Dengan santainya Kyai Ngewes memberi hadiah sahabat kesayangannya sebuah lagu sedih. Sang sahabat rupanya bingung.
“Bro! ngapain sih loe kasih gue lagu nglangut kayak gini…mana syairnya anak yatim lagi…”
Kyai Ngewes dengan cengar – cengir menjawab “Lagu adalah cara penyampaian terindah sepanjang masa…bayangin bila gue ceritain syair itu kayak orang nalqin mayat…hai fulan, nanti kamu akan bertemu ini…nanti kamu akan begini…maka kamu harus begini… apa loe kagak bakalan marah besar ama gue?
“Terus maksud loe kasih lagu tema yatim ini apa…? Emangnya gue lagi sedih apa! Kok dikasih lagu hiburan kayak gini” Tanya sahabat.
“Emm…enggak sih…cuman pengen kasih hadiah loe aja…”
“Ah, gak mungkin…tiap orang kasih sesuatu pada orang lain, pasti ada apa – apanya…”, Sang Sahabat rupanya penasaran.
“Swear! Gak ada apa – apanya…lha wong namanya yatim itu ya kagak ada apa – apanya…”
“Ah, Mulai gak nyambung nih! lagak kamu gak berubah…selalu kesana kemari kalau mau menyampaikan sesuatu…malah bikin bingung aja…”
“Emangnya loe siap kalau gue to the point langsung ngomong apa adanya?”
“Udah ngomong sonooo…"
"Emmm...begini...sebentar lagi loe akan mengalami suatu yang di mata orang umum adalah sebuah penderitaan. Padahal itu sebuah berkah langit yang tidak semua orang mendapatkannya ataupun mau menerimanya. Dan ini lumayan berjangka waktu lama..."
"Nah..kan...mulai nakut nakutin nih!"
"Ya sudah, kalo loe takut, kagak gue terusin....percuma... walau akhirnya loe tetep ngadepin itu semua lho..."
"Ah! selalu bikin kesel aja...ya udah, ceritain apa adanya dah..."
" Oke, kalau pingin denger serius, gue terpaksa pakai bahasa Indonesia model Jawa Timuran aje...biar kagak kagok...he ..he...he..."
Dadi,ngene lho rek...
Menurut kabar dari pusat data yang turun, sampean akan mengalami sebuah proses keyatiman yang agak berkepanjangan. Dan yatim bukanlah terhenti pada proses dimana kita ditinggal orang tua.
Tetapi yatim adalah proses kesendirian yang memang berasa seperti tak beribu tak berbapak...itulah inti surat Al Ikhlas...sebuah proses pendidikan Tuhan kepada hambanya agar meletakkan ketergantungan hidup pada yang Ahad"
"Maksudnya?"
"Awalnya memang sampean akan ditinggal oleh beberapa orang yang sampean tuakan. Bisa orang tua kandung, mertua, tokoh spiritual dan sejenisnya...setelah itu orang - orang sebaya yang selama ini sampean harapkan dekat malah menjauh dengan urusannya sendiri...bisa saudara, bisa pasangan hidup atau rekan kerja..kemudian orang - orang dekat yang di bawah umur sampean juga demikian. Entah anak, adik ataupun lainnya...
Terkadang kemakmuran - kemakmuran hidup yang sampean raih hanya meninggalkan sisa tuk bertahan hidup...dan bersyukurlah ...karena ini memang awal prosesi Tuhan menjadikan hamba seorang kekasih..."
"Halah! kerjaan kamu ini sukanya bikin orang frustasi hidup aja! orang kesepian dan menderita kok malah disuruh bersyukur...ancen Kyai Gendheng!"
"Kan Sudah saya bilang, ini adalah berkah langit yang di mata umum adalah penderitaan...kalau nggak mau ya sudah...toh kabar ini bukan untuk kepentinganku..."
"Ya wiiiis...terusnooo...."
"Tahap ini adalah tahap sodaqoh jiwa...tahap yang hampir semua orang tak mau bersedekah model ini...tahap merelakan kehidupan yang sampean cintai tuk dikembalikan kepada Sang Maha Hidup.
Agar setelah itu sampean mendapatkan cahaya kasih sayang sesungguhnya, yang selama ini tak pernah sampean dapatkan dari orang - orang dekat yang sampean harapkan...
Cahaya Ahad ini hanya bisa digapai orang - orang yang pernah menghadapi proses keyatiman. Sedekah dan yatim ini memang satu paket laiknya dua sisi mata uang yang tak terpisah. Sedekah adalah siddiq alias benar, yatim juga benar.
" Kamsudnya?"
"Siddiq adalah membenarkan sebuah keyatiman, kesendirian, keahadan!"
"Halah! tambah mbulet...! tunjek point aja kenapa sih!"
"Emm...begini...banyak orang mengeluh saat mengalami musibah entah ditinggal mati orang yang dicintai atau perkara hartanya semakin ludes... Saat ia tersadar, ia mempunyai perenungan bahwa ia kurang sedekah...padahal disisi lain ia telah merasa cukup bersedekah...sehingga tak menemukan jawaban atas musibah itu....padahal musibah itu adalah akibat dari sedekah..."
"Loh...loh...Kyai ini gimana sih!? mosok orang sedekah kok malah apes kena musibah!? fatwa macem apa ini!"
Wak Yainya cuma ketawa - ketiwi...
" Heks...heks...heks....kan udah saya bilang dari awal...ini menyangkut berkah langit yang di mata awam adalah musibah..."
"Mbuh kah...sampeyan iki memang nggemesno...nggarahi mangkel ae....ya wis, monggo dilanjut..."
"Gini dulur, saya ulangi ya, sedekah berasal dari kata siddiq yang maknanya membenarkan. Proses dasarnya adalah melepaskan materi yang merasa sampean punyai..."
"Terus hubungannya...?"
"Kebenarannya adalah proses pencarian jati diri manusia, bahwa manusia bukanlah terhenti mahluk materi. Coba sampean pelajari buku IPA anak sampean itu lho...yang sederhana aja...gak usah ndakik - ndakik..."
"Halah! mulai gak nyambung lagi nih..."
Kyai Ngewes rupanya masih nerocos aja...
"Lihatlah pelajaran ilmu dasar dari orang yang katanya tak beragama itu...materi bila ditingkatkan derajat geraknya akan menjadi energi...dan energi bila dipercepat akan berubah menjadi cahaya...
Dan tahukah sampean bahwa di alam ini tak ada lagi kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya? dalam ilmu pengetahuan, cahaya adalah derajat tertinggi...dan sedekah adalah proses men"siddiq"kan manusia dari yang selama ini tertahan di dunia materi menuju pada peradaban terunggul, peradaban tercepat, derajat tertinggi...Cahaya!"
Hekekeks..jadi kalau ada orang bersodaqoh tetapi berharap imbalan materi berlimpah, itu berarti sodaqoh yang belum siddiq. Limpahan materi dari sodaqoh itu cuma sekedar imbalan atas yakinnya sampean mempraktekkan sedekah. Tetapi sedekah tertinggi bukanlah itu...kata orang Jawa, itu bener tapi masih gak pener, benar tapi tidak tepat...sudah mau beribadah, tapi belum ikhlas...
Peradaban sedekah yang mencahaya seperti Mi'rajnya kanjeng Nabi yang memakai kendaraan buraq. Sehingga kabar seribu tahun dapat diringkas menjadi satu hari...Ya, karena buraq sesungguhnya adalah berasal dari makna barqun alias kilatan cahaya..
Hal ini bisa terjadi karena beliau telah mensedekahkan seluruh hidupnya bagi manusia sekitar. Beliau juga telah yatim sejak lahir adalah modal awal yang kita belum tentu kuat menanggungnya...
Itulah kenapa juga sahabat beliau diberi gelar Abu Bakar Siddiq. Pembenaran peristiwa Isra Mi'raj oleh Abu Bakar bukanlah semata - mata taqlid buta, melainkan karena pemahaman Abu Bakar mengikuti pemahaman cahaya yang berasal dari proses pensedekahan hartanya secara total untuk Rasulullah.
Pahamilah dulur, memang begitulah sifat ilmu yang diantarkan oleh kecepatan cahaya...ia akan melampaui masanya...ilmu yang diantarkan cahaya akan lebih progreess satu juta kali lebih cepat dari ilmu yang diantarkan oleh suara....
Jadi kalau sampean mengaji hanya bermodal mendengar suara dari pendakwah, belum tentu sanggup merubah diri bila tanpa sampean barengi dengan pencarian hakiki siddiq, yatim dan Cahaya di atas cahaya...
"Mbulet maneeeeeeeh......apa sih maksud pembicaraanmu, Yai ngeweeeess....!?"
"Cobalah sampean baca buku IPA sederhana itu, dulur...kecepatan suara 314 meter per detik, sedangkan kecepatan cahaya 300.000 Km per detik...apa omongan saya salah kalu cahaya lebih cepat sejuta kali dari suara?
Ketika sampean telah sampai bersodaqoh, ber"siddiq" dengan benar, maka sampean akan mudah memahami segala omongan - omongan para juru dakwah itu...bahkan sampean dengan mudah men"siddiqkan" para juru dakwah itu bila ia salah ngomong...karena derajat sampean adalah cahaya yang kecepatan datangnya pengetahuan melebihi suara...
Jangan heran kalau proses turunnya iqra dihantarkan oleh malaikat. Sebab sudah dijelaskan bahwa malaikat terbuat dari cahaya.
Ketika hati Muhammad terselubungi Jibril, maka beliau mulai bisa membaca dan menjelaskan pelajaran cahaya. Tetapi kecepatan cahaya itu bagaimanapun harus ditransliterasikan, diperlambat energinya menjadi suara. Ya, sebab beliau harus berdakwah sesuai dengan kemampuan manusia umum, kemampuan komunikasi, kemampuan suara...!
Dan yang dimaksud membaca atas nama Tuhan adalah membaca nama nama Tuhan yang berasal dari cipratan cahaya dari Nur ala nur itu sendiri...
Cahaya - cahaya inilah yang menjadi ilmu dasar berislam. Kita menyebutnya Asmaul Husna. Dan cahaya awal kehidupan adalah Cahaya Kasih Sayang, Nur Rahman Rahim. Cahaya awal ini yang menjadikan manusia guyub hidup sentosa dan menjadi bekal awal bertuhan. Tanpa cahaya kasih sayang, nonsense manusia bisa memahami apa itu agama.
Jlentrehannya, sebelum Mi'raj, sampean haruslah Isra secara benar. Dimana Isra yang memaknakan hubungan horizontal haruslah secepat perjalanan Masjidil Haram menuju masjidil Aqsa. Yang memaknakan bahwa proses sampean dalam berkehidupan haruslah mempunyai hati yang plas...! hati yang tak yang tak terhalang sifat dengki, dendam, curiga, menilai dan menghakimi...hati yang berserah salam,Islam..
Masjidil Haram yang memaknakan bahwa kita haramkan hati mensujudi, menyembah atau membahas selain Allah. Jangan sampai hati kita sujud tahluk pada sifat iri dengki benci dan curiga...
Masjidil Aqsa yang mengartikan tempat sujud yang Jauh. Dimanakah tempat sujud paling jauh?
Hekekeks....lihatlah jidat sampean yang mulai menghitam itu...tiap hari sampean ajak sujud berkali kali ke tanah...tetapi kerjaan mahluk yang di dalam jidat sampean selalu merasa jauh dengan Tuhan. Merasa bisa sendiri tanpa bantuan dari Tuhan.
Bayang - bayang dalam jidat sampean masih lebih akbar daripada Tuhan...padahal mulut sampean tiap hari berkali - kali dengan gagah berani berucap Allahuakbar...
"Heks!...", Sang Sahabat terbelalak tidak terima pernyataan itu....Namun Kyai Ngewes terus ngowos aja...
Ketika sampean telah memahami perjalanan antar masjid dalam diri, maka disitulah sampean mengerti apa itu siraathal mustaqim, sebuah jalan tengah, jalan lurus tuk mendudukan segala ilmu dan persoalan pada tempatnya.
Sehingga ilmu yang sampean miliki tak akan pernah bentrok dengan seorangpun dari milyaran manusia di bumi. Inilah ilmu selamat, salam, Islam...
"Oooooh...."
"Ah oh ah oh ae reeek...ngerti gak!?"
"Ngerti, Yai bro...lanjooot..."
Kalau sampean bener - bener minat tuk di Iqra'kan memahami seluk beluk kitab suci, maka wajiblah sampean berbuat santun dan menyenangkan hati sesama penghuni bumi.
Bukankah ada hadits yang menyebutkan sayangi yang di bumi maka kamu akan disayangi yang di langit...? tentunya pusat langit adalah Nur ala Nur...Cahaya Maha Cahaya Yang Maha Hidup...sebuah Pusat Hidup Arasy yang digambarkan berada di atas air...Ya, Cahaya yang mencair...Air yang Mencahaya...hmmh...silahkan bayangkan sendiri bila sampean berendam di lautan cahaya itu..."
Dan tentunya semua perjalanan ini adalah sendiri, tanpa teman. Semakin hari semakin kesepian, ditinggalkan dan terasing. Full Yatim!
Inilah yang dimaksud Islam datang dengan keterasingan dan berakhir dengan keterasingan... dan Inilah yang dimaksud menuntut ilmu mulai bayi sampai liang lahat...berawal dari kesendirian saat lahir, menuju kesendirian saat mati. Sebuah proses Keahadan, kesendirian"
"Hiiiii.....ngerrriii Yai brooo..."
"Lho? Bukankah selama ini sampean ingin memiliki semuanya secara sendiri dan bersifat pribadi? rumah sendiri, komputer sendiri, mobil sendiri, perpustakaan pribadi, baju pribadi...semua ingin sendiri pribadi tanpa dicampuri hak umum..
Tetapi kenapa ketika sampean diberikan kesendirian secara mutlak kok malah takut akan kesendirian itu..? hekekekeks....
Padahal ruang kesendirian yang hakiki bagaikan Gua Hira'...secara bayangan fisik sangat sempit, panas dan keras...tetapi disitulah timbul Iqra - Iqra pengajaran yang tak ternilai...hingga mengajarkan sampean mampu ber isra' berhablumminannas dengan lega hati dan bermi'raj berhablumminallah bertabur Cahaya Rahma yang menyejukkan.....
Tanpa disadari Kyai Ngewes, karena terlalu panjang berkhutbah rupanya sohibnya sudah ngiler tertidur pulas...
"Kurang ajar! ngomong serius malah ditinggal tidur...! hrrrgghh...tapi gapapalah...bagaimanapun ia adalah bagian jiwaku...semoga sohibku ini ikhlas melewati segala cobaan hidup yang akan dihadapinya...dan semoga ia menemukan malam seribu bulan dalam hidupnya... haaaaammmmmiiiiiinnn...."
Wassalam
Dody Ide, makmum ngowos
www.padhangjingglang.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar