Tak disangka pertanyaan
dari Pak Reza yang sangat sederhana telah membawa perserta milis Dzikrullah ini
ke dalam sebuah diskusi tertulis yang sangat hangat. Pertanyaan Beliau simpel
sekali: “berarti manusia paling cerdas itu yang seperti di barat sana dong
ya, karena mereka bisa dengan (mungkin) nikmatnya berzina tanpa perlu dihajar
di "neraka" karena file otak mereka tidak pernah mengatakan berzina
itu tidak boleh, "wong suka sama suka ya monggo aja" begitu kilahnya”.
Dan jawaban saya dengan judul “Asyiknya Tak Kenal Agama” juga telah bergulir
ternyata telah mendorong pula orang-orang seperti Bu Julia, Pak Adam, Pak Muh.
Fam, Ibu Lenita, Pak Ibnu Achmad, Pak Bagus Tjondro, Ibu Aquila Mayang, Pak
Kusman, Pak Ruswaldi, Pak Arwansyah, Pak Hary Priyanto, Pak Alim Nawara, Pak
Muhammad Ratif, dan mungkin masih banyak lagi yang tidak dipostingkan oleh
Moderator, untuk mengeluarkan pandangan-pandangan beliau-beliau pula. Ramai
memang. Tapi kita nggak usah terlalu khawatir, karena memang itulah realitas
kita manusia ini. Kita berbeda, lalu ramai, lalu cool dan calm,
lalu berbeda lagi, lalu ramai lagi. Begitulah tak henti-hentinya. Ini semakin
meyakinkan saya tentang AKAL SANG HAKIM yang ternyata telah “mendekati”
kebenaran (silahkan simak pula artikel tentang “Kebenaran” yang sedang menunggu
giliran tayang).
Jangankan kalimat negatif seperti “Asyiknya Tak Kenal Agama”,
kalimat yang bagus saja, misalnya, “Jaksa Agung seperti ustadz dikampung
maling” telah menyebabkan orang-orang yang mengakunya terhormat di DPR sana
terlibat dalam sebuah “keasyikan
bertengkar” antara satu sama lainnya. Ada apa ini penyebabnya. Mari kita bahas
barang tiga-empat jenak.
Kalau kita melihat seseorang melakukan “sebuah perbuatan yang
sama” dengan berulang-ulang, maka seringkali kita mengistilahkan bahwa
orang tersebut sedang asyik dengan sesuatu itu. Ada yang sedang asyik dengan
pacar atau orang yang dicintainya, maka namanya orang itu sedang
berasyik-masyuk. Ada yang sedang asyik berolah raga seperti tenis, golf, sepak
bola, lari, senam, meditasi, taichi, silat, dsb. Ada yang sedang asyik
berkreasi seperti menulis, melukis, memfoto, merencana, dsb. Ada yang sedang
asyik berlaku fujur seperti mencuri, berzina, ngegelex, ngeinex, berjudi,
benci, bertengkar dan marahan, tidak khusyuk, dsb. Ada yang sedang asyik berperilaku taqwa seperti tidak
marah, tidak benci, menebar damai, asyik ke masjid, asyik mengaji, asyik
berdzikir, dsb. Semuanya itu bisa dilakukan oleh seseorang secara terpisah satu
persatu ataupun secara bersamaan dengan berulang-ulang selama waktu tertentu.
Kalau tidak berulang, maka perbuatan itu dinamakan orang hanya sebatas
perbuatan “kebetulan” saja.
Ha ha ha…, Otak ini…!!!.
Menurut penelitian para ahli neurologi otak, pengalaman dan
pengetahuan yang dialami dan didapat oleh seseorang, betapa pun kecil
dan redupnya, ternyata akan membentuk anyaman neuron di dalam otak kita. JEJAK
(foot print) dari pengalaman dan pengetahuan itu masuk ke dalam otak
melalui berbagai alat indra kita berupa gelombang-gelombang dengan berbagai
frekuensi yang kemudian dikirimkan kebagian-bagian tertentu di dalam otak
berupa energi kimia dan energi listrik. Gempuran berbagai frekuensi gelombang
yang datang ke otak itu kalau mau divisualkan tak obahnya seperti permukaan air
danau yang tenang di tengah hujan lebat. Antara gelombang yang satu dengan yang
lainnya saling tindih menindih membentuk pulau-pulau gelombang yang sangat
khas. Ramai sekali.
Di dalam otak, berbagai frekuensi yang masuk lewat alat indera
tadi dengan cara yang sangat menakjubkan kemudian dikirim ke bagian-bagian otak
lewat jutaan neuron sesuai dengan penggunaannya masing-masing. Ada yang masuk
ke pusat bahasa, maka dengan rangsangan di tempat ini kita lalu bisa merangkai
beragam kata dan kalimat. Ada yang masuk ke dalam pusat penglihatan dan
pendengaran, maka kita lalu bisa melihat dan mendengar. Sehingga kita lalu
bisa BERPERSEPSI terhadap apa-apa
pengetahuan yang kita dapatkan lewat pusat pengindraan kita itu tadi. Misalnya,
persepsi seorang ANAK TK akan sangat jauh berbeda dan sangat ketinggalan
dibandingkan dengan persepsi seorang PROFESOR. Ya ndak masalah
sebenarnya…, kalau antara orang ke orang ada perbedaan persepsi terhadap sebuah
objek terindera yang sama. Wong semua itu hanyalah masalah perbedaan
asupan ke otak kita saja dari waktu ke waktu kok.
Nah…, asupan pengetahuan ke dalam otak kita itu lalu merangsang
bagian-bagian otak tersebut untuk aktif yang ditandai dengan meningkatnya
fungsi otak tersebut. Aktifnya bagian otak tertentu ini dapat di lihat dengan
bantuan sebuah alat pencacat gelombang otak atau melalui teknik scanning
tertentu. Semakin sering bagian otak tertentu diaktifkan atau teraktifkan
dengan rangsangan dari luar, maka semakin cerah bagian tersebut berpendar yang
kemudian akan membentuk KAPALAN MEMORI yang terbentuk dari anyaman NEURON di
area tersebut. Kapalan memori di dalam otak ini akan semakin kental dan kuat
tatkala kita dengan sengaja menanamkan suatu keinginan secara berulang-ulang
melalui teknik-teknik AFIRMASI tertentu. Wirid, niat, dan dzikir
adalah sedikit dari sekian banyak teknik afirmasi dalam bingkai agama
Islam.
Makanya…, pemahaman pada tingkat INDRAWI ini tidaklah terlalu
dapat disalahkan kalau orang juga berbeda persepsi satu sama lainnya tentang
agama-agama yang ada. Karena semua perbedaan itu penyebabnya tak lebih dari
pengaruh kapalan-kapalan memori yang ada di dalam otak kita dalam merespon
suatu permasalahan. Bahkan dalam agama yang sama saja, untuk sebuah istilah
agama, misalnya untuk ayat atau hadist tertentu, sangat lumrah sekali kalau
terjadi beda PERSEPSI antar para penganutnya. Makanya kemudian lahirlah
berbagai pemahaman istilah dan praktek agama yang lalu mengkristal menjadi
bermacam corak FIKIH dan ALIRAN (MAHDZAB). Islam sangat kaya dengan segala
macam corak fikih dan aliran ini yang sebenarnya wajar-wajar saja. Akan tetapi
perbedaan itu menjadi tidak wajar tatkala corak fikih dan aliran yang satu
menyalahkan dan menghancurkan corak fikih dan aliran yang lainnya dengan paksa.
Ya…, beginilah kita umat islam ini sekarang jadinya.
Catatan: Dalam artikel “Akal Sang Hakim” telah saya uraikan bagaimana Akal, atau Aku,
atau Mun-Ruhi, atau Bashirah mengakses kapalan memori di dalam otak ini sampai
terwujudnya sebuah tindakan oleh Sang Diri (Nafs).
Pada tataran universal, pengetahuan-pengetahuan yang dimasukkan ke
dalam otak kita hampir dapat dipastikan akan mengkotak-kotakkan kita manusia
ini menjadi berbagai ahli sesuai dengan file-file pengetahuan yang masuk
tersebut. Orang yang di otaknya banyak pengetahuan tentang kedokteran, maka dia
disebut sebagai seorang dokter yang boleh jadi dia akan sangat terbelakang atau
tidak terlalu tahu dengan pengetahuan tentang fisika nuklir. Sang dokter lalu
hari-harinya akan didominasi oleh pengetahuan kedokterannya itu. Dia akan asyik
dengan pasiennya. Dia akan asyik mencari tahu tentang penyakit-penyakit. Dia
akan asyik berjam-jam diruang prakteknya bahkan sampai tengah malam sekali pun
seperti asyiknya seorang peneliti di laboratorium, atau seorang pedagang di pasar.
Begitu dia asyik dengan pekerjaannya itu, maka berbagai hormon
akan disekresikan ke dalam pusat-pusat pengontrol setiap gerakan dan ekspresi
tubuh yang ada di dalam otak, sehingga otak lalu menghantarkan ALIRAN RASA
EKSTASIS yang masuk dengan deras ke dalam dada maupun ke seluruh tubuh kita.
Aliran rasa ekstasis ini pun lalu akan mempengaruhi mimik atau ekspresi wajah
seseorang. Makanya dimana pun dan bangsa apapun manusia ini, maka tanpa
kata-kata sekali pun, setiap orang akan tahu bahwa seseorang tengah berada
dalam suasana SEDANG menerima aliran rasa bahagia, sedih, jijik, takut,
marah, terkejut, yang merupakan enam EMOSI dasar yang dimiliki oleh
seorang manusia. Orang yang terlalu mudah dipengaruhi oleh berbagai rasa atau
emosi tadi itu lalu disebut sebagai orang yang EMOSIONAL.
Pergerakan pengalaman dari emosi ke emosi inilah yang memberikan
dorongan kepada setiap orang untuk melakukan sesuatu, karena pada emosi itu ada
DAYA yang akan mempengaruhi otak untuk mengirimkan perintah kepada bagian-bagian
yang mengontrol gerakan otot-otot sesuai dengan fungsinya masing-masing. Setiap
perintah itu akan menimbulkan rasa NIKMAT yang akan membuat seseorang KETAGIHAN
untuk melakukan sebuah perbuatan tertentu. Rasa nikmat yang dirasakan oleh
seorang pezina akan sama saja dengan rasa nikmat yang dirasakan oleh pasangan
suami istri. Rasa nikmat yang dihasilkan oleh seorang pencuri saat dia
mendapatkan hasil curiannya akan sama saja dengan rasa nikmat tatkala orang
lain mendapatkan gaji di akhir bulan. Rasa nikmat yang dirasakan oleh seorang
kaya yang mendapatkan mobil Mercedes untuk pertama kalinya akan sama saja
dengan seorang miskin yang mendapatkan uang walau hanya sejuta rupiah saja.
Karena rasa nikmat itu memang adalah anugerah Tuhan bagi semua manusia, tak terkecuali.
Rasa nikmat yang dirasakan oleh seorang yang ngefans kepada
seorang selebriti akan sama saja dengan rasa nikmat yang dirasakan oleh
seseorang lainnya yang ngefans kepada seorang ustad atau kiai kondang yang
terkenal. Hanya dengan sekedar bersalaman dengan sang selebriti atau ustadz
tersebut, maka mereka dapat merasakan aliran nikmat di seluruh tubuhnya. Dan
akibatnya dia akan mengulangi lagi menemui tokoh yang mereka senangi itu.
Jarak, waktu dan biaya sudah tidak menjadi halangan lagi bagi mereka untuk
sekedar merasakan rasa nikmat tersebut. Bahkan tidak jarang masalah hukum dan
moral pun sampai-sampai diterjang habis mereka demi untuk pemuasan rasa nikmat
(ekstasis) tersebut.
Begitu juga, nikmat yang dirasakan seorang pencuri adalah tatkala
dia berhasil mencuri dengan sukses TANPA dipergoki oleh orang lain. Nikmat
seorang pezina konon kabarnya adalah tatkala dia sukses berzina tanpa diketahui
oleh pasangannya atau orang lain. Padahal kalau hanya sekedar nikmat
biologisnya saja yang dicari, maka rasanya mungkin sama saja dengan
melakukannya tanpa perzinaan.
Tapi inilah anehnya karakater jaringan lunak yang disebut dengan
otak ini. Sekali dua kali sang otak mendapatkan informasi dan rangsangan yang
sama boleh jadi otak tersebut masih akan mengirimkan rasa nikmat ke
bagian-bagian tubuh tertentu, akan tetapi kali berikutnya informasi dan
rangsangan yang intensitasnya SAMA itu mulai tidak direspons lagi oleh sang
otak. Informasi, kegiatan, rangsangan yang masuk berulang-ulang tersebut
lama-lama sudah tidak mampu lagi memberikan efek ekstasis bagi si otak. Otak
tidak bereaksi lagi dengan hebat, yang dalam bahasa umumnya dikenal sebagai
RASA BOSAN (BORING). Ya…, sang
otak sudah bosan dengan hal-hal yang sudah tidak mampu lagi memendarkan neuron yang
berada di dalam otak tersebut lebih hebat dari yang sebelumnya.
Makanya rasa bosan seseorang dengan pasangannya kalau dilihat dari
kaca mata biologi neurologi otak tidaklah dapat terlalu disalahkan. Ini sama
saja halnya dengan bosannya kita dalam mendengarkan pengajian atau khotbah
juma’at, kuliah, musik, yang materi atau
muatannya itu ke itu saja dari waktu ke waktu. Seorang pendaki gunung, apalagi
yang ekstrim, juga akan kehilangan gairahnya tatkala dia harus mengulang
mendaki gunung yang sama beberapa waktu kemudian.
Makanya jalan keluar dari kebosanan otak ini kadangkala sungguh
mengerikan. Seorang pencuri atau koruptor, baru akan bisa kembali merasakan
ekstasisnya tatkala dia berhasil mencuri atau korupsi dengan kualitas dan
kuantitas yang lebih besar dari yang sebelumnya. Hutan dicuri, tanah dicuri,
minyak dicuri, bank dipreteli, rakyat dirampok, dan anehnya semua itu bisa
dilakukan orang dengan bekal aturan-aturan yang sangat logis.
Seorang pezina mungkin baru bisa merasa ekstasis kembali tatkala
dia berhasil melakukan perzinaan-perzinaan berikutnya mungkin malah dengan
wanita atau pria yang berbeda. Tingkah laku begini kan sebenarnya tak lebih
dari perilaku seekor ayam saja. Karena yang dicari pezina tersebut tak lain
hanyalah kenikmatan otak yang sangat sesaat saja.
Seorang petualang EKSTRIM baru akan merasa ekstasis kembali
tatkala dia berhasil mengatasi terjalnya puncak gunung, derasnya jeram, dan
tantangan alam lainnya yang lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Uang jutaan
rupiah pun sudah tidak berarti lagi baginya hanya demi pemenuhan rasa ekstasis
otaknya yang semakin meningkat persyaratannya.
Akan tetapi kenapa seorang ibu bisa TIDAK PERNAH BOSAN dengan
anaknya sendiri…??.
Rasa-rasanya belum pernah ditemukan seorang ibu yang normal bisa
bosan dengan anaknya, walau anaknya tersebut bandelnya bukan main. Ini nanti
bisa pula menjadi sebuah topik yang menarik untuk dibahas. Karena suasana tidak
bosan seperti kepada anak ini ternyata juga bisa diarahkan kepada pasangan
(istri atau suami) kita.
Nah…, dalam istilah agamanya, orang-orang yang mengikuti pengaruh
dorongan pemenuhan kebutuhan ekstasisnya otak ini disebut sebagai orang yang terbelenggu
atau terjebak dengan dorongan nafsunya (hawa un nafs).
Suasana ini pulalah yang dirasakan oleh Nabi Yusuf tatkala mengeluhkan dorongan
nafs beliau kepada Tuhan “wama ubarriu nafsii innannafsa laammaratum
bissu’…”. Sebuah suasana jiwa yang ternyata sangat “menyiksa”
Yusuf yang notabene adalah seorang Nabi.
Lho…, kenapa ekstasis otak malah bisa menyiksa diri…???. Tidakkah
ekstasis otak ini akan membawa rasa nikmat sehingga orang cenderung untuk
mengulang-ulang perilaku FISIK tertentu…??.
RASA TERSIKSA…
Rasa tersiksa adalah sebuah keadaan yang muncul akibat adanya
KONFLIK di dalam otak kita tentang sesuatu KEJADIAN atau PERBUATAN yang kita
lakukan. Boleh jadi sebuah perbuatan atau kejadian bisa kita lakukan secara
berulang-ulang karena ada rasa ekstasis (nikmat) yang dilepaskan oleh otak ke
instrumen tubuh tertentu, akan tetapi di bagian otak lainnya, boleh jadi pula
ada file pengetahuan yang menentang perbuatan tersebut untuk dilakukan.
Dengan kata lain, di satu sisi perbuatan itu mengasyikkan, akan tetapi disisi
lain file pengetahuan kita menolaknya. Dengan dua paradoks ini, otak
kemudian memancarkan gelombang yang saling bertentangan, kacau. Paradoks demi
paradoks yang muncul di otak akan menyebabkan BADAI GELOMBANG OTAK pada
seseorang yang akibatnya akan disebarkan ke seluruh tubuh menuju bagian-bagian yang mampu merespon
gelombang otak tertentu. Karena gelombang itu kacau, maka rasa yang disalurkan
ke anggota perasa juga menjadi kacau. Kacaunya rasa ini kemudian dinamakan
orang dengan TERSIKSA.
Seorang pencuri atau koruptor, walaupun mencuri dan korupsi itu
mungkin mengasyikkan dan memberikan rasa nikmat kepada si pelakunya, apalagi
kalau si pelakunya berhasil mengelabui
masyarakat dan perangkat hukum, akan tetapi dia akan tetap merasa tersiksa
tatkala otaknya berisi file bahwa mencuri atau korupsi itu adalah salah,
melawan hukum, hukuman mati, dosa, dan sebagainya. Seorang pezina, kendati
perzinaan itu mengasyikkan dan memberikan rasa nikmat kepada para pelakunya,
akan tetapi dia akan tetap merasa tersiksa ketika perbuatannya itu bertabrakan
dengan file di otaknya yang menyatakan bahwa zina itu adalah haram,
melawan hukum agama, di rajam, berdosa, dan sebagainya.
Kalaupun ada orang yang mampu untuk korupsi, mencuri, ataupun
berzina TANPA merasa tersiksa lagi, maka boleh jadi di otak orang tersebut
sudah tidak ada lagi file-file tentang hukum dan moralitas yang
nantinya akan membedakan martabat manusia dengan derajat binatang. Karena yang
membedakan manusia dengan binatang hanyalah dalam hal hukum dan moralitas saja,
disamping juga kemampuan berlogika, yang pada binatang derajatnya sangat-sangat
rendah dan primitif, walau tetap ada. Di Afrika sana, seekor hyena tidak
akan punya rasa bersalah sedikitpun tatkala dia mencuri makanan yang dengan
susah payah dilumpuhkan oleh seekor cheetah. Seekor ayam jantan tidak
merasa malu sedikit pun tatkala dia harus kawin dengan seekor ayam betina yang
baru saja dikawini oleh ayam jantan lainnya.
Hanya itu saja kok tentang asyik, nikmat dan siksa itu …!. Nggak
usah repot-repot dah.
LALU BAGAIMANA DENGAN RASA
BAHAGIA…?
Bahagia itu juga sederhana saja kok. Tatkala perbuatan dan
kejadian atas tindakan yang kita lakukan mampu membuat kita asyik,
ditambah lagi dengan munculnya rasa nikmat, dibarengi pula perbuatan
tersebut bersesuaian dengan file-file yang ada di dalam otak kita, lalu
dibingkai pula dengan hukum, moralitas dan logika manusia yang
kemudian diringkas menjadi FITRAH MANUSIA (bukan fitrah binatang), dan
ditambah pula dengan sangat mudahnya muncul rasa bahagia pada diri kita.
Dan rasa bahagia itu dengan sangat jelas terpancar dalam EKSPRESI WAJAH yang sumringah
yang bisa dikenal dan ditangkap nuansanya oleh setiap manusia dari suku,
bangsa, dan agama apapun dia. Beginilah kira-kira kalau kita mau mendefinisikan
rasa bahagia. Susah ya kalau dibahasakan …??. Jadi kalau mau diringkas lagi,
maka rasa bahagia itu tak lain hanyalah satu dari sekian banyak ekspresi
emosional yang bisa muncul pada diri seseorang, misalnya sedih, jijik,
takut, marah, dan terkejut.
Akan tetapi tatkala rasa bahagia itu muncul, rona dan ekspresi
wajah bahagia itu akan terpancar dengan jelas di wajah seseorang. Mulai hanya
dari sesungging senyuman manis di bibir sampai dengan tertawa terbahak-bahak
adalah bahasa universal manusia sebagai pertanda bahwa seseorang itu tengah
dialiri oleh rasa bahagia. Dan puncak dari rasa bahagia itu tak jarang pula
memunculkan butiran-butiran air bening di sudut mata seseorang yang dinamakan
orang dengan tangis. Ya…, tangis bahagia.
Pengaruh dari rasa bahagia ini adalah munculnya rasa rileks di
seluruh tubuh. Otot-otot seperti tidak berdaya. Akan tetapi kalau diamati agak
sejenak lebih dalam, otot-otot tersebut malah seperti penuh daya. Langkah kaki
menjadi ringan. Pekerjaan yang seberat dan selama apapun akan dapat kita
laksanakan dengan daya juang yang mengagumkan. RINGAN SEKALI seperti tanpa
beban sedikit pun. Disamping itu, rasa bahagia itu pun sepertinya ingin kita
tumpahkan kepada lain. Paling tidak kita ingin berbagi rasa bahagia itu dengan
orang-orang yang terdekat dengan kita. Dan mengalirnya rasa bahagia kepada
orang lain saat kita merasakan bahagia inilah yang disebut dengan: “kita
menjadi rahmat bagi orang lain”. Bentuknya bisa beragam, mulai dari rahmat
lahir seperti bantuan harta benda, sampai dengan rahmat batin seperti munculnya
rasa empati, simpati, cinta, to say the least. Bahkan hanya sebentuk
sorot mata bahagia saja mampu mengalirkan rasa bahagia itu dengan deras kepada
orang lain dengan dahsyat. Dan sorot mata serta senyuman yang paling
menggetarkan rasa bahagia setiap orang adalah milik seorang ibu kepada anaknya
dan milik seorang bayi kepada semua orang yang memandangnya.
Rasulullah Muhammad SAW malah disebutkan sebagai PRIBADI yang
mampu mengalirkan rahmat bagi seluruh umat manusia melintasi zaman demi zaman. Allahumma
shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad (ya Allah sampaikan salam
sejahtera saya kepada Muhammad Rasulullah dan keluarga Beliau).
Dengan membedah rasa bahagia seperti diatas, maka sebenarnya tidak
terlalu sulit lagi bagi kita untuk mengupas rasa-rasa yang lainnya. Rasa sedih,
misalnya, tetap saja merupakan sebuah rentetan dari sebuah peristiwa, lalu muncul rasa nikmat, sesuai pula dengan file
di dalam otak, serta mengikuti hukum
moralitas dan logika manusia yang kemudian terpancar menjadi sebuah ekspresi emosional. Ciri-ciri,
bentuk dan rona wajah, serta sorot mata seseorang dalam suasana rasa sedih ini
akan sangat mudah kita bedakan dengan ciri-ciri seseorang yang sedang dalam
liputan suasana rasa bahagia. Walau puncak rasa sedih ini juga bisa memunculkan
tangisan, tangis sedih, akan tetapi dengan sangat mudah kita akan bisa
membedakan mana yang tangis sedih dan mana yang tangis bahagia.
Pengaruh rasa sedih ini sangatlah mudah dibedakan dengan rasa
bahagia. Seseorang yang pusat rasa sedihnya di dalam otak terangsang oleh
sebuah kejadian atau perbuatan, juga akan mengirimkan sinyal listrik dan kimia
ke bagian-bagian tubuh tertentu sehingga orang tersebut akan merasakan enak,
nikmat. Sikap tubuh rileks juga akan muncul. Akan tetapi rasa sedih ini kurang
mempunyai DAYA untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.
Yang muncul malah rasa tidak berdaya sama sekali, rasa tidak mau melakukan
apa-apa. Makanya orang yang dilanda oleh rasa sedih ini maunya menyendiri dan
mengurung diri, bahkan ada yang sampai menyendiri ke gunung-gunung. Anehnya,
rasa sedih ini juga bisa dialirkan kepada orang lain di sekitar kita, sehingga
tidak jarang kita melihat ada orang yang saling bertangis-tangisan karena
terimbas kesedihan orang lain.
Begitu juga dengan rasa jijik,
takut, marah, dan terkejut, semua itu punya rasa nikmat sendiri-sendiri
akibat tersentuhnya pusat masing-masing emosi tersebut di dalam otak kita oleh
sebuah peristiwa atau perbuatan. Dan ekspresi wajah serta bentuk aksi tubuh
kitapun dengan sangat mudah dapat dibedakan oleh siapa pun untuk masing-masing
emosi yang muncul tersebut di atas. Dan ternyata daya-daya yang muncul untuk
setiap emosi itu jauh lebih besar dari daya yang muncul dalam kondisi normal.
Makanya kemudian muncul cabang ilmu pengetahuan baru yang mampu memanajemeni
emosional tersebut, mulai dari cara-cara menimbulkan emosi itu sampai dengan
pemanfaatannya untuk keperluan tertentu, yang kemudian terkenal dengan istilah
“emotional qoutient”, manajemen hati,
manajemen qalbu, manajemen ikhlas, manajemen qur’ani, dan sebagainya. Hanya
sebuah suasana emosional jiwa
yang sama tapi dengan selusin nama
dan istilah yang berbeda saja sebenarnya.
EMOTIONAL QUOTIENT…
Beberapa dekade belakangan ini, pengetahuan tentang emosi ini
telah berkembang dengan sangat pesat. Dengan mengamati perilaku dan ekspresi orang-orang
yang berbeda dan suasana rasa yang berbeda pula, maka kemudian lahirlah ilmu
untuk mengatur dan mempengaruhi emosi orang per orang yang terkenal dengan
istilah Emotional Quotient. Ilmu
untuk memfasilitasi emosi seseorang saja sebenarnya.
Para ilmuan baik itu neorologi maupun psikologi sudah dapat
membongkar rahasia emosi dengan sangat menakjubkan. Masalah emosional sudah
dapat dikupas mereka mulai dari penyebab awalnya, kemudian hormon-hormon apa
yang disekresikan oleh otak, dan bagian-bagian mana dari otak yang bertanggung
jawab, sampai dengan anggota-anggota tubuh yang mana yang terpengaruh oleh
rangsangan emosional tersebut. Bahkan para ahli tersebut juga sudah tahu
bagaimana cara mempengaruhi emosi seseorang agar bisa dimanfaatkan untuk tujuan
tertentu. Karena ternyata pada taraf emosi tertentu orang akan mampu
menghasilkan daya-daya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tertentu.
Orang dengan kecerdasan fikiran (IQ) yang hebat belum tentu bisa
menghasilkan sesuatu karya yang hebat pula tanpa didorong oleh daya kecerdasan
emosional (EQ) yang kuat. Emosi “marah” yang terkendali akan memberikan daya
bagi seseorang untuk membangun, berkarya, berkreasi. Emosi “senang dan bahagia”
akan meringankan langkah seseorang untuk melakukan sebuah kegiatan dengan
rileks dan punya daya tahan yang lama. Emosi “takut dan jijik” akan mampu
menghasilkan daya yang sanggup menahan seseorang dari mengerjakan sesuatu yang
tidak diperbolehkan. Emosi “sedih” akan menghasilkan daya yang mampu
menghilangkan beban yang menghimpit dada seseorang, misalnya akibat
ditinggalkan oleh sesuatu yang dicintainya. Emosi “terkejut” akan menghasilkan
daya yang sanggup membuat orang menjadi aktif dan siap siaga untuk menghadapi
segala kemungkinan.
Dan untuk semua emosi itu tadi ada hormon tertentu yang
dikeluarkan atau disekresikan di otak ke dalam aliran darah kita. Hormon
“DOPAMINE”, misalnya, akan sangat melimpah ruah dalam aliran darah seseorang
yang sedang berada dalam suasana rasa senang dan bahagia. Orang yang sedang
jatuh cinta, darahnya akan sangat kaya dengan hormon “OXYTOCIN”, si hormon
cinta. Bagi teman-teman yang ahli tentang hormonal tubuh, silahkanlah menambah
uraian ini biar jadi lebih lengkap.
Nah…, untuk memunculkan efek emosi di atas yang puncaknya boleh
jadi bisa memunculkan tangisan pada seseorang, maka beragam pelatihan kemudian
telah diciptakan orang dengan sangat mengagumkan. Dan kelihatannya, negara kita
Indonesia ini sangatlah kaya dengan ragam pelatihan pembangkit emosi ini. Mulai
dari yang hanya sekedar memainkan imajinasi dengan membayangkan suasana di
pantai atau wilayah pegunungan yang damai, atau irama musik klasik yang turun
naik mengaduk-aduk emosi, sampai dengan eksploitasi kesedihan dengan irama
suara dalam do’a dan dzikir yang menghiba-hiba, atau lengkingan wirid
kalimat-kalimat thayyibah yang
beralun semakin cepat dan memunculkan suasana magis. Semakin intens seseorang
membawa pikirannya kepada alunan irama suara dan dzikir ini, maka semakin mudah
seseorang untuk menangis. Karena irama yang dilantunkan memang irama yang
sedih.
Dan disinilah letak “tipuan pengertian” yang tidak mudah untuk
diketahui orang, karena hanya dengan melihat bahwa tangis yang muncul adalah
dengan membawa-bawa nama Tuhan, ayat-ayat Tuhan, do’a-do’a, kalimat-kalimat thayyibah, maka orang lalu dengan mudah
menyebutnya sebagai peristiwa spiritual atau Spiritual Quotient.
Benarkah ini peristiwa
spiritual…?. Mari kita lanjutkan pengamatan kita.
Andaikan semua pengucapan nama Tuhan, ayat-ayat Tuhan, do’a-do’a
dan kalimat-kalimat thayyibah tadi di
atas kita lantunkan dengan iringan irama dangdut atau rock’n roll, masih
mungkinkah kita bisa mendapatkan tangisan seperti sebelumnya…?. Bagi yang tidak
punya halangan pemikiran, marilah kita coba eksperimen ini barang 15 menit.
Kapan perlu lakukanlah dengan berjamaah pula. Dan boleh percaya atau tidak
bahwa tidak akan satu orang pun yang akan menangis dibuatnya. Malah sebaliknya
kita akan dibawa kepada suasana riang gembira yang mungkin diikuti pula oleh
hentakan kaki dan goyangan kepala seperti orang tripping. Karena sungguh sangat sulit sekali seseorang untuk
diafirmasi agar bisa menangis tatkala seseorang tersebut dipengaruhi oleh suara
atau irama yang bernada gembira. Apalagi
untuk membawa seseorang agar bisa menangis dalam suasana yang tidak sedih
maupun tidak senang, alangkah sulitnya.
Hal ini barangkali bisa menjadi sebuah pertanda bagi kita bahwa
suasana di atas tadi yang disangka orang sebagai peristiwa spiritual, ternyata
masih berada dalam tatatan permainan emosional saja. Boleh dikatakan suasana
itu belum pada tatanan spiritual sebenarnya. Oleh sebab itu, mungkin label “pseodo spiritualitas” lebih cocok
dilekatkan pada peristiwa emosional yang ditempeli dengan istilah-istilah dan
praktek agama tertentu, misalnya dzikir (wirid), do’a dan pengucapan ayat-ayat
kitab suci. Walau pun begitu, pengaruh pseodo
spiritualitas ini saja bagi banyak orang ternyata sudah cukup bagus. Dan
banyak pula yang berhenti disini saja. Sungguh sayang sekali.
Disamping itu, sekarang sudah dipahami orang pula, bahwa peristiwa
emosional ini juga bisa dirangsang dengan menambahkan hormon-hormon atau
zat-zat additive tertentu ke dalam
aliran darah seseorang. Zat yang paling populer dan dipakai luas dalam
masyarakat untuk mempengaruhi otak agar bisa ekstasis adalah nikotine, alkohol, dan narkotika.
Begitu terkenalnya ketiga zat additive
ini, sehingga ada pihak tertentu yang mencoba untuk menanamkan “icon”
kejantanan, keperkasaan, keberanian, bagi orang yang mau memakainya. Dan banyak
pula yang terpedaya untuk memakainya. Padahal pemakaian ketiga zat additive ini
untuk memunculkan peristiwa-peristiwa emosional bisa dikategorikan sebagai cara
yang paling primitif. Karena sudahlah pengaruhnya tidak bisa bertahan lama,
ditambah lagi dengan efek ketagihan dan peningkatan konsumsi dari waktu kewaktu
yang tentu saja akan menguras kantong
para pemakainya. Duh kecian deh…
!.
SPIRITUALIT QUOTIENT…
Nah…, kalau begitu dimana
posisi spiritualitas itu …???
Secara cukup detail saya sudah mengulasnya dalam artikel “Mengupas
Kulit Bawang Spiritualitas”. Akan tetapi secara singkat dapat saya ulas kembali
sedikit bahwa spiritualitas itu adalah sebuah proses perjalanan RUH, BASHIRAH, AKU DIRI menuju
ketidakterbatasan, melampaui file-file
apapun yang ada di dalam otak “sang aku diri”. Walaupun menuju ke tidak
terbatasan, akan tetapi kesadaran yang muncul malah tidak ada jauh dan tidak
ada dekat lagi. Jauh dan dekat itu seperti mengalir dalam sebuah “DAYA” lembut
tapi pekat yang MENARIK sang aku diri dengan halus, sehingga sang aku diri
tidak mampu lagi untuk berpaling ke lain wajah kecuali HANYA kepada WAJAH YANG
MAHA MELIPUTI. Daya itu menuntun sang aku diri untuk mengenal Wajah Sang Maha
Meliputi Itu.
Lalu Sang Maha Meliputi Itu dengan sangat angkuh berkata:
Dari-Ku
lah daya itu, Aku-lah Sang Sumber Daya itu. Tiada daya dan upaya apa pun yang
dapat kau lakukan, kecuali hanya dengan menumpang daya-Ku.
Lalu
terserah Aku saja apa yang akan Aku berikan kepadamu, wahai hamba-Ku.
Adakalanya engkau Ku tangiskan, adakalanya kau Ku gembirakan, adakalanya kau Ku
ilmukan, adakalanya kau Ku persaksikan, adakalanya kau Ku buat lupa lalu Aku
pula yang akan mengingatkanmu kembali, wahai hamba-Ku.
Lalu…,
lalu…, dan lalu…, Subhanallah,
laa haula wala quwwata illa billah…!!!. Laa ilaha illla anta…!!!.
Lalu sang aku diri HANYA tinggal bergantung saja kepada daya-daya
tuntunan yang dialirkan oleh Tuhan kepadanya. Sang aku diri berada dalam posisi
tanpa daya dan tanpa upaya sedikit pun. Dan pengaruhnya ditatanan ketubuhan pun
ternyata menimbulkan suasana lembut, rileks, fresh, dan tidak ngantuk, ditambah pula dengan pengaruh di tatanan
emosional yang tidak ruwet, tidak ada kekhawatiran maupun ketakutan (laa khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun),
yang nyata-nyata sangat membantu kita dalam keseharian kita, baik itu dalam
bekerja, maupun dalam berkarya.
Nah…, temukanlah daya
tuntunan itu sampai dapat, bukan hanya sekedar bermain-main dengan
emosi saja yang memang sanggup untuk mengantarkan seseorang ke wilayah atau
suasana bertangis-tangisan. Bukan pula hanya sekedar permainan emosi saja yang
seolah-olah mampu memunculnya rasa tenang dan rasa lepas dari deraan berbagai
masalah bagi kita. Bukan…!. Karena menangis, rasa bahagia, dan rasa terbebas
dari berbagai masalah yang hanya karena permainan emosi saja, walaupun telah
ditempeli pula dengan berbagai label keagamaan, dampaknya tidaklah akan
bertahan lama. Karena masalah permainan emosi ini hanyalah sekedar melakukan
stimulasi suara, irama, dan nada dengan frekuensi tertentu terhadap bagian-bagian
otak tertentu pula. Jadi boleh juga
dikatakan sebagai peristiwa emosional yang digagas oleh olah fikiran.
Dan yang namanya otak, kalau distimulasi dengan cara yang sama
berulang-ulang dan dengan intensitas yang tidak berbeda dengan yang sebelumnya,
maka otak itu TIDAK akan merespon lagi. Yang muncul malah RASA BOSAN, yang
kemudian disembunyikan orang dalam istilah agama dengan ungkapan “suasana iman yang sedang turun”.
Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah masalah bosannya otak saja, tidak
lebih. Karena memang daya otak ini sangatlah terbatas.
Sedangkan di sisi lain, ada pula suasana emosional yang dihasilkan
oleh peristiwa tuntunan dari Wajah Yang Maha Meliputi. Wajah itu yang akan
menuntun kita kepada peristiwa emosional yang cocok buat kita pada saat
tertentu. Tuntunan itu menjadi tempat bergantung kita untuk mendapatkan suasana
emosional tertentu. Kita seperti DIGERAKKAN dari satu peristiwa emosional ke
peristiwa emosional lainnya. Peristiwa bergantungnya kita kepada DAYA TUNTUNAN
Wajah Yang Maha Meliputi ini diistilahkan Al Qur’an dengan “wa’tashimu billah, bergantung
kepada Allah, dan wa’tashimu bihablillah, bergantung kepada TALI
ALLAH”, yang kemudian dikecilkan orang menjadi TALI (AGAMA) ALLAH, entah tali
agama yang mana.
Karena banyak yang bingung dengan TALI (AGAMA) ALLAH ini, maka
kemudian bermunculanlah filsafat eksistensi manusia yang justru semakin
menjauhkan manusia itu sendiri dari AKAR sejarah keberadaannya, yaitu Tuhan.
Karena mereka melihat sumbangsih agama-agama yang ada untuk membangun peradaban
manusia sekarang ini begitu kecilnya, kalau tidak mau dikatakan tidak ada.
Walaupun ada, tapi tipis sekali untuk zaman yang sedemikian kompleksnya seperti
sekarang ini. Sehingga kemudian bermunculanlah pemikiran-pemikiran yang muaranya
adalah untuk MENAFIKAN (MENIADAKAN) TUHAN yang dengan pasti jadinya malah
semakin menguatkan PENG-ISTBAT-AN
(menyatakan keberadaan) AKU DIRI MANUSIA.
Padahal masalahnya hanya sederhana saja, KETIADAAN DAYA TUNTUNAN
ILAHI yang merupakan WUJUD REAL dari
TALI ALLAH yang dimaksud oleh ayat di atas. Karena ketiadaan tunutunan Ilahi,
maka yang muncul lalu adalah dorongan dari NAFS (hawa un nafs) yang ternyata sangat mudah untuk saling tumpang
tindih dengan dorongan (ajakan) dari Iblis yang akibatnya adalah seperti
kita-kita sekarang ini dan pelaku sejarah kelam masa lalu. Mengerikan
sekali…!!.
Daya Tuntunan Ilahi…
Ada ungkapan yang sangat terkenal tentang daya tuntunan Ilahi ini
dalam sebuah peristiwa spiritual, yaitu “Ra’aitu Rabbi bi Rabbi, Aku
Melihat Allah dengan Allah…!!!. Ya…benar, Allah mengenalkan diri-Nya sendiri
langkah demi langkah kepada kita. Karena yang tahu Allah adalah Allah sendiri.
Betapa pun kita ingin mengenal Allah dengan
fikiran kita sendiri atau kolektif,
maka pastilah itu tidak akan bisa. Percaya deh…!.
Dan Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan cara yang sangat UNIK.
Saat kita mendekat kepada Allah sejengkal lalu Allah menyambutnya sehasta. Saat
kita datang mendekat ke Allah dengan berjalan lalu Allah menyambutnya dengan
berlari. Lebih cepat Dia menyambut dari usaha yang kita lakukan.
Saat kita datang sejengkal, Allah menyambutnya akan
meresponnya dengan pernyataan: “Ana Allah, Aku Allah…!”.
Saat kita datang kepada Allah dengan sejengkal, maka
siap-siap, siap-siaplah menunggu sambutan dan respons dari Allah. Karena kita
memang datang menghadap kepada Sang Maha Hidup.
Dan Allah lalu menyatakan diri-Nya dengan tegas: “Innani Ana
Allah, sesungguhnya Aku Allah…!!, Laa ilaha illa ana, fa’budni, Tidak
ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, SUJUD…!!!, karena memang saat ini ada
Aku”.
Maka dengan lembut aku pun lalu disujudkan Tuhan-ku.
Maka dengan bijaksana aku pun lalu dituntun Tuhan-ku
dari keadaan ke keadaan lainnya, dari suasana ke suasana lainnya.
Lalu ku lihat DADA-KU, ndak ada
apa-apa disana, tidak rasa apa-apa,
Tapi dadaku itu seperti dibungkus oleh daya yang
membawaku dari satu emosi ke emosi lainnya.
Saat aku minta rasa bahagia sejengkal, maka Allah-ku
malah memberikan rasa bahagia itu sehasta, lebih dari bahagia yang aku inginkan,
sehingga aku pun ditangiskan dalam bahagia itu.
Saat aku berjalan minta rasa tenang, sabar, dan
khusyu’ maka Allah-ku berlari memberikan rasa tenang, sabar dan khusyu’ itu,
lebih dari yang ku inginkan, sehingga aku pun kembali ditangiskan dalam tenang,
sabar dan khusyu’ itu.
Saat aku minta bebanku dilepaskan sejengkal saja,
malah Allah-ku melepaskan bebanku itu sehasta, sehingga dada-ku kembali menjadi
tenang.
Saat aku bermohon agar diampuni, walau hanya
sejengkal saja, atas dosa-dosaku yang sudah menggunung, malah Allah-ku
mengampuni dosaku itu sehasta, sehingga dadaku menjadi lapang.
Lalu kulihat OTAK-KU, ndak ada
apa-apa juga disana, tidak ada sekat-sekat persepsi ini dan itu, tidak ada
pengkotak-kotakan disitu.
Tapi otakku seperti diliputi oleh daya yang
membawaku dari satu pengetahuan kepengetahuan lainnya.
Saat aku minta sejengkal ilmu, malah Allah-ku
memberiku ilmu-Nya berhasta-hasta, sehingga akupun tinggal menuangkannya
kedalam berbagai bentuk, sehingga semua ilmu itu seperti mengalir memasuki
otakku tanpa melelahkan.
Saat otak-ku mandeg dan aku
kesulitan menyelesaikan masalahku yang hanya sejengkal saja, malah Allah-ku
menyelesaikan masalahku dengan sehasta, sehingga hasilnya lebih dari yang
kuperkirakan.
Sungguh Allah-ku lebih cepat, lebih care,
dan lebih perhatian kepada-ku melebihi
dari apa-apa yang ku-inginkan.
Dan… anehnya, malam ini:
“…akupun seperti ditarik kembali selangkah demi
selangkah untuk menjadi saksi atas kebenaran ayat demi ayat al qur’an...”
“... akupun seperti dibawa kembali sepenggal demi
sepenggal untuk menjadi saksi atas kebijaksanaan Rasulullah dalam As Sunnah…”.
Lalu akupun ditasbihkan, “Subhanallah…”.
Lalu akupun disalawatkan, “Allahumma
shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad….”
SALING MERANGKAI VALUE…
Nah…, kombinasi file-file pengetahuan dan ekspresi
emosional (baik yang didapatkan dari olah fikiran maupun dari
olah spiritual) inilah yang akan menentukan PATTERN
(pola) seseorang dalam mengarungi kehidupan ini dari hari ke hari. Sehingga
dengan sangat mudahnya setiap orang akan mampu melihat perbedaan VALUE (nilai)
orang lain hanya dari mengamati pattern pengetahuan dan emosi dasar yang diperlihatkan seseorang
tersebut dalam setiap tindakannya.
Lalu pattern dan
value yang melekat pada diri seseorang itu kemudian akan
membentuk ICON (simbol) yang khas bagi sebuah kombinasi pengetahuan dan emosi
tertentu. Misalnya, ABU SANGKAN adalah ICON
bagi sebuah komunitas yang di dalamnya adalah orang-orang yang gemar
menjalankan sebuah trilogi laku,
yaitu suka untuk shalat khusyuk,
sekaligus tajam di filsafat (keilmuan), dan berdzikir (di setiap saat)
yang kemudian dikenal dengan komunitas PATRAP.
Kalau kita perhatikan sejarah perkembangan manusia, maka trilogi
diatas sangatlah susah untuk disatukan dalam sebuah LAKU. Orang yang tajam di FILSAFAT biasanya tidak
mau lagi berdzikir dan jarang pula shalat. Karena semuanya sudah mereka kupas
dengan sangat mendalam sehingga mereka menganggap sudah tidak ada apa-apanya
lagi yang perlu disembah dan
diingat. Mereka sampai kepada pemahaman bahwa ternyata semua yang
ada ini terjadi begitu saja secara kebetulan dan hanya “in the matter of mind” manusia saja. Tak lebih.
Dilain pihak orang yang asyik
BERDZIKIR tingkat tinggi biasanya tidak mau berfilsafat (berilmu
pengetahuan) serta jarang pula shalat (kalau tidak mau dikatakan tidak pernah).
Karena dengan berdzikir mereka menjadi asyik dengan dzikir itu sendiri sehingga
banyak yang tidak berminat lagi untuk mengembangkan filsafat ilmu pengetahuan.
Begitu juga sang pendzikir tersebut sudah merasa cukup puas dengan hanya
berdzikir saja. Toh tujuan shalat itu hanyalah untuk bisa dzikir kepada Tuhan.
Kalau sudah dzikir kepada Tuhan, maka mereka menganggap sudah tidak perlu lagi
untuk mendirikan shalat. Ada yang sampai begini, banyak malah.
Begitu juga…, orang yang shalat
jarang yang berdzikir dan tidak suka pula kepada filsafat. Karena orang yang
shalat hanya untuk pemenuhan kewajiban dan dilaksanakan pada tataran
gerakan-gerakan fisik saja akan sangat kesulitan untuk berdzikir kecuali hanya
sebatas berwirid tertentu saja. Sebab berdzikir itu ternyata sangat jauh
berbeda dengan berwirid. Ketakutan orang yang shalat terhadap filsafat dipicu
juga oleh banyaknya orang-orang filsafat yang tidak shalat lagi. Di media masa
dapat dilihat bahwa di beberapa perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu agama
Islam, sungguh banyak muncul generasi yang sudah tidak melakukan shalat lagi,
sehingga orang yang shalat tidak mau lagi untuk mempelajari filsafat. “TAKUT
TERSESAT”, kata mereka.
Kalau trilogi shalat, dzikir, dan filsafat (fikir) ini mau di
gambarkan, maka akan membentuk sebuah segitiga PATRAP sebagai berikut:
![]() |
Yang tak lain hanyalah sebuah usaha tanpa henti (konsisten) saja
dalam pembentukan karakter
(character building) manusia yang mendekati
karakter ULUL ALBAB. Ya… sekedar
usaha mendekati saja sebenarnya, tak lebih….!!. Dan usaha ini bukanlah dengan
membentuk aliran baru pula sehingga menambah banyaknya aliran-aliran dalam
agama Islam yang sudah sangat banyak ini. Tidak…!.
PENUTUP…
Sebagai kata penutup, saya hanya ingin menyampaikan pesan
sederhana saja:
Temukanlah tuntunan
ilahi dalam setiap keasyikan kita, dalam rasa nikmat kita, dan dalam
rasa bahagia kita, maka tiada lain yang mampu kita lakukan kecuali hanya
mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas
semua peristiwa emosional yang muncul itu.
Janganlah malu-malu untuk berbicara dengan Al Qur’an. Setiap
membaca satu ayat, maka mintalah TUNTUNAN dari Allah agar kita diberikan
pemahaman (ngeh) atas ayat tersebut.
Karena setiap ayat itu memang ada muatannya. Janganlah sampai kita termasuk
kedalam orang-orang yang dikeluhkan oleh Rasulullah kepada Allah:
“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku
menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan” (Al Furqaan 30)
Padahal Rasulullah digetarkan
dengan hebat saat menerima ayat demi ayat Al Qur’an itu. Padahal Umar ibnu
Khattab digetarkan
dengan hebat tatkala mendengarkan sepenggal ayat Al Qur’an yang dibacakan oleh
adik perempuan Beliau yang lalu membawa Beliau untuk memasuki keindahan Islam.
Mungkinkah kita yang tidak tergetar sedikit pun tatkala mendengarkan ayat-ayat
Al Qur’an ini lebih baik dari Rasulullah dan Umar ibnu Khattab…?. Astagfirullah al adhiem, ternyata kita
selama ini ternyata membawa-bawa BATU di dalam DADA kami, sehingga dada kita
ini lalu menjadi MATI.
Dan minta jugalah TUNTUNAN dari Allah saat membaca satu Al Hadits
ke Al Hadits yang lain agar Allah menurunkan kepahaman kepada kita akan muatan
Sunatullah di dalamnya. Karena ternyata memang Rasulullah adalah pribadi yang
patut untuk jadi teladan kita semua.
Dan kalau kita umat
manusia ini sudah bergantung kepada tuntunan Tuhan seperti yang telah
diteladankan oleh Rasulullah, maka sebenarnya selangkah lagi untuk mewujudkan
“kesatuan HATI ummat” yang merupakan bentuk kekayaan yang sangat mahal
nilainya, seperti yang di firmankan oleh Allah:
“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman).
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Anfaal 63)
Dan tampaknya kesatuan hati umat inilah yang sudah nyaris hilang
pada masing-masing diri kita ini…!!.
Ah…, terserah kita saja sebenarnya….!!!
Wassalam
Deka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar