Rabu, 30 Maret 2016

Antara Asyik, Nikmat, dan Bahagia


Tak disangka  pertanyaan dari Pak Reza yang sangat sederhana telah membawa perserta milis Dzikrullah ini ke dalam sebuah diskusi tertulis yang sangat hangat. Pertanyaan Beliau simpel sekali: “berarti manusia paling cerdas itu yang seperti di barat sana dong ya, karena mereka bisa dengan (mungkin) nikmatnya berzina tanpa perlu dihajar di "neraka" karena file otak mereka tidak pernah mengatakan berzina itu tidak boleh, "wong suka sama suka ya monggo aja" begitu kilahnya”. Dan jawaban saya dengan judul “Asyiknya Tak Kenal Agama” juga telah bergulir ternyata telah mendorong pula orang-orang seperti Bu Julia, Pak Adam, Pak Muh. Fam, Ibu Lenita, Pak Ibnu Achmad, Pak Bagus Tjondro, Ibu Aquila Mayang, Pak Kusman, Pak Ruswaldi, Pak Arwansyah, Pak Hary Priyanto, Pak Alim Nawara, Pak Muhammad Ratif, dan mungkin masih banyak lagi yang tidak dipostingkan oleh Moderator, untuk mengeluarkan pandangan-pandangan beliau-beliau pula. Ramai memang. Tapi kita nggak usah terlalu khawatir, karena memang itulah realitas kita manusia ini. Kita berbeda, lalu ramai, lalu cool dan calm, lalu berbeda lagi, lalu ramai lagi. Begitulah tak henti-hentinya. Ini semakin meyakinkan saya tentang AKAL SANG HAKIM yang ternyata telah “mendekati” kebenaran (silahkan simak pula artikel tentang “Kebenaran” yang sedang menunggu giliran tayang).

Jangankan kalimat negatif seperti “Asyiknya Tak Kenal Agama”, kalimat yang bagus saja, misalnya, “Jaksa Agung seperti ustadz dikampung maling” telah menyebabkan orang-orang yang mengakunya terhormat di DPR sana terlibat dalam sebuah  “keasyikan bertengkar” antara satu sama lainnya. Ada apa ini penyebabnya. Mari kita bahas barang tiga-empat jenak.

Kalau kita melihat seseorang melakukan “sebuah perbuatan yang sama” dengan berulang-ulang, maka seringkali kita mengistilahkan bahwa orang tersebut sedang asyik dengan sesuatu itu. Ada yang sedang asyik dengan pacar atau orang yang dicintainya, maka namanya orang itu sedang berasyik-masyuk. Ada yang sedang asyik berolah raga seperti tenis, golf, sepak bola, lari, senam, meditasi, taichi, silat, dsb. Ada yang sedang asyik berkreasi seperti menulis, melukis, memfoto, merencana, dsb. Ada yang sedang asyik berlaku fujur seperti mencuri, berzina, ngegelex, ngeinex, berjudi, benci, bertengkar dan marahan, tidak khusyuk, dsb. Ada yang  sedang asyik berperilaku taqwa seperti tidak marah, tidak benci, menebar damai, asyik ke masjid, asyik mengaji, asyik berdzikir, dsb. Semuanya itu bisa dilakukan oleh seseorang secara terpisah satu persatu ataupun secara bersamaan dengan berulang-ulang selama waktu tertentu. Kalau tidak berulang, maka perbuatan itu dinamakan orang hanya sebatas perbuatan “kebetulan” saja.


Ha ha ha…, Otak ini…!!!.

Menurut penelitian para ahli neurologi otak, pengalaman dan pengetahuan yang dialami dan didapat oleh seseorang, betapa pun kecil dan redupnya, ternyata akan membentuk anyaman neuron di dalam otak kita. JEJAK (foot print) dari pengalaman dan pengetahuan itu masuk ke dalam otak melalui berbagai alat indra kita berupa gelombang-gelombang dengan berbagai frekuensi yang kemudian dikirimkan kebagian-bagian tertentu di dalam otak berupa energi kimia dan energi listrik. Gempuran berbagai frekuensi gelombang yang datang ke otak itu kalau mau divisualkan tak obahnya seperti permukaan air danau yang tenang di tengah hujan lebat. Antara gelombang yang satu dengan yang lainnya saling tindih menindih membentuk pulau-pulau gelombang yang sangat khas. Ramai sekali.

Di dalam otak, berbagai frekuensi yang masuk lewat alat indera tadi dengan cara yang sangat menakjubkan kemudian dikirim ke bagian-bagian otak lewat jutaan neuron sesuai dengan penggunaannya masing-masing. Ada yang masuk ke pusat bahasa, maka dengan rangsangan di tempat ini kita lalu bisa merangkai beragam kata dan kalimat. Ada yang masuk ke dalam pusat penglihatan dan pendengaran, maka kita lalu bisa melihat dan mendengar. Sehingga kita lalu bisa  BERPERSEPSI terhadap apa-apa pengetahuan yang kita dapatkan lewat pusat pengindraan kita itu tadi. Misalnya, persepsi seorang ANAK TK akan sangat jauh berbeda dan sangat ketinggalan dibandingkan dengan persepsi seorang PROFESOR. Ya ndak masalah sebenarnya…, kalau antara orang ke orang ada perbedaan persepsi terhadap sebuah objek terindera yang sama. Wong semua itu hanyalah masalah perbedaan asupan ke otak kita saja dari waktu ke waktu kok.

Nah…, asupan pengetahuan ke dalam otak kita itu lalu merangsang bagian-bagian otak tersebut untuk aktif yang ditandai dengan meningkatnya fungsi otak tersebut. Aktifnya bagian otak tertentu ini dapat di lihat dengan bantuan sebuah alat pencacat gelombang otak atau melalui teknik scanning tertentu. Semakin sering bagian otak tertentu diaktifkan atau teraktifkan dengan rangsangan dari luar, maka semakin cerah bagian tersebut berpendar yang kemudian akan membentuk KAPALAN MEMORI yang terbentuk dari anyaman NEURON di area tersebut. Kapalan memori di dalam otak ini akan semakin kental dan kuat tatkala kita dengan sengaja menanamkan suatu keinginan secara berulang-ulang melalui teknik-teknik AFIRMASI tertentu. Wirid, niat, dan dzikir adalah sedikit dari sekian banyak teknik afirmasi dalam bingkai agama Islam. 

Makanya…, pemahaman pada tingkat INDRAWI ini tidaklah terlalu dapat disalahkan kalau orang juga berbeda persepsi satu sama lainnya tentang agama-agama yang ada. Karena semua perbedaan itu penyebabnya tak lebih dari pengaruh kapalan-kapalan memori yang ada di dalam otak kita dalam merespon suatu permasalahan. Bahkan dalam agama yang sama saja, untuk sebuah istilah agama, misalnya untuk ayat atau hadist tertentu, sangat lumrah sekali kalau terjadi beda PERSEPSI antar para penganutnya. Makanya kemudian lahirlah berbagai pemahaman istilah dan praktek agama yang lalu mengkristal menjadi bermacam corak FIKIH dan ALIRAN (MAHDZAB). Islam sangat kaya dengan segala macam corak fikih dan aliran ini yang sebenarnya wajar-wajar saja. Akan tetapi perbedaan itu menjadi tidak wajar tatkala corak fikih dan aliran yang satu menyalahkan dan menghancurkan corak fikih dan aliran yang lainnya dengan paksa. Ya…, beginilah kita umat islam ini sekarang jadinya.

Catatan: Dalam artikel “Akal Sang Hakim” telah saya uraikan bagaimana Akal, atau Aku, atau Mun-Ruhi, atau Bashirah mengakses kapalan memori di dalam otak ini sampai terwujudnya sebuah tindakan oleh Sang Diri (Nafs).

Pada tataran universal, pengetahuan-pengetahuan yang dimasukkan ke dalam otak kita hampir dapat dipastikan akan mengkotak-kotakkan kita manusia ini menjadi berbagai ahli sesuai dengan file-file pengetahuan yang masuk tersebut. Orang yang di otaknya banyak pengetahuan tentang kedokteran, maka dia disebut sebagai seorang dokter yang boleh jadi dia akan sangat terbelakang atau tidak terlalu tahu dengan pengetahuan tentang fisika nuklir. Sang dokter lalu hari-harinya akan didominasi oleh pengetahuan kedokterannya itu. Dia akan asyik dengan pasiennya. Dia akan asyik mencari tahu tentang penyakit-penyakit. Dia akan asyik berjam-jam diruang prakteknya bahkan sampai tengah malam sekali pun seperti asyiknya seorang peneliti di laboratorium, atau seorang pedagang di pasar.

Begitu dia asyik dengan pekerjaannya itu, maka berbagai hormon akan disekresikan ke dalam pusat-pusat pengontrol setiap gerakan dan ekspresi tubuh yang ada di dalam otak, sehingga otak lalu menghantarkan ALIRAN RASA EKSTASIS yang masuk dengan deras ke dalam dada maupun ke seluruh tubuh kita. Aliran rasa ekstasis ini pun lalu akan mempengaruhi mimik atau ekspresi wajah seseorang. Makanya dimana pun dan bangsa apapun manusia ini, maka tanpa kata-kata sekali pun, setiap orang akan tahu bahwa seseorang tengah berada dalam suasana SEDANG menerima aliran rasa bahagia, sedih, jijik, takut, marah, terkejut, yang merupakan enam EMOSI dasar yang dimiliki oleh seorang manusia. Orang yang terlalu mudah dipengaruhi oleh berbagai rasa atau emosi tadi itu lalu disebut sebagai orang yang EMOSIONAL.

Pergerakan pengalaman dari emosi ke emosi inilah yang memberikan dorongan kepada setiap orang untuk melakukan sesuatu, karena pada emosi itu ada DAYA yang akan mempengaruhi otak untuk mengirimkan perintah kepada bagian-bagian yang mengontrol gerakan otot-otot sesuai dengan fungsinya masing-masing. Setiap perintah itu akan menimbulkan rasa NIKMAT yang akan membuat seseorang KETAGIHAN untuk melakukan sebuah perbuatan tertentu. Rasa nikmat yang dirasakan oleh seorang pezina akan sama saja dengan rasa nikmat yang dirasakan oleh pasangan suami istri. Rasa nikmat yang dihasilkan oleh seorang pencuri saat dia mendapatkan hasil curiannya akan sama saja dengan rasa nikmat tatkala orang lain mendapatkan gaji di akhir bulan. Rasa nikmat yang dirasakan oleh seorang kaya yang mendapatkan mobil Mercedes untuk pertama kalinya akan sama saja dengan seorang miskin yang mendapatkan uang walau hanya sejuta rupiah saja. Karena rasa nikmat itu memang adalah anugerah Tuhan bagi semua manusia, tak terkecuali.  

Rasa nikmat yang dirasakan oleh seorang yang ngefans kepada seorang selebriti akan sama saja dengan rasa nikmat yang dirasakan oleh seseorang lainnya yang ngefans kepada seorang ustad atau kiai kondang yang terkenal. Hanya dengan sekedar bersalaman dengan sang selebriti atau ustadz tersebut, maka mereka dapat merasakan aliran nikmat di seluruh tubuhnya. Dan akibatnya dia akan mengulangi lagi menemui tokoh yang mereka senangi itu. Jarak, waktu dan biaya sudah tidak menjadi halangan lagi bagi mereka untuk sekedar merasakan rasa nikmat tersebut. Bahkan tidak jarang masalah hukum dan moral pun sampai-sampai diterjang habis mereka demi untuk pemuasan rasa nikmat (ekstasis) tersebut.

Begitu juga, nikmat yang dirasakan seorang pencuri adalah tatkala dia berhasil mencuri dengan sukses TANPA dipergoki oleh orang lain. Nikmat seorang pezina konon kabarnya adalah tatkala dia sukses berzina tanpa diketahui oleh pasangannya atau orang lain. Padahal kalau hanya sekedar nikmat biologisnya saja yang dicari, maka rasanya mungkin sama saja dengan melakukannya tanpa perzinaan.

Tapi inilah anehnya karakater jaringan lunak yang disebut dengan otak ini. Sekali dua kali sang otak mendapatkan informasi dan rangsangan yang sama boleh jadi otak tersebut masih akan mengirimkan rasa nikmat ke bagian-bagian tubuh tertentu, akan tetapi kali berikutnya informasi dan rangsangan yang intensitasnya SAMA itu mulai tidak direspons lagi oleh sang otak. Informasi, kegiatan, rangsangan yang masuk berulang-ulang tersebut lama-lama sudah tidak mampu lagi memberikan efek ekstasis bagi si otak. Otak tidak bereaksi lagi dengan hebat, yang dalam bahasa umumnya dikenal sebagai RASA BOSAN (BORING).   Ya…, sang otak sudah bosan dengan hal-hal yang sudah tidak mampu lagi memendarkan neuron yang berada di dalam otak tersebut lebih hebat dari yang sebelumnya.

Makanya rasa bosan seseorang dengan pasangannya kalau dilihat dari kaca mata biologi neurologi otak tidaklah dapat terlalu disalahkan. Ini sama saja halnya dengan bosannya kita dalam mendengarkan pengajian atau khotbah juma’at, kuliah, musik, yang  materi atau muatannya itu ke itu saja dari waktu ke waktu. Seorang pendaki gunung, apalagi yang ekstrim, juga akan kehilangan gairahnya tatkala dia harus mengulang mendaki gunung yang sama beberapa waktu kemudian.

Makanya jalan keluar dari kebosanan otak ini kadangkala sungguh mengerikan. Seorang pencuri atau koruptor, baru akan bisa kembali merasakan ekstasisnya tatkala dia berhasil mencuri atau korupsi dengan kualitas dan kuantitas yang lebih besar dari yang sebelumnya. Hutan dicuri, tanah dicuri, minyak dicuri, bank dipreteli, rakyat dirampok, dan anehnya semua itu bisa dilakukan orang dengan bekal aturan-aturan yang sangat logis.

Seorang pezina mungkin baru bisa merasa ekstasis kembali tatkala dia berhasil melakukan perzinaan-perzinaan berikutnya mungkin malah dengan wanita atau pria yang berbeda. Tingkah laku begini kan sebenarnya tak lebih dari perilaku seekor ayam saja. Karena yang dicari pezina tersebut tak lain hanyalah kenikmatan otak yang sangat sesaat saja.

Seorang petualang EKSTRIM baru akan merasa ekstasis kembali tatkala dia berhasil mengatasi terjalnya puncak gunung, derasnya jeram, dan tantangan alam lainnya yang lebih dahsyat dari yang sebelumnya. Uang jutaan rupiah pun sudah tidak berarti lagi baginya hanya demi pemenuhan rasa ekstasis otaknya yang semakin meningkat persyaratannya.

Akan tetapi kenapa seorang ibu bisa TIDAK PERNAH BOSAN dengan anaknya sendiri…??.

Rasa-rasanya belum pernah ditemukan seorang ibu yang normal bisa bosan dengan anaknya, walau anaknya tersebut bandelnya bukan main. Ini nanti bisa pula menjadi sebuah topik yang menarik untuk dibahas. Karena suasana tidak bosan seperti kepada anak ini ternyata juga bisa diarahkan kepada pasangan (istri atau suami) kita.

Nah…, dalam istilah agamanya, orang-orang yang mengikuti pengaruh dorongan pemenuhan kebutuhan ekstasisnya otak ini disebut sebagai orang yang terbelenggu atau terjebak dengan dorongan nafsunya (hawa un nafs). Suasana ini pulalah yang dirasakan oleh Nabi Yusuf tatkala mengeluhkan dorongan nafs beliau kepada Tuhan “wama ubarriu nafsii innannafsa laammaratum bissu’…”. Sebuah suasana jiwa yang ternyata sangat menyiksa Yusuf yang notabene adalah seorang Nabi.

Lho…, kenapa ekstasis otak malah bisa menyiksa diri…???. Tidakkah ekstasis otak ini akan membawa rasa nikmat sehingga orang cenderung untuk mengulang-ulang perilaku FISIK tertentu…??.


RASA TERSIKSA…

Rasa tersiksa adalah sebuah keadaan yang muncul akibat adanya KONFLIK di dalam otak kita tentang sesuatu KEJADIAN atau PERBUATAN yang kita lakukan. Boleh jadi sebuah perbuatan atau kejadian bisa kita lakukan secara berulang-ulang karena ada rasa ekstasis (nikmat) yang dilepaskan oleh otak ke instrumen tubuh tertentu, akan tetapi di bagian otak lainnya, boleh jadi pula ada file pengetahuan yang menentang perbuatan tersebut untuk dilakukan. Dengan kata lain, di satu sisi perbuatan itu mengasyikkan, akan tetapi disisi lain file pengetahuan kita menolaknya. Dengan dua paradoks ini, otak kemudian memancarkan gelombang yang saling bertentangan, kacau. Paradoks demi paradoks yang muncul di otak akan menyebabkan BADAI GELOMBANG OTAK pada seseorang yang akibatnya akan disebarkan ke seluruh tubuh  menuju bagian-bagian yang mampu merespon gelombang otak tertentu. Karena gelombang itu kacau, maka rasa yang disalurkan ke anggota perasa juga menjadi kacau. Kacaunya rasa ini kemudian dinamakan orang dengan TERSIKSA.

Seorang pencuri atau koruptor, walaupun mencuri dan korupsi itu mungkin mengasyikkan dan memberikan rasa nikmat kepada si pelakunya, apalagi kalau si pelakunya  berhasil mengelabui masyarakat dan perangkat hukum, akan tetapi dia akan tetap merasa tersiksa tatkala otaknya berisi file bahwa mencuri atau korupsi itu adalah salah, melawan hukum, hukuman mati, dosa, dan sebagainya. Seorang pezina, kendati perzinaan itu mengasyikkan dan memberikan rasa nikmat kepada para pelakunya, akan tetapi dia akan tetap merasa tersiksa ketika perbuatannya itu bertabrakan dengan file di otaknya yang menyatakan bahwa zina itu adalah haram, melawan hukum agama, di rajam, berdosa, dan sebagainya.

Kalaupun ada orang yang mampu untuk korupsi, mencuri, ataupun berzina TANPA merasa tersiksa lagi, maka boleh jadi di otak orang tersebut sudah tidak ada lagi file-file tentang hukum dan moralitas yang nantinya akan membedakan martabat manusia dengan derajat binatang. Karena yang membedakan manusia dengan binatang hanyalah dalam hal hukum dan moralitas saja, disamping juga kemampuan berlogika, yang pada binatang derajatnya sangat-sangat rendah dan primitif, walau tetap ada. Di Afrika sana, seekor hyena tidak akan punya rasa bersalah sedikitpun tatkala dia mencuri makanan yang dengan susah payah dilumpuhkan oleh seekor cheetah. Seekor ayam jantan tidak merasa malu sedikit pun tatkala dia harus kawin dengan seekor ayam betina yang baru saja dikawini oleh ayam jantan lainnya.

Hanya itu saja kok tentang asyik, nikmat dan siksa itu …!. Nggak usah repot-repot dah.


LALU BAGAIMANA DENGAN RASA BAHAGIA…?

Bahagia itu juga sederhana saja kok. Tatkala perbuatan dan kejadian atas tindakan yang kita lakukan mampu membuat kita asyik, ditambah lagi dengan munculnya rasa nikmat, dibarengi pula perbuatan tersebut bersesuaian dengan file-file yang ada di dalam otak kita, lalu dibingkai pula dengan hukum, moralitas dan logika manusia yang kemudian diringkas menjadi FITRAH MANUSIA (bukan fitrah binatang), dan ditambah pula dengan sangat mudahnya muncul rasa bahagia pada diri kita. Dan rasa bahagia itu dengan sangat jelas terpancar dalam EKSPRESI WAJAH yang sumringah yang bisa dikenal dan ditangkap nuansanya oleh setiap manusia dari suku, bangsa, dan agama apapun dia. Beginilah kira-kira kalau kita mau mendefinisikan rasa bahagia. Susah ya kalau dibahasakan …??. Jadi kalau mau diringkas lagi, maka rasa bahagia itu tak lain hanyalah satu dari sekian banyak ekspresi emosional yang bisa muncul pada diri seseorang, misalnya sedih, jijik, takut, marah, dan terkejut.

Akan tetapi tatkala rasa bahagia itu muncul, rona dan ekspresi wajah bahagia itu akan terpancar dengan jelas di wajah seseorang. Mulai hanya dari sesungging senyuman manis di bibir sampai dengan tertawa terbahak-bahak adalah bahasa universal manusia sebagai pertanda bahwa seseorang itu tengah dialiri oleh rasa bahagia. Dan puncak dari rasa bahagia itu tak jarang pula memunculkan butiran-butiran air bening di sudut mata seseorang yang dinamakan orang dengan tangis. Ya…, tangis bahagia.

Pengaruh dari rasa bahagia ini adalah munculnya rasa rileks di seluruh tubuh. Otot-otot seperti tidak berdaya. Akan tetapi kalau diamati agak sejenak lebih dalam, otot-otot tersebut malah seperti penuh daya. Langkah kaki menjadi ringan. Pekerjaan yang seberat dan selama apapun akan dapat kita laksanakan dengan daya juang yang mengagumkan. RINGAN SEKALI seperti tanpa beban sedikit pun. Disamping itu, rasa bahagia itu pun sepertinya ingin kita tumpahkan kepada lain. Paling tidak kita ingin berbagi rasa bahagia itu dengan orang-orang yang terdekat dengan kita. Dan mengalirnya rasa bahagia kepada orang lain saat kita merasakan bahagia inilah yang disebut dengan: “kita menjadi rahmat bagi orang lain”. Bentuknya bisa beragam, mulai dari rahmat lahir seperti bantuan harta benda, sampai dengan rahmat batin seperti munculnya rasa empati, simpati, cinta, to say the least. Bahkan hanya sebentuk sorot mata bahagia saja mampu mengalirkan rasa bahagia itu dengan deras kepada orang lain dengan dahsyat. Dan sorot mata serta senyuman yang paling menggetarkan rasa bahagia setiap orang adalah milik seorang ibu kepada anaknya dan milik seorang bayi kepada semua orang yang memandangnya.

Rasulullah Muhammad SAW malah disebutkan sebagai PRIBADI yang mampu mengalirkan rahmat bagi seluruh umat manusia melintasi zaman demi zaman. Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad (ya Allah sampaikan salam sejahtera saya kepada Muhammad Rasulullah dan keluarga Beliau).

Dengan membedah rasa bahagia seperti diatas, maka sebenarnya tidak terlalu sulit lagi bagi kita untuk mengupas rasa-rasa yang lainnya. Rasa sedih, misalnya, tetap saja merupakan sebuah rentetan dari sebuah peristiwa, lalu muncul rasa nikmat, sesuai pula dengan file di dalam otak, serta mengikuti hukum moralitas dan logika manusia yang kemudian terpancar menjadi sebuah ekspresi emosional. Ciri-ciri, bentuk dan rona wajah, serta sorot mata seseorang dalam suasana rasa sedih ini akan sangat mudah kita bedakan dengan ciri-ciri seseorang yang sedang dalam liputan suasana rasa bahagia. Walau puncak rasa sedih ini juga bisa memunculkan tangisan, tangis sedih, akan tetapi dengan sangat mudah kita akan bisa membedakan mana yang tangis sedih dan mana yang tangis bahagia.

Pengaruh rasa sedih ini sangatlah mudah dibedakan dengan rasa bahagia. Seseorang yang pusat rasa sedihnya di dalam otak terangsang oleh sebuah kejadian atau perbuatan, juga akan mengirimkan sinyal listrik dan kimia ke bagian-bagian tubuh tertentu sehingga orang tersebut akan merasakan enak, nikmat. Sikap tubuh rileks juga akan muncul. Akan tetapi rasa sedih ini kurang mempunyai DAYA untuk mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan. Yang muncul malah rasa tidak berdaya sama sekali, rasa tidak mau melakukan apa-apa. Makanya orang yang dilanda oleh rasa sedih ini maunya menyendiri dan mengurung diri, bahkan ada yang sampai menyendiri ke gunung-gunung. Anehnya, rasa sedih ini juga bisa dialirkan kepada orang lain di sekitar kita, sehingga tidak jarang kita melihat ada orang yang saling bertangis-tangisan karena terimbas kesedihan orang lain.

Begitu juga dengan rasa jijik, takut, marah, dan terkejut, semua itu punya rasa nikmat sendiri-sendiri akibat tersentuhnya pusat masing-masing emosi tersebut di dalam otak kita oleh sebuah peristiwa atau perbuatan. Dan ekspresi wajah serta bentuk aksi tubuh kitapun dengan sangat mudah dapat dibedakan oleh siapa pun untuk masing-masing emosi yang muncul tersebut di atas. Dan ternyata daya-daya yang muncul untuk setiap emosi itu jauh lebih besar dari daya yang muncul dalam kondisi normal. Makanya kemudian muncul cabang ilmu pengetahuan baru yang mampu memanajemeni emosional tersebut, mulai dari cara-cara menimbulkan emosi itu sampai dengan pemanfaatannya untuk keperluan tertentu, yang kemudian terkenal dengan istilah “emotional qoutient”, manajemen hati, manajemen qalbu, manajemen ikhlas, manajemen qur’ani, dan sebagainya. Hanya sebuah suasana emosional jiwa yang sama tapi dengan selusin nama dan istilah yang berbeda saja sebenarnya.


EMOTIONAL QUOTIENT…

Beberapa dekade belakangan ini, pengetahuan tentang emosi ini telah berkembang dengan sangat pesat. Dengan mengamati perilaku dan ekspresi orang-orang yang berbeda dan suasana rasa yang berbeda pula, maka kemudian lahirlah ilmu untuk mengatur dan mempengaruhi emosi orang per orang yang terkenal dengan istilah Emotional Quotient. Ilmu untuk memfasilitasi emosi seseorang saja sebenarnya.

Para ilmuan baik itu neorologi maupun psikologi sudah dapat membongkar rahasia emosi dengan sangat menakjubkan. Masalah emosional sudah dapat dikupas mereka mulai dari penyebab awalnya, kemudian hormon-hormon apa yang disekresikan oleh otak, dan bagian-bagian mana dari otak yang bertanggung jawab, sampai dengan anggota-anggota tubuh yang mana yang terpengaruh oleh rangsangan emosional tersebut. Bahkan para ahli tersebut juga sudah tahu bagaimana cara mempengaruhi emosi seseorang agar bisa dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Karena ternyata pada taraf emosi tertentu orang akan mampu menghasilkan daya-daya yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan tertentu.

Orang dengan kecerdasan fikiran (IQ) yang hebat belum tentu bisa menghasilkan sesuatu karya yang hebat pula tanpa didorong oleh daya kecerdasan emosional (EQ) yang kuat. Emosi “marah” yang terkendali akan memberikan daya bagi seseorang untuk membangun, berkarya, berkreasi. Emosi “senang dan bahagia” akan meringankan langkah seseorang untuk melakukan sebuah kegiatan dengan rileks dan punya daya tahan yang lama. Emosi “takut dan jijik” akan mampu menghasilkan daya yang sanggup menahan seseorang dari mengerjakan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Emosi “sedih” akan menghasilkan daya yang mampu menghilangkan beban yang menghimpit dada seseorang, misalnya akibat ditinggalkan oleh sesuatu yang dicintainya. Emosi “terkejut” akan menghasilkan daya yang sanggup membuat orang menjadi aktif dan siap siaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Dan untuk semua emosi itu tadi ada hormon tertentu yang dikeluarkan atau disekresikan di otak ke dalam aliran darah kita. Hormon “DOPAMINE”, misalnya, akan sangat melimpah ruah dalam aliran darah seseorang yang sedang berada dalam suasana rasa senang dan bahagia. Orang yang sedang jatuh cinta, darahnya akan sangat kaya dengan hormon “OXYTOCIN”, si hormon cinta. Bagi teman-teman yang ahli tentang hormonal tubuh, silahkanlah menambah uraian ini biar jadi lebih lengkap.

Nah…, untuk memunculkan efek emosi di atas yang puncaknya boleh jadi bisa memunculkan tangisan pada seseorang, maka beragam pelatihan kemudian telah diciptakan orang dengan sangat mengagumkan. Dan kelihatannya, negara kita Indonesia ini sangatlah kaya dengan ragam pelatihan pembangkit emosi ini. Mulai dari yang hanya sekedar memainkan imajinasi dengan membayangkan suasana di pantai atau wilayah pegunungan yang damai, atau irama musik klasik yang turun naik mengaduk-aduk emosi, sampai dengan eksploitasi kesedihan dengan irama suara dalam do’a dan dzikir yang menghiba-hiba, atau lengkingan wirid kalimat-kalimat thayyibah yang beralun semakin cepat dan memunculkan suasana magis. Semakin intens seseorang membawa pikirannya kepada alunan irama suara dan dzikir ini, maka semakin mudah seseorang untuk menangis. Karena irama yang dilantunkan memang irama yang sedih.

Dan disinilah letak “tipuan pengertian” yang tidak mudah untuk diketahui orang, karena hanya dengan melihat bahwa tangis yang muncul adalah dengan membawa-bawa nama Tuhan, ayat-ayat Tuhan, do’a-do’a, kalimat-kalimat thayyibah, maka orang lalu dengan mudah menyebutnya sebagai peristiwa spiritual atau Spiritual Quotient.

Benarkah ini peristiwa spiritual…?. Mari kita lanjutkan pengamatan kita.

Andaikan semua pengucapan nama Tuhan, ayat-ayat Tuhan, do’a-do’a dan kalimat-kalimat thayyibah tadi di atas kita lantunkan dengan iringan irama dangdut atau rock’n roll, masih mungkinkah kita bisa mendapatkan tangisan seperti sebelumnya…?. Bagi yang tidak punya halangan pemikiran, marilah kita coba eksperimen ini barang 15 menit. Kapan perlu lakukanlah dengan berjamaah pula. Dan boleh percaya atau tidak bahwa tidak akan satu orang pun yang akan menangis dibuatnya. Malah sebaliknya kita akan dibawa kepada suasana riang gembira yang mungkin diikuti pula oleh hentakan kaki dan goyangan kepala seperti orang tripping. Karena sungguh sangat sulit sekali seseorang untuk diafirmasi agar bisa menangis tatkala seseorang tersebut dipengaruhi oleh suara atau irama yang bernada gembira.  Apalagi untuk membawa seseorang agar bisa menangis dalam suasana yang tidak sedih maupun tidak senang, alangkah sulitnya.

Hal ini barangkali bisa menjadi sebuah pertanda bagi kita bahwa suasana di atas tadi yang disangka orang sebagai peristiwa spiritual, ternyata masih berada dalam tatatan permainan emosional saja. Boleh dikatakan suasana itu belum pada tatanan spiritual sebenarnya. Oleh sebab itu, mungkin label “pseodo spiritualitas” lebih cocok dilekatkan pada peristiwa emosional yang ditempeli dengan istilah-istilah dan praktek agama tertentu, misalnya dzikir (wirid), do’a dan pengucapan ayat-ayat kitab suci. Walau pun begitu, pengaruh pseodo spiritualitas ini saja bagi banyak orang ternyata sudah cukup bagus. Dan banyak pula yang berhenti disini saja. Sungguh sayang sekali.

Disamping itu, sekarang sudah dipahami orang pula, bahwa peristiwa emosional ini juga bisa dirangsang dengan menambahkan hormon-hormon atau zat-zat additive tertentu ke dalam aliran darah seseorang. Zat yang paling populer dan dipakai luas dalam masyarakat untuk mempengaruhi otak agar bisa ekstasis adalah nikotine, alkohol, dan narkotika. Begitu terkenalnya ketiga zat additive ini, sehingga ada pihak tertentu yang mencoba untuk menanamkan “icon” kejantanan, keperkasaan, keberanian, bagi orang yang mau memakainya. Dan banyak pula yang terpedaya untuk memakainya. Padahal pemakaian ketiga zat additive ini untuk memunculkan peristiwa-peristiwa emosional bisa dikategorikan sebagai cara yang paling primitif. Karena sudahlah pengaruhnya tidak bisa bertahan lama, ditambah lagi dengan efek ketagihan dan peningkatan konsumsi dari waktu kewaktu yang tentu saja akan menguras kantong  para pemakainya. Duh kecian deh… !.


SPIRITUALIT QUOTIENT…

Nah…, kalau begitu dimana posisi spiritualitas itu …???

Secara cukup detail saya sudah mengulasnya dalam artikel “Mengupas Kulit Bawang Spiritualitas”. Akan tetapi secara singkat dapat saya ulas kembali sedikit bahwa spiritualitas itu adalah sebuah proses perjalanan RUH, BASHIRAH, AKU DIRI menuju ketidakterbatasan, melampaui file-file apapun yang ada di dalam otak “sang aku diri”. Walaupun menuju ke tidak terbatasan, akan tetapi kesadaran yang muncul malah tidak ada jauh dan tidak ada dekat lagi. Jauh dan dekat itu seperti mengalir dalam sebuah “DAYA” lembut tapi pekat yang MENARIK sang aku diri dengan halus, sehingga sang aku diri tidak mampu lagi untuk berpaling ke lain wajah kecuali HANYA kepada WAJAH YANG MAHA MELIPUTI. Daya itu menuntun sang aku diri untuk mengenal Wajah Sang Maha Meliputi Itu.

Lalu Sang Maha Meliputi Itu dengan sangat angkuh berkata:

Dari-Ku lah daya itu, Aku-lah Sang Sumber Daya itu. Tiada daya dan upaya apa pun yang dapat kau lakukan, kecuali hanya dengan menumpang daya-Ku.
Lalu terserah Aku saja apa yang akan Aku berikan kepadamu, wahai hamba-Ku. Adakalanya engkau Ku tangiskan, adakalanya kau Ku gembirakan, adakalanya kau Ku ilmukan, adakalanya kau Ku persaksikan, adakalanya kau Ku buat lupa lalu Aku pula yang akan mengingatkanmu kembali, wahai hamba-Ku.
Lalu…, lalu…, dan lalu…, Subhanallah, laa haula wala quwwata illa billah…!!!. Laa ilaha illla anta…!!!.

Lalu sang aku diri HANYA tinggal bergantung saja kepada daya-daya tuntunan yang dialirkan oleh Tuhan kepadanya. Sang aku diri berada dalam posisi tanpa daya dan tanpa upaya sedikit pun. Dan pengaruhnya ditatanan ketubuhan pun ternyata menimbulkan suasana lembut, rileks, fresh, dan tidak ngantuk, ditambah pula dengan pengaruh di tatanan emosional yang tidak ruwet, tidak ada kekhawatiran maupun ketakutan (laa khaufun ‘alaihim wala hum yahzanun), yang nyata-nyata sangat membantu kita dalam keseharian kita, baik itu dalam bekerja, maupun dalam berkarya.

Nah…, temukanlah daya tuntunan itu sampai dapat, bukan hanya sekedar bermain-main dengan emosi saja yang memang sanggup untuk mengantarkan seseorang ke wilayah atau suasana bertangis-tangisan. Bukan pula hanya sekedar permainan emosi saja yang seolah-olah mampu memunculnya rasa tenang dan rasa lepas dari deraan berbagai masalah bagi kita. Bukan…!. Karena menangis, rasa bahagia, dan rasa terbebas dari berbagai masalah yang hanya karena permainan emosi saja, walaupun telah ditempeli pula dengan berbagai label keagamaan, dampaknya tidaklah akan bertahan lama. Karena masalah permainan emosi ini hanyalah sekedar melakukan stimulasi suara, irama, dan nada dengan frekuensi tertentu terhadap bagian-bagian otak tertentu pula. Jadi boleh juga dikatakan sebagai peristiwa emosional yang digagas oleh olah fikiran.

Dan yang namanya otak, kalau distimulasi dengan cara yang sama berulang-ulang dan dengan intensitas yang tidak berbeda dengan yang sebelumnya, maka otak itu TIDAK akan merespon lagi. Yang muncul malah RASA BOSAN, yang kemudian disembunyikan orang dalam istilah agama dengan ungkapan suasana iman yang sedang turun. Padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah masalah bosannya otak saja, tidak lebih. Karena memang daya otak ini sangatlah terbatas.  

Sedangkan di sisi lain, ada pula suasana emosional yang dihasilkan oleh peristiwa tuntunan dari Wajah Yang Maha Meliputi. Wajah itu yang akan menuntun kita kepada peristiwa emosional yang cocok buat kita pada saat tertentu. Tuntunan itu menjadi tempat bergantung kita untuk mendapatkan suasana emosional tertentu. Kita seperti DIGERAKKAN dari satu peristiwa emosional ke peristiwa emosional lainnya. Peristiwa bergantungnya kita kepada DAYA TUNTUNAN Wajah Yang Maha Meliputi ini diistilahkan Al Qur’an dengan  “wa’tashimu billah, bergantung kepada Allah, dan wa’tashimu bihablillah, bergantung kepada TALI ALLAH”, yang kemudian dikecilkan orang menjadi TALI (AGAMA) ALLAH, entah tali agama yang mana.

Karena banyak yang bingung dengan TALI (AGAMA) ALLAH ini, maka kemudian bermunculanlah filsafat eksistensi manusia yang justru semakin menjauhkan manusia itu sendiri dari AKAR sejarah keberadaannya, yaitu Tuhan. Karena mereka melihat sumbangsih agama-agama yang ada untuk membangun peradaban manusia sekarang ini begitu kecilnya, kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Walaupun ada, tapi tipis sekali untuk zaman yang sedemikian kompleksnya seperti sekarang ini. Sehingga kemudian bermunculanlah pemikiran-pemikiran yang muaranya adalah untuk MENAFIKAN (MENIADAKAN) TUHAN yang dengan pasti jadinya malah semakin menguatkan PENG-ISTBAT-AN (menyatakan keberadaan) AKU DIRI MANUSIA.

Padahal masalahnya hanya sederhana saja, KETIADAAN DAYA TUNTUNAN ILAHI yang merupakan WUJUD REAL dari TALI ALLAH yang dimaksud oleh ayat di atas. Karena ketiadaan tunutunan Ilahi, maka yang muncul lalu adalah dorongan dari NAFS (hawa un nafs) yang ternyata sangat mudah untuk saling tumpang tindih dengan dorongan (ajakan) dari Iblis yang akibatnya adalah seperti kita-kita sekarang ini dan pelaku sejarah kelam masa lalu. Mengerikan sekali…!!.


Daya Tuntunan Ilahi…

Ada ungkapan yang sangat terkenal tentang daya tuntunan Ilahi ini dalam sebuah peristiwa spiritual, yaitu “Ra’aitu Rabbi bi Rabbi, Aku Melihat Allah dengan Allah…!!!. Ya…benar, Allah mengenalkan diri-Nya sendiri langkah demi langkah kepada kita. Karena yang tahu Allah adalah Allah sendiri. Betapa pun kita ingin mengenal Allah dengan fikiran kita sendiri atau kolektif, maka pastilah itu tidak akan bisa. Percaya deh…!.

Dan Allah memperkenalkan Diri-Nya dengan cara yang sangat UNIK. Saat kita mendekat kepada Allah sejengkal lalu Allah menyambutnya sehasta. Saat kita datang mendekat ke Allah dengan berjalan lalu Allah menyambutnya dengan berlari. Lebih cepat Dia menyambut dari usaha yang kita lakukan.

Saat kita datang sejengkal, Allah menyambutnya akan meresponnya dengan pernyataan:Ana Allah, Aku Allah…!”.
Saat kita datang kepada Allah dengan sejengkal, maka siap-siap, siap-siaplah menunggu sambutan dan respons dari Allah. Karena kita memang datang menghadap kepada Sang Maha Hidup.
Dan Allah lalu menyatakan diri-Nya dengan tegas: “Innani Ana Allah, sesungguhnya Aku Allah…!!, Laa ilaha illa ana, fa’budni, Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku, SUJUD…!!!, karena memang saat ini ada Aku”.

Maka dengan lembut aku pun lalu disujudkan Tuhan-ku.
Maka dengan bijaksana aku pun lalu dituntun Tuhan-ku dari keadaan ke keadaan lainnya, dari suasana ke  suasana lainnya.

Lalu ku lihat DADA-KU, ndak ada apa-apa disana, tidak rasa apa-apa,
Tapi dadaku itu seperti dibungkus oleh daya yang membawaku dari satu emosi ke emosi lainnya.

Saat aku minta rasa bahagia sejengkal, maka Allah-ku malah memberikan rasa bahagia itu sehasta, lebih dari bahagia yang aku inginkan, sehingga aku pun ditangiskan dalam bahagia itu.

Saat aku berjalan minta rasa tenang, sabar, dan khusyu’ maka Allah-ku berlari memberikan rasa tenang, sabar dan khusyu’ itu, lebih dari yang ku inginkan, sehingga aku pun kembali ditangiskan dalam tenang, sabar dan khusyu’ itu.

Saat aku minta bebanku dilepaskan sejengkal saja, malah Allah-ku melepaskan bebanku itu sehasta, sehingga dada-ku kembali menjadi tenang.
Saat aku bermohon agar diampuni, walau hanya sejengkal saja, atas dosa-dosaku yang sudah menggunung, malah Allah-ku mengampuni dosaku itu sehasta, sehingga dadaku menjadi lapang.

Lalu kulihat OTAK-KU, ndak ada apa-apa juga disana, tidak ada sekat-sekat persepsi ini dan itu, tidak ada pengkotak-kotakan disitu.
Tapi otakku seperti diliputi oleh daya yang membawaku dari satu pengetahuan kepengetahuan lainnya.

Saat aku minta sejengkal ilmu, malah Allah-ku memberiku ilmu-Nya berhasta-hasta, sehingga akupun tinggal menuangkannya kedalam berbagai bentuk, sehingga semua ilmu itu seperti mengalir memasuki otakku tanpa melelahkan.

Saat otak-ku mandeg dan aku kesulitan menyelesaikan masalahku yang hanya sejengkal saja, malah Allah-ku menyelesaikan masalahku dengan sehasta, sehingga hasilnya lebih dari yang kuperkirakan.

Sungguh Allah-ku lebih cepat, lebih care, dan  lebih perhatian kepada-ku melebihi dari apa-apa yang ku-inginkan.

Dan… anehnya, malam ini:
“…akupun seperti ditarik kembali selangkah demi selangkah untuk menjadi saksi atas kebenaran ayat demi ayat al qur’an...”
“... akupun seperti dibawa kembali sepenggal demi sepenggal untuk menjadi saksi atas kebijaksanaan Rasulullah dalam As Sunnah…”.

Lalu akupun ditasbihkan, “Subhanallah…”.
Lalu akupun disalawatkan, “Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad….”
 

SALING MERANGKAI VALUE…

Nah…, kombinasi file-file pengetahuan dan ekspresi emosional (baik yang didapatkan dari olah fikiran maupun dari olah spiritual) inilah yang akan menentukan PATTERN (pola) seseorang dalam mengarungi kehidupan ini dari hari ke hari. Sehingga dengan sangat mudahnya setiap orang akan mampu melihat perbedaan VALUE (nilai) orang lain hanya dari mengamati pattern pengetahuan dan emosi dasar yang diperlihatkan seseorang tersebut dalam setiap tindakannya.

Lalu pattern dan value yang melekat pada diri seseorang itu kemudian akan membentuk ICON (simbol) yang khas bagi sebuah kombinasi pengetahuan dan emosi tertentu. Misalnya, ABU SANGKAN adalah ICON bagi sebuah komunitas yang di dalamnya adalah orang-orang yang gemar menjalankan sebuah trilogi laku, yaitu suka untuk shalat khusyuk, sekaligus tajam di filsafat (keilmuan), dan berdzikir (di setiap saat) yang kemudian dikenal dengan komunitas PATRAP.

Kalau kita perhatikan sejarah perkembangan manusia, maka trilogi diatas sangatlah susah untuk disatukan dalam sebuah LAKU. Orang yang tajam di FILSAFAT biasanya tidak mau lagi berdzikir dan jarang pula shalat. Karena semuanya sudah mereka kupas dengan sangat mendalam sehingga mereka menganggap sudah tidak ada apa-apanya lagi yang perlu disembah dan diingat. Mereka sampai kepada pemahaman bahwa ternyata semua yang ada ini terjadi begitu saja secara kebetulan dan hanya “in the matter of mind” manusia saja. Tak lebih.

Dilain pihak orang yang asyik BERDZIKIR tingkat tinggi biasanya tidak mau berfilsafat (berilmu pengetahuan) serta jarang pula shalat (kalau tidak mau dikatakan tidak pernah). Karena dengan berdzikir mereka menjadi asyik dengan dzikir itu sendiri sehingga banyak yang tidak berminat lagi untuk mengembangkan filsafat ilmu pengetahuan. Begitu juga sang pendzikir tersebut sudah merasa cukup puas dengan hanya berdzikir saja. Toh tujuan shalat itu hanyalah untuk bisa dzikir kepada Tuhan. Kalau sudah dzikir kepada Tuhan, maka mereka menganggap sudah tidak perlu lagi untuk mendirikan shalat. Ada yang sampai begini, banyak malah.

Begitu juga…, orang yang shalat jarang yang berdzikir dan tidak suka pula kepada filsafat. Karena orang yang shalat hanya untuk pemenuhan kewajiban dan dilaksanakan pada tataran gerakan-gerakan fisik saja akan sangat kesulitan untuk berdzikir kecuali hanya sebatas berwirid tertentu saja. Sebab berdzikir itu ternyata sangat jauh berbeda dengan berwirid. Ketakutan orang yang shalat terhadap filsafat dipicu juga oleh banyaknya orang-orang filsafat yang tidak shalat lagi. Di media masa dapat dilihat bahwa di beberapa perguruan tinggi yang mengajarkan ilmu agama Islam, sungguh banyak muncul generasi yang sudah tidak melakukan shalat lagi, sehingga orang yang shalat tidak mau lagi untuk mempelajari filsafat. “TAKUT  TERSESAT”, kata mereka.

Kalau trilogi shalat, dzikir, dan filsafat (fikir) ini mau di gambarkan, maka akan membentuk sebuah segitiga PATRAP sebagai berikut:

 











Yang tak lain hanyalah sebuah usaha tanpa henti (konsisten) saja dalam pembentukan karakter (character building) manusia yang mendekati karakter ULUL ALBAB. Ya… sekedar usaha mendekati saja sebenarnya, tak lebih….!!. Dan usaha ini bukanlah dengan membentuk aliran baru pula sehingga menambah banyaknya aliran-aliran dalam agama Islam yang sudah sangat banyak ini. Tidak…!.


PENUTUP…

Sebagai kata penutup, saya hanya ingin menyampaikan pesan sederhana saja:

Temukanlah tuntunan ilahi dalam setiap keasyikan kita, dalam rasa nikmat kita, dan dalam rasa bahagia kita, maka tiada lain yang mampu kita lakukan kecuali hanya mengungkapkan  rasa syukur kepada Allah atas semua peristiwa emosional yang muncul itu.

Janganlah malu-malu untuk berbicara dengan Al Qur’an. Setiap membaca satu ayat, maka mintalah TUNTUNAN dari Allah agar kita diberikan pemahaman (ngeh) atas ayat tersebut. Karena setiap ayat itu memang ada muatannya. Janganlah sampai kita termasuk kedalam orang-orang yang dikeluhkan oleh Rasulullah kepada Allah:

“Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan” (Al Furqaan 30)

Padahal Rasulullah digetarkan dengan hebat saat menerima ayat demi ayat Al Qur’an itu. Padahal Umar ibnu Khattab digetarkan dengan hebat tatkala mendengarkan sepenggal ayat Al Qur’an yang dibacakan oleh adik perempuan Beliau yang lalu membawa Beliau untuk memasuki keindahan Islam. Mungkinkah kita yang tidak tergetar sedikit pun tatkala mendengarkan ayat-ayat Al Qur’an ini lebih baik dari Rasulullah dan Umar ibnu Khattab…?. Astagfirullah al adhiem, ternyata kita selama ini ternyata membawa-bawa BATU di dalam DADA kami, sehingga dada kita ini lalu menjadi MATI.

Dan minta jugalah TUNTUNAN dari Allah saat membaca satu Al Hadits ke Al Hadits yang lain agar Allah menurunkan kepahaman kepada kita akan muatan Sunatullah di dalamnya. Karena ternyata memang Rasulullah adalah pribadi yang patut untuk jadi teladan kita semua.

Dan kalau kita umat manusia ini sudah bergantung kepada tuntunan Tuhan seperti yang telah diteladankan oleh Rasulullah, maka sebenarnya selangkah lagi untuk mewujudkan “kesatuan HATI ummat” yang merupakan bentuk kekayaan yang sangat mahal nilainya, seperti yang di firmankan oleh Allah:

“dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al Anfaal 63)

Dan tampaknya kesatuan hati umat inilah yang sudah nyaris hilang pada masing-masing diri kita ini…!!.

Ah…, terserah kita saja sebenarnya….!!!

Wassalam
Deka


Tidak ada komentar:

Posting Komentar