Sebelum saya menjelaskan persoalan Anak ini, saya akan mengajak
anda membaca berita tentang seorang pemain sirkus di Cairo Mesir, yang
diceritakan kembali oleh Syekh Mustafa Mahmud dalam bukunya 'Aku Telah Melihat
Allah'.
Harian yang terbit pada hari itu sangat menarik dengan adanya
tajuk berita tentang sirkus yang mengadakan pertunjukan keliling yang mengalami
peristiwa yang jarang, bahkan belum pernah terjadi pada tiap kali mengadakan
pertunjukan. Pertunjukan kali ini dikejutkan dengan si harimau
"Sultan" yang biasa menyajikan keterampilannya di hadapan penonton,
berbalik menjadi buas dan menerkam pelatihnya dari belakang, sewaktu sang pelatih
Muhammad Al Hulu menghadapkan dirinya ke arah penonton dan memberi hormat tanda
terima kasih. Mari kita baca berita selengkapnya apa yang di tulis wartawan
harian tersebut:
Setelah tiba giliran untuk menyajikan pertunjukan keterampilan
harimau, maka penonton pun bersorak dan bertepuk tanda gembira, yang memang
adegan inilah yang sangat di nanti-nantikan, terutama kanak-kanak yang tiada
putus-putusnya bersiul dan bersorak. Tidak lama dengan di iiringi tabuh
genderang tersingkaplah tabir dari pintu belakang, maka keluarlah si Sultan,
... harimau yang terampil dan di belakangnya berjalan sang pelatih dengan
senyum bangga dan di tangan kanannya ia memegang cemeti komando yang biasa di
gunakan untuk memerintah si Sultan melakukan sesuatu kemahiran sesuai dengan kehendak
sang pelatih, sang pelatih memulai mengangkat kedua tangannya tanda besiap-siap
dan suara ramai mulai berkurang dan berhenti. pertunjukan pun di mulai.
Adegan demi adegan selesai di pertunjukkan, penonton
menggeleng-nggelengkan kepala tak henti-hentinya terheran-terheran dibuat oleh
kepandaian si harimau yang patuh pada perintah-perintah sang pelatih… Selesai
adegan terakhir, pelatihpun menghadapkan mukanya ke arah penonton membalas
sorak sorai dan memberi hormat tanda terima kasih,... namun tiba-tiba secepat
kilat tanpa didahului tanda-tanda apapun si Sultan yang tadinya jinak dan
patuh, melompat ke arah punggung pelatihnya dengan muka yang buas dan garang,
dengan auman yang menyeramkan terlihat taring giginya yang tajam dibenamkan ke
dalam punggung si pelatih, dirobek kulit dan dagingnya yang menyebabkan lumuran
darah yang menggenang di atas tanah. Pelatih yang dalam keadaan tersungkur di
bawah tindihan harimau tak dapat sedikitpun mengelak dan mengadakan perlawanan.
Penonton setelah mengetahui dan melihat apa yang terjadi, saling
lari tunggang langgang ribut cepat-cepat meninggalkan tempatnya, dan pada saat
itu pula tampillah anak sipelatih dengan membawa sepotong tongkat besi berusaha
sekuat tenaga untuk menyelamatkan ayahnya,... tak lama hanya beberapa hari di
rumah sakit, meninggallah sang ayah dengan hanya meninggalkan pesan singkat
"Jangan sakiti dan jangan dibunuh". Pelatih penjinak raja rimba
meninggal dalam cengkeraman anak latihnya sendiri.
Sekarang mari kita tengok bagaimana halnya dengan si harimau.
Setelah kejadian diatas dia langsung di masukkan ke dalam kandangnya, dan
anehnya dia lebih banyak berdiam diri dari pada kebiasaannya jalan hilir mudik.
Dia seakan-akan menyesali atas apa yang ia lakukan, sedih, melamun dan tidak
mau makan. Hal ini segera dilaporkan kepada pimpinan, maka segera pimpinan
sirkus menghubungi pengurus kebun binatang untuk memindahkan harimau. Pindahlah
si harimau kekebun binatang dalam kandang besar dan lebih leluasa untuk bergerak.
Enggan makan tetap tidak berubah walaupun sudah berada di kebun binatang,
pengawas kebun binatang selalu mengawasi gerak-geriknya, lama-lama timbul
pikiran" mungkin kalau disertai hewan betina maka ia kembali makan".
Dipilihlah lawan betina, lalu segera di masukkan kedalam kandang"
sipelamun yang enggan makan, begitu lawan betina masuk, tanpa ucapan selamat
datang langsung disambut dengan raungan yang menyeramkan, diserang, dicakar,
digigit dan didorong, itulah sambutannya, dia menampakkan kebencian dan kemarahannya…
keluarlah si betina dan kembalilah si Sultan seorang diri.
Penyesalan yang mendalam makin hari makin nampak walau tanpa
bicara sekalipun. Sepintas lalu orang dapat memahami arti sikapnya yang
demikian, dia dihantui oleh perbuatannya sendiri, gambar dari peristiwa yang
mengerikan tidak dapat dihilangkan dari ingatannya. Tebusan apakah yang dapat
memadai dengan perbuatannya ??
Makanan yang selalu diberikan oleh si penjaga tidak lagi di jamah
sama sekali,... mogok makan ! Mungkin cara ini dapat memadai pikirnya, ah tidak
! belum memadai… gambaran-gambaran yang menyeramkan masih juga menghantui. Pada
suatu hari, tibalah putusan terahir…" nyawa harus dibayar dengan nyawa'
tidak lain... syarafnya sudah berubah, putusannya sudah bulat, tindakannya
sudah nekad. Dimarahinya diri sendiri, semula ekornya di belah dan di
robek-robek, tiba sekarang gilirannya, tangan yang sudah ternoda dosa, dicaplok
sendiri, dikunyak dan dilahapnya, dagingnya sendiri dimakan habis, dari tangan
yang kanan berpindah ke tangan yang kiri, keduanya habislah sudah.
Tangan-tangan yang sudah berbuat dosa, tiada tebusan lain melenyapkan kedua
tangan tersebut. Baru sekarang tentramlah hatinya, dia sudah mengorbankan
anggota badannya sendiri karena perbuatannya sendiri, ketentraman untuk
selama-lamanya yang di iringi dengan kematiannya….
Dari peristiwa diatas kita beralih ke diri kita,... pada diri
manusia, makhluk yang beradab, yang memiliki akal pikiran, memiliki nurani dan
rasa, yang tahu sopan santun, tahu tata cara dan sebagainya. Sudah pernahkah
kita mendengar pengorbanan manusia di karenakan penyesalan karena perbuatannya
sendiri ?
Pernahkah kita melihat manusia dengan penyesalannya memilih
tebusan nyawanya ? Malahan kebalikannya yang kita dapati, manusia berbangga
diri dengan kemenangan atas lawannya, hingga merupakan kebanggaan yang
meluap-luap, dirayakan dengan iringan tabuh-tabuhan dan tari-tarian,
dihidang-kan pula makanan lezat dan minuman segar. Jauh sekali dengan tindakan
harimau diatas, kemenangannya dirayakan dengan tebusan nyawa…
Sebenarnya sudah terjalin kasih sayang antara si harimau dengan
sang pelatih, ucapan terkahir dari sang pelatih rupanya terdengar dengan si
harimau, ucapan "jangan di sakiti dan jangan dibunuh" !! , maka
ucapan ini di balas pula dengan ucapan jantan yang sesuai dengan martabat raja
rimba. Timbul suatu pertanyaan mengapa seekor binatang memiliki pengertian dan
menangkap keinginan kita. Bahkan bersikap seperti kepada indungnya, bersikap
manja, mencari perhatian serta mengenal siapa tuannya. dan dia menangkap
perasaan sedih dan kegembiraan tuannya… Dan dari peristiwa diatas terdapat
kesimpulan, bahwa binatang yang berjuluk si raja Rimba ternyata bisa kita ajak
berbicara, bergaul, bercanda, bermain, bermanja-manja, mengerti keinginan kita,
mampu berkomunikasi dengan rasa, dan menangkap kecintaan dan kasih sayang yang
dalam… dan ia menyesali atas kesalahan yang telah dilakukan terhadap tuannya…. tetapi
mengapa manusia kadang tidak mampu menangkap keinginan kita ?? Bahkan sering
mengabaikan kata-kata sebagai bahasa peradaban manusia yang tinggi. Entah
berapa kali kita dinasehati oleh orang tua kita, oleh guru kita, akan tetapi
mengapa kita tidak mampu mencerap nasehat itu, padahal bahasa itu sangat mudah
dipahami…. Juga ketika berbicara kepada istri dan anak kita, terasa sekali
kata-kata kita tidak menembus dan mengubahkan perilaku atau perasaan anak dan
istri, sehingga tetap saja mereka melakukan hal yang tidak baik...
sampai-sampai kita menjadi marah bahkan ingin sekali memukulnya agar menuruti
kemauan kita. Hampir tidak ada cara untuk mengatasi persoalan ini, untuk
melampiaskannya kita mencoba mengirim anak-anak ke asrama atau pesantren yang
dididik disiplin secara ketat, namun tetap saja masalah itu tidak teratasi, ...
bahkan kadang anak kita tidak menjadi dirinya yang sebenarnya, karena doktrin
yang mengekang perkembangan mental anak tersebut.
Rasa adalah sebuah penghubung keinginan kita..
Ada saluran yang tidak terhubung kepada anak kita, selama ini kita
berkomunikasi kepada anak kita menggunakan saluran gelombang suara yang
menghantarkan susunan huruf yang mengandung arti tertentu (kata-kata),
pesan-pesan dari mata (apa yang dilihat), telinga (yang didengar), peraba (apa
yang disentuh), perasa (lidah), penciuman di bawa melalui thalamus. Thalamus
bersama cortex adalah pusat yang menggabungkan informasi yang baru masuk supaya
semua data yang masuk menjadi sebuah pengalaman … syaraf mendorong ke dalam dua
tonjolan kecil di bagian dasar thalamus ini.
Dan manusia memiliki pengalaman karena data-data yang masuk
menjadi sebuah pengertian. akan tetapi dari semua itu tidak tertulis data yang
berasal dari "rasa" yang juga bisa memberikan masukan data yang
disampaikan kepada thalamus untuk memberikan pengertian dan pengalaman, .karena
rasa sayang itu bukan berasal dari sentuhan, penglihatan, kata-kata, dan
instrumen tubuh… akan tetapi berasal dari rasa rohani yang memiliki banyak data
untuk memberikan pengalaman bagi kita. Misalnya rasa cinta, rasa rindu, rasa
gundah, rasa marah, rasa sayang …semua itu bukan dari data yang disampaikan
oleh indra tubuh kita, akan tetapi dari rohani atau jiwa kita…
Kita telah menghilangkan data informasi yang paling penting dalam
diri kita dan anak kita… setelah kita memberikan informasi berupa data-data,...
berupa apa yang dilihat, apa yang didengar, apa yang di sentuh …namun apa yang
di rasa rupanya telah hilang. Kita telah meninggalkan komunikasi rasa yang
memiliki muatan pengertian yang hakiki dan lengkap,... kata-kata dan informasi
yang diberikan oleh tubuh tidak mampu memberikan selengkap rasa,... namun cinta
dan kasih sayang memiliki kesempurnaan informasi dan tidak cacat !!
Jika hal ini anda informasikan kepada binatang, kepada tanaman,
kepada benda-benda,... maka informasi rasa itu akan ditangkapnya dan sebaliknya
anda akan menangkap keinginan semua yang anda beri informasi tersebut…
Rasulullah menggambarkan adanya rasa ini adalah dengan di
anjurkannya saling memberikan salam dan silaturrahmi, guna menghubungkan rasa
yang memiliki data lengkap mengenai keinginan antara kita ! Sehingga mustahil
kita akan terjadi konflik jika anda mengerti keinginan saya secara lengkap…
lebih lengkap dari kata-kata….!!
Mari kita bahas secara khusus... apakah silaturrahmi itu ??
Saya akan tunjukkan sebuah hadits Rasulullah mengenai hal ini.
"Shil man qatha aka …wa ahsin ila man asa'a ilaika. wakulil
haqq walau `ala nafsika!!"
Sambungkan silaturrahmi yang terputus, dan bersikaplah ihsan
(baik) kepada orang yang membeci kamu, dan katakanlah kebenaran (secara jujur)
walaupun kepada dirimu sendiri ( Hadits shahih riwayat Ali dari Ibnu Najar,
kitab Jami'ush Shaghier jilid II hal. 44 )
Kalimat "Shil " adalah bentuk perintah (amar) berasal
dari kata shalla-yashillu-shillatan, yang berarti menghubungkan… seperti pada
kalimat "shilatur rahmi" menghubungkan rasa sayang…
Seperti apa yang saya katakan diatas bahwa rahmi/ rahiem (rasa
sayang) tidak termasuk indra dalam fisik kita yang selama ini memberikan
informasi kepada otak untuk mendapatkan pengertian dan pengalamannya. Akan
tetapi rasa sayang ini berasal dari rohani atau jiwa, sehingga kita membutuhkan
pengertian lagi untuk mengetahui 'apa itu rasa' dan 'bagaimana' kita
menghubungkan rasa itu kepada otak kita dan orang lain, walaupun orang lain itu
tidak mampu menangkap rasa itu sebelumnya. Namun dikarenakan rasa itu bersifat
rohani yang bisa di salurkan kedalam jiwa orang itu maupun kepada binatang maka
orang itu akan menerima rasa itu dengan lengkap dan sempurna…
Pengalaman sehari-sehari kita sering menerapkan hal ini tanpa kita
sadari, bagi orang yang penyayang binatang akan mengerti akan hal ini, karena
rasa sayang ia salurkan setiap saat, sehingga binatang itu mampu menangkap
pengertian yang disalurkan melalui rasa itu…. Rasa sayang benar-benar merupakan
sarana untuk menghantarkan sebuah pengertian, seperti sebuah kalimat yang
terangkai dalam intonasi dan artikulasi yang menghasilkan bunyi dan mengandung
makna yang mampu menghubungkan sebuah pengertian yang biasa disebut dengan
bahasa !!
Seorang bayi memiliki kepekaan menangkap informasinya melalui
rasanya..dan seorang ibu adalah orang yang memiliki kemampuan memberikan
informasi kepadanya, kadang melalui saat menyusui,... saat dalam dekapan,…
dalam kidung-kidung yang sejuk, serta dalam kecintaannya yang tulus….
Dalam keadaan rasa tersambung itulah sang ibu memberikan informasi
rasa sayang (silaturrahmi) yang akan menghantarkan keinginan dan keadaan jiwa
orang tuanya. Jika ternyata orang tuanya memilki hati yang kotor,... sang bayi
akan menangkap dan akhirnya terkontaminasi oleh polusi jiwa orang tuanya,
sehingga jangan heran jika anak-anak kita menjadi aneh pada usia yang sangat
muda telah melakukan kejahatan yang tidak pernah kita ajarkan. Memang kita
tidak pernah mengajarkan sesuatu yang buruk dihadapan anak kita, akan tetapi
keadaan jiwa kita lah yang tertangkap oleh jiwa anak kita ketika masih bersih
(fitrah)… Kita telah menghubungkan rasa buruk (silatus su') kepada jiwa anak
kita…
Mengapa uang hasil korupsi, hasil mencuri, hasil menipu itu di
haramkan, padahal secara fisik makanan yang kita beli adalah yang terbaik dan
bergizi, berlebel halal dari MUI, dan akan menyebabkan secara fisik membentuk
pertubuhan yang baik dan sehat. Akan tetapi,... karena jiwa sang ayah telah
terkotori karena melanggar ketentuan Tuhannya dan mengabaikan kesucian jiwa,
... maka jiwa sang ayah telah memberikan informasi (mentransfer) kekotoran
jiwanya kemudian di tangkap oleh jiwa anak-anak yang tidak tahu apa-apa !
Informasi inilah yang akan menuntun kejiwaan anak-anak ini untuk melakukan
watak kejahatan-kejahatan yang baru diperolehnya tanpa disadarinya….
Sering kita mendengar mitos di dalam masyarakat tradisonal,
hati-hati lho, kalau istri sedang hamil jangan membunuh binatang,... jangan
berkata rusuh (kotor) nanti anakmu cacat… Kalau saya tangkap pesan orang tua
dulu, itu adalah bukan cacat secara fisik akan tetapi cacat mentalnya /
jiwanya. Karena seseorang yang membunuh binatang bisa dipastikan dia
menggunakan kejiwaan yang keji dan rasa benci yang timbul dalam jiwanya dan
jiwa inilah yang akan tertangkap pertama kali oleh jiwa anak-anak kita yang pada
akhirnya kita ikut andil meletakkan batu pertama kerusakan dimuka bumi ini
dengan menyimpan memori kejahatan dibalik jiwa anak kita…
Akan tetapi jika jiwa kita bersih dan menjaga agar tetap bersih
akan secara otomatis mengalirkan jiwa yang bersih kepada anak-anak kita …dan
kita telah termasuk ikut andil dalam membangun masyarakat sakinah.
Rasulullah telah mencontohkannya dalam bergaul dan menghubungkan
rasa sayang kepada kedua cucunya, beliau diminta merangkak untuk menjadi
kuda-kudaan, dengan perasaan sayang Rasulullah menemani cucunya dengan sikap
kekanak-kanakan yang beliau ekspresikan untuk menyenangkan kedua permata
hatinya.
Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya karena dengan cinta dan
rasa sayang, para istri mampu menangkap keinginan dan pesan-pesan jiwa
Rasulullah yang suci…
Mari kita perhatikan hubungan antara sang bayi dan ibunya ketika
proses menyusui.
Seorang ibu, yang keinginan untuk menyusuinya besar, akan lebih
berhasil dalam usahanya dari pada ibu yang dari semula memang enggan. Dalam
menyusui ada suatu kerja sama antara ibu dan anak, reaksi yang saling
bersambut. Bila mulut bayi menyentuh puting susu ibunya, refleks penghisapnya
segera bekerja, sedangkan pada ibunya agar susu bisa mengalir lancar, yang
terjadi ;.... suatu hormon lain dari kelenjar bawah otak yang dinamakan
oksitoksin akan menimbulkan kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli, mengakibatkan
susu mengalir turun ke arah puting, sehingga bisa di isap oleh bayi. Turunnya
susu dari alveoli disebut refleks pengaliran susu. Refleks ini merupakan reaksi
dari isapan bayi. Ibu dan bayi akan merasakan kenikmatan yang menyenangkan bila
tubuh ibu telah terbiasa untuk kengalirkan susu. Emosi dan keadaan psikis si
ibu sangat mempengaruhi refleks pengaliran susu ini, karena refleks ini
pengontrol perintah yang dikirimkan oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak.
Bila di pengaruhi ketegangan, rasa cemas, takut dan kebingungan, susu tak akan
turun dari alveoli menuju puting. Hal ini sering terjadi pada hari-hari pertama
waktu menyusui, di mana refleks si ibu belum sepenuhnya berfungsi, refleks
pengaliran susu dapat berfungsi dengan baik hanya dalam suasana tenang, santai
& tidak tegang. Suasana ini bisa dicapai bila si ibu punya kepercayaan pada
diri sendiri bahwa ia pasti bisa menyusui. Dan dengan adanya rasa tenang dan
gembira sangat mempengaruhi kejiwaan anak secara langsung melalui aliran jiwa
yang bening ….
Lalu bagaimana mengalirkan informasi kejiwaan kepada anak-anak
kita yang sudah beranjak dewasa ??
Rasululah menyarankan untuk bersilaturrahmi, mengirimkan rasa
sayang dan gembira serta menerima anak-anak itu apa adanya… alirkanlah rasa
sayang itu benar-benar dari jiwa yang bersih... ketika ia sedang tidur...
ketika sedang bepergian... dengan cara mendoakan secara khusus …dengan perasaan
hening dan damai… lama kelamaan anak-anak kita akan mengerti kejiwaan secara
penuh dan sempurna…
Anak-anak anda akan menuruti kemauan anda dengan damai serta
menerima dengan baik keinginan yang tersembunyi dalam pikiran dan perasaan
anda. Mungkin inilah yang dimaksud dengan kecerdasan jiwa, yang telah lama di
tinggalkan oleh kebanyakan orang islam…
Doakan anak-anak kita dengan getaran jiwa yang bersih, biasanya
getaran itu bersambung… kadang-kadang anak-anak itu melaksanakan keinginan kita
yang belum terucapkan kepada mereka… rasakan getaran sayang anda… rasakan dan
masukkan pesan-pesan anda dalam doa… hantarkan jiwa mereka menuju kepada Allah…
hantarkan dengan rasa cinta… tetaplah dalam dekapan sayang… agar anda merasakan
hangatnya cinta itu… biarkan hati anda memandang jiwa mereka dengan bening…
Lakukanlah sesering mungkin,... .insya Allah jiwa anak-anak kita
akan menerima pesan-pesan secara lengkap…. dari jiwa kita yang bergantung
pasrah kepada Allah….
Suatu ketika saya kedatangan seorang tamu,... mengeluhkan anaknya
yang terjerumus kedalam pergaulan generasi pengguna narkontika… sang ibu bingung
karena anaknya jarang pulang. Saya menyarankan kepada ibu ini agar bersujud
menghubungkan rohaninya kepada Allah kemudian mengeluhkannya kepada-Nya … dan
mengalirkan perasaannya kepada jiwa anaknya yang telah terjerumus ini… tidak
lama kemudian anaknya pulang,... kemudian tanpa di suruh dan diperintahkan
apa-apa oleh ibunya … tiba-tiba dia ingin terbebas dari kecanduan narkotika
(jenis putau)… Dengan keinginan yang tulus, akhirnya anak tersebut sembuh
secara total bahkan melaksanakan shalat yang wajib !!
Dan kepada orang yang membenci kalian, Rasulullah menganjurkan agar
posisi jiwa kita tetap bersih… tanpa membalas kebencian itu,... karena
silaturrahmi kita tidak akan sampai kepada jiwa dia yang sedang sakit, untuk
itu pertahankanlah kebesihan jiwa kita agar kita bisa berkomunikasi kepada
siapa saja dengan jiwa yang mampu menembus... alam-alam yang jauh disana…
Seorang ibu yang telah terhubung perasaannya dengan anaknya yang
berada jauh di perantauan, akan merasakan getaran jiwa anaknya yang sedang
dilanda kegalauan dan persoalan yang terjadi padanya. Ini dikarenakan rasa
jujur dari seorang ibunya yang mengalirkan rasa cinta dan sayang, sehingga rasa
itu ditangkap oleh jiwa anak itu… Akan tetapi jika rasa sayang yang mengalir
kedalam jiwa anak itu tidak memberikan pesan apa-apa, maka jadilah anak itu
menjadi anak yang hanya bermanja-manja, dikarenakan rasa itu tidak mengirimkan
sinyal informasi keinginan kita,... kecuali kekosongan. Atau sebaliknya jika
rasa sayang itu mengalir dengan keadaan jiwa kotor maka "rasa" itu
memuat keadaan keburukan jiwa kita,... hal ini bukan seperti yang disebut
dengan dosa warisan dalam ajaran kristiani, karena hanya bersifat informasi
seperti halnya anda mendapatkan informasi dari pesan-pesan yang di muat dalam
bentuk suara (rumus-rumus huruf / kalimat ), gelombang radio, gelombang UHF
dll.…
Demikian kiranya informasi yang saya utarakan merupakan keadaan
yang mudah kita laksanakan, asalkan kita mampu membersihkan jiwa kita dengan
banyak berdzikir kepada Allah…dengan banyak berdzikir kepada Allah jiwa kita
akan menjadi tenang ..dan ketenangan jiwa inilah yang bersifat universal mampu
menghantarkan muatan pengertian yang terkandung dalam jiwa kita….
Namun dari semua itu saya tidak berani mengatakan bahwa jiwa kita
yang kotorlah yang ikut andil besar dalam merusak mental anak-anak kita …hal
ini saya hanya menampilkan sebuah faktor yang paling penting dari semua pengaruh
terhadap mental anak kita… Karena itu, saya menggantungkan kepada Allah semata
…dengan menyerahkan kepada Allah melalui doa-doa,... karena sehebat apapun kita
…tetap Allah jualah yang akan membukakan hidayah untuk anak-anak kita …innaka
la tahdi man ahbabta…sesungguhnya kalian tidak akan mampu membukakan hidayah
kepada orang yang kamu cintai sekalipun….
Demikian uraian saya agar menjadi renungan kita bersama…. setelah
kita berusaha membimbing anak-anak kita… mari kita berdoa dengan tulus untuk
jiwa anak-anak kita.
Ya Allah… berkehendaklah… terhadap diriku dan anak cucuku……
Abu Sangkan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar