Puncer bahasannya adalah masalah ikhtiar. Tanpa ikhtiar apalah arti doa, dan sebaliknya. Tapi kenapa orang tak pernah doa kok bisa sukses, juga faktanya kenapa orang yang tak ikhtiar ngapa2in rejekinya lantjar djaja...?
Mbouwlet, ruwet, ruket, sepet, seret, puret, mengkeret.... Begitulah ketika terjadi dialog masalah itu.
Wuuussshhhh......sedooottt...sebuuulll....#ambegan sik rek
Iradah manusia itu seperti seni olah pernafasan. Ditarik, ditahan, diarahkan kemana, dengan tujuan apa. Entah untuk kesehatan, kekayaan, aji kawibawan, ilmu kebal perisai badan, aji pelet sak mlethet e dll... Dan semua proses itu dikawal dengan sebuah krenteg, bisa dinamakan do'a, aji2, LOA, aktifasi subconscious mind dll...
Dan setiap perolehan itu akan mempunyai konsekwensi uji coba. Kalo kita berlatih untuk kekebalan atau kedigdayaan, maka otomatis aura dan energi yang datang juga hal2 seperti itu. Ketika kita sudah bisa kebal, eh ...entah mengapa kok kehidupan kita selalu bertemu dengan orang2 yg ngajak berantem adu nyali dan sejenisnya.
Demikian juga kalao kita mempelajari pelet, entah mengapa aktifitas kita disibukkan dengan kerumitan hubungan lawan jenis yang tak kunjung usai... dst
Intinya, di luar masalah pernafasan, kehidupan nyata pun demikian adanya. Kalao kita ini pingin segala cita-cita kehidupan dunia tercapai, entah segera naik pangkat menjadi supervisor, bisnis lancar, terkenal dll, pastilah aura ujicoba itu mengikuti. Ya, lelah tak berujung....
Sebab bila kita tak sadar akan fakta itu, maka kita akan semakin kelelahan mencari rasa syukur dan ketenangan hidup. Karena kehidupan kita sehari-hari disibukkan dengan menambal sulam kebobolan-kebobolan hati akibat terkabulnya aura iradah cita-cita kita sendiri yang tak pernah kita sadari.
Dan anehnya, dalam hal ini setiap manusia merasa bahwa ikhtiar itu lebih dari 99%, bahkan 100% karena fakta proporsi doa / ibadah untuk mencapai hal itu memang demikian. Tetapi entah ketika iradah keinginan manusia tak tercapai dengan rintangan yang tak terduga samasekali, tiba-tiba trend Tuhan melonjak drastis kayak saham digoreng jadi berganti 99%, bahkan 100%, diburu dengan nilai hidup berapapun.
Inti ringkasnya, sesungguhnya melihara sapi itu ya harus menyiapkan kandang yang lebih besar dari sapi itu sendiri, juga siap dengan tlethongnya yang bwuauk itu.... win or lose?
Jadi, monggo berikhtiar sebaik mungkin dengan mempersiapkan kelegowoan hati dan raga untuk membersihkan tlethongnya. Daripada tak terasa semakin numpuk menyelimuti diri, lalu tiba-tiba kita menganggap orang dan sekeliling diri kita yang bauk. Fetakompli.
Demikian penjelasan ala kadarnya dan sekedar Be'e masalah iradah manusia.
*
Nah sekarang iradah Tuhan. Lebih simpel, lebih jelas, tidak menyiksa dan lebih mudah....
Iradah Tuhan seperti dasar nafas itu sendiri. Tak perlu diolah, diarahkan dan ditahan-tahan. Cukup dinikmati alirannya saja, sekhusyu'-khusyu'nya, senikmat-nikmatnya, serileks-rileknya. Beginu aje penjelasannya... he he
Karena sekuat-kuatnya olah iradah manusia, ia akan menyerah pada iradah "nafas" Tuhan yang mengalir beserta Cahaya Rahma tanpa henti, tanpa diminta, tanpa harus menjadi intelektual, tanpa harus alim, tanpa nunggu tajir, tanpa diolah-alih, tanpa perlu digdaya atau lemahnya keadaan seseorang.
Karena fitrah manusia yang lemah ini hanya butuh melapangkan dada yang sesungguhnya kesemuanya itu tak perlu olah iradah. Cukup merasakan kehadirannya.
Dan ketika manusia sudah memahami iradah Tuhan, maka baik dan buruk takdir tetaplah menjadi hikmah dan kenikmatan, menjadi sumber-sumber ilmu baru.
Ia tidak lagi terhenti pada pertikaian dan penilaian baik buruk. Ia telah menjadi cah angon yang mampu menek blimbing yang lunyu itu. Setiap kesalahan, keapesan, kelalaian dan kebodohan yang telah terjadi adalah terpahami sebagai lulur untuk menguliti kerak dodhot iro.....
Perjalanannya bagai air. Bisa melewati orang-orang yang berwudhu, bisa menjadi air comberan yang menjijikkan, bisa melewati mulut dan berakhir di ujung kemaluan seorang presiden atau wong mbambung, bisa memasuki laboraturium ilmiah tercanggih, bisa juga lebur bersentuhan dengan gadis seksi dan cowok macho di pemandian umum...he he he....alias sak karepe sing nglakokno
Tetapi air tetaplah air yang akan berujung ke samudera dan menguap ke langit, yang siap diturunkan lagi menjadi berkah kehidupan bumi.
Ilmunya adalah hikayat Khidir yang berjalan di atas air. Bukan berjalan di atas air seperti film pendekar yang bisa mengambang berjalan dengan dua tapak kaki di atas air. Tetapi memaknakan ia yang telah mampu mengikuti perjalanan cerita air hidup dimana di dalam kitab suci telah termaktub bahwa segala kehidupan berasal dari air. Be'e lho yo...
Sukiyan dan maacih.....
Dody Ide
#Karena menjadi jawara di iradah manusia belum tentu menjadi jawara di iradah Tuhan, dan sebaliknya. But all about perception.
https://soundcloud.com/dody-ide/air-hidup
Tidak ada komentar:
Posting Komentar