebenarnya adalah diwilayah keberserahan kepada Kehendak Dzat”, kata Beliau menutup wejangan Beliau dimalam itu…

Jadi Bagaimana…?
Ya ndak gimana-gimana. LOA itu ternyata memang hanyalah secuil dari cara Allah dalam mengenalkan Diri-Nya kepada umat manusia agar manusia itu sendiri mau menyembah-Nya. Dan LOA itu sendiripun sudah berumur sangat tua sekali. Bahkan Iblispun ternyata sudah memakainya untuk mendapatkan kekuatannya agar dia tetap bisa sombong dan angkuh kepada Adam dan keturunannya.
Bagi yang sudah mendalami dan melatih Patrap, maka nenurut pemahaman saya, LOA itu masih bermain diwilayah Patrap Satu dibagian-bagian awalnya, karena kalau Wilayah Patrap Satu itu dijalani secara keseluruhan, pastilah akan mendudukan kita ke suasana yang lebih dari hanya sekedar pengkabulan-pengakabulan seperti itu. Karena memang sudah seharusnyalah pada setiap pengkabulan atas apa-apa yang kita inginkan itu akan menyeret kita untuk menyungkur rukuk dan sujud kepada Allah Sang Pengabul Permintaan.


Wilayah Patrap Satu ini akan:

Menghasilkan rasa mencintai Allah,
Menghasilkan rasa ikut (melok) Allah, berserah atas kehendak Allah
Memuji, bertasbih, mengagungkan Allah (muncul sendiri dari dalam jiwa)
Mengembalikan “wujud” diri kepada Allah, berserah diri…
Diujung wilayah Patrap Satu ini secara mengejutkan kita akan masuk ke wilayah Patrap Kedua. Wilayah dimana kita akan dibawa kesuasana kesadaran:

Memuja Allah:
Ya Allah, Engkau yang memiliki segala sesuatu, Engkau yang menguasai sesuatu. Kekuatan, keperkasaan, kekuasaan-Mu melebihi jagad raya. Ya Allah wujudku bentuk Qudrat-Mu, bentuk kekuasaan-Mu Yang Dahsyat

Kesadaran Roh:
Ya Allah rohku adalah Min-Ruhi, milik-Mu, berasal dari-Mu, atas kehendak-Mu kembali kepada Engkau ya Allah, dengan pertanda nafasku, masuk dan keluarnya nafasku karena Engkau, yang menyebabkan badanku hidup dan bergerak.

Timbul kesadaran rohani:
Penglihatan kembali kepada Allah, kekuasaan kembali kepada Allah, kekuatan kembali kepada Allah, kepandaian kembali kepada Allah, semua yang ada dalam diri kembali kepada Allah

(Pandanglah jagad raya sebagai tanda kekuasaan Allah, jangan pandang batinmu – dirimu).
Rohku adalah dari Allah, milik Engkau Ya Allah, Atas kehendak Engkau Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun
Qodrat Allah menghadap Allah
Min-Ruhi menghadap Allah
Rasa Ingat menghadap Allah

Dan diujung Patrap Kedua ini kita akan ditarik untuk masuk ke wilayah Patrap Ketiga:

Kesadaran Universal:
Menyadari (Ihsan) bahwa Dia Maha Meliputi Segala Sesuatu. Wujud kita bergantung dan diliputi oleh gerak yang tidak bisa kita tahan, bermula dari kecil menjadi besar, tua lalu mati. Juga terhadap tanaman pisang, bumi, matagari, alam semesta berada dalam SATU gerak yang Hidup

Kesadaran Aku:
Semua wajah, penglihatan kembalikan,
Yang melihat, mendengar adalah yang bergerak itu
Hilangkan diri kita
Yang bergerak itu hidup yang sejati
Hidup itu sifat Allah
Hidup itu punya kehendak
Hidup itu punya kemauan
Hidup itu punya diri
Yaitu AKU
Bersabda melakukan sesuatu melalui AKUNYA
AKU yang Tahu
Yang Maha Mengetahui (rahasia)
Maka sembahlah diri-Nya dengan kesempurnaan-Nya
Inna shalati wanusuki wamahyaaya wamamati lillahi rabbul ‘alamin;
Berserah mengikuti kemauan Zat:
Pandanglah jagad raya sebagai tanda kekuasaan Allah, jangan pandang batinmu – dirimu.
Pandanglah alam semesta,
perhatikan yang menggerakkan alam semesta itu

Wajahmu kembalikan kepada Yang Satu (Esa)
Letakkan pada Yang Meliputi.
Wassalam
Deka


KAFIR atau DZIKIR, The Ultimate Choices


Gelitikan:

1.   Yong Jaya <yjaya@asuransi.astra.co.id> wrote:
Subject: RE: [dzikrullah] Tawajjuh

Disatu sisi, Allah itu tak terbayangkan, tak terpikirkan, dan tidak ada yang menyamai…
Disatu sisi, Ada pengakuan manusia telah berjumpa dgn Allah…

Jadi,  yang ditemuinya itu siapa..?

Persepsi  ” diri ” nya  ?  atau ...
Si” AKU ” yang berani-beraninya mengklaim, bahwa dirinya telah bertemu/  berjumpa.... dgn Allah..?

Wassalam,
Yong

 ____________________________________

2.   fani.bachsin@sea.ccamatil.com wrote:

Assalammu'alaikum War Wab

Karena Allah itu tak terbayangkan, maka kalau pun ada manusia yg mengaku telah berjumpa dgn Allah maka dia tidak akan pernah bisa menceritakan pengalaman perjumpaannya tsb karena tidak ada satu pun bahasa di dunia yg bisa mewakili ...


Wasaalam,
Fani Bachsin


Balasan Gelitikan:

Aha…, Mas Yong Jaya dan Mas Fani rupanya yang mencoba menggelitik kita di milis ini dengan ungkapan-ungkapan yang sangat jujur dan sangat mendasar sekali. Ungkapan seperti diatas merupakan ungkapan umat manusia sepanjang zaman. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam sendiri yang notabene adalah seorang kekasih Tuhan sampai-sampai diabadikan di dalam al Qur’an tentang perjalanan Beliau dalam MEMBUKA KESADARAN Beliau tentang Tuhan. Karena saat itu, kesadaran Beliau barangkali memang belum terbuka tentang Tuhan, walau Beliau tahu dan punya pengetahuan bahwa ada Tuhan yang berperan pada segala sesuatunya. Maka suasana diri Beliau yang tertutup dari kesadaran itu namanya Beliau sedang ter-cover, tertutup, terhijab, atau dalam bahasa yang universal disebut sebagai KAFIR. Ya…, kafir…!. Ndak lebih dan ndak kurang. Akan tetapi kemudian, dalam  perjalanan Beliau, akhirnya KESADARAN Beliau bisa TERBUKA (DZIKIR) juga akan Allah, sehingga dalam perjalanan hidupnya Beliau disebut juga sebagai SAHABAT ALLAH.

Selama ini mungkin kita sudah sangat kenyang dengan doktrin dalam berbagai agama tentang kata-kata KAFIR ini. Dimana cap kafir ini sudah berubah menjadi sebuah ungkapan yang sangat MENAKUTKAN, MENJIJIKKAN, dan MENGERIKAN. Saat cap kafir ini sudah melekat pada diri seseorang, maka sepertinya orang itu sudah kita anggap sebagai seseorang yang punya kesalahan yang sangat fatal dan derajat yang sangat rendah. Dengan mencap orang lain kafir, maka sepertinya ada diantara kita yang merasa bahwa darah orang kafir itu HALAL untuk ditumpahkan. Sehingga dalam sejarah peradaban manusia, kita sudah sangat hafal dengan berbagai peperangan demi peperangan yang di jalani oleh kakek moyang kita.

Dengan cap kafir terhadap seseorang, maka kebanyakan dari kita akan melihat orang yang di cap kafir itu dengan pandangan penuh kebencian, penuh kecurigaan, dan bahkan penuh kemarahan. Karena kita takut jangan-jangan orang yang di cap kafir itu akan membawa kita juga untuk menjadi kafir. Padahal status kafir ini dalam pelajaran-pelajaran agama apa pun akan diganjar dengan neraka. Sebuah ganjaran yang membuat kita GACAR (mencret) karena ketakutan.

Padahal kalau kita kupas agak sekupas dua kupas, maka ungkapan KAFIR ini hanyalah sebuah ungkapan dengan pengertian yang sangat sederhana saja. Bahwa seseorang yang TIDAK MENYADARI akan SESUATU, maka orang itu dikatakan sedang KAFIR (ter-cover), tertutup kesadarannya terhadap SESUATU tersebut. Hanya sesederhana itu saja kok pengertian tentang KAFIR. Kitanya saja yang mau-maunya di distorsikan pemahaman kita seperti sekarang ini, sehingga jadilah kita seperti saat ini. Umat yang hidup penuh dengan konflik yang dipelihara turun-temurun hanya karena sebuah kata KAFIR. Masalah bagaimana pedih dan kerasnya hukuman Tuhan terhadap orang-orang yang kafir kepada Allah adalah masalah lain lagi. Begitulah salah satu cara Allah dan Rasulullah memotivasi umat manusia agar mau ingat dan sadar kepada Allah, yaitu dengan menakut-nakuti umat manusia dengan hukuman yang sangat pedih dan di neraka pula tempatnya.

Disamping itu, saat saya tidak mampu membuka kesadaran saya terhadap ketuhanan YESUS seperti yang diyakini oleh umat Nasrani, maka umat Nasrani akan menganggap saya sebagai seorang kafir terhadap Yesus, ya ndak masalah. Begitu juga saat saya tidak mampu membuka kesadaran saya tentang Allah, maka saat itu saya akan dilabeli oleh Allah sendiri sebagai seorang yang kafir terhadap Allah. Walaupun ilmu pengetahuan saya tentang Allah barangkali sudah sangat lengkap, akan tetapi jika pada saat yang sama saya tidak sedikit pun merasakan IHSAN terhadap Allah, maka boleh jadi saat itu saya sedang kafir kepada Allah. Ya…, karena saat itu saya tidak sedikit pun sadar akan keberadaan Allah. Ungkapan seperti ini yang kita tidak siap untuk menerimanya.
Untuk membuktikan tentang tidak ihsannya kita ini sangat gampang sekali kok. Saat di keseharian kita, mampu nggak kita untuk merasa “SUNGKAN” untuk berbuat TIDAK BAIK, atau mampu nggak kita untuk merasakan “TUNTUNAN” Tuhan atas setiap tindakan kita ke arah yang BAIK-BAIK. Kalau yang ada adalah rasa TIDAK SUNGKAN kita untuk berbuat tidak baik, dan rasa TIDAK DITUNTUN ke arah yang BAIK, maka saat itu juga kita bolehlah untuk SANGAT khawatir, jangan-jangan Tuhan memang sedang mencampakkan dan membiarkan kita (istidraj). 

Tapi jangan khawatir. Saat kita digeletakkan oleh Allah ini (dalam posisi istidraj), sebenarnya kita tetap dan tengah dituntun oleh ALLAH juga. Namun tuntunan Allah itu ke arah yang TIDAK BAIK. Ya…, arahnya saja yang salah. Betapa tidak. Untuk berbuat jahat dan tidak baik itu sebenarnya kita butuh daya, tenaga, dan keberanian yang sangat besar. Untuk berbohong saja, misalnya, kita rasanya harus mengeluarkan tenaga ekstra. Apalagi untuk mencuri, berzina, korupsi, dan berbagai perbuatan tidak baik lainnya. Sungguh semuanya itu butuh daya yang sangat besar. Apalagi kalau semua perilaku buruk itu melekat pada diri kita sendiri. Wuiih…, dahsyatnya power yang kita butuhkan.

Makanya dalam keseharian kita, dalam shalat kita, kita selalu minta dituntun Allah ke jalan yang LURUS (Ihdinash shiraathal mustaqiim). Tapi itulah kita manusia ini, kita hampir sebagian besar tertahan dari tuntunan Tuhan ke arah yang lurus (baik) ini. Dan anehnya lagi tertahannya kita dari tuntunan Tuhan ke arah yang baik itu karena kita memang tengah DIBUAT LUPA atau DIJADIKAN TIDAK TAHU oleh ALLAH dalam memanfaatkan SWITCH (tombol) penentu arah saat kita berada dipersimpangan jalan antara yang baik dan yang buruk itu. Nah…, supaya tidak dibuat lupa oleh Allah, maka carilah switch itu sampai dapat, dan kita nanti tinggal menikmati tuntunan ke arah yang baik.

Kemudian, dalam pelajaran tentang TUHAN pun, kita selama ini sudah sangat jauh terdistorsi dari suatu pengertian yang sebenarnya sangat sederhana. Dengan pengetahuan yang sampai ke otak kita, dari berbagai sumber, seakan-akan kita umat manusia ini sedang sibuk mencari diri sendiri dan juga mencari Tuhan. Dengan pengajaran tersebut, seakan-akan kita saat ini tengah berada dalam suasana KEHILANGAN DIRI kita sendiri dan KEHILANGAN TUHAN pula, sehingga harus kita temukan lagi. Maka kemudian lahirlah berbagai konsep tentang usaha umat manusia dalam mencari dan menemukan dirinya sendiri maupun Tuhan. Dan anehnya, SEMAKIN RUMIT konsep itu, maka orang umumnya menganggapnya sebagai sebuah konsep yang LEBIH BENAR.

Dalam menghadapi kerumitan konsep itu, umumnya umat manusia terpecah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang yang mau tidak mau terpaksa harus menerima kerumitan itu sebagai sebuah sikap hidup. Karena kalau tidak, maka kelompok ini sangat ketakutan dengan cap kafir dengan ganjaran yang sangat mengerikan seperti yang sudah dijelaskan di atas : NERAKA. Kelompok kedua adalah gerombolan orang yang  bersikap MASA BODOH terhadap konsep yang rumit-rumit itu, saking rumitnya. Karena dengan tidak memakai konsep yang rumit itu hidup mereka toh nggak menderita-menderita amat. Enjoy aja kata sebuah iklan…!.

Mungkinkah ada konsep yang SANGAT SEDERHANA agar kita bisa DISADARKAN tentang diri kita dan tentang Tuhan…?. Sehingga kita tidak sanggup lagi untuk bersikap masa bodoh, seperti tidak sanggupnya kita untuk merasa terpaksa dalam menjalani konsep demi konsep yang tadinya meletihkan kita.
Berbagai Cover…

Dulu kesadaran saya tertutup, kafir, atau berhenti tentang Tuhan yang sebenarnya dan yang seharusnya. Karena saat dulu itu konsep (ilmu pengetahuan) yang masuk ke otak saya tentang Tuhan adalah bahwa Tuhan itu bersemayam di Arsy  yang berada di langit ke tujuh (sidratul muntaha) yang entah dimana. Dan untuk bertemu dengan Tuhan, maka kita harus melewati alam-alam akhirat dulu, karena kita hanya bisa bertemu dengan Tuhan di akhirat. Dan itu pun ketemunya NANTI. Hanya Muhammad Rasulullah sajalah yang pernah ketemu Tuhan saat Beliau masih hidup. Dan pertemuan itu adalah di sidratul muntaha saat Beliau “Isra’ dan Mi’raj”. Sedangkan buat kita-kita umat Beliau ini, pertemuan dengan Tuhan itu nantinya adalah di akhirat. Ditambah lagi dengan pemahaman tentang Tuhan yang beredar umum di tengah-tengah masyarakat, bahwa Tuhan bersemayam yaitu di Arasy-Nya.

Sampai di pemahaman seperti ini sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Karena dalam banyak hadits Rasulullah memang memberikan wejangan Beliau seperti itu kepada sahabat-sahabat saat itu. Juga dalam Al Qur’an sendiri dinyatakan bahwa Allah “tsummastawa ‘alal arsy yudabbirul amra”, Dia bersemayam diatas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan”.

Akan tetapi  sayangnya tidak jarang diantara kita, kalau tidak mau dikatakan mayoritas umat Islam, yang terjebak dalam memahami makna bersemayam itu seperti bersemayamnya seorang raja di singasananya. Dan singasana Tuhan itupun berada di langit ke tujuh, bahwa singasana-Nya ada di Sidratul Muntaha, bahwa Tuhan hanya bisa ditemui di akhirat dan dan itupun nanti pula, maka secara tidak sadar sebenarnya kita telah mempersepsikan menghadap Tuhan itu sebagai orang awam berhadapan dengan sosok raja diraja di langit. Sehingga Tuhan seakan-akan sosok yang sangat jauh dengan kita. Ya…, seperti dewa gitu loh…!. Apalagi dengan adanya hadits yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam…, dst.

Makanya, karena mengharap pertemuan dengan Tuhan di akhirat itu, segala ibadah dan amalan saya lakukan dengan harapan untuk dapat pahala sehingga nanti bisa bertemu dengan Tuhan di akhirat dan dimasukkan-Nya kedalam syurga-Nya. Enak nggak enak, maka ibadah dan amalan itu harus saya lakukan. Karena kalau tidak dilakukan, maka Tuhan akan marah kepada saya.

Akibatnya, kita lalu mencari-cari Tuhan dengan otak kita. Lalu tidak sedikit pula orang yang hanya sampai di kesadaran bahwa tidak mungkin orang bisa bertemu Tuhan di dunia ini. Kalau ada yang mengaku bertemu Tuhan, maka jangan-jangan itu hanya persepsi dirinya sendiri, atau Si ”AKU” yang berani-beraninya mengklaim, bahwa dirinya telah bertemu/  berjumpa.... dgn Allah..?. Dan berbagai ungkapan lainnya yang sangat rumit, seakan-akan kita sengaja memperumit diri sendiri tentang Tuhan. Sehingga lengkap sudah tertutupnya kesadaran kita terhadap eksistensi Tuhan. Kita jadi seperti terpisah dengan Tuhan. Kita tidak punya lagi kesadaran bahwa saat shalat dan berdo’a, kita sebenarnya SAAT ITU tengah menghadap dan menyembah Tuhan, berbicara dengan Tuhan, memuja Tuhan. Ya…, kita tidak bisa lepas dari Allah seperti tidak bisa lepasnya nafas, aliran darah, dan pergerakan alam semesta ini dari Allah. Dan ternyata, suasana ter-cover terhadap Allah seperti ini sangatlah tidak enak, sehingga kemudian saya lalu mencoba masuk ke dalam konsep yang lain lagi. Konsep tarekat dan tasawuf.

Selama beberapa tahun kemudian, saya berada dalam dunia tarekat dan tasawuf yang inti ajarannya adalah tentang bagaimana kita harus MEMBERSIHKAN HATI kita dulu agar hati itu nantinya bisa suci dan bersinar, sehingga hati itu bisa “melihat Tuhan”. Dan syarat mutlak untuk masuk ke wilayah tarekat ini adalah dengan menerima peran wujud lain sebagai wasilah kita untuk menyambungkan diri kita dengan Allah. Wasilah itu sambung menyambung dari satu orang mursyid termuda, lalu guru dari mursyid tersebut berantai ke guru-guru-guru-guru mursyid lainnya sampai ke Rasulullah dan baru ke Allah. Rantai sambungan itu disebut juga dengan rabithah guru, dan proses menghadapkan perhatian (wajah) kepada guru mursyid itu disebut juga dengan bertawajjuh. Kalau kita tidak ikut mengikatkan diri pada mursyid yang berada dalam dalam ‘rantai emas’ mursyid sebuah tarekat tertentu, maka kita akan berada di luar kelompok tersebut saat kiamat dan di hari akhir nanti dan tidak ditolong pula oleh Rasulullah, karena memang Rasulullah ditempatkan di dalam rantai emas mursyid tarekat tersebut pada tingkat pamuncak.

Selama kurun waktu bertarekat tersebut, maka berbagai praktek olah diri (tadzkiyatunnafs) yang sangat sulit harus saya jalani. Wirid dan afirmasi yang berulang-ulang dengan kalimat-kalimat thaiyyibah yang harus dilakukan sangatlah banyak. Untuk waktunya pun lebih lama wiridannya dari pada shalatnya sendiri. Tapi…, tetap saja bukan Tuhan yang ketemu. Malah yang muncul adalah sensasi alam demi alam dan fenomena-fenomena yang tadinya hanya bisa di baca dalam berbagai riwayat atau buku sufi terkenal. Mengasyikkan memang semua itu. Akan tetapi yang namanya TUNTUNAN Tuhan dan RASA SUNGKAN terhadap Tuhan nggak dapat-dapat juga saya pahami. Saya seperti asyik sendiri dengan berbagai atribut ketasawufan yang melelahkan itu, sehingga kemudian saya mencari lagi konsep lain tentang ketuhanan yang lebih sederhana dan bisa diterapkan dalam keseharian.
 Kemudian saya lalu masuk ke dalam komunitas PATRAP yang di dalamnya saya diperkenalkan dengan konsep ketuhanan yang lebih simple. Bahwa Tuhan itu ternyata hanyalah Dzat Yang Sangat Sederhana akan tetapi Serba Maha. Dzat yang MAHA MELIPUTI segala sesuatu. Walaupun begitu, dalam kenyataannya konsep patrap yang sangat sederhana ini tidaklah terlalu mudah juga untuk diaplikasikan. Kalau kauro (ilmu pengetahuannya) mungkin bisa saya terima dengan sangat mudah. Bahkan pelatihan-pelatihannya juga bisa saya ikuti dengan tanpa kesulitan yang berarti. Tuntunan demi tuntunan dan rasa sungkan demi rasa sungkan, alhamdulillah bisa saya rasakan realitasnya.

Akan tetapi dalam perjalanannya, ada sesuatu yang saya rasakan sulit untuk saya dapatkan, yaitu untuk masuk kepada suasana KEARIFAN, suasana KERENDAHAN HATI. Ya…, bagaimana caranya agar saya bisa duduk di wilayah ini. Ini yang menjadi pertanyaan saya yang cukup panjang juga. Kenapa…??.

Karena di dalam patrap inilah saya mendapatkan sebuah cara berfikir yang sangat revolusioner sekali. Tidak salah memang kalau dikatakan bahwa virus pemikiran PATRAP ini telah menghancurkan berbagai file masa lalu saya yang sudah karatan di dalam otak saya selama ini. Ditambah lagi dengan tidak adanya konsep pengkelasan (grading) baik antara seorang guru dengan murid, maupun diantara sesama komunitas patrap itu sendiri. Egaliter sekali. Sehingga yang muncul kemudian adalah sebuah karakter baru dimana seorang murid mungkin tidak lagi menghormati guru, karena memang tidak ada konsep guru dan murid di dalamnya. Dalam bidang pemikiran pun, konsep spiritual, agama-agama, dan peradaban juga dikupas tuntas sampai “bugil”, sehingga nyaris saja orang patrap meremehkan pengajian-pengajian agama yang membahas hukum, syariah maupun laku spiritual lainnya.

Ternyata orang yang banyak ilmu, banyak tahu hukum, bahkan banyak pula kesaksian, kalau orang itu tidak bisa merangkainya dengan sikap RENDAH HATI dan ARIF, sangatlah berbahaya. Ilmu, hukum dan kesaksian itu bisa menjadi sebuah senjata baru yang sangat hebat untuk memuaskan kepentingan atau dorongan diri sendiri (hawa un nafs). Sungguh mengerikan sekali.  

Lalu dalam sebuah pelatihan bersama Ustadz Abu Sangkan di ruang basement Masjid Baitul Ihsan (BI) seminggu sebelum bencana Tsunami melanda ACEH, saya dan beberapa orang teman yang lainnya merasakan suasana yang sangat berbeda yang belum pernah saya dapatkan sejak saya mulai ikutan patrap ini, apalagi pada praktek-praktek olah diri dan olah jiwa yang sebelumnya. Saya saat itu seperti di tarok di wilayah yang sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Wilayah yang seperti DI RUMAH sendiri. Wilayah yang sepertinya sudah sangat saya kenal lama sekali, akan tetapi yang sudah terlupakan sedemikian lama pula…!!!. YA…, selama ini wilayah ini seperti terlupakan, atau lebih tepatnya saya dibuat lupa tentang rumah saya ini oleh Allah sendiri. Wilayah rumah saya sendiri sebenarnya ...!.

Dari berbagai suasana tertutupnya kesadaran (KAFIR) terhadap Tuhan yang sungguh beragam penyebabnya, maka PASTILAH ada CARA untuk membuka TUTUP tersebut. Ya…, semacam SWITCH gitu loh. Karena nggak mungkin Allah menggeletakkan makhluk ciptaan-Nya dalam berbagai masalah tanpa adanya solusi untuk keluar dari masalah itu. Sungguh Allah ternyata memang sangatlah sempurna sebagai Sang Grand Designer Tunggal dalam segala hal. Untuk setiap MASALAH, apapun masalah itu, ternyata Allah juga telah menyiapkan SOLUSINYA pada saat yang BERSAMAAN. Seperti berpasang-pasangan gitu loh.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (Yaa siin 36)

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syura 11)

Akan tetapi hampir sebagian besar dari kita tertutup pula untuk melihat solusi yang sudah ada itu untuk keluar dari problematika yang kita hadapi. Kita selalu saja cenderung lebih MUDAH untuk hanya bisa melihat masalah demi masalah tanpa menemukan solusinya. Kita memang telah jadi umat yang punya segudang masalah dari dulu sekali sampai sekarang ini, akan tetapi sangat miskin dengan solusi.

Begitu juga dengan suasana kesadaran yang tertutup, tidak sadar, KAFIR, ternyata juga ada pasangannya, yaitu suasana terbuka, sadar, ingat, DZIKIR. Ya…, untuk keluar dari masalah KEKAFIRAN, maka satu-satunya jalan adalah dengan dzikir. Jadi dzikir adalah sebuah proses yang bertujuan untuk membuka tutup kesadaran kita  terhadap sesuatu, sehingga sesuatu itu lalu jadi NYATA (ZAHIR) bagi kita. 

Sedangkan DZIKRULLAH bermakna sebagai sebuah suasana TERBUKANYA KESADARAN kita terhadap ALLAH. Ya…, dzikrullah adalah suasana ingat dan sadar yang tertuju hanya kepada Allah. Hanya Allah lah yang ADA, sedangkan yang lain selain Allah adalah FANA, TIADA. Pengertian seperti ini merupakan makna hakiki dari kalimat tauhid laa ilaha illallah…!!. 

Akan tetapi, kalau kita tidak berhasil mencapai suasana atau wilayah dzikrullah ini, maka hampir secara otomatis pula kita akan masuk ke wilayah KAFIR, yaitu wilayah dimana yang ada adalah yang SELAIN ALLAH, sedangkan ALLAH lalu menjadi WUJUD yang hilang, FANA, TIADA. Dan kafir terhadap Allah ini ternyata adalah puncak dari hilangnya kesadaran seorang manusia yang akibatnya adalah siksa yang sangat pedih bagi manusia itu sendiri.
TUHAN YANG  SANGAT SEDERHANA …!

Allah ternyata adalah Dzat  yang begitu LUGU dalam memperkenalkan DIRI dan WUJUD-NYA kepada kita umat manusia ini;

Pada taraf pertama, yang biasa-biasa saja, Dia memperkenalkan DIRI-Nya bahwa: “… (sesungguhnya) Aku dekat (Al Baqarah 186). Walau hanya sampai pada kesadaran tentang kedekatan Tuhan seperti ini, namanya sudah ihsan juga. Selanjutnya, Dia memperkenalkan DIRI-Nya bahwa: “…Allah lebih dekat dari urat leher (Al Qaaf 16)”, inipun ihsan juga namanya. Lalu Dia menimpali lagi: “ … Kemana saja menghadap, disana ada wajah Allah (Al Baqarah 115)”.

Pada taraf kedua, yang lebih sederhana lagi, Dia memperkenalkan WUJUD-Nya bahwa: “…Allah meliputi orang-orang kafir (Al Baqarah 19)”. Lagi: “… Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia (Al Israa’ 60)”.

Pada taraf ketiga, yang lebih-lebih sederhana lagi, Dia menyatakan WUJUD-Nya bahwa: “Dia Maha Meliputi segala sesuatu (Al Fushilat 54)”. Dan lagi: “Allah Maha Meliputi segala sesuatu (An Nissa 126)”.

Pada taraf keempat, yang paling sederhana, agar kita nggak usah capek-capek lagi mikirin DIRI dan WUJUD-Nya, maka Dia memagari imajinasi liar kita dengan kalimat: “… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia (Asy Syura 11)”.

Dan pada taraf kelima, yang tidak ada lagi taraf setelah itu, maka Wujud Yang Maha Meliputi yang tidak sama dengan apapun itu, punya “Aku”. Dia bersabda dengan “Aku”-Nya “Innani ana Allahu, laa ilaha illa ana, fa'budni,  wa aqimishshalata lizikrii.  Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (Thaha 14).

Dengan lima taraf kesadaran ihsan kepada Tuhan seperti ini, maka selesai sudah Ilmu tentang Tuhan. Ya…, dengan beberapa ayat Al Qur’an di atas, ilmu tentang tauhidullah, ilmu ma’rifatullah tamatlah sudah. Akan tetapi kelima taraf kesadaran ihsan ini haruslah menjadi SATU KESADARAN UTUH pada saat yang sama. Tidak boleh terpisah-pisah. Dalam setiap aliran nafas, dalam setiap pandangan, dalam setiap pendengaran, maka kita harus duduk pada kesadaran ihsan seperti ini. DEERRR….!!.

Karena kalau kita coba-coba keluar dari pengertian tentang TUHAN  yang sesederhana ini, sesuai dengan pengungkapan Tuhan itu sendiri, maka yakin deh bahwa kita akan berubah menjadi orang yang RUMIT dalam berketuhanan. Dan ternyata memang kerumitan itulah yang telah kita warisi dari generasi ke generasi, sehingga kita lalu menjadi umat manusia yang rumit pula. Sangat rumit malah.

Misalnya, kalau kita hanya berhenti sampai pada taraf kesadaran bahwa Allah dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher kita, maka biasanya kita akan mencari-cari Allah. Allah lalu dicari-cari ke langit yang ketujuh yang entah dimana. Allah dicari di dalam hati. Atau Allah dicari-cari dengan terlebih dahulu melalui alam-alam yang diberi nama misalnya alam lahut, alam nasut, alam jabrut, dan sebagainya. Sungguh rumit sekali untuk ketemu dengan Tuhan. Semakin dicari kedekatan Allah itu, eh… malah Tuhan sepertinya semakin jauh. Jauuuh sekali.

Begitu juga kalau kita berhenti dikesadaran bahwa kemana saja menghadap, disana ada wajah Allah, maka kita akan dibuat sibuk untuk memposisikan hati, memposisikan wajah, jiwa, ruh kita biar bisa dekat dan menghadap terus kepada Allah. Kita sibuk mencari posisi terus, dan biasanya posisinya malah nggak tepat-tepat juga. Serba paradoks memang.

Ada memang diantara kita yang percaya pada ayat Al Qur’an bahwa Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia. Kita manggut-manggut dan terangguk-angguk malah sangking hafalnya. Akan tetapi sayangnya kita tidak sampai kepada kesadaran berketuhanan, sehingga kita benar-benar terpaku hanya pada kesadaran kebendaan. Serba benda saja yang menarik perhatian kita. Kesadaran kita benar-benar seperti tertutup akan ayat yang menyatakan bahwa Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Ya…, ratusan tahun kesadaran kita akan liputan Tuhan atas segala sesuatu seperti tertutup. Setiap ketemu ayat ini, kita selalu saja di giring kepada pengertian bahwa yang meliputi segala sesuatu itu adalah KEKUASAAN-NYA, PENGETAHUAN-NYA, ILMU-NYA. Sehingga kita sepertinya selalu dibawa terus untuk MENYEMBAH SIFAT TUHAN. Menyembah sifat, walau sifat itu milik Tuhan sekali pun, adalah salah satu bentuk SYIRIK yang tidak ditolerir sedikit pun oleh Tuhan. Sebab Tuhan memerintahkan kita untuk menyembah HANYA kepada DZAT-NYA, AKU-NYA.

Nah…, kalau tutup kesadaran kita sudah terbuka atas Wujud Tuhan Yang Maha Meliputi segala sesuatu, dan sadar pula bahwa Dzat-Nya tidak sama dengan apapun juga, maka kita tinggal bersandar, berpegang, bergantung kepada Wujud Tuhan itu. INI YANG TERPENTING SEBENARNYA. Bahwa kita berpegang teguh kepada Sang Maha Meliputi. Sedangkan yang lain-lainnya nanti tinggal mengikuti saja.

Karena apapun nanti atribut yang melekat dan diselendangkan kepada Allah, baik itu SIFAT, KEHENDAK, PENGETAHUAN, dan PERBUATAN-NYA, maka kesemuanya itu TEPAT berada pada Dzat Yang Maha Meliputi dan Yang Tidak Sama dengan segala apapun INI.  Begitu juga dengan segala ciptaan-Nya, sebutlah apa saja, maka semua itu pastilah berada dalam liputan Dzat Tuhan juga. Dan kepada Dzat Tuhan itu pulalah kita harus mengaturkan persembahan, permohonan, penyerahan, penghormatan, dan menghantarkan segala tanda-tanda kelemahan dan kehambaan kita yang lainnya kita arahkan atau kita kembalikan. Bukan kepada yang lain. Selesai sudah…!.

Masalah nantinya Dzat Yang Maha Meliputi Segala sesuatu itu mau disebut dengan istilah apa, itu masalah lain lagi. Umat Islam menyebutnya dengan sebutan ALLAH. Begitu juga, dalam berbagai agama dan kepercayaan. Ada yang menamakan Dzat itu dengan sebutan Brahman…, Oum…, Yehova, Thian, Manitou, Bapa di Syurga, dan sebagainya. Karena memang Dzat itu menyebut diri-Nya sendiri sebagai Rabbul ‘Alamin, Tuhan bagi alam semesta berikut dengan segala isinya. Cuma nanti akan muncul masalah, yaitu: “saat menyebut nama Dzat tadi itu, mampukah kita sampai kealamat yang sebenarnya, yaitu Sang Maha Meliputi?”. Kalau tidak mampu, maka itu namanya kita telah menjadi KAFIR terhadap Dzat Yang Maha Meliputi itu. Akibatnya dalam masalah ketuhanan ini kita lalu menjadi orang yang RUMIT, dan Tuhan pun lalu berubah menjadi Tuhan Yang Rumit.

Dalam ajaran agama Kristen, misalnya, mereka bingung tentang ungkapan Bapa di syurga, sehingga orang tersebut merasa jauh dengan Bapa yang di syurga itu. Lalu untuk menggampangkan agar mereka bisa keluar dari kebingungan itu, maka agama tersebut menciptakan sesuatu yang bisa dipersepsikan dengan mudah. Lalu muncullah konsep Anak Tuhan, atau Tuhan dalam bentuk manusia. Dan atribut seperti ini dilekatkan kepada Yesus Kristus. Sehingga lalu Yesus disembah dan dimintai pertolongan. Kapanpun pemeluk agama Kristen menyebut nama Tuhan, atau dalam berbagai kesempatan disebut juga dengan Allah (umat Kristen melafalkannya dengan Alah), maka arah pikir dari pemeluk agama ini selalu saja dibetot ke arah sosok manusia, yaitu sosok Yesus yang kemudian divisualkan pula dalam bentuk patung dengan berbagai bentuk dan posisi. Yang paling populer adalah visualisasi Yesus yang sedang disalib. Hal yang sama juga bisa terjadi pada umat yang beragama apa pun, tak terkecuali umat Islam. Dimana saat menyebut nama Tuhan, dalam berbagai bahasa, umat-umat beragama itu tidak mampu untuk menghadapkan wajahnya sampai NTEK (hanief) kepada WAJAH Yang Maha Meliputi segala sesuatu.

MANUSIA, SEDERHANA SAJA …!

Sudah sangat jamak imajinasi di masyarakat umum, bahkan sejak zaman dulukala, bahwa manusia harus mengenal dirinya sendiri dulu baru setelah itu dia bisa mengenal Tuhannya, man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu dalam bahasa Arabnya. Ini sebuah pameo yang banyak beredar di masyarakat. Ada yang menolaknya, dengan alasan bahwa ungkapan ini bukan hadits dari Rasulullah. Orang yang menolak ini berpendapat bahwa ungkapan ini adalah bahasa para filsuf yang bergelut di bidang FILSAFAT. Tapi adapula yang menerimanya hanya karena ada bahasa Arabnya, atau malah ada pula orang yang meyakininya sebagai Al Hadits. Sehingga kemudian banyaklah orang yang berusaha mencari tahu siapa dirinya ini. Dirinya itu hilang kali ya…, atau tersembunyi entah dimana, sehingga perlu dicari kembali sampai ketemu.

Dari hasil pencarian itu, maka kemudian lahirlah berbagai konsep tentang diri manusia itu. Ada yang ketemu bahwa dirinya adalah diri yang penuh dengan nafsu kotor sehingga perlu dibersihkan dulu kekotorannya itu. Bersih-bersih diri dulu tahapan awalnya. Maka sibuklah orang dengan laku pembersihan diri (tadzkiyatun nafs). Tapi nggak tahu tuh apa dirinya bisa benar-benar bisa bersih atau tidak.

Ada juga yang ketemu bahwa dadanya kok bergolak terus dengan berbagai rasa amarah, benci, iri, dengki, sedih, senang, bahagia yang pilin berpilin nggak terduga-duga. Berubahnya rasa tadi itu terjadi seperti acak. Polanya rumit. Sehingga ada pula kemudian sibuk untuk mengelola dan mengatur hati ini agar hati tersebut berada di satu sisi saja, yaitu sisi yang bahagia, senang, tidak marah, tidak iri, tidak benci, dan tidak-tidak negatif yang lainnya.

Kemudian dari hasil perjalanan panjang mengolah diri dan hati itu, maka mucullah konsep-konsep mengenai JATI DIRI, DIRI YANG SEJATI, dan sebagainya. Pada umumnya konsep ini sangat susah untuk dipahami apalagi untuk dijalani. Sehingga banyaklah orang yang merasa pesimis. Lalu sang pesimis menghindar dengan menyalahkan takdir Tuhan pula. “Tuhan sudah menakdirkan saya jadi begini…, dst.”

Padahal siapa dan bagaimana diri kita ini yang sebenarnya sudah nggak usah dicari-cari lagi. Nggak usah capek-capek lagi nyari kesana kemari. Tinggal kita baca satu dua ayat Al Qur’an, dimana Sang Pencipta diri kita ini telah menerangkannya dengan sangat jelas. Karena Dia lah yang sangat tahu tentang diri kita ini. Setelah itu, kita lalu minta tolong saja kepada Sang Pencipta kita itu untuk memberikan kita kepahaman, kesadaran atas ayat Al Qur’an yang menerangkan serba-serbi diri kita itu. Sebab, kalau kita yang mencari-cari diri kita sendiri, maka hasilnya juga hanyalah kira-kira atau persepsi saja. Masak jeruk bisa makan jeruk...!.

Nah…, Al Qur’an dengan sangat gamblang telah menerangkan bahwa yang disebut sebagai manusia itu hanya punya dua substansi saja, yaitu NAFS dan RUH. Nggak lebih dan nggak kurang. Sederhana sekali. Sangat sederhana malah.

Di satu sisi, nafs adalah substansi yang berasal dari saripati tanah yang dibentuk Allah dengan sangat sempurna berikut dengan segala sifat, dorongan, dan kecenderungannya. Dan di sisi lain, ruh adalah substansi yang berasal dari Allah, sehingga Allah menyebut ruh itu dengan sangat mesra sebagai Ruh-Ku.

Allah tidak sedikit pun menerangkan bahwa ruh itu adalah ciptaan-Nya. Allah menyebutkan bahwa ruh itu adalah Ruh-Nya. Bukan ciptaan-Nya. Apalagi penggambaran konyol bahwa ruh itu seperti pocong, huh… lebih-lebih tidak berdasar lagi. Tidak seperti itu. Nggak tahu dari mana tuh asal muasalnya imajinasi liar tentang ruh seperti itu.  Allah hanya menyatakan bahwa ruh itu adalah mengikuti rahasia dan fitrah Allah. Dan tidaklah kita diberitahu tentang ruh itu kecuali hanya sedikit. Tapi siapa yang dapat menakar sedikit menurut Allah itu…?. Nah temukanlah pengetahuan yang sedikit menurut Allah itu. Namun yakinlah bahwa sedikit menurut Allah itu sungguh sangat-sangat-sangat banyak sekali untuk ukuran kita. Seperti nggak habis-habisnya begitu…!.
 Akan tetapi, kalau kita tidak mau berhenti memahami bahwa diri kita ini hanyalah NAFS dan RUH, artinya kita masih mau mencari tahu tentang diri kita ini lagi, memangnya mau dicari kemana…?,  dan seperti apa lagi maunya diri kita ini …?. Sudah sangat jelas begitu kok. Kita manusia ini hanyalah terdiri dari NAFS dan Ruh. Titik….!!.

MENGUAK KESADARAN EKSISTENSIAL…


Sekarang  pengetahuan kita tentang TUHAN dan tentang MANUSIA sudah menjadi sangat sederhana. Bahwa pada dimensi ketuhanan, yang ada hanyalah ALLAH dan ALAM. Sedangkan pada dimensi kemanusian, yang ada hanyalah Ruh dan NAFS.

ALLAH adalah WUJUD yang meliputi ALAM, dan alam adalah substansi yang diliputi oleh WUJUD ALLAH. Sebutlah alam apa saja, apakah itu alam semesta, ataupun alam-alam gaib seperti alam akhirat, alam syorga, alam neraka, alam malaikat, alam jin, alam syetan, alam pikiran, alam khayalan, dsb. Maka semua itu PASTILAH berada dalam liputan Allah. Karena liputan Allah itu begitu kolosal dan besarnya, maka Allah disebut juga sebagai Sang Maha Besar. Begitu juga karena ketinggian yang tak terukur pun berada dalam liputan Allah, maka Allah disebut juga sebagai Sang Maha Tinggi. Artinya adalah bahwa kemana pun kita menghadap, maka yang nyata adalah Wujud Tuhan yang meliputi segala sesuatu.

Sedangkan untuk mengerti tentang eksistensi Ruh dan NAFS, marilah kita buka kembali peta yang memang telah disiapkan Sang Pencipta untuk umat manusia, yaitu Al Qur’an. Dalam surat Al Qiyamah ayat 14 Allah berkata:

“Bahkan pada manusia itu diatas dirinya (Nafs) ada yang tahu (Bashirah).

Artinya, sang bashirah inilah yang mampu untuk menjadi saksi atas diri manusia itu sendiri (NAFS). Substansi macam apakah bashirah ini, sampai-sampai sang bashirah bisa tahu tentang apapun tentang diri manusia..?.

Jawaban pertanyaan ini bisa kita lihat dalam surat As Sajdah ayat 7-9:

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan kepadanya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.

Dan dalam surat Al Mujadilah ayat 22:

“…Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan RUH-NYA…”

Ini berarti bahwa Ruh-Nya atau kita ringkas saja menjadi Ruh yang dialirkan kepada Nafs, merupakan substansi yang selalu mengawal Nafs dari waktu ke waktu. Abadi liputan Ruh atas Nafs itu. Hanya karena liputan Ruh atas Nafs inilah yang menyebabkan Sang Nafs bisa mengarungi hidup baik itu di alam dunia, maupun di alam akhirat. Ruh ini pulalah sebenarnya substansi yang hidup, yang kuat, yang bergerak, yang melihat, yang mendengar, yang tahu. Karena memang Sang Ruh berasal dan mendapat pengajaran dari Yang Maha Hidup, Yang Maha Kuat, Yang Maha Bergerak, Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Tahu. Sedangkan Sang Nafs hanyalah semata-mata substansi yang bersandar mengikuti apapun fitrah dari Sang Ruh.

Kalau begitu, substansi yang hakiki pada seorang manusia adalah Ruh itu sendiri. Tepatnya Aku yang hakiki bagi manusia adalah Sang Ruh ini, Sang Bashirah. Sedangkan Nafs boleh dikatakan hanyalah substansi yang tidak bisa apa-apa. Substansi yang diam, bodoh, buta, tuli, tidak tahu. Dalam bahasa agamanya sifat dan keadaan seperti ini disebut sebagai FANA. Ya seperti mayat begitulah, atau seperti orang pingsan, orang koma. Atau yang paling dekat dengan kita sehari-hari yaitu orang yang sedang TIDUR.

MERANGKAI KESADARAN AWAL…


Sekarang mari kita lanjutkan membenahi kesadaran kita yang selama ini tertutup tentang eksistensi manusia dan Tuhan. Apa sebenarnya makna yang terkandung dalam ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu di atas kalau kita memang masih mau memakainya. Mari kita duduk rileks sejenak untuk mengenal diri kita yang hakiki. Lakukanlah perubahan kesadaran sebagai berikut:

·    Pejamkan sajalah mata dengan ringan. Kening nggak usah berkerut-kerut seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu. Santai saja.
·    Sadari ada kaki kita. Kalau belum bisa sadar cobalah pegang kaki itu. Oooo…, ada kaki saya yang berada dibawah saya. Diamlah beberapa saat untuk meyakini dan menyadari bahwa saya berbeda dengan kaki saya.
·    Lalu sadari ada tangan kita, bahu kita. Kalau belum sadar cobalah pegang atau raba semua itu dengan lembut sambil membawa serta kesadaran kita ke tempat yang kita sentuh. Oooo…, ada tangan, ada bahu saya yang berada di bawah saya. Diam pulalah beberapa saat disana untuk meyakini dan menyadari bahwa saya benar-benar berbeda dengan tangan dan bahu saya.
·    Kemudian coba sadar ada dada kita. Amati sajalah dada itu sebatas sadar akan akan keberadaan dada itu di bawah kita. Jangan masuk ke dalam dada itu. Karena kalau masuk ke sana nanti kita akan dihadang oleh berbagai fenomena yang terbolak balik, enak dan senang yang silih berganti. Nggak usah kita pedulikan dululah fenomena-fenomena itu. Gampang itu nanti.
·    Kemudian dengan cara yang sama, sadari pulalah keberadaan mata, telinga, kepala dan otak kita. Oooo…, ternyata kesemuanya itu juga berada di bawah saya…!. Oooo…, saya bersaksi (syahid, syahadah) tentang ayat: “Bahkan pada manusia itu diatas dirinya (NAFS) ada yang tahu (BASHIRAH)”, adalah benar…!!!
·    Ooo…, ternyata memang saya berada di atas semua instrumen saya, yaitu tubuh saya dengan segala tetek bengeknya yang berasal dari saripati tanah itu. Dan sayalah Sang Bashirah itu.

Dengan cara yang sangat sederhana seperti ini, ternyata kita bisa tahu tentang makna hakiki dari ungkapan man ‘arafa nafsahu, bahwa pada hahekatnya yang ada hanyalah SAYA dan DIRI SAYA. Ada RUH dan NAFS. Ada Bashirah yang tahu atas semua instrumen yang terdapat pada Nafs. Saya (Ruh) nyata sekali terpisah dengan diri saya (Nafs). Akan tetapi, walaupun terpisah saya tetap meliputi seluruh diri saya. Buktinya saya tetap tahu semua intrumen saya sampai detail. Saya bisa tahu ada instrumen saya yang sakit, yang patah, yang luka, yang tidak baik. Saya juga tahu saat ada anggota tubuh saya yang hilang. Misalnya, saya tetap tahu kalau tangan kanan saya diamputasi. Bahkan saya juga tahu segala rasa-rasa yang muncul pada diri saya seperti rasa kecewa, marah, benci, iri, pelit, medit, tidak khusyu’, tidak ikhlas, tidak sabar, dan rasa-rasa jahat lainnya seperti tahunya saya saat diri saya dilanda rasa senang, bahagia, cinta, ikhlas, khusyu’, sabar, dan berbagai rasa yang baik lainnya.

Akan tetapi saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu. Ya…, saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu seperti bersatunya merica, garam, bawang dan kentang dalam sebutir perkedel sehingga membentuk substansi yang lain sama sekali dari unsur-unsur pembentuknya. Tapi sayalah yang meliputi seluruh tubuh saya. TEGASNYA…, saya (Ruh) berada di luar dan sekaligus juga di dalam tubuh saya (NAFS).

Janganlah terlalu berlama-lama mengamati instrument kita tadi itu, terutama dada dan otak kita. Karena keduanya memang punya daya tarik dan kecenderungan (Hawa un Nafs) yang cepat sekali menarik-narik kita untuk tenggelam ke dalamnya. Kalau tidak percaya cobalah amati otak kita agak lama, maka dengan kecepatan yang pasti, kita akan ditarik pada file-file yang ada di dalamnya. Cepat sekali kita dibawa dari satu file ke file yang lainnya. Sehingga kalau kita tidak bisa keluar dari file-file fikiran itu, kita terhenti di satu atau beberapa file fikiran itu, misalnya tiga hari saja, maka kita akan menjadi orang yang susah tidur, atau sakit kepala, pusing dan sebagainya.

Begitu juga kalau kita terlalu lama mengamati dada kita, apalagi sampai ke detail-detailnya yang berupa lokasi-lokasi tertentu. Maka dengan cepat kita akan ditarik pula masuk ke dalamnya. Kita akan dibawa melalui berbagai rasa dan pemandangan yang sebenarnya sangatlah mengasyikkan. Akan tetapi kalau kita tidak tahu arah jalan keluarnya, maka kita akan disekap oleh rasa itu. Bisa berhari-hari sekapan perasaan itu melilit kita. Bahkan ada yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Cobalah kalau tak percaya…!!. Tapi sebelum mencobanya, sebaiknya kita tahu dulu jalan keluar dari sekapan dan lilitan perasaan itu. Mari kita coba meretas jalan keluar itu.

Begitu kita mampu menyadari bahwa, oooo…, ternyata saya yang hakiki adalah Ruh sedangkan Nafs hanyalah instrumen saya, maka saya harus mencari cantolan agar saya tidak terombang ambing kesana kemari oleh daya tarik kecenderungan Nafs tadi seperti yang sering kita alami selama ini. Coba…, sedang shalat saja, yang notabene saat itu kita tengah memuja Tuhan, ee…, kita masih saja bisa ditarik-tarik untuk menghadap kepada yang lain, misalnya, problem keseharian kita. Untuk bisa keluar dari tarikan kepada selain Allah itu maka kita haruslah mencari peta yang benar dan yang mampu mengantar kita untuk mengetahui arah cantolan atau tempat kembali kita yang sebenarnya. Peta itu adalah Al Qur’an yang kemudian detailnya termuat di berbagai Al Hadits.

Lalu saya sendiri mencoba untuk membolak balik Al Qur’an dan Al Hadits itu dengan penuh rasa keingintahuan saya untuk mendapatkan jawabannya. Dapat…!. “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, aku ini adalah dari dan milik Allah dan kepada-Nya aku harus kembali”, kata Tuhan saya memberi tahu saya dengan gamblangnya. Dan saya pun buru-buru menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya. Deeerrr…!. Maka dengan seketika itu juga saya langsung akan mengenal Tuhan saya, sehingga ungkapan “faqod arafa robbahu” benar-benar bisa menjadi tempat pemberhentian saya yang terakhir. Dalam segala hal…!!.

Jadi makna dari ungkapan  man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu itu sebenarnya sederhana sekali, yaitu “Innalilahi wa inna ilaihi raji’un”. Karena memang saya ternyata hanyalah semata-mata Ruh-Nya. Dari-Nya, milik-Nya. Sehingga tiada lagi nisbah kepadaku melainkan hanya kepada Dia.

Apa makna dari ungkapan ini…?. Mari kita lanjutkan perjalanan kita untuk membuka kembali kesadaran kita terhadap Allah setahap demi setahap. Karena kita memang saat ini sedang ter-cover. Akui sajalah bahwa kita ini memang sedang ter-cover. Jangan malu-malu. Saya juga sedang ter-cover kok…!.

TEMPAT KEMBALI YANG HAKIKI …


Secara fitrah, segala sesuatu selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada fitrah asalnya. Saripati tanah pastilah punya keinginan untuk kembali kepada tanah pula. Siapapun tidak akan bisa menolak bahwa saripati tanah yang boleh jadi bentuknya berbeda-beda, misalnya, dalam bentuk tubuh manusia, tubuh hewan, dan tanaman, pada saat yang tepat pastilah akan kembali menjadi tanah. MATI.

Oleh sebab itu untuk kembali membuka kesadaran kita kepada yang tidak sama dengan tanah, yang bukan tanah, maka janganlah coba-coba untuk membawa-bawa tanah itu menghadap kepada yang bukan tanah. Jangan bawa mata untuk melihat yang bukan tanah. Jangan bawa telinga untuk mendengar yang bukan tanah. Jangan bawa otak untuk memikirkan yang bukan tanah. Jangan bawa dada untuk merasakan yang bukan tanah. Karena mata, telinga, otak dan dada itu nanti akan sirna dimakan ulat dan belatung setelah semuanya itu ditanam kembali di dalam tanah, setelah semua itu tidak berfungsi. MATI.

Tapi jangan pula mata, telinga, otak dan dada itu dimatikan seperti ajaran mematikan dan menutup “hawa songo” dalam praktek kebatinan tertentu. Hanya lewati saja kesemuanya itu seperti lewatnya angin dan cahaya di udara terbuka yang tidak ada tumbuhan, tidak ada bangunan, tidak ada gunung yang menghalangi. Tanpa hambatan, tanpa tekanan. Atau RILEKS dalam bahasa populernya. Seperti rileksnya mata, telinga, otot, otak dan dada seorang bayi. Nggak susah kok untuk rilkes ini. Sudah rileks….???.

Kalau sudah, maka hampir secara otomatis kita akan mempunyai kesadaran bahwa kita ternyata meliputi seluruh Nafs atau diri kita. Lalu lupakan sajalah seluruh atribut dan fenomena Nafs itu. Lalu yang tinggal adalah SAYA, Sang MIN-RUHI, SANG BASHIRAH, SANG AKU DIRI.

Nah…, mari kita lanjutkan tentang bagaimana proses Sang Aku Diri ini luruh ke dalam pelukan Sang Aku Hakiki, ALLAH:

·    Sekarang munculkan afirmasi atau niat, bahwa saya tidak tahu tentang Allah. Saya tidak tahu bagaimana cara sadar dan ingat kepada Allah (DZIKIRULLAH). Karena yang tahu tentang Allah adalah Allah sendiri. Lagi pula…, sudah sekian lamanya saya TERTUTUP oleh kecenderungan Nafs (Hawa un Nafs) untuk SADAR dang INGAT kepada ALLAH. Oleh sebab itu mulai saat ini, saat ini juga, tanamkanlah sebuah afirmasi atau niat yang kuat bahwa saya punya Tuhan yang Nama-Nya adalah ALLAH.

·    Kemudian munculkan sebuah rasa ingin yang sangat kuat (jahadu) agar diajarkan oleh Allah tentang Allah sendiri.

“Allahumma ‘ala dzikrika”
Ya Allah dzikirkan saya, ingatkan dan sadarkan saya.
Ajarkan saya untuk bisa ingat dan sadar kepada-Mu.
Saya tidak bawa apa-apa selain hanya PENGETAHUAN bahwa Engkau Maha Meliputi Segala Sesuatu dan Engkau tidak sama dengan segala apapun juga.

Kalau perlu ulangilah niat untuk ingin di tuntun oleh Allah ini dengan kerendahan hati yang amat sangat (tadarru’).

·    Saya lalu mengucapkan langsung (tanpa perantara dan wasilah apapun) kepada Wajah Sang Maha Meliputi ungkapan persaksian dan shalawat sebagai berikut:

Bimillahirrahmanirrahim,
Asyhadu anlaa ilaaha illallah,
Wa asyhadu anna muhammadan rasulullah.
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.

·    Lalu panggil-panggillah Nama Sang Maha Meliputi itu dengan teguh:

Ya Allah…, Ya Rahman…!.

Ulangilah memanggil-manggil Ya Allah, Ya Rahman ini beberapa kali dengan kerendahan hati yang amat sangat, sampai nantinya muncul tarikan rohani kearah yang Maha Tinggi. Biasanya munculnya tarikan rohani ini tidaklah terlalu lama setelah kita memanggil-manggil Allah. Paling dalam hitungan menitan. Kalau dalam waktu 3 menit berselang belum juga muncul tarikan rohani ini, maka jangan diteruskan. Percuma saja. Karena kalau sudah lebih dari 3 menit tapi nggak ada tarikan rohani juga, maka yang muncul kemudian adalah fikiran kita. Kita mulai mikirin tentang bagaimana tarikan rohani itu, bagaimana direspon Tuhan, dan sebagainya. Kalau sudah begini maka istirahatlah sebentar, dan kemudian mulailah lagi dari awal.

·    Kalau tarikan rohani itu muncul, maka jangan takut, jangan dilawan, dan jangan dipikirkan. Karena kalau takut, atau dilawan, atau dipikirkan, maka seketika itu juga tarikan itu akan lenyap. Sebenarnya tarikan rohani itu hanyalah sebuah pergerakan kesadaran kita saja dari kesadaran ketubuhan (Nafs) menuju kesadaran yang mengatasi Nafs menuju ketidakberhinggaan. Akan tetapi, dalam pergerakan kesadaran demi kesadaran itu kita seperti DITUNTUN. Jadi bukan karena usaha kita sendiri lagi. Tapi dituntun, ditarik. Nah…, ikuti sajalah tuntunan itu. Biasanya respon akibat dari adanya tuntunan itu adalah, dada kita berguncang, atau tepatnya diguncangkan dari dalam, sehingga kita bisa dibuat histeris, menangis dan bahkan tersungkur saking dahsyatnya tarikan rohani itu.

·    Kemudian pada saatnya, respon dengan rasa ditariknya rohani kita itu akan berhenti dan berganti dengan munculnya rasa tenang, damai, luas yang dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan TALINU (lihat Az Zumar 23).

·    Dan bacalah, IQRA suasana tenang, damai, dan luas itu, karena disana sungguh sangat tidak terhingga ilmu pengetahuan maupun solusi dari berbagai persoalan. Di wilayah itu semuanya digeletakkan begitu saja oleh Allah untuk menunggu manusia-manusia yang mau otaknya dialiri fikiran Tuhan, yang mau dadanya dialiri oleh kehendak Tuhan. Ya…, manusia yang mau menjadikan dirinya sebagai wakil Tuhan, yang mau meneruskan tongkat estafet perjuangan Rasulullah. “Sedangkan untuk bekalnya…, semuanya dari-Ku”, kata Allah menjamin. Kita hanya tinggal memunguti bekal itu sesuai dengan kebutuhan.

·    Lalu nikmatilah hasil dari IQRA (membaca) suasana per suasana itu dalam bentuk RASA MENGERTI (NGEH).

Catatan: 
Oleh sebab itu selalulah perkuat rasa mau belajar kepada Allah, berguru kepada Allah. Lalu tanamkan juga niat yang kuat bahwa saya akan IKUT MAU-NYA ALLAH. Sikap ini merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang tidak tahu dan ingin menjadi tahu. Karena memang hanya inilah modal kita yang ada pada kita. Dengan sikap ini kita dituntun untuk SADAR PENUH kepada Tuhan. Kalau sudah sadar penuh kepada Allah, maka kita dengan senang hati akan ikut mau-Nya Allah. Dan kalau kita sudah ikut mau-Nya Allah maka kita akan dituntun dari satu keadaan ke keadaan lain, dari satu suasana ke suasana lain, dari satu pengetahuan ke pengetahuan lain. Bukankah tuntunan Tuhan ini yang selalu kita pohonkan dalam setiap shalat kita…?. Kita selalu mengeluhkan kepada Allah: “Iyyaka na’budu wa iyya ka NASTA’IN…?”. Tuntun saya ya Allah…!.

·    Nah…, kalau suasana ajar mengajar antara seorang hamba dengan Sang Maha Guru, ALLAH, ini sudah bisa kita dapatkan, maka tinggal kita nikmati saja pemahaman-pemahaman yang lainnya, misalnya:
Ø       Tuhan itu siapa..?.
Tuhan adalah yang Dzat Yang Maha Dahsyat, Sang Pencipta alam semesta dengan tidak sia-sia, bumi, matahari, bintang-bintang, tumbuhan, termasuk diri kita. Seluruh ciptaan-Nya bermanfaat,  tidak ada yang sia-sia. Malaikat, bahkan iblis sekalipun akan bermanfaat bagi manusia. Deerrr…!, maka masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan Tuhan itu.
Ø       Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu.
Kita, tubuh kita juga diliputi Nya. Amati liputan Tuhan itu terhadap jantung, darah, paru-paru, otak, semuanya. Nafas kita juga diliputi oleh Tuhan. Amati kerja tuhan pada tubuh kita. Ternyata karsa, keinginan, kesibukan Tuhanlah yang bekerja atas semua yang ada di dalam tubuh kita itu. Seperti juga karsa Tuhan terhadap alam semesta. Deerrr…!. Masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan karsa Tuhan itu. Lalu histeris, terpana, terkapar, adalah sebuah keniscayaan saja.

Ø       Sadari akan alam RASA melihat, alam RASA mendengar, alam RASA tahu, masuklah ke wilayah KESADARAN RASA-RASA itu tadi.
Nanti kita akan dibawa sadar, dituntun sadar bahwa ternyata yang melihat itu bukanlah mata saya, tapi ada rasa melihat yang mengalir melewati mata itu. Kita akan dibawa untuk sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukanlah telinga saya, tapi ada rasa mendengar yang mengalir melewati telinga itu. Kita akan disadarkan pula bahwa yang tahu itu bukanlah otak saya, tapi ada rasa tahu yang mengalir melewati otak saya. Begitu juga dengan rasa tenang, damai, dan bahagia. Ternyata semuanya itu hanya sekedar rasa yang dialirkan melewati dada saya. Amatilah semua alam rasa-rasa tadi itu. Karena disitu juga sangat kaya, melimpah ruah, dengan pengajaran dan tahu. Akan tetapi bagi yang mau masuk ke wilayah kearifan, maka semua pengajaran dan tahu tadi itu hanya akan dilihat dengan selayang pandang saja. Karena semua itu adalah hijab yang akan menutupi kesadaran kita terhadap Sang Maha Mengalirkan rasa itu kepada kita.

Ø       Masuklah ke dalam kesadaran atas rasa melihat, rasa mendengar, dan rasa tahu itu.
Nanti kita akan dibawa kepada kesadaran baru bahwa semuanya itu ternyata adalah RASA MILIK ALAM. Oleh sebab itu jangan diaku. Ya…, semua ternyata adalah rasa melihat milik alam, rasa mendengar milik alam, rasa tahu milik alam. Yang ada adalah rasa alam semesta…!. Tegasnya…, yang ada adalah alam…!.

Ø       Jangan mau berhenti di kesadaran alam semesta ini. Masuklah ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Masuklah dengan niat, atau afirmasi bahwa:
ü       Alam  ini diadakan oleh Allah.
ü       Ooo…, kalau begitu yang ada hanyalah alam dan Allah.
ü       Alam adalah qodrat dari Allah.
ü       Sehingga yang ada adalah qodrat Allah dan Allah.
ü       Qodrat Allah kembalikan ke Allah
ü       Sehingga yang tinggal, Yang ADA hanyalah ALLAH.

Ø       Lalu tegaskanlah:
laa ilaha illallah

Ø       Lalu bertasbihlah:
subhanallah
alhamdulillah
laa ilaha illallah
Allahu Akbar.
Laa haula wala quwwata illa billah.

Ø       Lalu akan muncul pekikan HU…, HU…, HU…!
Ø       Lalu akan muncul rasa patuh dan sujud sebagai seorang hamba kepada Allah.
Ø       Lalu………….!,
Ø       Lalu………….!.

Nah…, demikianlah sekilas saya mencoba menggambarkan secara verbal sebuah proses yang kalau dialami langsung akan jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar bahasa tertulis seperti ini. Nah silahkanlah masuk sendiri-sendiri ke dalam suasana dan kesaksian seperti di atas. Maka anda akan menangguk manfaat yang tak terkirakan.

MEMAKAI BAJU KESADARAN…


Begitulah…, kalau kita mau dituntun oleh Allah suasana per suasana, maka tinggal kemudian suasana itu kita pakai sebagai “baju” kita sehari-hari. Misalnya, saat diri kita ditimpa oleh berbagai masalah yang rumit, kita langsung saja buru-buru membawa masalah itu kepada Allah. Dan dengan sangat mengherankan kita akan ditarok di atas masalah itu sehingga kita tinggal memunguti solusi yang cocok untuk menyelesaikan masalah itu. Walau pun nanti hasilnya tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan, itu masalah lain lagi. Nggak usah dicampur adukkan antara hak kita dengan hak Allah. Percaya sajalah bahwa Allah tahu persis apa-apa yang terbaik buat kita.

Apapun juga…,  omongkanlah kepada Allah, berbisiklah kepada Allah. Karena Allah memang adalah satu-satunya ALAMAT yang sangat jelas untuk tempat kita menyampaikan segala sesuatu. Kalau alamat ini kabur, nggak jelas, maka itu namanya kita sedang kafir terhadap Allah. Oleh sebab itu sadarkanlah diri kita atas keberadaan alamat itu. Ini nih…!. INI….!. Hu…, hu… hu…!. Nggak usah dicari jauh-jauh ke langit yang ke tujuh atau ke alam-alam malakut, alam jabarut, alam lahut, dan alam-alam lainnya. Deerr…!. Lalu duduklah di sini memunguti jawaban Allah (Makhraja) atas persoalan kita. Kalau sudah begitu, maka kita setidaknya bisa merasakan cipratan rahmat sebagaimana dirasakan oleh para penyambung tangan Rasulullah. Yaitu para sahabat Rasulullah dan wali-wali Tuhan. Karena sahabat dan penerus Rasulullah itu artinya adalah orang yang sadar penuh terhadap Tuhan. Sadar penuh. DZIKRULLAH. Sedangkan si Deka hanyalah wali dari Karima Yuridawati, anak saya.

Sekian. Hanya Allah yang Maha Tahu.

Deka