Yang namanya pengajian seharusnya pelajarannya tidak itu-itu saja.
Dari judulnya saja sudah bertentangan dengan isinya yaitu PENGKAJIAN
dimasyarakatkan menjadi pengajian. Makna ini sebenarnya dari etos belajar yang
digagas oleh Alqur'an, yaitu mengkaji, meneliti, menganalisa, dan memperhatikan
peristiwa-peristiwa/fenomena alam maupun dirinya sendiri, akan tetapi jika kita
mendengar judul pengajian, pikiran kita pasti tertuju dengan suasana riungan
jamaah dengan membawa buku kecil membaca shalawat, membaca Yasin dan membaca
syair Al barzanji, lalu di isi dengan ceramah monolog.
Saya pernah menghayalkan begini, seandainya ibu-ibu atau
nenek-nenek itu di ajak mengaji dengan tema-tema seperti di kampus-kampus dan
seminar-seminar, lokakarya dll. alangkah senangnya kita melihat nenek-nenek
muslimah siang-siang berdiskusi membahas masalah sosiologi, psikologi,
pendidikan anak, langkah-langkah membenahi ekonomi keluarga disamping menggali
makna Alqur'an dan Al hadist mungkin akan lebih bermanfaat untuk generasi
Islam.
Selama ini pengajian dilingkungan kita identik dengan shalawatan,
Yasinan, barzanjian, dan mengulang-ulang acara itu menjadi bacaan wajib dan
acara resmi perkawinan serta khitanan maupun kematian. Bukannya saya tidak
setuju dengan perkumpulan jamaah tersebut, akan tetapi saya hanya tidak setuju
dengan pelajaran yang tidak pernah berubah sejak sekian ratus tahun yang lalu,
sehingga masyarakat Islam tidak berkembang karena tidak pernah diajak mengerti
dengan apa yang sedang dilakukan atau dikaji. Mungkin pendapat saya ini akan
banyak ditentang oleh mereka, karena selama ini mereka telah terlanjur
mengikuti guru-guru sejak nenek moyang dahulu, tidak bisa diganggu gugat.
Sehingga saya tidak bisa berbuat apa-apa terhadap mereka, kecuali hanya diam
sambil membenahi generasi selanjutnya...
Pada umumnya pengajian selalu membahas masalah-masalah akhirat
seperti siksa neraka dan kenikmatan di syurga, atau berkisar persoalan fikih,
seperti tata cara shalat dan bacaannya, masalah haji, puasa, dan
tuntutan-tuntutan kewajiban yang lainnya. Terkadang terkesan islam itu jauh dan
terpisah dari masalah kehidupan perdagangan secara praktis, masalah pertanian
seperti bercocok tanam, pemupukan, cara mencegah hama wereng dan ulat
penggerek, serta memandu pengusaha kecil serta memanfaatkan system zakat yang
bersifat kerakyatan didalam mengentas kemiskinan dll. Karena itu dianggap bukan
urusan agama, sehingga ketika disebut kantor KUA (Kantor Urusan Agama) pikiran
anda langsung membayangkan kalau menikah dan bercerai berurusan dengan kantor
ini.
Saya sangat setuju jika pengajian sekarang bertema "selamat
datang para peserta pengkajian (pengajian) agrobisnis dan
problematikanya", "Peranan orang tua terhadap anak", "Cara
beternak Ikan hias Tawar", "Olah nafas dan manfaatnya bagi kesehatan".
Di tulis diatas kain panjang empat meter kali delapan puluh sentimeter, di
pasang di depan Masjid kita.
Mungkin tema-tema diatas agak aneh bagi orang yang tidak mengerti
maksud saya ini, pengajian kok membahas masalah agrobisnis, masalah ikan hias !
Pikiran seperti ini seharusnya kita luruskan agar Islam tidak menjadi rancu dan
sempit. Orang-orang islam akan mendapatkan manfaatnya dari kajian Alqur'an,
yang di peruntukkan semua ummat baik orang islam maupun bukan islam.
Pengkajian berasal dari makna Alqur'an yang memotifasi orang-orang
beriman untuk belajar dan meneliti apa-apa yang dilihat pada alam ini misalnya
tanaman, tanah tandus, onta, angkasa, bintang, atom ( dzarrah) bulan, laut,
ikan dll. seperti dalam firman Allah :
"Katakanlah (hai Muhammad) perhatikan dengan intidhzar
apa-apa yang ada dilangit dan di bumi." (QS. Yunus: 101)
"Maka apakah mereka tidak melakuan intidhzar dan
memperhatikan onta, bagaimana ia diciptakan. Dan langit bagaimana di tinggikan.
Dan gunung-gunug bagaimana mereka di dirikan. Dan bumi bagaimana dibentangkan,
maka berilah peringatan karena engkaulah pemberi peringatan." (QS. Al
Ghasyiyah: 17-20)
"Dia menumbuhkan bagimu, dengan air hujan itu, tanaman
zaitun, korma, anggur dan segalam macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian
itu merupakan ayat-ayat Allah bagi orang-orang yang berfikir." (QS. An
Nahl : 12)
Intidhzar berasal dari kata nadhzara, artinya melihat atau
memperhatikan. kemudian akrab dengan makna sifatnya yaitu mengkajian,
penelitian. Alangkah dangkalnya kata kajian berubah menjadi membaca syair dan
mengulang-ulang bacaan Yasin yang tidak memberikan kedalaman makna Ayat
tersebut secara langsung kepada masyarakat yang bersifat luas. Akan tetapi jika
kita menganalisa dan meneliti apa-apa yang terjadi pada diri kita maupun
terhadap alam, maka akan dirasakan manfaatnya secara langsung oleh semua
kalangan baik orang-orang muslim maupun orang-orang di luar muslim, karena
Alqur'an bersifat Universal. Dan kandungan Alqur'an hampir tujuh puluh persen
menceritakan tentang fenomena alam baik alam manusia alam jin alam malaikat,
sisanya mengenai sejarah perbakala, perjuangan, tata hukum negara, dll.
Kalau saya ambil satu contoh ayat yang menjelaskan bahwa Allah
menumbuhkan pohon korma, tanaman zaitun, anggur dan segala macam buah-buahan.
Dikatakan yang demikian itu merupakan kekuasaan Allah dan lebih tegas lagi
Allah menyebutnya bahwa alam semesta merupakan ayat-ayat Allah yang tidak
tertulis (kauniyah) berarti alam ini adalah firman Allah dan bersifat pasti
(eksakta), dan Allah menunjukkan kepada kita agar dipikirkan dan di analisa
untuk mengembangkan dan memelihara dengan ilmunya yang sudah dikandung di dalam
hukum tanaman tersebut. Sebab Allah menciptakan tanaman sekaligus dengan
manualnya sebagai petunjuk bagi si peneliti di dalam memahami karakter tanaman
dan kemauan serta komposisi kimiawi yang di inginkannya agar tanaman itu bisa
berkembang dengan baik dan berbuah lebat.
Semakin kita perhatikan dengan teliti, tanaman itu akan memberikan
petunjuk akan dirinya kepada kita segala rahasia kandungan zat yang bermanfaat,
kemudian kita teliti dari segi keindahan dan tekstur batang tanaman serta
dedaunan yang hijau membuat kita tertarik untuk meletakkan dihalaman rumah dan
di dalam ruangan agar kesegaran udara tercipta, karena zat asam yang tidak kita
butuhkan di serap oleh daun-daun tanaman tersebut. Ketika kita melihat indahnya
dan ranumnya buah yang dihasilkan tanaman tersebut, kita akan tergelitik untuk
menawarkan kepada tetangga untuk mencicipi rasa buah itu, kemudian berkembang
menjadi timbal balik dengan cara membelinya. Terjadilah peristiwa jual dan beli
yang disebut perdagangan.
Dari proses berfikir dan memperhatikan inilah muncul ahli bio
kimia, ahli ekonomi, ahli seni, setelah memperhatikan kebutuhan unsur-unsur
hara yang di inginkan tanaman tersebut. Dilihat dari segi keindahan, sang
pelukis dan ahli interior melihat objek secara langsung apa yang dilihatnya -
dimanfaatkannya untuk karya seninya yang indah. Demikian seterusnya sehingga
Islam menjadi berkembang dan besar seperti pada masa keemasannya di mulai tahun
900 sampai tahun 1100 M. Namun akhirnya Islam menjadi mundur akibat tidak ada
lagi halaqah-halaqah pengkajian yang menyajikan kandungan Alqur'an serta akibat
peperangan yang berkecamuk lama dan konflik antara madzhab-madzhab yang ada
masa itu.
Halaqah-halaqah ini sampai sekarang masih semarak bahkan di
kampung-kampung, di kantor-kantor, di televisi di radio - serentak begitu
hebatnya dan tidak ada bosan-bosannya - karena dorongan belajar yang tinggi dan
berpahala jika mendengarkan ilmu yang di sajikan oleh para ustadz atau kiyai.
Akan tetapi malang bagi ummat, setiap pengajaran ilmu-ilmu yang disajikan,
tidak terlintas ajaran meneliti dan memperhatikan serta menganalisa setiap
peristiwa. Kecuali hanya mempersoalkan furu'yah yang tidak habis-habisnya.
Saya setuju dengan apa yang dilakukan oleh Prof. Hembing, karena
beliau adalah salah satu orang yang meneliti tanaman untuk pengobatan. Saya
kira sangat baik kalau di dalam pengajian di lingkungan kita, beliau di undang
untuk berceramah mengenai bidangnya. Karena beliau telah mengamalkan ayat
Alqur'an secara langsung dan bisa dibuktikan manfaatnya. Dari pada kita membaca
Alqur'an yang tidak mengerti artinya sehingga masyarakat kita menjadi buta dan
terbelakang. Atau kita undang Profesor Dadang Hawari untuk membicarakan
mengenai kenakalan remaja, masalah narkotik, bahayanya terhadap mental. Karena
beliau termasuk orang yang telah membuktikan kebenaran Alqur'an masalah zat
adiktif yang merusak jaringan otak manusia serta dampaknya terhadap generasi
muda. Mengapa pengajian kita hanya di isi oleh orang yang tidak perpengetahuan
masalah kandungan Alqur'an.
Mudah-mudahan diantara kita tidak terjadi salah faham karena
pendapat saya ini Dan menjadi renungan masa akan datang untuk anak-anak
kita, untuk dikenalkan dengan bahasa Alqur'an yang bersifat memotivasi ummat
untuk belajar dan meneliti lingkungan di sekitar kita.
Abu Sangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar