Pada kesempatan yang
baik ini saya akan mengajak saudara sekalian untuk menjenguk jiwa kita yang menderita
akibat beban yang terlalu lama di tanggungnya. Rasa lelah itu mengakibatkan
ruhani menjadi kering dan hampir saja sakit jiwa, karena tidak dapat
menghindari eksekusi berupa ancaman-ancaman dosa dan beban tuntutan
melaksanakan kebaikan-kebaikan serta meninggalkan larangan aturan agama yang
sering disampaikan dalam setiap pertemuan pengajian.
Selama ini aturan agama formal telah dijadikan alat kepercayaan
yang dibebankan terus menerus secara eksternal. Misalnya kalian harus baik,
kalian tidak boleh iri, tidak boleh marah, tidak boleh berbuat riya', tidak
boleh syirik, dan kalian harus sabar, harus mencintai Tuhanmu dan Rasulmu,
harus mencitai sesama muslim sebab jika tidak, kalian termasuk tergolong orang
yang harus masuk neraka dst. Keadaan ini bersifat 'top down' diwarisi secara
turun temurun dari ulama', kyai, ustadz, kitab-kitab atau ditanamkan melalui
keluarga dan tradisi. Akan tetapi sebenarnya aturan formal agama hanyalah
merupakan alat pemandu atau peta kebenaran yang muncul dari jiwa, karena jiwa
sendiri memiliki potensi keagamaan secara fitrah. potensi-potensi kebaikan itu
tidak bisa dipaksakan seperti kita memaksa orang harus terharu, menangis,
tersenyum, bergembira, berbahagia, mencintai dll. Hal ini akan sangat aneh jika
anda harus tertawa, sedangkan anda sendiri tidak merasa perlu & harus
tertawa, atau rasa RINDU itu tidak bisa di katakan "anda harus
"rindu" kepada si Ani. Jika jiwa anda tidak merasa mencintai si Ani,
hal ini akan sangat berbahaya bagi kesehatan jiwa anda kalau tetap dipaksakan
untuk "harus" berbuat Rindu atau mencintai si Ani. Alqur'an dalam hal
ini memandu dan mengarahkan bakat yang muncul dalam dirinya. atau menunjukkan
ciri-cirinya saja antara orang yang sudah mendapatkan keadaan iman maupun yang
masih tertutup oleh cahaya ilahy, sehingga hampir selalu pada setiap ayat
mendampingkan perbuatan jahat dengan perbuatan ketakwaan.
Jiwa manusia memiliki dua potensi yang sama kuat. yaitu potensi
jahat dan potensi baik. Kita merasakan potensi jahat itu tidak pernah kita
pelajari, misalnya saya tidak pernah belajar syirik, iri, dengki, tidak
khusyu', marah, dan benci kepada sesama. semuanya itu muncul dari dalam potensi
jiwa tanpa proses berfikir yang disampaikan secara eksternal ~ kita cukup
mengikuti apa kata jiwa yang jahat tersebut tanpa beban. Seperti bila kita
perhatikan orang-orang yang pergi malam-malam ke diskotik, ~ mereka tidak
mempedulikan udara dingin menerpa tubuhnya yang setengah terbuka, serta
bagaimana mereka mempersiapkan dirinya dengan serius sebelum meluncur ke lokasi
tersebut. Dari dandanannya harus paling wah, hingga parfum dan make-up nya
tampak menor ~ disana ia berdansa dan mabuk sampai pagi.
Semua apa yang dilakukan orang tersebut tidak merasa dibebani oleh
orang lain, akan tetapi ia hanya mengikuti kata jiwanya secara merdeka dan
merasakan kepuasan dan keasyikan tersendiri. Contoh lain ialah orang yang
senang menyembah atau mengagungkan benda-benda keramat berupa patung, keris,
ajimat, mereka mengagumi seperti mengagumi selayaknya kepada Tuhan. Sebagaimana
difirmankan dalam Alqur'an :
Dan mereka itu telah dimesrakan dalam hati-hati mereka untuk
menyembah anak lembu dengan kekufuran mereka (QS. Al Baqarah: 92).
Atau beberapa kalimat lain yang senada dengan itu,
penyembah-penyembah berhala itu sangat mencintai berhalanya, seperti firman
Allah:
Di antara manusia ada yang menjadikan sekutu-sekutu selain Allah,
mereka itu mencintainya seperti cintanya kepada Allah, sedang orang-orang yang
beriman lebih mencintai Allah. (QS. Al Baqarah:165)
Selanjutnya Allah menjelaskan bahwa mereka itu mengikuti jiwanya
(nafsu) yang cenderung untuk berbuat sesat tanpa pimpinan Allah.
Kalau mereka itu tidak memperkenankan seruanmu, maka ketahuilah
sesungguhnya mereka itu mengikuti hawa nafsu (kecenderungan jiwa) mereka. (QS.
Al Qashash:50).
Kita disadarkan oleh ayat ini, bahwa orang-orang yang sesat dalam
melakukan suatu perbuatan kejahatan (kesesatan) sebenarnya hanyalah mengikuti
potensi yang muncul dalam jiwanya (nafs), yaitu rasa mencintai dan
dimesrakan/dimanjakan dengan perbuatan tersebut, sehingga jiwa tidak merasa
terbebani oleh karenanya. Maka jangan heran jika kita sering melihat orang yang
berbuat kesesatan dengan sangat mudah melakukannya dan tampak 'menikmati' nya.
Bandingkan dengan orang yang melakukan perbuatan kebaikan (ketakwaan), tampak
sekali beban di raut mukanya tidak merasa nyaman didalam melakukan peribadatan
seperti shalat, zakat, berdzikir, haji, karena semuanya dilakukan oleh dorongan
dari luar dirinya bukan yang muncul dari potensi jiwanya ~ yang akibatnya akan
menjadi jenuh dan depresi. Hal inilah yang dikritik oleh Allah bagi peshalat,
sehingga mereka hanya mendapatkan rasa capek dan penat, atau orang yang
berpuasa hanya mendapat rasa haus dan lapar ~ karena perbuatan yang dilakukan
bukan berasal dari potensi jiwa yang baik.
Potensi jiwa merupakan kekuatan yang sama tuanya dengan sejarah
ummat manusia, namun konsep ini baru pertama kali dikembangkan secara utuh
dalam ilmu psikologi yang digagas oleh Sigmund Freud pada abad 18, atau
penelitian yang di lakukan oleh Danah Zohar dan Ian Marshall tentang kecerdasan
spiritual.
Pada awalnya, Freud menetapkan dua proses psikologis, primer dan
skunder. Proses primer diasosiasikan dengan id, insting, tubuh, emosi dan bawah
sadar, sedangkan proses skunder diasosiasikan dengan ego, kesadaran dan pikiran
rasional. Bagi Freud, proses sekunder adalah lebih tinggi dan unggul, sehingga
tidak heran pada masa itu orang banyak memuja rasionalitas, sedangkan Al
Ghazali menentang dengan tegas rasionalitas yang di-agungkan oleh kaum
Mu'tazilah. Al Ghazali lebih mengunggulkan konsep ilahiyah yang muncul dari
pusat jiwa.
Demi Jiwa ,serta penyempurnaanya.maka Allah mengilhamkan kepada
Jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan (QS. As Syams:7-8).
Potensi jiwa yang baik dan potensi jiwa yang jahat dalam Alqur'an
sering diungkapkan dalam bentuk berita atau menunjukkan keadaan masing-masing ~
bukan menggunakan kata perintah (amar) atau larangan ( nahyi). Hal ini
menunjukkan bahwa perbuatan tadi tidak bisa dilakukan tanpa ada perasaan yang
mendorong untuk berbuat. Keadaan ini yang dikatakan sebagai hal (kenyataan)
yang muncul dalam jiwa, maka manusia hanya mengikuti kata jiwa tadi ~ seperti
peristiwa yang dialami oleh nabi Yusuf as.
Wama ubarriu nafsi inna nafsa la ammaratun bis su'....dan Aku
tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) , karena sesungguhnya nafsu (jiwa)
itu selalu menyuruh kepada kejahatan ....(QS. Yusuf:53).
Dan nafs (jiwa) yang jahat tadi merupakan potensi yang mengalir
tanpa melalui proses berfikir ~ kita tinggal mengikuti alur rasa jahat tadi
tanpa beban, kecuali jiwa yang telah di rahmati oleh Allah yang memiliki
potensi kebaikan ~ maka rasa kebaikan itu akan muncul begitu saja, terharu
tatkala disebut nama Allah, rasa kasih sayang yang tinggi menyelimuti hati,
rendah hati,selalu cenderung berbakti kepada Allah serta merasakan kenikmatan
dan kekhusyu'an didalam shalat, maupun beribadah lainya. Keadaan ini tidak bisa
dipaksakan, sebab rasa tadi muncul dari fitrah jiwa yang dirahmati oleh Allah.
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah),
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.
Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, (itulah) agama yang lurus, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Ar Rum: 30 ).
Fitrah manusia memiliki potensi keagamaan yang lurus, yang selaras
dengan keinginan Allah, keinginan itu diaktualisasikan kedalam kitab suci,
sehingga ketika orang didalam jiwanya muncul potensi ingin memuja Tuhannya,
maka Allah telah membuat aturan-aturan didalam pemujaan ~ seperti shalat,
dzikir,dan beramal shaleh lainnya. Seluruh aturan itu bersifat fitrah dan
disepakati oleh potensi agama yang ada dalam jiwanya. keadaan jiwa orang
kafirpun memiliki potensi kejiwaan untuk memuja Tuhan, akan tetapi aturan yang
mereka pilih didalam memuja Tuhan menemukan cara yang ia dapati oleh doktrin
agama yang mereka anut, namun rasa ingin memuja itu sudah ada dan mengalir
tanpa melalui proses berfikir. Atau potensi rasa cinta seseorang yang muncul di
dalam dirinya terhadap lawan jenisnya, ~ potensi ini bersifat fitrah dari
Tuhan. Namun jika orang tersebut tidak mengetahui bagaimana harus mengarahkan
percintaannya, maka orang tersebut bercinta tanpa aturan atau disebut berzina.
Seperti saya sampaikan diatas bahwa potensi kebaikan pada manusia
sudah ada sejak ruh manusia ditiupkan oleh-Nya. Alqur'an hanya sebagai hudan
(petunjuk jalan) bagi orang yang bertakwa (orang yang sudah mendapatkan ilham
ketakwaan ) dzalikal kitabu laa raiba fihi hudan lil muttaqin. Maka kalau kita
perhatikan, potensi-potensi jiwa tadi didalam alqur'an tidak ditulis sebagai
sebuah perintah atau larangan. Alqur'an hanyak mengung-kapkan keadaan, suasana,
ciri-ciri, orang-orang yang telah merasakan potensi tersebut. misalnya tentang
potensi khusyu' bagi orang yang beriman dalam Alqur'an berikut ini :
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu)
orang-orang khusyu' dalam shalatnya. (QS. Al Mukminun: 1-2).
Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila
disebut Nama Allah gemetarlah hati mereka , dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat Nya, bertambah iman mereka dan kepada Tuhannya mereka bertawakkal
(QS. Al Anfaal: 2).
Apabila Al qur'an dibacakan kepada mereka, merekapun menyungkur
atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata : Maha Suci Tuhan kami,
sungguh janji Tuhan kami pasti dipenuhi.Dan mereka menyungkur atas muka mereka
sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu' (QS. Al Isra' : 107-109).
.....dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami
pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat allah Yang Maha Pemurah kepada mereka
menyungkur dengan bersujud dan menangis .. (QS. Maryam: 58).
Pada ayat lain Allah mengungkapkan orang-orang yang memiliki
potensi jahat yang muncul dalam jiwa. seperti pada surat berikut ini :
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan
membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri
dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat itu) dihadapan manusia. dan
tidaklah mereka menyebut Nama Allah (dzikrullah) kecuali hanya sediki sekali .
(QS. An nisa : 142).
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan
penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang berat (QS. Al Baqarah:
7).
Dalam hati mereka ada penyakit lalu ditambah Allah penyakitnya,
dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta (QS. Al
Baqarah:10).
Mari kita perhatikan bentuk ungkapan ayat-ayat diatas, baik kepada
orang yang memilki potensi baik (taqwa) maupun yang berpotensi sesat (fakhsya)
~ keduanya diungkapkan dalam bentuk berita atau hal, bukan bentuk perintah atau
bentuk larangan ~ karena keduanya keluar dari potensi jiwa secara fitrah.
Seperti dikatakan bahwa ciri-ciri orang beriman apabila disebut Nama Allah
bergetar hatinya, menyungkur dan menangis, atau Al Qur'an hanya mengatakan
sungguh beruntung orang beriman yang apabila shalat selalu khusyu', ~ hal ini
tidak bisa kita mencoba memaksa menangis, bergetar hati, khusyu' dll. Demikian
pula ungkapan bagi orang yang memiliki potensi jiwa jahat. Al qur'an
menjelaskan kenyataan jiwa kepada kita sebagai pemandu atau barometer keadaan
jiwa kita, yaitu kenyataan jiwa yang beriman dan kenyataan jiwa yang tertutup
hatinya, sehingga Alqur'an disebut sebagai furqan (pembeda) atau hudan
(petunjuk bagi orang yang telah mendapatkan potensi baik (taqwa) ~ dzalikal kitabu laa
raiba fihi hudan lil muttaqiin.
Alqur'an sebagai furqan tentang kebaikan dan tentang kejahatan.
semuanya diungkapkan dengan sangat jelas perbedaan orang yang beriman dan
kafir, orang yang mendapatkan petunjuk dan orang yang mati hatinya.
Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana kita bisa mendapatkan
ilham kebaikan yang muncul dari potensi jiwa tersebut ??
Untuk lebih jelasnya mari kita lihat firman Allah yang berbunyi
sbb :
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (
menerima ) agama Islam lalu ia mendapat cahaya ( pencerahan) dari Tuhannya. (
sama dengan orang yang membati hatinya )? Maka kecelakaan yang besarlah bagi
mereka yang membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan
yang nyata. (.QS Az Zumar: 22).
Ayat ini secara tegas membandingkan orang yang mendapatkan
pencerahan dari Tuhannya melalui cahaya-NYa, yang akan membimbing kepada jalan
ketakwaan, yaitu dengan selalu ingat kepada Allah (dzikrullah). Dan selanjutnya
dikatakan bahwa orang yang mendapatkan potensi kejahatan adalah orang yang
hatinya telah membatu, tidak mau mengingat kepada Allah ~ dan orang tersebut
termasuk tergolong sesat. Selanjutnya mari kita buka surat berikut ini :
Demi Jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya (QS. Asy syams : 7-8).
Di dalam Mu'jam al Fadzil Qur'anil Karim yang diterbitkan oleh
Majma'ul Al Arabiyyah, kata ILHAM ditafsirkan dengan, disusupkan kedalam hati
perasaan yang sensitif yang dapat dipergunakan untuk membedakan antara
kesesatan dan petunjuk. Di dalam kamus Al Muhith disebutkan Al Hamahu Khaira
(Allah mengilhamkan kepadanya kebaikan), yakni Allah mengajarkan kepadanya.
Ibnu Atsir dalam An nihayah mengungkapkan sebuah hadist yang di riwayatkan oleh
Tirmidzi, Thabari, Baihaki dari Ibnu Abbas (hadist gharib).
Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu rahmat dari sisi-Mu yang
mengilhamkan kepadaku dengannya petunjukku.
Kemudian Ibnu Atsir berkata: Ilham adalah Allah menyusupkan
kedalam jiwa suatu perkara yang membangkitkan keinginannya untuk melakukan
suatu perbuatan atau meninggalkannya, dan merupakan salah satu jenis Wahyu yang
Allah istimewakan dengannya siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara
hamba-hamba-Nya.
Allah telah mendatangkan ilham kepada Nabi Yusuf, tatkala nabi
Yusuf menyadari bahwa dirinya tidak mampu lagi menguasai ajakan nafsunya yang
terlalu kuat untuk berbuat kesalahan ~ wama ubarriu nafsi
inna nafsa lammaratun bissu'.
Dikisahkan dalam Alqur'an bahwa, Yusuf hampir saja berbuat mesum
dengan wanita cantik, akan tetapi kalau tidak ada rahmat dan pertolongan
melalui ilham (burhan) dari Tuhannya, maka beliau termasuk orang yang aniaya,
sebagaimana tercantum dalam firman Allah :
Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal dirumahnya menggoda Yusuf
untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya
berkata: "Marilah ke sini", Yusuf berkata: "Aku berlindung
kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya
orang-orang yang dzalim tiada akan beruntung.
Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu)
dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu
,andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami
memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu
termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih (mukhlasin). (QS. Yusuf: 23-24 ).
Jika kita simpulkan kisah Nabi Yusuf di atas, sejak mulai beliau mengatakan
bahwa dirinya tidak mempercayai nafsunya karena nafsu itu selalu saja mengajak
kepada hal yang tidak baik (innan nafsa la ammaratun bissu') kecuali nafsu yang
telah mendapatkan cahaya (burhan/ pencerahan) dari Tuhannya. Dengan cahaya
Ilahy itulah Nabi Yusuf dibimbing dan selamat dari perangkap gejolak Nafsunya
yang buruk. Hal ini dikarenakan Nabi Yusuf telah menyerahkan dirinya kepada
Allah atas kekuatan Nafsunya yang jahat, dengan mengatakan: "Aku
Berlindung kepada Allah." Sikap menyerah kepada Allah inilah yang menjadi
perhatian kita, agar kita bisa merasakan bagaimana Allah mencabut rasa jahat
dalam diri kita. ~ berganti menjadi iman yang keluar dari potensi jiwa yang
mendapat rahmat dari Allah. Hal ini diperkuat dengan kata "mukhlasin"
pada akhir ayat, sebagai obyek (maf'ul) yang diberi keikhlasan, artinya
keikhlasan Yusuf itu muncul dari ilham yang mengalir dari jiwa yang dirahmati.
Dan menunjukkan bahwa Yusuf bukanlah orang yang mampu mengendalikan dirinya
dengan kekuatannya, akan tetapi Allahlah yang menuntun hati Yusuf sehingga
dirinya tidak terjerumus kepada kejahatan.
Allah berfirman :
Keimanan telah ditetapkan Allah kedalam "hatinya" serta
dikokohkan pula Ruh dari diri-Nya (QS. Al Mujaadilah:22).
Dan Kami tunjang pula mereka dengan petunjuk, dan Kami teguhkan
"hati" mereka (QS. Al Kahfi: 13-14).
Dialah Yang telah menurunkan ketentraman di dalam hati orang-orang
yang beriman supaya bertambah keimanannya disamping keimanan yang telah ada (
QS. Al Fath: 4 ).
Ilham itu masuk kedalam jiwa orang itu, dan orang tersebut tinggal
mengikuti gerakan jiwanya melakukan perbuatan yang baik tanpa beban. Dan
Alqur'an akan mengabarkan kebenaran yang dirasakan oleh orang yang mendapatkan
pengalaman beriman tersebut. begitu pula jika ilham kejahatan itu muncul,
Alqur'an memaparkan secara gamblang mengung-kapkan ciri-cirinya.
Mengapa kita mendapatkan ilham kejahatan ??
Kata ilham, saya gunakan untuk memudahkan pengertian bahwa potensi
itu muncul bukan dari pikiran, sama halnya rasa iman, takwa, cinta yang berasal
dari jiwa manusia.dan kepada jiwa itulah semua ilham dihembuskan, dan barang
siapa mendapatkan ilham dari salah satunya maka tidak ada seorangpun yang mampu
menghalau bisikan ilham tersebut, baik ilham ketakwaan maupun ilham kejahatan ~
yang sebenarnya merupakan ilmu yang datang dari Allah, karena Allahlah yang
menyusupkan kedalam hati manusia. Selanjutnya
tergantung peranan akal-lah yang akan memilih kepada ilham yang mana ia sukai. Allah telah membebaskan manusia untuk
menentukan pilihannya, mengikuti ajaran Allah atau mengikuti ajaran syetan ~
sebab ketika kita tidak memilih Allah maka secara otomatis pembimbing hati
manusia itu adalah syetan. Hal tersebut diungkapkan bagaimana proses syetan
memerankan fungsinya sebagai pembimbing, yaitu tatkala Allah tidak mau lagi
melihat hati manusia yang lalai ~ yaitu orang yang tidak mau mendekatkan diri
(berserah) kepada Allah.
Firman Allah :
Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha
Pemurah, Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah
yang menjadi teman yang selalu menyertainya ( QS. Az Zukhruf: 36 ).
Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa
mengingat Allah, mereka itu golongan syetan ..... (QS. Al Mujaadilah:19).
Tatkala manusia tidak lagi membutuhkan Allah serta tidak
menempatkan Allah sebagai Tuhan dalam jiwanya, maka Syetan itulah yang menjadi
penasehatnya serta memerintahkan dan menuntun kepada kejahatan. Akan tetapi
ilham itu tetap berasal dari Allah, hanya saja syetan itulah yang
menyelewengkan ilmu itu dari kebenaran. Misalnya ketika kita menjadi seorang
ilmuwan ahli nuklir ~ ilmu yang didapat dari Allah itu akan sangat membahayakan,
bilamana hati manusia yang telah mendapatkan bisikan syetan itu dimanfaatkan
untuk menghancurkan alam dan manusia. Bahkan syetanpun memohon kekuatan kepada
Allah seperti tercantum dalam Firman Allah: Iblis menjawab:
Demi Kekuasaan Engkau, Aku akan menyesatkan mereka semua nya,
kecuali hamba-hamba-Mu yang muklish diantara mereka ( QS. Shaad:82-83 ).
Ayat ini sekaligus menjelaskan bahwa syetan mengakui ketidak
mampuannya menyesatkan manusia yang berserah kepada Allah secara total, karena
wilayah pasrah adalah wilayah manusia tidak lagi menggunakan kekuatan dirinya
akan tetapi kekuatan Allah Swt !! sebagaimana Nabi Yusuf mengatakan aku
berlindung kepada Allah dengan menyerahkan jiwa dan raganya. Untuk itu tidak
ada kata serta upaya kita untuk mampu menandingi kekuatan syetan yang terkutuk,
karena ia juga bergantung kepada Allah serta memohon kekuatan dan kekuasaan
dari Allah yang Maha Perkasa untuk menyesatkan Manusia. Alangkah naifnya kita,
jika kita menggunakan akal fikiran kita untuk menghalau kejahatan jiwa kita,
padahal ilham kejahatan lebih cepat datangnya sebelum kita sempat berfikir.
Sebaiknya kita menyadari keberadaan jiwa kita sedang berada
wilayah mana ? Mungkinkah kita berada dalam alam ketidak patuhan kepada Tuhan,
sehingga Allah murka dan menempatkan bersama syetan sebagai pemimpinnya ?
Seperti dikatakan oleh syetan, bahwa dirinya tidak mampu menembus
wilayah orang yang berserah kepada Allah.karena mereka berada dalam
perlindungan Allah Yang Maha Perkasa. Jika seseorang dalam perlindungan-Nya
maka secara otomatis ruhani orang tersebut dalam bimbingan Allah Swt. yaitu
berupa ilham ketakwaan. dimana orang yang terbebas dari bisikan syetan ~ akan
sangat mudah melakukan ibadah kepada Allah serta menerima getaran-getaran iman
yang lebih dalam ~ kemudian rasa baik itu mengalir tanpa bersusah payah menekan
jiwa.
Al qur'an telah memfasilitasi potensi jiwa yang takwa dengan
menunjukkan caranya didalam beribadah kepada Allah, berbakti serta ingin
memperjuangkan kebaikan-kebaikan yang berhubungan dengan kemanusiaan, alam,
maupun ketuhanan. Dan Alqur'an memberitakan kebenaran yang di alami setiap jiwa
yang merasakan keimanan dan kedalamannya. Potensi ketakwaan muncul manakala
kita mampu menyerahkan diri kepada Allah dan tidak mengandalkan kemampuan dan
ilmu yang kita sandang, karena kekuatan itu tidak ada gunanya dibanding ilmu
syetan yang lebih luas dan 'maha' licik. Karena ia mampu mengelabuhi manusia
dari berbagai segi ilmu dan alam, ia mampu menguasai hati dan pikiran, dan ia
bisa berjalan dan bersemayam didalam dada manusia dan membisikkannya
perintah-perintah sebelum sempat manusia berfikir ~ yang terkadang disangkanya
intuisi atau petunjuk dari Tuhan. Itulah kelebihan syetan yang telah
mendapatkan ilmu itu dari Allah ketika permohonannya dikabulkan.
Saya akan ungkapkan ayat yang menunjukkan syetan telah mengabaikan
kemauan Allah, dalam hal ini syetan tidak mau berserah atas kehendak Allah
(berserah diri). Walaupun ia mengakui Allah sebagai Tuhannya dan bertauhid, ia
selalu memohon pertolongan kepada Allah, Ia bermakrifat, ia mengerti hakikat,
dan mengerti syariat, akan tetapi satu hal yang ia tidak mau, ketika Allah
memerintahkan bersujud (menghormati) Adam ~ padahal perintah sujud ini berasal
dari Tuhannya yang menciptakan. Mengapa ia tidak mau bersujud, karena ia merasa
paling baik dari Adam, sebagaimana diungkapkan dalam Firman Allah:
Allah berfirman: Hai Iblis apakah yang menghalangi kamu sujud
kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan
diri ataukah kamu (merasa)termasuk orang yang (lebih) tinggi ?
Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan
aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.
Allah berfirman: Maka keluarlah kamu dari surga, sesungguhnya kamu
adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari
pembalasan
Iblis berkata: Ya Tuhanku, beri tanggulah aku samapai hari mereka
dibangkitkan
Allah berfirman : sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang
diberi tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya ( hari
kiyamat)
Iblis menjawab : Demi Kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka
semuanya , Kecuali hamba-hamba-Mu yang berserah diri diantara mereka (QS.
Shaad: 75-83)
Setelah kita mengetahui bagaimana Allah murka kepada Iblis, yaitu
karena iblis tidak menuruti kemauan Allah, yaitu berserah kepada kehendak-Nya
yang suci. Iblis mempertahankan kemauan dirinya karena merasa paling baik dari
yang lain.
Kemudian bagaimana keadaan jiwa kita sekarang, apakah peristiwa
itu masih terulang kepada kita yang merasa paling baik dari yang lainnya ??
Kita disuruh merendahkan diri dihadapan Allah setulus-tulusnya (muklish) dengan
tidak membawa kekuatan apapun. Dan kita adalah fakir yang tidak memiliki
apa-apa, kecuali hanya pemberian Allah semata. Keadaan yang demikian inilah
yang akan kita terapkan saat kita beribadah shalat maupun berdzikir kepada
Allah. Hanya saja memang agak sulit jika hal tersebut langsung kita
mempraktekkan ketika shalat, karena membutuhkan keadaan yang tenang yang muncul
dari jiwa ~ keadaan tenang ini hanya bisa ditempuh dengan jalan berdzikir
kepada Allah setiap saat sebagaimana firman Allah :
Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat (mu), ingatlah Allah
di waktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu
telah merasa aman (tenang) maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa) ....(
QS. An Nisa' 103 ).
Berdzikir dilakukan dengan rendah hati dan rasa takut, serta tidak
mengeraskan suara : Firman Allah :
Dan sebutlah Nama Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan
rasa takut dan tidak mengeraskan suaramu, diwaktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai ( tidak berdzikir ) ( QS. Al
A'raaf : 205 ).
Selanjutnya kita akan praktekkan bagaimana berdzikir secara
praktis, sehingga kita bisa merasakan bagaimana Allah menuntun kita dalam
memasuki hakikat Islam yang sebenarnya, dan Allah akan mengangkat potensi jiwa
yang fitrah yang selama ini tenggelam.
Mari kita mulai mempraktekkan dzikrullah dalam rangka
tazkiyyatunnafs, agar Allah memperkenankan pencerahan yang mengalir kedalam
jiwa kita sehingga potensi fitrah kebaikan itu menyelimuti kita.
Lakukanlah dengan cara berdiri, atau duduk dengan rileks ......
Hadirkan jiwa anda kepada Allah yang Maha dekat dengan perasaan
rendah hati ~ sampai terasa sekali keheningan muncul dan mengalir rasa
kesambungan kepada Allah ~ jaga terus kesadaran anda kepada Allah ~ kemudian
ucapkan
Bismillahirrahmanirrahim ~ asyhadu an laailahaillallah wa asyhadu
anna muhammadar rasulullah ~ Allahumma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad.
Panggillah nama Allah ~ perlahan-lahan bersamaan dengan perasaan
~ Ya Allaaaaaah ~ Ya Allaaaaaaah ~ Ya Allaaaaaaah ~ Ya Allaaaaaaah.
Lakukanlah berulang-ulang, sampai anda merasakan getaran jiwa anda
yang menggeliat bangkit mengikat dirinya kepada Allah.
Kalau dirasa kurang bersambung ~ angkatlah kedua tangan anda
pelan-pelan keatas seperti hendak berdoa dan rasakan gerakan tangan anda ~
jangan tegang kendorkan seluruh otot-otot anda, sampai terasa rileks ~ sebut
nama Allah pelan-pelan dengan perasaan, ulangi jika gagal. Sebaiknya dilakukan
pada tempat yang tenang atau diwaktu tahajjud, sebab terkadang ada sebagian
orang yang merasa terganggu jika ada suara-suara agak bising. Akan tetapi jika
anda sudah mulai terasa bersambung insya Allah suara sekeras apapun anda tidak
akan terganggu...
Abu Sangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar