Bohong
Sebenarnya,
seringkali kita bingung sendiri bahwa kita ini kok sangat mudah sekali
berbohong dalam kehidupan kita. Akan tetapi sayangnya kebingungan kita itu
masih pada taraf pertanyaan bingung-bingungan pula. Ya…, bingung bohongan juga
sebenarnya. Selama ini yang kita namakan kebohongan itu masih terbatas hanya
pada perbuatan dan perkataan kita yang berhubungan dengan masalah-masalah muamalah
(hubungan kemanusiaan) sehari-hari saja. Misalnya, kita dengan sangat mudah
berbohong-bohongan dengan teman, dengan keluarga, dengan istri/suami, dengan
anak, dengan orang tua, dengan bawahan, dengan atasan, dengan rakyat, dengan
pemimpin, dan sebagainya. Bahkan kita dengan sama mudahnya mampu pula untuk
membohongi diri kita sendiri, sehingga kadangkala kita bengong saja dibuatnya. “Kok
bisa ya tadi saya membohongi diri saya…”, gumam kita setengah nggak
percaya.
Akan tetapi…, kita sangat jarang sekali bisa
menyadari bahwa kita ini juga sebenarnya telah terlalu sering berbohong kepada
Allah saat kita melakukan ibadah atau sebuah syariat agama. Tatkala kita tidak
mampu menjadi saksi (syahid) dan sadar (dzikir) atas ungkapan-ungkapan
kita, atas gerakan-gerakan (penghormatan, penyembahan, pemujaan) kita kepada
Allah selama kita melakukan ibadah tersebut, maka sebenarnya saat itu kita
tengah berbohong. Nggak bisa tidak.
Gimana kita nggak
berbohong namanya, misalnya dalam shalat, coba...
Seyogyanya saat takbiratul ihram, sebelum membaca Allahu Akbar, kita seharusnya terlebih dahulu benar-benar bersaksi dan sadar bahwa Allah ternyata memang Maha Besar. Makanya kita sampaikan kesaksian kita itu dengan sadar kepada Allah : "Allahu Akbar…, ooo yaa..., ternyata Engkau memang Maha Besar, Ya Allah". Kan begitu yang namanya kita bersaksi itu...?. Dan Allah pastilah membalas, merespon, dan menjawab kesaksian kita saat itu juga. Karena Allah memang sudah menjaminnya: “Ujiibu da’watad daa’a idza da’aanii…, Aku akan menjawab, merespon, panggilan-pangilan, ungkapan-ungkapan, do’a-doa hamba-Ku apabila dia memanggil-manggil-Ku, memuja-muja-Ku, berdo’a kepada-Ku…”, (Al Baqarah 186).
Akan tetapi…,
kalau kita nggak menyaksikan kebesaran Allah, padahal saat itu kita tengah
mengatakan Allahu Akbar, itu kan namanya kita saat itu sedang NGELINDUR
atau paling tidak tengah BERBOHONG ketika membaca takbiratul ihram itu. Dan…,
akibat dari tidak mampunya kita
menyaksikan kebesaran Allah saat itu, maka yang seketika itu juga kita
akan menyaksikan yang selain Wajah-Nya. Otomatis saja sebenarnya. Begitu
selesai mengucapkan Allahu Akbar…,
maka seketika itu juga BUBAR semuanya. Kita seperti ditarik-tarik dan
didorong-dorong kesana kemari oleh berbagai file fikiran yang ada di
dalam memori otak kita. Makanya kita cenderung untuk ingin buru-buru untuk
menyelesaikan shalat kita. Capek mengembara kesana kemari soalnya.
Untuk membuktikan
bahwa apakah kita ini sedang ngelindur dan berbohong atau tidak saat kita
mengucapkan sesuatu pujaan penghormatan kepada Allah itu gampang saja
sebenarnya. Mari kita bedah masalah ini sedikit dengan mengambil analogi yang
sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri, yaitu saat kita berbicara tentang
cinta misalnya.
Ketika kita
mencintai seseorang, maka untuk mengungkapkan cinta kita kepada orang yang kita
cintai itu, apakah itu cukup kita lakukan dengan cara mengucapkan
kalimat “I Love You” saja, ataukah seharusnya kita lakukan dengan cara memberikan
cinta itu sendiri kepadanya dan lalu ungkapan I Love You itu kemudian
mengalir ringan dari mulut kita…?. Bahkan tanpa ungkapan I Love You itu
sendiripun, kita dan sang kekasih yang kita cintai itupun dapat pula saling
merasakan bahwa SIKAP dan KESADARAN kita memang bersesuaian dengan realitas
cinta itu sendiri, walau tanpa kata-kata. Dan yang terpenting sebenarnya adalah
bagaimana RESPON, JAWABAN, dari orang yang kita cintai itu atas ungkapan dan
pemberian rasa cinta kita kepadanya. Respon cinta pasti pulalah cinta. Kalau
ungkapan cinta kita itu tidak berbalas, atau malah dibalas dengan benci, maka
saat itu pula cinta kita disebut sebagai cinta bertepuk sebelah tangan. Nggak
enak…!.
Hal ini akan
sangat berbeda ketika kita bertemu dengan seseorang atau banyak orang
dijalanan, lalu kita mengucapkan “I Love You…, I Love You…, Saya cinta
kamu…” kepada mereka. Padahal saat itu rasa cinta kepada orang tersebut tidak
ada di dalam dada kita. Maka suasananya persis sama dengan ungkapan seekor
burung BEO yang pintar berbicara. Misalnya, “selamat pagi bang…, selamat
pagi bang…, selamat pagi bang…”, kata sang burung BEO nyerocos terus walau
saat itu hari sedang tengah hari bolong, bahkan pada tengah malam sekalipun.
Begitu juga sapaan dia dengan ucapan ‘bang” itu dia tujukan kepada
siapapun juga, kepada perempuan, anak-anak, kakek-kakek, nenek-nenek, bahkan
binatang sekalipun dia sapa dengan ungkapan “bang” itu.
Ya…, si burung BEO
mengucapkan selamat pagi kepada abangnya itu tanpa dia berada dalam kesadaran
dan kesaksian tentang suasana pagi hari itu dan abangnya itu sendiri. Inikan
ngelindur dan berbohong namanya.
Nah…, saat mulai
shalat ketika mengucapkan “Allahu Akbar” saja kita sudah berbohong. Seperti
burung BEO itulah. Belum lagi setelah itu. Misalnya, saat saya baca "Inni
wajjahtu wajhia..., hanief…", kuhadapkan "wajahku kepada
Wajah Dia..., lurus… dst", eee..., kita malah menghadap ke sajadah,
kita malah menghadap ke arti bacaan
shalat, atau malah kita sedang menghadap ke masalah-masalah lain yang muncul
silih berganti dihadapan kita. Lha…, bohong dan ngelindur lagi kita
kepada-Nya...!.
Belum lagi saat
kita mengucapkan do’a: "iyyaKA...
na' budu wa iyyaKA
nasta'in…". Saat membacanya kan seharusnya kita
langsung tunduk dan tawadhu’ TEPAT ke Wajah-Nya. Bukan kemana-mana lagi.
Makanya dalam kalimat itu ada KA…, Engkau…, Mu…!. Ada “barangnya”
gitu lho. Artinya sebelum kita mengucapkan do’a itu sudah sepantasnya kita
bersaksi dan sadar dulu: “Ooo … ya, ke INI saya harus menyembah, dan ke INI
pula saya harus minta pertolongan”.
Lha…, kalau tentang Allah sendiri kita belum tahu, maka
saat kita mengucapkan KA… ini, kita harus mengarahkan kesadaran dan
kesaksian kita kemana…?. Makanya KA… kita selama ini, saat kita
menyembah dan minta dituntun itu kadang-kadang adalah pekerjaan kita, adalah
masalah-masalah kita yang sedang in, adalah
atribut-atribut kemanusian lainnya, seperti patung, gambar, jabatan, harta
benda, dan lain sebagainya. Pikiran kita liar, lari kemana-mana, selama shalat
itu kita lakukan. Maka jadilah kita ini bohong lagi kepada Allah...!.
Begitu juga…, saat kita mengucapkan "subhanallah, subhanarabiyal a’la, subhanarabbiyal adhim, dsb". Kita ini kan seharusnya benar-benar telah dan sedang MENYAKSIKAN KEMAHASUCIAN ALLAH, KETINGGIAN ALLAH dulu, lalu barulah setelah itu kita teguhkan kesaksian kita itu dengan ungkapan tasbih diatas dan dengan sikap PENYEMBAHAN pula (rukuk dan sujud). Lha wong kita saat itu belum menyaksikan kemahasucian Allah dan ketinggian Allah, lalu tiba-tiba saja kita bertasbih...!. Lalu menyembah dan memuja siapa kita saat itu…?. Lhaaaa..., kan berbohong dan ngelindur seperti burung BEO lagi kita saat itu namanya. Ya nggak, ya nggak…?. Makanya Allah menegor perilaku kita itu dalam ayat berikut:
“Dan di
antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah;
mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah…
(Al Baqarah 165)
Selanjutnya,
saat kita menghantarkan do’a: “Rabbana laKAl
hamdu…, Wahai Tuhanku…, milik-MU mu segala
pujaan ini…”. Dan do’a-do’a: “Rabbigfirli, warhamni, wajburni, warfa’ni,
wardzuqni, wahdini, wa’afini, wa’fuanni…, serta do’a-do’a yang lainnya,
kita arahkan dan sampaikan kemana MUATAN do’a itu selama ini…?. Kita sampaikan
nggak do’a itu kepada yang kita anggap MU itu. Dan MU itu membalasnya nggak
muatan do’a kita itu dengan muatan yang lebih dahsyat.
Misalnya, saat kita menyerahkan segala
pujaan kepada “MU” itu, maka setelah itu PLONG nggak dada kita ini dari rasa
sesak akibat pengaruh rasa sombong untuk ingin dipuja dan puji orang lain. Lalu
adakah pula muncul rasa diampuni, rasa dikasihi, rasa ditutupi ke’aiban, rasa
rasa diangkat kedudukan, rasa dilimpahi ide-ide untuk mengais rizki, rasa
dilimpahi informasi atau pentunjuk, rasa disehatkan, rasa dimaafkan oleh Allah
setelah kita mengaturkan do’a kepada “MU” itu…?. Kalau “MU” ini belum pas, maka
muatan balasan dari “MU” itu juga nggak akan ada. Kita bertepuk sebelah tangan
lagi jadinya.
Yang paling
dahsyat adalah saat kita harus mengungkapkan kesaksian kita atas Allah dan
Muhammad SAW. "Asyhadualla ilaha illa Allah, wa asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah". Kan seharusnya kita benar-benar menyaksikan
Allah dulu baru kita ungkapkan kesaksian kita itu. Begitu juga saat kita harus
bersaksi terhadap Rasulullah, bersaksi macam apa yang harus kita lakukan...?.
Apakah kita harus membayangkan wajah Rasulullah, penderitaan Rasulullah, atau
bagaimana…?. Salah-salah kita bisa sama saja dengan orang yang memuja wajah
“XYZ” dalam beribadahnya.
Kalau di
sebuah sidang pengadilan, yang namanya bersaksi itu, ya kita haruslah
mengetahui persis tentang apa-apa yang akan kita ungkapkan
dalam persaksian itu. Lha…, dalam bersyahadah itu, yang seharusnya saat
kita bersyahadat itu kesadaran kita langsung tertuju kepada Allah: Ya Allah
benar ya Allah hanya Engkau alamat saya menyembah, dan benar ya Allah…
Muhammmad SAW adalah Rasulmu, karena apa-apa yang Beliau sampaikan saya
buktikan kebenarannya…!, eeee... kesadaran kita yang
muncul saat kita bersyahadat itu malah pikiran liar kesana kemari. Bohong
dan ngelindur lagi kita dalam bersyahadat itu...!
Dalam mengucapkan salam pun begitu. "Assalamu alaikum, warahmatullahi wabarakatuh...!", itu artinya kan adalah bahwa saat salam itu kita ungkapkan, seharusnya kita menebarkan kepada orang-orang di sekeliling kita tentang keselamatan, rahmat dan barakah dari Allah yang telah kita dapatkan saat kita shalat itu. Lha apanya yang akan ditebarkan wong salam kita itu kebanyakan juga KOSONG SAJA, nggak ada MUATANNYA.
Kan salam itu
seharusnya begini: "nih pak, nih dik, nih nak, nih sahabatku ada
keselamatan nih, ada rahmat nih, ada barakah nih dari Allah buat mu ('alaikum,
'alaikum, alaikum, buat semua). Ada muatannya gitu lho...!. Kalau nggak ya
kita berbohong dan ngelindur lagi itu namanya saat kita mengucapkan salam itu.
Bayangkan…, untuk sebuah perbuatan SHALAT yang kita lakukan dari hari ke hari, waktu ke waktu, isinya nyaris bohong dan ngelindur melulu. Dari sikap ke sikap, bacaan ke bacaan kita nggak ubahnya dengan seekor burung BEO. Lha…, gimana kita bisa menjadi baik saat kita menjalani hidup ini....?.
Jangankan suasana
yang susah dalam shalat seperti diatas, untuk hal yang sederhana saja kita
belum tentu lebih baik dari seekor burung BEO. Untuk membuktikannya gampang
saja kok. Cobalah bandingkan bagaimana suasana yang melanda dada dan kulit kita
saat kita menyebut kata-kata berikut ini. Membacanya boleh saja ditempat yang
sepi dan sendirian, atau dimanapun yang kita sukai:
“Piring,
gelas, piring, gelas, sendok…!”.
Kemudian sebut
pulalah:
“Allah…,
Allah…, Allah…!.
Kalau tidak ada
bedanya sedikitpun suasana DADA dan KULIT kita saat membaca kata-kata diatas,
maka bolehlah kita mulai meratapi diri. Karena boleh jadi saat kita membaca itu
mungkin nggak ada bedanya dengan membacanya seekor burung BEO.
Lalu kemudian
sebut pulalah:
“Jin,
iblis, syetan, gendoruwo, roh gentayangan”
Dan
makhluk-makhluk sejenis lainnya….
Kalau saat
menyebut nama-nama makhluk jin yang digambarkan (dipersepsikan) orang dengan
sangat menakutkan itu, dada kita lalu gemetar, kulit kita lalu merinding, ada
rasa takut yan menegakkan bulu roma kita…, bahkan ada pula yang sampai
keter-keter dan meracau nggak beraturan (yang katanya tengah kesurupan), dan
lain-lain sebagainya, maka berarti saat itu bolehlah kita meratapi diri pula.
Karena berarti nama jin, syetan dan sebagainya itu lebih menimbulkan kesan
mendalam di dada dan di kulit kita dari pada kita nama Allah…!. Astagfirullah
hal adhiem…!. Pantas saja kita ini lebih cenderung untuk berbuat berbohong
dari pada berbuat jujur. Karena memang kita lebih terkesan dan terpesona dengan
jin, syetan dan iblis yang memang dari sononya sukanya berbohong melulu.
Akibatnya pada
diri kita…???. Sungguh sangat menakjubkan…!. BOHONG
BERBUAH BOHONG.
Buah Itu
Begitu terbiasanya
kita berbohong dihadapan Allah saat kita shalat, maka kebiasaan itupun, tanpa
kita sadari, lalu terbawa-bawa pula kedalam kehidupan sehari-hari kita. Cobalah
kita amati diri kita dan sekeliling kita agak selirik dua lirik. Nggak usah
jauh-jauhlah, ditempat bekerja kita misalnya. Betapa
sering dan bersemangatnya kita selama ini membuat rencana-rencana yang konon
kabarnya adalah untuk kemajuan perusahaan tempat kita bekerja, dan tentu saja
untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama pula. Akan tetapi sayangnya lebih
banyak pula rencana-rencana itu adalah rencana bohong-bohongan belaka.
Mari
kita lihat bagaimana proses kita merencana itu selama ini melalui rapat-rapat
yang intensitasnya cukup tinggi:
·
Sebelum menghadiri
rapat, kita sudah mulai memuat pulau-pulau mulai dari yang kecil sampai ke yang
besar kedalam fikiran kita masing-masing. “Itu kan kerjaan si anu…. Itu kan
bukan tanggungjawab saya…. Yang ini barulah bagian saya. Orang lain nggak boleh
mengutak-utik bagian saya ini. Yang lain boleh jelek asal yang bagian saya bisa
baik”.
·
Giliran untuk
melaksanakannya barulah kelihatan lagi ngelesnya: “kita terlebih dulu
harus membuat detail rencana ini dengan sangat terperinci dengan melibatkan
berbagai pihak lain yang berkompeten, dan berbagai alasan lainnya”.
·
Akhirnya karena
otak kita masing-masing masih berpulau-pulau seperti diatas, ditambah
lagi saking rinci dan hebatnya detail rencana yang kita buat, malah jadinya rencana itu nggak bisa dilaksanakan
sama sekali. Para pimpinan…, otaknya dibatasi oleh pulau-pulau yang berada
diotaknya masing-masing. Dikiranya kotak atau posisinya sebagai pimpinan itu
adalah miliknya sendiri. Begitu pula para pasukan dibawah pun lebih banyak
berada pada pulau-pulau pikirannya sendiri dalam pekerjaannya sehari-hari.
Padahal Indonesia ini walau dikatakan sebagai sebuah negara dengan seribu
pulau, namun pulau-pulau itu tetap masih bisa disatukan dengan sebuah nama,
INDONESIA.
·
Padahal kalau kita
berfikir secara sederhana, tidak ada yang tidak bisa dilaksanakan. Karena
masalah-masalah kita ini hanyalah masalah yang berulang dari dulu-dulu walau
dengan kualitas yang berbeda. Syaratnya hanyalah satu, yaitu temukanlah
“sesuatu” yang bisa menyatukan pulau-pulau yang ada disetiap fikiran kita. Dan
sesuatu itulah yang kita binding, kita anchoring, kita sandari saat kita
menjalankan fungsi kita masing-masing.
Begitu
juga di tingkat kota, propinsi, dan bahkan negara, nyaris saja rencana-rencana
yang kita buat adalah rencana-rencanaan, rencana bohongan, rapat bohongan,
pemeriksaan bohongan, tindakan bohongan, pelaksanaan bohongan.
Subhanallah…,
ternyata bohongnya kita dihadapan Allah tadi, ee... ndak tahunya Allah malah
benar-benar balik mendorong kita untuk berbuat bohong-bohong berikutnya. Ya
seperti kita sekarang inilah. Bangsa kita ini saat ini nampaknya memang tengah
dilanda oleh gelombang kebohongan massal.
Masih Ada Harapan…!
Untuk keluar dari lingkaran kebohongan
demi kebohongan diatas, masih adakah jalan yang terbentang dihadapan kita…?.
Jawabannya…, ADA…!. Dan caranya itupun adalah dengan cara yang sangat
sederhana, yaitu jangan BOHONG dihadapan ALLAH. Artinya:
·
Janganlah mengaku
bahwa Allah Maha Besar (Allahu Akbar), kalau kita belum menyaksikan kemahabesaran
Allah.
·
Janganlah
menyatakan IyyaKA, kalau kita belum sadar penuh kepada MU yang kita
tuju.
·
Janganlah memuji
bahwa Allah Maha Suci (subhanallah), kalau belum menyaksikan
kemahasucian Allah.
·
Janganlah kita
bersyahadat akan Allah, kalau kita belum bersaksi akan ketunggalan Allah,
keesaan Allah, dan yang selain Allah adalah fana, tiada. Dan janganlah kita
bersyahadat akan kerasulan Muhammad, kalau kita belum menikmati kebenaran
ajaran-ajaran Beliau.
·
Janganlah kita
mengucapkan salam kepada orang lain, kalau muatan salam, kebahagian,
kesejahteraan itu belum ada pada diri
kita.
Nah…, harapan untuk menjadi TIDAK
BOHONG lagi itu sangat terbuka lebar ketika kita bisa menjadi PENYAKSI (SYAHID)
akan: kemahabesaran Allah, kemahasucian Allah, kemahaesaan Allah, dan kita
menyaksikan pula respon Allah atas apa-apa yang kita keluhkan kepada-Nya.
Inikan IHSAN saja sebenarnya.
Karena nggak mungkinlah orang yang
IHSAN, yang menyaksikan dan yang sadar akan ALLAH mau untuk berbohong,
berbohong, dan berbohong lagi …!.
Nah temukanlah posisi IHSAN
tersebut…!.
Demikian
Wassalam
Deka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar