Gelitikan:
1. Yong
Jaya <yjaya@asuransi.astra.co.id> wrote:
Subject: RE: [dzikrullah] Tawajjuh
Disatu
sisi, Allah itu tak terbayangkan, tak terpikirkan, dan tidak ada yang menyamai…
Disatu
sisi, Ada pengakuan manusia telah berjumpa dgn Allah…
Jadi, yang ditemuinya itu siapa..?
Persepsi ” diri ” nya
? atau ...
Si” AKU ”
yang berani-beraninya mengklaim, bahwa dirinya telah bertemu/ berjumpa.... dgn Allah..?
Wassalam,
Yong
____________________________________
2. fani.bachsin@sea.ccamatil.com
wrote:
Assalammu'alaikum
War Wab
Karena
Allah itu tak terbayangkan, maka kalau pun ada manusia yg mengaku telah
berjumpa dgn Allah maka dia tidak akan pernah bisa menceritakan pengalaman
perjumpaannya tsb karena tidak ada satu pun bahasa di dunia yg bisa mewakili
...
Wasaalam,
Fani
Bachsin
Balasan
Gelitikan:
Aha…, Mas
Yong Jaya dan Mas Fani rupanya yang mencoba menggelitik kita di milis ini
dengan ungkapan-ungkapan yang sangat jujur dan sangat mendasar sekali. Ungkapan
seperti diatas merupakan ungkapan umat manusia sepanjang zaman. Nabi Ibrahim
‘alaihissalam sendiri yang notabene adalah seorang kekasih Tuhan sampai-sampai
diabadikan di dalam al Qur’an tentang perjalanan Beliau dalam MEMBUKA
KESADARAN Beliau tentang Tuhan. Karena saat itu, kesadaran Beliau
barangkali memang belum terbuka tentang Tuhan, walau Beliau tahu dan punya
pengetahuan bahwa ada Tuhan yang berperan pada segala sesuatunya. Maka suasana
diri Beliau yang tertutup dari kesadaran itu namanya Beliau sedang ter-cover,
tertutup, terhijab, atau dalam bahasa yang universal disebut sebagai KAFIR.
Ya…, kafir…!. Ndak lebih dan ndak kurang. Akan tetapi kemudian,
dalam perjalanan Beliau, akhirnya
KESADARAN Beliau bisa TERBUKA (DZIKIR) juga akan Allah, sehingga dalam
perjalanan hidupnya Beliau disebut juga sebagai SAHABAT ALLAH.
Selama ini
mungkin kita sudah sangat kenyang dengan doktrin dalam berbagai agama tentang
kata-kata KAFIR ini. Dimana cap kafir ini sudah berubah menjadi sebuah ungkapan
yang sangat MENAKUTKAN, MENJIJIKKAN, dan MENGERIKAN. Saat cap kafir ini sudah
melekat pada diri seseorang, maka sepertinya orang itu sudah kita anggap
sebagai seseorang yang punya kesalahan yang sangat fatal dan derajat yang
sangat rendah. Dengan mencap orang lain kafir, maka sepertinya ada diantara
kita yang merasa bahwa darah orang kafir itu HALAL untuk ditumpahkan. Sehingga
dalam sejarah peradaban manusia, kita sudah sangat hafal dengan berbagai
peperangan demi peperangan yang di jalani oleh kakek moyang kita.
Dengan cap
kafir terhadap seseorang, maka kebanyakan dari kita akan melihat orang yang di
cap kafir itu dengan pandangan penuh kebencian, penuh kecurigaan, dan bahkan
penuh kemarahan. Karena kita takut jangan-jangan orang yang di cap kafir itu akan
membawa kita juga untuk menjadi kafir. Padahal status kafir ini dalam
pelajaran-pelajaran agama apa pun akan diganjar dengan neraka. Sebuah ganjaran
yang membuat kita GACAR (mencret) karena ketakutan.
Padahal kalau
kita kupas agak sekupas dua kupas, maka ungkapan KAFIR ini hanyalah sebuah
ungkapan dengan pengertian yang sangat sederhana saja. Bahwa seseorang yang
TIDAK MENYADARI akan SESUATU, maka orang itu dikatakan sedang KAFIR (ter-cover),
tertutup kesadarannya terhadap SESUATU tersebut. Hanya sesederhana itu saja kok
pengertian tentang KAFIR. Kitanya saja yang mau-maunya di distorsikan pemahaman
kita seperti sekarang ini, sehingga jadilah kita seperti saat ini. Umat yang
hidup penuh dengan konflik yang dipelihara turun-temurun hanya karena sebuah kata
KAFIR. Masalah bagaimana pedih dan kerasnya hukuman Tuhan terhadap orang-orang
yang kafir kepada Allah adalah masalah lain lagi. Begitulah salah satu cara
Allah dan Rasulullah memotivasi umat manusia agar mau ingat dan sadar kepada
Allah, yaitu dengan menakut-nakuti umat manusia dengan hukuman yang sangat
pedih dan di neraka pula tempatnya.
Disamping
itu, saat saya tidak mampu membuka kesadaran saya terhadap ketuhanan YESUS
seperti yang diyakini oleh umat Nasrani, maka umat Nasrani akan menganggap saya
sebagai seorang kafir terhadap Yesus, ya ndak masalah. Begitu juga saat
saya tidak mampu membuka kesadaran saya tentang Allah, maka saat itu saya akan
dilabeli oleh Allah sendiri sebagai seorang yang kafir terhadap Allah. Walaupun
ilmu pengetahuan saya tentang Allah barangkali sudah sangat lengkap, akan
tetapi jika pada saat yang sama saya tidak sedikit pun merasakan IHSAN terhadap
Allah, maka boleh jadi saat itu saya sedang kafir kepada Allah. Ya…, karena
saat itu saya tidak sedikit pun sadar akan keberadaan Allah. Ungkapan seperti
ini yang kita tidak siap untuk menerimanya.
Untuk
membuktikan tentang tidak ihsannya kita ini sangat gampang sekali kok. Saat di
keseharian kita, mampu nggak kita untuk merasa “SUNGKAN” untuk berbuat TIDAK
BAIK, atau mampu nggak kita untuk merasakan “TUNTUNAN” Tuhan atas setiap
tindakan kita ke arah yang BAIK-BAIK. Kalau yang ada adalah rasa TIDAK SUNGKAN
kita untuk berbuat tidak baik, dan rasa TIDAK DITUNTUN ke arah yang BAIK, maka
saat itu juga kita bolehlah untuk SANGAT khawatir, jangan-jangan Tuhan memang
sedang mencampakkan dan membiarkan kita (istidraj).
Tapi jangan
khawatir. Saat kita digeletakkan oleh Allah ini (dalam posisi istidraj),
sebenarnya kita tetap dan tengah dituntun oleh ALLAH juga. Namun tuntunan Allah
itu ke arah yang TIDAK BAIK. Ya…, arahnya saja yang salah. Betapa tidak. Untuk
berbuat jahat dan tidak baik itu sebenarnya kita butuh daya, tenaga, dan
keberanian yang sangat besar. Untuk berbohong saja, misalnya, kita rasanya
harus mengeluarkan tenaga ekstra. Apalagi untuk mencuri, berzina, korupsi, dan
berbagai perbuatan tidak baik lainnya. Sungguh semuanya itu butuh daya yang
sangat besar. Apalagi kalau semua perilaku buruk itu melekat pada diri kita
sendiri. Wuiih…, dahsyatnya power yang kita butuhkan.
Makanya dalam
keseharian kita, dalam shalat kita, kita selalu minta dituntun Allah ke jalan
yang LURUS (Ihdinash shiraathal mustaqiim). Tapi itulah kita manusia
ini, kita hampir sebagian besar tertahan dari tuntunan Tuhan ke arah yang lurus
(baik) ini. Dan anehnya lagi tertahannya kita dari tuntunan Tuhan ke arah yang
baik itu karena kita memang tengah DIBUAT LUPA atau DIJADIKAN TIDAK TAHU oleh
ALLAH dalam memanfaatkan SWITCH (tombol) penentu arah saat kita berada
dipersimpangan jalan antara yang baik dan yang buruk itu. Nah…, supaya tidak
dibuat lupa oleh Allah, maka carilah switch itu sampai dapat, dan kita nanti
tinggal menikmati tuntunan ke arah yang baik.
Kemudian,
dalam pelajaran tentang TUHAN pun, kita selama ini sudah sangat jauh terdistorsi
dari suatu pengertian yang sebenarnya sangat sederhana. Dengan pengetahuan yang
sampai ke otak kita, dari berbagai sumber, seakan-akan kita umat manusia ini
sedang sibuk mencari diri sendiri dan juga mencari Tuhan. Dengan pengajaran
tersebut, seakan-akan kita saat ini tengah berada dalam suasana KEHILANGAN DIRI
kita sendiri dan KEHILANGAN TUHAN pula, sehingga harus kita temukan lagi. Maka
kemudian lahirlah berbagai konsep tentang usaha umat manusia dalam mencari dan
menemukan dirinya sendiri maupun Tuhan. Dan anehnya, SEMAKIN RUMIT konsep itu,
maka orang umumnya menganggapnya sebagai sebuah konsep yang LEBIH BENAR.
Dalam
menghadapi kerumitan konsep itu, umumnya umat manusia terpecah menjadi dua
kelompok. Kelompok pertama adalah orang yang mau tidak mau terpaksa harus
menerima kerumitan itu sebagai sebuah sikap hidup. Karena kalau tidak, maka
kelompok ini sangat ketakutan dengan cap kafir dengan ganjaran yang sangat
mengerikan seperti yang sudah dijelaskan di atas : NERAKA. Kelompok kedua
adalah gerombolan orang yang bersikap
MASA BODOH terhadap konsep yang rumit-rumit itu, saking rumitnya. Karena dengan
tidak memakai konsep yang rumit itu hidup mereka toh nggak menderita-menderita
amat. Enjoy aja kata sebuah iklan…!.
Mungkinkah
ada konsep yang SANGAT SEDERHANA agar kita bisa DISADARKAN tentang diri kita
dan tentang Tuhan…?. Sehingga kita tidak sanggup lagi untuk bersikap masa
bodoh, seperti tidak sanggupnya kita untuk merasa terpaksa dalam menjalani
konsep demi konsep yang tadinya meletihkan kita.
Berbagai
Cover…
Dulu
kesadaran saya tertutup, kafir, atau berhenti tentang Tuhan yang
sebenarnya dan yang seharusnya. Karena saat dulu itu konsep (ilmu pengetahuan)
yang masuk ke otak saya tentang Tuhan adalah bahwa Tuhan itu bersemayam di
Arsy yang berada di langit ke tujuh (sidratul
muntaha) yang entah dimana. Dan untuk bertemu dengan Tuhan, maka
kita harus melewati alam-alam akhirat dulu, karena kita hanya bisa bertemu
dengan Tuhan di akhirat. Dan itu pun ketemunya NANTI. Hanya Muhammad Rasulullah
sajalah yang pernah ketemu Tuhan saat Beliau masih hidup. Dan pertemuan itu
adalah di sidratul muntaha saat Beliau “Isra’ dan Mi’raj”.
Sedangkan buat kita-kita umat Beliau ini, pertemuan dengan Tuhan itu nantinya
adalah di akhirat. Ditambah lagi dengan pemahaman tentang Tuhan yang beredar
umum di tengah-tengah masyarakat, bahwa Tuhan bersemayam yaitu di Arasy-Nya.
Sampai di
pemahaman seperti ini sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Karena dalam
banyak hadits Rasulullah memang memberikan wejangan Beliau seperti itu kepada
sahabat-sahabat saat itu. Juga dalam Al Qur’an sendiri dinyatakan bahwa Allah “tsummastawa
‘alal arsy yudabbirul amra”, Dia bersemayam diatas ‘Arsy untuk mengatur
segala urusan”.
Akan
tetapi sayangnya tidak jarang diantara
kita, kalau tidak mau dikatakan mayoritas umat Islam, yang terjebak dalam
memahami makna bersemayam itu seperti bersemayamnya seorang raja di
singasananya. Dan singasana Tuhan itupun berada di langit ke tujuh, bahwa
singasana-Nya ada di Sidratul Muntaha, bahwa Tuhan hanya bisa ditemui di
akhirat dan dan itupun nanti pula, maka secara tidak sadar sebenarnya kita
telah mempersepsikan menghadap Tuhan itu sebagai orang awam berhadapan dengan
sosok raja diraja di langit. Sehingga Tuhan seakan-akan sosok yang sangat jauh
dengan kita. Ya…, seperti dewa gitu loh…!. Apalagi dengan adanya hadits
yang menyatakan bahwa Allah turun ke langit dunia di sepertiga malam…, dst.
Makanya,
karena mengharap pertemuan dengan Tuhan di akhirat itu, segala ibadah dan
amalan saya lakukan dengan harapan untuk dapat pahala sehingga nanti bisa
bertemu dengan Tuhan di akhirat dan dimasukkan-Nya kedalam syurga-Nya. Enak
nggak enak, maka ibadah dan amalan itu harus saya lakukan. Karena kalau tidak
dilakukan, maka Tuhan akan marah kepada saya.
Akibatnya, kita
lalu mencari-cari Tuhan dengan otak kita. Lalu tidak sedikit pula orang yang
hanya sampai di kesadaran bahwa tidak mungkin orang bisa bertemu Tuhan di dunia
ini. Kalau ada yang mengaku bertemu Tuhan, maka jangan-jangan itu hanya
persepsi dirinya sendiri, atau Si ”AKU” yang berani-beraninya mengklaim, bahwa
dirinya telah bertemu/ berjumpa.... dgn
Allah..?. Dan berbagai ungkapan lainnya yang sangat rumit, seakan-akan kita
sengaja memperumit diri sendiri tentang Tuhan. Sehingga lengkap sudah
tertutupnya kesadaran kita terhadap eksistensi Tuhan. Kita jadi seperti
terpisah dengan Tuhan. Kita tidak punya lagi kesadaran bahwa saat shalat dan
berdo’a, kita sebenarnya SAAT ITU tengah menghadap dan menyembah Tuhan,
berbicara dengan Tuhan, memuja Tuhan. Ya…, kita tidak bisa lepas dari Allah
seperti tidak bisa lepasnya nafas, aliran darah, dan pergerakan alam semesta
ini dari Allah. Dan ternyata, suasana ter-cover terhadap Allah seperti
ini sangatlah tidak enak, sehingga kemudian saya lalu mencoba masuk ke dalam
konsep yang lain lagi. Konsep tarekat dan tasawuf.
Selama
beberapa tahun kemudian, saya berada dalam dunia tarekat dan tasawuf yang inti
ajarannya adalah tentang bagaimana kita harus MEMBERSIHKAN HATI kita dulu agar
hati itu nantinya bisa suci dan bersinar, sehingga hati itu bisa “melihat
Tuhan”. Dan syarat mutlak untuk masuk ke wilayah tarekat ini adalah dengan
menerima peran wujud lain sebagai wasilah kita untuk menyambungkan diri
kita dengan Allah. Wasilah itu sambung menyambung dari satu orang mursyid
termuda, lalu guru dari mursyid tersebut berantai ke guru-guru-guru-guru
mursyid lainnya sampai ke Rasulullah dan baru ke Allah. Rantai sambungan
itu disebut juga dengan rabithah guru, dan proses menghadapkan perhatian
(wajah) kepada guru mursyid itu disebut juga dengan bertawajjuh.
Kalau kita tidak ikut mengikatkan diri pada mursyid yang berada dalam
dalam ‘rantai emas’ mursyid sebuah tarekat tertentu, maka kita akan
berada di luar kelompok tersebut saat kiamat dan di hari akhir nanti dan tidak
ditolong pula oleh Rasulullah, karena memang Rasulullah ditempatkan di dalam
rantai emas mursyid tarekat tersebut pada tingkat pamuncak.
Selama kurun
waktu bertarekat tersebut, maka berbagai praktek olah diri (tadzkiyatunnafs)
yang sangat sulit harus saya jalani. Wirid dan afirmasi yang berulang-ulang
dengan kalimat-kalimat thaiyyibah yang harus dilakukan sangatlah banyak.
Untuk waktunya pun lebih lama wiridannya dari pada shalatnya sendiri.
Tapi…, tetap saja bukan Tuhan yang ketemu. Malah yang muncul adalah sensasi
alam demi alam dan fenomena-fenomena yang tadinya hanya bisa di baca dalam
berbagai riwayat atau buku sufi terkenal. Mengasyikkan memang semua itu. Akan
tetapi yang namanya TUNTUNAN Tuhan dan RASA SUNGKAN terhadap Tuhan nggak
dapat-dapat juga saya pahami. Saya seperti asyik sendiri dengan berbagai
atribut ketasawufan yang melelahkan itu, sehingga kemudian saya mencari lagi
konsep lain tentang ketuhanan yang lebih sederhana dan bisa diterapkan dalam
keseharian.
Kemudian saya lalu masuk ke dalam komunitas PATRAP
yang di dalamnya saya diperkenalkan dengan konsep ketuhanan yang lebih simple.
Bahwa Tuhan itu ternyata hanyalah Dzat Yang Sangat Sederhana akan tetapi
Serba Maha. Dzat yang MAHA MELIPUTI segala sesuatu. Walaupun begitu, dalam
kenyataannya konsep patrap yang sangat sederhana ini tidaklah terlalu mudah
juga untuk diaplikasikan. Kalau kauro (ilmu pengetahuannya) mungkin bisa
saya terima dengan sangat mudah. Bahkan pelatihan-pelatihannya juga bisa saya
ikuti dengan tanpa kesulitan yang berarti. Tuntunan demi tuntunan dan rasa
sungkan demi rasa sungkan, alhamdulillah bisa saya rasakan realitasnya.
Akan tetapi
dalam perjalanannya, ada sesuatu yang saya rasakan sulit untuk saya dapatkan,
yaitu untuk masuk kepada suasana KEARIFAN, suasana KERENDAHAN HATI. Ya…,
bagaimana caranya agar saya bisa duduk di wilayah ini. Ini yang menjadi
pertanyaan saya yang cukup panjang juga. Kenapa…??.
Karena di
dalam patrap inilah saya mendapatkan sebuah cara berfikir yang sangat
revolusioner sekali. Tidak salah memang kalau dikatakan bahwa virus pemikiran
PATRAP ini telah menghancurkan berbagai file masa lalu saya yang sudah karatan
di dalam otak saya selama ini. Ditambah lagi dengan tidak adanya konsep
pengkelasan (grading) baik antara seorang guru dengan murid, maupun diantara
sesama komunitas patrap itu sendiri. Egaliter sekali. Sehingga yang muncul
kemudian adalah sebuah karakter baru dimana seorang murid mungkin tidak lagi
menghormati guru, karena memang tidak ada konsep guru dan murid di dalamnya.
Dalam bidang pemikiran pun, konsep spiritual, agama-agama, dan peradaban juga
dikupas tuntas sampai “bugil”, sehingga nyaris saja orang patrap meremehkan
pengajian-pengajian agama yang membahas hukum, syariah maupun laku spiritual
lainnya.
Ternyata
orang yang banyak ilmu, banyak tahu hukum, bahkan banyak pula kesaksian, kalau
orang itu tidak bisa merangkainya dengan sikap RENDAH HATI dan ARIF, sangatlah
berbahaya. Ilmu, hukum dan kesaksian itu bisa menjadi sebuah senjata baru yang
sangat hebat untuk memuaskan kepentingan atau dorongan diri sendiri (hawa un
nafs). Sungguh mengerikan sekali.
Lalu dalam
sebuah pelatihan bersama Ustadz Abu Sangkan di ruang basement Masjid
Baitul Ihsan (BI) seminggu sebelum bencana Tsunami melanda ACEH, saya dan
beberapa orang teman yang lainnya merasakan suasana yang sangat berbeda yang
belum pernah saya dapatkan sejak saya mulai ikutan patrap ini, apalagi pada
praktek-praktek olah diri dan olah jiwa yang sebelumnya. Saya saat itu seperti
di tarok di wilayah yang sangat berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Wilayah yang
seperti DI RUMAH sendiri. Wilayah yang sepertinya sudah sangat saya kenal lama
sekali, akan tetapi yang sudah terlupakan sedemikian lama pula…!!!. YA…, selama
ini wilayah ini seperti terlupakan, atau lebih tepatnya saya dibuat lupa
tentang rumah saya ini oleh Allah sendiri. Wilayah rumah saya sendiri sebenarnya
...!.
Dari berbagai
suasana tertutupnya kesadaran (KAFIR) terhadap Tuhan yang sungguh beragam
penyebabnya, maka PASTILAH ada CARA untuk membuka TUTUP tersebut. Ya…, semacam SWITCH
gitu loh. Karena nggak mungkin Allah menggeletakkan makhluk ciptaan-Nya
dalam berbagai masalah tanpa adanya solusi untuk keluar dari masalah itu.
Sungguh Allah ternyata memang sangatlah sempurna sebagai Sang Grand Designer
Tunggal dalam segala hal. Untuk setiap MASALAH, apapun masalah itu, ternyata
Allah juga telah menyiapkan SOLUSINYA pada saat yang BERSAMAAN. Seperti
berpasang-pasangan gitu loh.
Maha Suci
Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa
yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak
mereka ketahui. (Yaa
siin 36)
(Dia)
Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri
pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula),
dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang
serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Asy Syura 11)
Akan tetapi
hampir sebagian besar dari kita tertutup pula untuk melihat solusi yang sudah
ada itu untuk keluar dari problematika yang kita hadapi. Kita selalu saja
cenderung lebih MUDAH untuk hanya bisa melihat masalah demi masalah tanpa
menemukan solusinya. Kita memang telah jadi umat yang punya segudang masalah
dari dulu sekali sampai sekarang ini, akan tetapi sangat miskin dengan solusi.
Begitu juga
dengan suasana kesadaran yang tertutup, tidak sadar, KAFIR, ternyata juga ada
pasangannya, yaitu suasana terbuka, sadar, ingat, DZIKIR. Ya…, untuk keluar
dari masalah KEKAFIRAN, maka satu-satunya jalan adalah dengan dzikir. Jadi
dzikir adalah sebuah proses yang bertujuan untuk membuka tutup kesadaran
kita terhadap sesuatu, sehingga sesuatu
itu lalu jadi NYATA (ZAHIR) bagi kita.
Sedangkan
DZIKRULLAH bermakna sebagai sebuah suasana TERBUKANYA KESADARAN kita terhadap
ALLAH. Ya…, dzikrullah adalah suasana ingat dan sadar yang tertuju hanya kepada
Allah. Hanya Allah lah yang ADA, sedangkan yang lain selain Allah adalah FANA,
TIADA. Pengertian seperti ini merupakan makna hakiki dari kalimat tauhid laa
ilaha illallah…!!.
Akan tetapi,
kalau kita tidak berhasil mencapai suasana atau wilayah dzikrullah ini, maka
hampir secara otomatis pula kita akan masuk ke wilayah KAFIR, yaitu wilayah
dimana yang ada adalah yang SELAIN ALLAH, sedangkan ALLAH lalu menjadi WUJUD
yang hilang, FANA, TIADA. Dan kafir terhadap Allah ini ternyata adalah puncak
dari hilangnya kesadaran seorang manusia yang akibatnya adalah siksa yang
sangat pedih bagi manusia itu sendiri.
TUHAN
YANG SANGAT SEDERHANA …!
Allah
ternyata adalah Dzat yang begitu LUGU
dalam memperkenalkan DIRI dan WUJUD-NYA kepada kita umat manusia ini;
Pada taraf
pertama, yang biasa-biasa saja, Dia memperkenalkan DIRI-Nya bahwa: “… (sesungguhnya)
Aku dekat (Al Baqarah 186). Walau hanya sampai pada kesadaran tentang kedekatan
Tuhan seperti ini, namanya sudah ihsan juga. Selanjutnya, Dia memperkenalkan
DIRI-Nya bahwa: “…Allah lebih dekat dari urat leher (Al Qaaf
16)”, inipun ihsan juga namanya. Lalu Dia menimpali lagi: “ … Kemana saja
menghadap, disana ada wajah Allah (Al Baqarah 115)”.
Pada taraf kedua, yang lebih sederhana lagi, Dia
memperkenalkan WUJUD-Nya bahwa: “…Allah meliputi orang-orang kafir
(Al Baqarah 19)”. Lagi: “… Sesungguhnya Tuhanmu meliputi segala manusia
(Al Israa’ 60)”.
Pada taraf ketiga, yang lebih-lebih sederhana
lagi, Dia menyatakan WUJUD-Nya bahwa: “Dia Maha Meliputi segala sesuatu
(Al Fushilat 54)”. Dan lagi: “Allah Maha Meliputi segala sesuatu
(An Nissa 126)”.
Pada taraf keempat, yang paling sederhana, agar
kita nggak usah capek-capek lagi mikirin DIRI dan WUJUD-Nya, maka Dia memagari
imajinasi liar kita dengan kalimat: “… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia…
(Asy Syura 11)”.
Dan pada taraf
kelima, yang tidak ada lagi taraf setelah itu, maka Wujud Yang Maha
Meliputi yang tidak sama dengan apapun itu, punya “Aku”. Dia bersabda dengan
“Aku”-Nya “Innani ana Allahu, laa ilaha illa ana, fa'budni, wa aqimishshalata lizikrii. Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada
Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.
(Thaha 14).
Dengan lima
taraf kesadaran ihsan kepada Tuhan seperti ini, maka selesai sudah Ilmu
tentang Tuhan. Ya…, dengan beberapa ayat Al Qur’an di atas, ilmu tentang tauhidullah,
ilmu ma’rifatullah tamatlah sudah. Akan tetapi kelima taraf kesadaran
ihsan ini haruslah menjadi SATU KESADARAN UTUH pada saat yang sama. Tidak boleh
terpisah-pisah. Dalam setiap aliran nafas, dalam setiap pandangan, dalam setiap
pendengaran, maka kita harus duduk pada kesadaran ihsan seperti
ini. DEERRR….!!.
Karena kalau
kita coba-coba keluar dari pengertian tentang TUHAN yang sesederhana ini, sesuai dengan
pengungkapan Tuhan itu sendiri, maka yakin deh bahwa kita akan berubah
menjadi orang yang RUMIT dalam berketuhanan. Dan ternyata memang kerumitan
itulah yang telah kita warisi dari generasi ke generasi, sehingga kita lalu
menjadi umat manusia yang rumit pula. Sangat rumit malah.
Misalnya,
kalau kita hanya berhenti sampai pada taraf kesadaran bahwa Allah dekat,
bahkan lebih dekat dari urat leher kita, maka biasanya kita akan
mencari-cari Allah. Allah lalu dicari-cari ke langit yang ketujuh yang entah
dimana. Allah dicari di dalam hati. Atau Allah dicari-cari dengan terlebih
dahulu melalui alam-alam yang diberi nama misalnya alam lahut, alam nasut, alam
jabrut, dan sebagainya. Sungguh rumit sekali untuk ketemu dengan Tuhan. Semakin
dicari kedekatan Allah itu, eh… malah Tuhan sepertinya semakin jauh. Jauuuh
sekali.
Begitu juga kalau kita berhenti dikesadaran bahwa kemana
saja menghadap, disana ada wajah Allah, maka kita akan dibuat sibuk
untuk memposisikan hati, memposisikan wajah, jiwa, ruh kita biar bisa dekat dan
menghadap terus kepada Allah. Kita sibuk mencari posisi terus, dan biasanya
posisinya malah nggak tepat-tepat juga. Serba paradoks memang.
Ada memang diantara kita yang percaya pada ayat Al Qur’an
bahwa Tidak ada
sesuatupun yang serupa dengan Dia. Kita manggut-manggut dan
terangguk-angguk malah
sangking hafalnya. Akan tetapi sayangnya kita tidak sampai kepada kesadaran
berketuhanan, sehingga kita benar-benar terpaku hanya pada kesadaran kebendaan.
Serba benda saja yang menarik perhatian kita. Kesadaran kita benar-benar
seperti tertutup akan ayat yang menyatakan bahwa Dia Maha Meliputi
segala sesuatu.
Ya…, ratusan tahun kesadaran kita akan liputan Tuhan atas
segala sesuatu seperti tertutup. Setiap ketemu ayat ini, kita selalu saja di
giring kepada pengertian bahwa yang meliputi segala sesuatu itu adalah
KEKUASAAN-NYA, PENGETAHUAN-NYA, ILMU-NYA. Sehingga kita sepertinya selalu
dibawa terus untuk MENYEMBAH SIFAT TUHAN. Menyembah sifat, walau sifat itu
milik Tuhan sekali pun, adalah salah satu bentuk SYIRIK yang tidak ditolerir
sedikit pun oleh Tuhan. Sebab Tuhan memerintahkan kita untuk menyembah HANYA
kepada DZAT-NYA, AKU-NYA.
Nah…, kalau tutup kesadaran kita sudah terbuka atas Wujud
Tuhan Yang Maha Meliputi segala sesuatu, dan sadar pula bahwa Dzat-Nya tidak
sama dengan apapun juga, maka kita tinggal bersandar, berpegang, bergantung
kepada Wujud Tuhan itu. INI YANG TERPENTING SEBENARNYA. Bahwa kita berpegang
teguh kepada Sang Maha Meliputi. Sedangkan yang lain-lainnya nanti tinggal
mengikuti saja.
Karena apapun
nanti atribut yang melekat dan diselendangkan kepada Allah, baik itu SIFAT,
KEHENDAK, PENGETAHUAN, dan PERBUATAN-NYA, maka kesemuanya itu TEPAT berada pada
Dzat Yang Maha Meliputi dan Yang Tidak Sama dengan segala apapun INI. Begitu juga dengan segala ciptaan-Nya,
sebutlah apa saja, maka semua itu pastilah berada dalam liputan Dzat Tuhan
juga. Dan kepada Dzat Tuhan itu pulalah kita harus mengaturkan persembahan,
permohonan, penyerahan, penghormatan, dan menghantarkan segala tanda-tanda
kelemahan dan kehambaan kita yang lainnya kita arahkan atau kita kembalikan.
Bukan kepada yang lain. Selesai sudah…!.
Masalah
nantinya Dzat Yang Maha Meliputi Segala sesuatu itu mau disebut dengan istilah
apa, itu masalah lain lagi. Umat Islam menyebutnya dengan sebutan ALLAH. Begitu
juga, dalam berbagai agama dan kepercayaan. Ada yang menamakan Dzat itu dengan
sebutan Brahman…, Oum…, Yehova, Thian, Manitou, Bapa di Syurga, dan sebagainya.
Karena memang Dzat itu menyebut diri-Nya sendiri sebagai Rabbul ‘Alamin, Tuhan
bagi alam semesta berikut dengan segala isinya. Cuma nanti akan muncul masalah,
yaitu: “saat menyebut nama Dzat tadi itu, mampukah kita sampai kealamat
yang sebenarnya, yaitu Sang Maha Meliputi?”. Kalau tidak mampu, maka
itu namanya kita telah menjadi KAFIR terhadap Dzat Yang Maha Meliputi itu.
Akibatnya dalam masalah ketuhanan ini kita lalu menjadi orang yang RUMIT, dan
Tuhan pun lalu berubah menjadi Tuhan Yang Rumit.
Dalam ajaran
agama Kristen, misalnya, mereka bingung tentang ungkapan Bapa di syurga,
sehingga orang tersebut merasa jauh dengan Bapa yang di syurga itu. Lalu untuk
menggampangkan agar mereka bisa keluar dari kebingungan itu, maka agama
tersebut menciptakan sesuatu yang bisa dipersepsikan dengan mudah. Lalu
muncullah konsep Anak Tuhan, atau Tuhan dalam bentuk manusia. Dan atribut
seperti ini dilekatkan kepada Yesus Kristus. Sehingga lalu Yesus disembah dan
dimintai pertolongan. Kapanpun pemeluk agama Kristen menyebut nama Tuhan, atau
dalam berbagai kesempatan disebut juga dengan Allah (umat Kristen melafalkannya
dengan Alah), maka arah pikir dari pemeluk agama ini selalu saja dibetot ke
arah sosok manusia, yaitu sosok Yesus yang kemudian divisualkan pula dalam
bentuk patung dengan berbagai bentuk dan posisi. Yang paling populer adalah
visualisasi Yesus yang sedang disalib. Hal yang sama juga bisa terjadi pada
umat yang beragama apa pun, tak terkecuali umat Islam. Dimana saat menyebut
nama Tuhan, dalam berbagai bahasa, umat-umat beragama itu tidak mampu untuk
menghadapkan wajahnya sampai NTEK (hanief) kepada WAJAH Yang Maha
Meliputi segala sesuatu.
MANUSIA,
SEDERHANA SAJA …!
Sudah sangat
jamak imajinasi di masyarakat umum, bahkan sejak zaman dulukala, bahwa manusia
harus mengenal dirinya sendiri dulu baru setelah itu dia bisa mengenal
Tuhannya, man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu dalam bahasa
Arabnya. Ini sebuah pameo yang banyak beredar di masyarakat. Ada
yang menolaknya, dengan alasan bahwa ungkapan ini bukan hadits dari Rasulullah.
Orang yang menolak ini berpendapat bahwa ungkapan ini adalah bahasa para filsuf
yang bergelut di bidang FILSAFAT. Tapi adapula yang menerimanya hanya karena
ada bahasa Arabnya, atau malah ada pula orang yang meyakininya sebagai Al
Hadits. Sehingga kemudian banyaklah orang yang berusaha mencari tahu siapa
dirinya ini. Dirinya itu hilang kali ya…, atau tersembunyi entah dimana,
sehingga perlu dicari kembali sampai ketemu.
Dari hasil
pencarian itu, maka kemudian lahirlah berbagai konsep tentang diri manusia itu.
Ada yang ketemu bahwa dirinya adalah diri yang penuh dengan nafsu kotor
sehingga perlu dibersihkan dulu kekotorannya itu. Bersih-bersih diri dulu
tahapan awalnya. Maka sibuklah orang dengan laku pembersihan diri (tadzkiyatun
nafs). Tapi nggak tahu tuh apa dirinya bisa benar-benar bisa bersih
atau tidak.
Ada juga yang
ketemu bahwa dadanya kok bergolak terus dengan berbagai rasa amarah, benci,
iri, dengki, sedih, senang, bahagia yang pilin berpilin nggak terduga-duga.
Berubahnya rasa tadi itu terjadi seperti acak. Polanya rumit. Sehingga ada pula
kemudian sibuk untuk mengelola dan mengatur hati ini agar hati tersebut berada
di satu sisi saja, yaitu sisi yang bahagia, senang, tidak marah, tidak iri,
tidak benci, dan tidak-tidak negatif yang lainnya.
Kemudian dari
hasil perjalanan panjang mengolah diri dan hati itu, maka mucullah
konsep-konsep mengenai JATI DIRI, DIRI YANG SEJATI, dan sebagainya. Pada
umumnya konsep ini sangat susah untuk dipahami apalagi untuk dijalani. Sehingga
banyaklah orang yang merasa pesimis. Lalu sang pesimis menghindar dengan
menyalahkan takdir Tuhan pula. “Tuhan sudah menakdirkan saya jadi begini…,
dst.”
Padahal siapa
dan bagaimana diri kita ini yang sebenarnya sudah nggak usah dicari-cari lagi.
Nggak usah capek-capek lagi nyari kesana kemari. Tinggal kita baca satu dua
ayat Al Qur’an, dimana Sang Pencipta diri kita ini telah menerangkannya dengan
sangat jelas. Karena Dia lah yang sangat tahu tentang diri kita ini. Setelah
itu, kita lalu minta tolong saja kepada Sang Pencipta kita itu untuk memberikan
kita kepahaman, kesadaran atas ayat Al Qur’an yang menerangkan serba-serbi diri
kita itu. Sebab, kalau kita yang mencari-cari diri kita sendiri, maka hasilnya
juga hanyalah kira-kira atau persepsi saja. Masak jeruk bisa makan jeruk...!.
Nah…, Al
Qur’an dengan sangat gamblang telah menerangkan bahwa yang disebut sebagai
manusia itu hanya punya dua substansi saja, yaitu NAFS dan RUH. Nggak
lebih dan nggak kurang. Sederhana sekali. Sangat sederhana malah.
Di satu sisi,
nafs adalah substansi yang berasal dari saripati tanah yang dibentuk Allah
dengan sangat sempurna berikut dengan segala sifat, dorongan, dan
kecenderungannya. Dan di sisi lain, ruh adalah substansi yang berasal dari
Allah, sehingga Allah menyebut ruh itu dengan sangat mesra sebagai Ruh-Ku.
Allah tidak
sedikit pun menerangkan bahwa ruh itu adalah ciptaan-Nya. Allah
menyebutkan bahwa ruh itu adalah Ruh-Nya. Bukan ciptaan-Nya.
Apalagi penggambaran konyol bahwa ruh itu seperti pocong, huh…
lebih-lebih tidak berdasar lagi. Tidak seperti itu. Nggak tahu dari mana tuh
asal muasalnya imajinasi liar tentang ruh seperti itu. Allah hanya menyatakan bahwa ruh itu adalah
mengikuti rahasia dan fitrah Allah. Dan tidaklah kita diberitahu tentang ruh
itu kecuali hanya sedikit. Tapi siapa yang dapat menakar sedikit menurut
Allah itu…?. Nah temukanlah pengetahuan yang sedikit menurut Allah itu. Namun
yakinlah bahwa sedikit menurut Allah itu sungguh sangat-sangat-sangat banyak sekali
untuk ukuran kita. Seperti nggak habis-habisnya begitu…!.
Akan tetapi, kalau kita tidak mau berhenti
memahami bahwa diri kita ini hanyalah NAFS dan RUH, artinya kita masih mau
mencari tahu tentang diri kita ini lagi, memangnya mau dicari kemana…?, dan seperti apa lagi maunya diri kita ini …?.
Sudah sangat jelas begitu kok. Kita manusia ini hanyalah terdiri dari NAFS dan
Ruh. Titik….!!.
MENGUAK KESADARAN EKSISTENSIAL…
Sekarang pengetahuan kita tentang TUHAN dan tentang
MANUSIA sudah menjadi sangat sederhana. Bahwa pada dimensi ketuhanan, yang ada
hanyalah ALLAH dan ALAM. Sedangkan pada dimensi kemanusian, yang ada hanyalah
Ruh dan NAFS.
ALLAH adalah
WUJUD yang meliputi ALAM, dan alam adalah substansi yang diliputi oleh WUJUD
ALLAH. Sebutlah alam apa saja, apakah itu alam semesta, ataupun alam-alam gaib
seperti alam akhirat, alam syorga, alam neraka, alam malaikat, alam jin, alam
syetan, alam pikiran, alam khayalan, dsb. Maka semua itu PASTILAH berada dalam
liputan Allah. Karena liputan Allah itu begitu kolosal dan besarnya, maka Allah
disebut juga sebagai Sang Maha Besar. Begitu juga karena ketinggian yang tak
terukur pun berada dalam liputan Allah, maka Allah disebut juga sebagai Sang
Maha Tinggi. Artinya adalah bahwa kemana pun kita menghadap, maka yang nyata
adalah Wujud Tuhan yang meliputi segala sesuatu.
Sedangkan
untuk mengerti tentang eksistensi Ruh dan NAFS, marilah kita buka kembali peta
yang memang telah disiapkan Sang Pencipta untuk umat manusia, yaitu Al Qur’an.
Dalam surat Al Qiyamah ayat 14 Allah berkata:
“Bahkan
pada manusia itu diatas dirinya (Nafs) ada yang tahu (Bashirah).
Artinya,
sang bashirah inilah yang mampu untuk menjadi saksi atas diri manusia
itu sendiri (NAFS). Substansi macam apakah bashirah ini, sampai-sampai sang
bashirah bisa tahu tentang apapun tentang diri manusia..?.
Jawaban
pertanyaan ini bisa kita lihat dalam surat As Sajdah ayat 7-9:
“Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari
saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan
kepadanya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan
hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”.
Dan dalam
surat Al Mujadilah ayat 22:
“…Mereka
itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan
menguatkan mereka dengan RUH-NYA…”
Ini berarti
bahwa Ruh-Nya atau kita ringkas saja menjadi Ruh yang dialirkan kepada Nafs,
merupakan substansi yang selalu mengawal Nafs dari waktu ke waktu. Abadi
liputan Ruh atas Nafs itu. Hanya karena liputan Ruh atas Nafs inilah yang
menyebabkan Sang Nafs bisa mengarungi hidup baik itu di alam dunia, maupun di
alam akhirat. Ruh ini pulalah sebenarnya substansi yang hidup, yang kuat, yang
bergerak, yang melihat, yang mendengar, yang tahu. Karena memang Sang Ruh
berasal dan mendapat pengajaran dari Yang Maha Hidup, Yang Maha Kuat, Yang Maha
Bergerak, Yang Maha Melihat, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Tahu. Sedangkan
Sang Nafs hanyalah semata-mata substansi yang bersandar mengikuti apapun fitrah
dari Sang Ruh.
Kalau begitu,
substansi yang hakiki pada seorang manusia adalah Ruh itu sendiri. Tepatnya Aku
yang hakiki bagi manusia adalah Sang Ruh ini, Sang Bashirah. Sedangkan Nafs
boleh dikatakan hanyalah substansi yang tidak bisa apa-apa. Substansi yang
diam, bodoh, buta, tuli, tidak tahu. Dalam bahasa agamanya sifat dan keadaan
seperti ini disebut sebagai FANA. Ya seperti mayat begitulah, atau seperti
orang pingsan, orang koma. Atau yang paling dekat dengan kita sehari-hari yaitu
orang yang sedang TIDUR.
MERANGKAI
KESADARAN AWAL…
Sekarang mari
kita lanjutkan membenahi kesadaran kita yang selama ini tertutup tentang
eksistensi manusia dan Tuhan. Apa sebenarnya makna yang terkandung dalam
ungkapan man ‘arafa nafsahu faqod arafa robbahu di atas kalau
kita memang masih mau memakainya. Mari kita duduk rileks sejenak untuk mengenal
diri kita yang hakiki. Lakukanlah perubahan kesadaran sebagai berikut:
· Pejamkan sajalah mata dengan ringan. Kening nggak usah berkerut-kerut
seperti orang yang sedang berpikir tentang sesuatu. Santai saja.
· Sadari ada kaki kita. Kalau belum bisa sadar cobalah pegang kaki itu.
Oooo…, ada kaki saya yang berada dibawah saya. Diamlah beberapa saat untuk
meyakini dan menyadari bahwa saya berbeda dengan kaki saya.
· Lalu
sadari ada tangan kita, bahu kita. Kalau belum sadar cobalah pegang atau raba
semua itu dengan lembut sambil membawa serta kesadaran kita ke tempat yang kita
sentuh. Oooo…, ada tangan, ada bahu saya yang berada di bawah saya. Diam
pulalah beberapa saat disana untuk meyakini dan menyadari bahwa saya
benar-benar berbeda dengan tangan dan bahu saya.
· Kemudian
coba sadar ada dada kita. Amati sajalah dada itu sebatas sadar akan akan keberadaan
dada itu di bawah kita. Jangan masuk ke dalam dada itu. Karena kalau masuk ke
sana nanti kita akan dihadang oleh berbagai fenomena yang terbolak balik, enak
dan senang yang silih berganti. Nggak usah kita pedulikan dululah
fenomena-fenomena itu. Gampang itu nanti.
· Kemudian
dengan cara yang sama, sadari pulalah keberadaan mata, telinga, kepala dan otak
kita. Oooo…, ternyata kesemuanya itu juga berada di bawah saya…!. Oooo…, saya
bersaksi (syahid, syahadah) tentang ayat: “Bahkan pada manusia itu
diatas dirinya (NAFS) ada yang tahu (BASHIRAH)”, adalah benar…!!!
· Ooo…,
ternyata memang saya berada di atas semua instrumen saya, yaitu tubuh
saya dengan segala tetek bengeknya yang berasal dari saripati tanah itu. Dan
sayalah Sang Bashirah itu.
Dengan cara
yang sangat sederhana seperti ini, ternyata kita bisa tahu tentang makna hakiki
dari ungkapan man ‘arafa nafsahu, bahwa pada hahekatnya yang ada
hanyalah SAYA dan DIRI SAYA. Ada RUH dan NAFS. Ada Bashirah yang tahu atas
semua instrumen yang terdapat pada Nafs. Saya (Ruh) nyata sekali terpisah
dengan diri saya (Nafs). Akan tetapi, walaupun terpisah saya tetap meliputi
seluruh diri saya. Buktinya saya tetap tahu semua intrumen saya sampai detail.
Saya bisa tahu ada instrumen saya yang sakit, yang patah, yang luka, yang tidak
baik. Saya juga tahu saat ada anggota tubuh saya yang hilang. Misalnya, saya
tetap tahu kalau tangan kanan saya diamputasi. Bahkan saya juga tahu segala
rasa-rasa yang muncul pada diri saya seperti rasa kecewa, marah, benci, iri,
pelit, medit, tidak khusyu’, tidak ikhlas, tidak sabar, dan rasa-rasa jahat
lainnya seperti tahunya saya saat diri saya dilanda rasa senang, bahagia,
cinta, ikhlas, khusyu’, sabar, dan berbagai rasa yang baik lainnya.
Akan tetapi
saya dan tubuh saya ternyata tidak bersatu. Ya…, saya dan tubuh saya ternyata
tidak bersatu seperti bersatunya merica, garam, bawang dan kentang dalam
sebutir perkedel sehingga membentuk substansi yang lain sama sekali dari
unsur-unsur pembentuknya. Tapi sayalah yang meliputi seluruh tubuh saya.
TEGASNYA…, saya (Ruh) berada di luar dan sekaligus juga di dalam
tubuh saya (NAFS).
Janganlah
terlalu berlama-lama mengamati instrument kita tadi itu, terutama dada dan otak
kita. Karena keduanya memang punya daya tarik dan kecenderungan (Hawa un Nafs)
yang cepat sekali menarik-narik kita untuk tenggelam ke dalamnya. Kalau tidak
percaya cobalah amati otak kita agak lama, maka dengan kecepatan yang pasti,
kita akan ditarik pada file-file yang ada di dalamnya. Cepat sekali kita
dibawa dari satu file ke file yang lainnya. Sehingga kalau kita
tidak bisa keluar dari file-file fikiran itu, kita terhenti di satu atau
beberapa file fikiran itu, misalnya tiga hari saja, maka kita akan menjadi
orang yang susah tidur, atau sakit kepala, pusing dan sebagainya.
Begitu juga
kalau kita terlalu lama mengamati dada kita, apalagi sampai ke detail-detailnya
yang berupa lokasi-lokasi tertentu. Maka dengan cepat kita akan ditarik pula
masuk ke dalamnya. Kita akan dibawa melalui berbagai rasa dan pemandangan yang
sebenarnya sangatlah mengasyikkan. Akan tetapi kalau kita tidak tahu arah jalan
keluarnya, maka kita akan disekap oleh rasa itu. Bisa berhari-hari sekapan
perasaan itu melilit kita. Bahkan ada yang berbulan-bulan dan bertahun-tahun.
Cobalah kalau tak percaya…!!. Tapi sebelum mencobanya, sebaiknya kita tahu dulu
jalan keluar dari sekapan dan lilitan perasaan itu. Mari kita coba meretas
jalan keluar itu.
Begitu kita
mampu menyadari bahwa, oooo…, ternyata saya yang hakiki adalah Ruh sedangkan
Nafs hanyalah instrumen saya, maka saya harus mencari cantolan agar saya tidak
terombang ambing kesana kemari oleh daya tarik kecenderungan Nafs tadi seperti
yang sering kita alami selama ini. Coba…, sedang shalat saja, yang notabene
saat itu kita tengah memuja Tuhan, ee…, kita masih saja bisa ditarik-tarik
untuk menghadap kepada yang lain, misalnya, problem keseharian kita. Untuk bisa
keluar dari tarikan kepada selain Allah itu maka kita haruslah mencari peta
yang benar dan yang mampu mengantar kita untuk mengetahui arah cantolan atau tempat
kembali kita yang sebenarnya. Peta itu adalah Al Qur’an yang kemudian detailnya
termuat di berbagai Al Hadits.
Lalu saya
sendiri mencoba untuk membolak balik Al Qur’an dan Al Hadits itu dengan penuh
rasa keingintahuan saya untuk mendapatkan jawabannya. Dapat…!. “Innalilahi
wa inna ilaihi raji’un, aku ini adalah dari dan milik Allah dan
kepada-Nya aku harus kembali”, kata Tuhan saya memberi tahu saya dengan
gamblangnya. Dan saya pun buru-buru menyerahkan segala sesuatunya kepada-Nya. Deeerrr…!.
Maka dengan seketika itu juga saya langsung akan mengenal Tuhan saya, sehingga
ungkapan “faqod arafa robbahu” benar-benar bisa menjadi tempat
pemberhentian saya yang terakhir. Dalam segala hal…!!.
Jadi makna
dari ungkapan man ‘arafa nafsahu
faqod arafa robbahu itu sebenarnya sederhana sekali, yaitu “Innalilahi
wa inna ilaihi raji’un”. Karena memang saya ternyata hanyalah
semata-mata Ruh-Nya. Dari-Nya, milik-Nya. Sehingga tiada lagi nisbah
kepadaku melainkan hanya kepada Dia.
Apa makna
dari ungkapan ini…?. Mari kita lanjutkan perjalanan kita untuk membuka kembali
kesadaran kita terhadap Allah setahap demi setahap. Karena kita memang saat ini
sedang ter-cover. Akui sajalah bahwa kita ini memang sedang ter-cover.
Jangan malu-malu. Saya juga sedang ter-cover kok…!.
TEMPAT
KEMBALI YANG HAKIKI …
Secara
fitrah, segala sesuatu selalu punya kecenderungan untuk kembali kepada fitrah
asalnya. Saripati tanah pastilah punya keinginan untuk kembali kepada tanah
pula. Siapapun tidak akan bisa menolak bahwa saripati tanah yang boleh jadi
bentuknya berbeda-beda, misalnya, dalam bentuk tubuh manusia, tubuh hewan, dan
tanaman, pada saat yang tepat pastilah akan kembali menjadi tanah. MATI.
Oleh sebab
itu untuk kembali membuka kesadaran kita kepada yang tidak sama dengan tanah,
yang bukan tanah, maka janganlah coba-coba untuk membawa-bawa tanah itu
menghadap kepada yang bukan tanah. Jangan bawa mata untuk melihat yang
bukan tanah. Jangan bawa telinga untuk mendengar yang bukan tanah. Jangan bawa
otak untuk memikirkan yang bukan tanah. Jangan bawa dada untuk merasakan yang
bukan tanah. Karena mata, telinga, otak dan dada itu nanti akan sirna dimakan
ulat dan belatung setelah semuanya itu ditanam kembali di dalam tanah, setelah
semua itu tidak berfungsi. MATI.
Tapi jangan
pula mata, telinga, otak dan dada itu dimatikan seperti ajaran mematikan dan
menutup “hawa songo” dalam praktek kebatinan tertentu. Hanya lewati saja
kesemuanya itu seperti lewatnya angin dan cahaya di udara terbuka yang tidak
ada tumbuhan, tidak ada bangunan, tidak ada gunung yang menghalangi. Tanpa
hambatan, tanpa tekanan. Atau RILEKS dalam bahasa populernya. Seperti rileksnya
mata, telinga, otot, otak dan dada seorang bayi. Nggak susah kok untuk rilkes
ini. Sudah rileks….???.
Kalau sudah,
maka hampir secara otomatis kita akan mempunyai kesadaran bahwa kita ternyata
meliputi seluruh Nafs atau diri kita. Lalu lupakan sajalah seluruh atribut dan
fenomena Nafs itu. Lalu yang tinggal adalah SAYA, Sang MIN-RUHI, SANG
BASHIRAH, SANG AKU DIRI.
Nah…, mari
kita lanjutkan tentang bagaimana proses Sang Aku Diri ini luruh ke dalam
pelukan Sang Aku Hakiki, ALLAH:
· Sekarang munculkan afirmasi atau niat, bahwa saya tidak tahu tentang
Allah. Saya tidak tahu bagaimana cara sadar dan ingat kepada Allah
(DZIKIRULLAH). Karena yang tahu tentang Allah adalah Allah sendiri. Lagi pula…,
sudah sekian lamanya saya TERTUTUP oleh kecenderungan Nafs (Hawa un Nafs) untuk
SADAR dang INGAT kepada ALLAH. Oleh sebab itu mulai saat ini, saat ini juga,
tanamkanlah sebuah afirmasi atau niat yang kuat bahwa saya punya Tuhan yang
Nama-Nya adalah ALLAH.
· Kemudian munculkan sebuah rasa ingin yang sangat kuat (jahadu)
agar diajarkan oleh Allah tentang Allah sendiri.
“Allahumma
‘ala dzikrika”
Ya Allah
dzikirkan saya, ingatkan dan sadarkan saya.
Ajarkan
saya untuk bisa ingat dan sadar kepada-Mu.
Saya tidak
bawa apa-apa selain hanya PENGETAHUAN bahwa Engkau Maha Meliputi Segala Sesuatu
dan Engkau tidak sama dengan segala apapun juga”.
Kalau perlu
ulangilah niat untuk ingin di tuntun oleh Allah ini dengan kerendahan hati yang
amat sangat (tadarru’).
· Saya lalu mengucapkan langsung (tanpa perantara dan wasilah
apapun) kepada Wajah Sang Maha Meliputi ungkapan persaksian dan
shalawat sebagai berikut:
Bimillahirrahmanirrahim,
Asyhadu
anlaa ilaaha illallah,
Wa asyhadu
anna muhammadan rasulullah.
Allahumma
shalli ‘ala Muhammad wa’ala ali Muhammad.
· Lalu panggil-panggillah Nama Sang Maha Meliputi itu dengan teguh:
Ya
Allah…, Ya Rahman…!.
Ulangilah memanggil-manggil Ya Allah, Ya Rahman
ini beberapa kali dengan kerendahan hati yang amat sangat, sampai nantinya
muncul tarikan rohani kearah yang Maha Tinggi. Biasanya munculnya tarikan
rohani ini tidaklah terlalu lama setelah kita memanggil-manggil Allah. Paling
dalam hitungan menitan. Kalau dalam waktu 3 menit berselang belum juga muncul
tarikan rohani ini, maka jangan diteruskan. Percuma saja. Karena kalau sudah
lebih dari 3 menit tapi nggak ada tarikan rohani juga, maka yang muncul
kemudian adalah fikiran kita. Kita mulai mikirin tentang bagaimana tarikan
rohani itu, bagaimana direspon Tuhan, dan sebagainya. Kalau sudah begini maka
istirahatlah sebentar, dan kemudian mulailah lagi dari awal.
· Kalau tarikan rohani itu muncul, maka jangan takut, jangan dilawan, dan
jangan dipikirkan. Karena kalau takut, atau dilawan, atau dipikirkan, maka
seketika itu juga tarikan itu akan lenyap. Sebenarnya tarikan rohani itu
hanyalah sebuah pergerakan kesadaran kita saja dari kesadaran ketubuhan
(Nafs) menuju kesadaran yang mengatasi Nafs menuju ketidakberhinggaan. Akan
tetapi, dalam pergerakan kesadaran demi kesadaran itu kita seperti DITUNTUN.
Jadi bukan karena usaha kita sendiri lagi. Tapi dituntun, ditarik. Nah…, ikuti
sajalah tuntunan itu. Biasanya respon akibat dari adanya tuntunan itu adalah,
dada kita berguncang, atau tepatnya diguncangkan dari dalam, sehingga kita bisa
dibuat histeris, menangis dan bahkan tersungkur saking dahsyatnya tarikan
rohani itu.
· Kemudian pada saatnya, respon dengan rasa ditariknya rohani kita itu
akan berhenti dan berganti dengan munculnya rasa tenang, damai, luas yang dalam
bahasa Al Qur’an disebut dengan TALINU (lihat Az Zumar 23).
· Dan bacalah, IQRA suasana tenang, damai, dan luas itu, karena disana
sungguh sangat tidak terhingga ilmu pengetahuan maupun solusi dari berbagai
persoalan. Di wilayah itu semuanya digeletakkan begitu saja oleh Allah untuk
menunggu manusia-manusia yang mau otaknya dialiri fikiran Tuhan, yang mau
dadanya dialiri oleh kehendak Tuhan. Ya…, manusia yang mau menjadikan dirinya
sebagai wakil Tuhan, yang mau meneruskan tongkat estafet perjuangan Rasulullah.
“Sedangkan untuk bekalnya…, semuanya dari-Ku”, kata Allah menjamin. Kita
hanya tinggal memunguti bekal itu sesuai dengan kebutuhan.
· Lalu nikmatilah hasil dari IQRA (membaca) suasana per suasana itu dalam
bentuk RASA MENGERTI (NGEH).
Catatan:
Oleh sebab
itu selalulah perkuat rasa mau belajar kepada Allah, berguru kepada Allah. Lalu
tanamkan juga niat yang kuat bahwa saya akan IKUT MAU-NYA ALLAH. Sikap ini
merupakan sikap dasar yang harus dimiliki oleh seseorang yang tidak tahu dan
ingin menjadi tahu. Karena memang hanya inilah modal kita yang ada pada kita.
Dengan sikap ini kita dituntun untuk SADAR PENUH kepada Tuhan. Kalau sudah
sadar penuh kepada Allah, maka kita dengan senang hati akan ikut mau-Nya Allah.
Dan kalau kita sudah ikut mau-Nya Allah maka kita akan dituntun dari satu
keadaan ke keadaan lain, dari satu suasana ke suasana lain, dari satu
pengetahuan ke pengetahuan lain. Bukankah tuntunan Tuhan ini yang selalu kita
pohonkan dalam setiap shalat kita…?. Kita selalu mengeluhkan kepada Allah: “Iyyaka
na’budu wa iyya ka NASTA’IN…?”. Tuntun saya ya Allah…!.
· Nah…, kalau suasana ajar mengajar antara seorang hamba dengan Sang Maha
Guru, ALLAH, ini sudah bisa kita dapatkan, maka tinggal kita nikmati saja
pemahaman-pemahaman yang lainnya, misalnya:
Ø Tuhan itu siapa..?.
Tuhan adalah
yang Dzat Yang Maha Dahsyat, Sang Pencipta alam semesta dengan tidak sia-sia,
bumi, matahari, bintang-bintang, tumbuhan, termasuk diri kita. Seluruh
ciptaan-Nya bermanfaat, tidak ada yang
sia-sia. Malaikat, bahkan iblis sekalipun akan bermanfaat bagi manusia. Deerrr…!,
maka masukilah wilayah KESADARAN akan kedahsyatan Tuhan itu.
Ø Tuhan Maha Meliputi segala sesuatu.
Kita, tubuh
kita juga diliputi Nya. Amati liputan Tuhan itu terhadap jantung, darah,
paru-paru, otak, semuanya. Nafas kita juga diliputi oleh Tuhan. Amati kerja
tuhan pada tubuh kita. Ternyata karsa, keinginan, kesibukan Tuhanlah
yang bekerja atas semua yang ada di dalam tubuh kita itu. Seperti juga karsa
Tuhan terhadap alam semesta. Deerrr…!. Masukilah wilayah KESADARAN
akan kedahsyatan karsa Tuhan itu. Lalu histeris, terpana, terkapar, adalah
sebuah keniscayaan saja.
Ø Sadari akan alam RASA melihat, alam RASA
mendengar, alam RASA tahu, masuklah ke wilayah KESADARAN RASA-RASA itu tadi.
Nanti kita
akan dibawa sadar, dituntun sadar bahwa ternyata yang melihat itu
bukanlah mata saya, tapi ada rasa melihat yang mengalir melewati mata itu. Kita
akan dibawa untuk sadar bahwa yang mendengar itu ternyata bukanlah telinga
saya, tapi ada rasa mendengar yang mengalir melewati telinga itu. Kita akan
disadarkan pula bahwa yang tahu itu bukanlah otak saya, tapi ada rasa tahu yang
mengalir melewati otak saya. Begitu juga dengan rasa tenang, damai, dan
bahagia. Ternyata semuanya itu hanya sekedar rasa yang dialirkan melewati dada
saya. Amatilah semua alam rasa-rasa tadi itu. Karena disitu juga sangat kaya,
melimpah ruah, dengan pengajaran dan tahu. Akan tetapi bagi yang mau masuk ke
wilayah kearifan, maka semua pengajaran dan tahu tadi itu hanya akan dilihat
dengan selayang pandang saja. Karena semua itu adalah hijab yang akan menutupi
kesadaran kita terhadap Sang Maha Mengalirkan rasa itu kepada kita.
Ø Masuklah ke dalam kesadaran atas rasa
melihat, rasa mendengar, dan rasa tahu itu.
Nanti kita
akan dibawa kepada kesadaran baru bahwa semuanya itu ternyata adalah RASA MILIK
ALAM. Oleh sebab itu jangan diaku. Ya…, semua ternyata adalah rasa
melihat milik alam, rasa mendengar milik alam, rasa tahu milik alam. Yang ada
adalah rasa alam semesta…!. Tegasnya…, yang ada adalah alam…!.
Ø Jangan mau berhenti di kesadaran alam
semesta ini. Masuklah ke dalam kesadaran yang lebih dalam. Masuklah dengan
niat, atau afirmasi bahwa:
ü Alam
ini diadakan oleh Allah.
ü Ooo…, kalau begitu yang ada hanyalah
alam dan Allah.
ü Alam adalah qodrat dari Allah.
ü Sehingga yang ada adalah qodrat Allah
dan Allah.
ü Qodrat Allah kembalikan ke Allah
ü Sehingga yang tinggal, Yang ADA hanyalah
ALLAH.
Ø Lalu tegaskanlah:
laa ilaha
illallah
Ø Lalu bertasbihlah:
subhanallah
alhamdulillah
laa ilaha
illallah
Allahu
Akbar.
Laa haula
wala quwwata illa billah.
Ø Lalu akan muncul pekikan HU…, HU…,
HU…!
Ø Lalu akan muncul rasa patuh dan sujud
sebagai seorang hamba kepada Allah.
Ø Lalu………….!,
Ø Lalu………….!.
Nah…,
demikianlah sekilas saya mencoba menggambarkan secara verbal sebuah proses yang
kalau dialami langsung akan jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar bahasa
tertulis seperti ini. Nah silahkanlah masuk sendiri-sendiri ke dalam suasana
dan kesaksian seperti di atas. Maka anda akan menangguk manfaat yang tak
terkirakan.
MEMAKAI
BAJU KESADARAN…
Begitulah…,
kalau kita mau dituntun oleh Allah suasana per suasana, maka tinggal kemudian
suasana itu kita pakai sebagai “baju” kita sehari-hari. Misalnya, saat diri
kita ditimpa oleh berbagai masalah yang rumit, kita langsung saja buru-buru membawa
masalah itu kepada Allah. Dan dengan sangat mengherankan kita akan ditarok di
atas masalah itu sehingga kita tinggal memunguti solusi yang cocok untuk
menyelesaikan masalah itu. Walau pun nanti hasilnya tidak sesuai dengan apa
yang kita inginkan, itu masalah lain lagi. Nggak usah dicampur adukkan antara
hak kita dengan hak Allah. Percaya sajalah bahwa Allah tahu persis apa-apa yang
terbaik buat kita.
Apapun
juga…, omongkanlah kepada Allah,
berbisiklah kepada Allah. Karena Allah memang adalah satu-satunya ALAMAT yang
sangat jelas untuk tempat kita menyampaikan segala sesuatu. Kalau alamat ini
kabur, nggak jelas, maka itu namanya kita sedang kafir terhadap Allah. Oleh
sebab itu sadarkanlah diri kita atas keberadaan alamat itu. Ini nih…!.
INI….!. Hu…, hu… hu…!. Nggak usah dicari jauh-jauh ke langit yang ke tujuh
atau ke alam-alam malakut, alam jabarut, alam lahut, dan alam-alam lainnya. Deerr…!.
Lalu duduklah di sini memunguti jawaban Allah (Makhraja) atas persoalan
kita. Kalau sudah begitu, maka kita setidaknya bisa merasakan cipratan rahmat
sebagaimana dirasakan oleh para penyambung tangan Rasulullah. Yaitu para
sahabat Rasulullah dan wali-wali Tuhan. Karena sahabat dan penerus Rasulullah
itu artinya adalah orang yang sadar penuh terhadap Tuhan. Sadar penuh.
DZIKRULLAH. Sedangkan si Deka hanyalah wali dari Karima Yuridawati, anak saya.
Sekian. Hanya
Allah yang Maha Tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar